Anda di halaman 1dari 41

Overview

Dalam era dimana pertanggungjawaban (accountability) merupakan titik perhatian dalam masyarakat,
kegunaan akuntansi akan semakin dirasakan. Fungsi akuntansi menjadi makin penting bagi setiap unit
dalam masyarakat. Dalam banyak hal individu harus mempertanggungjawabkan penghasilannya.
Dalam sistem pertanggungjawaban terlihat adanya arus informasi dari yang mempertanggunjawabkan
kepada yang menerima pertanggungjawaban. Akuntansi dapat membantu dalam menghasilkan informasi
yang diperlukan. Untuk selanjutnya informasi yang dihasilkan oleh akuntansi disebut informasi akuntansi
(accounting information).

1.1 Kegunaan Informasi Akuntansi


1.1.1 Pengertian Akuntansi
American Accounting Assosiation mendefinisikan akuntansi sebagai
Proses mengidentifikasikan, mangatur dan melaporkan informasi ekonomi, untuk
memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan
informasi tersebut.
Definisi ini mengandung beberapa pengertian, yakni :
1. Bahwa akuntansi merupakan proses yang terdiri dari identifikasi, pengukuran dan pelaporan informasi
ekonomi. (Bagian ini menjelaskan tentang kegiatan akuntansi).
2. Bahwa informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna dalam penilaian dan
pengambilan keputusan mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan. (segi kegunaan dari akuntansi).
Tujuan utama Akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi (economic informatioan) dari suatu
kesatuan badan usaha ekonomi (economic entity) kepada pihak-pihak yang berkepentingan
Kegiatan akuntansi meliputi :
1. Pengidentifikasian dan pengukuran data yang relefan untuk suatu pengambilan keputusan.
2. Pemprosesan data yang bersangkutan kemudian pelaporan informasi yang dihasilkan.
3. Pengkomunikasian informasi kepada pemakai pelaporan.
Kegiatan-kegiatan tadi perlu dirangkaikan dalam suatu sistem yang disebut sistem akuntansi.

1.1 Kegunaan Informasi Akuntansi


1.1.2 Pemakaian Informasi Akuntansi
Manajer
Pemilik (Investor)
Karyawan
Kreditor

Instansi Pemerintah

1.2 Hubungan dengan Bidang-bidang Lain


1.2.1 Pekerjaan Akuntan
Mereka yang bekerja di bagian keuangan, produksi, pemasaran, kepegawaian dan direksi tidak perlu
seorang ahli dalam bidang akuntansi. Tetapi aktivitas mereka akan bertambah, bila mereka mengetahui
prinsip-prinsip akuntansi. Makin tinggi tingkat wewenang dan tanggung jawab seseorang dalam struktur
organisasi perusahaan, makin banyak konsep-konsep dan istilah-istilah akuntansi yang perlu diketahui.
Pada akhirnya, semua orang akan berhubungan dengan transaksi usaha sehingga harus memperhatikan
aspek keuangan yang terdapat dalam dirinya sendiri dan mungkin aspek keuangan pihak lain. Makin
dekat hubungan dengan kegiatan yang bersifat keuangan, makin besar kebutuhan untuk mengerti
konsep dan istilah akuntansi.
Secara garis besar akuntan dapat digolongkan menjadi :
1. Akuntan publik
2. Akuntan manajemen
3. Akuntan Pemerintah
4. Akuntan pendidik
Jabatan yang diduduki mulai dari staf biasa sampai kepala bagian akuntansi.
Tugas yang dikerjakan akuntan dapat berupa :
1. Penyusunan sistem akuntansi
2. Penyusunan Laporan akuntansi kepada pihak-pihak diluar perusahaan
3. Penyusunan Laporan Akuntansi kepada pihak manajemen
4. Penyusunan anggaran
5. Menangani masalah perpajakan
6. Melakukan pemeriksaan intern.

1.3 Bidang Akuntansi dan Perkembangan Profesi Akuntansi


1.3.1 Bidang Akuntansi
Akuntansi juga mempunyai bidang-bidang khusus sebagai akibat perkembangan zaman, bidang-bidang
tersebut adalah :
1. Akuntansi Keuangan (Financial Accounting)
2. Auditing
3. Akuntansi Manajemen (Management Acconting)
4. Akuntansi Biaya (Cost Accounting)
5. Akuntansi perpajakan (Tax Accounting)

6. Sistem Informasi (Information System)


7. Penganggaran (Budgeting)
8. Akuntansi Pemerintahan (Govermental Accounting)

1.3 Bidang Akuntansi dan Perkembangan Profesi Akuntansi


1.3.2 Perkembangan Profesi Akuntansi
Perkembangan profesi akuntansi sejalan dengan jenis jasa yang diminta oleh masyarakat yang makin
lama makin kompleks. Jenis jasa yang diminta sangat dipengaruhi oleh perkembanagn dunia usaha.

1.4 Pembukuan dan Akuntansi


1.4.1 Latihan
Pada umumnya pembukuan adalah pencatatan data perusahaan dengan suatu cara tertentu. Sebagian
besar pekerjaan yang dilakukan seorang pemegang buku bersifat teknis pelaksana.
Akuntan biasanya memimpin dan mengawasi pekerjaan seorang pemegang buku. Dalam setiap
keadaan, akuntan harus mempunyai pengetahuan yang lebih banyak, baik pengetahuan mengenai
konsep-konsep akuntansi maupun kemampuan analitisnya dibandingkan dengan seorang pemegang
buku.
Latihan
1. Akuntansi dapat dilihat dari dua sudut pandang. Sebutkan dan jelaskan dua sudut pandang ini !
Jelaskan kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam akuntansi !
2. Jelaskan akuntansi manajemen dan akuntansi biaya ! jelaskan bidang yang dipelajari oleh sistem
informasi !
3. Sebutkan perbedaan antara akuntansi dan pembukuan !
Pekerjaan Rumah
1. Sebutkan lima pemakai informasi akuntansi dan jelaskan bagaimana mereka menggunakan informasi
tersebut !
2. Berikan contoh bagaimana sebuah bank menggunakan laporan akuntansi yang dihasilkan oleh
perusahaan yang jadi nasabahnya dalam proses pengambilan keputusan

Overview
Selamat anda telah sampai pada bab ini. pada bab kali ini kita akan mempelajari mengenai kegiatankegiatan akuntansi, pengertian perusahaan, bentuk badan usaha dan jenis perusahaan, serta kegiatankegiatan perusahaan.

2.1 Proses Akuntansi


2.1.1 Kegiatan Akuntansi
Akuntansi dapat dilihat dari kegiatan dan kegunaannya. Kegiatan akuntansi meliputi :
1. Pengidentifikasian dan pengukuran data relevan untuk pengambil keputusan.
2. Pemprosesan data dan kemudian pelaporan informasi yang dihasilkan.
3. Pengkomunikasian informasi kepada pemakai laporan.
Kegiatan-kegiatan tersebut diatas merupakan suatu proses yang berulang sehingga membentuk siklus.
Secara ringkas proses akuntansi dapat digambarkan seperti gambar disamping.
Identifikasi dan Pengukuran Data
Data yang relevan untuk keputusan terdiri dari transaksi-transaksi dan kejadian dalam perusahaan. Kalau
berbicara tentang transaksi atau kejadian, maka hal tersebut akan selalu berhubungan dengan tindakan
yang telah diselesaikan, misalnya memberi barang. Keinginan untuk membeli barang bukan merupakan
transaksi, karena belum dilaksanakan. Data yang telah diidentifikasikan ini kemudian diukur. Satuan
pengukur yang tepat dalam akuntansi adalah satuan uang.
Proses dan pelaporan
Proses dan pelaporan data mencakup kegiatan pencatatan, penggolongan dan pengikhtisaran.
Pencatatan transaksi berarti mengumpulkan data secara kronologis. Penggolongan (classifying) transaksi
penting agar penyajian dapat diringkaskan. Pengikhtisaran (summarizing) adalah menyajikan informasi
yang telah digolong-golongkan ke dalam bentuk laporan seperti diinginkan pemakai.
Laporan Akuntansi
Laporan akuntansi (accounting reports) yang dihasilkan oleh suatu sistem akuntansi banyak macam
ragamnya. Jenis laporan yang dihasilkan tergantung pada pihak-pihak yang akan menggunakan laporan
tersebut. Salah satu yang utama adalah laporan keuangan (financial statement).
Analisa dan Interpretasi
Analisa laporan keuangan (financial statement analysis) pada hakekatnya adalah menghubungkan
angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dengan angka lain atau menjelaskan arah
perubahan (trend) nya. Sedangkan Interpretasi laporan keuangan (financial statement interpretation)
menghubungkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan, termasuk hasil analisanya,
dengan keputusan usaha yang akan diambil. Dari hubungan ini akan dapat dilakukan penilaian terhadap
perusahaan yang bersangkutan sehingga dapat ditarik kesimpulan untuk pengambilan keputusan.
Perlu dicatat bahwa walaupun informasi akuntansi sangat membantu dalam proses pengambilan
keputusan, namun pada umumnya suatu keputusan usaha tidak hanya didasarkan atas informasi
tersebut.

2.2 Perusahaan dan Akuntansi


2.2.1 Pengertian Perusahaan
Perusahaan adalah suatu organisasi yang didirikan oleh seseorang atau sekelompok orang atau badan
lain yang kegiatan utamanya adalah melakukan produksi dan distribusi guna memenuhi kebutuhan
ekonomis manusia. Kegiatan produksi dan distribusi pada umumnya dilakukan untuk memperoleh laba
dan hasil suatu produksi dapat berupa barang atau jasa.

2.2 Perusahaan dan Akuntansi


2.2.2 Bentuk Badan Usaha dan Jenis Perusahaan
Bidang usaha berkaitan dengan jenis usaha yang digolongkan menjadi :
1. Perusahaan Jasa, adalah perusahaan yang kegiatannya menjual jasa.
2. Perusahaan dagang, yaitu perusahaan yang kegiatannya membeli barang jadi dan menjualnya kembali
tanpa melakukan pengolahan lagi.
3. Perusahaan Pabrik, adalah perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi barang jadi
dan kemudian menjual barang jadi tersebut.
Bentuk badan usaha yang utama adalah :
1. Perusahaan perseorangan, adalah perusahaan yang dimiliki seluruhnya oleh perseorangan.
2. Persekutuan (firma dan CV), adalah perusahaan yang dimiliki oleh dua orang atau lebih menurut suatu
perjanjian tertentu diantara mereka.
3. Perseroan Terbatas (PT), adalah badan hukum terpisah yang dibentuk berdasarkan hukum, dimana
pemiliknya dibagi dalam saham-saham.
Perekonomian Indonesia disokong oleh tiga pilar pelaku ekonomi, yaitu swasta, koperasi dan badan
usaha milik negara.
Koperasi adalah kumpulan orang-orang atau badan hukum koperasi untuk melakukan usaha bersama
berdasarkan azas kekeluargaan.
Badan usaha milik negara dapat berbentuk persero, perum dan perusahaan jawatan.
Perbedaan utama antara bentuk-bentuk perusahaan tadi, dipandang dari sudut akuntansi adalah dalam
hal sifat pemilikan serta hak-hak dan kewajiban hukum dari masing-masing organisasi tersebut.

2.2 Perusahaan dan Akuntansi


2.2.3 Kegiatan Perusahaan
Tujuan seseorang atau sekelompok orang melakukan usaha adalah agar modal yang ia (mereka)
tanamkan dalam perusahaan itu berkembang. Tujuan perusahaan yang terutama adalah mencari laba,
tetapi selain mencari laba, perusahaan juga harus menjaga agar tetap solvabel (solvent), artinya selalu
tersedia uang tunai untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya pada saat jatuh tempo. Selain itu juga,
perusahaan yang semakin maju dituntut untuk memperhatikan hal-hal seperti tanggung jawab sosial,
lingkungan, dan lain-lain.
Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan harus menggunakan modal yang diterima dari para
penanam (yang menjadi pemilik) untuk melakukan usaha. Siklus kegiatan dalam perusahaan secara
ringkas dapat digambarkan seperti terlihat dalam gambar disamping.

2.2 Perusahaan dan Akuntansi


2.2.4 Kegiatan Perusahaan dan Akuntansi
Kegiatan perusahaan meliputi suatu arus perputaran dana. Dana diperoleh dari pemilik kreditur,
digunakan untuk melakukan usaha yang pada akhirnya diterima dalam bentuk dana lagi dan kemudian
dikembalikan kepada pemilik dan kreditur.
Akuntansi mempunyai peran penting dalam proses pencatatan dan pelaporan tersebut. Untuk
menggambarkan hubungan antara kegiatan perusahaan dan akuntansi, di bawah ini akan diuraikan
contoh kegiatan perusahaan serta catatan yang dapat dibuat.
Penyetoran Modal
Awal dari siklus kegiatan perusahaan adalah penyetoran modal oleh pemilik. Anggaplah terdapat data
sebagai berikut :
Adit mendirikan perusahaan dan untuk itu ia menyetorkan uang tunai sebesar Rp 1.000.000 sebagai
modal awal.
Dari kegiatan 1 tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan menerima uang tunai (kas) sebesar Rp
1.000.000. Penerimaan uang yang berasal dari kegiatan 1 itu dapat dicatat sebagai berikut :
KAS
+ 1.000.000 (kegiatan 1)
Tanda + dalam pencatatan berarti penambahan. Sisi lain bagi perusahaan adalah pengakuan bahwa
uang Rp 1.000.000 tadi berasal dari Gunawan sebagai pemodalnya.
MODAL ADIT
+ 1.000.000 (kegiatan 1)

Antara kekayaan yang dimiliki dengan sumber pembelanjaannya harus selalu sama, seperti dalam
contoh penyetoran modal, kesamaan tersebut dapat disajikan sebagai berikut :
KAS = MODAL ADIT
1.000.000 = 1.000.000
Penyajian kekayaan dan sumber pembelanjaannya dalam suatu persamaan dapat digunakan untuk
menunjukkan posisi keuangan perusahaan.
Dalam contoh di atas posisi keuangan perusahaan menunjukkan bahwa :
1. Perusahaan memiliki kekayaan berupa uang tunai sebesar Rp 1.000.000.
2. Sumber pembelanjaan dari kekayaan tersebut berasal dari setoran modal pemilik sebesar Rp
1.000.000.
Penarikan Pinjaman
Jika setoran modal dari pemilik masih belum cukup untuk melakukan usaha, perusahaan dapat
memperoleh sumber pembelanjaan dari pinjaman, misalnya meminta kredit dari bank. Perhatikan contoh
berikut :

* Kegiatan 2 *
Perusahaan memperoleh kredit dari bank sebesar Rp 2.000.000.
Seperti halnya kegiatan 1, kredit yang diterima dari bank sebesar Rp 2.000.000 mengakibatkan
perusahaan menerima uang tunai sejumlah tersebut diatas. Pencatatan untuk penerimaan uang ini
adalah sebagai berikut :
KAS
+ 1.000.000
+ 2.000.000 (Kegiatan 2)
3.000.000
Di sisi lain, sumber pembelanjaan dari kegiatan 2 ini, yaitu pinjaman dari bank, oleh perusahaan dicatat
sebagai berikut :
HUTANG BANK
+ 2.000.000 (Kegiatan 2)
Kesamaan antara kekayaan dan sumber pembelanjaan, setelah kegiatan ini disajikan sebagai berikut :
KAS = HUTANG BANK + MODAL ADIT
3.000.000 = 2.000.000 + 1.000.000
Sekarang, posisi keuangan perusahaan telah berubah. Kekayaan perusahaan berjumlah Rp 3.000.000
dalam bentuk uang tunai. Sumber pembelanjaan berasal dari setoran oleh pemilik sebesar Rp 1.000.000
dan pinjaman dari bank sebesar Rp 2.000.000.
Perolehan Aktiva Produksi

Siklus kegiatan perusahaan selanjutnya adalah mengubah uang tunai ke dalam aktiva produksi. Kegiatan
berikut ini adalah contohnya :

2.2 Perusahaan dan Akuntansi


2.2.5 Kegiatan Perusahaan dan Akuntansi
* Kegiatan 3 *
Perusahaan membeli mobil dengan harga Rp 2.500.000
Dalam kegiatan ini, perusahaan mengubah uang tunai yang dimiliki menjadi aktiva produksi, akibat dari
pembelian tersebut uang tunai harus dikeluarkan. Pengeluaran uang tunai dari perusahaan dicatat
sebagai berikut :
KAS
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000 (Kegiatan 3)
500.000

Perlu diingatkan bahwa akibat lain dari kegiatan 3 adalah perusahaan sekarang mempunyai mobil yang
nilainya Rp 2.500.000. kenyataan ini harus dicatat sebagai berikut :
KENDARAAN
+ 2.500.000 (Kegiatan 3)
Kesamaan antara kekayaan dan sumber pembelanjaan, setelah kegiatan 3 ini, tetap dapat
dipertahankan, sebab kegiatan tersebut hanya merupakan pengubahan bentuk kekayaan saja. Ini dapat
ditunjukkan sebagai berikut :
KAS + KEKAYAAN = HUTANG BANK + MODAL ADIT
500.000 + 2.500.000 = 2.000.000 + 1.000.000
Kembali pada posisi keuangan perusahaan, persamaan di atas menunjukkan bahwa:
1. Perusahaan memiliki kekayaan yang berjumlah Rp 3.000.000. kekayaan ini terdiri dari uang tunai (kas)
sebesar Rp 500.000 dan mobil yang bernilai Rp 2.500.000.
2. Sumber pembelanjaan dari kekayaan tersebut berasal dari hutang bank sebesar Rp 2.000.000 dan
setoran modal pemilik sebesar Rp 1.000.000.
Penjualan Barang dan Jasa
Aktiva produksi yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Dalam contoh
mobil di atas, mengangkut penumpang dengan menarik bayaran adalah kegiatan memberikan pelayanan

jasa. Pelayanan jasa akan menghasilkan pendapatan.

* Kegiatan 4 *
Perusahaan memperoleh pendapatan sebesar Rp 400.000.
Uang tunai yang diterima dari melakukan usaha sebesar Rp 400.000, akan dicatat dengan cara biasa
berikut :
KAS
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000
500.000
+ 400.000 (Kegiatan 4)
900.000
Pendapatan (sebesar Rp 400.000) merupakan penambahan terhadap kekayaan perusahaan (dalam
contoh di atas penambahan kas). Kekayaan perusahaan dimiliki oleh yang menyeddiakan modal. Jadi
penambahan kekayaan yang berasal dari kegiatan usaha akan menambah modal pemilik perusahaan.
MODAL ADIT
+ 1.000.000
+ 400.000 (Kegiatan 4)
1.400.000
Setelah kegiatan ini, kesamaan antara kekayaan dan sumber pembelanjaan masih dapat dipertahankan.
Perhatikan dibawah ini :
KAS + KEKAYAAN = HUTANG BANK + MODAL ADIT
900.000 + 2.500.000 = 2.000.000 + 1.400.000
Menghasilkan Barang atau Jasa
Dalam siklus kegiatan disebutkan bahwa disamping aktiva produksi, perusahaan perlu mengeluarkan
biaya lain untuk menghasilkan barang dan jasa.
Berikut ini adalah contohnya :

* Kegiatan 5 *
Perusahaan membayar bensin, olie, gaji sopir serta kernet dan lain-lain sebesar Rp 100.000
Pengeluaran uang untuk pembayaran bermacam-macam biaya tersebut dicatat sebagai berikut :
KAS
+ 1.000.000

+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000
500.000
+ 400.000
900.000
- 100.000 (Kegiatan 5)
800.000
Pengeluaran untuk beban (biaya) sebesar Rp 100.000 mengurangi kekayaan perusahaan sedang
kekayaan perusahaan dimiliki oleh penyedia modal. Jadi, pengurangan kekayaan yang disebabkan oleh
kegiatan usaha akan mengurangi modal. Kenyataan ini dicatat sebagai berikut :
MODAL ADIT
+ 1.000.000
+ 400.000
1.400.000
- 100.000 (Kegiatan 5)
1.300.000
Kesamaan antara kekayaan dan sumber pembelanjaan, setelah kegiatan ini disajikan sebagai berikut :
KAS + KENDARAAN = HUTANG BANK + MODAL ADIT
800.000 + 2.500.000 = 2.000.000 + 1.300.000
Pembayaran Kembali Pinjaman
Pinjaman, suatu saat harus dikembalikan. Dalam siklus kegiatan perusahaan disebutkan bahwa sebagian
dari hasil usaha akan digunakan untuk pengembalian pinjamn. Perhatikan contoh dihalaman berikutnya.

2.2 Perusahaan dan Akuntansi


2.2.6 Kegiatan Perusahaan dan Akuntansi
* Kegiatan 6 *
Perusahaan mengangsur pengembalian kredit sebesar Rp 150.000.
Kegiatan ini akan mengakibatkan adanya pengeluaran uang sebesar Rp 150.000. pencatatan yang
dilakukan adalah sebagai berikut :
KAS
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000
- 2.500.000
500.000

+ 400.000
900.000
- 100.000
800.000
150.000 (Kegiatan 6)
650.000

Angsuran yang dilakukan perusahaan mengakibatkan berkurangnya hutang kepada bank. Kenyataan ini
dicatat sebagai berikut :
HUTANG BANK
+ 2.000.000
- 150.000 (Kegiatan 6)
1.850.000
Kesamaan antara kekayaan dan sumber pembelanjaan tetap terjaga seperti terlihat di bawah ini :
KAS + KENDARAAN = HUTANG BANK + MODAL ADIT
650.000 + 2.500.000 = 1.850.000 + 1.300.000
Pembagian Laba
Disamping untuk pengembalian pinjaman, sebagian hasil usaha perusahaan, dikembalikan kepada
pemilik. Pengembalian kepada pemilik dilakukan dengan pembagian laba seperti contoh berikut :

* Kegiatan 7 *
Perusahaan membagikan laba kepada pemilik sebesar Rp 100.000.
Pembagian laba kepada pemilik merupakan pengembalian atas modal yang ditanam. Dengan
demikian,modal akan berkurang. Pencatatan untuk kegiatan ini adalah sebagai berikut :
MODAL ADIT
+ 1.000.000
+ 400.000
1.400.000
- 100.000
1.300.000
100.000 (Kegiatan 7)
1.200.000

Uang tunai akan keluar karena pembagian laba tersebut di atas. Pencatatannya adalah sebagai berikut :
KAS
+ 1.000.000
+ 2.000.000
3.000.000

- 2.500.000
500.000
+ 400.000
900.000
- 100.000
800.000
150.000
650.000
- 100.000 (Kegiatan 7)
550.000
Kesamaan antara kekayaan dan sumber pembelanjaan dapat dibuktikan sebagai berikut :
KAS + KENDARAAN = HUTANG BANK + MODAL ADIT
550.000 + 2.500.000 = 1.850.000 + 1.200.000
Pada saat ini, posisi keuangan perusahaan adalah sebagai berikut :
1. Kekayaan yang dimiliki berjumlah Rp 3.050.000, terdiri dari uang tunai (kas) Rp 550.000 dan
kendaraan Rp 2.500.000.
2. Sumber pembelanjaan berasal dari hutang bank sebesar Rp 1.850.000 dan setoran modal pemilik Rp
1.200.000.
Dari contoh-contoh yang dikemukakan di atas dapat dengan jelas dilihat hubungan antara kegiatan
perusahaan dengan akuntansi sebagai proses pencatatan.

2.2 Perusahaan dan Akuntansi


2.2.7 Latihan
Latihan :
Pada tanggal 2 Januari 199A, Joko Sugianto mendirikan sebuah perusahaan pengangkutan tanah. Untuk
ini, ia menanamkan modal sebesar Rp 4.000.000 dalam bentuk uang tunai. Pada saat yang sama, Joko
Sugianto meminjam untuk perusahaannya uang sejumlah Rp 10.000.000 dari ayahnya. Tanggal 3 Januari
199A, Joko Sugianto membeli truk bekas dengan harga Rp 15.000.000 dan menambah modalnya
dengan Rp 2.000.000.
Ditanya :
a. Pada tanggal 2 Januari 199A, hitung berrapa kekayaan, hutang dan modal perusahaan yang didirikan
oleh Joko Sugianto.
b. Berapa pula kekayaan, hutang dan modal perusahaan Joko Sugianto pada tanggal 3 Januari 199A

Pekerjaan Rumah
Dibawah ini adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Kursus Akuntansi Sukawati :

a. Endang Sukawati menanamkan modalnya pada Kursus Akuntansi Sukawati Rp 5.000.000.


b. Menarik kredit dari Bank Rp 2.000.000
c. Kursus Akuntansi Sukawati membeli meja, kursi, papan tulis dan peralatan lain sebesar Rp 6.000.000
d. Membayar ongkos pemasangan iklan Rp 200.000
e. Menerima uang kursus dari peserta Rp 600.000
f. Membayar honorarium pengajar Rp 500.000
g. Membayar gaji pegawai Rp 200.000
h. Mengangsur kredit bank Rp 100.000
i. Mengambil uang untuk keperluan pribadi Rp 200.000
Diminta :
Catatlah kegiatan-kegiatan tersebut di atas dengan menggunakan pos-pos yang diberi judul : KAS:
PERALATAN, BANK; MODAL SUKAWATI

Overview
Pada bab kali ini akan membahas mengenai persamaan akuntansi dan akun. Diantaranya mambahas
mengenai transaksi usaha dan nilai transaksi, persamaan akuntansi, pencatatan transaksi usaha, laporan
keuangan, akun, buku besar, aturan debit dan kredit, serta neraca saldo.

3.1 Transaksi Usaha dan Nilai Transaksi


3.1.1 Transaksi Usaha
Transaksi usaha adalah kejadian atau situasi yang mempengaruhi posisi keuangan perusahaan. Artinya,
mengakibatkan berubahnya jumlah atau komposisi persamaan antara kekayaan dan sumber
pembelanjaan.
Pembayaran rekening telepon sebesar Rp 25.000, pembelian barang dagang secara kredit sebesar Rp
100.000 serta pembelian tanah dan bangunan toko sebesar Rp 50.000.000 merupakan contoh dari
bermacam-macam transaksi usaha.
Dua transaksi yang pertama sangat sederhana, yaitu suatu pengeluaran uang ditukar dengan barang
dagang. Suatu transaksi usaha dapat diikuti oleh transaksi lain.
Misalnya pembelian barang dagang secara kreddit akan diikuti oleh transaksi lain berupa pembayaran.
Demikian juga setiap kali terjadi penjualan barang dagang.
Transaksi-transaksi ini harus dicatat.
Pemakaian gedung bukan merupakan pertukaran barang-barang dan jasa antara perusahaan dengan
pihak lain.

Transaksi semacam ini, yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan pihak luar disebut transaksi
intern (internal transaction). Tanpa memandang pada sistem pencatatan yang digunakan, dapat
dikatakan bahwa data yang dikumpulkan merupakan dasar untuk membuat bermacam-macam laporan.

3.1 Transaksi Usaha dan Nilai Transaksi


3.1.2 Nilai Transaksi
Setelah diidentifikasikan, suatu usaha harus diukur.
Alat ukur transaksi yang digunakan dalam akuntansi adalah satuan uang. Harga yang berasal dari
transaksi atau harga pertukaran menentukan nilai transaksi dan merupakan jumlah yang dijadikan
sebagai dasar pencatatan. Kadang harga ini disebut harga perolehan.
Dalam suatu transaksi baik pembeli maupun penjual, akan berusaha untuk mendapatkan harga yang
paling menguntungkan, dengan harga yang telah disetujui bersama merupakan dasar objektif untuk
tujuan akuntansi.
Apabila nilai yang dicantumkan untuk suatu aktiva diubah-ubah hanya didasarkan atas penawaran,
penilaian kembali tidak dapat dipercaya dan tidak berguna lagi.

3.2 Persamaan Akuntansi


3.2.1 Persamaan Akuntansi (Accounting Equation)
Kesamaan antara kekayaan dan sumber pembelanjaan biasanya dinyatakan dalam suatu persamaan
yang disebut akuntansi (accounting equation) sebagai berikut:
KEKAYAAN = SUMBER PEMBELANJAAN
Biasanya, kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan disebut aktiva atau harga (assets).
Aktiva merupakan sumber daya (resources) bagi perusahaan untuk melakukan usaha. Oleh sebab itu
aktiva harus selalu sama dengan sumber pembelanjaannya.
Sumber pembelanjaan dapat dibagi menjadi dua, yakni kreditur dan pemilik. Sumber pembelanjaan dari
kreditur disebut kewajiban (liabilities) atau kadang-kadang disebut hutang. Sedangkan sumber
pembelanjaan dari pemilik disebut modal. Perluasan dari persamaan di atas (untuk membedakan kedua
sumber pembelanjaan tersebut) adalah sebagai berikut :
AKTIVA = KEWAJIBAN + MODAL
Adalah kebiasaan untuk menempatkan kewajiban sebelum modal, oleh karena itu hak kreditur memang
lebih didahulukan. Karena transaksi usaha akan mempengaruhi posisi keuangan perusahaan, maka
setiap transaksi usaha dapat dinyatakan dalam bentuk efeknya terhadap ketiga unsur dalam persamaan
akntansi. Efek terhadap unsur persamaan akuntansi dinyatakan dalam penambahan atau pengurangan

dari unsur-unsur tersebut.

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.1 Pencatatan Transaksi Usaha
Setiap transaksi usaha dapat dinyatakan dalam bentuk efeknya terhadap persamaan akuntansi. Oleh
karena itu, maka persamaan tersebut dapat digunakan untuk mencatat semua transaksi yang terjadi
dalam perusahaan. Untuk menggambarkan hal ini, akan digunakan prusahaan jasa sebagai model. Untuk
itu anggaplah bahwa Ali Sahab mendirikan perusahaan angkutan mikrolet (otolet) dalam bentuk
perusahaan perseorangan yang diberi nama PO (Perusahaan Otolet) Ali. Transaksi selama bulan
pertama kegiatan PO Ali diuraikan dibawah ini.

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.2 Transaksi A
Transaksi A
Transaksi permulaan PO Ali adalah penyetoran modal oleh Ali Sahab sebesar Rp 4.000.000. Akibat
transaksi ini adalah bertambhnya aktiva perusahaan dalam bentuk kas sebesar Rp 4.000.000. Pada sisi
lain, modal bertambah dengan jumlah yang sama. Dengan adanya transaksi ini, persamaan akuntansi
PO Ali menjadi seperti ilustrasi di samping.
Harap dicatat bahwa persamaan tersebut hanya bersangkutan dengan perusahaan, yaitu PO Ali. Harta
Pribadi Ali Sahab seperti rumah dan rekening bank serta hutang-hutang pribadinya tidak dicatat dalam
persamaan. Perusahaan dianggap sebagai suatu kesatuan usaha yang terpisah, dengan uang kas
sebesar Rp 4.000.000 dan modal sebesar Rp 4.000.000.

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.3 Transaksi B
Transaksi B
PO Ali meminta meminjam uang kepada bank sebesar Rp 5.000.000. akibat trnsaksi ini, persamaan
akuntansi menjadi sebagai berikut :

Akibat transaksi tersebut diatas uang kas dalam perusahaan bertambah dengan Rp 5.000.000, sehingga
menjadi Rp 9.000.000. dilain pihak muncul hutang bank sebesar Rp 5.000.000.

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.4 Transaksi C
Transaksi C
Transaksi PO Ali selanjutnya adalah pembelian mobil dan peralatan lain, untuk itu dikeluarkan uang
sebesar Rp 7.400.000. Transaksi ini mengubah komposisi aktiva, tetapi tidak mengubah jumlahnya.
Unsur dalam persamaan sebelum adanya transaksi, efek dari transaksi dan saldo setelah transaksi
adalah sebagai berikut :

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.5 Transaksi D
Transaksi D
Selama bulan itu PO Ali membeli secara kredit dari berbagai leveransir, oli, minyak rem dan bermacammacam perlengkapan lain seharga Rp 65.000. Pembelian semacam ini biasa disebut pembelian kredit
dan kewajiban yang ditimbulkan disebut hutang dagang (accounts payable). Seperti halnya pinjaman
yang diberikan dalam bentuk uang, pembelian secara kredit pada hakekatnya juga merupakan
penyediaan dana oleh kreditur. Dalam praktek, pembelian ini harus dicatat untuk setiap transaksi. Perlu
dibuat catatan terpisah untuk masing-masing kreditur. Pengaruh kelompok transaksi ini adalah
bertambahnya aktiva dan hutang masing-masing sebesar Rp 65.000 seperti terlihat di bawah ini :

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.6 Transaksi E
Transaksi E
Selama bulan itu hutang yang dibayar adalah sebesar Rp 30.000. akibat dari transaksi ini adalah
berkurangnya aktiva dan hutang. Pengaruhnya terhadap persamaan akuntansi adalah sebagai berikut :

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.7 Transaksi F
Transaksi F
Tujuan utama pemilik perusahaan adalah menambah modal dengan jalan memperoleh laba. Bagi PO Ali,
berarti bahwa penjualan jasa harus melebihi biaya-biaya yang terjadi. Jumlah yang dibebankan kepada
langganan untuk barang dan jasa yang dijual disebut Pendapatan. Istilah lain yang digunakan untuk
jenis-jenis pendapatan tertentu, adalah penjualan untuk penjualan barang dagang atau jasa, pendapatan
upah jasa untuk ongkos yang diminta oleh seorang dokter dari pasiennya, pendapatan sewa untuk
menyewakan rumah dan harta lainnya. PO Ali menyebut pendapatan yang diperolehnya dengan
Pendapatan Jasa Angkutan.
Kelebihan pendapatan atas biaya-biaya yang dibebankan disebut laba bersih (net income). Apabila biaya
yang dibebankan melebihi pendapatan yang dihasilkan, maka kelebihan itu merupakan rugi bersih (net
loss).
Selama bulan pertama kegiatannya, PO Ali memperoleh pendapatan jasa angkutan sebesar Rp 800.000
diterima tunai. Pengaruh transaksi ini adalah bertambahnya kas sebesar Rp 800.000 dan bertambahnya
pendapatan untuk jumlah yang sama. Pendapatan ini juga dianggap sebagai penambahan atas modal
sebesar Rp 800.000. biaya diperlakukan sebagai pengurang atas pendapatan, dengan demikian akan
mengurangi modal. Dalam persamaan akuntansi pengaruh penerimaan kas untuk jasa yang diberikan
adalah sebagai berikut :

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.8 Transaksi G
Transaksi G
Biaya-biaya yang menjadi beban dan dibayar selama sebulan adalah sebagai berikut : gaji sopir dan
kernet Rp 175.000, bensin Rp 50.000. pengaruh transaksi ini adalah berkurangnya kas dan modal,
seperti yang digambarkan berikut ini :

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.9 Transaksi H
Transaksi H
Pada akhir bulan, nilai perlengkapan yang masih tersisa adalah Rp 25.000. Ini berarti sejumlah Rp
40.000 (Rp 65.000 Rp 25.000) telah dipakai dalam kegiatan perusahaan. Pemakaian perlengkapan

untuk kegiatan usaha merupakan salah satu dari transaksi intern. Walaupun tidak berhubungan dengan
pihak luar, kejadian ini perlu dicatat. Pengurangan atas perlengkapan dan modal sebesar Rp 40.000 ini
digambarkan sebagai berikut :

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.10 Transaksi I
Transaksi I
Ali Sahab mengangsur pinjaman kepada bank sebesar Rp 150.000. pengaruh dari transaksi ini adalah
uang kas berkurang sebesar Rp 150.000 dan hutang bank berkurang sejumlah yang sama. Akibat dari
transaksi ini terhadap persamaan akuntansi adalah sebagai berikut :

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.11 Transaksi J
Transaksi J
Pada akhir bulan, Ali Sahab mengambil uang Rp 100.000 dari perusahaan untuk keperluan pribadinya.
Transaksi ini yang menyebabkan turunnya kas dan modal adalah kebalikan dari penanaman modal
dalam perusahaan oleh pemilik. Pengambilan ini bukan merupakan biaya perusahaan dan tidak boleh
dimasukkan pada waktu menetapkan laba bersih perusahaan. Saldo awal dalam persamaan akuntansi,
pengaruh pengambilan uang Rp 100.000 dan saldo akhirnya digambarkan seperti ilustrasi disamping.
Catatan-catatan yang dibuat PO Ali tersebut di atas diikhtisarkan dalam bentuk tabelaris seprti terlihat
pada Tabel 3-1. Setiap transaksi ditandai dengan huruf dan saldo tiap-tiap pos diperlihatkan segera
setelah terjadinya transaksi.
Pengamatan berikut (yang berlaku untuk semua jenis usaha) perlu diperhatikan :
1. Pengaruh setiap transaksi dapat dinyatakan dalam penambahan dan / atau pengaruh satu atau lebih
pos dalam persamaan akuntansi.
2. Persamaan akuntansi harus selalu seimbang.

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan

3.3.12 Laporan Keuangan


Setelah transaksi di catat maka disiapkan laporan bagi pemakai. Laporan akuntansi yang menghasilkan
informasi disebut Laporan keuangan. Laporan keuangan yang utama bagi perusahaan Laporan LabaRugi, Laporan ekuitas pemilik, neraca, arus kas. Urutan-uruan penyusunan dan sifat data yang terdapat
dalam laporan-lapora tersebut sebagai berikut :
a. Laporan Laba- Rugi (income statement )adalah ikhtisar pendapatan dan biaya untuk suatu jangka
waktu(periode) tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun .
b. Laporan Ekuitas Pemilik (Statement of owners equity) adalah ikhtisar tentang perubahan modal yang
terjadi selama jangka waktu(periode)tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun.
c. Neraca (balance sheet), adalah daftar aktiva, kewajiban dan ekuitas pemilik pada suatu saat tertentu,
misalnya pada akhir bulanatau akhir tahun
d. Laporan arus kas adalah : Suatu ikhtisar penerimaan kas dan pembayaran kas selama perode waktu
tertentu , misalnya sebulan atau setahun.
Berdasar kasus di atas PO Ali Pada akhir bulan, Ali Sahab ingin mengetahui, apakah terjun dalam usaha
pengangkutan merupakan jalan yang baik baginya, untuk itu PO Ali harus membuat laporan keuangan.
Laporan keuangan utama untuk sebuah perusahaan perseorangan adalah:
Perubahan transaksi di atas di catat dalam catatan akuntansi sebagai berikut klik disini

3.3 Pencatatan Transaksi Usaha dan Laporan Keuangan


3.3.13 Latihan
Latihan :
Agus Nasrun pada tanggal 1 Januari 199A mendirikan bengkel mobil dan motor yang diberi nama
Bengkel Agus. Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Januari 199A adalah sebagai berikut :
a. Agus Nasrun menanamkan uangnya sebesar Rp 5.000.000 sebagai modal awal bengkel yang
didirikan.
b. Bengkel agus membeli mesin pompa angina dengan harga Rp 1.000.000. sejumlah Rp 750.000
dibayar tunai sisanya akan dicicil dalam dua bulan.
c. Membeli obeng, kunci pas dan peralatan bengkel lain seharga Rp 500.000. Pada saat yang sama Agus
membeli mur, baut, oli, bensin dan perlengkapan lain seharga Rp 200.000. Semuanya dibayar tunai.
d. Penerimaan uang dari tanggal 2 sampai dengan 31 Januari 199A untuk ongkos reparasi yang
dikerjakan berjumlah Rp 1.300.000.
e. Membayar sewa untuk bengkel yang ditempati sebesar Rp 100.000. Sewa ini adalah untuk bulan
Januari 199A.
f. Membayar upah tenaga yang membantu Agus dari tanggal 2 Januari sampai dengan 31 Januari 199A
sebesar Rp 200.000.
g. Membayar hutang pembelian mesin pompa angina sebesar Rp 125.000.
h. Perlengkapan bengkel, berdasarkan perhitungan fisik pada akhir bulan tinggal Rp 50.000.
i. Agus mengambil uang dari bengkelnya untuk keperluan pribadi sebesar Rp 150.000.
Diminta :
a. Catatlah transaksi-transaksi tersebut di atas dengan menggunakan teknik tabelaris seperti dibawah ini
dan hitung saldo pada tiap-tiap akhir transaksi :

Aktiva = Kewajiban + Modal


Kas + Perlengkapan + Peralatan = Hutang Dagang + Agus Nasrun
b. Susunlah neraca per 31 Januari 199A serta perhitungan rugi laba dan laporan perubahan modal untuk
bulan yang bersangkutan dan arus kas
Pekerjaan Rumah
a. Ny. Dewi bulan Januari 2005 memutuskan untuk mendirikan usaha jahit yang diberi Nama INDAH
MODISTE. Untukitu Ny. Dewi menyetorkan uang tunai sebesar Rp 10.000.000 sebagai setoran
modalnya.
b. Untuk keperluan tempat usaha , Ny . Dewi tempat di Jl. Seturan No. 5 dengan biaya sewa bulan ini
sebesar Rp 400.000.
c. Dalam rangka mengoperasikan usahanya, Ny. Dewi membeli peralatan jahit berupa mesin jahit,mesin
obras, dan mesin pelubang kancing sebesar Rp 4.000.000,- dibayar tunai.
d. Ny. Dewi juga melengkapi usahanya dengan berbagai perlengkapan jahit seperti benang, ritsleting,
dan kancing yang dibeli secara kredit dari Toko LIS sebesar Rp 500.000,e. Dalam waktu sepuluh hari usaha jahit NY. Dewi sudah cukup berkembang denga pelanggan yang
cukup banyak. Ada beberapa pelanggan yang bajunya sudah selesai senilai Rp 700.000,-dan diambil tapi
pembayarannya dilakuakn dua minggu lalgi
f. NY. Dewi membayar hutang atas pembelian perlengkapan jahit dati Toko LIS beberpa waktu lalu
sebesar Rp 200.000,g. Piutang dari beberpa pelanggan Ny. Dewi yang telah mengambil jahitannya membayr sebesar Rp
400.000,h. Ny. Dewi membayar telpon dan listrik hari ini sebesar Rp 25.000
i. Beberapa baju kebaya telah selesai dijahit dan diambil oleh pelanggan senilai Rp 900.000,- Oleh
pelanggan masih dibayar sebesar Rop 600.000,- sedang sisanya belum dibayar.
j. Anak Ny. Dewi membutuhkan biaya sekolah dan Ny. Dewi mengambil uang untuk keperluan sebesar
Rp 200.000,k. Pada Akhir bulan ini, Ny. Dewi membayar gaji para penjahit yang jumlahnya 2 0rang totalnya sebesar
Rp 300.000,l. Pada akhir bulan setelah diperiksa oleh Ny. Dewi, ternyata persedian perlengkapan jahit tinggal Rp
150.000
Diminta : Buatlah laporan Laba-Rugi, Perubahan ekuitas, Neraca dan cash flow.

4.1 Siklus Akuntansi Tahap Pencatatan dan Pengikhtisaran Perusahaan Jasa


4.1.1 Proses pembuatan laporan akuntansi
Proses pembuatan laporan akuntansi, kalau diiktisarkan akan nampak seperti gambar disamping.
Proses pencatatan berjalan terus-menerus dan berulang kembali sehingga merupakan suatu arus
berulang (siklus). Tahap-tahap kegiatan mulai dari terjadinya transaksi sampai dengan penyusunan
laporan keuangan sehingga siap untuk pencatatan transaksi periode berikutnya disebut siklus akuntansi
(accounting cycle).
Siklus akuntansi terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

Tahap Pencatatan :
1. Pembuatan atau penerimaan bukti transaksi
2. Pencatatan dalam jurnal (buku harian)
3. Pemindah-bukuan (posting) ke buku besar
Tahap Pengikhtisaran :
4. Pembuatan neraca saldo (trial balance)
5. Pembuatan neraca lajur dan jurnal penyesuaian (adjusment)
6. Penyusunan laporan keuangan
7. Pembuatan jurnal penutup (closing entries)
8. Pembuatan neraca saldo penutup (post closing trial balance)
9. Pembuatan jurnal balik (reversing entries)

4.2 Bukti Transaksi


4.2.1 Pendahuluan
Kegunaan bukti transaksi adalah untuk memastikan keabsahan transaksi yang dicatat. Disamping itu,
dapat digunakan sebagai rujukan, apabila terjadi masalah dikemudian hari. Bukti-bukti yang dibuat dan
disediakan oleh perusahaan sendiri disebut bukti intern, sedangkan bukti-bukti yang berasal dari luar
perusahaan disebut bukti ekstern.

4.2 Bukti Transaksi


4.2.2 Bukti Pengeluaran Uang
Suatu perusahaan (Salon Ayu) pada tanggal 3 Desember 199A mengeluarkan uang sebesar Rp 120.000
kepada Budiman untuk pembayaran sewa ruangan selama bulan Desember 199A. untuk pengeluaran
uang ini, Salon Ayu minta kuitansi dari Budiman sebagai bukti bahwa uang telah diterima, seperti terlihat
pada gambar disamping.

4.2 Bukti Transaksi


4.2.3 Bukti Penerimaan Uang
Pada tanggal 5 Desember 199A, Salon Ayu menerima uang tunai Rp 10.000 dari Nyonya Maryanti untuk
jasa perawatan kecantikan yang diberikan. Kuitansi yang dibuat oleh Salon Ayu nampak seperti gambar
disamping :

4.2 Bukti Transaksi


4.2.4 Bukti Jurnal
Ada kalanya, suatu perusahaan menyediakan bukti khusus yang digunakan sebagai bukti pencatatan
akuntansi dan biasanya disebut Bukti Jurnal (Journal Voucher). Bukti jurnal yang dibuat untuk
pembayaran sewa sebesar Rp 120.000 adalah sebagai berikut : {Tampak gambar disamping}
Bukti jurnal dapat dibuat untuk semua transaksi, termasuk transaksi-transaksi yang tidak melibatkan
pihak luar. Bahkan untuk transaksi-transaksi ini, bukti jurnal menjadi penting, karena tidak tersedianya
bukti yang dapat digunakan sebagai dasar pencatatan.

4.2 Bukti Transaksi


4.2.5 Bukti Transaksi Lain
Disamping pengeluaran dan penerimaan uang, perusahaan mungkin melakukan transaksi-transaksi lain.
Misalnya, pembelian dan penjualan secara kredit, penyerahan dan penerimaan barang dan lain-lain.
Transaksi-transaksi ini juga perlu dibuat buktinya. Pembelian atau penjualan kredit dapat dibuktikan
dengan faktur. Penyerahan dan penerimaan barang dibuktikan dengan bukti pengiriman dan penerimaan
barang.

4.3 Jurnal
4.3.1 Pengertian Jurnal
Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan secara kronologis (bedasarkan
urut waktu terjadinya) dengan menunjukkan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah
rupiahnya masing-masing. Jurnal juga sering disebut buku catatan pertama (book of original entry).
Manfaat pemakaian jurnal adalah sebagai berikut :
1. Jurnal merupakan alat pencatat yang dapat menggambarkan pos-pos yang terpengaruh oleh suatu
transaksi.
2. Jurnal juga merupakan alat pencatatan yang memberi gambaran secara kronologis (menurut urutan
waktu terjadinya transaksi), sehingga memberikan gambaran tentang transaksi berdasarkan urutan
kejadiannya.
3. Jurnal dapat dipecah-pecah menjadi beberapa jurnal khusus yang dikerjakan oleh beberapa orang
secara bersamaan.
4. Jurnal menyediakan ruang yang cukup untuk keterangan transaksi.
5. Apabila transaksi dicatat secara langsung di buku besar dan terjadi kesalahan dalam mencatatnya,
maka letak kesalahan tersebut di buku besar akan sulit ditemukan.
Jurnal dan rekening-rekening buku besar mempunyai peranan yang tidak dapat dipisahkan di dalam
mencatat transaksi-transaksi perusahaan. Jurnal mencatat pengaruh dari tiap-tiap transaksi perusahaan

terhadap persamaan akuntansi secara kronologis, sedangkan rekening-rekening buku besar


mengelompokkan dan meringkas pengaruh transaksi-transaksi terhadap aktiva, utang, modal,
pendapatan dan biaya.
Prosedur pencatatan transaksi ke dalam jurnal disebut penjurnalan (journalizing). Prosedur yang
diterapkan untuk jurnal umum adalah sebagai berikut :
a. Setiap halaman jurnal diberi nomor urut untuk referensi
b. Tahun dicantumkan sekali saja pada baris paling atas kolom tanggal di setiap halam jurnal, kecuali
apabila dalam halaman tersebut tahunnya berubah.
c. Bulan dicantumkan sekali saja pada baris pertama sesudah tahun dalam kolom tanggal di setiap
halaman kecuali dalam halaman tersebut bulannya berubah.
d. Tanggal dicantumkan sekali saja pada kolom tanggal untuk setiap hari, tanpa memandang jumlah
transaksi, bukan tanggal dicatatnya transaksi dalam jurnal.
e. Nama perkiraan yang didebet dicantumkan pada tepi paling kiri dalam kolom keterangan. Nilai
uangnya dicatat dalam kolom debit.
f. Nama perkiraan yang di kredit dicantumkan di bawah agak ke kanan dari perkiraan yang di debet. Nilai
uangnya dicatat dalam kolom kredit.
g. Penjelasan singkat dapat dicatat di bawah agak ke kanan dari setiap ayat jurnal.
h. Kolom referensi digunakan untuk mencatat nomor kode perkiraan yang bersangkutan di buku besar.
i. Nomor bukti transaksi yang dijadikan dasar pencatatan dalam jurnal dicatat dalam kolom nomor
bukti.

4.3 Jurnal
4.3.2 Pemindah-bukuan ke Buku Besar
Pemindah bukuan ayat jurnal debit atau kredit ke masing-masing perkiraan yang dipengaruhinya di buku
besar disebut posting.
Dalam perusahaan besar biasanya posting dilakukan dengan menggunakan mesin pembukuan atau
secara otomatis dilakukan dengan komputer. Apabila posting dilakukan secara manual, maka yang harus
ditempuh adalah sebagai berikut :
1. Tanggal dan jumlah yang dicatat dalam jurnal dicatat kembali dalam rekening yang bersangkutan.
2. Apabila posting telah dilakukan, maka nomor halaman jurnal harus dituliskan dalam kolom F Ref (folio)
di rekening.
3. Langkah berikutnya adalah menuliskan nomor rekening yang telah diposting pada kolom Nomor
Rekening di dalam jurnal. Prosedur ini mempunyai dua tujuan, yaitu :
a. Untuk menunjukkan bahwa jurnal tersebut telah diposting.
b. Untuk menunjukkan hubungan antara jurnal dan rekening di buku besar.
Penjelasan Gambar :
A. Pindahkan tanggal yang terdapat dalam jurnal umum (2 Januari 199A) ke dalam kolom tanggal di
perkiraan yang bersangkutan (dalam hal ini diambil perkiraan yang akan di debet, yaitu : Kas).
B. Pindahkan jumlah yang di debet jurnal umum (Rp 4.000.000) ke dalam kolom Debit di perkiraan
kas.
C. Catat kode dan nomor halamn jurnal ke dalam kolom Ref di perkiraan kas.

D. Catat nomor kode perkiraan ke dalam kolom Ref di jurnal umum.


E. Penjelasan singkat dalam kolom Keterangan di jurnal umum dapat dipindahkan ke kolom yang
sama di perkiraan.

4.3 Jurnal
4.3.3 Jurnal Umum Salon Ayu
Urutan-urutan yang diikuti dalam menganalisis setiap transaksi adalah sebagi berikut :
1. Tentukan jenis perkiraan yang dipengaruhi oleh transaksi (perkiraan aktiva, kewajiban, modal,
pendapatan atau biaya).
2. Tentukan akibat transaksi terhadap perkiraan (bertambah atau berkurang).
3. Tentukan debet atau kredit atas perkiraan yang dipengaruhi oleh transaksi.
4. Catat debet atau kredit dalam jurnal umum.
Sekarang perhatikan tiap-tiap transaksi pada gambar disamping serta pencatatannya ke jurnal dan
pemindah-bukuannya ke buku besar.

4.3 Jurnal
4.3.4 Transaksi 1
Transaksi 1 : Tanggal 2 Desember 199A nona Dewi mendirikan salon kecantikan yang diberi nama
Salon Ayu. Untuk modal pertama, disetorkan ini dibuat Bukti jurnal (BJ) No. 001.
Analisis : Perkiraan aktiva : Kas bertambah sebesar Rp 1.500.000, sehingga harus didebet sebesar
jumlah itu. Perkiraan modal : Modal nona Dewi juga bertambah, sehingga harus dikredit sebesar Rp
1.500.000.

4.3 Jurnal
4.3.5 Transaksi 2
Transaksi 2 : Tanggal 3 Desember 199A membayar sewa ruangan untuk bulan Desember 199A sebesar
Rp 120.000 (Bukti Jurnal No. 002)
Analisis : Perkiraan biaya : Biaya sewa bertambah dan di debet sebesar Rp 120.000 sedangkan
perkiraan aktiva : Kas berkurang dan di kredit sejumlah yang sama.

4.3 Jurnal
4.3.6 Transaksi 3
Transaksi 3 : Tanggal 4 Desember 199A membeli secara tunai peralatan salon dengan harga Rp 900.000
(BJ No. 003).
Analisis : Perkiraan aktiva : Peralatan salon bertambah sehingga harus dikredit sebesar Rp 900.000.
Sebaliknya perkiraan aktiva lain : Kas berkurang sehingga harus dikredit sebesar Rp 900.000.

4.3 Jurnal
4.3.7 Transaksi 4
Transaksi 4 : Tanggal 5 Desember 199A dibeli cleansing cream, hair dye lotion dan perlengkapan lainnya
secara kredit seharga Rp 200.000 (BJ No. 004).
Analisis : Perkiraan aktiva : Perlengkapan bertambah sebesar Rp 200.000, sehingga harus di debet
sejumlah yang sama, sedangkan perkiraan kewajiban : Hutang dagang bertambah dan harus di kredit
sebesar Rp 200.000 pula.

4.3 Jurnal
4.3.8 Transaksi 5
Transaksi 5 : Dibayar biaya pemasangan iklan mini di Harian Kompas sebesar Rp 50.000, pada tanggal 6
Desember 199A (BJ No. 005).
Analisis : Perkiraan biaya : Biaya serba-serbi bertambah sehingga harus di debet sebesar Rp 50.000.
Uang kas berkurang, sehingga perkiraannya harus di kredit sebesar Rp 50.000. (Perkiraan Serba-serbi,
di debet karena dalam bagan perkiraan tidak tersedi perkiraan khusus untuk biaya iklan).

4.3 Jurnal
4.3.9 Transaksi 6
Transaksi 6 : Pada tanggal 15 Desember 199A dibayar gaji karyawan untuk tanggal 1 15 Desember
199A sebesar Rp 72.000 (BJ No. 006).
Analisis : Biaya gaji di debet sebesar Rp 72.000, Kas di kredit sebesar Rp 72.000.

4.3 Jurnal
4.3.10 Transaksi 7
Transaksi 7 : Pada tanggal 15 Desember 199A diterima uang kas sebesar Rp 300.000 dari penjualan
tunai selama setengah bulan kegiatannya. (BJ No. 007).
Analisis : Perkiraan aktiva : Kas bertambah dan di debet sebesar Rp 300.000, Perkiraan pendapatan :
Pendapatan Jasa Salon yang merupakan bagian dari modal bertambah, sehingga harus dikredit sebesar
Rp 300.000.

4.3 Jurnal
4.3.11 Transaksi 8
Transaksi 8 : Pada tanggal 28 Desember 199A, permohonan nona Dewi untuk mendapatkan Kredit
Investasi Kecil (KIK) guna pembelian peralatan salon yang baru dari BNI 1946 sebesar Rp 3.000.000
telah disetujui. Hari itu kredit ditarik (BJ No. 008)
Analisa : Perkiraan aktiva : Kas bertambah di debet sebesar Rp 3.000.000, perkiraan hutang bank juga
bertambah dan di kredit dalam jumlah yang sama.

4.3 Jurnal
4.3.12 Transaksi 9
Transaksi 9 : Tanggal 29 Desember 199A dibeli peralatan salon dengan tunai sebesar Rp 3.600.000 (BJ
No. 009).
Analisis : Perkiraan aktiva : Peralatan salon, bertambah dan di debet sebesar Rp 3.600.000, perkiraan
aktiva lainnya : Kas berkurang di kredit sebesar jumlah yang sama.

4.3 Jurnal
4.3.13 Transaksi 10
Transaksi 10 : Pada tanggal 31 Desember 199A, diterima uang kas sebesar Rp 400.000 dari penjualan
tunai selama setengah bulan terakhir. (BJ No. 010).
Analisis : Debet : Kas, Kredit : Pendapatan jasa salon, masing-masing sebesar Rp 400.000.

4.3 Jurnal
4.3.14 Transaksi 11
Transaksi 11 : Pada tanggal 31 Desember 199A dibayar gaji untuk 16-31 Desember 199A sebesar Rp
96.000 (BJ No. 011).
Analisis : Biaya debet sebesar Rp 96.000, Kas kredit sebesar Rp 96.000.

4.3 Jurnal
4.3.15 Transaksi 12
Transaksi 12 : Pada tanggal 31 Desember 199A, nona Dewi mengambil uang sebesar Rp 100.000 untuk
keperluan pribadinya (BJ No. 012).
Analisis : Transaksi ini mengakibatkan berkurangnya modal yang ditanam dalam perusahaan, dan dicatat
sebagi debet pada perkiraan Prive nona Dewi sebesar Rp 100.000. Pengurangan uang kas dalam
perusahaan dicatat dengan meng-kredit perkiraan Kas sebesar Rp 100.000.

4.3 Jurnal
4.3.16 Jurnal Umum dan Buku Besar Salon Ayu
1. JURNAL UMUM SALON AYU
2. Buku Besar Salon Ayu

4.4 Neraca Saldo


4.4.1 Neraca Saldo
Saldo adalah selisih antara jumlah sisi debet dengan jumlah sisi kredit. Jika jumlah sisi debet suatu
rekening lebih besar daripada jumlah sisi kreditnya, maka saldo rekening tersebut dinamakan saldo
debet. Sebaliknya apabila jumlah sisi kredit suatu rekening lebih besar daripada jumlah sisi debetnya,
maka saldo rekening tersebut dinamakan saldo kredit. Setiap akhir masa tertentu, perusahaan biasanya
menyusun suatu daftar saldo rekening yang terdapat di buku besar yang disebut neraca saldo.
Hasil penjumlahan sisi debet dan sisi kredit serta penentuan saldonya pada semua rekening yang
terdapat dalam buku besar Perusahaan Percetakan Rapih nampak pada gambar disamping :

4.4 Neraca Saldo


4.4.2 Latihan
Latihan
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang penggunaan jurnal dan buku besar, marilah kita

ikuti contoh dalam kasus berikut ini :


April
1. Budi mengalihkan harta kekayaan pada usahanya yang lama ke perusahaannya yang baru yang diberi
nama Pecetakan Rapih, yaitu berupa : uang tunai Rp 290.000, piutang Rp 65.000, perlengkapan Rp
125.000 dan mesin cetak seharga Rp 3.500.000.
2. Dibayar tunai kontrak gedung sebesar Rp 60.000 untuk tiga bulan (dalam pembayaran ini hanya
sebagian saja yang digunakan untuk bulan April, oleh karena itu didebet adalah Sewa Dibayar di Muka)
3. Dibeli mesin cetak baru secara kredit dari PT Merbabu, Semarang seharga Rp 1.800.000
4. Diterima pembayaran dari debitur sebesar Rp 15.000
6. Dibayar biaya advertensi pada harian Pembangunan Jakarta Rp 15.000
10. Dibayar utang pada PT Merbabu, Semarang Rp 100.000
13. Dibayar Gaji pegawai selama dua minggu Rp 10.000
16. Diterima uang dari hasil penyerahan pesanan barang cetakan sebesar Rp 900.000
20. Dibeli Perlengkapan untuk kebutuhan percetakan seharga Rp 350.000 secara tunai
27. Dibayar gaji pegawai selama dua minggu Rp 10.000
30. Dibayar rekening telepon bulan April sebesar Rp 20.000
30. Diterima uang hasil penyerahan pesanan barang cetakan sebesar Rp 850.000
30. Diserahkan pesanan barang-barang cetakan seharga Rp 500.000
30. Dibayar rekening listrik bulan April Rp 1.000
30. Budi mengambil uang dari perusahaan sebanyak Rp 5.000 untuk keperluan pribadi.

4.5 Kesalahan Pembukuan


4.5.1 Kesalahan dalam Pembukuan
kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam pencatatan di buku besar dapat ditemukan melalui beberapa
cara, antara lain melalui prosedur pemeriksaan pembukuan, ditemukan secara kebetulan atau dapat juga
diketahui melalui neraca saldo. Besarnya jumlah selisih antara sisi debet dan sisi kredit neraca saldo
kadang-kadang dapat menunjukkan lokasi kesalahan.
Cara yang terbaik untuk dapat menemukan kesalahan dengan segera adalah dengan cara selalu meneliti
kembali setiap kali melakukan catatan, baik di dalam jurnal maupun di buku besar dan menelusuri
kembali proses akuntansi. Langkah-langkah untuk menelusuri kembali adalah sebagai berikut :
o Periksa kebenaran penjumlahan kolom-kolom debet dan kredit neraca saldo dengan cara mengadakan
penjumlahan ulang.
o Bandingkan nama-nama rekening yang tertulis pada kolom nama rekening di neraca saldo dengan
rekening-rekening yang ada di buku besar, untuk memeriksa apakah tidak ada rekening yang terlewat
dicantumkan di neraca saldo.
o Periksalah kebenaran penjumlahan sisi debet dan sisi kredit rekening-rekening di buku besar dan
periksa pula perhitungan saldonya
o Bandingkan semua angka yang ada di buku besar dengan angka-angka yang tercantum dalam jurnal.
o Periksalah kesamaan jumlah debet dan kredit di dalam jurnal.
Apabila neraca saldo tidak seimbang, maka kegiatan akuntansi berikutnya tidak dapat dilakukan, sampai
penyebab kesalahn ditemukan dan koreksi kesalahan dilakukan sebagaimana mestinya.

4.5 Kesalahan Pembukuan


4.5.2 Koreksi Kesalahan
Kesalahan-kesalahan biasanya terjadi pada waktu menjurnal dan pada waktu membukukan ke buku
besar. Jika kesalahan menjurnal sudah terlanjur dibukukan ke buku besar, maka tidak boleh dilakukan
dengan cara menghapus, yang harus dilakukan adalah dengan membuat jurnal koreksi.
Sebagai contoh, apabila pengeluaran kas Rp 8.000 untuk membeli peraltan kantor telah dijurnal dan
dibukukan dengan mendebit rekening Perlengkapan Kantor, maka kesalahan ini harus dikoreksi melalui
jurnal. Untuk menentukan jurnal koreksi, harus diketahui lebih dahulu dua hal berikut :
1. Jurnal yang salah (yang telah dilakukan)
2. Jurnal yang benar (yang harus dilakukan)
Agar lebih jelas, ada baiknya digunakan rekening T sebagai berikut :{Gambar 1}
Dengan cara membandingkan rekening-rekening T diatas, jelas bahwa karena kesalahan terjadi dalam
debet rekening Perlengkapan Kantor, maka rekening tersebut harus dikredit Rp 8.000. jurnal yang
seharusnya yakni Peralatan Kantor, harus didebet Rp 8.000. Jurnal koreksinya adalah :{Gambar 2}
Apabila jurnal diatas dibukukan ke buku besar maka akibatnya kesalahan pendebetan dalam rekening
Perlengkapan Kantor Rp 8.000 akan hapu karena sudah dikredit kembali dengan Rp 8.000 dan rekening
Peralatan Kantor didebet Rp 8.000 sebagaimana mestinya.

4.6 Pekerjaan Rumah


4.6.1 PR
PR
Pada tanggal 16 Juni 199A, Erik Nasution mendirikan sebuah perussahaan yang diberi nama Nasution
Decorators. Selama sisa bulan Juni 199A perusahaan tersebut mengadakan transaksi-transaksi sebagai
berikut :
Juni 16 Erik memindahkan uang sebesar Rp 9.000 dari rekening pribadinya di bank ke rekening
perusahaan. Pemindahan ini dimaksudkan sebagai setoran modal (Bukti No. 1)
16 Membeli perlengkapan secara tunai Rp 80 (Bukti No. 2)
16 Membeli truk tunai Rp 13.800. Membayar Rp 8.000 secara tunai dan sisanya dibayar dengan
angsuran selama satu tahun (Bukti No. 03)
17 Membeli peralatan dengan kredit sebesar Rp 410 (Bukti No.4)
18 Membayar sewa untuk periode 16 Juni sampai dengan akhir bulan Rp 125 (Bukti No. 5)
19 Diterima uang tunai sebesar Rp 225 untuk pekerjaan yang telah diselesaikan (Bukti No 6)
22 Membeli perlengkapan dengan kredit Rp 280 (Bukti No. 7)
23 Membayar gaji pegawai Rp 100 (Bukti No. 8)
24 Membayar premi asuransi Rp 175 (Bukti No. 9)
26 Membayar kreditur untuk peralatan yang dibeli pada tanggal 17 Juni Rp 200 (Bukti No. 10)
28 Menerima pembayaran untuk pekerjaan yang telah diselesaikan Rp 217 (Bukti No. 11)
29 Membayar faktur-faktur tagihan untuk biaya truk sebesar Rp 58 (Bukti No.12)
29 Membayar biaya-biaya untuk listrik, telepon dan air Rp 59 (bukti No. 13)

29 Membayar biaya serba-serbi Rp 310 (Bukti No. 14)


30 Membayar gaji pegawai Rp 100 (Bukti No. 15)
30 Mengambil kas untuk keperluan pribadi Rp 200 (Bukti No. 16)
Diminta :
1. Buatlah perkiraan-perkiraan untuk Erik Decorators dengan menggunakan nama dan nomor sebagai
berikut : Kas 11, Perlengkapan 12, Truk 16, Peralatan 18, Hutang Dagang 21, Modal Erik Nasution 31,
Prive Erik Nasution 32, Pendapatan Jasa 41, Biaya Gaji 51, Biaya Sewa 53, Biaya Truk 54, Biaya listrik,
telepon dan air 55, Biaya Asuransi 56, Biaya serba-serbi 59.
2. Catatlah transaksi-transaksi tersebut diatas dalam jurnal umum. Gunakanlah perkiraan-perkiraan yang
saudara buat dalam (1) di atas untuk menentukan perkiraan-perkiraan yang harus di debet atau di kredit
(Saat ini jangan memasukkan nomor perkiraan ke dalam jurnal umum)
3. Pindahkanlah ayat jurnal yang bersangkutan di buku besar. Saat ini catatlah perkiraan dalam jurnal
umum. Anggaplah transaksi tanggal 16 sampai dengan 26 Juni 199A dicatat dalam jurnal umum halaman
1, sedangkan transaksi 27 sampai dengan 30 Juni 199A dicatat dalam halaman 2. Kode untuk jurnal
umum adalah JU.

4.6 Pekerjaan Rumah


4.6.2 Latihan
Berikut ini adalah transaksi-transaksi yang terjadi selama 1 (satu) bulan pada perusahaan jasa Amazonia
tahun 2004 bulan Agustus.
Tgl 1 Pemilik perusahaan menyerahkan hartanya kepada perusahaan berupa uang tunai sebesar Rp
18.000.000 dan peralatan kantor seharga Rp 16.000.000
1 Dibayar sewa kantor Rp 400.000
2 Dibayar biaya iklan Rp 150.000
3 Diterima pendapatan selama 10 (sepuluh) hari pertama operasi sebesar Rp 280.000
4 Dibayar premi asuransi sebesar Rp 900.000 yang merupakan premi untuk satu tahun
5 Dibeli mesin ketik seharga Rp 800.000 secara kredit dari Toko Maharani
5 Dibeli bensin dan oli seharga Rp 80.000
6 Diperoleh pendapatan untuk 10 (sepuluh) hari kedua operasi sebesar Rp 550.000
7 Dibayar biaya perjalanan pemilik perusahaan Rp 275.000
8 Dibayar utang kepada Toko Maharani untuk pembelian mesin ketik sebesar Rp 500.000
9 Diterima pendapatan untuk 10 (sepuluh) hari ketiga operasi perusahaan sebesar Rp 650.000
12 Dibeli bensin dan oli secara tunai Rp 450.000
13 Dibayar gaji sopir Rp 150.000
15 Pemilik mengambil uang perusahaan sebesar Rp 2.000.000 untuk keperluan pribadi.
Diminta :
Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi tersebut diatas !

5.1 Neraca Saldo


5.1.1 Neraca Saldo
Neraca saldo merupakan titik awal yang baik untuk penyusunan laporan keuangan, Banyak dari jumlah
yang dicantumkan didalamnya dapat langsung disajikan dalam neraca, laporan laba-rugi dan laporan

perubahan modal.

5.2 Jurnal Penyesuaian


5.2.1 Jurnal Penyesuaian
Dalam akuntansi dikenal dua dasar pencatatan yakni dasar akrual atau accrual basis dan dasar kas cash
basis. Pada dasar akrual, akuntansi mengakui pengaruh transaksi pada saat transaksi tersebut terjadi.
Jika terjadi transaksi pemberian jasa atau pengeluaran biaya, maka transaksi tersebut akan dicatat dalam
pembukuan sebagai pendapatan atau biaya tanpa memandang apakah kas diterima atau dikeluarkan.
Sedangkan dasar kas, akuntansi hanya melakukan pencatatan apabila telah terjadi penerimaan atau
pengeluaran kas. Prinsip Akuntansi Indonesia menghendaki agar perusahaan menggunakan dasar
akrual. Karena Pendapatan dan biaya akan diakui sebagai pendapatan dan biaya sesuai periode
pemanfatannya. Misalnya perusahaan menerima pendapatan pada bulan Desember 2004 sebesar Rp
1.500.000,- dan dicatat dalam rekening Pendapatan tapi ternyata pada Desember 2004 tersebut
barang/jasa belum diserahkan, maka penerimaaan tersebut tidak boleh diakui sebagai pendapatan tahun
2004, tetapi harus diakui sebagai uang muka pendapatan. Demikian pula misalnya perusahaan
mengeluarkan biaya sewa bulan November 2004 Rp 4.000.000,- untuk 4 bulan ke depan dan dicatat
dalam dalam rekening Biaya sewa. Pada akhir periode (31 Desember 2004) tidak semua uang sewa
menjadi biaya sewa. hanya bulan November dan Desember yang menjadi biaya sewa, sementara 2
bulan berikutnya ( Januari dan Fabruari 2005) belum menjadi biaya sewa tetapi masih menjadi persekot
sewa. Dengan demikian biaya sewa Rp 2.000.000,- dan persekot sewa Rp 2.000.000,-. Untuk merubah
pencatatan yang telah dilakukan menjadi kondisi yang sebenarnya tersebut melalui proses penyesuaian
pembukuan atau yang dikenal jurnal penyesuain.
Alasan diadakanya penyesuaian :
1. Agar setiap rekening riil, khususnya rekening-rekening aktiva dan rekening-rekening hutang
menunjukkan jumlah yang sebenarnya pada akhir periode.
2. Agar setiap rekening nominal (rekening pendapatan dan biaya) menunjukkan pendapatan dan biaya
yang seharusnya diakui dalam suatu periode.
Saldo-saldo dalam neraca saldo yang memerlukan penyesuaian adalah sebagai berikut :
a. Piutang pendapatan, yaitu pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum dicatat
b. Hutang Biaya, yaitu biaya-biaya yang sudah menjadi kewajiban perusahaan tapi belum dicatat.
c. Pendapatan diterima dimuka , adalah pendapatan yang telah diterima tetapi merupakan pendapatan
yang diterima untuk periode yang akan datang.
d. Biaya dibayar dimuka, yaitu biaya-biaya yang sudah dibayar tetapi sebenarnya harus dibebankan pada
periode yang akan datang.
e. Kerugian Piutang, adalah taksiran kerugian yang timbul sebagai akibat adanya piutang yang tidak
tertagih.
f. Penyususutan Aktiba Tetap merupakan penyusutan aktiva tetap yang ahrus dibebankan pada suatu
periode akuntansi.
g. Biaya pemakaian perlengkapan adalah bagaian dari harga beli perlengkapan yang telah dikonsumsi
selama periode akuntansi.
Contoh :
Berikut ini adalah neraca saldo Perusahaan Cemeng yang bergerak pada bidang jasa perbengkelan per

31 Desember 2003. [Gambar Disamping]


Data dalam neraca saldo tersebut belum seluruhnya siap untuk secara langsung dicantumkan pada
laporan keuangan karena adanya informasi-informasi sebagai berikut :
1. Surat berharga berupa obligasi berbunga 18% per tahun, bunga dibayar tiap 6 bulan sekali dibelakang
tiap tanggal 1 maret dan 1 September.
2. adanya gaji karyawan bulan Desember yang belum dibayar Rp 450.000
3. Penghasilan bengkel yang diterima dimuka adalah sebesar Rp 500.000
4. Pada 31 Desember 2003 persekot asuransi tinggal Rp 600.000
5. Kerugian piutang ditaklsir sebesar 2% dari saldo piutang dagang
6. Penyusutan peralatan bengkel diterapkan sebesar 10%
7. Perlengkapan bengkel yang masih ada digudang sebesar Rp 1.400.000
Dengan adanya informasi-informasi tersebut, maka neraca saldo perlu disesuaikan agar saldo neraca
menunjukkan jumlah yang sebenarnya sesuai dengan pengakuan periode waktunya.
Jawab :
Ayat Jurnal Penyesuainya : (AJP)
1. Penghasilan Diterima Dimuka
Apabila ada pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum diterima pada periode yang
bersangkutan, maka diperlukan penyesuaian untuk mengakui hak pendapatan tersebut. Dalam contoh di
atas penghasilan bunga obligasi diterima 6 bulan sekali dibelakang sampai Februari 2004 diterima 1
Maret dan 1 September . Penghasilan bunga Sepetember 2003 sampai Februari 2004 diterma pada
tanggal 1 maret 2004, sementara tutup buku perusahaan tanggal 31 Desember 2003, Dengan demikian
ada pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan bulan Sepetember, Oktober, November dan
Desember 2003 (4 Bulan ). Besarnya hak tersebut adalah :
Penghasilan Bunga = 4/12 x18% x Rp 30.000.000 = Rp 1.800.000.
Penghasilan bunga yang sudah menjadi hak perusahaan sebesar Rp 1.800.000 tersebut sudah harus
diakui sebagai Penghasilan Bunga, tapi karena belum diterima uangnya maka dimasukkan ke dalam
rekening Piutang Bunga dengan ajpnya :
Piutang Bunga Rp 1.800.000 Penghasilan Bunga - Rp 1.800.000
2. Hutang Gaji
Biaya ada biaya biaya yang sudah menjadi beban pada suatu periode tetapi sampai akhir periode
belum dibayar, harus diakui sebagai biaya pada periode tersebut, tapi karena belum dibayar maka diakui
sebagai hutang biaya. Pada contoh diatas adalah adanya gaji bulan Desember yang belum dibayar
sebesar Rp 450.000, maka harus diakaui sebagai biaya gaji dengan ajp nya :
Biaya gaji Rp 450.000,- Hutang gaji - Rp 450.000
3. Pendapatan diterima dimuka
Seringkali konsumen memberikan uang muka untuk membayar barang atau jasa yang dibutuhkan. Jika
pada akhir periode barang/jasa yang dipesan belum diserahkan, maka uang muka tersebut belum
menjadi hak penghasilan periode yang bersangkutan, dan harus diakui sebagai hutang, dalam contoh
tersebut ada penghasilan bengkel yang diterima dimuka sebesar Rp 500.000 maka ajpnya :

Penghasilan Bengkel Rp 500.000 Peng. Bengkel diterima


Dimuka - Rp 500.000,4. Biaya Dibayar diMuka (Persekot)
Kadang-kadang ada biaya yang harus dibayar dimuka,membayar biaya untuk beberapa bulan diawal
transaksi , seperti premi asuransi. Biaya tersebut untuk beberapa bulan, sehingga bila pada akhir suatu
periode ada biaya yang sudah dibayar tetapi sebenarnya untuk beban ditahun berikutnya , beban itu
masih dianggap sebagai biaya dibayar dimuka, sedang beban yang telah dikonsumsi menjadi biaya.
Mialnya pada contoh di atas persekot asuransi per 31 Desember 2003 sebear Rp 2.400.000 ternyata
yang benar benar masih menjadi persekot hanya Rp 600.000, sehingga sisanya sebesar Rp 1.800.000
sudah dinikmati sebagai Biaya Asuransi AJP nya:
Biaya Asuransi Rp 1.800.000,Persekot Asuransi - Rp 1.800.000,5. Kerugian Piutang
Piutang dagang timbul sebagai akibat perusahaan menjual barang atau jasanya secara kredit. Penjualan
kredit mengandung risiko yakni tidak terbayarnya piutang tersebut (kredit macet). Apabila perusahaan
selalu mencadangkan sejumlah tertentu piutang yang tidak bisa ditagih sebagai kerugian . Misalnya
contoh di atas ditaksir kerugian piutang sebesar 2% dari saldo piutang dagang, maka kerugian
piutangnya adalah : 2% x Rp 7.500.000 = Rp 150.000 Ajpnya :
Kerugian Piutang Rp 150.000,- Cad. Kerugian Piutang - Rp 150.000,6. Penyusutan
Semua aktiva tetap yang dimiliki perusahaan kecuali tanah mengalami pengurangan nilai. Perusahaan
harus mengantisipasi dengan meyisihkan sebagai uangnya setiap periode agar pada saat aktiva tetap
tidakk bisa dipakai (habis umur ekonomisnya), sudah tersedia dana untuk membeli aktiva tetap baru
sebagai pengganti. Dari contoh ditas peralatan bengkel disusutkan sebesar 10% sehingga besar
penyusustan adalah : 10% x Rp 25.000.000 = Rp 2.500.000,- AJPnya :
Biaya Penyusutan Peralatan bengkel Rp 2.500.000,- m. Penyusutan Peralatan Bengkel - Rp 2.500.000,7. Pemakaian Perlengkapan
Perlengkapan merupakan bahan-bahan habis pakai yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk
digunakan sendiri. Biasanya perlengkapan dicatat pada saat membeli saja sedangkan

saat pemakaian
rlengkapan tidak pernah dilakukan pencatatan. Akibatnya saldo pada neraca saldo
adalah sebesar harga beli selama satu periode. Padahal karena perlengkapan selalu
digunakan setiap saat, maka pada akhir periode jumlah perlengkapan riill yang ada di gudang akan lebih
kecil . Selisih antara jumlah perlengkapan yang ada di neraca saldo dan yang sesungguhnya ada harus
dimasukkan sebagai biaya perlengkapan. Pencatatan selisih tersebut harus melalui penyesuaian. Dari
contoh tersebut di atas jumlah menurut neraca saldo sebesar Rp 3.250.000,- dan jumlah yang masih ada

digudang Rp 1.400.000,- sehingga selisih Rp 1.850.000 sebagai biaya perlengkapan bengkel, dengan ajp
:
Biaya Perlengkapan Bengkel Rp 1.850.000,- Perlengkapan Bengkel - Rp 1.850.000,-

5.3 Neraca Lajur dan Laporan Keuangan


5.3.1 Neraca Lajur (Kertas Kerja)
Jurnal Penyesuaian dibuat sebagai persiapan untuk menyususn laporan keuanga. Dengan mengadakan
penyesuaian pembukuan, maka perkiraan riil menunjukkan saldo yang sebenarnya, begitu juga dengan
perkiraan-perkiraan nominal menunjukkan pengakuan penghasilan dan biaya sesuai periodenya. Untuk
memudahkan penyususnan laporan keuangan maka dibutuhkan suatu alat yang disebut Neraca Lajur
(kertas Kerja). Neraca Lajur merupakan landasan untuk memeriksa perkiraan-perkiraan yang ada
didalam buku besar yang disesuaikan dan diseimbangkan dan disusun dengan cara-cara yang sesuai
dengan penyusunan perkiraan-perkiraan yang ada didalam laporan keuangan.
Neraca Lajur bukanlah suatu Laporan Keuangan., oleh sebab itu tidak perlu dilaporkan kepada pihak
eksternal. Adapun tujuan dibuatnya neraca Lajur sbb :
a. Membantu mempermudah dalam penyusunan laporan Keuangan
b. Untuk meringkas informasi-informasi yang berasal dari neraca saldo dan data-data penyesuaian,
sehingga neraca lajur menjadi kertas kerja formal untuk persiapan laporan keuangan.
c. Untuk mempermudah dalam menemukan kemungkinan trejadi kesalahan yang dilakukan dalam
membuat jurnal penyesuaian.
Neraca Lajur adalah suatu kertas kerja berkolom-kolom yang dirancang secara sistematis untuk
memudahkan membuat laporan keuangan. Adapun Kolom-kolom dalam neraca lajur sbb :
NERACA LAJUR

5.3 Neraca Lajur dan Laporan Keuangan


5.3.2 Penyusunan Laporan Keuangan
Neraca Lajur dibuat untuk membantu memprmudah dalam menyusun Laporan Keuangan, Setelah
neraca lajur selesai dibuat, maka dibuat laporan keuangan yang terdiri dari Laporan Laba-Rugi, Neraca
dan perubahan modal.

5.4 Jurnal Penutup dan Neraca Saldo Penutup


5.4.1 Jurnal Penutup

Ada dua jenis rekening dalam buk besar yakni rekening riil dan rekening nominal. Rekening riil
merupakan rekening-rekening pada akhir periode akan dimasukkan ke dalam neraca seperti rekening
aktiva, hutang dan modal. Saldo akhir rekening riil akan menjadi saldo awal periode berikutnya, artinya
saldo rekening tertentu akan menjadi saldo awal rekening tersebut pada periode berikutnya.
Sedangkan rekening nominal merupakan rekening yang pada akhir periode saldonya akan dimasukkan
kedalam laporan Laba-Rugi. Rekening nominal berupa rekening pendapatan dan rekening biaya,
merupakan rekening pembantu modal artinya rekening ini mempengaruhi rekening modal yakni bila ada
pendapatan akan menambah modal dan bila ada biaya akan mengurangi modal. Namun demikian
pencatatan kedua rekening ini dipisahkan agar perusahaan tidak kehilangan informasi yang terinci
mengenai penyebab perubahan modal. Rekening pembantu modal lainnya adalah rekening Prive yang
digunakan untuk mencatat pengambilan aktiva oleh pemilik yang akan mempengaruhi besarnya modal.
Rekening pendapatan, biaya dan prive merupakan rekening sementara aratinya rekening ini hanya
berlaku satu periode akuntansi. Saldo-saldo rekening pendapatan, biaya dan prive pada akhir periode
akan dipindahkan ke rekening modal sekaligus untuk mengakhiri rekening-rekening tersebut pada
periode yang bersangkutan. Pada awal periode berikutnya saldo-saldo rekening pendapatan, biaya, dan
prive diawali dengan saldo NOL rupiah. Proses memindahan saldo=saldo rekening pendapatan, biaya,
dan prove ke rekening modal ini disebut penutupan pembukuan.
Untuk memindahkan saldo-saldo rekening pendapatyan, biaya, dan prive ke dalam rekening modal,
melalui jurnal penutup. Adapau tujuan jurnal penutup adalah :
Untuk memindahkan saldo-saldo rekening pendapatan, biaya, dan prive ke rekening modal agar
saldo-saldo rekening pendapatan, biaya, prive pada akhir periode menjadi nol rupiah.
Agar rekening modal menunjukkan jumlah yang sebenarnya pada akhir periode dan sesuai dengan
yang dicantumkan di dalam neraca.
Dalam penutupan pembukuan, akan dignakan rekening antara yang bersifat sementara yakni rekening
Laba-Rugi (atau Ikhtisar Laba-Rugi). Rekening ini akan menampung saldo-saldo rekening pendapatan
dan saldo-saldo rekening biaya, sehingga akan diperoleh rugi/laba bersih yang kemudian dipindahkan ke
rekening modal.
Proses penutupan buku pada umumnya dilakukan dengan urut-urutan sbb :
a. Memindahkan saldo-saldo rekening pendapatan ke rekening laba-Rugi, sehingga saldo rekening
pendapatan menjadi nol rupiah.
b. Memindahkan saldo-saldo rekening biaya kerekening Laba-Rugi, sehingga saldo-saldo rekening biaya
menjadi nol rupiah.
c. Memindahkan saldo rekening Laba-Rugi ke rekening modal, sehingga saldo rekening Laba-Rugi
menjadi nol rupiah.
d. Memindahkan saldo rekening prive ke rekening modal, sehingga saldo rekening prive menjadi nol
rupiah.
Proses pembuatan jurnal penutup dipengaruhi oleh bentuk badan usaha perusahaan. Perusahaan
perseorangan berbeda dengan bentuk badan usaha persekutuan (Firma dan CV) maupun bentuk badan
usaha perseroan, karena sifat modal berbagai bentuk perusahaan tersebut berbeda.
JURNAL PENUTUP PADA PERUSAHAAN PERSEORANGAN
Perusahaan perseorangan merupakan perusahaan yang modalnya dimiliki oleh satu orang, sehingga
modalnya hanya ada satu yakni modal pemilik. Jika perusahaan memperoleh laba, maka semua labanya

akan menjadi hak pemilik dan langsung menambah modal pemilik, demikian juga bila mengalami
kerugian. Maka kerugian semuanya akan ditanggung oleh pemilik dan mengurangi modal pemilik. Masih
contoh Perbengkelan ANANDA, yang telah disusun laporan keuangan sebelumnya.
a. Mencatat pemindahan saldo rekening pendapatan ke rekening Laba- Rugi :
Penghasilan Bengkel Rp 21.250.000 Penghasilan Bunga Rp 1.800.000 Laba_Rugi - Rp 23.050.000
b. Mencatat pemindahan saldo rekening biya ke rekening Laba_Rugi :
Laba-Rugi Rp 16.350.000 Biaya Sewa - Rp 1.800.000
Biaya Gaji - Rp 4.400.000
Biaya Telpon& Listrik - Rp 1.450.000
Biaya Asuransi - Rp 1.800.000
Kerugian Piutang - Rp 150.000
Biaya Perlengkapan Bengkel - Rp 1.850.000
Penyusutan Peralatan Bengkel - Rp 2.500.000
Biaya Lain-lain - Rp 2.400.000
c.Mencatat pemindahan saldo rekening Laba-rugi ke rekening modal. Rekening Laba- Rugi dikredit
sebesar Rp 23.050.000 dan didebit sebesar Rp 16.350.000 sehingga terdapat saldo kredit sebesar Rp
6.700.000. Saldo ini dipindahkan ke rekening modal agar saldo rekening Laba-Rugi nol rupiah.
Laba Rugi Rp 6.700.000 Modal - Rp 6.700.000
d. Memindahkan saldo rekening prive ke dalam rekening modal
Modal Rp 2.750.000 Prive - Rp 2.750.000
Setelah penutupan pembukuan dilakuakan, saldo rekening modal akan sama dengan jumlah yang
tercantum dalam neraca. Dibawah ini menunjukkan perubahan rekening modal setelah jurnal penutup.
[Gambar Disamping]
JURNAL PENUTUP PADA PERUSAHAAN PERSEKUTUAN
Perusahaan persekutuan modalnya dimiliki oleh beberapa orang, sehingga laba yang diperoleh oleh
perusahaan akan dibagikan ke masing-masing pemilik sesuai dengan aturan dalam anggaran dasar
perusahaan.
Pada dasarya penutupan buku bagi perusahaan persekutuan sama dengan penutupan rekening
pendapatan dan biaya ke rekening modal sesuai dengan perusahaan perseorangan. Yang membedakan
adalah pemindahan dari rekening Laba-rugi ke rekening modal, karena laba atau rugi akan dibagikan
kepada para pemilik modal sesuai dengan cara pembagian yang diatur dalam anggaran dasar
perusahaan. Rekening modal perusahaan persekutuan lebih dari satu sesuai dengan jumlah sekutu yang
ada dalam perusahaan. Masing-masing pemilik (sekutu) berhak mengambil prive dalam batas tertentu
dan disediakan rekening prive untuk masing-masing sekutu. Rekening modal melalui prive masing
masing sekutu.

JURNAL PENUTUP PADA PERUSAHAAN PERSEROAN


Pada dasarnya jurnal penutup untuk memindahkan saldo rekening-rekening pendapatan dan biaya pada
perusahaan perseroan sama dengan perusahaan perorangan. Yang membedakan adalah pada
perusahaan perseroan jumlah pemiliknya banyak sehingga pemilik tidak diperkenankan mengambil prive.
Jika perusahaan mendapatkan laba atau mengalami kerugian akan dipindahkan ke rekening tersendiri
yang disebut rekening Laba ditahan.
Misalnya PT. INTAN pada periode tahun 2003 memperoleh laba bersih sebesar Rp 120.000.000. maka
laba ini akan dipindahkan ke rekening laba ditahan dengan jurnal sbb :
Laba- Rugi Rp 120.000.000 Laba ditahan - Rp 120.000.000
Tapi apabila perusahaan mengalami kerugian misalnya Rp 35.000.000
Laba ditahan Rp 35.000.000 Laba-Rugi - Rp 35.000.000

5.4 Jurnal Penutup dan Neraca Saldo Penutup


5.4.2 Neraca Saldo Penutup
Setelah pembuatan jurnal penutup, tahap selanjutnya dalam siklus akuntansi adalah penyusunan neraca
saldo penutup ( Post closing trial Balance). Tujuan dibuatnya neraca saldo penutup adalah memastikan
bahwa buku besar telah seimbang sebelum memulai pencatatan data akuntansi periode berikutnya. Perlu
diperhatikan bahwa neraca saldo penutup hanya terdiri dari perkiraaan neraca saja. Perkiraaan
sementara (pendapatan, beban. Prive ) telah ditutup dan bersaldo nol.. Neraca saldo penutup dibuat
dengan mengambil saldo-saldo perkiraan dibuku besar setelah ayat jurnal penutup dibukukan. Saldosaldo tadi juga bias didapat /diambil dari kolom neraca di neraca lajur.

5.5 Jurnal Balik


5.5.1 Jurnal Balik (Reversing Entries)
Jurnal Balik adalah jurnal yang dibuat pada awal suatu periode akuntansi untuk membalik jurnal
penyesuaian tertentu yang dibuat periode sebelumnya. Jurnal ini sebetulnya bukan merupakan suatu
keharusan. Ia dibuat agara pencatatan dalam periode berikutnya dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Hal ini tidak lepas dari pengaruh sistem akuntansi yang diterapkan dan sifat manusia yang menghendaki
kepraktisan.

Overview
Pada bab ke-6 kali ini kita akan mempelajari mengenai :
- Buku Penjualan
- Penerimaan Kas
- Piutang

- Pembelian
- Pengeluaran Kas, dan
- Buku Utang Perusahaan Dagang
Selamat Belajar...!!

6.1 Kegiatan Perusahaan Dagang


6.1.1 Kegiatan Perusahaan Dagang
Secara garis besar, siklus kegiatan perusahaan dagang meliputi kegiatan-kegiatan : (1) Pembelian, (2)
Pengeluaran Uang, (3) Penjualan, dan (4) Penerimaan Uang.
Pembelian
Pembelian dapat dilakukan sedara kredit maupun tunai dan pada umumnya dilakukan kepada beberapa
supplier. Apabil perusahaan tidak puas dengan kualitas barang yang dibeli, maka dengan persetujuan
penjualan dapat dimintakan pengurangan harga (purchases allowance) atau mengembalikan barang
tersebut (purchases return). Perkiraan untuk mencatat pengurangan harga dan pengEmbalian disebut
Pembelian retur dan pengurangan harga (purchases return and allowances).
Pembayaran
Pembelian akan diikuti pembayaran. Kapan suatu pembelian harus dibayar tergantung pada syarat jual
beli yang ditetapkan. Disamping pembelian barang dan jasa, pembayaran dapat dilakukan untuk
keperluan lain, misalnya mengembalikan pinjaman atau membagikan pemilik.
Penjualan
Penjualan dapat dilakukan secara kredit maupun tunai dan pada umumnya kepada beberapa langganan.
Pada waktu menjual, kadang perusahaan harus menerima pengembalian barang atau memberi potongan
harga. Penerimaan kembali barang yang telah dijual disebut penjualan retur (sales return), sedangkan
pemberian potongan harga disebut pengurangan harga (sales allowances). Pada umumnya penjualan
retur dan pengurangan harga dicatat dalam satu perkiraan, yang disebut Penjualan retur dan
pengurangan harga (sales return and allowances).
Penerimaan Uang
Penjualan akan diikuti penerimaan uang. Seperti halnya pembelian, penerimaan uang dari suatu
penjualan tergantung pad syarat jual beli yang telah ditetapkan. Disamping dari penjualan, perusahaan
mungkin menerima uang dari sumber-sumber lain, misalnya setoran pemilik, pinjaman kreditur dan lainlain.

6.2 Syarat Jual Beli dan Potongan Harga


6.2.1 Syarat Jual Beli
Jual beli pada hakekatnya adalah perjanjian antara penjual dan pembeli untuk menyerahkan barang atau
jasa disertai imbalan tertentu. Kapan perusahaan mengakui adanya suatu penjualan dan mencatatnya
dalam pembukuan tergantung pada syarat-syarat yang tercantum di dalamnya. Demikian juga halnya
dengan pengakuan dan pencatatan pembelian. Perbedaan utama dalam syarat jual beli biasanya

berhubungan dengan siapa yang menanggung biaya pengiriman dan biaya-biaya lain yang berhubungan.
Beberapa syarat jual beli yang biasa terdapat dalam dunia usaha adalah sebagai berikut :
1. Loko Gudang, pada syarat jual beli ini pembeli menanggung biaya pengiriman barang gudang
penjualan ke gudang sendiri.
2. Franco Gudang, penjual mennggung biaya pengiriman sampai ke gudang pembelian.
3. Free on Board, pembeli di luar negeri menanggung biaya pengiriman dari pelabuhan muat penjual
sampai dengan pelabuhan penerimaan yang digunakan oleh pembeli.
4. Cost Freight and Insurance (CIF), penjual harus menanggung biaya pengiriman (pengangkutan) dan
asuransi kerugian pada barang tersebut.

6.2 Syarat Jual Beli dan Potongan Harga


6.2.2 Potongan Harga
Ada dua macam potongan harga, yaitu :
1. Potongan Tunai (cash discount), adalah potongan harga yang diberikan apabila pembayaran dilakukan
lebih cepat dari jangka waktu kredit. Dari sudut penjual, potongan ini disebut potongan penjualan (sales
discount), sedangkan dari segi pembelian disebut potongan pembelian (purchases discount).
2. Potongan Perdagangan, adalah potongan harga yang diberikan karena perbedaan cara penjualan atau
perbedaan langganan yang dijalani.

6.2 Syarat Jual Beli dan Potongan Harga


6.2.2 Potongan Harga
Ada dua macam potongan harga, yaitu :
1. Potongan Tunai (cash discount), adalah potongan harga yang diberikan apabila pembayaran dilakukan
lebih cepat dari jangka waktu kredit. Dari sudut penjual, potongan ini disebut potongan penjualan (sales
discount), sedangkan dari segi pembelian disebut potongan pembelian (purchases discount).
2. Potongan Perdagangan, adalah potongan harga yang diberikan karena perbedaan cara penjualan atau
perbedaan langganan yang dijalani.

6.3 Jurnal Khusus


6.3.1 Jurnal Khusus
Buku harian yang selama ini dikenal adalah jurnal umum. Apabila transaksi yang harus dicatat banyak
jumlahnya, penggunaan jurnal umum menjadi kurang efisien maka diperlukan Buku harian (jurnal)
khusus, dimana jurnal khusus mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
1. Dalam buku harian khusus dapat disediakan kolom-kolom khusus untuk beberapa jenis transaksi
tertentu.
2. Setiap buku harian khusus digunakan untuk mencatat satu jenis transaksi saja, sehingga
memungkinkan pembagian tugas pencatatan kepada beberapa orang.
Sesuai dengan kegiatannya, untuk sebuah perusahaan dagang, buku harian khusus yang perlu

disediakan adalah :
1. Buku Penjualan (sales journal), digunakan untuk mencatat penjualan barang dagang yang dilakukan
secara kredit.
2. Buku Penerimaan Kas (cash receipt journal), digunakan untuk mencatat semua penerimaan uang,
termasuk penjualan tunai dan penerimaan tagihan.
3. Buku Pembelian (purchases journal), digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan secara
kredit.
4. Buku Pengeluaran Kas (cash disbursement journal), digunakan untuk mencatat semua pengeluaran
uang yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk pembelian barang dagangan tunai dan pembayaran
utang.

6.3 Jurnal Khusus


6.3.2 Buku Tambahan
Buku harian yang dirancang untuk mencatat transaksi-transaksi tertentu disebut dengan buku besar
khusus (special ledger). Kadang-kadang buku besar khusus disebut buku besar tambahan atau buku
pembantu (subsidiary ledger). Buku tambahan digunakan untuk mencatat informasi-informasi lain
disamping informasi yang terdapat dalam buku besar.

6.3 Jurnal Khusus


6.3.3 Penjualan
Penjualan barang dagangan secara tunai dicatat sebagai debet pada perkiraan kas dan kredit pada
perkiraan penjualan. Bukti transaksi penjualan biasanya disebut faktur penjualan (sales invoice). Salah
satu contoh faktur penjualan nampak seperti berikut :
Faktur Toko Buku AR
Dalam hal potongan perdagangan, kolom jumlah dalam kolom penjumlahan perlu diperluas menjadi tiga
kolom, yaitu untuk kolom : Debet Piutang Dagang diisi dengan jumlah Rp 350.000, kolom Debet
Potongan Perdagangan diisi dengan Rp 87.000 dan kolom Kredit Penjualan didisi dengan Rp
437.500
Pencatatan faktur penjualan dalam buku penjualan adalah sebagai berikut : {Gambar Disamping}

6.3 Jurnal Khusus


6.3.4 Kartu Piutang
Informasi tentang piutang untuk tiap-tiap debitur disajikan dalam formulir khusus yang disebut kartu
piutang (debtors account). Contoh kartu piutang adalah seperti yang digambarkan di samping :
Cara lain untuk pencatatan kartu piutang adalah mendasarkan pada buku penjualan. Dengan ini kolom

Nomor Bukti dapat diganti dengan referensi dari mana data bersangkutan diambil.

6.3 Jurnal Khusus


6.3.5 Pemindahbukuan Ke Buku Besar
Prosedur pemindahbukuan dilukiskan dengan menggunakan buku penjualan seperti yang digambarkan
sebelumnya. Hubungan antara buku penjualan, buku piutang serta perkiraan piutang dan penjualan di
buku besar dapat dilukiskan dengan contoh antara lain yang lebih sederhana seperti berikut ini :

6.3 Jurnal Khusus


6.3.6 Penjualan Retur dan Pengurangan Harga
Barang dagangan yang dijual mungkin dikembalikan oleh langganan (penjualan retur atau sales return)
atau oleh karena atau alasan-alasan lain, langganan diberi potongan harga (pengurangan harga atau
sales allowances). Apabila penjulan retur atau pengurangan dihubungkan dengan penjualan kredit,
penjual akan mengirimkan nota kredit (credit memorandum).
Setelah pemindah-bukuan, perkiraan piutang dagang serta penjualan retur dan pengurangan harga di
buku besar akan nampak seperti tertera disamping :
Jurnal Umum
Kartu Piutang yang bersangkutan setelah pencatatan nota-nota kredit tersebut di atas nampak seperti di
bawah ini :

Bila nota kredit yang dikeluarkan cukup banyak, dapat dibuatkan jurnal khusus untuk mencatat debet
pada perkiraan Penjualan Retur & Pengurangan Harga dan kredit pada perkiraan Piutang Dagang seperti
berikut ini :