Anda di halaman 1dari 18

BAB X

SISTEM SURVEILANS
10.1. Definisi
Dalam epidemiologi telah lama dipakai istilah Surveilance mula-mula arti yang
diberikan kepada Surveilance ialah satu macam observaasi dari seorang atau orang-orang
yang disangka menderita suatu penyakit menular dengan cara mengadakan berupaa
pengawasan medis, tanpa mengaawasi beberapa kebebasan bergerak dari oraang atau orangorang yang bersangkutan. Observasi ini terutama dilakukan pada penderita-penderia penyakit
menular yang berbahaya seperti kolera, pes, cacar, dan sifilis. Lamanya observasi sama
dengan masa tunas penyakit yang bersangkutan. Maksud sebenarnya dari pengamatan seperti
ini ialah supaya dengan segera dapat memberi pengobatan dan isolasi terhadap penyakit yang
timbul pada kasus-kasus yang dicurigai itu.
Arti dari Surveilance berkembang dan lebih meluas jangkauannya. Mulai tahun 1950
istilah Surveilance dipakai dalam hubungan suatu penyakit seluruhnya dan bukan pada
penderita saja. Pada waktu mulai dijalankan program-program pemberantasan penyakit,
penyakit malaria, patek, cacar dan urban yellow fever. Cara untuk mengetahui kemajuan
dari program-program tersebut dengan melihaat menurunnya jumlah perisriwa dan dimana
terdapat peristiwa-peristiwa tersebut. Karena Surveillance ini memerlukan epidemiologi,
mak kemudia ia disebut Epidemiological Surveillance, yang dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan menjadi Surveilens Epidemiologi.
Menurut WHO (2004), surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis
dan interpretasi data secara sistemik dan terus meneurs serta penyebaran informasi kepada
unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Berdasarkan definisi diatas dapat
diketahui bahwa surveilans adalah suatu kegiatan pengamatan penyakit yang dilakukan
secara terus-menerus dan sistematis terhadap kejadian dan distribusi penyakit serta faktorfaktor yang mempengaruhinya pada masyarakat sehingga dapat dilakukan penanggulangan
untuk dapat mengambil tindakan efektif.

10.2. Tujuan Surveilans


Secara umum surveilans bertujuan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit dalam
masyarakat sebagai upaya deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa

(KLB), memperoleh informasi yang diperlukan bagi perencanaan dalam hal pencegahan,
penanggulangan maupun pemberantasanya pada berbagai tingkat administrasi (Depkes RI,
2004a).
10.3. Komponen Surveilans
Komponen-komponen kegiatan surveilans menurut Depkes. RI, (2004) seperti dibawah
ini:
1) Pengumpulan data, data yang dikumpulkan adalah data epidemiologi yang jelas, tepat dan
ada hubungannya dengan penyakit yang bersaangkutan. Tujuan dari pengumpulan data
epidemiologi adalah: untuk menentukan kelompok populasi yang mempunyai resiko
terbesar terhadap serangan penyakit; untuk menentukan reservoir dari infeksi; untuk
menentukan jenis dari penyebab penyakit dan karakteristiknya; untuk memastikan
keadaan yang dapat menyebabkan berlangsungnya transmisi penyakit; untuk mencatat
penyakit secara keseluruhan; untuk memastikan sifat dasar suatu wabah, sumbernya, cara
penularannya dan seberapa jauh penyebarannya.
2) Kompilasi, analisis, dan interpretasi data. Data yang terkumpul selanjutnya dikompilasi,
dianalisis berdasarkan orang, tempat dan waktu. Analisa dapat berupa teks tabel, grafik
dan spot map sehingga mudah dibaca dan merupakan informasi yang akurat. Dari hasil
analisis dan interpretasi selanjutnya dibuat saran bagaimana menentukan tindakan dalam
menghadapi masalah yang baru.
3) Penyebaran hasil analisis dan hasil interpretasi data. Hasil analisi dan pmterpretasi data
digunakan untuk unit-unit kesehatan setempat guna menentukaan tindak lanjut dan
disebarluaskan ke unit terkait antara lain berupa laporan kepada atasan atau kepada lintas
sektor yang terkait sebagai informasi lebih lanjut.

10.4. Aktifitas Inti Surveilans


Aktivitas surveilans kesehatan masyarakat meliputi delapan aktivitas inti (McNabb. et
al., 2002), yaitu:
1) Pendeteksian kasus (case detection): proses mengidentifikasi peristiwa atau keadaan
kesehatan. Unit sumber data menyediakan data yang diperlukan dalam penyelenggaraan
surveilans epidemiologi termasuk rumah sakit, puskesmas, laboratorium, unit penelitian,
unit program-sektor dan unit statistik lainnya.

2) Pencatatan kasus (registration): proses pencatatan kasus hasil identifikasi peristiwa atau
keadaan kesehatan.
3) Konfirmasi (confirmation): evaluasi dari ukuran-ukuran epidemiologi saampai pada hasil
pencobaan laboratorium.
4) Pelaporan (reporting): data, informasi dan rekomendasi sebagai hasil kegiatan surveilans
epidemiologi disampaikan kepada pihak-pihak yang dapat melakukan tindakan
penanggulangan penyakit atau upaya peningkatan program kesehatan, pusat penelitian dan
pusat kajian serta pertukaran data dalam jejaring surveilans epidemiologi. Pengumpulan
data kasus pasien dari tingkat yang lebih rendah dilaporkan kepadaa fasilitas kesehatan
yang lebih tinggi seperti lingkup daerah atau nasional.
5) Analisis data (data analysis): analisis terhadap data-data dan angka-angka dan
menentukan indikator terhadap tindakan.
6) Respon segera/kesiapsiagaan wabah (epidemic preparedness) kesiapsiagaan dalam
menghadapi wabah/kejadian luar biasa.
7) Respon terencana (response and control): system pengawasan kesehatan masyarakat
hanya dapat digunakan jika data yang ada bisa digunakan dalam peringatan dini dan
munculnya masalah dalam kesehatan masyarakat.
8) Umpan balik (feedback): berfungsi penting dari semua system pengawasan, alur pesan dan
informasi kembali ke tingkat yang lebih rendah dari tingkat yang lebih tinggi.
10.5. Kegunaan Surveilans Epidemiologi
Surveilans epidemiologi mempunyai beberapa kegunaan (Depkes RI, 1997) yaitu:
1) Mengidentifikasi adanya kejadian luar biasa, epidemic dan untuk memastikan tindakan
pengendalian secaraa berhasil guna yang dapat dilaksanakan.
2) Memantau pelaksanaan dan daya guna program pengendalian khusus dengan
memperbandingkan besarnya masalah sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
3) Membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas sasaran program pada tahap
perencaan program.
4) Mengidentifikasi kelompok resiko tinggi menurut umur, pekerjaan, tempat tinggal
diimana masalah kesehatan sering terjadi dan variasi terjadinya dari waktu ke waktu,
menambah pemahaman mengenai vector penyakit, reservoir binatang dan cata serta
dinamika penularan penyakit menular.
10.6. Syarat-syarat Sistem Surveilans yang Baik
Syarat-syarat system surveilans yang baik hendaknya memenuhi karakteristik sebagai
berikut (Romaguera, 2000):

a. Kesederhanaan (Simplicity)
Kesederhanaan system surveilans menyangkur struktur dan pengorganisasian system.
Besar dan jenis informasi yang diperlukan untuk menunjang diagnosis, sumber pelopor,
cara pengiriman data, organisasi yang menerima laporan, kebutuhan pelatihan staf,
pengolahan dan analisa data perlu dirancing agar tidak membutuhkan sumber daya yang
terlalu besar dan prosedur yang terlalu rumit.
b. Fleksibilitas (Flexibility)
System surveilans yang fleksibel dapat menyesuaikan diri dalam mengatasi perubahanperubahan informasi yang dibutuhkan atau kondisi operasional tanpa memerlukan
peningkatan yang berarti akan kebutuhan biaya, waktu dan tenaga.
c. Dapat diterima (Acceptability)
Penerimaan terhadap sistem surveilans tercermin dari tingkat partisipasi individu,
organisasi dan lembaga kesehatan. Interaksi sistem dengan mereka yang terlibat, termasuk
pasien atau kasus yang terdeteksi dan petugas yang melakukan diagnosis pelaporan sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan sistem tersebut. Beberapa indicator penerimaan
terhadap sistem surveilans adalah jumlah proporsi para pelapor, kelengkapan pengisian
formulir pelaporan dan ketepatan waktu pelaporan. Tingkat partisipasi dalam sistem
surveilans dipengaruhi oleh pentingnya kejadian kesehatan yang dipantau, pengakuan atas
kontribusi mereka yang terlibat dalam sistem, tanggapan sistem terhadap saran atau
mereka yang terlibat dalam sistem, tanggapan sistem terhadap saran atau komentar, beban
sumber daya yang tersedia, adanya peraturan dan perundangan yang dijalankan dengan
tepat.
d. Sensitivitas (Sensitivity)
Sensitivitas suatu surveilans dapat dinilai dari kemampuan mendeteksi kejadian kasuskasus penyakit atau kondisi kesehatan yang dipantau dan kemampuan mengidentifikasi
adanya KLB.
Faktor-faktor yang berpengaruh adalah:
1) Proporsi penderita yang berobat ke pelayanan kesehatan
2) Kemampuan mendiagnosa secara benar dan kemungkinan kasus yang terdiagnosa akan
dilaporkan
3) Keakuratan data yang dilaporkan.
e. Nilai Prediktif Positif (Positive Predictive Value)
Nilai Prediktif Positif adalah proporsi dari yang diidentifikasi sebagai kasus, yang
kenyataannya memang menderit penyakit atau kondisi kasus, yang kenyataanya memang
menderita

penyakit

atau

kondisi

sasaran

surveilans.

Nilai

Predikitf

Positif

menggambarkan sensitivitas dan spesifisitas serta prevalensi.insidensi penyakit atau


f.

masalah kesehatan di masyarakat.


Representatif (Representatie)
Sistem surveilans yang represntatif mampu mendeskripsikan secara akurat distribusi
kejadian penyakit menurut karakteristik orang, waktu dan tempat. Kualitas data
merupakan karakteristik sistem surveilans yang representative. Data surveilans tidak
sekedar pemecahan kasus-kasus tetapi juga diskripsi atau cirri-ciri demografik dan

informasi mengenai faktor resiko yang penting.


g. Tepat Waktu
Ketepatan waktu suatu sistem surveilans dipengaruhi oleh ketepatan dan kecepatan mulai
dari proses pengumpulan data, pengolahan analisa dan interpretasi data serta
penyebarluasan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pelaporan penyakitpenyakit tertentu perlu dilakukan dengan tepat dan cepat agar dapat dikendalikan secara
efektif atau tidak meluas sehingga membahayakn masyarakat. Ketepatan waktu dalam
sistem surveilans dapat dinilai berdasarkan ketersediaan informasi untuk pengendalian
penyakit baik yang sifatnya segera maupun untuk perencanaan program dalam jangka
panjang. Tekhnologi komputer dapat sebgai faktor pendukung sistem surveilans dalam
ketepatan waktu penyediaan informasi.
10.7. Unsur-Unsur dari Surveilans Epidemiologi
Data yang harus dikumpulkan berasal dari bermacam-macam sumber dan berbedabeda diantara satu Negara dan Negara yang lain. sumber-sumber tersebut disebut unsur-unsur
Surveilens Epidemiologi.
Unsur-unsur Surveilens Epidemiologi untuk penyakit, khususnya penyakit menular
adalah sebagai berikut:
1) Pencatatan Kematian
Pencatatan Kematian yang dilakukan di tingkat desa dilaporkan ke Kantor Keluarahn
seterusnya ke Kantor Kecamatan dan Puskesmad dan dari Kantor Kecamatan dikirim ke
Kantor Kabupaten Daerah Tingkat II. Untuk meningkatkan kelengkapan data kematian
telah dilakukan Studi Epidemiologi Bekasi; dan studi Mortalitas di Jakarta. Pada
beberapa daerah tertentu Amil yaitu yang memandikan mayat berperan dalam
melaporkan kematian tertentu di desa-desa. Beberapa seminar di Indonesia telah
diadakan pula untuk menilai dan membahas usaha untuk meningkatkan kelengkapan
pencatatn kematian, yang validitasnya relative lebih baik karena didiagnosis oleh dokter.

Unsure ini akan bermanfaat bila data pada pencatatan kematian itu cepat diolah dan
hasilnya segera diberitahukan kepada yang berkepentingan.
2) Laporan Penyakit
Unsur ini penting untuk mengetahui distribusi penyakit menurut waktu, apakah
musiman, cyclic, atau secular. Dengan demikian kita mengetahui pula ukuran endemis
suatu penyakit. Bila terjadi lonjakan frekuensi penyakit melebihi ukuran endemis berarti
terjadi letusan pada daerah atau lokasi tertentu. Macam data yang diperlukan
sesederhana mungkin,variabel orang cukup nama dan umurnya; variabel tempat,
cukup alamatnya. Tentu yang penting dicatat diagnose penyakit dan kapan mulai
timbulnya penyakit tersebut.
3) Laporan Wabah
Penyakit tersebut terjadi dalam bentuk wabah, misalnya keracunan makanan, influenza,
deman berdarah, dll. Laporan wabah dengan distribusi penyakit menurut waktu, tempat
dan orang, penting artinya untuk menganalisis dan menginterpretasikan data dalam
rangka mengetahui sumber dan penyebab wabah tersebut.
4) Pemeriksaan Laboratorium
Laboratorium merupakan suatu sarana yang penting untuk mengetahui kuman penyebab
penyakit menular dan pemeriksaan tertentu untuk penyakit-penyakit lainnya, misalnya
kadar gula darah untuk penyakit Diabtes Mellitus, dll.
5) Penyakit Kasus
Penyelidikan kasus dimaksudkan untuk mengetahui riwayat alamiah penyakit yang
belum umum diketahui yang trjadi pada seorang atau lebih individu.
6) Penyelidikan Wabah
Bila terjadi lonjakan frekuensi penyakit yang melebihi frekuensi biasa, maka perlu
diadakan penyelidikan di tempat dimana bila diadakan analisa data sekunder, dapat
diketahui terjadinya letusan tersebut. Dalam hal ini diperlukan diagnosa klisis, diagnose
laboratories disamping penyelidikan epidemi di lapangan.
7) Survey
Survey ialah suatu cara penelitian epidemiologi untuk mengetahui prevalesn penyakit.
Dengan ukuranini dikeahui luas masalah penyakit tersebut. Bila setelah disurvey
pertama dilakukan pengobatan terhadap penderia, maka dengan survey kedua dapat
ditentukan keberhasilan pengobatan tersebut.
8) Penyelidikan tentang Distribusi dari Vektor dan Reservoir Penyakit

Penyakit zoonosis terdapat manusia dan binatang; dalam hal ini binatang dan manusia
merupakan reservoir. Penyakit pada binatang diselidiki oleh dokter. Penyakit malaria
ditularkan oleh vector nyamuk anopheles, dan penyakit demam berdarah ditularkan oleh
vector Aedes Aegypti. Vector-vektor tersebut perlu diselidiki ahli entomologi untuk
mengetahui apakah mengandung kuman malaria, atau virus dari demam berdarah.
9) Penggunaan Obat-obatan, Sera dan Vaksin
Keterangan yang menyangkut penggunaan bahan-bahan tersebut, yaitu mengenai
banykanya, jenisnya dan waktunya memberi petunjuk kepada kita mengenai masalah
penyakit. Disamping itu dapat pula dikumpulkan keterangan mengenai efek sampingan
dari bahan-bahan tersebut.
10) Keterangan tentang Penduduk serta Lingkungan
Keterangan tentang penduduk penting untuk menetapkan population at risk.
Persediaan bahan makanan penting diketahui apakah ada hubungan dengan kekurangan
gizi, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kependudukan dan lingkungan ini
perlu selalu dipikirkan dalam rangka analisa epidemiologis. Data atau keterangan
mengenai keperndudukan dan lingkungan itu tentu harus didapat di lembaga-lembaga
non kesehatan.
Dari 10 macam itu, seorang epidemiologis mendapat keterangan untuk mengetahui dan
melengkapi gambran epidemiologi suatu penyakit.
Tentu saja tidak semua (10) unsur itu digunakan untuk surveillens seluruh penyakit;
misalnya untuk cacar penting untuk no.1 dan no.2; untuk salmonella diperlukan unsur no.4;
harus dibedakan antara pengertian surveilens dan riset. Riset adalah usaha mencari informasi
baru dalam rangka pengobatan pencegahan dan prmosi kesehatan; dalam hal ini perlu dibuat
suatu disain penelitian yang bukan merupakan suatu kerja yang rutin, tetapi Surveilens
Epidemiologi merupakan suatu kegiatan yang rutin. Yang mungkin menghasilkaan informasi
yang biasa atau luar biasa. Bila terjadi hal yang luar biasa, disinilah letak kepentingan
Surveilens Epidemiologi itu.

BAB XI
STRATEGI PENGAMBILAN SAMPEL
11.1. Definisi Populasi dan Sampel
Pengambilan/ penarikan data penelitian bisa berasal dari populasi atau sampel.
1. Populasi dalam penelitian adalah setiap subjek (misalnya: manusia, pasien) yang
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Contoh: semua pasien yan telah menjalani
operasi jantung di RS Harapan Kita Surabaya.
2. Sampel adalah bagian dari populasi yang dapat dipergunakan sebagai subjek
penelitian melalui sampling dan diharapkan bisa mewakili populasinya.
3. Sampling adalah proses menyeleksi populasi yang dapat mewakili populasi yang
ada.
4. Teknik sampling merupakan cara atau metode dalam menarik atau mengambil
sampel dari populasinya, sehingga sampel tersebut dapat valid (sah) dan reliabel
(dapat diandalkan) dalam mewakili populasinya.
11.2. Syarat-Syarat Sampel
Adapun syarat-syarat sampel adalah sebagai berikut:
1. Representatif
Sampel yang representative adalah sampel yang dapat mewakili populasi yang
ada. Untuk memperoleh hasil/ kesimpulan penelitian yang menggambarkan keadaan
populasi penelitian, maka sampel yang diambil harus mewakili populasi yang ada.
Untuk itu dalam Sampling harus direncanakan dan jangan asal mengambil.
Misalnya, kita ingin meneliti hubungan pengetahuan pasien dan ketatan diet pada
pasien Diabetes. Dasar pendidikan pasien ada yang tidak sekolah, tidak lulus SD,
lulus SD, SMP, SMU, akademi, perguruan Tinggi, dll. Semua tingkat pendidikan
tersebut harus terdapat dalam sampel, istilahnya terwakili dalam sampel penelitian.
2. Sampel harus cukup banyak
The more sample, the representativeness the result of the research will be.
Meskipun keseluruhan lapisan populasi telah terwakili, kalau jumlahnya kurang

memenuhi, maka kesimpulan hasil penelitian kurang, atau bahkan tidak bisa
memberikan gambaran tentang populasi yang sesungguhnya. Sebenarnya tidak ada
pedoman umum yang digunakan untuk menentukan besarnya sampel untuk suatu
penelitian. Besar kecilnya jumlah sample sangat dipengaruhi oleh desain dan
ketersediaan subjek dari penelitian itu sendiri. Polit dan Hungler (1993) menyatakan
bahwa semakin besar sample semakin baik dan representative hasil yang diperoleh.
Dengan kata lain semakin besar sample, semakin mengurangi angka kesalahan.
Makin kecil jumlah populasi, presentasi sample harus semakin besar.
11.3. Penentuan Besarnya Sampel
Menentukan ukuran sampel minimum (n minimal) bisa dilakukan melalui 2 cara, yaitu:
a. Cara Statistik
Menggunakan rumus srtatistik tertentu yang bervariasi, bergantung pada banyak
fator (seperti parameter yang akan diteliti, parameter yang diketahui, alat anaalisis
statistic yang digunakan, teknik sampling yang digunakan, dll). Mengingat tingkat
kesulitanyya, cara ini relative jarang digunakan dan cenderung dihindari oleh
mahasiswa.
Apabila jumlah anggota dari populasi (N) diketahui (besar populaasi <1000),
besarnya sampel (n) dapat diperoleh dengan cara:

n=

N . z2 p .q
d 2 ( N1 ) + z 2 . p . q

n=

N
1+ N (d)2

(Dikutip dari Zainuddin M, 2000)


Keterangan :
n = Perkiraan jumlah sampel
N = Perkiraan besar populasi
Z = Nilai standar normal untuk

= 0,05 (1,96)

p = Perkiraan proporsi, jika tidak diketahui dianggaap 50%


q = 1-p (100%-p)

D = Tingkat kesalahan yang dipilih (d=0,05)


Contoh: (N = 48 orang)

48(1,96)2 .0,5.0,5
=42,7=43 Responden
2
{(0,05)2 ( 481 ) }+{( 1,96 ) .0,5.0,5 }

Penentuan dengan rumus tersebut daiatas tidak mutlak, khususnya jika tujuan
penelitian tidak untuk generalisasi.
b. Cara non Statistik
Mengguunakan asumsi tertentu, biasanya:
1. Pendapat pakar statistic tentang ukuran sampel
Contoh:
1) Jika besar populasi > 1000, maka sampel bisa diambil 10%-20%
2) Jika besar populasi 1000, maka sampel bisa diambil 20-30%
2. Adanya keterbatasan sumber daya; BTW (Biaya, Tenaga, Waktu)
Selama cara ini tetap memenuhi syarat validitasnya, maka bisa digunakan oleh
para peneliti, sehingga cara ini relative banyak digunakan mahasiswa
khususnya dalam penelitian studi kasus.
11.4. Teknik/Prosedur Sampling
Cara pengambilan sampel dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: probability sampling
dan non probability sampling.
a. Probability Sampling (Bersifat Random)
Prinsip utama dari probability sampling adalah bahwaa setiap subjek daalam
populasi mempunyai kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel.
Setiap bagian populasi yang representative. Dengan menggunakan random
sampling, peneliti tidak bisa memutuskan bahwa X lebih baik daripada Y untuk
penelitian. Demikian juga, peneliti tidak bisa mengikutkan orang yang telah dipilih
sebagai subjek, karena mereka tidak setuju, tidak senang dengan subjek aatau sulit
untuk dillibatkan.
1) Simple Random Sampling
Pemilihaan sampel dengan cara ini merupakan jenis probabilitas yang pasling
sederhana. Untuk mencapai sampling ini, setiap elemen diseleksi secara
random (acak). Jika sampling frame kecil, nama bisa ditulis secarik kertas,
diletakkan di kotak, diaduk dan diambil secara acak acak setelah semuanya
terkumpul. Misalnya, kita ingin mengambil sampel 30 orang dari 100 populasi

yang tersedia, maka secara acak kita mengambil 30 sampel melalui lemparan
dadu atau secara acak kita mengambil 30 sampel melalui lemparan dadu atau
pengambilan nomor yang telah ditulis.
2) Stratified Random Sampling
Stratified artinya strata atau kedudukan subjek (seseorang) di masyarakat.
Jenis sampling ini dipergunakan peneliti untuk mengetahui beberapa variabel
pada populasi yang merupakan hal yang penting untuk mencapai sampel
representative. Misalnya jika kita merencanakaan ada 100 sampel, peneliti
mengelompokkan 25 subjek dengan tingkat pendidikan: tidak sekolah dan SD
tidak tamat; dasar (SD dan SMP); SLTA: dan perguruan tinggi. Pada jenis
sampling ini harus diyakinkan baahwa variabel yang diidentifikasi akan
mewakili populasi.
3) Cluster Random Sampling
Cluster berarti pengelompokkan sampel berdasarkan wilayah atau lokasi
populasi. Jenis sampling ini dapat dipergunakan dalam dua situasi. Pertama
jika simple random sampling tidak memungkinkan karena alasan jarak dan
biaya; kedua peneliti tidak mengetahui alamat dari populaso secara pasti dan
tidak memungkinkan menyusun sampling frame. Misalnya, peneliti ingin
meneliti anak yang mengalami stress berdasarkaan tempat pasien dirawat (di
rumah sakit A, B, C) dimana tempat tersebut mempunyai karakteristik yang
berbeda.
4) Systematic Random Sampling
Pengambilaan sampel secara sistematik dapat dilaksanakan jika tersedia daftar
subjek yang dibutuhkan. Jika jumlah populasi adalah N= 1200 dan sampel
yang dipilih= 50, maka setiap kelipatan 24 orang akan menjaadi sampel
((1200:50) = 24). Maka sampel yang dipilih didasarkan pada nomor kelipatan
24, yaitu sampel no. 24, 28, dan seterusnya.
b. Nonprobability Sampling (Tidaak Bersifat Random)
1) Purposive Sampling
Purposive Sampling disebut juga judgement sampling. Adalah suatu teknik
penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai
dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian), sehingga
sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal

sebelumnya. Misal, kita ingin meneliti peran keluarga dalam perawatan pasien
yang mempunyai anak dengan skizofrenia.
2) Consecutive Sampling
Pemilihan sampel dengan consecutive (berurutan) adalah pemilihan sampel
dengan menetapkan subjek yang memenuuhi kriteria penelitian dimasukkan
dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah pasien yang
diperlukan terpenuhi (Sastroasmoo dan Ismail, 1999:45). Jenis sampling ini
merupakan jenis non-probability sampling yang terbaik dan cara yang agak
mudah. Uuntuk dapa menyerupai probability sampling, dapat diupayakan
dengan menambahkan jangka waktu pemilihan pasien. Misalnya, terjadinya
wabah demam berdarah selama kurun waktu tertentu di mana waktu tersebut
menunjukkan terjadinya puncak insiden demam berdarah, jenis sampling ini
sering dipergunakan pada penelitian epidemiologi di komunitas.
3) Convenience Sampling
Pemilihaan sampel convenience adalah cara peneteapan sampel dengan
mencari subjek atas dasar hal-hal yang menyenangkan atau mengenakan
peneliti. Sampling ini dipilih apabila kurangnya pendekatan dan tidak
memungkinakan untuk mengontrol bias. Subje dijadikan sampel karena
kebetulan dijumpai di tempat dan waktu secara bersamaan pada pengumpulan
data. Pada cara ini sampel diambil tanpa sistematika tertentu, sehingga tidak
dapat dianggap mewakili populasi sumber, apalagi pipulasi targe. Misalnya,
pada waktu peneliti praktik di ruangan kebetulan menjumpai pasien yang
diperlukan (sesuai masalah penelitiaan), maka peneliti langsung menetapkan
subjek tersebut untuk diambil datanya. Kemudian peneliti cuti dan tidak
melanjutkan. Setelah beberapa lama, peneliti melanjutkan lagi penelitian
subjek, digunakan seterusnya.
4) Quota Sampling (judgement sampling)
Teknik penentuaan sampel dalam kuota menetapkan setiap strata populasi
berdasarkan tanda-tanda yang mempunyai pengaruh terbesar variabel yang
akan diselidiki. Quota artinya enetapan subjek berdasarkan kapasitas/daya
tamping yang diperlukan dalam penelitian. Misal, dalam suatu penelitian
didapatkan adanya 50 populasi yang tersedia, peneliti menetapkan kuota 40
subjek untuk dijadikan sampel maka jumlah tersebut dinamakan kuota.

BAB XII
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR (PM)
12.1. Definisi Penyakit Menular
Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang yang
satu ke orang yang lain, baik secara langsung maupun melakukan perantara). Penyakit
menular ini ditandai dengan adanya (hadirnya) aden atau penyebab penyaakit yang hidup dan
dapat berpindah.

Suatu penyakit dapat menular dari orang yang sau kepada yang lain ditentukan oleh 3 faktor
tersebut diatas, yakni:
a. Agen (penyebab penyakit)
b. Host (induk semang)
c. Route of transmission (jalannya penularan)
Apabila diumpamakan berkembangnya suatu tanaman, dapat diumpamakan sebagai biji
(agen), tanah (host) dan iklim (route of transmission).
12.2. Agen-Agen Infeksi (Etiologi/Penyebab Infeksi)
Makhluk hidup sebagai pemegang peranan penting didalam epidemiologi yang
merupakan etiologi/penyebab penyaakit dapat dikelompokka menjadi:
a. Golongan virus, misalnya influenza, trachoma, cacar, dan sebagainya.
b. Golongan riketsia, misalnya thypus.
c. Golongan bakteri, misalnya disentri.
d. Golongan protozoa, misalnya malaria, filarial, schistosoma dan sebagainya.
e. Golongan jamur, yakni bermacam-macam panu, kurap dan sebagainya.
f. Golongan cacing, yaakni bermcam-macam cacing perut seperti ascaris (cacing
gelang), cacing kremi, cacing pita, cacing tambang dan sebagainya.
Agar supaya agen atau penyebab penyakit menular ini tetap hidup (survive) maka perlu
persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Berkembang biak
Bergerak atau berpindah dari induk semang
Mencapai induk semang baru
Menginfeksi induk semang baru tersebut

Kemampuan agen penyakit ini untuk tetap hidup pada lingkungan manusai aadalah suatu
faktor penting didalam epidemiologi infeksi. Setiap bibit penyakit (penyebab penyakit)
mempuyai habitat sendiri-sendiri sehingga ia dapat tetap hidup.
12.3.
Reservoar
Istilah reservoar diartikan sebagaai berikut:
1. Habitat dimana bibit penyaakit tersebut hidup dan berkembang
2. Survival dimana bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habita sehingga ia dapat
tetap hidup.
Reservoar tersebut dapat berupa manusia, binatang atau benda-benda mati.
a. Reservoar didalam Manusia

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoar didalam tubuh mansuai antara lain


campak (measies), cacar air (smali pox), typhus (typhoid), menjadi kasus yang aktif dan
carrier.
1) Carrier
Carrier adalah orang yang mempunyai bibit penyakit didalam tubuhnya tanpa
menunjukkan adanya gejala penyakit tetapi orang tersebut dapat menularkan
penyakitnya kepada orang lain. Convalescant carriers adalah orang yang masih
mengandung bibit penyakit setelah sembuh dari suatu penyaakit.
Carriers adalah sangat penting dalaam epidemiologi penyakit-penyakit polio,
typhoid, meningococal meningitis dan amoebiasis. Hal ini disebabkan karena:
a. Jumlah (banyaknya carriers jaauh lebih banyak daripada orang yang saakitnya
sendiri)
b. Carriers maupun orang yang ditulari sama sekali tidak tahu bahwa mereka
menderita / kena penyakit.
c. Carriers tidak menurunkan kesehatannya karena masih dapat melakukan
pekerjaan sehari-hari.
d. Carriers mungkin sebagai sumber infeksi untuk jangka waktu yang relatif lama.
b. Reservoar pada Binatang
Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoar pada binatang pada umumnya adalah
penyaakit zoonosis. Zoonosis adalah penyait pada binatang vetebrata yang dapat meular
pada manusia. Penularan penyakit-penyakit pada binatang ini melalui berbagaai dara,
yakni:
1. Orang makan daging binatang yang menderita penyakit, misalnya cacing pita.
2. Melalui gigitan binatang sebagai vektornya, misalnya pes melalui pinjal tikus.
3. Malaria, filariasis, demam berdarah melalui gigtan nyamuk.
4. Binatang penderita penyaakit langsung menggigit orang misalnya rabies
c. Benda-Benda Mati sebagi Reservoar
Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoaar pada benda-benda mati pada dasarnya
adalah saprofit hidup dalam tanah. Pada umumnya bibit penyakit ini berkembang biaak
pada lingkungan yang cocok untuknya. Oleh karena itu bilaa terjadi perubahan
temperature atau kelembaaban dari kondisi dimanaa ia dapat hidup maka ia
berkembang iak dan siap infektif. Contoh clostridium tetani penyebab tetanus,
C.botulinum penyebaab keracunan makanan dan sebagainya.
12.4.

Sumber Infeksi dan Penyebaran Penyakit (Portal or Entry and Exit)

Sumber infeksi adalah semua bemdaa termasuk orang atau binatang yang dapat
melewatkn/menyebabkan penyakit pada orang. Sumber penyakit ini mencakup juga
reservoar seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Dalam proses perjalanan penyakit, kuman memulai aksinya dengan memasuki pintu
masuk tertentu (portal of entry) calon pendertia baru dan kemudian jika ingin berpindah ke
penderita baru lagi akan keluar melalui pintu tertentu (portal of exit).
Pengetahuan tentang jalan masuk ini penting untuk epidemiologi karena dengan
pengetahuan itu dapat dilakukan penghadangan perjalanan kuman masuk ke dalam tubuh
manusia, misalnya cacing yang akan masuk melalui mulut diegah dengan upaya cuci tangan
sebelum makan. Sedangkan pengetahuan tentang jalan keluar bermanfaat untuk
menemukan kuman untuk identifikasi atau diagnosis, misalnya kuman TBC keluar melalui
batuk maka penemuan kuman TBC dilakukan dengan penangkapan kumannya di
batuk/dahaknya.
12.5.
Macam-Macam Penularan (Mode of Transmission)
Mode penularan adalah suatu mekanisme dimana agen /penyebab penyakit tersebut
ditularkan dari orang ke orang lain atau dari reservoar kepada induk semang baru.
Penularan ini melalui berbagai cara antara lain:
1. Kontak (Contact)
Kontak disini data terjadi kontak langsung maupun kontak tidak langsuung
melalui benda-benda yang terkontaminasi. Penyakit-penyakit yang ditularkan
melalui kontak langsung ini pada umumnya terjadi pada masyarakat yang hidup
berjubel. Oleh karena itu lebih cenderung terjadi di kota daripada di desa yang
penduduknya masih jarang.
2. Inhalasi (Inhalation)
Yaitu penularan melalui udara/pernapasan. Oleh karena itu ventilasi tumah yang
kurang berjejalan (over crowding) dan tempat-tempat umum adalah faktor yang
sangat penting didalam epidemiologi penyaakit ini. Penyakit yang ditularkan
melalui dara ini sering disebut air borne infection (penyakit yang ditularkan
melalui udara).
3. Infeksi
Penularan melalui tangan, makanan dan minuman.
4. Penetrasi pada Kulit
Hal ini dapat langsung oleh organisme itu sedniri. Penetrasi pada kulit misalnya
cacing tambang, melalui gigitan vector misalnya malaria atau melalui luka,
misalnya tetanus.

5. Infeksi Melalui Plasenta


Yakni infeksi yang diperoleh melalui plasenta dari ibu penderita penyakit pada
waktu mengandung, misalnya syphilis dan toxoplasmosis.
12.6.
Faktor Induk Semang (Host)
Terjadinya suatu penyakit (infeksi) ada seseorang ditentukan pula oleh faktor-faktor
yang ada pada induk semang itu sendiri. Dengan perkataan lain penyakit-penyakit dapat
terjadi pada seseorang tergantung/ditentukan oleh kekebalan/resistensi orang yang
bersangkutan.
12.7.
Pencegahaan dan Penanggulangan Penyakit Menular
Untuk pencegahan dan penanggulangaan ini ada 3 pendekatan atau cara yang dapat
dilakukan:
1. Eliminasi Reservoir (Sumber Penyakit)
Eliminasi reservoir manusia sebagai sumber penyebarann penyakit dapat
dilakukan dengan:
a. Mengisolasi penderita (pasien), yaitu menempatkan pasien di tempat yang
khusus untuk mengurangi kontak dengan oraang lain.
b. Karantina adalah membatasi ruang gerak penderita dan menempatkannya
bersama-sama penderita lain yang sejenis pada tempat yang khusus didesain
untuk itu. Biasanya dalam waktu yang lama, misalnya karantina untuk
penderita kusta.
2. Memutus Mata Rantai Penularan
Meningkatkan sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan adalah merupakan
usaha yang penting untuk memutus hubunga atau mata rantai penularan penyakit
menular.
3. Melindungi Oraang-Orang (Kelompo) Rentan
Bayi dan anak balita adalah merupakan kelompok usia yang rentan terhadap
penyakit menular. Kelompok usia yang rentan ini perlu lindungan khusus
(specific protection) dengan imunisasi baik imunisasi aktif maupun pasif. Obatobat profilaksis tertentu juga dapat mencegah penyakit malaria, meningitis dan
disentri baksilus. Pada anak usia muda, gizi yang kurang akan menyebabkan
kerentanan pada anak tersbut. Oleh sbab itu, meningkatkan gizi anak adalah juga
merupakan usaha pencegahan penyakit infeksi pada anak.
12.8.

Perbandingan Karakteristik Penyakit Menular dan Tidak Menular

PENYAKIT MENULAR (PM)

PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Banyak ditemui di Negara berkembang


Rantai penularan yang jelas
Perlangsungan akut
Etiologi mikroorganisme jelas
Bersifat single-kausa
Diagnosis mudah
Agak mudah mencari penyebabnya
Biaya relatif murah
Jelas muncul di permukaan
Morbiditas dan mortalitasnya cenderung

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Ditemui di Negara industry


Tidak ada rantai penularan
Perlangsungan kronik
Etiologi tidak jelas
Biasanya multiple-kausa
Diagnosa sulit
Sulit mencari penyebabnya
Biaya mahal
Ada iceberg phenomen
Morbiditas dan mortalitas cenderung

menurun.
meningkat.
Tabel 1. Perbandingan Penyakit Menular & Tidak Menular