Anda di halaman 1dari 8

Kota Depok

Depok - Jawa Barat- Tlp.(021) 5674564

Batas Utara
: Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangerang dan
Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Batas Barat
: Kecamatan Parung dan Kecamatan Gunungsindur
Kabupaten Bogor.
Batas Timur
: Kecamatan Pondok Gede Kota Bekasi dan
Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor.
Batas Selatan : Kecamatan Cibinong dan Kecamatan
Bojonggede Kabupaten Bogor.
Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6 1900 - 6 2800 Lintang Selatan dan 1064300 1065530 Bujur Timur. Bentang alam Depok dari Selatan ke Utara merupakan daerah dataran rendah,
perbukitan bergelombang lemah, dengan elevasi antara 50140 meter diatas permukaan laut dan
kemiringan lerengnya kurang dari 15 persen. Kota Depok sebagai salah satu wilayah termuda di Jawa
Barat, mempunyai luas wilayah sekitar 200.29 Km2.
Letak Kota Depok sangat strategis, diapit oleh Kota Jakarta dan Kota Bogor. Hal ini menyebabkan Kota
Depok semakin tumbuh dengan pesat seiring dengan meningkatnya perkembangan jaringan transportasi
yang tersinkronisasi secara regional dengan kota-kota lainnya.
Tahun
Luas Wilayah (KM2)

2009
200,29

Jumlah Penduduk Laki-laki (Jumlah Jiwa)

780.092

Jumlah Penduduk Wanita (Jumlah Jiwa)

723.585

Jumlah RT

4.648

Jumlah RW

840

Jumlah Pegawai PNS (Orang)

6.569

Jumlah Pegawai Non PNS (Orang)

804.166

Jumlah Kematian Bayi (Jumlah Jiwa)

117

Jumlah Kelahiran Bayi (Jumlah Jiwa)

300

Jumlah Ibu Melahirkan (Jumlah Jiwa)

300

Jumlah Ibu Melahirkan Mati (Jumlah Jiwa)

19

Jumlah Balita (Jumlah Jiwa)

700

DEPOK
Ruang lingkup[sunting | sunting sumber]
Ruang lingkup wilayah RTRW Kota Depok adalah Daerah dengan batas yang ditentukan
berdasarkan aspek administratif mencakup ruang daratan termasuk ruang di dalam bumi serta
ruang udara. Serta batas-batas wilayah adalah :

sebelah utara berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta.

sebelah timur berbatasan dengan Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor.

sebelah selatan dibatasi oleh Kabupaten Bogor.

sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bogor.

Kota Penyanggah[sunting | sunting sumber]

Pada dasarnya arahan Kota Depok menjadi Kota Penyangga tetap harus mempertimbangkan
semangat otonomi daerah dan kemandirian kota menuju kota yang mampu berkembang
mengimbangi fungsi Jabotabek, yaitu dengan fungsinya sebagai Kota Counter Magnet. Keadaan
ini diharapkan akan menimbulkan terciptanya ketergantungan yang saling menguntungkan, baik
bagi Kota Depok sendiri maupun wilayah sekitarnya. [4]

Pelayanan kegiatan kota[sunting | sunting sumber]


Berdasarkan potensi dan permasalahan yang dihadapi, struktur pelayanan Kota Depok
diarahkan untuk membentuk satu pusat utama kota/pusat primer dan beberapa sub pusat
kota/pusat sekunder, yang diharapkan mampu berkembang secara terintegrasi untuk melayani
pelayanan masing-masing. Hal ini mengingat Depok memiliki tiga akses utama yang
mempengaruhi orientasi perkembangannya, yaitu Jalan Margonda Raya, Cimanggis, dan
Parung.
Struktur pelayanan kegiatan Kota Depok dikembangkan dengan membentuk pusat dan sub
pusat kota, yang diharapkan akan berkembang sesuai dengan wilayah pelayanan masingmasing. Pengembangan ini diasumsikan adanya perbaikan dan pembangunan struktur jaringan
jalan baru, mengikuti potensi pusat-pusat yang ada dan sekaligus mengembangkan pusat baru
dengan skala tidak terlalu besar.
Pusat dan sub adalah Pusat Utama Kota di Jalan Margonda Raya (Kecamatan Pancoran Mas),
saat ini berada dalam keadaan berkembang yang melayani hampir seluruh kota.

Sub Pusat Cinere, di Cinere (Kecamatan Limo), relatif sudah berkembang dengan
melayani masyarakat Cinere dan sekitarnya.

Sub Pusat Cisalak, (Kecamatan Sawangan), relatif sedang berkembang namun masih
memerlukan penataan kembali yang melayani kegiatan grosir dan eceran.

Sub Pusat Citayam, (Kecamatan Pancoran Mas) yang berdekatan dengan Stasiun KRL,
kini dalam taraf sedang berkembang yang memiliki kegiatan niaga grosir terbatas dan
eceran.

Sub Pusat Sawangan, di Rangkapan Jaya Baru dan Sawangan Baru (Kecamatan
Sawangan).

Sub Pusat Cimanggis, di Jatijajar (Kecamatan Cimanggis).

Penetapan fungsi dan lokasi pusat dan sub pusat kota adalah sebagai berikut :
Pusat Kota : sebagai pusat utama, area yang diarahkan sebagai pusat primer merupakan
pengembangan dari pusat kota yang telah ada saat ini. Pusat kegiatan kota ini menjadi
konsentrasi wilayah peruntukan fungsi pelayanan skala kota dan wilayah.

Rencana pusat kegiatan kota akan meliputi kecamatan Beji dan Pancoran Mas, dengan arahan
pengembangan kegiatan jasa dan perdagangan skala kota dan wilayah, pusat perkantoran serta
penempatan fasilitas umum dengan skala pelayanan kota.
Sub Pusat: dimaksudkan untuk mendorong terbentuknya pemerataan lingkup pelayanan
kegiatan kota sebagai antisipasi perkembangan kota yang didorong fakta adanya kebutuhan
pelayanan masyarakat di luar wilayah Kota Depok. Sub pusat ini terdiri dari komponen kegiatan
yang telah ada maupun yang didorong dengan potensi ruangnya dengan skala pelayanan
bagian wilayah kota.

Konsep pengembangan[sunting | sunting sumber]


Pengembangan struktur ruang kota selain berdasarkan adanya potensi kecenderungan (trebd
oriented), mengarah pula pada faktor pembentukan struktur ruang yang optimal (target oriented).
Konsep struktur tata ruang Kota Depok pada masa datang dikembangkan melalui pengolahan
potensi pengembangan infrastruktur, luasan wilayah dan jenis kegiatan yang akan berkembang
sesuai dengan fungsi kota.[7]
Berdasarkan pertimbangan pola sebaran kegiatan dan fungsi, secara makro konsep wilayah
pengembangan Kota Depok memiliki ciri sebagai berikut :
1. Wilayah Barat : Fungsi jasa perdagangan/agribnisnis dan pergudangan, wisata,
permukiman kepadatan rendah dan tinggi.
2. Wilayah Tengah : Fungsi pusat perdagangan dan jasa perkantoran, pergudangan,
pendidikan, wisata dan permukiman kepadatan sedang dan tinggi.
3. Wilayah Timur : Fungsi permukiman kepadatan rendah, sedang dan tinggi,
perdagangan dan jasa pergudangan, perkantoran, wisata dan industri yang ramah
lingkungan.

Rencana jaringan jalan[sunting | sunting sumber]


Jaringan jalan sebagaimana dimaksud meliputi penetapan fungsi jalan dan peningkatan
kapasitas serta jaringan jalan. Penetapan fungsi jalan meliputi : jalan tol, jalan arteriprimer, jalan
arteri sekunder, jalan kolektor primer dan jalan kolektor sekunder. Rencana jaringan jalan
dimaksud, diantaranya, rencana ruas Jalan Tol Cinere-Jagorawi, ruas jalan tol Depok-Antasari
dan rencana pembangunan jalan baru dari jalan raya bogor-margonda melalui jalur pipa gas
(jalan juanda) serta beberapa jalan arteri primer, jalan arteri sekunder, jalan kolektor primer dan
jalan kolektor sekunder, begitu juga pembangunan Fly Over jalan Arif Rahman Hakim dan Fly
Over jalan Dewi Sartika. [8][9]
Sistem jaringan jalan Kota Depok memang mempunyai pola radial, yang mana jalan utama
berfungsi sebagai jalan arteri sekunder yaitu ruas Jalan Tole Iskandar,Jalan Siliwangi, Jalan

Dewi Sartika, Jalan Raya Sawangan dan Jalan Raya Parung (arteri primer) menghubungkan
antara bagian barat dan timur Kota Depok.
Kemudian, jalan-jalan tersebut disambung dengan ruas-ruas jalan yang menghubungkan antara
bagian utara dan selatan Kota Depok yaitu ruas Jalan Raya Bogor (arteri primer), Jalan
Margonda (kolektor primer), Jalan Cinere Raya, Jalan Limo Raya, Jalan Raya Meruyung (ketiga
ruas jalan tersebut berfungsi sebagai jalan kolektor sekunder), Jalan Keadilan, Jalan Pitara,
Jalan Pramuka, Jalan Krukut Raya, Jalan Gandul Raya, Jalan Abdul Wahab, Jalan Tanah Baru
dan Jalan Cinangka Raya. ruas-ruas ini merupakan penghubung yang penting antara bagian
utara-selatan dan timur-barat Kota Depok.[10]

Susilowati, Wahyuni ; Nurwidyaningrum, Dyah ;


Lembaga Penelitian Teknik Politeknik Negeri Jakarta
2006
711
08/1404
78 hal., lamp.
Open spaces - Depok;Cities and towns - Depok;City planning - Depok
Lokasi penelitian adalah sepanjang koridor jalan Margonda, di Pusat Kota Depok. Jalan
Margonda adalah pintu ulama akses yang menghubungkan Jakarta-Depok. Penelitian
difokuskan pada Rencana Penataan jalan Margonda dan fasade bangunan di sepanjang
jalan Margonda 5,1km, tepatnya dari simpang susun Kota Depok sampai persimpangan
jalan Dewi Sartika Adapun batas-batas lokasi penelitian, adalah : Utara: Jalan Pasar
Minggu, Jakarta Selatan, Timur: Fasade Bangunan sebelah timur, Barat: Fasade
Bangunan sebelah barat, dan Selatan : Pertigaan jalan Dewi Sartika. Kondisi klimatologi
Koridor jalan Margonda termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim
muson, dimana musim kemarau dimulai antara bulan April-September dan musim
penghujan antara bulan Oktober-Maret. Sedangkan kondisi geologi di daerah ini
merupakan lapisan horizontal, atau sayap lipatan dengan kemiringan lapisan hampir
datar, serta mendatar yang diperkirakan berarah utara-selatan. Masalah utilitas secara
umum dapat dipenuhi dengan baik,yaitu: air bersih, drainase, limbah, persampahan,
telepon, kantor pos dan listrik, serta hidran. Sesuai dengan RTRW Tahun 2010, arah
penataan sebagian besar koridor Jalan Margonda menurut tata guna lahannya adalah
sebagai jasa komersial, perdagangan dan perkantoran dengan bentuk dan massa
bangunan yang sesuai. Masalah jalan pedestrian; akan diadakan dan menjadi perhatian,
masalah sirkulasi;untuk tidak mengadakan kegiatan yang membangkitkan
kendaraan,masalah parker; arahan offstreet. Mengenai Ruang Terbuka Hijau
(RTH);diutamakan welcome area(Zona 1). Mengenai kegiatan pendukung, yaitu
Pedagang Kaki Lima (PKL) disebutkan dalam RTRW ditentukan PKL tertentu saja Sinage
(tanda-tanda) tidak diatur dalam RTRW tersebut. Kondisi eksisting pemanfaatan ruang
terbuka koridor Jalan Margonda diuraikan dalam lima wilayah penataan yaitu: Zona I dari
Simpang Susun UI sampai dengan Wilayah Kober, Zona 2 dari Wilayah Kober sampai
dengan Persimpangan Juanda, Zona 3 dari Persimpang Juanda sampai dengan
Persimpangan Ramanda, Zona 4 dari Persimpangan Ramanda sampai dengan
perbatasan dengan Kantor Walikota, dan Zona 5 dari Kantor Walikota sampai dengan
Persimpangan Dewi Sartika. Hasil analisis perbandingan RTRW Kota Depok Tahun 2010
dengan kondisi eksiting pemanfaatan ruang terbuka koridor Jalan Margonda
menunjukkan adanya beberapa kesesuaian arah perkembangan kondisi eksisting dengan
arahan RTRW, namun banyak pula arah perkembangan kondisi eksisting yang sudah
tidak sesuai dengan arahan RTRW,sehingga perlunya konsep disain yang baru dalam
penataan koridor Jalan Margonda. Konsep Disain dalam penelitian ini meliputi 7 kategori
penataan, yailu: Tata Guna Lahan(TGL), bentuk dan massa bangunan, sirkulasi dan
parkir, Ruang Terbuka Hijau (RTH), Jalan Pedestrian, Penempatan Tanda-tanda dan

Kegiatan Pendukung. Uraian Konsep Disain berdasarkan pendaerahan sesuai dengan


setiap Zona yang telah ditelah ditentukan.

Penelitian ini berawal dari permasalahan semakin menurunnya kualitas resapan air di kawasan
kota Depok, akibat pertumbuhan kota secara fisik cepat dan tidak terkendali yang mempengaruhi
keersediaan air bersih dan sistem drainase alami bagi daerah di sekitarnya. Fenomena ini
memberikan kondisi yang merugikan bagi pemanfaatan ruang terbuka perkotaan berupa
penurunan kualitas dan kuantitas ruang terbuka hijau (RTH) kota. Tujuan penelitian ada tiga yaitu
untuk menganalisis secara spasial penurunan RTH kota Depok menggunakan data satelit
Landsat multi temporal, menganalisis RTH kota Depok melalui pendekatan model konservasi air
dan memberikan arahan revegetasi yang menunjang Kota Depok sebagai kawasan konservasi
air.