Anda di halaman 1dari 30

REVERSE OSMOSIS

Edward Cantona Taufan 21030112140143


Heri Cahyono
Yessi Frenda Pravita

21030112140159
21030112120014

PERKEMBANGAN
TEKNOLOGI
REVERSE
OSMOSIS

PENGARUH TEKANAN UMPAN TERHADAP


KUALITAS KERJA REVERSE OSMOSIS

PENGARUH KONSENTRASI NACL PADA FEED


TERHADAP KUALITAS KERJA REVERSE
OSMOSIS

PENGARUH SUHU UMPAN TERHADAP TERHADAP


KUALITAS KERJA REVERSE OSMOSIS

MEMBRANES AND MATERIALS

Cellulosic Membranes

Noncellulosic Polymer
Membranes

Interfacial Composite
Membranes

Other Membrane Materials

KATEGORI MEMBRAN RO
Desalinasi air laut dan air payau, dengan
%w 0.5-5% garam, tekanan 200-1000psi
Membran Nanofiltrasi bertekanan rendah,
konsentrasi garam 200-5000ppm dan tekanan 100200psi
Membran Hyperfiltrasi, digunakan untuk memisahkan
solute dari larutan solven organik

PERBANDINGAN PERFORMA
BEBERAPA JENIS MEMBRAN

MEMBRAN UNTUK
DESALINASI AIR LAUT
DAN AIR PAYAU
Dari diagram, nilai NaCl rejection dengan fluks
yang besar adalah membrane Crosslinked
Polyether. NaCl rejection harus bernilai minimal
99% agar desalinasi hanya berlangsung satu
kali stage
Untuk air payau, desalinasi berfungsi untuk
konversi 80-90% air dari feed, permeat berupa
air yang sudah terdesalinasi dengan
konsentrasi garam 200-500ppm dan
konsentrat berupa air yang lebih asin
diinjeksikan kembali ke dalam tanah,
disalurkan ke kolam evaporasi, atau dibuang
kembali ke laut

MEMBRAN NANOFILTRASI
Membran dengan penolakan NaCl yang lebih kecil namun permeabilitas
air lebih besar dibandingkan RO murni.
NF merupakan transisi Antara RO murni dan UF murni, disebut juga loose
RO atau low-pressure RO
Dapat memblok NaCl Antara 20-80%
Terbagi tiga, Netral, Anionik, dan Kationik

MEMBRAN UNTUK PEMISAHAN


SOLVEN ORGANIK
HYPERFILTRASI

Masih terbilang baru namun prospeknya menjanjikan


Pemisahan bahan organik sulit karena tekanan osmosisnya tinggi dan
membutuhkan membrane yang bersifat solvent-resistant dan stabil
secara mekanis, namun juga cukup permeable agar nilai fluks tinggi
Setiap jenis solvent membutuhkan membrane yang berbeda juga,
sehingga ini lebih sulit ketimbang RO konvensional, sudah cukup banyak
paten tentang hal ini

SELEKTIVITAS MEMBRAN
1. Ion multivalent lebih mudah tertahan dibanding monovalent.
2. Gas yang terlarut seperti amoniak, karbon dioksida, sulfur dioksida,
oksigen, klorin, dan hydrogen sulfide selalu menjadi permeat
3. Rejection asam dan basa lemah tergantung pada pH-nya. Jika
berbentuk ion, rejection akan tinggi, begitu juga sebaliknya
4. Rejection dari larutan organik yang bersifat netral naik dengan
besarnya berat/diameter molekul
5. Koefisien rejection yang bernilai negative berarti konsentrasi larutan
permeatnya lebih besar dari feed

FOULING? MENGAPA
MERUGIKAN?
Fouling membrane adalah penyebab utama penurunan fluks dan kualitas
produk dalam system RO. Sehingga pengendalian fouling menjadi sangat
penting dalam desain system RO
Penyebab dan pencegahannya sangat bergantung pada feed air, setiap
plant akan mempunyai prosedur yang berbeda
Sumbernya dapat dibagi menjadi 4: kerak, endapan, bakteri, dan bahan
organik
Pengendalian fouling harus didahului dengan pre-treatment air feed untuk
meminimalisasi fouling, selain itu juga harus dilakukan pembersihan
secara rutin

SCALING (KERAK)
Disebabkan oleh presipitasi garam-garam terlarut dari logam di feed yang
terletak di permukaan membrane
Air tanpa garam dihilangkan di permeat, konsentrasi ion di feed naik hingga
titik tertentu dimana kelarutannya sudah melebihi batas, akibatnya garam
akan terendapkan di permukaan membrane dan membentuk kerak
Garam-garam yang membentuk kerak umumnya ialah kalsium karbonat,
kalsium sulfat, silica kompleks, barium sulfat, stronsium sulfat, dan kalsium
fluorida.
Pengendaliannya kompleks, tergantung pada air feed, tiap jenis garam
mempunyai cara pengendalian yang berbeda, contohnya kalsium karbonat
dengan pengasaman feed atau ion exchange yang menukar ion kalsium ke
natrium

ENDAPAN (SILT)
Terbentuk dari partikulat tersuspensi yang terakumulasi di permukaan
membrane, biasanya berupa koloid organik, produk besi yang terkorosi,
endapan besi hidroksida, alga, dll.
Indikatornya yaitu SDI (Silt Density Index). Jika nilai SDI <1 maka RO
dapat berfungsi selama beberapa tahun , jika <3 RO dapat berfungsi
selama beberapa bulan dengan pembersihan rutin, jika 3-5 pembersihan
harus dilakukan sangat rutin, dan jika >5 harus dilakukan pre-treatment
seperti koagulasi-flokulasi dan filtrasi sebelum ke system RO

BIOFOULING DAN ORGANIC


FOULING
Adanya pertumbuhan bakteri di permukaan membrane. Membran rawan
biofouling jika komposisi membrannya cocok sebagai nutrient bakteri,
contohnya cellulose acetate, yang mudah sekali rusak bila pertumbuhan
bakteri tidak dikontrol
Organic fouling terjadi karena keberadaan material yang terbawa oleh
feed seperti minyak atau pelumas, biasanya terjadi pada industry yang
menggunakan RO untuk treatment effluent stream. Penghilangan
material organik dari feed dengan cara filtrasi dan adsorpsi karbon harus
dilakukan

Diagram alir yang menunjukkan


langkah-langkah dalam treatment air
laut menggunakan RO

MEMBRANE CLEANING
Berdasarkan pada komposisi kimia umpan, tipe membran, tipe
fouling
Caranya:
a. Meng-resirkulasi larutan pembersih dengan kecepatan tinggi
kedalam membran
b. Merendam membran
Sterilisasi diperlukan untuk mengkontrol pertumbuhan bakteri.
Misalnya dengan formaldehida, peroksida atau klorinasi umpan
Pembersihan membran dapat menggunakan asam, basa,
chelatants, deterjen atau produk terformulasi.

MEMBRANE CLEANER
Asam efektif menghilangkan zat-zat pengkerak. Perhatikan ph agar
asam tidak menghidrolisa membran. Asam oksalat dapat
mengatasi deposit besi
Chelatant, misal EDTA, menghilangkan kalsium, magnesium,
barium sulfat
Basa dengan surfaktan dapat menghilangkan bakteri, lumpur
dan endapan
Deterjen dengan enzim menghilangkan biofoulant dan beberapa
organics foulant
Produk terformulasi merupakan campuran beberapa pembersih.
Banyak diproduksi karena pemakaiannya lebih luas

APLIKASI
50% untuk desalinasi
40% untuk memproduksi ultrapure water (bidang
elektronik, farmasi, power generation industries)
10% untuk mengolah polusi, pengolahan pangan, dll

PERBANDINGAN
BIAYA TEKNOLOGI
DESALINASI
Elektrodialisis dan ion exchange
untuk umpan berkonsentrasi
garam rendah
Evaporasi untuk umpan dengan
garam berkonsentrasi tinggi
Untuk konsentrasi garam 300010000ppm RO merupakan
teknologi dengan biaya
terendah

DESALINASI AIR PAYAU

DESALINASI AIR PAYAU


Air payau memiliki kadar garam 2000-10000mg/L sedangkan kadar
garam air minum hanya 500mg/L. Karena itu 90% garam harus dibuang
Tekanan osmotik sebesar 11psi per 1000 ppm salt
Diasumsikan air umpan bercampur suspended solid, sehingga perlu
flokukasi dan filtrasi. Diikuti pengaturan ph, klorinasi untuk sterilisasi dari
bakteri, antiscalant mencegah pengendapan garam multivalent dalam
membran. Jika membran yang digunakan sensitif klorin, perlu
pretreatment dengan sodium sulfite untuk menghilangkan klorin berlebih.
Diperlukan lebih banyak pretrearment jika menggunakan hollow fiber
module dibandingkan spiral wound module.
Pemasangan module secara paralel seperti pohon menyebabkan
kecepatan aliran tinggi di setiap modulenya.

DESALINASI AIR LAUT


Karena memiliki salinitas tinggi
(3.2-4%) diperlukan membran
dengan salt rejection sebesar
99.3% dalam single pass
Membran yang banyak digunakan
merupakan pengembangan dari
polyamide hollow fine fibers dan
interfacial composite
Desalinasi dengan membran
hanya kompetitif untuk kapasitas
1-10 milion gal/day

ULTRAPURE WATER

Umpan berupa air minum


Sistem pengolahan dilengkapi:

Adsoprsi karbon untuk menyerap dissolved organics

Ion exchange untuk menghilangkan ionic impurities

UV untuk steriliasi

ULTRAPURE
WATER

WASTEWATER TREATMENT

Wastewater mengandung 2000-3000ppm nikel. Merugikan bagi


lingkungan dan kehilangan nikel

Bisa diolah dengan RO karena ph nya netral, menghasilkan 20-50ppm


nikel.

Sudah diaplikasikan di Jepang dan US

NANOFILTRASI
Partikel dengan berat molekul diatas 100-200, konsentrasi garam
dibawah 1000-2000ppm
Tekanan rendah (50-150 psig)
Menghilangakn kontaminan dari air yang cukup bersih
Contohnya
Perumahan di California Selatan yang memiliki 700ppm dissolved solid
diolah dengan spiral wound nano filtration module
Sebagai pretreatment untuk memproduksi ultrapure water
Menghilangkan sulfat dan kation divalen pada air perkotaan

ORGANIC SOLVENT SEPARATION

Cara konvensional menghabiskan banyak energi karena


hanya menggunakan distilasi vakum

KESIMPULAN
Prospek RO dalam jangka pendek sangat bagus
Selama 20 tahun terakhir biaya desalinasi dengan membran terus
menurun
Perlu pengembangan dalam menghadapi fouling, preteratment dan
membrane cleaning
Fouling dapat dikendalikan dengan pretreatment air umpan dan
membrane cleaning
Tantangan membran RO adalah kompleksitas, biaya, dan ketersediaan
yang sulit
Masih terbukanya celah pengembangan pada separasi zat terlarut
organik dari air