Anda di halaman 1dari 14

Kata Pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Farmakologi Kedokteran
ini, sebagai laporan atas kegiatan praktikum yang telah dilakukan sebelumnya.
Laporan ini dapat terselesaikan karena bantuan banyak pihak. Untuk itu, saya
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada dosen pembimbing praktikum
yang telah membantu selama proses praktikum. Juga kepada teman-teman yang telah
bersedia bekerja sama untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan praktikum.
Saya menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna.. Di dalam laporan ini
tentunya masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu saya mohon maaf dan mohon
kritik serta saran agar dapat memperbaikinya pada kesempatan selanjutnya. Saya harap
laporan ini dapat bermanfaat serta dapat memberi pengetahuan bagi pembaca.

Mataram, Januari 2012

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Obat adalah senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, dan
mendiagnosa penyakit. Setiap orang pastinya memperoleh dosis yang berbedabeda dalam pengobatan yang diberikan. Hal ini sangat bergantung pada beberapa
factor, antara lain berat badan dan keadaan pasien itu sendiri. Penentuan dosis itu
sendiri membutuhkan penelitian yang sangat panjang, karena manusia tidak
mungkin langsung dijadikan obyek penelitian dengan adanya resiko kematian
akibat over dosis.
Tujuan terapeutik adalah untuk mencapai efek menguntungkan yang
diinginkan dengan efek merugikan yang minimal. Ketika suatu obat telah dipilih
untuk seorang penderita, klinisi harus menentukan dosis yang tepat untuk
mencapai tujuan tersebut. suatu pendekatan yang rasional terhadap tujuan ini
memerlukan

prinsip-prinsip

farmakokinetik

dan

farmakodinamik

untuk

menjelaskan hubungan dosis-efek.


Farmakodinamik

mempengaruhi

hubungan

konsentrasi

efek-obat,

sedangkan farmakokinetik menentukan hubungan dosis-konsentrasi obat


(Holdford, 1981). Proses-proses farmakokinetik seperti absorbsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi menentukan berapa cepatnya, berapa konsentrasinya,
dan untuk berapa lama obat tersebut berada pada organ target.
Dengan mengetahui hubungan antara konsentrasi obat dan efeknya
memungkinkan klinisi untuk mempertimbangkan berbagai keadaan patologik
dan fisiologik penderita tertentu yang menyebabkan penderita tersebut
memberikan respons yang berlainan dari kebanyakan orang pada suatu obat.
Memilih di antara sekian banyak obat dan menentukan dosis obat yang
tepat, seorang dokter harus mengetahui potensi relative farmakologis dan efikasi
maksimal obat dalam kaitannya dengan efek terapeutik yang diharapkan. Potensi
mengacu pada konsentrasi (EC50) atau dosis (ED50) obat yang diperlukan untuk
menghasilkan 50% efek maksimal obat tersebut.
2

Kuantal efek dosis sering kali dikarakterisasi dengan menyatakan dosis


efektif median (ED50, median effective dose ), dosis dimana 50% individeindividu yang menunjukkan efek kuantal tertentu. Demikian juga dosis yang
diperlukan menghasilkan efek toksik tertentu dalam 50% hewan-hewan disebut
dengan dosis toksis median (TD50, median toxic dose). Kalau secara efek
toksiknya adalah kematian hewan tersebut, maka dapat ditentukan secara
eksperimental dengan dosis lethal 50 (LD50, median lethal dose). Satu
perhitungan, yang menghubungkan dosis suatu obat yang diperlukan untuk
menghasilkan efek yang diinginkan dengan dosis yang menghasilkan efek yang
tidak diinginkan disebut sebagai indeks terapeutik. Indeks terapeutik ini biasa
dirumuskan sebagai rasio dari LD50 dengan ED50.

B. Rumusan Masalah
1. Berapa dosis yang sesuai untuk menimbulkan efek tidur pada
mencit ?
2. Lalu apakah ada dosis yang tidak dapat membuat mencit tertidur ?
C. Hipotesis
Ada hubungan antara dosis obat dengan respon (efek).

D. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ED50 dan LD50 95% diazepam pada
mencit.

E. Manfaat penelitian
Dengan diadakannya penelitian ini, kita dapat mengetahui indeks terapeutik
obat. Sehingga kita dapat menentukan obat yang dapat memberikan efek terapi
yang diinginkan dengan efek merugikan yang minimal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3

Tujuan dari terapeutik adalah mencapai efek terapi yang diinginkan


dengan efek merugikan yang minimal. Seorang dokter harus mengetahui potensi
farmakologik relatif dan efikasi maksimal dari obat-obatan dalam hubungannya
dengan efek terapeutik yang diinginkan untuk memilih di antara banyak obat dan
menentukan dosis yang tepat dari suatu obat. Dosis terapi yang menimbulkan
efek terapi pada 50% individu atau binatang percobaan disebut dosis terapi
median/ median lethal dose (LD50) ialah dosis kematian pada 50% individu atau
bianatang percobaan. Dalam studi farmakodinamik di laboratorium. indeks
terapi suatu obat dinyatakan dalam rasio sebagai berikut :

Indeks Terapi : LD50/ED50


(Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK Universitas Mataram, 2009)

Dalam praktikum ini, yang digunakan sebagai obat uji adalah Diazepam.
Diazepam atau biasanya dikenal dengan Valium merupakan sebuah turunan
narkoba. Diazepam disebutkan termasuk dalam golongan psikotropika, nama
dagangnya antara lain valium. Indikasinya sebagai obat anti cemas, sedatifhipnotic, dan obat anti kejang. Efek sampingnya, pada pemakaian kronik dapat
menimbulkan ketergantungan jiwa dan raga, menimbulkan rasa kantuk,
berkurangnya daya konsentrasi dan reaksi.(Anonim, 2010)
ED50 dan LD50 paling banyak digunakan sebagai ukuran dosis efektif dan
dosis toksis karena dapat ditentukan secara lebih tepat dan paling sedikit
variasinya dibanding dengan ukuran lainnya, seperti ED 99, LD99, dan lain-lain
(gambarn grafiknya akan lebih mendatar, sedangkan ED 50 dan LD50 merupakan
titik pada garis yang paling menanjak). Konsep hubungan toksisitas dengan
keefektifan obat ini penting dalam klinis, yaitu dapat digunakan sebagai
pedoman seberapa besar dosis dapat diberikan tanpa menimbulkan efek toksis.

Dari kurva dosis kerja dapat ditentukan tetapan-tetapan obat yang


penting yaitu ED50 yang sering dikemukakan (dosis effective 50) adalah dosis
yang menyebabkan dicapainya separuh (50%) efek. Sesuai dengan itu ED95
adalah dosis yang menyebabkan 95% efek dicapai. Angka ED 95 dan ED50 yang
dibutuhkan untuk penentuan luas terapeutik sulit ditentukan secara tepat dari
kurva yang berbentuk S, karena kemiringan kurva dari bagian ini sangat kecil.
Dalam toksikologi jumlah dosis yang menyebabkan 50% dari populasi
menunjukan respon

dan jumlah dosis yang menyebabkan 50% individu

memberikan reaksi (respon) digunakan sebagai besaran aktifasi, misalnya saja


ED50 (Effective dose) dan LD50 (Lethal dose) dari suatu xenobiotika uji. Besaran
aktivitas 50% adalah suatu harga sebenarnya yang diperoleh secara statistika. Ini
merupakan suatu harga perhitungan yang menggambarkan estimasi yang paling
baik dari dosis yang diperlukan untuk menimbulkan respon pada 50% individu
uji, karena selalu disertai dengan suatu rataan estimasi dari harga kesalahannya,
seperti probabilitas kisaran nilainya.
5

Gambar 1. Struktur Diazepam

Diazepam adalah obat anti cemas dari golongan benzodiazepin, satu


golongan dengan alprazolam (Xanax), klonazepam, lorazepam, flurazepam.
Diazepam dan benzodiazepin lainnya bekerja dengan meningkatkan efek GABA
(gamma aminobutyric acid) di otak. GABA adalah neurotransmitter (suatu
senyawa yang digunakan oleh sel saraf untuk saling berkomunikasi) yang
menghambat aktifitas di otak. Diyakini bahwa aktifitas otak yang berlebihan
dapat menyebabkan kecemasan dan gangguan jiwa lainnya (Anonim, 2008).
Efek samping diazepam yang paling sering adalah mengantuk, lelah, dan
ataksia (kehilangan keseimbangan). Walaupun jarang, diazepam dapat
menyebabkan reaksi paradoksikal, kejang otot, kurang tidur, dan mudah
tersinggung. Bingung, depresi, gangguan berbicara, dan penglihatan ganda juga
merupakan efek yang jarang dari diazepam (Anonim, 2008).
Diazepam dapat menyebabkan ketergantungan, terutama jika digunakan
dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu lama. Pada orang yang mempunyai
ketergantungan terhadap diazepam, penghentian diazepam secara tiba-tiba dapat
menimbulkan sakau (sulit tidur, sakit kepala, mual, muntah, rasa melayang,
berkeringat, cemas, atau lelah). Bahkan pada kasus yang lebih berat, dapat
timbul kejang. (Anonim,2008).

BAB III
METODOLOGI
A. Desain penelitian

Penelitian ini merupakan desain uji klinis untuk mengetahui dosis efektif
pemberian diazepam terhadap hewan percobaan yaitu mencit.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada:
Hari/tanggal

: Selasa, 9 Januari 2011

Tempat: Fakultas Kedokteran UNRAM


Waktu

: 13.00 16.00 WITA

C. Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah hewan percobaan (mencit) yang berjumlah 16 ekor


dengan berat badan berkisar antara 15-20 gr.

D. Alat dan Bahan

Mencit sebanyak 16 ekor


Diazepam injeksi dengan konsentrasi yang berbeda (0,156 mg/cc; 0,312

mg/cc; 0,625 mg/cc; 1,25 mg/cc)


Spuit injeksi 1 cc
Bak plastik penampung mencit dengan tutupnya
Alat penghitung waktu
Spidol permanen
Kapas
Aquades

E. Cara Kerja
1. Menyiapkan semua alat dan bahan yang digunakan
2. Menyiapkan mencit yang akan diberi perlakuan sebanyak 16 ekor, dengan
masing-masing 4 ekor mencit untuk tiap dosis diazepam:
Kelompok I untuk mencit yang diberi dosis diazepam 0,156 mg/cc
Kelompok II untuk mencit yang diberi dosis diazepam 0,312 mg/cc
Kelompok III untuk mencit yang diberi dosis diazepam 0,625 mg/cc
Kelompok IV untuk mencit yang diberi dosis diazepam 1,25 mg/cc
Cara pengenceran untuk mendapatkan dosis diazepam yang diinginkan
dengan menggunakan rumus :
M1 . V1 = M2.
V2

Pertama untuk membuat 1,25 mg/cc diazepam dari 5 mg/cc sebanyak 10 ml,
maka dari perhitungan
M1 . V1 = M2 . V2
5.1
= 1,25 . V2
V2
= 5 / 1,25
= 4 cc
Berarti harus ditambahkan 3 cc untuk mendapatkan dosis diazepam 1,25.
dilakukan hal yang sama untuk pengenceran selanjutnya.
3. Mengambil mencit dari bak penampungnya dengan cara menarik ekornya.
Memegang ekornya dengan rangan kiri, kemudian tangan kanan memegang
kepala bagian belakangnya (kedua telinga ditarik ke belakang)
4. Setelah mencit dipegang dengan baik, menginjeksikan diazepam sebanyak
0,5 cc secara Intraperitonial. kemudian memberi tanda mencit yang telah
diberi perlakuan. Melakukan langkah tersebut pada mencit lain sampai
semua mencit mendapat perlakuan.
5. Menunggu selama 10 menir, lalu mengevaluasi keadaan mencit setiap 5
menit selama 60 menit (tidur atau tidak)
6. Mencatat hasil pengamatan pada table, (1 = tidur, 0 = tidak tidur)

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Tabel Pengamatan
Waktu

Kelompok Dosis 1 Kelompok Dosis II Kelompok Dosis III Kelompok Dosis IV


(1.25 mg/cc)

(0,625 mg/cc)

(0,312 mg/cc)

(0.156)

10

1 1 1 1

0 0 0 0

0 0 0 0

0 0 0 0

15

1 1 1 1

0 0 0 0

0 0 0 0

0 0 0 0

30

1 1 1 1

1 1 1 0

1 0 0 1

0 0 0 0

45

1 1 1 1

1 1 1 1

1 0 0 1

0 0 0 0

60

1 1 1 1

1 1 1 1

1 1 1 1

0 0 0 0

Jumlah 4 4 4 4

3 3 3 2

3 1 1 3

0 0 0 0

Keterangan:
Dosis I: 1,25 mg/cc

1 = tidur

Dosis II: 0,625 mg/cc

0 = tidak tidur

Dosis II: 0,312 mg/cc


Dosis IV: 0,156 mg/cc

B. Pembahasan
Diazepam adalah obat yang dipercaya dapat memberikan efek tidur pada
seseorang. Diazepam mempunyai efek yang berbeda bada dosis terapi yang
berbeda, dosis untuk sedasi, dosis asiolitik dan dosis anastesi. Pada percobaan
kali ini, diazepam digunakan sebagai obat yang diujikan efeknya pada rentang
dosis tertentu (subyek percobaannya mencit). Dengan demikian akan diketahui
dosis terendah yang akan memberikan efek kepada individu/binatang percobaan
yang mengkonsumsinya.

10

Diazepam dengan dosis berbeda (0,156 mg/cc, 0,312 mg/cc, 0,625


mg/cc, 1,25 mg/cc) diberikan masing-masing pada 4 ekor mencit. Pada 0,156
mg/cc, tidak ada mencit yang tidur dalam jangka waktu 1 jam. Pada 0,312
mg/cc, ada empat ekor mencit yang tidur dalam jangka waktu 1 jam. Pada 0,625
mg/cc, empat ekor mencit yang tidur dalam jangka waktu 1 jam. Pada 1,25
mg/cc, empat ekor mencit yang tidur dalam jangka waktu 1 jam.
Dan data percobaan tersebut, didapatkan diazepam sudah memberi efek
ED50 pada dosis 0,312. Pada dosis diazepam 0,156 mg/cc didapatkan tidak ada
mencit yang tertidur, jadi pada dosis ini tidak memberi efek terapi ED50 .

11

BAB V
PENUTUP
Simpulan

Diazepam akan memberikan efek terapi 50% individu (ED50) pada dosis 0,312
mg/cc,

Diazepam tidak memberikan efek terapi pada dosis 0,156 mg/cc

12

13

Daftar Pustaka
Katzung (2000). Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: EGC.
FK UI (1981). Farmakologi dan Terapi ed. 2. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Goodman & Gillman (2007). Dasar Farmakologi dan Terapi ed. 10. Jakarta: EGC.
Anonim. 2008. Obat Diazepam (Valium). http://www.wartamedika.com/2008/02/obatdiazepam-valium.html. Diakses 11 Januari 2012.
Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK Universitas Mataram. 2009. Penuntun
Praktikum Farmakologi. Mataram : Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

14

Anda mungkin juga menyukai