Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Demam Dengue (DD) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit ini adalah penyakit yang menggunakan nyamuk
Aedes aegypty dan Aedes albopictus sebagai vektor dan biasa menginfeksi manusia pada siang
hari. Gejala klinis dari DD beragam, antara lain adalah demam, nyeri sendi dan otot, mual,
muntah, nyeri kepala, nyeri belakang bola mata, ruam, hingga penurunan kesadaran yang
diakibatkan oleh kebocoran plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock
syndrome, DSS) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan syok.
Indonesia adalah salah satu daerah endemis DD dan DBD. Dari tahun 1968-2017
dei[eroleh kecenderungan peningkatan insidens DBD. Sejak tahun 2004, Indonesia merupakan
negara dengan laporan kasus infeksi virus Dengue terbanyak. Peningkatan jumlah ini diiringi
dengan penurunan mortalitas DBD dari 3,4% (1985) menjadi 1% (2006).
Diagnosis DD dan DBD dapat dilakukan dengan memperhatikan riwayat tinggal atau
bepergian ke daerah endemis, manifestasi klinis dan pemeriksaan penunjang seperti rumple
leede, darah perifer lengkap untuk melihat neutropenia, trombositopenia, dan peningkatan
hematokrit hingga pemeriksaan serogoli untuk memeriksa kadar NS1Ag dan IgM anti Dengue.
Penatalaksanaan DD dan DBD adalah dengan memberikan terapi simptomatis dan
memonitor dengan ketat terhadap timbulnya DSS. Timbulnya DSS harus dikenal dengan cepat
dengan melakukan pemeriksaan hematokrit dan trombosit secara teratur. Apabila terjadi DSS,
penatalaksanaannya diutamakan untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit karena terjadi
kebocoran plasma.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas pasien
Nama

: Ny. R

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 47 tahun

Alamat

: Golokan Kendal RT 04 RW 01 Kel. Pantai Bahagia, Kab. Bekasi


Jawa Barat

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Status perkawinan : Menikah


Tanggal MRS

: 17 Oktober 2015

Tanggal Keluar

: 21 Oktober 2015

2.2 Anamnesis
Dilakukan secara autoanamnesis, pada tanggal 17 Oktober 2015 pukul 08.30
Keluhan utama
Nyeri kaki
Keluhan tambahan
Kaki gemetaran, nyeri badan, lemas, pusing, bengkak pada kaki
Riwayat penyakit sekarang
OS datang ke IGD RSUD Karawang pada tanggal 17 Oktober 2015 pukul 16:27 WIB dengan
keluhan nyeri dan gemetar pada kaki disertai rasa baal sejak 4 hari SMRS yang dirasa hilang
timbul. Rasa gemetaran pada kaki muncul pada saat berdiri dan jalan jauh. Nyeri dan gemetar
pada kaki disertai rasa lemas, pusing, dan terdapat bengkak pada kaki sejak 3 hari SMRS.
Demam disangkal, mual dan muntah disangkal. OS menyangkal adanya penurunan berat
badan yang drastis. OS mengaku belum pernah berobat sebelumnya.

Riwayat penyakit dahulu


OS mengakui tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Riwayat hipertensi,
diabetes mellitus, dan asma disangkal. Riwayat alergi disangkal.
Riwayat penyakit keluarga
Pada keluarga OS tidak ada yang menderita DM, hipertensi, asma dan riwayat penyakit
serupa. Riwayat adanya keganasan dalam keluarga disangkal
Riwayat pengobatan
OS tidak rutin meminum obat atau menjalani perawatan medis apapun.
2.3 Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Kesadaran

: Compos mentis, GCS E4 M6 V5

Keadaan sakit

: Sakit sedang

Kesan gizi

: TB: 155 cm BB: 50 kg


BMI: BB/(TB)2: 50/(1,55)2: 20,81 kg/m2 (normal)

Tanda vital
Tekanan darah

: 120/60 mmHg

Nadi

: 106x/menit, reguler, kuat, isi cukup, ekual

Pernapasan

: 24x/menit, reguler, tipe abdominotorakal

Suhu

: 37,6oC

Tanggal
18/10
19/10
20/10
21/10

Tabel follow up tanda vital


Tekanan Darah
Nadi
130/ 80
160/ 90
150/ 80
140/ 70

90x/m
93x/m
90x/m
91x/m

RR

Suhu

20x/m
20x/m
20x/m
20x/m

37,4 oC
37,2 oC
36,8 oC
37,9 oC

Status generalis
Kepala

: Normocephali, simetris, warna rambut hitam, rambut tidak mudah dicabut

Mata

: Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil bulat isokor, RCL (+/+),
RCTL (+/+), pergerakan mata ke segala arah baik.

Hidung

: Sekret (-), pernapasan cuping hidung (-)

Telinga

: Liang telinga lapang (+), dan nyeri tekan (-)

Mulut

: Sianosis (-), bibir pucat (-)

Leher

: KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba membesar,


JVP 5+2 cm H2O

Thoraks
Inspeksi

: Bentuk normal, simetris, warna kulit sawo matang, ikterik (-), pucat (-),
sianosis (-), tidak tampak retraksi sela iga, gerakan pernapasan simetris kiri
dan kanan, tidak ada bagian hemithoraks yang tertinggal

Palpasi

: Pergerakan dinding dada kiri dan kanan simetris, tidak ada bagian yang
tertinggal, vocal fremitus simetris kiri dan kanan baik di bagian dada

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru, batas paru dan jantung kanan setinggi ICS 3
hingga ICS 5 linea sternalis kanan dengan suara redup, batas paru dan
jantung kiri setinggi ICS 5 1 cm medial linea midclavikularis kiri dengan
suara redup, batas atas jantung setinggi ICS 3 linea parasternalis kiri

Auskultasi : Paru
Jantung

: Suara nafas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)


: BJ I dan BJ II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: Bentuk normal, mendatar, simetris, tidak buncit, warna kulit sawo matang,
ikterik (-), pucat (-), tidak terdapat efloresensi yang bermakna, gerak dinding
perut
simetris, tidak ada yang tertinggal

Auskultasi : Bising usus 6x/menit


Perkusi

: Pada ke 4 kuadran didapatkan suara timpani, shifting dullness (-)

Palpasi

: Dinding abdomen supel, tidak ada retraksi maupun defense muskular, nyeri
tekan (-), nyeri lepas (-), pembesaran hepar (-), pembesaran lien (-), murphy sign
(-), ballotement (-), undulasi (-)

Ekstremitas
Atas

: Akral teraba hangat, pucat (-), edema (-/-), ptechie (-/-) atau echimossis (-/-)

Bawah

: Akral teraba hangat, pucat (-), edema (+/+), ptechie (-/-) atau echimossis (-/-)

2.4 Pemeriksaan penunjang


Follow-up nilai laboratorium
Tang
gal
17/1
0
18/1
0
19/1
0

Hb
(mg/dl
)
2,2

Eri
(/uL)

Leu
(/uL)

Tro
(/uL)

Ht
(%)

MCV

MCH

MCHC

RDW

0,79

96

28

29

16,3

16.00
0
-

7,6

119.0
00
-

15,
1

Pemeriksaan SADT menunjukkan:


Eritrosit :normositik normokrom
Leukosit : kesan jumlah meningkat, ditemukan sel besar,
sitoplasma biru, inti kromatin halus, anak inti lebih dari 2, sel
blast 63%, Neutrofil batang 4%, Neutrofil segmen 4%, LImfosit
29%
Trombosit: kesan jumlah menurun, morfologi normal
Kesan : tersangka Leukemia Myeloid Akut (LMA)

2.5 Diagnosis kerja

Leukemia Myeloid Akut (LMA)


Anemia gravis

Diagnosis banding

Leukemia Myeloid Kronis (LMK)

Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)

Leukemia Limfoblastik Kronik (LLK)

2.6 Rencana pemeriksaan

Pemeriksaan pungsi sumsum tulang (BMP)

Immunohistokima

2.7 Penatalaksanaan

Non farmakologis
- Tirah baring

Farmakologis
- Inf. NaCl 20 tpm
- Tablet Paracetamol 3 x 500mg
- Inj. Ranitidine 2 x 50 mg
- Tranfusi PRC V kolf
Follow-up penatalaksanaan
Tanggal
18/10/15

19/10/15

20/10/15

21/10/15

Tatalaksana
Inf. NaCl 20 tpm
Inf. Paracetamol 3 x 500 mg
Inj. Ranitidine 2 x 50 mg
Inf. NaCl 20 tpm
Inf. Paracetamol 3 x 500 mg
Inj. Ranitidine 2 x 50 mg
Inf. NaCl 20 tpm
Inf. Paracetamol 3 x 500 mg
Inj. Ranitidine 2 x 50 mg
Inf. NaCl 20 tpm
Inf. Paracetamol 3 x 500 mg
Inj. Ranitidine 2 x 50 mg

2.8 Prognosis

Ad vitam

: Dubia ad Malam

Ad functionam

: Dubia ad Malam

Ad sanasionam

: Ad Malam