Anda di halaman 1dari 40

Tokoh Arsitek Indonesia dan Karyanya

Konsep Arsitektur Beberapa Tokoh Arsitek Indonesia dan Karyanya


Pada kesempatan ini kita akan melihat contoh-contoh bagaimana
praktisi arsitek menggunakan konsep-konsep dan teori desain itu
untuk karyanya. Khususnya
bagi pelaku/tokoh arsitektur
Indonesia. Beberapa diantaranya yang akan diuraikan adalah :
Yuswadi Saliya, M. Ridwan Kamil, Baskoro Tedjo, Alexander
Santoso, Achmad D. Tardiana, Eko Purwono, Acmad Noeman,
Basauli
Umar
Lubis
dan
sebagainya.
Anda dapat mempelajari bagaimana konsep-konsep serta teori
arsitektur yang dianut oleh arsitek Indonesia dan penerapannya
pada
karya
arsitektur.
1. Fredrich S Silaban (1912-1984)

Fredrich S Silaban, karya-karyanya menghiasi ibukota Jakarta.


Siapa yang tidak kenal Monumen Nasional, Gelora Senayan dan
tentunya yang paling membanggakan adalah Masjid Istiqlal.
Bangunan masjid terbesar di Asia Tenggara itu dirancang olehnya
melalui sebuah sayembara dan karyanya itu menjadi monumen
toleransi beragama di Indonesia. Mengapa? Karena Masjid
terbesar di Indonesia dirancang oleh seorang Kristen. Ia
menyelesaikan pendidikan formal di H.I.S. Narumonda, Tapanuli
tahun 1927, Koningen Wilhelmina School (K.W.S.) di Jakarta pada
tahun 1931, dan Academic van Bouwkunst Amsterdam, Belanda
pada tahun 1950. Selain Masjid Istiqlal, Monumen Nasional
menjadi hasil rancanganya (lihat daftar top 7 sebelumnya, 7
Pencapaian
Arsitektur
Indonesia)
setelah
Soekarno
memerintahkannya
merancang
ulang
hasil
sayembara
sebelumnya.

Biograf
Ars. Frederich Silaban (lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16
Desember 1912 meninggal di Jakarta, 14 Mei 1984 pada umur
71 tahun) adalah seorang opzichter/ arsitek generasi awal
Indonesia. Dia dianggap arsitek otodidak (belajar sendiri).
Pendidikan formalnya hanya setingkat STM (Sekolah Teknik
Menengah) namun ketekunannya menghasilkan beberapa
kemenangan sayembara perancangan arsitektur, sehingga dunia
profesipun mengakuinya sebagai arsitek. Seiring perjalanan
waktu, ia dikenal melalui berbagai karya besarnya di dunia
arsitektur dan rancang bangun. Beberapa diantaranya dapat
menjadi simbol kebanggaan Indonesia.
Frederich Silaban menerima anugerah Tanda Kehormatan Bintang
Jasa Sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah atas
prestasinya dalam merancang pembangunan Mesjid Istiqlal.
Frederich Silaban juga merupakan salah satu penandatangan
Konsepsi Kebudayaan yang dimuat di Lentera dan lembaran
kebudayaan harian Bintang Timur mulai tanggal 16 Maret 1962
yakni sebuah konsepsi kebudayaan untuk mendukung upaya
pemerintah untuk memajukan kebudayaan nasional termasuk
musik yang diprakarsai oleh Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat,
onderbouw Partai Komunis Indonesia) dan didukung oleh
Lembaga Kebudayaan Nasional (onderbouw Partai Nasional
Indonesia) dan Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) milik
Pesindo. Frederich
Silaban
juga
berperan
besar
dalam
pembentukan
Ikatan
Arsitek
Indonesia
(IAI).
Pada April 1959, Ir. Soehartono Soesilo yang mewakili biro
arsitektur PT Budaya dan Ars. F. Silaban merasa tidak puas atas
hasil yang dicapai pada acara Konperensi Nasional di Jakarta
untuk pembentukan Gabungan Perusahaan Perencanaan dan
Pelaksanaan
Nasional
(GAPERNAS)
dimana
keduanya
berpendapat bahwa kedudukan "perencana dan perancangan"
tidaklah sama dan tidak juga setara dengan "pelaksana".
Mereka
berpendapat
pekerjaan
perencanaan-perancangan
berada di dalam lingkup kegiatan profesional (konsultan), yang
mencakupi tanggung jawab moral dan kehormatan perorangan
yang terlibat, karena itu tidak semata-mata berorientasi sebagai
usaha yang mengejar laba (profit oriented). Sebaliknya pekerjaan
pelaksanaan (kontraktor) cenderung bersifat bisnis komersial,
yang keberhasilannya diukur dengan besarnya laba dan
tanggung jawabnya secara yuridis/formal bersifat kelembagaan
atau badan hukum, bukan perorangan serta terbatas pada sisi
finansial.
Akhir kerja keras dua pelopor ini bermuara pada pertemuan

besar pertama para arsitek dua generasi di Bandung pada


tanggal 16 dan 17 September 1959. pertemuan ini dihadiri 21
orang, tiga orang arsitek senior, yaitu: Ars. Frederich Silaban,
Ars. Mohammad Soesilo, Ars. Lim Bwan Tjie dan 18 orang
arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur Institut
Teknologi Bandung tahun 1958 dan 1959. Dalam pertemuan
tersebut dirumuskan tujuan, cita-cita, konsep Anggaran Dasar
dan dasar-dasar pendirian persatuan arsitek murni, sebagai yang
tertuang dalam dokumen pendiriannya, Menuju dunia Arsitektur
Indonesia yang sehat. Pada malam yang bersejarah itu resmi
berdiri satu-satunya lembaga tertinggi dalam dunia arsitektur
profesional Indonesia dengan nama Ikatan Arsitek Indonesia
disingkat IAI.
Diantara Karya-karyanya

Gedung Universitas Nommensen - Medan (1982)

Gelora Bung Karno - Jakarta (1962)

Rumah A Lie Hong - Bogor (1968)

Monumen Pembebasan Irian Barat - Jakarta (1963)

Markas TNI Angkatan Udara - Jakarta (1962)

Gedung Pola - Jakarta (1962)

Gedung BNI 1946 - Medan (1962)

Menara Bung Karno - Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun)

Monumen Nasional / Tugu Monas - Jakarta (1960)

Gedung BNI 1946 - Jakarta (1960)

Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih - Jakarta


(1960)

Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin - Jakarta (1958)

Rumah Pribadi Friderich Silaban - Bogor (1958)

Masjid Istiqlal - Jakarta (1954

2. Acmad Noeman (1926 ..)

Konsep Desain: Islamic Architecture


Manifesto pada perancangan arsitektur yang Islami
Menurut Acmad Noeman, Arsitektur yang islami Adalah
Arsitektur
yang berlandaskan pada Al-quran dan Assunnah....Acmad Noeman adalah seorang Arsitek yang berlatar
belakang pendidikan Arsitektur Praktik.. Dalam berkarya beliau
selalu berusaha memasukkan nilai-nilai
Islam kedalam
desainnya. Hal tersebut dimaksudkan beliau agar karya-karyanya
lebih bermakna dan dapat dipertangung jawabkan dihadapan
Tuhan kelak. Acmad Noeman, sebagai seorang Arsitek, banyak
tertarik dengan ajaran-ajaran agama Islam, terutama pada kedua
landasan agama itu yaitu Al-quran dan As-sunnah. sedangkan
orang yang cukup berpengaruh pada kehidupannya adalah
Muhammad SAW. Khusus pada bidang arsitek Acmad Noeman
mengagumi Lee Corbusier, Miss Van de Rohe, teori-teori Beahus,
karena semua itu tidak bertubrukan dengan nilai-nilai islami yang
mengajarkan agar tidak menciptakan sesuatu yang berlebihlebihan. Nilai-nilai islam banyak mempengaruhi manifestasinya
dalam berpraktek di dunia arsitektur.Salah satu Manifesto Acmad
Noeman adalah Arsitektur yang islami Adalah Arsitektur
berlandaskan pada Al-quran dan As-sunnah.
Lingkungan binaan tempat seorang arsitek tumbuh dan
berkembang, baik secara langsung maupun tak langsung akan
mempengaruhi sikap dan pemikirannya. Terdapat beberapa hal
yang membentuk konteks pemahaman seorang arsitek dalam
melakukan pendekatan terhadap desain. Misalnya masa lalu
yang kering dengan agama menyebabkan Acmad Noeman ingin
menerapkannya baik didalam kehidupan sehari-hari dan dalam

praktik arsitektur. Sebagai seorang muslim Acmad Noeman


berusaha menjadi seorang arsitek agar bisa membela agamanya
dalam bidang arsitektur. Berbekal pengalaman di masa mudanya
yang sering menyaksikan dan mendampingi ayahnya dalam
membangun masjid dan sekolah Madrasah Acmad Noeman
inilah yang membuat dirinya sedikit banyak mengenal bangunanbangunan yang diperuntukan untuk ibadah dan belajar.
Dalam
berkarya
arsitektur,
Acmad
noeman
berusaha
memasukkan nilai-nilai yang terkandung pada Al-quran dan Assunnah dan mengimplementasikan pada obyek atau sebuah
karya yang berbeda dengan menyesuaikan kebutuhan yang
harus dipenuhi pada masing-masing obyek itu. Menurut Acmad
Noeman Arsitektur islami bukan hanya berbicara pada bentukbentuk lengkung dan atap kubah karena hal ini tidak berdasar
pada Al-quran dan As-sunnah. Dua landasan ini selalu dibawa
oleh Acmad Noeman pada karya-karyanya. Tanpa membedakan
rancangan yang akan dihasilkannya. Baik itu Masjid sebagai
tempat peribadatan atau rumah sebagai tempat tinggal dan juga
bangunan-bangunan lain. Dengan dua landasan pada islam ini
yang membedakan karya-karya beliau antara arsitektur yang
islami dan yang tidak islami. dengan tujuan untuk bisa
mengapresiasi secara lebih tinggi, dan di dalam prosesnya
elemen Al-quran dan As-sunnah diangkat dan dimasukan ke
dalam proses desain sejak awal pembentukan konsep bangunan.
Acmad Noeman menyebutkan bahwa ber-arsitektur bukan hanya
berpikir bagaimana menghasilkan sebuah karya rancangan agar
terbangun, tapi lebih memikirkan bagaiman berkarya yang
semuanya
diniatkan
untuk
Tuhan,
tanpa
harus
mengesampingkan kebutuhan dan keinginan Klien. Beliau selalu
mencoba mengajarkan nilai-nilai islami atau dengan kata lain
berdakwah
pada
rancangan-rancangannya,
Dengan
menghadirkan apa yang ada pada kedua landasan islam itu
sendiri.
Studi Kasus
Masjid salman ITB
Seperti yang telah menjadi manifesto bagi seorang Acmad
Noeman adalah, Arsitektur yang islami adalah yang
berlandaskan pada Al-quran dan As-sunnah kemudian ijtihad
sebagai alternatif terakhir. Dengan berpedoman pada surat Albaqarah 170 :

jika dikatakan pada mereka ikutlah jalanku, maka mereka


berkata tidak kami mengikuti jalan orang-orang terdahulu
Dari ayat ini beliau menangkap bahwa seseorang haruslah
memberikan pengarahan untuk selalu mencari ilmu sekaligus
spirit surat ini menganjurkan untuk mengklarifikasi bahwa apa
yang sudah ada selama ini dan turun temurun belum tentu
benar. pada masjid ini Acmad Noeman hendak mengajarkan
ayat ini kepada masyarakat luas bahwa bentuk-bentuk masjid
yang selama ini ada dan juga bentuk kubah dari atap masjid
bukanlah sesuatu yang mencerminkan dan mengandung nilainilai islami. Walau begitu Acmad noeman tidak menyalahkan
sepenuhnya atap masjid yang berbentuk kubah. beliau hanya
mencoba mengajarkan bahwa tidak selalu harus berbentuk
kubah sebuah atap masjid / bangunan yang islami.

Foto

Masjid

Salman

Pada rancangan masjid salman ini dia juga mengambil banyak


pedoman dari 3 landasan yang terdapat pada ajaran islam.
Seperti islam mengajarkan selalu untuk menjaga kesucian, maka
segala hal yang mempermudah untuk dapat menjaga kebersihan
dan kesucian di hadirkan disini. Kemudian Acmad Noeman
memakai landasan sebuah hadist rapikan shaf dan rapatkan
barisan dari dalil ini beliau mendapatkan pengajaran bahwa
sebuah shaf dalam sholat berjamaah tidaklah boleh terputus
dan harus lurus, maka Acmad Noeman mencoba meniadakan
kolom pada sebuah masjid. ini dapat dilihat pada masjid salman.
pada surat Al-baqarah pula Acmad Noeman mengambil spirit
dimana manusia diperintahkan menyebarkan ilmu. Dengan
bentuk yang tidak lazim pada tahun 1960, dimana saat itu masjid
lebih dominan menghadirkan bentuk lengkung dan tapa kubah
maka disini beliau mencoba mengajarkan bahwa tanpa
menghadirkan
bentuk
yang
selama
ini
ada,
tidak
salah. Peletakan toilet pada Masjid rancanganya tidak luput dari

memakai landasan yang ada pada islam, seperti pada sebuah


hadist yang melarang manusia untuk tidak buang air kecil atau
besar menghadap kearah kiblat.
Masjid At-tin
Inallaha jamil yuhibbu jamal dengan berpedoman pada hadist
ini Acmad Noeman mengimplementasikan pada masjid At-Tin.
Karena pada hadist diatas dikatakan bahwa Allah itu indah dan
menyukai keindahan. Maka nilai-nilai estetis dihadirkan di masjid
At-Tin. Seperti karya-karya yang sebelumnya, pada masjid At-Tin
ini Ahmad Numan memberikan Ruang khusus untuk wanita yang
disebut sebagai Mezzanine. Agar wanita tidak terlihat oleh
jamaah laki-laki saat mereka melepas penutup auratnya dan
mengantinya dengan pakaian Sholat. Pada masjid At-Tin, Ahmad
Numan juga menghadirkan minaret sebagai sarana untuk
menyebarkan
suara
Adzan
kesegala
penjuru
dengan
berpedoman pada hadist. dimana pada jaman Rasulullah SAW,
Para sahabat Nabi mengumandangkan Adzan di atap-atap /
tempat yang tinggi agar didengar oleh orang lain.
Tentang Acmad Noeman
Karakter yang tenang dan sangat bersahaja. cara berbicara yang
sangat halus dan selalu menjaga nilai atau ajaran islam dalam
setiap tingkah lakunya menggambarkan bahwa Acmad Noeman
sebagai sosok seorang arsitek yang dikenal di kalangan
komunitas arsitektur sebagai sosok seorang Muslim yang taat.
Dari pembawaannya inilah kemudian sedikit banyak berperan
dalam kehidupan ber-arsitektur dan mulai dipercaya orang
sebagai pakar Arsitektur Masjid dan Arsitektur yang islami. karyakaryanya selalu dihadirkan dengan pedoman nilai-nilai islam
yang tinggi tanpa harus meningalkan nilai estetis. Keindahan
pada setiap karyanya selalu tampak dan bisa dinikmati oleh
orang yang menyaksikanya.Setelah menyelesaikan pendidikan
S1 di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1953, Achmad
Noeman langsung berpraktek dalam dunia arsitektur dengan
magang pada salah satu biro konsultan, setelah itu Acmad
Noeman bergabung Dalam sebuah wadah organisasi Arsitek,
yaitu IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia). Kemudian Acmad Noeman
mendirikan perusahaan yang lebih dinamakan Birano. Karyakaryanya banyak memberi warna dan menjadi rujukan terutama
Arsitektur Masjid di Indonesia. Selain itu di luar Indonesia Acmad
Noeman turut meramaikan dunia Arsitektur dengan merancang
beberapa karya. Terutama Arsitektur Masjid.
Curiculum Vitae

Nama : Ir. Acmad Noeman ,IAI


Tempat/Tanggal lahir : Garut, 10 Oktober 1926
Handphone : 081 660 07 33
Kantor : Jalan Ganesha 03 - Bandung 40132, Telp. 022 250 4145,
Birano, ganesha 03 Bandung 40132
Riwayat Pendidikan
Institut Teknologi Bandung, Indonesia: 1948-1953
Riwayat Pekerjaan
1954-1956: Asisten dosen Jurusan Arsitektur ITB
1956- 1961: Staff pengajar tetap Jurusan Arsitektur ITB
1961-1999: Staf pengajar Jurusan Desain dan Seni Rupa ITB
dan Pimpinan CV.Birano
3.

Y.B Mangunwijaya Pr. (1929-1999)

Entah mengapa para arsitek bisa begitu indahnya berkaya di


berbagai bidang selain arsitektur itu sendiri, apakah karena
arsitektur itu seni? Ataukah karena membangun adalah pada
dasarnya dorongan spiritual kodrati setiap manusia? Arsitek satu
ini menempati posisi puncak dalam daftar ini karena
sumbanganya tidak hanya terbatas pada arsitektur namun juga
meresap ke dalam ingatan dan jiwa kita.
Sebagai humanis ia sangat peduli pada masyarakat kecil saat
merancangan pemukiman di bantaran Kali Code, tidak berhenti
pada pembangunan fisik namun juga pembangunan untuk
memanusiakan manusia. Ia memberikan pendampingan pada
korban waduk Kedungombo sampai berhasil ke Mahkamah
Agung, untuk jasanya itu ia dicap Komunis oleh orde baru.

Rohaniawan Katolik ini menempuh pendidikan seminari pada


Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta, yang dilanjutkan ke
Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan,
Magelang. Ia juga seorang sastrawan yang menghasilkan karyakarya yang dipuji tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh
dunia. Sebut saja Burung-burung Manyar dan Roro Mendut. Romo
juga sangat peduli mengenai pendidikan dan mendirikan Yayasan
Dinamika Edukasi Dasar, yayasan pendidikan untuk anak miskin
dan terlantar. Ia memang sangat peduli dengan pendidikan dasar
sampai-sampai ia pernah berkata "When I die, let me die as a
primary school teacher". Untuk jasanya ia mendapatkan berbagai
penghargaan, lengkap untuk setiap bidang yang ia geluti.
Dalam bidang arsitektur sendiri lulusan Teknik Arsitektur ITB,
1959 dan Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule,
Aachen, Jerman, 1966, ini dijuluki sebagai bapak arsitektur
modern indonesia. Karyanya yang terkenal adalah Bentara
Budaya Jakarta, berbagai gereja dan kawasan pemukiman Kali
Code.
Gambar kawasan pemukiman warga kali Code Yogyakarta

Karya-karyanya

Pemukiman warga tepi Kali Code, Yogyakarta

Kompleks Religi Sendangsono, Yogyakarta

Gedung Keuskupan Agung Semarang

Gedung Bentara Budaya, Jakarta

Gereja Katolik Jetis, Yogyakarta

Gereja Katolik Cilincing, Jakarta

Markas Kowihan II

Biara Trappist Gedono, Salatiga, Semarang

Gereja Maria Assumpta, Klaten

Gereja Maria Sapta Duka, Mendut

Gereja Katolik St. Pius X, Blora

Wisma Salam, Magelang

4. Yuswadi Saliya (1938- )

Konsep Desain: Bentuk-bentuk Geometris yang


sederhana, Topograf Tapak dan Teori Arsitektur Modern
Manifesto dalam Mendesain
Bentuk-bentuk geometris yang sederhana, topograf
tapak dan teori modern.
Konsep Architype [1] Yuswadi Saliya adalah pendekatan desain
secara geometris. Selain itu ada faktor lain dalam pendekatan
desainnya, yaitu bentuk topograf tapak, riwayat tempat
tersebut yang berkaitan dengan sejarahnya, serta respon
terhadap lingkungan sekitarnya dan dalill-dalil dari teori
arsitektur modern.
Langkah awal mendesain adalah dengan membaca bentuk
tapaknya. Menurut pengakuan beliau bila tidak mengetahui
bentuk tapaknya, akan sukar untuk dapat mendesain, kecuali
merancang sebuah bangunan yang desainnya mengacu kepada
salah satu bentuk tipologi bangunan dan dapat diletakkan di
banyak tempat. Menurutnya setiap bentuk tapak mempunyai
anatomi yang khas, seperti dimana letak tulang punggungnya

(garis sumbu imajinernya), dimana sendi-sendinya. Setelah peta


itu dapat dibaca sumbunya bagaimana, kemudian dapat
ditetapkan bagaimana hirarki, orientasi, dan sebagainya. Dari
informasi yang terdapat pada peta tersebut. Lalu dari orientasi
yang ada sumbu tadi dikoreksi kembali. Langkah selanjutnya
adalah meresponnya terhadap riwayat dan kondisi lingkungan
sekitarnya, baru kemudian Beliau dengan cepat dapat menariknarik garis yang membentuk geometri sesuai dengan bentuk dan
orientasi tapak tersebut.
Setiap tempat mempunyai orientasi yang berbeda tergantung
dari kondisi topografinya. Dalam menarik garis-garis pembentuk
geometris ada dalil-dalil dan tuntutan-tuntutan, sehingga
mempunyai alasan, seperti bila membuat bentuk kurva, apa
pegangannya. Menurut beilau bahasa geometri ada aturanaturannya ada istilah geometri thinking (berpikir geometris). Bisa
dibayangkan, seperti ada suatu pola-pola perulangan, pola-pola
yang konsisten dalam skala, dalam volumetri, dll.
Untuk pengolahan tampak bangunan, beliau menggunakan
aturan-aturan dari teori arsitektur modern seperti komposisi,
keseimbangan, proporsi, perbandingan golden section, dll.
Sedikit banyaknya rumusan teknis modernis tadi beliau gunakan
yang menurutnya belum ada tandingannya apalagi dibandingkan
dengan rumusan post- modern yang dinilainya masih liar.
Kemudian dalam memberikan unsur estetika dan warna
menurutnya semua orang akan setuju atau mempunyai persepsi
yang sama bila penjabarannya menggunakan teori arsitektur
modern. Tanpa mengikuti itu beliau tidak dapat menjelaskan
desainnya kepada orang lain, dan dari ketentuan-ketentuan
tersebut beliau dapat menyiapkan kategorisasinya, kemudian
terdapat kronologisnya yang akhirnya dijadikan bentuk verbalnya
sebagai bahan untuk menjelaskan kepada orang lain.
Menurutnya agar mendapatkan kepuasan dalam mendesain,
hasil desain itu harus bisa dibaca, kalau tidak bisa dibaca
sepertinya hanya terjadi dengan kebetulan saja sehingga tidak
bermakna.
Architype
Biasanya para Arsitek dalam merancang sesuai dengan
semangat dan visinya. Kemudian sikap dia terhadap arsitektur itu
apa, sikap dia dalam proses merancang itu bagaimana. Apa yang
disebut teori sebenarnya suatu generalisasi dari berbagai cara
para arsitek, dari pendekatan-pendekatan beberapa arsitek yang
sifatnya umum. Seperti yang dikatakannya berikut ini.
Pandangan seorang arsitek sangat tergantung kepada
pandangan dia (jadi bisa subyektif). Misalnya pandangan

geometri saya, itu karena saya senang geometri. Bagi saya


Geometri adalah suatu bentuk bahasa yang mudah diolah. Jadi
menterjemahkan suatu gagasan dengan geometri bagi saya
dekat hubungannya, tidak terlalu jauh. Kemudian, bahwa bentuk
geometri menjadi sifat utama arsitektur saya, adalah suatu
kebetulan saja. Misalnya saya menjadi pelukis, karena saya suka
geometri maka nantinya akan banyak bentuk geometri dalam
lukisan saya.
Seperti teori Paul Gustav Jung dalam bukunya tentang Architype,
bahwa architype hinggap di setiap orang dan dapat muncul
dalam berbagai bentuk kehidupannya, baik dalam perilakunya,
kegemarannya terhadap lagu-lagu, pada warna, dll. Misalnya
seseorang senang dengan warna merah, sebenarnya menurut
teori Jung dapat ditelusuri kebelakang, dia pernah mengalami
apa, pernah mempunyai alasan apa hingga menyukai warna
merah. Architype-nya yang tua/purba didalam ingatan
seseorang, kelihatannya sadar atau tidak, akan ada
hubungannya (dengan kesenangannya, red.). Nilai rapor ilmu
ukur bidang dan stereometri saya bagus-bagus, makanya saya
dekat. Bahwa saya mendekati secara geometris karena itu
Architype saya.
Biograf singkat Yuswadi Saliya
Yuswadi Saliya adalah seorang Doktor di bidang arsitektur yang
sederhana dan senang dengan bentuk geometri, senang dengan
bidang kelautan (maritim), dan predikat sejarawan arsitektur
yang
terlanjur
melekat
dalam
dirinya.
Awalnya
saat
pemerintahan Ir. Soekarno, dosen-dosen ITB yang berkebangsaan
Belanda dipulangkan ke negaranya, sementara jumlah dosen
sejarah arsitektur di ITB masih kurang. Akhirnya Ir. Yuswadi Saliya
yang ketika itu sebagai assisten dosen di bidang arsitektur,
diminta untuk menjadi dosen sejarah arsitektur. Karena
dedikasinya yang baik sebagai insan pendidikan, walaupun
awalnya tidak terpikir untuk mendalami bidang sejarah, hingga
akhirnya beliau dapat mendalami dan menjiwai bidang tersebut.
Akibat dari pengabdiannya dibidang sejarah, beliau memperoleh
hikmah akan makna ilmu sejarah bagi disiplin ilmu yang lain,
khususnya dibidang arsitektur.
Baginya sebaik apapun sebuah bangunan bila tanpa memiliki
keterkaitan dengan nilai sejarah atau menelaah sejarah yang
ada, terutama riwayat mengenai lokasi bangunan itu berdiri,
maka bangunan tersebut hanyalah sebuah bangunan belaka
yang dapat diletakkan dimana saja di dunia ini sehingga kurang
mempunyai makna tertentu. Dan hikmah lainnya adalah, sejak

1989 hingga kini beliau dipercaya sebagai ketua Lembaga


Sejarah Arsitektur Indonesia (LSAI).
Ketertarikannya terhadap arsitektur bermula karena interaksi
beliau terhadap lingkungannya. Pada masa SMA beliau sering
membaca jurnal-jurnal arsitektur di perpustakaan British Council
Bandung. Dari buku-buku itu beliiau dapat dengan cepat
memahami gambar-gambar denah, tampak, sehingga akhirnya
senang. Tidak seperti sebagian orang yang merasa sukar untuk
memahami stereometri atau ilmu ukur ruang, sehingga tidak
senang. Dan kebetulan kala itu ada mahasiswa arsitektur yang
mondok di rumah orang tuanya, dan Beliau sering pula
memperhatikan mahasisiwa tersebut menggambar serta
membuat tugas kuliahnya, sehingga menambah ketertarikannya
di bidang arsitektur.
Curiculum Vitae
Nama : DR. Ir. Yuswadi Saliya, M.Arch.
Tempat / Tanggal lahir : Bandung, 15 Juni 1938.
Alamat : Kompleks Dosen ITB, jln. Kanayakan A/4, Dago Atas,
Bandung.
Telp. : 022-2503971
Riwayat Pendidikan
1.

. Lulus dari Departemen Arsitektur ITB tahun 1966.

2.

. Master of Architecture diperoleh dari University of


Hawaii at Manoa , Honolulu, USA,
Dengan beasiswa
dari The East West Centre (1973- 1975 ) .

3.

. Program Doctor di Departemen Arsitektur, ITB, 1997

Perjalanan Karier
1977-1979 , Sekertaris Departemen Arsitektur, ITB.
1979-1985 , Ketua Departemen Arsitektur, ITB.
1985-1987 , Pembantu Dekan Bidang Akademik , Fakultas
Teknik Sipil dan
Perencanaan, ITB.
1970-1973 ; 1975-1984 , Anggota Badan Pendidikan ITB .
1988-1992 , Anggota Badan Riset ITB.
1966- sekarang , Senior Architect AT 6 .- Senior Lecturer
ITB .
1989- sekarang : Chairman of LSAI (Lembaga Sejarah
Arsitektur Indonesia).

- Internasional Jury of Agha Khan Awards.


- National Jury of IAI.
- Juri SAA - Awards , UNPAR.

Selected Projects :
Hilton Executive Club di Jakarta , sebagai arsitek utama ,
1971-1973.
Anjungan DKI , di TMII , arsitek utama , Pemenang
Sayembara, 1972.
Rumah Dinas Rektor ITB , arsitek, 1972.
Rumah Tinggal di Cisatu , Bandung 1990.
Gedung Departemen Arsitektur , ITB , arsitek utama /
koordinator , 1997-1998.
Desain Logo Ikatan Arsitek Indonesia IAI.
Studi Kasus
Hilton Executive Club, Jakarta

Beliau mengambil bentuk geometri dasar piramida. Di sini saya


merancang dengan bermain-main dengan bentuk segitiga
sementara pertimbangan- pertimbangan perkotaan menjadi
kendala yang harus ditaati. Bangunan tidak bisa tinggi, agar
tidak menghalangi pandangan orang dari Jembatan Semanggi
ke arah Stadion Senayan. Konsep rancangan lebih diutamakan
pada aspek fungsionalnya, yaitu terbuka terhadap publik. Bentuk
bangunan dipilih bentuk yang modern sama sekali, dan
mengambil presedens dari bentuk yang sudah ada, yaitu
piramida.
Anjungan DKI Jakarta, TMII Jakarta
Konsep utamanya adalah mencari bentuk yang mewakili daerah
Jakarta. Beliau tidak mengikuti arsitektur vernakular, dan lebih
mengelaborasi bentuk-bentuk yang modern, karena Jakarta
adalah kota modern yang tidak memiliki ciri khusus. Pencarian
bentuk kemudian tertuju pada ide-ide universal tentang
arsitektur. Sehingga akhirnya jadilah sebuah bangunan yang
berdasar pada bentuk yoni dari Monas. Dan desain ini menang
dalam sayembara.
Rumah Dinas Rektor ITB, Bandung

Pada kasus ini terbentur oleh kebijakan terhadap rumah dinas,


yang menyebabkan luasan 300-400 m2. dibuat menjadi seperti 3
unit rumah. Ketiga massa bangunan tersebut dihubungkan oleh
ruang pertemuan yang bersifat terbuka. Bentuk bangunan
mengikuti konsep geometris dan tropis. Tempat Pertemuan
terbuka, yang mempunyai fungsi lain sebagai penghubung
anatar unit rumah, yang sebenarnya adalah merupakan satu unit
rumah.
Gedung Departemen ITB
Karena tapak terletak dilokasi yang sudah terstruktur, maka pada
desain Gedung Departemen Arsitektur tidak terlalu melihat
benturk morfologi tapak. Bentuk bangunan dipilih yang modern
dan tropis serta mengikuti ciri khas bentuk bangunan di kampus
ITB.
Rumah Tinggal Di Cisatu, Bandung
Direncanakan pada lahan ber Lereng dengan konsep split level.
Komposisi bentuk-bentuk geometris dalam tatanan yang sesuai
dengan lahan berlereng tersebut. Konsep atap tropis dengan
kemiringan 30 yang menyatu dengan alam. Akan tetapi tinggi
plafondnya hanya 2,70 m. Sehingga bangunan tersebut berkesan
rendah.
Desain Logo IAI
Menggunakan bentuk geometris yang sederhana, Huruf IAI
dilambangkan layaknya sebuah bangunan yang melambangkan
pergerakan pembangunan di lingkungannya. Lingkungannya
dilambangkan dengan bentuk lingkaran yang bawahnya
terpotong oleh datarnya lahan / bumi. Perbandingan jarak tebal
garis dan komposisi mengikuti aturan golden section.
Catatan
(1)
Architype artinya adalah: Original pattern, model, prototype, or
blueprint. According to modern, psychological astrology,
archetypes... Archetype dan Autonomous Complex. Dalam
psikologi
Jung, Architype artinya
adalah ketidaksadaran
kolektif dapat terdiri atas komponen komponen dasar kekuatan
jiwa yang oleh Jung disebut sebagai archetype. Archetype
merupakan konsep universal yang mengandung elemen mitos
yang luas. Konsep archetype ini sangat penting dalam
memahami simbol mimpi karena ia menjelaskan kenapa ada
mimpi yang memiliki makna universal, sehingga bisa berlaku
bagi semua orang. Dan ada pula mimpi yang sifatnya pribadi dan
hanya berlaku untuk orang yang bermimpi saja. Jung

memandang archetype ini sebagai suatu autonomous complex,


yaitu suatu bagian dari kekuatan jiwa yang melepaskan diri dan
bebas dari kepribadian. Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 92).
Bagi Jung pandangan Freud terlalu menjagokan pandangan
seksualitas dan orientasi yang mekanistis-biologis. Jung
mengajak psikolog untuk meyakini asumsi dasar yang berbeda,
ia menyatakan bahwa manusia selalu terkait erat dengan mitos,
hal mistis, metafisis, dan pengalaman religius. Jung melihat
manusia sebagai makhluk biologis yang jiwanya berkait erat
dengan pola-pola primordial. Manusia memang memiliki aspek
kesadaran dan ketidaksadaran bahkan kumpulan kolektif
ketidaksadaran yang berbeda dengan dorongan Id menurut
Freud. Dengan adanya ketidaksadaran kolektif, manusia memiliki
sifat universal dalam hal sensasi, suara qalbu, pikiran dan
perasaan.

5. Basauli Umar Lubis (1955...)

Konsep Desain: Functional, Charming, Programmatic


Architecture
Functional
Titik keberangkatan sikap dalam berarsitektur adalah berangkat
dari penggunaan, berangkat dari proses pemikiran bagaimana
pengguna menggunakan & mengartikan ruang. Karakter
bangunan terbentuk dari sifat pengguna dan pengunaannya.
Arsitektur yang baik adalah ketika arsitektur dapat memenuhi
tingkat kebutuhan & kenyamanan dengan baik.Letak tingkat
kreativitas arsitek terletak pada bagaimana menterjemahkan dan
menjawab kebutuhan dengan baik. Estetika atau bentuk
merupakan secondary step. Namun tidak menutup kemungkinan
jika bentuk hadir pertama kali didasarkan tujuan/fungsi, seperti
halnya bilbao yang hadir dengan tujuan menarik wisatawan.
Estetis/Bentuk lahir dari penggunaan, bukan sesuatu yang
diada-adakan. Ruang/simbol dalam arsitektur harus dapat
dimengerti oleh pengguna. Dan yang tidak kalahnya pentingnya
adalah Karya arsitektur yang baik adalah karya yang dapat di uji.
Studi Kasus
Semarang Golf Club House

Dalam perancangan Club house, penggunanya adalah kelas


menengah ke atas. Kelas mengengah keatas memiliki karakter
yang mapan. Segi privasi dan keintiman menjadi ukuran
penghargaan dari sebuah kemapanan. Pada akhirnya arsitektur
yang hadir adalah arsitektur yang memilliki hubungan ruang
yang intim dan sophisticated. Ruang yang hadir bukan ruang
publik yang terlalu terbuka namun ruang publik yang intim.
Charming
Karya arsitektur akan baik dan akan tetap eksis apabila karya
tersebut memberikan kesan mendalam/CharmIng baik dari segi
fisik maupun psikologis. Impresi mendalam tidak harus dicapai
dengan sesuatu yang spektakuler, namun dapat tercapai ketika
manusia/pengguna merasakan manfaat yang banyak dan kesan
yang mendalam bagi pengguna. Kesan charming ini dapat
dicapai dengan memperhatikan skala manusia,orientasi, dan
sirkulasi manusia selain esensi dasar kebutuhan yang telah
terpenuhi. Arsitektur yang anggun adalah arsitektur yang
memanusiakan manusia.
Studi Kasus
Semarang Golf Club House
Ketepatan Skala manusia dan kenyamanan pergerakan fisik &
visual menjadi pertimbangan utama dalam perancangan club
house tersebut. Dengan hal ini maka tingkat kenyamanan
tercapai dan secara tidak sadar pengguna/manusia akan merasa
menyukai bangunan tersebut.
Programmatic
Program dalam arsitektur merupakan tingkat kreatifitas tertinggi
dalam arsitektur. Program dalam arsitektur merupakan
pemaknaan
dan
solusi
untuk
menjawab
kebutuhan.
Programmatic memiliki pengaruh besar dalam penentuan arah
karya arsitektur. Selain isu kontekstual yang sudah menjadi
kewajiban arsitek, arsitek harus melangkah lebih tinggi lagi,
untuk bisa mengevaluasi kekuatan tempat. Arsitektur akan baik
jika menghasilkan sinergi kegiatan didalam dan hubungannya
dengan lingkungan luar.
Site
Kekuatan tempat merupakan kunci terbentuknya program
arsitektur. Kontekstual terhadap site sudah menjadi kewajiban
Arsitek, namun diluar itu arsitek harus bisa ke tingkat lebih tinggi
lagi. Arsitek harus bisa mengevaluasi site dan menjawab
kebutuhan
&
potensi
kekuatan
tempat
dan
menterjemahkannyamelalui
ke dalam program arsitektur.

Contoh Kasus Lain Pemikiran


Contohnya dalam Bangunan sekolah berasrama, penggunanya
adalah siswa yang belajar serta tinggal di dalam area sekolah.
Dengan melihat ini maka \timbul pemikiran bagaimana
mengembalikan suasana/lingkungan rumah dalam lingkungan
sekolah. Caranya adalah dengan menghadirkan ruang formal,
informal & nonformal. Saat siswa kembali ke hunian diharapkan
menjadi manusia yang hidup seperti biasa. Lingkungan sekolah
asrama dapat dilihat sebagai saru kesatuan kota.
Dalam bangunan Pelelangan ikan, aktivitasnya adalah
pelelangan dan diperlukannya pengawasan. Dengan melihat
proses bagaimana manusia beraktivitas maka timbulah bentuk
arsitektural bertingkat dua. Pada dasarnya pelelangan ikan
hanya terdiri dari satu lantai. Namun dengan melihat aktivitas
pengawasan sebagai salah satu bagian yang menentukan wujud
arsitektural, munculah bangunan berlantai dua. Selain itu hal ini
juga dapat mengakomodasi pertukaran udara. Arsitektur yang
hadir tidak di ada-adakan, namun hadir karena penelusuran
aktivitas manusia.

6. Baskoro Tedjo (1958..)

Konsep Desain: Karakter dan Ikon dalam Pemaknaan


Sebuah Fungsi Bangunan
Manifesto pada Fungsi Bangunan Rumah Tinggal
Hanya ada satu kepribadian dalam satu rumah...

Rumah harus mencerminkan karakter dari si pemakainya, dan


karakter itu tidak boleh lebih dari satu, karena rumah harus
mempunyai satu karakter tunggal bukan 2 atau lebih yang bisa
menimbulkan konflik. Dalam setiap perancangan rumah tinggal,
sebenarnya ada dua kemungkinan karakter kepribadian yang
bisa dijadikan konteks desain, apakah dari owner atau dari sang
arsiteknya. Namun demikian, sebaiknya karakter owner adalah
yang paling utama sebab sang owner inilah yang nantinya
banyak menghabiskan waktunya dirumah tersebut.
Karakter sang arsitek bisa dimasukkan apabila karakter dari
owner tidak kelihatan, artinya bisa saja sang pemilik rumah
menginginkan suatu karakter lain pada konsep huniannya.
Sesuatu yang perlu diingat disini adalah apabila ada pemaksaan
karakter dalam sebuah karya rumah tinggal bisa dipastikan
bahwa konsep rumah itu akan mengalami kegagalan, konkretnya
bisa dilihat dengan perubahan fungsi ruang yang berbeda dalam
bangunan dengan konsep awal akibat ada pemaksaan karakter
dari sang arsitek kepada owner. Seperti contoh pada bangunan
minimalis, apabila dipaksakan pada sebuah rumah dengan
karakter penghuni yang bukan minimalis maka fungsinya akan
berubah,
misalnya
dengan
penempatan
barang
yang
sembarangan dari sang pemilik dalam kesehariannya (red: bisa
ancur menurut Baskoro Tedjo).
Fungsi dari arsitek sendiri dalam perancangan rumah tinggal
adalah memberi karakter rumah tersebut sesuai dengan karakter
pemiliknya, supaya bisa tampil lebih gaya. Caranya adalah
dengan membaca kepribadian owner secara keseluruhan.
Dengan menggunakan teori spasial order, maka karakter hunian
dari sang pemakai harus mendapat perhatian lebih dan bersifat
tetap serta tidak boleh dirubah.
Kebudayaan juga merupakan elemen penting yang harus
menjadi
pertimbangan
dalam
merancang
selain
site.
Karakteristik arsitektur yang unik muncul salah satunya dengan
menggunakan pendekatan budaya dan mengetahui kekuatan
dari site. Metode desain yang dipakai oleh Baskoro Tedjo dalam
setiap perancangannya adalah dengan menggunakan kekuatan
kedua elemen ini.
Arsitektur selalu berawal dari site. Itulah yang menjadi keyakinan
Baskoro
Tedjo
dalam
desainnya.
Lingkungan
sekitar
(environment) baik didalam site maupun diluar site sangat
berpengaruh dalam setiap rancangannya. Korelasi antara site
dan budaya menghasilkan aliran yang menurut dia disebut
dengan Contemporary Traditional.

Manifesto pada Fungsi Bangunan Publik


Bangunan publik harus menjadi ikon...
Ikon yang dimaksud disini bukanlah iconic building seperti
karya-karya arsitektur avant garde. Ikon yang dimaksud disini
lebih pada ikon dalam arti ketimuran. Artinya adalah bahwa ikon
tidak harus berwujud fisik, akan tetapi ikon lebih pada sesuatu
yang harus disukai, dihargai, dihormati (affective) dan dipakai
serta melekat pada masyarakat. Jadi suatu ikon tidak harus
berwujud suatu bentukan visual yang wah saja, akan tetapi
harus menciptakan suatu attach atau keterikatan antara
masyarakat dengan bangunan itu. Ikon bisa berwujud visual,
historikal, emosional, intelektual, kontekstual, dan lain
sebagainya.
Metodenya adalah tetap dengan bangunan harus mengikuti site,
karena site sudah menentukan karakter awal bangunan. Metode
ini sangat relevan mengingat Baskoro Tedjo banyak mendapat
ilmu dari Jepang yang nota bene ciri arsitektural bangunan di
Jepang sangat memperhatikan site beserta lingkungan sekitarnya
sebagai elemen pendukung desain. Selain itu gaya contemporary
traditional yang kerap dipakainya juga berkorelasi dengan
penguasaan dia dalam environment behaviour. Sebuah
pemahaman mengenai contemporary atau kontemporer disini
adalah usaha untuk memaknai kembali (sebuah/sesuatu), sesuai
dengan pemahaman dan kesejamanan yang berlaku saat ini
(kekinian). Selain itu, pengaruh arsitek-arsitek Jepang idolanya
seperti Tadao Ando, Kisho Kurokawa, dan Arata Isozaki juga ikut
memberikan corak yang berbeda dalam setiap desainnya.
Ketertarikan Baskoro Tedjo terhadap para arsitek Jepang
tersebut, sedikit banyak juga telah mempengaruhi manifestonya
dalam di dunia keprofesionalannya.
Makna dari arsitektur bisa sangat sempit, luas serta dapat
berbeda-beda, bergantung pada pendekatan perancangan yang
dilakukan arsitek dalam merancang sebuah bangunan. Berbagai
konteks arsitektur memang mengharuskan mengacu kepada
aspek keindahan (secara visual). Aspek keindahan dalam konteks
arsitektur ini biasanya diupayakan sejalan dengan fungsi ruang.
Salah satu contohnya dapat dilihat pada proyek Rumah
Andonowati yang karyanya berkaitan sebagai sebuah fungsi
rumah tinggal dan bangunan publik (red: privat yang di
publikkan) pada Selasar Sunaryo Art Space sebagai fungsi art &
cultural center. Lokasi site bangunan yang sama-sama berada di
atas bukit Dago ini mempengaruhi bentuk bangunan yang harus

dipertimbangkan secara arif oleh Baskoro selaku arsitek.

Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Rumah ini sekarang


menjadi objek wisata
Ciri desain Baskoro yang dikenal tenang dan sangat
konseptual, kali ini kembali ditampilkan. Karyanya diupayakan
disesuaikan
dengan
sebuah
fungsi
bangunan
yang
mengedepankan sebuah karakter dan kedinamisan. Karyakaryanya ini dapat dikatakan sebagai arsitektur kontemporer
yang responsif terhadap iklim dan lingkungan setempat dengan
memanfaatkan sumber-sumber daya yang ada disekitarnya
sebagai acuan dalam merancang. Proyeknya tetap berlandaskan
prinsip ekonomi tetapi tetap pula mempertimbangkan berbagai
aspek lain seperti aspek lingkungan dan aspek hunian modern.

7. Alexander Santoso (1965..)

Konsep Desain: Penciptaan Kekayaan Perspektifs


Manifesto: Menciptakan kekayaan perspektifs
Dalam setiap disainnya, ia selalu memperhatikan kebutuhan
klien. Kebutuhan-kebutuhan klien ini nantinya akan menjadi ide
awal dalam sebuah proses disain. Dalam prosesnya, kebutuhan
klien ini kemudian diwujudkan dalam jumlah dan besaran ruang.

Kemudian bagaimana bentuk masa bangunan terjadi merupakan


peran arsitek untuk mewujudkannya.
Pemikiran paling mendasar dalam penciptaan bentuk masa
bangunan adalah, dalam setiap karyanya, dia selalu berusaha
untuk menciptakan kekayaan perspektifis.
Kekayaan perspektfis adalah, bagaimana kita menciptakan
sebuah bentuk, sehingga dari sebuah titik pandang, masa
bangunan dibuat kaya dalam bentuk dan sudut pandang. Dalam
hal ini, eksplorasi perletakkan masa merupakan hal yang
penting, yang tentu saja perletakkan ini harus juga membawa
banyak keuntungan bagi interior bangunan.
Kekayaan perspektifis tidak hanya diterapkan untuk fasad
bangunan, namun juga harus dapat dirasakan manfaatnya bagi
pengguna bangunan. Dalam menciptakan bentuk-bentuk interior,
sequence merupakan hal yang penting. Baginya, sequence tidak
hanya mementingkan pergerakan atau sirkulasi di dalam
bangunan, namun juga bagaimana menciptkan suasana visual
yang berbeda pada setiap titik. Fungsi ruang juga menentukan
penciptaan karakter ruang. Misalnya saja, bagaimana sebuah
entrance
bangunan
dibuat
sehingga
memiliki
kesan
mengundang, atau permainan suasana tangga, dimana dalam
setiap ketinggian tangga, kita dapat melihat pemandangan yang
berbeda pula. Hal ini dilakukannya untuk menciptakan
pengalaman ruang yang kaya, hal ini tidak hanya dirasakan
efeknya secara horisontal, namun harus juga dirasakan secara
vertikal.
Konsep dan Visi
Tropikal
Semenjak tahun 1993, proyek yang dikerjakan oleh Bapak
Alexander berada di Indonesia. Oleh sebab itu, konsep dasar
yang selalu digunakan dalam setiap disainnya adalah tropikal
kontemporer.
Baginya tropikal merupakan pendekatan yang paling tepat dalam
setiap disain yang ada di Indonesia apapun fungsi bangunannya.
Disebut paling tepat karena dengan sendirinya tropikal akan
menyelesaiakan masalah-masalah yang dapat ditimbulkan oleh
iklim tropis. Penggunaan atap dengan kemiringan tertentu untuk
mengalirkan air hujan, penggunaan teritis bangunan yang dapat
menciptakan
bayangan,
penciptaan
kolam-kolam
untuk
mendinginkan iklim setempat, merupakan beberapa contoh
pendekatan tropikal.
Spacial Experience

Menciptakan pengalaman tertentu dengan membuat ruangruang yang dinamis dan berkesinambungan. Hal ini diciptakan
dengan pembuatan secara mendetail sequence yang akan
diciptakan pada interior bangunan.
Time & Place Identity
Speaks to the moment & place, take risks, transcendence to the
future.
Kontemporer sendiri baginya adalah sesuatu untuk saat ini.
Oleh sebab itu, apabila dilihat disain-disain bangunannya dari
tahun 1993, maka selalu terdapat perubahan. Perubahan ini
baginya terjadi karena setiap masa atau waktu memilki
kecenderungan yang berbeda juga, sehingga setiap penciptaan
selalu memiliki proses yang berbeda, yang pada akhirnya dapat
menciptakan produk yang berbeda-beda juga.
Kecenderungan ini baginya juga terbentuk karena adanya alam
bawah sadar. Belum banyak hal dapat ia ungkapkan disini,
karena menurutnya pemikiran mengenai penyelesaian tanpa
sadar ini masih dia gali dan kaji. Pada intinya adalah, semakin
banyak kita membaca, melihat, dan merasakan, maka dengan
sendirinya masalah-masalah disain, serta penciptaan-penciptaan
bentuk, akan terjadi dengan sendirinya. Baginya inspirasi dapat
datang dari mana saja, oleh sebab itu, tidak mudah bagi dia
untuk
mengungkapkan
siapakah
arsitek
yang
paling
mempengaruhi desain-desainnya. Peter Eisenman, Zaha Hadid,
Alvarez-Kala, Tadao Ando, merupakan beberapa arsitek yang
memberikan cukup banyak kontribusi pada alam bawah
sadarnya. Baginya bukan peniruan gaya, namun bagaimana
mencoba merasakan bagaimana ruang-ruang yang diciptakan
oleh arsitek-arsitek ini.
Usage
Usage instead of function
Dalam disainnya, dia lebih mementingkan kegunaan setiap ruang
yang diciptakan daripada hanya memperhatikan fungsi ruang
tersebut. Kegunaan tidak hanya berdasarkan fungsi, namun juga
kebutuhan pengguna, dan penciptaan atmosfir untuk mendukung
kebutuhan pengguna.
Layering & Repetitive
Multilayer & repetitive elements.
Untuk menciptakan kekayaan perspektifis, bangunan dibuat
multilayer, dengan penumpukan dan penyusunan beberapa
masa, baik dalam bentuk masa yang sama ataupun beragam
bentuk masa. Hal ini juga berkaitan dengan kegunaan dari setiap
masa bangunan.

Repetisi dari elemen bangnan dicipciptakan sebagai pengikat


dari masa-masa bangunan yang tercipta.
Balance in / between
Composition, Proportion, Tone & Color, Surfaces & Materials,
Grids, Massive & Transparent Characters, Elements: line, wall,
box.
Keseimbangan dalam seluruh elemen diatas sangat diperhatikan.
Semua elemen-elemen tersebut harus saling mendukung dan
semuanya bertujuan untuk membentuk karater bangunan sesuai
kegunaan pada setiap titik bangunan.
Studi Kasus
Permata Hijau House, Jakarta
Bangunan superimpose.
Tapak rumah ini berada pada hook jalan. Dalam kasus ini, dia
berupaya untuk menciptakan kekayaan ruang tidak hanya bagi
penghuni, namun juga bagi lingkungannya. Pada umumnya masa
bangunan dibuat berbentuk huruf L, dimana bentuk L tersebut
mengikuti sisi jalan, sehingga terbentuklah benteng yang akan
menghasilkan inner court pada bagian tengah bangunan.
Namun, bagi Pa Alex, bentuk seperti ini tidak akan memberikan
banyak kontribusi pada lingkungan. Oleh sebab itu, maka dia
membuat masa huruf L dengan sisi yang menempel dengan
dinding tetangga. Dengan begitu, maka akan tercipta ruang
terbuka yang lebih besar pada bagian depan bangunan.
Untuk memisahkan antara ruang dalam dan ruang luar pada
ruang terbuka, maka digunakan diding dengan material kaca.
Material transparan ini dipilih sehingga tidak membatasi ruang
terbuka secara visual, namun dapat memberikan rasa aman
dengan kehadiran dinding sebagai pembatas. Kolam sebagai
media untuk merubah suhu bangunan dihadirkan disini. Bahkan
fungsinya lebih dari itu, kolam juga berfungsi sebagai batas

antara

ruang

luar

dan

dalam.

Lantai dua pun berbetuk huruf L. Namun perletakannya tidak


tepat berada diatas masa L lantai dasar, sehingga dapat
menciptakan ruang di belakang huruf L tersebut. Selain itu huruf
L ini dibuat lebih panjang. Hal ini untuk menyiasati GSB, dimana
pada lantai dasar bangunan harus berada di dalam GSB,
sementara lantai dua bisa melebihi GSB tersebut, sehingga
volume ruang bisa lenih besar.
Yang menarik dari masa lantai dua ini adalah, masa bangunan
diputar pada satu titik untuk menciptakan sudut perspektif yang
berbeda. Dengan begitu, maka bangunan seperti memiliki
banyak muka. Titik yang diambil sebagai pusat putaran adalah
titik dimana apabila perputaran terjadi maka akan selalu
menguntungkan untuk interior bangunan.
Tentang Alexander Santoso
Pencarian identitas diri kami dalam berarsitektur masih
berlangsung sampai saat ini. Kalaupun didapati pengulangan
gaya design, hal itu merupakan proses evolutif dalam mencari
bentuk yang lebih berkarakter. Dunia dan perubahannya yang
berlangsung terus menerus,membawa kami untuk bergerak
secara responsif terhadap apa yang sudah dan akan terjadi di
sekitar kita.
Tak pernah ada kata cukup bila mengukur karya-karya kami
dalam rentang waktu. Dua belas tahun berjalan dalam proses
artikulasi ruang tetap menyisakan rencana akan kesempurnaan
layanan. Petualangan dalam relasi antara proses dan hasil akhir,
mutu dan biaya, masif transparan, berat ringan, kasar ataupun
halus adalah permainan yang dapat kami alami, akhiri dan
menangkan. Mewujudkan pengalaman unik dengan menciptakan
ruang-ruang dinamis dan berkesinambungan, menyusun
komposisi dan proporsi massa yang terjaga akan melebur serasi
pada keseimbangan faktor kegunaan.

Ruang-ruang yang tersaji berikut dengan berbagai perubahannya


ini harus ditempuh dan dimaknai.Yang kami ketahui hanyalah,
esok perjalananan kita lebih baik.
Selamat berpetualang!
www.wastuciptaparama.com
Curiculum Vitae
Nama : Ir. Alexander Santoso
Telepon : 022.2030630
Kantor : Jln. Neglasari Dalam no. 16 B, Bandung
Website : www.wastuciptaparama.com
Latar Belakang

Kuliah di Universitas Katolik Parahyangan: 1985

Mendirikan Wastu Cipta Parama:1993


Penghargaan

Juara Pertama Kompetisi Disain JPO Halte Trans Jakarta:


2001

Juara Pertama Kompetisi Desain Gereja: 2001

Juara Harapan Pertama Desain Rumah Susun: 2001

8. Achmad D. Tardiana

Konsep Desain: Arsitektur Adalah Sebuah Proses Dalam


Mengkonstruksi Tapak

Teori dan Manifesto


Menurut Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD, karya arsitetur yang baik
adalah arsitektur yang secara spesifik mampu merespon lokasi
dimana bangunan didirikan. Dalam hal ini, respon tersebut harus
dapat memberikan dampak atau kontribusi yang positif terhadap
lingkungan tempat didirikannya bangunan. Dengan kata lain
Arsitektur harus dapat menunjukkan lokalitas setempat, yang
dapat dilakukan dengan respon terhadap site, atau dapat juga
dengan pengunaan material setempat. Beliau terkesan dengan
ungkapan Tadao Ando: Arsitektur adalah sebuah proses dalam
mengkonstruksi tapak, Arsitektur muncul secara alamiah atau
merupakan respon terhadap tapak.
Dalam proses perancangan, Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD
cenderung menggunakan teori yang berkaitan dengan
Fenomenologi sebagai pedomannnya. Antara lain seperti teori
tentang Place, Tektonik, serta Materialitas. Berhubungan dengan
teori tentang materialitas ini, Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD
berpendapat
bahwa
ungkapan
arsitektur
harus
dapat
disampaikan seefektif mungkin melalui penggunaan material
seminimal mungkin. Dalam hal ini arsitek harus pandai mengolah
material yang minim agar dapat memperoleh pengungkapan
arsitektur maksimal.
Pendekatan Perancangan
Pendekatan perancangan yang dilakukan Ir. Achmad D. Tardiana,
MUDD dapat berbeda-beda di tiap-tiap proyek. Pendekatan
tergantung pada karakter atau spesifikasi proyek tersebut, selain
juga tergantung pada permintaan atau karakter klien (owner).
Pendekatan tersebut antara lain dapat melalui preseden
arsitektur, ekologi, penggunaan material, serta bentuk.Mengenai
preseden arsitektur, menurut Ir. Achmad D. Tardiana merupakan
pendekatan yang paling dekat atau cepat didapatkan oleh
arsitek. Hal ini disebabkan karena kita sebagai arsitek selalu
berhubungan dengan dunia luar dalam memperoleh informasi
mengenai arsitektur, baik secara langsung (melihat), atau
melalui media. Hal tersebut kemudian secara tidak sadar
tertanam dalam benak arsitek yang pada saat merancang, yang
secara tidak sadar pula, kembali muncul sehingga dapat
membantu menghasilkan ide-ide dalam merancang.
Berhubungan dengan preseden arsitektur ini Ir. Achmad D.
Tardiana kemudian berpendapat bahwa sangat sulit untuk
menjadi original dalam hal arsitektur, karena kita selalu
berhubungan dengan preseden-preseden tersebut, yang
kemudian secara tidak sadar mempengaruhi kita dalam
menghasilkan sebuah ide.

Pendekatan yang paling sering atau umum digunakan oleh Ir.


Achmad D. Tardiana sehubungan dengan teori yang digunakan
sebagai pedoman (bahwa arsitektur harus dapat memberikan
kontribusi positif terhadap lingkungan) adalah bagaimana kita
mempertimbangkan
persoalan-persoalan
lingkungan
sehubungan dengan didirikannya sebuah bangunan.
Hal ini dapat kita lihat pada saat Ir. Achmad D. Tardiana
berpartisipasi pada sayembara perancangan kantor pusat WWF
di Jakarta. Beliau menggunakan pendekatan arsitektur hijau
dalam perancangannya. Adapun penerapan arsitektur hijau
dalam rancangan adalah:

Dengan menggunakan bangunan pilotis


Mempertahankan vegetasi eksisting
Penggunaan energi pasif (solar cell sebagai energi listrik)
Proses recycle, dalam hal ini pengolahan air hujan.
Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD juga melakukan pendekatan
melalui penggunaan material pada saat merancang. Seperti
telah disebutkan diatas, beliau berusaha meminimalkan
penggunaan
material
untuk
mengungkapkan
ungkapan
arsitektur semaksimal mungkin.
Selain beberapa pendekatan tersebut, sehubungan dengan
ketertarikan Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD dalam bidang
perkotaan, beliau juga melakukan pendekatan secara urban
(perkotaan). Dalam setiap rancangannya, yang berhubungan
dengan konteks perkotaan, selalu dihubungkan dengan dimensidimensi perkotaan. Dalam hal ini, sesuai dengan pendapat Ir.
Achmad D. Tardiana, MUDD mengenai respon terhadap
lingkungan, bangunan harus dapat memberikan kontribusi positif
terhadap kota.
Proses Perancangan
Adapun proses perancangan yang dilakukan Ir. Achmad D.
Tardiana sehubungan dengan teori serta pendekatan yang
dimilikinya antara lain:

Memahami program, termasuk juga


memahami klien (karakter maupun keinginan
teradap bangunan).Yang dimaksud disini adalah
bagaimana menghubungkan kelompok-kelompok
kegiatan, memahami keinginan-keinginan serta
tujuan klien, yang nantinya temanifestasi dalam
kebutuhan ruang. Pada saat pemahaman terhadap

program ini, sudah muncul gagasan-gagasan ke


arah mana arsitektur bangunan dikembangkan
(gambaran kasar mengenai desain).

Pemahaman terhadap lokasi (menurut Ir.


Achmad D. Tardiyana paling penting).Bertujuan
untuk memunculkan gagasan mengenai bentukbentuk arsitektural, bentuk-bentuk ruang yang
lebih jelas.Hal ini biasanya dilakukan dengan
melihat langsung kondisi site, sehingga dapat
memahami potensi serta kekurangan site. Namun
apabila terdapat keterbatasan-keterbatasan,
dapat dilakukan dengan melihat peta garis, foto
udara, atau foto-foto survey.

Kemudian sebelum masuk ke proses desain,


menjalin antara gagasan-gagasan (yang muncul
pada saat pemahaman program) dengan potensi
serta ide yang didapatkan pada saat melihat site.
Sehingga pada akhirnya muncul gagasan-gagasan
yang lebih fix yang kemudian dituangkan dalam
proses desain lebih lanjut.

9. Eko Purwono (1962...)

Konsep Desain: Pragmatic Arsitektur, Menggali Lebih


Dalam Nilai-Nilai Lokal
Sekilas tentang Ir. Eko Purwono, Ms. Arch. S
Eko Purwono, sosok arsitek yang dikenal selain sebagai seorang
dosen jurusan Arsitektur (kira-kira sudah 29 tahun) di Intitut

Teknologi Bandung juga dikenal aktif di Dewan Pendidikan Kota


Bandung dan menjabat sebagai Ketua Yayasan MP2I (Masyarakat
Pemerhati Pendidikan Indonesia). Karakternya yang dapat
dikatakan kritis dalam mengutarakan pendapatnya terutama
terhadap dunia pendidikan di Indonesia menggambarkan
komitmen Eko Purwono sebagai sosok seorang pendidik serta
sebagai arsitek yang memiliki prinsip yang kuat dan dikenal di
kalangan komunitas arsitektur baik dari dunia akademisi dan
praktisi.
Pandangan Tentang Manifesto Arsitek International
Menurut Eko Purwono, yang dikenal sebagai ahli di bidang
Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur, bahwa biasanya yang senang
ber-manifesto
adalah
arsitek-arsitek
muda
(penulis
mengartikannya dengan arsitek yang berusaha mencari
identitas) dan yang paling menyukai manifesto itu adalah arsitekarsitek italy pada tahun 1919 (jika dibandingkan dengan arsitek
Amerika dan Inggris) dan, Eko Purwono juga menambahkan
bahwa arsitek dalam berkarya terkadang tidak memiliki konsep
atau memakai konsep tetapi tidak dapat menceritakan konsep
tersebut, dan Eko Purwono memberi gambaran manifesto yang
dilakukan oleh Peter Eisenman, dimana Eisenman mencoba
mengganggu tatanan yang sudah ada dan kemudian mampu
merumuskan kembali secara akademik setelah itu dijadikan
sebagai salah satu sarana menawarkan karya Eisenman kepada
masyarakat.
Pandangan Tentang Manifesto Arsitek Indonesia
Arsitek Indonesia sebaiknya memiliki manifesto yang murni
dibuat oleh arsitek itu sendiri agar betul-betul terdapat
perenungan, pemahaman dan kesadaran yang penuh dalam
pencarian identitasnya. Dengan demikian, autobiografi/monograf
yang dihasilkan tidak hanya sekedar berisi kronologis perjalanan
hidup dengan daftar karya-karya yang dihasilkan pertahunnya
tanpa menyertakan visi dan pesan yang ada dibalik masingmasing karya tersebut. Disini Eko Purwono menambahkan,
arsitek-arsitek muda juga sebaiknya dapat menggali lebih dalam
nilai-nilai lokal (local knowledge, local identity, local culture)
sehingga menghadirkan desain Arsitektur yang berkarakter lokal
.
Pendekatan Perancangan
Secara umum pendekatan perancangan yang dilakukan Eko
Purwono dapat berbeda-beda di tiap-tiap proyek tergantung dari
karakter proyek tersebut, kemudian Eko Purwono memasukkan

nilai-nilai lokal (local knowledge, local identity, local culture) yang


digabungkan dengan material dan teknologi yang tersedia pada
daerah setempat sehingga mampu menghadirkan desain
Arsitektur yang berkarakter dan bermakna. Mengenai preseden
arsitektur, menurut Eko Purwono merupakan pendekatan yang
paling dekat atau cepat didapatkan oleh arsitek. Hal ini
disebabkan karena kita sebagai arsitek selalu berhubungan
dengan dunia luar dalam memperoleh informasi mengenai
arsitektur, baik secara langsung (melihat), atau melalui media.
Hal tersebut kemudian secara tidak sadar tertanam dalam benak
arsitek yang pada saat merancang, yang secara tidak sadar pula,
kembali muncul sehingga dapat membantu menghasilkan ide-ide
dalam merancang.
Sebagai seorang arsitek, Eko Purwono sangatlah akomodatif
terhadap keinginan dari para pemberi tugas. Tujuannya
mendesain adalah membuat sesuatu yang bisa bermanfaat bagi
orang lain. Jadi desain - desain yang ada pada proses awal
proyek, bisa saja berubah pada akhirnya. Sesuai dengan
komunikasi yang terjadi antara arsitek dan klien selama proses
desain terjadi.
Dalam menentukan layout dari sebuah desain disesuaikan
dengan kebutuhan yang ada, hal ini tergantung dari pemberi
tugas. Misalnya untuk bangunan rumah sakit didasarkan kepada
kebutuhan fasilitas yang akan disediakan, pada kantor
disesuaikan dengan jenis kantor yang diinginkan berdasarkan
standar - standar yang baku. Sebelum masuk ke perihal desain
terlebih dahulu haruslah mempelajari dan mengetahui kondisi
masyarakat sekitarnya, kondisi alam dimana bangunan itu akan
berada. Bagaimana
nantinya
bangunan tersebut
akan
mempengaruhi lingkungan tempat dia berdiri, diusahakan
seminimal mungkin agar tidak minimbulkan efek negatif
terhadap lingkungan. Eko Purwomo sangat consern pada konteks
lokal, budaya, dan alam lingkungan sekitar.

10. Isandra Matin Ahmad (1962...)

Konsep Desain: Respon Estetik dari Sekuensi Pengalaman


Pengamat
Visual
Arsitektur
2)
(lihat cacatan kaki tentang respon estetik dan respon kritis)
Arsitektur Andra Matin adalah arsitektur yang sinematik.
Arsitektur sebagai sebuah peristiwa ditata ke dalam alur
pengalaman yang tersusun dalam sekuens, sehingga
pemahaman/apresiasi (pemahaman mungkin bukan kata yang
tepat) akan keseluruhan cerita ditunda, tidak terpahami
langsung dalam waktu yang bersamaan. Jika arsitektur pada
umumnya telah menstandarkan atau mendatarkan emosi dengan
cara menghilangkan ekstrim dari spektrum emosi manusia, maka
arsitektur Andra Matin memaksa kita meminjamkan emosi kita,
dan meletakkannya di sana. Ia terasa hadir justru bukan sematamata dari eksistensi materialnya, melainkan pada imaji-imaji dan
perasaan-perasaan yang ditimbulkan pada yang mengalaminya.
Dengan demikian, ia membuat kita merasakan adanya
keterikatan pada tempat, waktu, dan terutama pada diri kita
sendiri,
secara
lebih
kuat
dan
bermakna.
Catatan
(2)
Dalam mengamati sebuah karya, baik karya arsitektur maupun
karya seni visual, secara teoritik ada dua jenis respon, yaitu
respon estetik dan respon kritis/kritik. Respon estetik
adalah respon emosional dan hal ini berbeda dengan respon
kritis yang bermuara ke pemahaman/apresiasi tentang apa yang
diamati.
Nampaknya
konsep
desainnya
filosofi
yang
mementingkan pengalaman user (pemakai) filosofinya adalah
user oriented design.
Isandra Matin Ahmad adalah seorang arsitek yang karyakaryanya menerima banyak penghargaan sejak mendirikan

Andra Matin Architects pada tahun 1998. meraih IAI (Ikatan


Arsitek Indonesia) Award pada tahun 1999 dan 2002 untuk
Gedung kantor Le Bo Ye Graphic Design dan Gedung Dua8 di
Kemang, Jakarta Selatan. Untuk itu juga pada tahun 2007
Walpaper Architecture Directory menobatkan Andra Matin
sebagai salah satu arsitek, dari 101 arsitek dunia, yang paling
berkiprah di tahun 2007. Terakhir, pada tahun 2008 Pak Andra
kembali berhasil menyabet 3 piala dari 7 penghargaan yang ada
pada
IAI
Award.

Biodata
Nama : Ir. Isandra Matin Ahmad
Lahir : Bandung 1962

Pendidikan dan karir :


1988 Lulus dari Universitas Parahyangan, Bandung
1990-1998 Bekerja di PT. Grahacipta Hadiprana, Jakarta
1998 Mendirikan Andra Matin Architect (AMA), Jakarta
Telah mengajar di Universitas Indonesia, Universitas
Parahyangan, Institut Teknologi
Bandung dan Universitas Tarumanagara.
1998 Proyek Le Bo Ye Graphic Design Office, Jakarta Selatan
1999 Proyek Paper Gallery, Bandung
1999 Gedung Dua8 Ethnology Museum, Kemang, Jakarta
Selatan
2001 Proyek Aksara Bookstore, Kemang, Jakarta Selatan
2002 Proyek Ramzy Gallery, Bangka, Jakarta Selatan
2005 Pameran Bienalle

Award:
1.

1999 Penghargaan IAI untuk proyek Gedung


kantor Le Bo Ye Graphic Design dan Gedung Dua8
Kemang, Jakarta Selatan.

2.

2002 Penghargaan IAI untuk proyek Gedung


kantor Le Bo Ye Graphic Design dan Gedung Dua8
Kemang, Jakarta Selatan

3.

2006 Penghargaan IAI DKI Jakarta untuk proyek


Conrad Chapel di Bali yang dirancangnya bersama
Antony Liu dan Ferry Ridwan

4.

2006 Penghargaan IAI DKI Jakarta untuk proyek


rumah tinggal di Kuningan, Jakarta Selatan

5.

2006 Penghargaan IAI DKI Jakarta untuk proyek


kantor Javaplant di Tawangmangu, Jawa Tengah

6.

2007 terpilih sebagai salah satu arsitek dari 101


arsitek baru dunia paling berkiprah di tahun 2007
versi' walpaper* architecture directory.

11. Budi Pradono (1970....)

Konsep Desain: arsitektur hijau

Budi Pradono adalah seorang arsitek muda yang memenangkan


banyak penghargaan lewat konsep arsitektur hijau. Pada tahun
2005 karyanya pernah diliput a+u, majalah arsitektur dan
urbanisme Jepang yang menjadi benchmark bagi para arsitek.
Bukan saja karena publikasi tersebut selalu mengangkat isu
terkini dan menampilkan karya spektakuler arsitek dunia, tapi
juga karena penyebarannya yang mendunia.
Menurut Budi profesi arsitek saat ini sedang mengalami tekanan
yang kuat untuk melakukan perubahan besar dalam metode
merancang dan juga melakukan absorbsi teknologi yang cepat
agar dapat menghasilkan rancangan yang kontemporer yang
berorientasi pada Arsitektur Hijau (green architecture), yang
lebih tanggap pada isu-isu lingkungan. Saat ini Best Practice
selalu dikaitkan dengan etika arsitek dalam mengantisipasi
pemanasan global, penghematan energi, dan pengelolaan
lingkungan yang lebih bertanggungjawab.
Saat menjelaskan tentang green design, Budi Pradono
menggunakan contoh-contoh dari desain yang ia hasilkan, baik
yang menurutnya green atau tidak green. Profesi arsitek
dewasa ini menuntut kita untuk melihat green sebagai kesatuan
dalam desain bangunan, dimana sekarang ini banyak award
khusus diberikan pada bangunan yang green dengan berbagai
kriteria. Green dapat diinterpretasikan sebagai sustainable
(berkelanjutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high
performance building (bangunan dengan performa sangat baik).
Ukuran green ditentukan oleh berbagai faktor, dimana terdapat
peringkat yang merujuk pada kesadaran untuk menjadi lebih
hijau.
Budi Pradono menjelaskan tentang konsep green dalam
rancangannya melalui contoh, misalnya pada rancangan
Bloomberg Office, dimana diterapkan desain yang mendukung
pencahayaan alami dapat bermanfaat untuk keseluruhan lantai
kantor, penggunaan alat yang dapat mendeteksi cahaya alami
untuk mengurangi penggunaan pencahayaan buatan, yang
merupakan salah satu contoh efisiensi pencahayaan.
Biodata
Nama : Budi Pradono
Lahir : Salatiga, Jawa Tengah 1970

Pendidikan dan karir


1995
lulusan Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana,
Yogyakarta
1995 1996
Bekerja di Biro Arsitek Beverley Garlick
Architects, Sydney
1996 1999
Bekerja di Konsultan Desain Internasional

1999
Mendirikan Biro Arsitek Budi Pradono
1999 2000
Mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas
Indonesia, Jakarta
2000 2002
Bekerja di Kengo Kuma & Associates, Tokyo
2002 2003
Menyelesaikan program Pasca Sarjana di
Berlage
Institute,
laboratory
of architecture, Rotterdam
Award

1993 Meraih Juara kedua untuk Dani Tropy in the


National Student Architecture Competition.
Conservation Of The Dani tribe settlement, Irian Jaya,
Indonesia

1993 Pemenang hadiah utama dari National


Architectural Design Competition for the Loji Kecil Area
of Yogyakarta

2000 Penghargaan sebagai Arsitek Muda Berbakat


dalam The Bunka Cho fellowship (Japan Architecture
Institute)

2000 Finalis The City for All Desain Kota Dirgantara


Halim, Jakarta

2004 Pemenang Proyek Leisure Future Project, City


Scape Architectural Review Award Dubai for Restaurant
at Jimbaran, Bali

2004 Pemenang Proyek komersial, City Scape


Architectural Review Award Dubai for Tetaring
Kayumanis Restaurant Nusa Dua, Bali

2005 Meraih Juara ketiga One Stop Shopping Gallery


Jakarta Kota, Architectonia Indonesia Design Magazine

200 Honourable mention, Penghargaan AR untuk


Emerging Architecture, London

12. M. Ridwan Kamil (1971...)

Konsep Desain: Analogi dalam Sebuah Karya Arsitektur


Ada 4 teori yang selalu dipakai oleh Ridwan Kamil dalam
merancang :
1. Teori Analogi. Dalam merancang sebuah ruang
diperlukan nilai-nilai, simbol yang merupakan analogi dari
bangunan tersebut. Dengan merespon terhadap konteks
yang ada, mencari sesuatu yang unik dari poyek yang ada.
Dengan analogi bisa membuka cakrawala kemungkinankemungkinan bentuk yang baru.
2. Teori Folding. Rancangan suatu ruang bisa dihasilkan dari
proses melipat. Membuat proses membentuk dengan
melipat sebelum membuat denah bangunan.
3. Green Architecture
4. Creating Programming, Isi dari suatu ruang atau lay out
dari sebuah ruang menjadi expresi luar dari bangunan
M. Ridwan Kamil termasuk tipe arsitek Non Signature Architect
dimana dalam merancang/ mendesain, desainnya tidak dapat
ditebak karena stylenya berubah-ubah. Menurut M. Ridwan

Kamil, teori arsitektur selalu menjadi dasar bagi rancangan karya


arsitekturnya karena dengan adanya dasar teori, karya arsitektur
yang dihasilkan memiliki nilai lebih tinggi. M. Ridwan Kamil
hampir selalu menggunakan dasar analogi dalam beberapa
karyanya. Baginya analogi merupakan suatu cara
menghubungkan karya arsitektur dengan konteksnya. Dengan
dasar analogi konteks bisa berarti budaya, spirit, ciri khas,
sampai philosofi. Dengan dasar analogi juga akan membuat
argumentasi desain bisa dipahami oleh klien, membuat kita
sebagai arsitek tertantang mencari cara baru dalam
menginterpretasikan sebuah desain. Bagi M. Ridwan Kamil
semua projet harus ada ceritanya. Dengan adanya analogi akan
membuat sebuah cerita bagi project tersebut.
Studi Kasus
Gerbang Kemayoran
Analogi Experimental dijadikan dasar teori dari gerbang
kemayoran. Menghasilkan sebuah gerbang seolah-olah sebuah
gapura tapi bukan benda fisik. Konsep rancangan gerbang
kawasan kemayoran ini didasarkan pada aplikasi yang fleksibel
dari media-media non-arsitektural, seperti cahaya, lampu, dan
air. Hal ini dimaksudkan agar suasana gerbang bisa terjadi
secara dramatis dan bisa diatur berdasarkan kegiatan-kegiatan di
Kemayoran yang dapat berubah-ubah (event-based effects).
Efek ruangan yang terjadi antara lain bisa berupa efek langitlangit virtual dengan aplikasi deretan lampu sorot. Bisa juga
berupa efek awan menggantung dengan aplikasi buih air tekanan
tinggi dan bisa berupa efek hutan bintang dengan aplikasi titiktitik lampu spot yang acak.
Konsep portal cahaya ini dirancang dengan menempatkan titiktitik lampu di ujung tiang-tiang vertikal primer yang berbaris rapi.
Pancaran cahaya dari deretan lampu yang dipasang di kiri dan
kanan poros jalan utara-selatan itu secara unik akan membentuk
dinding langit-langit virtual yang dibentuk cahaya
Konsep kapono awan dirancang dengan menempatlan titik-titik
lubang air bertekanan tinggi pada tiang-tiang sekunder yang
melengkung natural. Tekanan tinggi ini diatur sedemikian rupa
sehingga air yang keluar hanya berupa buih-buih yang tipis dan
transparan.
Dikarenakan dirancang dengan jumlah cukup banyak, kumpulan
buih air ini secara bersamaaan akan membentuk awan raksasa
yang meneduhkan sekaligus mendinginkan iklim mikro ruang di
bawahnya.
Adapun konsep
hutan
bintang ini dirancang
dengan
menempatkan titik-titik lampu spot pada tiang-tiang sekunder

yang melengkung natural. Kumpulan lampu-lampu ini yang


diletakkan secara acak membentuk efek yang mengingatkan
pada bintang-bintang di langit.
Kawasan gerbang ini juga dirancang tidak hanya untuk efek
visual semata, tetapi juga diskenariokan untuk dapat
menstimulasi kegiatan-kegiatan pedestarian yang positif.
Kegiatan seperti bermain, duduk istirahat, dan jalan kaki
diharapkan hadir di area kawasan gerbang ini.
Bakri JSX
Bangunan Bakri JSX adalah kantor pusat saham pada area
Rasuna Epicentrum. Bentuk kumpulan uang recehan menjadi
dasar analogi dari bangunan ini.
Hotel Sahid Perdana
Pemilik dari proyek hotel Sahid Perdana ini menginginkan
arsitektur jawa. Menurut Ridwan Kamil arsitektur jawa itu bukan
bentuk Joglo tapi spiritnya. Sehingga diambil analogi dari lotus
kembar, yang merupakan spirit budaya jawa. Teratai kembar ini
jika terkena air surut atau pasang selalu kompak mengikuti
pergerakan air tersebut.
Gramedia Expo Surabaya
Teori yang menjadi dasar bangunan ini adalah teori folding,
dimana proses rancangan suatu ruang dihasilkan dari proses
melipat sebelum membuat denah bangunan
Depkop Convention Hall
Teori yang menjadi dasar bangunan ini adalah teori folding.
Curiculum Vitae
Name :M. Ridwan Kamil, ST., MUD
Address: Jl Dago Pojok 1/6, Bandung
Tempat / Tanggal Lahir: Bandung, 4 October 1971
Kantor: Jurusan Arsitektur ITB, Ganesha 10 - Bandung 40132
Urbane Indonesia
Riwayat Pendidikan
Master of Urban Design, College of Environmental , Design,
University of CaliforniaBerkeley, USA, 2001
Bachelor of Architecture at the Institute of
Technology Bandung (ITB), Indonesia, 1995
National University of Singapore, 1994
Riwayat Pekerjaan

1997 1999: Junior Architect, HOK Architects (New


York)

2000 2003: Senior Architect & Urban Designer, SOM


Architects (San Francisco & Hongkong)

2003 Sekarang: Senior Urban Deisgn Consultant for


EDAW San Francisco & EDAW Asia

2003 Sekarang: Principal, Senior Architect, Senior


Urban Desinger PT. Urbane Indonesia.

M. Ridwan Kamil adalah salah satu sosok yang sangat


menghargai
kehidupan,
baginya
hidup
ini
hanya
sekali. Sehingga dalam kehidupan ini kita harus bermanfaat bagi
orang lain. Karena itu selain sebagai arsitek profesional, beliau
juga adalah seorang dosen dimana dengan menjadi seorang
dosen, Moh. Ridwan Kamil bisa membagikan ilmu kepada semua
orang.