Anda di halaman 1dari 5

Pengelolaan keuangan pemerintah daerah di era otonomi memerlukan suatu pengukuran

kinerja keuangan sebagai tolak ukur dalam penetapan kebijakan keuangan pada tahun anggaran
selanjutnya. Pengukuran kinerja keuangan juga digunakan untuk menilai akuntabilitas dan
kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya secara mandiri, artinya semakin baik kinerja
keuangan pemerintah daerah maka kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya akan
semakin baik, sehingga sangat penting untuk selalu dilakukan audit atas laporan keuangan
pemerintah daerah oleh pihak independent (BPK RI). Laporan hasil audit oleh BPK RI dapat
berupa opini auditor dimana terdapat empat jenis pendapat auditor (BPK). Apabila opini auditor
unqualified opinion maka menunjukkan akuntabilitas suatu pemerintah daerah semakin bagus,
sedangkan jika opini qualified opinion, adverse opinion, dan disclaimer opinion, maka masih ada
kemungkinan terjadi salah saji yang material dalam laporan keuangan pemerintah daerah. Dari
sepuluh Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Barat hanya dua kabupaten yang sudah memperoleh
predikat unqualified opinion yaitu Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Sumbawa
sedangkan sisanya mendapat predikat qualified opinion. Hal ini membuktikan kinerja keuangan
pada mayoritas Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Barat belum menunjukkan hasil yang
memuaskan.
Penilaian kinerja suatu pemerintah daerah tidak hanya bisa dilihat dari hasil audit BPK, namun
bisa juga di nilai dari kinerja keuangannya dengan berdasarkan rasio keuangan pada APBD.
Mardiasmo (2002:121) menyatakan bahwa pengukuran kinerja dilakukan untuk memenuhi tiga
maksud. Pertama, untuk membantu memperbaiki kinerja pemerintah. Kedua, untuk
mengalokasikan sumber daya dan pembuatan keputusan. Ketiga, untuk mewujudkan
pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.

Rumusan Masalah
Perilaku pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerah akan berpengaruh dalam
proses penganggaran daerah. Struktur anggaran daerah mencerminkan besar kecilnya upaya
pemerintah daerah dalam pembangunan daerah, terutama jika melihat pada porsi belanja modal
yang dianggarkan. Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Barat terbukti belum menempatkan
belanja modal sebagai aspek krusial dalam pembangunan daerah. Hal ini tercermin dari struktur
belanja daerah yang menunjukkan alokasi belanja modal yang kecil dari keseluruhan belanja
daerah. Kinerja keuangan pemerintah daerah sebagai tolak ukur dalam penetapan kebijakan
keuangan pada tahun anggaran selanjutnya diharapkan mampu membantu pemerintah di dalam
membuat keputusan terkait pengelolaan APBD khususnya yang berkaitan dengan pembangunan
daerah yang dalam hal ini diwujudkan melalui belanja modal.
Daerah dituntut untuk mengoptimalkan setiap potensi maupun kapasitas fiskalnya dalam
rangka untuk mengurangi tingkat ketergantungan terhadap pemerintah pusat. Hal ini dapat
menimbulkan tekanan fiskal (fiscal stress) bagi pemerintah daerah. Dengan adanya belanja
operasional yang tinggi, pemerintah daerah dituntut untuk mengoptimalkan pendapatan asli
daerahnya atau mencari alternatif sumber-sumber pembiayaan lainnya untuk mengatasi
ketimpangan anggaran tersebut sehingga pendapatan asli daerahnya dapat lebih banyak
digunakan untuk membiayai belanja daerah yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik.
Faktor demografi menjadi salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi belanja modal
pemerintah karena setiap kebijakan yang diambil pemerintah tidak bisa lepas dari kebutuhan
masyarakatnya
Berdasarkan argumentasi diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1.2.1.

Apakah kinerja keuangan berupa rasio kemandirian, ketergantungan,

derajat desentralisasi fiskal, ruang fiskal, dan pembiayaan SiLPA berpengaruh


terhadap alokasi belanja modal tahun berjalan?
1.2.2.

Apakah fiscal stress berpengaruh terhadap alokasi belanja modal tahun

berjalan?
1.2.3.

Apakah kepadatan penduduk berpengaruh terhadap alokasi belanja modal

tahun berjalan?
1.2.4.

Apakah kinerja keuangan, fiscal stress, dan kepadatan penduduk secara

bersama-sama berpengaruh terhadap alokasi belanja modal tahun berjalan?

Teori Keagenan (Agency Theory)


Teori keagenan yang menjelaskan hubungan principal dan agen berakar pada teori
ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Teori keagenan menganalisis susunan
kontraktual di antara dua atau lebih individu, kelompok, atau organisasi. Salah satu pihak
(principal) membuat suatu kontrak baik secara implisit maupun eksplisit dengan pihak lain
(agent), dengan harapan bahwa agen akan bertindak/melakukan pekerjaan seperti yang
diinginkan oleh principal (Abdullah dan Asmara, 2009).
Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan sebagai sebuah kontrak
dimana satu atau lebih (principal) menyewa orang lain (agent) untuk melakukan beberapa jasa
untuk kepentingan mereka dengan mendelegasikan beberapa wewenang pembuatan keputusan
kepada agen. Konflik kepentingan akan muncul dan pendelegasian tugas yang diberikan kepada
agen dimana agen tidak dalam kepentingan untuk memaksimumkan kepentingan principal, tetapi
mempunyai kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan
publik.
Penelitian ini dapat memperlihatkan hubungan keagenan antara eksekutif, legislatif dan
publik. Eksekutif merupakan agen bagi principal yaitu legislatif dan publik. Legislatif dapat
bertindak sebagai agen bagi publik atau pemilihnya (voters). Hubungan keagenan dalam hal ini
menurut Johnson (1994:5) disebut dengan nama Self-interest model. Legislatif ingin dipilih
kembali, eksekutif ingin memaksimumkan anggarannya dan konstituen atau publik ingin
memaksimalkan utilitasnya. Agar terpilih kembali legislatif mencari program dan proyek yang
membuatnya populer di mata konstituen atau publik. Eksekutif mengusulkan program-program

baru karena ingin agency-nya berkembang dan konstituen percaya mereka menerima manfaat
(benefit) dari pemerintah.
Belanja modal merupakan salah satu sarana bagi legislatif untuk memaksakan
kepentingannya, tidak jarang dengan kekuasaan yang dimilikinya legislatif dapat memasukkan
program dan proyek fisik dalam APBD, yang hanya menyentuh konstituen atau pemilihnya.
Halim dan Abdullah (2006) menambahkan persoalan semakin nyata ketika publik tidak memiliki
sarana atau institusi formal untuk mengawasi kinerja legislatif, sehingga perilaku moral hazard
legislatif dapat terjadi dengan mudah. Pihak eksekutif sebagai agen bagi legislatif dan publik,
karena memiliki keunggulan dalam informasi tentang kinerja aktual, motivasi dan tujuan entitas,
akan cenderung mengusulkan anggaran belanja modal yang dapat lebih menunjang kinerja
aparaturnya dibandingkan dengan belanja modal yang menyentuh langsung kepada masyarakat.
Kontrak nyata antara agen dan principal di pemerintahan daerah adalah Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Eksekutif (agen) membuat rancangan APBD sesuai
dengan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Anggaran, yang kemudian diserahkan kepada
legislatif (principal) untuk dipelajari dan dibahas bersama-sama sebelum ditetapkan menjadi
peraturan daerah (Perda). APBD dapat digunakan principal (legislatif) untuk mengawasi
pelaksanaan anggaran oleh eksekutif (agen). Dalam hal ini, legislatif yang merupakan wakil dari
publik dapat mengawasi dan menilai kinerja keuangan pemerintah daerah.