Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Limbah menjadi masalah serius manakala tidak ditangani secara serius. Dewasa

ini penanganan masalah limbah harus menjadi prioritas utama. Banyak industri yang
memiliki limbah terutama limbah cair yang harus dibuang ke lingkungan dan harus
diterima oleh lingkungan sehingga tidak merusak dan mencemari lingkungan tersebut.
Limbah tersebut tidak hanya dimiliki industri besar, tetapi juga industri-industri kecil.
Pembangunan menjadi solusi terhadap permasalahan limbah yang ada. Pada
hakekatnya pembangunan adalah usaha yang dilakukan manusia untuk mengubah
lingkungan yang alami menjadi wujud dan keadaan yang sesuai dengan keinginan
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan sarana ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dimiliki. Dengan adanya pembangunan tersebut, secara
langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap kualitas lingkungan hidup.
Salah satu pembangunan yang mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas
lingkungan hidup yaitu Instalasi Pengolahan Air Limbah, yang selanjutnya disebut IPAL
adalah sebuah struktur yang dirancang untuk membuang limbah biologis dan kimiawi
dari air sehingga memungkinkan air tersebut untuk digunakan pada aktifitas yang lain
(Spellman, 2008:8). IPAL merupakan salah satu upaya terencana untuk meningkatkan
pengolahan dan pembuangan limbah yang akrab lingkungan.
Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu kabupaten yang memiliki
industri kerupuk kulit yang terletak di Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung.
Industri pengolahan kerupuk kulit ini masih tergolong skala industri kecil (industri
rumah tangga). Pada rumah industri kerupuk kulit melakukan produksi hampir setiap
hari, dalam tiap produksinya mampu menghabiskan bahan baku kulit rata-rata sebanyak
300 600 kg dalam satu hari, sehingga menghasilkan limbah cair yang cukup besar dari
hari produksi kerupuk kulit tersebut.
Sebagian besar limbah kerupuk kulit berasal dari hasil pencucian dan perebusan
yang banyak mengandung bahan kimia organik. Kandungan bahan kimia organik yang
tinggi dalam air limbah kerupuk kulit menjadi sumber pencemaran terhadap badan air
apabila air limbah tersebut tidak diolah terlebih dahulu yang akan berakibat pada
rusaknya lingkungan di sekitar badan air serta tidak seimbangnya ekosistem perairan.

Industri kerupuk kulit ini membuang limbah cairnya ke saluran kecil yang
berada di samping rumah industrinya dan langsung menuju ke sungai Ngrowo yang
berada di belakang lokasi industri. Oleh karena itu, industri kerupuk kulit ini
membutuhkan sebuah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang sesuai dengan
kondisi yang ada.
1.2.

Identifikasi Masalah
Pada bulan Juni 2015 dalam media online Antara Jatim, disebutkan bahwa
permintaan makanan olahan kerupuk kulit di Kabupaten Tulungagung semakin
meningkat. Sehingga industri kerupuk kulit harus meningkatkan produksinya. Hal
tersebut akan berakibat pada meningkatnya limbah cair yang ditimbulkan dari
pembuatan proses kerupuk kulit.
Saat ini limbah cair pengolahan kerupuk kulit masih secara langsung dibuang ke
badan air melalui saluran kecil tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Hal tersebut
dinilai tidak layak karena tidak sesuai dengan yang tercantum pada Peraturan
Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air.
Pokok permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Industri kerupuk kulit belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
yang berpengaruh besar terhadap kondisi badan sungai sebagai tempat
pembuangan limbah langsung.
2. Limbah cair yang dibuang ke badan sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu
belum memenuhi standar baku mutu air karena limbah cair tersebut masih
mengandung kadar BOD, COD, TSS, pH, minyak dan lemak, NH3, dan Sulfida
(S) yang masih tinggi. Serta terdapat kandungan Krom (Cr) yang berasal dari
bahan kulit yang diperoleh dari pabrik penyamakan kulit.
3. Limbah cair kerupuk kulit menghasilkan kontaminan yang berpotensi
mencemari badan sungai.
1.3.

Batasan Masalah

Untuk mencari sasaran agar pembahasan tidak menyimpang dari pokok


permasalahan, maka batasan masalah meliputi :
1. Parameter limbah yang diperhatikan adalah BOD, COD, TSS, pH, minyak dan
lemak, NH3, dan Sulfida (S), serta Krom (Cr). (berdasarkan Peraturan Gubernur

Jawa Timur Nomor 72 Tahun 2013 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri
dan/atau Kegiatan Usaha Lainnya).
2. Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilakukan khusus
untuk menangani limbah cair dan tidak membahas mengenai limbah padat dari
pembuatan kerupuk kulit.
3. Hasil dari studi yang dilakukan berupa desain IPAL dan tidak dilakukan
pengujian terhadap desain yang direncanakan.
4. Tidak dilakukan analisa perhitungan anggaran biaya (RAB) dalam desain
perencanaan IPAL.
1.4.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas
adalah sebagai berikut :
1. Berapa besar debit air limbah yang dihasilkan dari proses produksi kerupuk kulit
di Kelurahan Sembung Kabupaten Tulungagung?
2. Bagaimana kandungan BOD, COD, TSS, pH, minyak dan lemak, NH3, dan
Sulfida (S), serta Krom (Cr) pada limbah cair kerupuk kulit di Kelurahan
Sembung Kabupaten Tulungagung?
3. Bagaimana perencanaan dan perhitungan desain Instalasi Pengolahan Air
Limbah

(IPAL) industri pengolahan kerupuk kulit di Kelurahan Sembung

Kabupaten Tulungagung?
1.5.

Tujuan Penelitian

Dengan memperhatikan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk:


1. Mengetahui besar debit air limbah yang dihasilkan dari proses produksi kerupuk
kulit di Kelurahan Sembung, Kabupaten Tulungagung.
2. Mengetahui kandungan BOD, COD, TSS, pH, minyak dan lemak, NH3, dan
Sulfida (S), serta Krom (Cr) pada limbah cair kerupuk kulit di Kelurahan
Sembung, Kabupaten Tulungagung.
3. Mendapatkan desain Instalasi Pengolahan Air Limbah

(IPAL) industri

pengolahan kerupuk kulit di Kelurahan Sembung, Kabupaten Tulungagung.

1.6.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang akan dilakukan adalah memberi masukan kepada
pengolahan kerupuk kulit di Kelurahan Sembung, Kabupaten Tulungagung maupun
pihak yang terkait untuk melakukan pengolahan terhadap air limbah yang dihasilkan
dari proses produksi kerupuk kulit. Sehingga didapatkan perencanaan IPAL sederhana
pada industri pengolahan kerupuk kulit.
Selain itu, masyarakat juga akan merasakan dampak positif dari perancanaan
IPAL tersebut yaitu terjaganya kelangsungan hidup ekosistem air serta estetika
lingkungan sekitar sungai Ngrowo yang merupakan muara dari limbah cair kerupuk
kulit di Kelurahan Sembung, Kabupaten Tulungagung.