Anda di halaman 1dari 13

ACC TUTOR:

HIDUP SEHAT DENGAN MENGUNYAH MAKANAN LEBIH


BANYAK

SESAR RAHMAT HIDAYAT


G1A014056

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada kondisi tertentu, orang-orang cenderung tergesa-gesa dan berlebihan
ketika makan. Hal tersebut merupakan pola makan yang kurang baik bagi
kesehatan manusia. Selain dapat menyulitkan proses menelan, hal itu juga
berdampak pada sistem pencernaan manusia. Hasil studi menunjukkan bahwa
makan dengan cepat maupun lama dapat mempengaruhi respon usus. Bila dibuat
perbandingan antara seseorang yang makan dengan cepat dan seseorag yang
makan dengan lambat (mengunyah lebih banyak) maka hasilnya lebih baik pada
seseorang yang makan dengan lama daripada melakukannya dengan cepat. Hal ini
terjadi karena kerja hormon pencernaannya secara fisiologis lebih jelas.
(Kokkinos, 2010).
Faktanya, makan tidak secara langsung mengubah molekul-molekul jadi
yang ada di makanan tersedia bagi sel tubuh sebagai sumber bahan bakar atau
bahan baku. Makanan mula-mula harus dicerna atau diuraikan secara biokimiawi
menjadi molekul-molekul kecil sederhana yang dapat diserap dari saluran cerna
ke dalam sistem sirkulasi untuk didistribusikan ke sel-sel. Agar makanan dapat
diserap secara sempurna oleh tubuh maka melalui empat proses dasar : molalitas,
sekresi, pencernaan, dan penyerapan (Sherwood, 2014)
Rasulullah SAW memberitahukan agar makan dengan tenang dan
mengunyah makanan lebih banyak pada saat makan sebelum ditelan. Saya
mengunyah setiap suap makanan 30-50 kali sehingga menjadi lembek dan melalui
kerongkongan tanpa kesulitan. Bahkan pada makanan yang sulit dicerna dengan
baik, saya kunyah sampai 70-75 kali. Lalu pada riwayat yang lain beliau juga
menghimbau agar makan tidak sampai kenyang. Kami adalah orang yang tidak
makan kecuali setelah lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang (H.R. Abu
Dawud).

Bila dikaitkan dengan prinsip mindful eating, mengunyah makanan lebih


banyak dapat membuat seseorang lebih menikmati makanannya dan cenderung
lebih cepat kenyang. Selain itu, beberapa penelitian selama 20 tahun terakhir telah
menemukan bahwa mindful eating dapat mengurangi kecenderungan makan yang
berlebihan (Kristeller, 2011).
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat yang berjudul Hidup Sehat dengan Mengunyah
Makanan Lebih Banyak ini yaitu untuk memberikan informasi ilmiah yang
reliabel supaya pembaca maupun penulis dapat berbagi manfaat kepada
lingkungan sekitar mengenai hal tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Menurut Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI, 2012), hidup sehat adalah
suatu kondisi baik seluruh badan serta bagian-bagiannya dan bekerja sebagaimana
mestinya (bebas dari sakit), sementara mengunyah merupakan suatu proses
menghancurkan atau melumatkan sesuatu (makanan) di dalam mulut dengan gigi.
Referensi lain menyebutkan bahwa mengunyah disebut juga sebagai
mastikasi. Hal ini merupakan langkah awal dalam proses pencernaan yang terjadi
di mulut. Proses (motalitas) mulut yang melibatkan pengirisan, perobekan,
penggilingan, dan pencampuran makanan oleh gigi (Sherwood, 2014).
B. Organ Pencernaan
1. Mulut dan kelenjar air liur
Rongga mulut merupakan lubang yang dibentuk oleh bibir yang
mengandung otot dan membantu mengambil, menuntun makanan masuk.
Di dalam rongga mulut terdapat

langit-langit (palatum) yang

memisahkan mulut dari saluran hidung agar memungkinkan bernapas dan


mengunyah atau menghisap berlangsung secara bersamaan. Di bagian
belakangnya terdapat tonjolan (uvula) yang menutup saluran hidung
sewaktu menelan. Yang membentuk dasar rongga mulut yaitu lidah,
membantu menuntun makanan saat mengunyah hingga menelan dan
berbicara. Selain itu, terdapat kuncup kecap pada lidah sebagai reseptor
rasa. Ada juga faring yang menghubungkan mulut dengan esofagus untuk
makanan. Pada faring juga terdapat tonsil yang berfungsi untuk sistem
pertahanan tubuh. Sedangkan liur (saliva) disekresikan oleh glandula
saliva yang di dalamnya terdapat protein liur yang penting dalam
membantu pencernaan di mulut yaitu ; amilase, lisozim, dan mucus
(Sherwood, 2014).
2. Gigi

Gigi (dentes) berfungsi untuk mengunyah makanan. Di bawahnya


terdapat lapisan mukosa mulut yang disebut gusi (gingiva) sebagai
bantalan, membantu pelekatan, dan menstabilkan posisi gigi. Gigi pada
manusia bersifat heterodon; gigi memiliki bentuk khas sebagai gigi seri
(incisivi), taring (canini), premolar (premolares), dan geraham (molares).
Gigi seri dan taring kerap disebut sebagai gigi depan, sementara premolar
dan molar adalah gigi lateral (Sobotta, 2010).
3. Esofagus
Esofagus (oesophagus) merupakan tabung muscular dengan
panjang sekitar 10 inci (25 cm), terbentang dari pharynx sampai ke gaster
(lambung). Fungsi utama esofagus dalam tractus digestivus yaitu sebagai
jalur yang dilalui oleh makanan setelah ditelan hingga ke gaster (Snell,
2011). Pada saat menelan, setelah makanan berpindah dari mulut melalui
faring menuju esofagus bersifat involunter, sedangkan proses yang
mencetuskan menelan pertama kali merupakan volunter. Lalu tahap
involunter yang lain yaitu ketika makanan berpindah dari esofagus menuju
gaster (Guyton, 2008).
4. Lambung
Lambung adalah suatu rongga berbentuk huruf J yang terletak
antara esofagus dan usus halus. Gaster fundus merupakan bagian dari
lambung yang terletak di atas lubang esofagus. Bagian tengah atau utama
gaster disebut korpus. Lapisan bawah lambung (antrum) memiliki otot
polos yang tebal, oleh sebab itu pencampuran makanan umumnya
berlangsung pada antrum karena kontraksi peristaltiknya yang kuat.
Sedangkan

korpus

berfungsi

sebagai

tempat

makanan

disimpan

(Sherwood, 2014). Selain fungsi utama lambung sebagai tempat


penyimpanan makanan, lambung juga mensekresikan cairan asam
lambung dan menyediakan makanan ke duodenum dengan jumlah sedikit
secara teratur. Cairan asam lambung mengandung enzim yang berfungsi
untuk memecah protein menjadi pepton dan protease. Cairan asam
lambung ini juga merupakan cairan asam yang bersifat antibakteri
(Guyton, 2008).
5. Usus halus (intestinum tenue)

Intestinum tenue merupakan tempat berlangsungnya sebagian besar


proses pencernaan dan penyerapan dalam tubuh. Intestinum tenue dapat
dibagi menjadi tiga bagian yaitu : duodenum, jejunum, dan ileum. (Snell,
2011)
6. Usus besar (colon/intestinum crassum)
Intestinum crassum merupakan organ yang berperan paling besar
dalam penyerapan air. Colon terbagi menjadi empat bagian ; colon
ascenden, descenden, transversum, dan sigmoid. Struktur lain yang
terdapat pada colon diantaranya ada ; haustra coli, taenia coli, flexura coli
dextra, dan flexura coli sinistra (Sobotta, 2014). Pada bagian usus besar,
terdapat sebuah tonjolan kecil di dasar sekum yang disebut apendiks.
Apendiks ini merupakan jaringan limfoid yang mengandung limfosit
(Sherwood, 2014).
7. Pankreas
Pankreas adalah sebuah kelenjar memanjang yang terletak di
belakang dan di bawah lambung, di atas lengkung pertama duodenum.
Pankreas merupakan kelenjar campuran yang mengandung jaringan
eksokrin dan endokrin. Bagian eksokrin terdiri dari kelompok-kelompok
sel sekretorik mirip anggur yang membentuk kantung yang disebut asinus.
Sedangkan endokrin merupakan bagian yang lebih kecil, terdiri dari
pulau-pulau jaringan yang terisolasi (pulau langerhans). Pankreas
eksokrin mengeluarkan cairan encer alkalis (mengandung natrium
bikarbonat) dan enzim-enzim pencernaan seperti ; enzim proteolitik
untuk

pencernaan

protein,

amilase

pankreas

untuk

pencernaan

karbohidrat, lipase pankreas untuk mencerna lemak. Sementara pulau


langerhans memproduksi hormon-hormon penting seperti insulin dan
glukagon (Sherwood, 2014).
8. Hati (hepar)
Hati merupakan unit kelenjar terbesar di dalam tubuh manusia
dengan berat kurang lebih mencapai 1,5 kg (Junqueira, 2007). Hati
merupakan organ vital yang berfungsi dalam metobolisme karbohidrat,
lemak, dan protein. Selain itu hati juga berfungsi sebagai tempat

penyimpanan vitamin dan zat besi serta berperan dalam detoksifikasi dan
regulasi obat (Guyton, 2008). Organ ini memiliki peran penting dalam
sistem pencernaan yaitu mensekresikan garam empedu. Tiap sel hati (sel
hepatosit) tampaknya mampu melakukan berbagai tugas metabolik,
kecuali melakukan aktivitas fagositik yang dilaksanaka oleh makrofag atau
yang dikenal sebagai sel kuppfer (Sherwood, 2014).
9. Kandung Empedu
Kandung empedu (gall bladder) adalah organ yang bentuknya
menyerupai buah pir yang memiliki daya tampung sekitar 50ml empedu
yag dibutuhkan oleh tubuh. Organ tersebut terhubung dengan hati dan usus
dua belas jari melalui salura empedu. Kandung empedu ini berfungsi
untuk membantu pencernaan lemak dan berperan dalam pembuangan
limbah tertentu dari tubuh, seperti: penghancuran sel darah merah dan
kelebihan kolesterol (Guyton, 2008).
C. Fisiologi Mengunyah dan Sistem Pencernaan
Secara fisiologis, makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak dapat
dicerna dengan baik oleh siapapun hingga ia diserap secara optimum oleh sistem
pencernaan (Guyton, 2008). Agar makanan dapat dicerna dengan baik oleh tubuh,
sebelumnya makanan harus dikunyah terlebih dahulu hingga menjadi bolus halus.
Hal ini sering diabaikan oleh beberapa orang dan terbiasa menelan makanan
dengan cepat, padahal hal ini merupakan bagian yang sangat esensial dan
mengunyah dengaan baik berarti setengah mencerna (Marsden, 2005).
Pada dasarnya di dalam sistem pencernaan, proses pencernaan pertama
kali terjadi di mulut. Proses ini pada umumnya dikenal dengan itilah mastikasi.
Mastikasi adalah proses pencernaan makanan secara mekanik yang terjadi di
mulut. Proses mastikasi ini berfungsi untuk memecah makanan menjadi bahan
sederhana dan memudahkan pengabsobsian di gastro intestinal agar dapat
digunakan oleh tubuh (Ward, 2009).
Ketika kita mengunyah makanan, enzim pencernaan dan gigi akan
menguraikan makanan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dan halus. Hal

ini memudahkan makanan (bolus) untuk ditelan dan melalui kerongkongan hingga
ke lambung. Semakin kita mengunyah maka air liur (saliva) yang mengandung
enzim pencernaan seperti amylase akan membasahi dan menutupi lapisan
permukaan makanan dan membantu proses pencernaan (Marsden, 2005).
Dalam keadaan normal, makanan yang ditelan melalui mulut dan masuk
ke dalam tubuh, sebagian besar nutrisinya dapat digunakan oleh tubuh manusia.
Supaya makanan tersebut dapat dicerna dengan baik oleh tubuh maka harus
melaui beberapa proses. Mula-mula makanan yang akan dicerna harus diuraikan
baik secara mekanik maupun biokimiawi, dari molekul-molekul besar menjadi
molekul-molekul kecil sederhana yang dapat dengan mudah diserap oleh saluran
cerna, lalu disalurkan ke dalam sirkulasi untuk didistribusikan ke sel-sel
(Sherwood, 2014).
D. Metode dan Manfaat Mengunyah Makanan Lebih Banyak
Pada saat makan, mulut mengalami pencernaan mekanik dan kimiawi.
Mekanisme pencernaan mekanik yang terjadi di mulut yaitu melalui pengunyahan
yang meliputi proses pemotongan, perobekan, penggilingan, dan pencampuran
makanan sehingga dihasilkannya potongan-potongan makanan yang kecil dan
menjadi halus. Proses ini melibatkan gigi, lidah, dan otot-otot mastikasi yang
membuat pencenaan mekanik pada mulut berjalan dengan baik. Selain itu, ketika
kita mengunyah makanan maka terdapat sekresi saliva (air liur) yang akan
membasahi permukaan makanan. Hal-hal tersebut membuat makanan menjadi
partikel-partikel kecil atau gumpalan (bolus) yang halus dan mudah ditelan
(Sherwood, 2014).
Ketika mengunyah, glandula saliva mensekresikan air liur yang
membasahi makanan dan rongga mulut yang berperan sebagai mekanisme
pencernaan kimiawi di mulut. Air liur ini mengandung enzim pencernaan yang
dapat menguraikan molekul komplek pada makanan menjadi molekul sederhana.
Salah satu enzim yang bekerja di mulut saat melakukan pengunyahan yaitu
amylase yang memecah karbohidrat menjadi molekul yang lebih kecil (maltosa).

Molekul-molekul kompleks pada makanan harus diubah menjadi molekul yang


sederhana agar dapat diabsorpsi oleh pembuluh darah (Tortora, 2009).
Mengunyah makanan lebih banyak saat kita makan dengan cara meresapi
atau menikmati makanan tersebut hingga menjadi bolus halus, erat kaitannya
dengan mindful eating. Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan pada
beberapa responden yang diberikan asupan yang sama, namun

dengan pola

makan yang berbeda menunjukkan bahwa mengunyah makanan lebih banyak


dengan mindful eating dapat menurunkan berat badan dan mengurangi stres serta
meningkatkan kesejahteraan. Karena hal ini juga berkaitan dengan kebutuhan
psikologi dan isyarat kenyang pada saat makan (Miller, 2012)
Dalam penelitian berikutnya, makan dengan mindful eating bisa menjadi
intervensi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran isyarat lapar dan kenyang.
Hal ini mempengaruhi regulasi makan dan pola diet sehingga dapat mengurangi
kecenderungan depresi serta penurunan berat badan. Oleh karena itu hal ini juga
mempengaruhi penurunan risiko diabetes sebab meningkatnya kontrol diri (Miller,
2014).
Pada beberapa kasus yang terjadi ketika seseorang tidak hentinya
mengkonsumsi makanan secara berlebihan hingga ia merasa terlalu kenyang yaitu
karena makan terlalu cepat. Beberapa orang tidak benar-benar fokus terhadap
sesuatu yang ia makan dan kurang menghayatinya sehingga ia tidak sadar bahwa
ia sedang mengemil dalam jumlah yang relatif banyak dan menyebabkan terlalu
kenyang. Berbeda dengan orang yang makan degan penuh penghayatan dan
mengunyah makanannya hingga halus serta tidak menghakimi makanan baik fisik
maupun emosional, hal ini dapat membantu seseorang untuk mengenali dan
menanggapi isyarat kenyang sehingga ia berhenti makan serta mencegah
terjadinya asupan makanan yang berlebih. Selain itu hasil studi kesehatan
mengenai hal ini menunjukkan hasil yang positif, diantaranya: terjadi peningkatan
fungsi kekebalan tubuh, penurunan kecemasan dan risiko penyakit kronis
(Framson, 2009).

BAB III
KESIMPULAN
a. Mengunyah makanan lebih banyak sangatlah esensial bagi tubuh. Karena
pada dasarnya tubuh membutuhkan serangkaian peristiwa dan koordinasi
yang cukup kompleks dalam tubuh agar makanan dapat dicerna dengan
baik.
b. Mengunyah makanan lebih banyak hasilnya berdampak positif pada
kesehatan. Misalnya, bermanfaat untuk memudahkan proses pencernaan
dan dapat membuat seseorang lebih menikmati makanannya serta
meningkatkan isyarat kenyang pada saat makan.
c. Selain itu dapat pula digunakan sebagai metode menghindari bahaya
obesitas dan penurunan risiko penyakit kronis.

DAFTAR PUSTAKA
Framson, Celia, et al. 2009. Development and Validation of Mindful Eating
Questionnaire. Journal American Dietetic Association. Volume 109(8):
1439-1444.
Guyton, A.C., and Hall, J.E., 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC.
Hadits riwayat Abu Dawud
J.L., Kristeller; Wolever, R.Q., 2011. Mindfulness-Based Eating Awareness
Training for Treating Binge Eating Disorder: The Conceptual Foundation.
Eating Disorders. Volume 19(1): 49-61.
Junqueira, L.C., et al. 2007. Histologi Dasar Edisi 10. Jakarta: EGC.
Kokkinos, Alexander, et al. 2010. Eating Slowly Increases the Postprandial
Response of Anorexigenic Gut Hormones, Peptide YY and Glucagon-like
Peptide-1. Journal of Clinical Endocrinologi and Metabolism. Volume 95
(1): 333-337
Marsden, Kathryn. 2005. The Complete Book of Food Combining: A New, Easy
to Use Guide to The Most Successful Diet Ever. London: Piatkus.
Miller, Carla K, et al. 2012. Comparative Effectiveness of Mindful Eating
Intervention to A Diabetes Self-Management Intervention Among Adults
with Type 2 Diabetes: A Pilot Study. Journal Academy of Nutrition and
Dietetic. Volume 112(11): 1835-1842.
Miller, Carla K, et al. 2014. Comparison of Mindful Eating Intervention to A
Diabetes Self-Management Among Adults with Type 2 Diabetes: A
Randomized Controlled Trial. Health Education Behavior. Volume 41(2):
145-154.
Sherwood, Lauralee. 2014. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.

Snell, Richard S. 2011. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta: EGC.


Sobotta. 2010. Atlas Anatomi Manusia Jilid 3 Edisi 23. Jakarta: EGC.
Tortora, G.J., and Derrickson, B.H., 2009. Principle of Anatomy and Physiology
12th Edition. Asia: John Wiley and Sons.
Ward, Jeremy. 2009. At A Glance Fisiologi. Jakarta: Erlangga.