Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Mual didefisinikan sebagai sensasi tidak enak yang bersifat subjektif yang
berhubungan dengan keinginan untuk muntah. Muntah adalah pengeluaran isi lambung
secara ekspulsif dengan bantuan kontraksi otot-otot abdomen. Titik pemicu utama muntah di
otak di daerah Postrema.
Antiemetik adalah obat-obat yang digunakan dalam penatalaksanaan mual dan
muntah. Obat-obatan tersebut bekerja dengan cara mengurangi hiperaktifitas refleks muntah
menggunakan satu dari dua cara yaitu secara lokal, untuk mengurangi respons lokal terhadap
stimulus yang dikirim ke medula untuk memicu terjadinya muntah, atau secara sentral, untuk
menghambat CTZ secara langsung atau menekan pusat muntah.
Dalam referat ini akan dibahas tentang obat-obat antiemetik pada anak yang meliputi
golongan dan nama obat serta titik kerja obat, indikasi, kontraindikasi, efek samping obat
antiemetik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Patofisiologi Muntah
Mual didefinisakan sebagai sensasi tidak enak yang bersifat subjektif yang
berhubungan dengan keinginan untuk muntah. Muntah adalah ekspulsi dengan tenaga
penuh dari isi gaster.14 Retching adalah ketika tidak ada isi lambung yang keluar
walaupun dengan kekuatan otot untuk mengeluarkannya.16 Semua ini merupakan
mekanisme pertahanan yang penting untuk mencegah penimbunan toksin. Stimulus
yang bisa mencetuskan mual dan muntah berasal dari olfaktori, visual, vestibular, dan
psikogenik. (1)
Berbagai hal mengenai mual belum diketahui secara baik. Hal tersebut
dihubungkan dengan relaksasi gastrointestinal, retroperistaltik di duodenum,
meningkatnya salivasi, pucat dan takikardi. Muntah dan retching adalah respon batang
otak, mual melibatkan bagian otak yang lebih tinggi. Muntah diawali dengan bernafas
yang dalam, penutupan glotis dan naiknya langit-langit lunak. Diafragma lalu
berkontraksi dengan kuat dan otot-otot abdominal berkontraksi untuk meningkatkan
tekanan intragastrik. Hal ini yang menyebabkan isi lambung keluar ke esofagus dan
keluar dari mulut. Koordinasi aktivitas gerakan yang kompleks dari lambung dan otototot abdomen terletak di pusat muntah yang berlokasi di formatio retikularis di
medula oblongata. Pusat muntah menerima masukan (input) dari : (1)
a. Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ) di area postrema
b. Sistem Vestibular
c. Nervus Vagus (yang membawa sinyal dari Traktus gastrointestinal)
d. Sistem spinoreticular ( yang mencetuskan mual yang berhubungan dengan
cedera fisik)
e. Nukleus traktus solitarius (yang melengkapi refleks dari gag refleks) (1)

Komponen utama dari terjadinya muntah yaitu bila lambung mengalami iritasi
stimulasi atau distensi (terlalu banyak makan) dan bila terjadi rangsangan langsung
pada CTZ untuk muntah atau dan pusat muntah. (1)
Sensor utama stimulus somatik berlokasi di usus dan CTZ. Stimulus emetik
dari usus berasal dari dua tipe serat saraf aferen vagus.
a. Mekanoreseptor : berlokasi pada dinding usus dan diaktifkan oleh kontraksi dan
distensi usus, kerusakan fisik dan manipulasi selama operasi
b. Kemoreseptor : berlokasi pada mukosa usus bagian atas dan sensitif terhadap
stimulus kimia. (1)
CTZ kayak akan reseptor Dopamine dan 5-hydroxytryptamine, khususnya D 2 dan
5HT3. CTZ tidak dilindungi oleh sawar darah otak, oleh karena bisa terpapar oleh
berbagai stimulus contohnya obat-obatan dan toksin. CTZ yang terletak pada
postrema bisa mengenali toksin yang beredar lalu menstimulasi pusat muntah di
medulla. Sistem Vestibular bisa menstimulasi mual dan muntah sebagai akibat
3

dari operasi yang berhubungan dengan telinga rengah atau gerakan post operatif.
Asetilkolin dan Histamin berhubungan dengan transmisi sinyal dari sistem
vestibular ke pusat muntah. Pusat kortikal yang lebih tinggi seperti sistem limbik
juga berhubungan. Hal ini mencetuskan mual dan muntah yang berhubungan
dengan rasa, penglihatan, bau , memori yang tidak enak dan rasa takut. Medula
oblongata sebagai pusat muntah letaknya sangat dekat dengan pusat pernafasan
dan vasomotor. Mekanisme integratif aalah motor program yang terjadi dari
koordinasi antara banyak sistem fisiologis dan autonomik dan komponen somatik
dari sistem saraf, dimana komponen motorik dari refleks muntah berhubungan
dengan sistem otonom dan somatik yang dikoordinasi oleh sistem muntah di
batang otak. (1)

1b) Perjalanan terjadinya muntah dan obat-obatan yang dapat digunakan


untuk mengatasi mual
II. Obat-obat Antiemetik

A. Golongan antagonis serotonin reseptor 5HT3


Obat anti emetik ini menghambat reseptor serotonin pada sistem saraf serebral dan
saluran pencernaan. Sehingga, obat emetik golongan ini dapat digunakan untuk mengobati
mual dan muntah setelah operasi dan penggunaan obat cytotoxic. Adapun golongan obat anti
emetik ini antara lain : (1)
1. Ondansentron
Farmakologi. Ondansentron ialah suatu antagonis 5-HT3 yang sangat selektif yang dapat
menekan mual dan muntah karena sitostatiska misalnya cisplatin dan radiasi. Mekanisme
kerjanya diduga dilangsungkan dengan mengantagonisasi reseptor 5-HT yang terdapat pada
chemoreceptor trigger zone di area postrema otak dan mungkin juga pada aferen vegal
saluran cerna.(2)
Ondansentron juga mempercepat pengongsongan basal rendah. Tetapi waktu transit
saluran cerna memanjang sehingga dapat terjadi konstipasi. Ondansentron tidak efektif untuk
pengobatan motion sickness. (2)
Pada pemberian oral, obat ini diabsorpsi secara cepat. Kadar maksimum tercapai
setelah 1-1,5 jam terikat protein plasma sebanyak 70-76%, dan waktu paruh 3 Jam.
Ondansentron dieliminasi dengan cepat dari tubuh. Metabolisme obat ini terutama secara
hidroksilasidan konjugasi dengan glukuronida atau sulfat dalam hati. (2)
Indikasi. Ondansentron digunakan untuk pencegahan mual dan muntah yang berhubungan
dengan operasi dan pengobatan kanker dengan radioterapi dan sitostatiska. (2)
Dosis anak 0,1-0,2 mg/kg IV 2-3x/hari. (2)
Ondansetron dalam bentuk sediaan injeksi 4mg/2 ml dan 8 mg/4ml (2)
Efek samping. Ondansentron biasanya ditoleransi secara baik, keluhan yang umum
ditemukan ialah konstipasi. Gejala lain dapat berupa sakit kepala, flushing, mengantuk,
gangguan saluran cerna, dsb. Belum diketahui adanya interaksi dengan obat SSP lainnya
seperti diazepam, alkohol, morfin, atau anti emetik lainnya. (2)
Kontraindikasi.

Keadaan

hipersensitivitas

merupakan

kontraindikasi

penggunaan

ondansentron. Obat ini dapat digunakan anak-anak. Obat ini sebaiknya tidak digunakan pada
kehamilan dan ibu masa menyusui karena kemungkinan diskresi dalam ASI. Pasien dengan
5

penyakit hati mudah mengalami intoksikasi, tetapi pada insufiensi ginjal agaknya dapat
digunakan dengan aman. Karena obat ini sangat mahal, meka penggunaannya harus
digunakan dengan baik, mengingat obat dengan indikasi sejenis tersedia cukup banyak. (2)
2. Granisetron
Indikasi. Pencegahan dan pengobatan mual & muntah akut dan tertunda yang berhubungan
dengan kemoterapi & radioterapi, Mual muntah pasca operasi. (2)
Dosis. Mual muntah yang dipicu oleh Kemoterapi - Anak IV 10 40 mcg/kgBB dilarutkan
dalam 10-30 ml cairan infus. Mual muntah pasca radioterapi (2)
Efek samping. Sakit kepala & konstipasi. Reaksi Hipersensitivitas; Peningkatan
transaminase hepatik. (2)
Kontraindikasi. Hipersensitivitas terhadap granisetron(2)

B. Golongan Antagonis Dopamin


Domperidon dan Metoklopramid sebagai antagonis dopamine secara sentral menghambat
stimulasi CTZ. Kedua obat ini mempunyai efek Prokinetik yang memperbaiki pengosongan
lambung dengan cara mengurangi stimulasi pusat muntah yang berasal dari perifer. Dengan
memperbaiki pengosongan lambung, juga akan mendekompres lambung. Domperidon tidak
memiliki efek samping SSP, sedangkan metoklopramid dapat memperkuat reaksi
ekstrapiramidal dan sedasi. (1)
1. Domperidon
Domperidon merupakan antagonis dopamin yang mempunyai kerja antiemetik. Efek
antiemetik ini disebabkan oleh kombinasi efek periferal (gastrokinetik) dengan antagonis
terhadap reseptor dopamin di kemoreseptor yang terletak di area postrema otak.
Pemberian domperidone menambah lamanya kontraksi antral dan duodenum,
meningkatkan pengosongan lambung dalam bentuk cairan dan setengah padat pada orang
sehat, serta padat pada penderita yang pengosongannya terlambat dan menambah tekanan
sfringter esophagus bagian bawah pada orang sehat.(1)
Indikasi. Dyspepsia fungsional, Mual dan muntah Akut (termasuk yang disebabkan oleh
levodopa dan bromokriptin) (1)

Kontraindikasi. Pengguna alergi pada domperidon(1)


Dosis. Anak-anak : 0,2 -0,4mg/kgBB/kali, 3x1 dengan interval waktu 4-8 jam. Obat diminum
15-30 menit sebelum makan dan sebelum tidur. (1)
Sediaan Tablet 10 mg, Suspensi 5 mg / 5 ml, Sirup 5 mg / 5 ml, Oral drops 5 mg/ml.

(1)

Efek Samping
-

Efek ekstrapiramidal jarang terjadi, hal ini segera hilang secara menyeluruh, segera
setelah pemberian obat dihentikan.

Reaksi alergi yang jarang terjadi, seperti rash dan urtikaria.

Interaksi Obat
-

Domperidone dapat mengurangi efek hipoprolaktinemia dari bromokriptin.

Pemberian obat analgesik opioid dan anti kolinergik muskarinik secara bersamaan
dapat mengantagonis aktivitas efek domperidone.

Pemberian antasida secara bersamaan dapat menurunkan bioavailabilitas


domperidone.

Efek bioavailabilitas dapat bertambah dari 13% menjadi 23% biladiminum 1,5 jam
setelah makan.

Over dosis
-

Belum ada data mengenai over dosis pada penggunaan domperidone secara oral.

Belum ada antidot spesifik yang digunakan pada over dosis domperidone, mungkin
dapat dilakukan dengan cara pengosongan lambung.

2. Metoklopramid
Metoklopramid merupakan suatu derivat dari prokainamid. Metoklopramid merangsang
traktus gastrointestinalis bagian atas dan meningkatkan tonus sfingter esofagus sebesar 10-20
cmH2O. Sekresi asam lambung tidak berubah. Efek neto adalah percepatan pengosongan
lambung dan transit usus. Obat ini mensensitisasi otot polos gastrointesinal terhadap
asetilkolin dan dapat menyebabkan pelepasan asetilkololin dari ujung saraf kolinergik. Efek
antimetik dari antagonisme reseptor dopamin sentral dan perifer dan inhibisi dari muntah

yang diperantarai zona pemicu kemoreseptor. Metoklopramid menghasilkan sedasi minimal


dan jarang menghasilkan reaksi ekstra piramidal.(3)
Farmakokinetik. Efeknya pada motilitas gastrointetinal di antagonis oleh obat-obatan
antikolinergik (contohnya atropin) dan analgesic narkotik; efek sedatif dipotensiasi oleh
alkohol, hipnotik sedatif, penenang, narkotik; mempercepat awitan aksi dari tetrasiklin,
asetaminofen, levodopa, dan etanol, yang terutama diobsorbsi dalam usus kecil;
memperpanjang lamanya aksi suksinilkolin (melalui pelepasan asetilkolin dan inhibisi dari
kolinesterase plasma); melepaskan katekolamin pada pasien dengan hipertensi esensial dan
feokromositoma; dapat menimbulkan perasaan ansietas dan kegelisahan yang sangat setelah
suntikan intravena cepat; dapat menimbulkan reaksi ekstra piramidal. (3)
Farmakodinamik
1. Efek gastrointestinal. Metoklopramid bekerja secara selektif pada sistem cholinergik
tractus gastrointestinal (efek gastropokinetik). Metoklopramid merangsang motilitas
saluran cerna bagian atas tanpa merangsang sekresi asam lambung, empedu atau
pankreas. Metoklopramid meningkatkan tonus dan amplitudo kontraksi lambung
terutama bagian antral, merelaksasi sfingter pilorus dan bulbus duodenum, dan
meningkatkan peristaltik duodenum dan yeyunum sehingga terjadi percepatan
pengosongan lambung dan transit intestinal. Metoklopramid meningkatkan tonus sfingter
esofagus bagian bawah pada keadaan istirahat. Motilitas kolon atau kandung empedu
hanya terpengaruh sedikit oleh metoklopramid.(4)
2. Efek antiemetik. Efek ini timbul berdasarkan mekanisme sentral maupun perifer. Secara
sentral, metoklopramid mempertinggi ambang rangsang muntah di Chemoreceptor
Trigger Zone (CTZ), sedangkan secara perifer menurunkan kepekaan saraf visceral yang
menghantarkan impuls afferent dari saluran cerna ke pusat muntah.(5)
3. Efek pada sistem saraf pusat. Memiliki efek anti mual dan efek sedasi. Efek anti mual
karena kemampuannya pada sistem saraf pusat memblok reseptor-reseptor dopamine
terutama reseptor D-2, pada chemoreseptor trigger zone (CTZ).(6)
Indikasi. Gangguan Gastro intestinal (mual, muntah), intoleransi obat, radiasi. (6)
Dosis. Metoklopramid dapat diberikan secara oral atau parenteral. Diabsorbsi cepat dengan

konsentrasi plasma maksimum tercapai 30-60 menit setelah pemberian oral dan 1-3 menit
setelah pemberian 0,2 mg/kgBB intravena (Morgan dan Mikhail, 1996).

Anak sampai

dengan 1 tahun (berat sampai 10 kg) 1 mg 2 kali sehari, 1-3 tahun (10-14 kg) 1 mg 2-3 kali
sehari; 3-5 tahun (15-19 kg) 2 mg 2-3 kali sehari, 5-9 tahun (20-29 kg) 2,5 mg 3 kali sehari,
9-14 tahun (30 kg dan lebih) 5 mg 3 kali sehari(6)
Efek samping. Gangguan GI (konstipasi, diare), mengantuk, sindrom ekstrapiramidal, pusing
, lelah. (6)
Antidotum. diberikan Benzatropin, dosis 1-2 mg IV akan menghilangkan gejala dengan
cepat, dapat diberikan dosis ulangan. Mekanisme Kerjanya sebagai antagonis kolinoseptor
untuk mengontrol efek ekstrapiramidal.(2)
Kontraindikasi. Epilepsi, gg.perdarahan, obstruksi mekanik, atau perforasi GI. (6)

C. ANTIHISTAMIN
Istilah antihistamin biasanya ditujukan untuk AH1. Golongan obat ini tidak
mempengaruhi pembentukan atau pengeluaran histamin, tetapi menghambat reseptor respon
mediator, dijaringan target. Persamaan struktur antara histamin dan antihistamin
mengakibatkan dua senyawa ini berkompetisi direseptor pada target organ, tetapi perbedaan
tidak menyebabkan penghambat AH1 berfungsi sebagai histamine algonis. Reseptor
histamine berbeda dengan reseptor yang mengikat seretonin, asetilkolin, dan katekolamin. (2)
Mekanisme kerja.
AH1 menghambat hampir semua kerja histamine, kecuali yang hanya diperantai
reseptor H2. AH1 menghambat efek histamine di jaringan termasuk peningkatan permeabilitas
kapiler dan reflek akson dengan akibat vasodilatasi. Kerja AH 1 secara kuantitatif sama, tetapi
hampir semua penghambat H1 mempunyai efek yang tidak berhubungan dengan
penghambatannya terhadap reseptor H1. Tetapi merupakan akibat ikatannya dengan reseptor
kolinergic, adrenergic dan serotonin. (2)

Farmakokinetik
Absorbsi AH1 pada pemberian oral baik, kadar puncak serum dicapai dalam waktu 1-2
jam. Waktu paruh plasma 4-6 jam, kecuali meklizin waktu paruhnya 12-24 jam. Distribusi
AH1, mencapai seluruh jaringan, termasuk susunan saraf pusat. Metabolism, terutama terjadi
di hati. Sebagian kecil tidak dimetabolisme serta metabolinya di ekskresi melalui urin. (2)
Efek Famakologi, karena absorbsinya baik pada pemberian oral, efek umunya telah terlihat
setelah 30 menit, dan mecapai maksimal 1-2 jam dengan lama kerja bervariasi. AH 1 pada
umumnya larut lemak, terutama generasi pertama dapat melewati sawar darah otak sehingga
menimbulkan efek samping sedasi, efek ini hampir tidak dipunyai oleh generasi kedua.
Metabolisme di hati, banyak diantaranya yang mengingduksi enzim mikrosom dan
mempengaruhi metabolismenya sendiri dan juga obat-obat lain. Golongan etanolamin,
venotiazin dan etilenbiamin mempunyai aktifitas antimuskarinik-antikolinergic beberapa
diantaranya mempunyai efek anastesi local, antara lain dimenhidrinad dan prometazin. AH 1
tidak digunakan pada bronkuspasne akibat alergi. Antihistamin menghambat efek vasodilatasi
histamin. (2)
Penggolongan antihistamin
Generasi pertama
1. Etanolamin

termasuk

di

dalamnya

Dimenhidrinat,

Difenhidramin,

dan

Karbinoksamin. Sedasi yang ditimbulkannya lebih jelas dibanding klorfeniramin dan


juga mempunyai antimuntah. (2)
Dimenhidrinat: oral anak 12,5 50 mg tiap 6-8 jam
Difenhidramin: oral anak 6.25 25 mg , 3x/hari
2. Piperazin, meklizin dan siklizin, efek sedasinya sedang dan mengiritasi saluran
cerna, serta juga bersifat antimuntah. Meklizin mempunyai masa kerja panjang.
Meklizin (2)
3. Fenotiazin, dalam golongan ini termasuk Prometazin dan siproheptadin. Sedasi yang
ditimbulkan golongan ini cukup jelas, berefek antimuntah serta juga merupakan
penghambat alfa-adrenoseptor lemah. (2)
Prometazin: oral anak 6.25 12.5 mg, 3x/hari
Siproheptadin: oral anak 2 4 mg, 2-3x/hari

Indikasi.
1. alergi, AH1 merupakan obat pilihan untuk mengatasi gejala alergi pada rhinitis dan

10

urtikaria, bila histamine yang merupakan penyebab/ mediator utama. Tetapi AH 1 tidak
efektif untuk mengobati asma, karena pada asma histamine hanya merupakan salah
satu mediator. (2)
2. Mabuk perjalanan dan mual, biasanya dikombinasi bersama antimuskarinik,
skopolamin. (2)
Beberapa AH1 misalnya difenhidramin, dimenhidrinat, siklizin dan meklizin sangat
efektif untuk mencegah mabuk perjalanan. Antihistamin mencegah mual dan muntah,
baik akibat rangsangan terhadap kemoreseptor maupun terhadap vestibular
(keseimbangan). Efek antiemetic obat ini tidak berhubugan dengan kerjanya sebagai
histamine . (2)
3. beberapa antihistamin, misalnya difenhidramin mempunyai efek sedatif kuat dan
dapat digunaan untuk insomnia. (2)
Efek samping, AH1 kurang spesifik, sehingga AH1 dapat juga berinteraksi dengan reseptor
kolinegic, alfa adrenegic dan serotonin, sehingga efek sampingnya juga bervariasi, (2)
1. Sedasi, yang tersering. Efek sentral lainnya adalah telinga berdenging, lelah, pusing,
malas, pandangan kabur dan tremor.
2. Mulut kering,
3. Iritasi salurn cerna, mual, konstitasi/diare(2)
Interaksi AH1 dengan obat-obat lain ada yang berakibat serius, misalnya efek potensiasi
dengan berbagai obat-obat antidepresan (hipnotik sedatif dll), termasuk alcohol. Tidak boleh
dimakan bersama penghambat MAO (monoamine oksidase) karena dapat menimbulkan efek
antikolinergik. (2)
Toksisitas
Batas aman AH1 cukup lebar, toksisitas kronik dan akut dapat timbul halusinasi,
eksitasi, ataksia dan kejang. (2)

KESIMPULAN

11

Antiemetik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi rasa mual dan muntah.
Antiemetik terbagi atas Golongan Antagonis Reseptor 5HT3-, Golongan Antagonis Dopamin,
Golongan Antihistamine.
Obat Antiemetik yang aman digunakan untuk anak dan biasa digunakan yaitu
Ondansentron dan Domperidon. Domperidon tidak memiliki efek samping SSP, sedangkan
metoklopramid dapat memperkuat reaksi ekstrapiramidal dan sedasi. Difenhidramin,
dimenhidrinat jarang dipergunakan untuk anak, karena memiliki efek sedatif kuat.

DAFTAR PUSTAKA

12

1. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi
5. Jakarta: Bagian Farmakologi FK UI.
2. Arif, azalia. Purwantyastuti. 2014. Cara Mudah Belajar Farmakologi. Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran U.I.
3. Omoigui S., 1997. Obat-obatan Anestesia Edisi II. EGC. Jakarta. pp : 233-35 dan 269.
4. Anonim. 2007. Perbandingan Efektifitas Antara Metoclopramide dan Ondansetron
Sebagai Premedikasi Anestesi dalam Mencegah Insiden Post Operative Nausea and
Vomiting. Bagian Anestesi Fakultas Kedokteran U.N.S. Surakarta.
5. Darmansjah I, Gan S, 2001. Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran U.I. Jakarta. pp : 48-49.
6. Widana I.W. 2000. Efek Metoclopramide Terhadap Dosis Induksi Propofol. Bag/SMF
Anestesi dan Reaminasi. Fakultas Kedokteran U.G.M. Tesis.

13