Anda di halaman 1dari 10

BAB XIII

RANCANGN STUDI EPIDEMIOLOGI DESKRIPFTIF


13.1.
Definisi
Epidemiologi Deskriptif (Descriptive Epydemiology) adalah jenis penelitian yang
mempelejari tentang frekuensi dan distribusi masalah kesehatan tanpa memandang perlu
mendapatkan jawaban tentang faktor penyebab yang mempengaruhi frekuensi, penyebaran
dan munculnya masalah kesehatan tersebut. Eidemiologi deskriptif ini hanya menjawab
pertanyaan tentang siapa (Who), dimana (Where), dan kapan (when) tetapi tidak menjelaskan
kenapa (Why) timbul masalah kesehatan tersebut. Jadi dalam epidemiologi deskriptif
dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut perubahan variabel-variabel
epidemiologi yang terdiri dari orang (Person), tempat (Place) dan waktu (Time).
13.2.

Ciri-Ciri Penelitian Deskriptif


Adapun cirri-ciri penelitin deskriptif adalah sebagai berikut:
1. Pemaparan peristiwa dilakukan secara sistemaik dan lebih menekankan pada data
factual daripada penyimpulan/ berhubungan dengan keadaan yang terjadi saat itu.
2. Fenomena disajikan secara apa adanya tanpa manipulasi/ tidak ada perlakuan
terhadap variabel dan peneliti tidak mencoba menganalisis bagaimana dan
mengapa fenomena tersebut bisa terjadi.
3. Tidak perlu adanya suatu hipotesis.
4. Menguraikan satu variabel saja. Jika ada beberapa variabel yang diuraikan,
dilakukan satu per satu.
5. Hasil penelitian deskriptif sering digunakan atau dilanjutkan dengan melakukan
penelitian analitik
6. Hubungan antar

variabel

diidentifikasi

untuk

menggambarkaan

secara

keseluruhan suatu persitiwa yang sedang diteliti, tetpi pengujian mengenai tipe
dan tingkat hubungan bukaan merupakan tujuan utama dari suatu penelitiaan
deskriptif.
13.3.
Jenis Studi Deskriptif
1) Penelitian Studi Kasus
Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit
penelitian secaa intensif misalanya satu pasien, keluarga, kelompok, komunitas atau
institusi. Meskipun jumlaah dari subjek cenderung sedikit, jumlah variabel yang diteliti

sangat luas. Oleh Karen itu sangat penting untuk mengetahui semua variabel yang
berhubungan dengan masalah penelitian.
Desain dari studi kasus tergantung dari keadaan kasus tetapi teap mempertimbangkan
waktu. Riwayat dan pola perilaku sebelumnya biasanya dikaji secara rinci. Keuntungan
yang paling besar dari desain ini adalah pengkajian secara rinci meskipun jumlah dari
responden sedikit, sehingga akan didapatkan gambaran satu unit subjek secaa jelas.
Misalnya, studi kasus tentang gambaran penatalaksanaan pasien ISP di posyandu. Peneliti
akan mengkaji variabel yang sangat luas dari kasus diatas mulai dari menemukan masalah
bio-psiko-sosio-spiritual.
2) Penelitian Survey
Pada umumnya study epidemoilogi deskriptif menggunakan survey dalam penarikan
datanya. Penelitian survey adalah penelitian dimana data/objek penelitian diambil dari
unsure sampel saja. Survey adalah suatu desain yang digunakan untuk menyediakan
informasi yang berhubungan dengan prevalensi, distribusi dan hubungan antar variabel
dalam suatu populasi. Pada survey tidak ada intervensi. Survey mengumpulkan informasi
dari tindakan seseoranh, pengetahuan, kemauan, pendapat, perilaku dan dnilai.
Keuntungan dari survey ini adalah dapar menjaring responden secara luas dan dapar
memperoleh berbagi informasi sertaa hasil informasi yang didapat dari survey seringkali
berifat superficial. Oleh Karena itu pada penelitian survey akan lebih baik jika
dilaksanakan analisa secara bertahap.
Jenis studi epidemiologi deeskriptif.metode peralihan antaraa pengamatan deskriptif
menuju pengamatan analisis yang sering digunakan adalah:
1. Studi Cross-Sectional (Lintas-Bagian) Deskriptif
a. Ciri-ciri Studi cross-sectionaal (Lintas-Bagian) deksriptif
a) Penelitian yang mengukur prevalensi penyakit. Oeh karena itu seringkali
disebut sebagai penelitian prevalensi.
b) Mengukur hubunganvariabel pemajan/ pajanan dengan variabel penyakit
dengan cara mengamai status paparan dan penyakit secara serentak pada
individu dari populasi tunggal pada satu saat atau periode tertentu/
pengamatan sepintas/ semacam snapshot.
c) Tidak bertujuan pada pengujian hipotesis
d) Pengukuran pemajan dan penyakit secara simultan pada sampel yang
mewakili populasi.
e) Instrument yang sering digunakan untuk memperoleh data dilaakukan
melalui survey, wawancara, dan isian kuesioner.

Karakteristik dan penyakit (terpajan)

Karakteristik dan tanpa penyakit (terpajan)


Populasi referens
(Bebas Sakit)

Sampel
Tanpa Karakteristik dan penyakit (Tidak terpajan)

Gambar 2. Desain Studi Cross-sectional


Tanpa Karakteristik dan tanpa penyakit (Tidak terpajan
Contoh: Suatu pengamatan yang dilakukan pada suatu desa lokasi kerja lapangan
mahasiswa di Bulosibatang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, menunjukkan
bahwa pervealensi Hipertensi sebesar 26% pada populasi sebebsar 4590 jiwa dan
Hipertensi baru terlihat di atas umur 30 tahun dan tida ada perbedaan prevalensi
antara pria dan wanita.
b. Kelebihan Studi Cross Sectional
a) Dapat dilakukan dengan hanya sekali pengamatan atau interview.
b) Murah, bahkan dapat termurah dibanding dengan penelitian lainnya.
c) Bergunaa untuk informasi perencanaan, misalnya: untuk menentukaan lokasi
rumah sakit, penganggaran obat dan peralatan medis, dan jenis-jenis
pelayanan yang diperlukan.
d) Untuk mengamati kemungkinan hubungan berbagai variabel yang ada.
c. Kelemahan Studi Cross Sectional
a) Keluaran dan pajanan diukur pada waktu yang sama, sehinggaa kuran dapat
melihat sebab-akibat/ tidak dapat memberikan gambaran kausal, hanya
memberikan informaasi tentang hubungan antara karakteristik epidemiologis
dengaan masalah kesehatan yang diamati.
b) Umumnya hanya menemukan kasus yang selamat. Tidak dapat menemukan
mereka yang mati karena penyakit yang diteliti.
c) Sulit dilakukan terhadap penyakit atau masalah yang jarang dalam
masyarakat.
d) Sulit dipakai untuk penyakit yang akut, pednek masa inkubasi dan masaa
sakitnya. Point prevalence kemungkinan tidak dapat menemukan kasus kalau
kejadian penyakit telah berlangsung.
2. Studi Ekologi (Ecologic Study)

Pengamatan ekologi atau disebut studi agregasi merupakan suatu pengamatan dimana
saatuan unit yang dianalisis dan dievaluasi adalah kelompok populasi dalam suatu
daerah administrasi tertentu atau dalam suatu wilayah geograafis tertentu dan bukan
indivdu dalaam masyarakat. Analisi ekologi dapar menyangkut data insidensi,
prevaalensi maupun data mortalitas.
Pengamatan ekologi akan lebih atraktif bila membandingkan data dari sumber yang
cukup besar (umpamanya dari data sensus atau data stsitistik vital) untuk mendpatkan
informasi, baik informasi tentang faaktor yang diamati maupun tentang frekuensi
penyakit pada populasi yang sama.
a. Syaratnya unti observasi adalah agregat (keluarga, kelompok, sekolah):
Lokalisasi administrative geografis
Kluster perumahaan
Kota secara keseluruhan
Negara
b. Analisis agregat gambaran nasional:
Korelasi analisis agregat antara faktor studi dan penyakit (atau mortalitas) di
lokal geografis.
Tidak ada informasi status individual
Tingkat pemajan pada unit geografis atau Negara diambil dari semua individu
yang ada dalam unit.
c. Conroh pengamatan ekologis:
Korelasi ekologis konsumsi daging dengan angka kematian kanker usus pada
beberapa Negara industry.
Korelasi ekologis konsusmsi rokok per kapita dan tingkat mortalitas karena
kanker paru.
Korelasi ekologis kesadahan air dan mortalitas karena penyakit kardiovaskular
Korelasi ekologis tingkat kelahiran dengan perolehan kerja perempuan di luar
rumah.
Korelasi ekologis jinsumsi alcohol dan penyakit jantung koroner
Korelasi ekologis pendapatan per kapita dan kanker usus besar.
Pera frekuensi kanker di suatu Negara dan interpretasinya menurut otoritas
penelitian kanker nasional.
d. Kelemahan Studi Ekologi:
Dapat timbul bias (kesalahan) dalam mengambil kesimpulan yang dikenal
dengan Ecological Fallacy.
Banyak faktor risiko yang berpengaruh pada kluster di eografis tertentu (Polusi
udara, indstrusi berat, penuaan, kepadatan).
Tidak dapat digunakan sebagai dasar kesimpulan kausal.

Peneliti tidak mengetahui hubungan atau interkasi antara penyebaran faktor


resiko dengan penyebaran penyakit pada kelompok yang dianalisis. Arinya
walaupun peneliti mengetahui jumlah atau proporsi penduduk yang terpapar
serta jumlah kasus yang diteliti dalam suatu kelompok populasi tertentu,
namun tidak diketahui kasus yang terpapr dan yang tidak terpapar dalam
populasi tersebut.
BAB XIV
RANCANGAN STUDI EPIDEMIOLOGI ANALITIK
14.1.

Definisi
Epidemiologi analitik (Analytic Epidemiology) adalah jenis penelitian yang berkaitan

dengan upayaa epidemiologi untuk menganalisis faktor penyebab (determinant) masalah


kesehatan. Hal ini berarti bahwa epidemiologi analitik telah mencaakup pencarian jawaban
terhadap faktor-faktor penyebab yang dimaksud (Why) untuk kemudian dianalisa
hubungannya dengan akibat yang ditimbulkan. Contohnya: setelah ditemukan secara
deskriptif bahwa merokok dapat menyebabkan kanker paaru, maka perlu dianalisis lebih
lanjut apakah merokok benar penyebab terjadinya kanker paru
.
14.2.
Ciri-Ciri Penelitian Analitik
Ciri-ciri penelitian analitik antara lain:
1. Pengujiaan hubungaan
2. Melihat etiologi
3. Uji hipotesis
14.3.

Jenis Studi Analitik


Studi analitik dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Penelitian Observasional
Yaitu peneliti melakukan pengamatan atas perubahan alamiah, tidak ada
manipulasi perlakuan (exposure), seperti: study case control, study kohort, dll.
2. Penelitian Eksperimental
Yaitu peneliti melakukan pengamatan atas dampak perlakuan, manipulasi
perlakuan ada. Seperti: eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan
(biasanya pada bidang ilmu pasti, di maanaa ada upaya yang memungkinkaan
untuk mengontrol. Mengendalikan variabel penelitian, sehingga ada faktor
control dan faktor eksperimen).

Jenis studi Epidemiologi Analitik yang sering digunakan adalah:


a. Penelitian Kohort
Penelitian kohort dimulai dengan sekelompok orang (kohor) yang bebas dari
penyakit, subjek dibagi atas dasar ada atau tidaknya exposure/ paparan/ pajanan
kemudian diikuti hingga munculnya penyakit pada tiap grup. Sering disebut
penelitian follow up atau penelitian insidensi.
Sakit

Terpajan
Studi cross-sectional atau skrining mengeluarkan mereka yang sakit

Tidak Sakit

Populasi referens (Bebas Sakit) Sampel

Gambar 3. Desain Penelitian Kohort

Sakit

Tidak Terpajan
SEKARANG

WAKTU MENDATANG
Tidak Sakit

Prosedur:
1. Tentukan group terpapar dan group tidak terpapar
2. Amati hingga mereka sakit atau tidak
Dua Jenis Study Kohort:

Kanker Mulut
1. Kohort Prospektif: jika paparan sedang
atau akan berlangsung
Mengunyah
Tembakau pada saat penelitian

memulai penelitiannya,
melihat
ke depan
(foreward
oss-sectional atau skrining mengeluarkan
mereka
yang
kanker
mulut looking), studi insidens, dimulai
Tidak Kanker Mulut
dengan populasi referens (bebas sakit).

Populasi referens (Bebas Sakit) Sampel

Tidak Mengunyah Tembakau

Kanker Mulut

Tidak Kanker Mulut

Gambar 4. Desain Penelitian Kohort Prospektif


2. Kohort Retrospektif (Historical Kohort): paparan telah terjadi sebelum peneliti memulai
penelitiannya, peneliti merekonstruksi populasi terpajan dan tidak terpajan melalui

catatan medik.
ditampilkan untuk mengeliminasi orang yang telah mempunyai penyakit tidak diinvestigasi
Sakit
Terpajan
Tidak Sakit

Populasi Berisiko

Tidak Terpajan

Sakit

Tidak Sakit
Gambar 5. Desain Penelitian Kohort Retrospektif

PENYAKIT
pemajan dan perkemba
EXPOSURE Investigasi bermula di sini dan rekonstruksi riwayat
Total
YA
TIDAK
YA
a
b
a+b
TIDAK
c
d
c+d
Total
a+c
b+d
a+b+c+d
Tabel 2. Presentasi Data Penelitian Kohort Retrospektif
PENGUKURAN EFEK:
1. Insiden Rate (IR)
Group Terpapar (exposure) IE = a / a+b
Group Tak Terpapar (Non-Exposure) IO = c / c+d
2. Resiko Relatif (RR)
Resiko Relatif RR = IE/ IO = a / (a+b) : c / (c+d)

Resiko Relative
Estimasi besarnya hubungan antara faktor pemapar dan penyakit
Menunjukkan kekerapan munculnya pada group terpapar relative dibandingkan
group tidak terpapar
Interpretasi RR:
RR = 1, berarti tidak ada asosiasi/ hubungan faktor resiko dengan penyakit.
Rr > 1, berarti ada asosiasi positif antara faktor resiko dengan penyakit
(penyebab)
RR > 1, berarti ada asosiasi negative antara faktor resiko dengan penyakit
(pencegah)
b. Penelitian Kasus Control (Case Control Study)
Penelitian kasus control membandingkan kelompok kasus daan kelompok control
berdasarkan status paparannya. Pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya,
apakah mereka menderita (group kasus) atau tidak (group control) untuk kemudian
dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar atau tidak.
ORIENTASI

Kasus
(Kelompok dengan kondisi)

Kontrol
(Kelompok tanpa kondisi)

Terpajan
(dengan karakteristik atau faktor resiko)
Tidak Terpajan
(dengan karakteristik atau faktor resiko)

Terpajan
(dengan karakteristik atau faktor resiko)

Tidak Terpajan
Gambar 6. Desain Penelitian Kasus Kontrol
(dengan karakteristik atau faktor resiko)

RETROSPEKTIF
SEKARANG

LAMPAU

PROSEDUR:
1.
2.
3.
4.

Tentukan group kasus dan group control


Riwayat exposure ditanya atas group kasus dan control
Definisi kasus dan control merupakan hal terpentinh
Kasus harus sama dengan control kecuali mereka tidak menderita penyakit yang diteliti.

PENYAKIT
YA
TIDAK
YA
a
b
TIDAK
c
d
Total
a+c
b+d
Tabel 3. Presentasi Data Penelitian Kasus Kontrol
EXPOSURE

Total
a+b
c+d
a+b+c+d

PENGUKURAN EFEK:
1. Proporsi kasus yang terpapar
Pc = a / (a+b)
Proporsi control yang terpapar
PC = c / (c+d)
2. Odds Ratio (OR) adalah Estimasi Resiko Relative (RR)
OR = (a x d) / (b x c)
Interpretasi OR:
RR = 1, berarti tidak ada asosiasi/ hubungan faktor resiko dengan penyakit
RR > 1, berarti ada asosiasi positif antara faktor resiko dengan penyakit (penyebab)
RR > 1, berarti ada asosiasi negative antara faktor resiko dengan penyakit
(pencegah).
KASUS KONTROL

KOHORT

Kekuatan:
Relative cepat dan tidak mahal
Optimal untuk kejadian yang jarang,
misalnya kanker organ spesifik
Relative efisien, memerlukan sampel
yang kecil
Sedikit masalah pengurangan periode
investigasi dan beberapa subjek menolak
bekerja sama
Mempelajari multiple pemapar
Kelemahan:

Kekuatan:
Baik untuk evaluasi pemapar yang jarang
Mendapat incidence rate
Mudah mendapatkan hubungan temporal
Bias seleksi kecil
Dapat menemukan penyakit lain/ multiple efek
dari satu exposure

Kelemahan:

Inefisiensi untuk pemaparan jarangtidak


dapat incidence rate
Sulit mendapatkan hubungan temporal
Bias seleksi yang berpeluang besar
Sangat sulit memperoleh informasi bila
periode terlalu lama

Inefisiensi untuk penyakit yang jarang


Tidak selalu layak, jangka panjang
Mahal dan menyita waktu
Jumlah sampel sangat besar
Rentan terhada hilangnya subjek
Rentan terhadap perubahan individu,
lingkungan, tipe intervensi
Masalah etika