Anda di halaman 1dari 21

TEORI PENDIDIKAN ANAK

ABDULLAH NASIH ULWAN

PENULIS:
Jamuna Ulfah
Atalia
MATA KULIAH:
Program Pendidikan Anak Prasekolah
DOSEN PENGAMPU:
Hifza Hamdan, M.S.I

PRODI PGRA
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAI)
SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN SAMBAS
TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga pada akhirnya makalah ini
dapat disusun dan disajikan dengan waktu yang telah ditetapkan. Terima kasih
kepada keluarga, dosen, sahabat yang selalu setia, tak pernah lelah, dan tak
pernah bosan-bosannya untuk mengajari, mengingatkan maupun memberi nasehat
kepada kami.
Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas mata kuliah yang diberikan. Dalam makalah ini masih begitu
banyak kekurangan dan kesalahan baik dari segi isi, struktur penulisan maupun
hal-hal lainnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
positif yang membangun dari pembaca sekalian untuk perbaikan dikemudian hari.
Harapan penulis, semoga makalah ini dapat berguna dan dapat digunakan
sebagai literatur tambahan bagi rekan-rekan mahasiswa lain.

Sambas, 23 Oktober 2015


Penulis,

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................................................................

Daftar Isi........................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................
B. Fokus.....................................................................................................
C. Tujuan Penulisan...................................................................................

1
1
2

BAB II URAIAN dan PEMBAHASAN


A.
B.
C.
D.
E.

Biografi Abdullah Nasih Ulwan.........................................................


Kehidupan Sosial Abdullah Nashih Ulwan........................................
Beberapa Karya Abdullah Nasih Ulwan............................................
Pandangan Pokok Abdullah Nasih Ulwan..........................................
Relevansi Teori dengan Pendidikan Anak Prasekolah.......................

3
4
5
5
11

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan...........................................................................................

15

Daftar Pustaka..............................................................................................

16

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan selalu berkembang sesuai dengan zamannya. Namun,
perkembangan itu takkan dapat berjalan dengan baik jika tak diiringi dengan
gagasan maupun pandangan-pandangan para tokoh pendidikan.
Hal ini terjadi karena gagasan para tokoh dapat menjadi penuntun
dalam proses jalannya pendidikan agar dapat selalu seimbang dan tidak
simpang siur dari jalurnya.
Para tokoh pendidikan terlahir dari beberapa negara bagian yang
berbeda-beda. Ada yang berasal dari eropa barat, dari bagian negara sebelah
timur, dan masih banyak lagi. Dari banyaknya tokoh pendidikan, terdapat
salah satu nama yang sudah tidak asing lagi, terlebih lagi dalam tokoh
pendidikan Islam yaitu Abdullah Nashih Ulwan.
Dari banyak karya-karyanya, beliau menyumbangkan banyak sekali
sumbangan mengenai ilmu pendidikan untuk para generasi penerus. Karyakaryanya seperti 50 karangan dalam bentuk kitab/buku, arena Pendidikan,
Ilmu Pengobatan Islam dan Ilmu Islam.
Selain itu, beliau juga menjadi orang pertama yang memperkenalkan
mata pelajaran Tarbiyah Islamiyah sebagai pelajaran dasar di sekolah.
Dalam

perkembangannya,

pelajaran

Tarbiyah

Islamiyah

dijadikan

matapelajaran yang wajib diambil murid-murid di sekolah menengah


seluruh Syria.
B. Fokus
1. Bagaimana biografi singkat mengenai Abdullah Nasih Ulwan?
2. Apa gagasan yang dicetus oleh Abdullah Nasih Ulwan?
3. Bagaimana hubungan gagasan Abdullah Nasih Ulwan dengan
pendidikan anak prasekolah?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui biografi singkat mengenai Abdullah Nasih Ulwan.
2. Mengerti dan memahami gagasan yang dicetus oleh Abdullah Nasih
Ulwan.
3. Mengetahui, mengerti dan dapat memahami hubungan gagasan
Abdullah Nasih Ulwan dengan pendidikan anak prasekolah.

BAB II
URAIAN dan PEMBAHASAN
A. Biografi Abdullah Nasih Ulwan
Beliau yang mempunyai nama lengkap Al-Ustadz Syaikh Abdullah
Nashih Ulwan, merupakan seorang tokoh muslim yang dilahirkan di kota
Bandar Halb, Syria, didaerah Qodhi Askar pada tahun 1928. Beliau
dibesarkan di dalam keluarga yang berpegang teguh pada agama dan
mementingkan akhlak Islam dalam pergaulan serta muamalat sesama
manusia.
Hal ini menjadi salah satu alasan pendukung bagi beliau sehingga
dapat menghafal Al-Quran dan mampu menguasai bahasa arab dengan baik
ketika berusia 15 tahun. Dan karena hal ini pula ayahnya Syeikh Said Ulwan
memasukkannya ke Madrasah Agama untuk mempelajari ilmu agama.
Beliau sangat cemerlang dalam pelajaran dan selalu menjadi tumpuan
rujukan teman-temannya di madrasah.1
Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama pada tahun 1964, beliau melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat
Atas di Mesir, Halab pada tahun 1949, jurusan Ilmu Syariah dan
Pengetahuan Alam. Usai itu, ia pergi ke Al-Azhar University (Mesir) untuk
mengambil Fakultas Ushuluddin, studinya selesai selama 4 tahun dan pada
tahun terakhir tepatnya 1952 beliau mendaptkan gelar sarjananya.
Kemudian, ia memutuskan untuk melanjutkan S-2 di perguruan tinggi AlAzhar dan lulus pada tahun 1954 dengan menerima ijazah Spesialis
Pendidikan, setara dengan Master of Arts (MA).2 Beliau berhasil
memperoleh ijazah Doktor di Universitas Al-Sand Pakistan pada tahun
1982 dengan desertasi Fiqh Dakwah wa Daiyah.

1Mustafti, Makalah: Pemikiran Dr. Nasih Ulwan tentang Pendidikan Islam,


(Pekalongan: STAIN Pekalongan, 2002), hlm. 1
2Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil Islam, terj. Saifullah Kamali dan
Hery Noer Ali, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Semarang: asy-Syifa,
Jilid II, t.th., hlm. 542

Abdullah Nashih Ulwan meninggal pada tanggal 29 Agustus 1987 M


bertempatan dengan tanggal 5 Muharram 1408 H pada hari Sabtu jam 09.30
pagi di rumah sakit Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah Arab Saudi dalam
usia 59 tahun. Jenazahnya di bawa ke Masjidil Haram untuk dishalati dan
dikebumikan di Makkah.
B. Kehidupan Sosial Abdullah Nashih Ulwan
Beliau mendasarkan segala ide dan pemikirannya pada al-Qur'an dan
hadits Rasulullah, kemudian memberikan ilustrasi penjelasannya pada apa
yang diperbuat Rasulullah, para sahabatnya dan para salaf yang shahih.3
Abdullah Nashih Ulwan terkenal di kalangan masyarakatnya sebagai
sosok yang berbudi luhur, bertanggung jawab, berpegang teguh serta dapat
menjalin hubungan baik antar sesama masyarakat.
Ayahnya, Syekh Said Ulwan membesarkan Abdullah Nasih Ulwan
dalam lingkungan keluarga yang dikelola dengan berpegang teguh pada
agama serta mementingkan akhlak Islam dalam pergaulan dan hubungan
antar sesama. Ayahnya sangat terkenal di mata masyarakat kala itu, karena
ia merupakan seorang ulama dan tabib yang disegani dikarenakan
mempunyai pengalaman sebagai tenaga pengajar pendidikan Islam di
sekolah-sekolah lanjutan atas di Halab dan berdakwah ke seluruh pelosok
kota Halab pada tahun 1954.
Ayahnya juga menjadi tumpuan masyarakat untuk mengobati
berbagai penyakit dengan ramuan akar kayu yang dibuat sendiri. Lidahnya
selalu membaca al-Qur'an dan menyebut nama Allah tatkala ia merawat
orang sakit. Dahulu, ia selalu berdoa semoga keturunannya ada yang
menjadi ulama Murabbi. Allah memperkenankan doanya dengan lahirnya
Abdullah Nashih Ulwan sebagai ulama Murabbi (pendidik).

3Abdul Kholiq, dkk., Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan
Kontemporer, Semarang: Kerjasama Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan
Pustaka Pelajar, 1999, hlm. 53-54.

C. Beberapa Karya Abdullah Nasih Ulwan4


1. Karya yang berkisar pada masalah dakwah dan pendidikan :
One. Al-Takafulul al-Ijtimai fil Islam.
Taaddudu al- Zaujah fil Islam.
Sholahuddin al-Ayyubi.
Hatta Ya Lama al-Syabab.
Tarbiyatul Aulad fil Islam.
2. Karya yang menyangkut kajian Islam (Studi Islam) :
Ila Kulli Abin Ghayyur Yumin Billah.
Fadhailul al-Shiyam wa Ahkamuhu.
Hukmu al-Tamin fil Islam.
Ahkamul al-Zakat (Empat Madzhab).
Syubhat wa-Rudud.
Aqabatuzzawaj wa-Thuruqu Mualajtiha Ala Dhaui Islam.
Masuliyatul al-Tarbiyah al-Jinsiyah.
Illa Warasatil al-Anbiya.
Hukul Islam fi Wasa Ilil ILam.
Tawinusy Syahkhsiyah Alinsaniyah fi Nazarii Islam.
Adabul Khitbah waz Zifaf Wahuququz Zaujaini.
D. Pandangan Pokok Abdullah Nasih Ulwan
Pandangan Abdullah Nasih Ulwan mengatakan bahwa manusia
tertutup dari pintu hidayah dan kemajuan yang disebabkan oleh tiga sebab
utama yaitu: ketidak tahuan terhadap tabiat agama, cinta dunia dan takut
mati dan terkahir ketidak tahuan terhadap tujuan yang semestinya menjadi
akhlak muslim.
Beliau juga menganggap bahwa pendidikan anak itu bukanlah
sekedar upaya memanusiakan manusia, lebih dari itu adalah upaya
melahirkan generasi yang terbebas dari kegelapan dan syirik, kebodohan,
kesesatan menuju cahaya tauhid, ilmu, hidayah dan kemantapan, sehingga

4http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/31/jtptiain-gdl-s1-2004rodhiyahni-1535-bab2_319-3.pdf (diakses tgl 11 Oktober 2015 jam 20:57)

mampu tampil sebagai umat terbaik dan generasi yang unggul serta mampu
memberikan teladan bagi lingkungannya5.
Bagi beliau, pendidikan anak

dimulai

sejak

perkawinan

(pernikahan).
Semua gagasan, pemikiran serta tulisan beliau mengenai penididikan
terhadap anak, selalu berdasarkan, berhubungan, berkaitan dengan nilai-nilai
yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadits yang shohih serta dilengkapi
dengan bukti-bukti ilmiah dan rasional6.
Abdullah Nasih Ulwan membahas serta mengupas dengan jelas
semua yang berkaitan dengan anak dan pendidikan. Seperti dalam hal
perkawinan anak, perasaan anak, kelahiran anak maupun kenakalan anak
dan penanggaulangannya. Tidak hanya habis sampai disitu, ia juga
menguraikan beberapa tanggung jawab orang tua dan guru yang berkaitan
dengan anak, seperti7:
1. Tanggung jawab dalam hal pendidikan iman
Penekanan terhadap dasar-dasar keimanan (rukun Iman dan perkaraperkara gaib8), rukun Islam (bersifat praktek dan ada yang melibatkan
harta) dan dasar-dasar syariat(akidah, ibadah, akhlak, perundangan,
peraturan, dan hukum-hukum Islam). Dengan tujuan terbinanya
kepribadian yang mengenal Islam sebagai Din9, Al-Quran sebagai
panduan dan Rasulullah SAW sebagai suri teladan.
2. Tanggung jawab dalam hal pendidikan akhlak/moral
Pemberian pendidikan mengenai dasar-dasar akhlak, keutamaan
perangai dan tabiat yang harus dimiliki serta dijadikan kebiasaan.

5Saefurrahman, Irpan. 2011. Skripsi: Pendidikan Anak dalam Perspektif Abdullah


Nasih Ulwan (Telaah atas Kitab Tarbiyatul l-Aulad Fi l-Islam). Yogyakarta:
IAIN Sunan Kalijaga. hlm, 91.
6https://suharpaistaid.wordpress.com/2009/01/21/pendidikan-anak-menurutnashih-ulwan-pemikiran-tentang-pendidikan-ibadah-bagi-anak/
7Bakar, Norul Huda Binti, dkk. 2014. 028 Membangunkan Penghayatan Agama
di Kalangan Kanak-Kanak:Analisis Pandangan Abdullah Nasih Ulwan.
International Research Management and Inovation Conference 2014
(IRMIC2014). Kuala Lumpur: Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor
(KUIS).
8Tidak kelihatan; tersembunyi.
9Agama;kepercayaan;keyakinan.

Pendidikan ini dianggap penting, karena akhlak merupakan salah satu


interpretasi10 daripada iman.
3. Tanggung jawab dalam hal pendidikan rasio/akal
Membina fikiran, ilmu dan pengetahuan bagi anak dengan segala
sesuatu yang bermanfaat. Dengan tujuan, ilmu dapat dijadikan sebagai
ibadah, cara mengagungkan dan merupakan salah satu cara untuk
mengenalkan hamba dengan Tuhannya, serta dapat pula menjadikan
manusia

menjadi

sebaik-baiknya

mereka

dan

dapat

memandu/membimbing manusia lainnya.


4. Tanggung jawab dalam hal pendidikan fisik
Diterapkan agar anak dapat menjaga kesehatan diri seperti yang
disyariatkan Islam serta menjadikan anak tumbuh besar dengan sehat
dan selamat.
5. Tanggung jawab dalam hal pendidikan psikologi/kejiwaan
Mendidik anak untuk menjadi sosok yang berani, jujur, bermotivasi,
suka berbuat baik terhadap sesama dan mampu menahan ataupun
mengendalikan diri ketika marah. Dengan tujuan, membuat psikologi
anak senantiasa dalam suasana yang positif dan baik.
6. Tanggung jawab dalam hal pendidikan sosial
Mendidik anak untuk bergaul dengan masyarakat yang memiliki
berbagai macam jenis latar belakang kehidupan dan umur. Dengan
tujuan, pembiasaan penanaman adab sosial yang berdasarkan pada
etika Islam.
7. Tanggung jawab dalam hal pendidikan seksual
Pengenalan, peringatan serta pengajaran seputar perkawinan yang sah,
menjaga

diri

menurut

kaidah

Islam,

adab-adab

dalam

bergaul/berteman dalam kaidah Islam serta dampak yang dihasilkan


dari pergaulan bebas.
Menurut pandangan beliau, ketika kita mendidik seorang anak,
diibaratkan seperti kita menulis di atas batu. Apabila kita terlalu kuat

10 Pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis terhadaphd sesuatu;


tafsiran.

menekan ketika menulis di atas batu yang rapuh, maka akan mengakibatkan
batu itu pecah dan hancur seketika, namun ketika kita menulis tanpa tekanan
di atas batu yang keras dan tebal, maka sedikitpun goresan takkan tertinggal
di batu tersebut.
Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, diperlukan metode-metode
atau cara-cara yang sesuai dan ampuh. Metode-metode yang dianggap
berpengaruh terhadap anak yaitu:
1. Pendidikan dengan keteladanan
Keteladanan yang diberikan, diajarkan maupun diperlihatkan harus
disesuaikan dengan perkembangan anak sehingga ia dapat dengan
mudah mencerna apa yang diajarkan. Keteladanan dianggap lebih
cepat mempengaruhi tingkah laku anak. Karena dengan indranya
(mata dan telinga) ia dapat menyaksikan, mendengar, dengan lebih
mudah dan lebih cepat sehingga menyebabkan apa yang dirasakan
oleh kedua indranya itu, dikirimkan dengan cepat ke sinyal otak dan
dapat membuat otak menjadi cepat terangsang yang pada akhirnya
akan berpengaruh pada perilaku si anak. Abdullah Nasih Ulwan,
menafsirkan pendidikan yang satu ini dalam 5 bentuk yaitu:
keteladanan dalam hal ibadah, bermurah hati, kerendahan hati,
kesantunan, keberanian dan memegang akidah.
2. Pendidikan dengan adat kebiasaan
Anak biasa meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Pendidikan
keteladanan sangat berpengaruh dengan pendidikan adat kebiasaan.
Semakin sering orang tua memperlihatkan hal-hal (-) kepada si anak,
maka hal negatif itulah yang tanpa sengaja akan menempel dalam otak
si kecil. Dalam hal ini, orang tua dan guru dituntut keras untuk dapat
membimbing dan mengawasi anak-anak.
3. Pendidikan dengan nasehat/mauidzhah
Nasehat hanyalah berupa teori kosong tanpa makna dimata anak-anak
jika tak dipraktekkan secara langsung/nyata. Jika kita hanya memberi
nasehat tanpa perbuatan maka hal tersebut tidak akan memberikan

pengaruh baik bagi anak. Maka dari itu, sifat konsekuen wajib
dipegang teguh bagi orang tua yang memberikan nasehat kepada si
anak. Nasehat yang baik, ialah nasehat yang memberikan pengaruh
bagi anak, untuk membukakan jalannya kedalam jiwa secara langsung
melalui perasaan.
4. Pendidikan dengan pengawasan/perhatian
Senantiasa mencurahkan perhatian penuh dalam hal mengawasi dan
memperhatikan perkembangan: aspek akidah, akhlak anak, kesiapan
mental, pendidikan jasmani, serta kemampuan ilmiahnya.
5. Pendidikan dengan hukuman/sanksi11
Imam mujtahid dan ulama ushul fiqh menetapkan lima perkara
tentang hukuman yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga
kehormatan, menjaga akal dan menjaga harta benda. Hukuman yang
dimaksud disini, bukannya menyiksa anak dengan emosi yang
membara hingga anak merasa trauma dan tertekan apalagi sampai
menyebabkan kematian. Namun, hukuman yang lebih ditekankan
maknanya ialah memberikan, mengajarkan, mendidik, menjelaskan
dan dapat memperbaiki si anak bahwa apa yang ia lakukan itu salah.
Serta meninggalkan efek jera dan sadar pada diri si anak untuk tidak
melakukan kesalah yang sama di lain waktu.
Dari setiap metode-metode yang dijabarkan diatas, masing-masing
memiliki kekurangan dan kelebihannya. Hal ini, merupakan tugas terpenting
bagi orang tua ataupun pendidik untuk meminimalisir kekurangannya serta
mengaplikasikan kelebihannya.
Metode tanpa materi tidakklah lengkap. Ibarat gelas tanpa air
didalamnya. Metode dan materi dipandang beliau sangat berkaitan, karena
mereka berdua memiliki keterkaitan yang saling berkesinambungan maupun
berhubungan satu sama lain. Metode dapat diartikan dengan tehnik atau cara
untuk menanggapi sesuatu, namun materi dapat diartikan dengan dasar

11http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/31/jtptiain-gdl-s1-2004rodhiyahni-1535-bab4_319-3.pdf (diakses tgl 20 Oktober 2015 jam 19:05).

10

terciptanya sesuatu yang harus ditanggapi. Hal ini menjadi landasan bagi
Abdullah Nasih Ulwan untuk menggagas materi-materi dalam hal
pendidikan anak.
Materi tersebut berupa pendidikan keimanan, pendidikan moral,
pendidikan fisik, pendidikan rasio/nalar, pendidikan kejiwaan, pendidikan
sosial dan pendidikan seksual12.
Untuk pendidikan keimanan atau ibadah, dapat diklasifikasikan bagi
anak sesuai dengan umur dan perkembangan jiwanya. Dimana menurut
M.Fauzil Adhim dibagi menjadi empat bagian:
1. Sejak dalam kandungan selama kurang lebih 9 bulan
Kerahiman atau kasih sayang yang tulus dari sang ibu.
2. Masa lahir sampai usia 2 tahun atau biasa disebut masa bayi
Kasih sayang dan perhatian yang diselipkan dalam rangka
membimbing

si

kecil

untuk

mengenal

lingkungannya

dan

kehidupannya.
3. Masa kanak-kanak atau thufulah yang berlangsung antara usia 2-7 tahun
Pengembangan yang dilakukan seoptimal mungkin, terutama dalam
hal ketauhidanannya.
4. Masa memasuki perkembangan kemampuan awal dalam hal pembedaan
melalui nalar atau tamyiz yang dimulai pada usia 7 tahun
Pemberian pendidikan dari berbagai macam aspek demi menunjang
kepribadian dan pemikirannya hingga usia 12 tahun.
Abdullah Nasih Ulwan menjelaskan, apabila anak sudah terbiasa
dari kecil diajarkan pendidikan, salah satunya dalam hal beribadah, maka
ketika anak telah tumbuh dewasa ia akan terbiasa serta terdidik (disiplin,
ikhlas, taat) untuk melakukan ataupun melaksanakannya.

12Sofyan, Sulkhan. 2015. Skripsi: Materi dan Metode Pendidikan Anak Menurut
Abdullah Nasih Ulwan Ditinjau dari Perspektif Catur Pusat Pendidikan.
Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga.

11

E. Relevansi Teori dengan Pendidikan Anak Prasekolah


Sebelum menjelaskan keterkaitan atau hubungan antara teori
Abdullah Nasih Ulwan dengan pendidikan anak prasekolah, maka terlebih
dahulu kami uraikan beberapa definisi mengenai anak prasekolah, teori
Abdullah Nasih Ulwan serta definisi pendidikan anak prasekolah.
Menurut Aziz Alimul anak diartikan sebagai seseorang yang
berusia kurang dari delapan belas tahun dalam masa tumbuh kembang
dengan kebutuhan khusus, baik kebutuhan fisik, psikologis, sosial dan
spiritual. Sedangkan menurut UU No.23 tahun 2002 pasal 1 ayat 1 tentang
perlindungan anak menyatakan anak adalah seseorang yang belum
berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan dimana anak adalah individu yang
unik dan bukan orang dewasa mini serta bukan juga
merupakan harta atau kekayaan orang tua yang dapat
dinilai secara sosial ekonomi, melainkan masa depan bangsa
yang berhak atas pelayanan secara individual.
Teori yang dikemukakan Abdullah Nasih Ulwan mengenai
pendidikan terhadap anak seperti berikut: mendidik anak dengan
keteladanan, mendidik anak dengan adat kebiasaan, mendidik anak dengan
nasehat, mendidik anak dengan perhatian atau pengawasan dan terakhir
mendidik anak dengan hukuman/sanksi.
Dan definisi mengenai pendidikan anak prasekolah dengan mengacu
pada UU No.20 tahun 2003, pasal 1 ayat 14 tentang Sistem Pendidikan
Nasional PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan lebih lanjut13.
Pertama kita akan mengaitkan antara teori Abdullah Nasih Ulwan
dengan definisi mengenai anak prasekolah.
13https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Indonesia (diakses tgl 23 Oktober
2015 jam 20:25).

12

Jika digabungkan dan diambil makna antara definisi dari Aziz


Alimul dan UU No.23 tahun 2002 pasal 1 ayat 1 tentang perlindungan anak
maka akan berbunyi anak diartikan sebagai seseorang yang berusia kurang
dari delapan belas tahun termasuk anak yang masih dalam
kandungan dimana anak adalah individu yang unik dan
mempunyai berbagai macam kebutuhan khusus dalam segala aspek yang
merupakan aset bagi masa depan bangsa dan berhak atas
pelayanan secara individual. Mengapa ada kalimat yang
kami garis bawahi? Itu karena kalimat tersebut sangat
berkaitan dengan teori yang digagas oleh Abdullah Nasih
Ulwan mendidik anak dengan keteladanan, adat kebiasaan, nasehat,
pengawasan/perhatian, hukuman/sanksi.
1. Individu yang unik dan mempunyai berbagai macam kebutuhan
khusus dalam segala aspek
Kebutuhan khusus yang sifatnya beragam, takkan
pernah bisa berkembang dengan baik jika tak dibimbing
dengan keteladanan serta adat kebiasaan yang baik
pula. Mengapa hal ini bisa terjadi, itu karena anak
terlahir dengan dianugerahi indra yang lengkap. Dari
indra itulah mereka belajar dan mencari kebutuhan
khusus

yang harus

mereka

kuasai

dan menggali

keunikan yang ada di dalam diri mereka. Saat usia dini,


anak identik dengan sifat meniru dan mencontoh apa
yang ada disekitarnya mulai dari segala aspek. Nah,
dengan menjadi teladan yang baik bagi si anak, maka
hal ini akan merangsang munculnya keunikan yang (+)
pula dari dalam diri anak. Keteladanan itu takkan
mampu berdiri sendiri jika tak diimbangi dengan adat
kebiasaan yang baik. Meskipun anak tidak mudah lupa,
namun pembiasaan dalam lingkungan dan suasana

12

yang kondusif harus selalu di tanamkan pada diri anak,


guna mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
2. Merupakan aset bagi masa depan bangsa
Ibarat menghasilkan nasi yang mengenyangkan, tentu
terlebih dahulu harus menyiapkan lahan dan bibit padi
untuk menghasilkan nasi itu. Begitu juga dengan
mempersiapkan anak cikal bakal masa depan

13

bangsa.

Nasehat

sebagai

lahannya

dan

pengawasan/perhatian sebagai bibitnya. Anak usia dini


bukanlah sosok yang sudah utuh perilaku, ilmu dan
cara

berfikirnya.

Mereka

hanya

menikmati

dan

menjalani kehidupan mereka sesuka mereka. Rasa ingin


tahu yang mereka miliki masih sangat kuat. Nah, hal
inilah yang mendasari betapa pentingnya nasehat,
pengawasan/perhatian yang harus dilakukan secara
ekstra bagi mereka. Nasehat yang disampaikan dengan
baik dan benar, akan membimbing dan mengajarkan
mereka

dalam

mengenal

dan

membedakan

baik

buruknya sesuatu. Pengawasan/perhatian yang tidak


bersifat lalai dan dilakukan dengan penuh ketulusan,
akan mengarahkan mereka menuju masa depan yang
cemerlang serta dapat menyadarkan mereka bahwa
mereka bisa merasa aman dan bebas tanpa tekanan
namun tetap dalam kontrol yang stabil. Selain itu,
hukuman/sanksi juga perlu dilakukan apabila anak
dirasa pantas untuk menerimanya, dengan syarat tidak
bersifat menyiksa namun hanya meninggalkan efek jera
serta dapat menimbulkan pemahaman dan kesadaran
diri si anak.
3. Berhak atas pelayanan
Nasehat merupakan pelayanan secara pasif, sedangkan
pengawasan/perhatian merupakan pelayanan secara
aktif. Yang dimaksud pasif disini ialah dilakukan secara
lisan melalui lidah didalam mulut dan tatapan mata
tanpa ada banyak gerakan dari anggota tubuh yang
lain. Dan yang dimaksud aktif disini ialah dilakukan
secara spontan, konstan, ekstra dengan menggerakkan
anggota tubuh yang lain juga.

13

Kedua kita akan mengaitkan antara teori Abdullah Nasih Ulwan


dengan definisi mengenai pendidikan anak prasekolah.
Pendidikan anak prasekolah adalah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki

14

kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Secara ringkasnya dapat


ditulis upaya pembinaan dalam rangka pemberian rangsangan pendidikan
demi membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak
guna mempersiapkan si anak memasuki pendidikan lebih lanjut.
Dalam rangka membina dan mendidik anak, khususnya anak usia
dini yang masih belum tau banyak hal, perlu dicanangkan prinsip-prinsip
pendidikan yang memiliki etika dan penuh kasih sayang. Teori dari
Abdullah Nasih Ulwan yang berupa keteladanan, adat kebiasaan, nasehat,
pengawasan/perhatian serta hukuman/sanksi sangat cocok digunakan
sebagai pegangan dalam membina dan mendidik anak usia dini.
Dikarenakan, 5 teori tersebut bersifat fleksibel, lentur dan mudah
menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, terlebih zaman sekarang
ini. Kami akan menguraikan sedikit, mengenai anak kecil pada zaman
sekarang ini.
IPTEK berkembang tanpa batas dan tak kenal sekat, detik ini
informasi apapun yang diinginkan sudah ada di genggaman/HP;android;dan
sejenisnya. Perkembangan zaman sangat mempengaruhi pola pikir dan
perilaku anak. Baik dalam segi pergaulan, segi bahasa, segi tata krama, dan
segi-segi lainnya. Banyak anak kecil pada zaman sekarang ini yang
dibahagiakan hanya dengan benda mati seperti TAB, PLAYSTATION,
ANDROID, dan sejenisnya. Namun, kebanyakan orang tua di era ini belum
tahu bahkan sulit untuk mengerti bahwa yang anak butuhkan hanyalah
perhatian, pengawasan, nasehat, kehangatan dari sosok kedua orangtuanya.
Mereka hanya ingin diperhatikan dan disayangi dengan tulus dari ibu
bapaknya. Selain itu, banyak kasus di koran-koran dan berita yang
mengatakan bahwa ada anak di bawah umur yang sudah pandai pacaran,
bahkan nekad mau bunuh diri gara-gara diputusin pacar. Sungguh sangat
disayangkan sekali. Lagi-lagi hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan,
dan lemahnya sanksi yang diberikan sehingga tak mampu meninggalkan
efek jera dan menyadarkan diri si anak agar mampu membedakan mana
yang baik dan mana yang buruk.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Abdullah Nasih Ulwan dilahirkan di kota Bandar Halb, Syria,
didaerah Qodhi Askar pada tahun 1928 dan dibesarkan dari keluarga yang
berpegang teguh pada agama serta mementingkan akhlak Islam dalam
pergaulan serta muamalat sesama manusia.
Abdullah Nashih Ulwan terkenal di kalangan masyarakatnya sebagai
sosok yang berbudi luhur, bertanggung jawab, berpegang teguh serta dapat
menjalin hubungan baik antar sesama masyarakat.
Beliau mendasarkan segala ide dan pemikirannya pada al-Qur'an dan
hadits Rasulullah, kemudian memberikan ilustrasi penjelasannya pada apa
yang diperbuat Rasulullah, para sahabatnya dan para salaf yang shahih
Salah satu idenya yaitu mengenai pendidikan anak.

Beliau

menggagas 5 teori yang mencakup mendidik anak dengan cara mengajarkan


keteladanan, mendidik anak melalui adat kebiasaan, mendidik anak dengan
menggunakan nasehat, mendidik anak dengan perhatian/pengawasan dan
terakhir mendidik anak dengan hukuman/sanksi. Dimana setiap teori
memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Namun, kelemahankelemahan itu dapat dinetralisir apabila orangtua/guru memiliki kecerdasan
dan kekreatifan dalam berpikir, berbuat dan menganalisa.
Teori yang beliau gagas dalam hal pendidikan anak prasekolah
bersifat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan
zaman dengan sangat baik. Teori ini tidak mengikat dan mengandung makna
kebebasan yang masih dalam lingkungan terkontrol namun tanpa
kekhawatiran yang nyata.
Sebaik apapun teorinya, jikalau orangtua;guru tak memiliki dasardasar ilmu dan pengetahuan yang cukup, maka dalam praktek nyatanya
kegagalan lah yang akan didapat dan cikal bakal masa depan bangsa
menjadi taruhannya.

15

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kholiq, dkk., Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan
Kontemporer, Semarang: Kerjasama Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo dan Pustaka Pelajar, 1999, hlm. 53-54.
Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil Islam, terj. Saifullah Kamali dan
Hery Noer Ali, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam,
Semarang: asy-Syifa, Jilid II, t.th., hlm. 542
Irpan, Saefurrahman. 2011. Skripsi: Pendidikan Anak dalam Perspektif Abdullah
Nasih Ulwan (Telaah atas Kitab Tarbiyatul l-Aulad Fi lIslam). Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga. hlm, 91.
Mustafti, Makalah: Pemikiran Dr. Nasih Ulwan tentang Pendidikan Islam,
(Pekalongan: STAIN Pekalongan, 2002), hlm. 1
Norul Huda Binti Bakar, dkk. 2014. 028 Membangunkan Penghayatan Agama di
Kalangan Kanak-Kanak:Analisis Pandangan Abdullah Nasih
Ulwan. International Research Management and Inovation
Conference 2014 (IRMIC2014). Kuala Lumpur: Kolej
Universiti Islam Antarbangsa Selangor (KUIS).
Sulkhan, Sofyan. 2015. Skripsi: Materi dan Metode Pendidikan Anak Menurut
Abdullah Nasih Ulwan Ditinjau dari Perspektif Catur Pusat
Pendidikan. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/31/jtptiain-gdl-s1-2004rodhiyahni-1535-bab2_319-3.pdf (diakses tgl 11 Oktober
2015 jam 20:57)
https://suharpaistaid.wordpress.com/2009/01/21/pendidikan-anak-menurutnashih-ulwan-pemikiran-tentang-pendidikan-ibadah-bagianak/ (diakses tgl 20 Oktober 2015 jam 19:05).
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/31/jtptiain-gdl-s1-2004rodhiyahni-1535-bab4_319-3.pdf (diakses tgl 20 Oktober
2015 jam 19:05).
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Indonesia (diakses tgl 23 Oktober
2015 jam 20:25).

16