Anda di halaman 1dari 21

FAKTOR FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI
PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN
HEWAN PEDAGING
Oleh :
Imas Siti Setiasih

Dua hal yang terjadi pd kehidupan


hewan :
(1)terjadinya peningkatan bobot badan
sampai mencapai bobot badan hewan
dewasa yang disebut pertumbuhan
(2)terjadinya perubahan konformasi,
bentuk tubuh, berbagai fungsi dan
kesanggupannya untuk melakukan
sesuatu yang disebut perkembangan.
Kurva hubungan antara bobot badan
hewan (sapi, domba, babi) dengan
umur berbentuk sigmoid.

Bagaimana pertumbuhan &


perkembangan hewan itu ?
Pertumbuhan diawali secara lambat dahulu beberapa
saat setelah kelahiran, kemudian pertumbuhan
berlangsung cepat (pertambahan bobot badan yang
tinggi) sampai mencapai dewasa kelamin (pubertas),
sehingga fase ini disebut fase akselerasi.
Setelah kesempurnaan alat-alat reproduksi tercapai,
maka pertumbuhan hanya berupa pencapaian
bentuk, ukuran dan volume yang sesuai dengan
tuntutan kedewasaan tubuhnya. Dengan demikian,
kecepatan pertumbuhan pada fase ini mulai menurun
sampai akhirnya relatif sudah tidak ada lagi
pertumbuhan, artinya bobot badan hewan konstan
sampai akhirnya pertambahan bobot badan relatif
tidak ada, sehingga fase ini dikenal sebagai fase
perlambatan sampai mencapai fase konstan.

Pada saat berkembang, pertumbuhan


badan hewan dimulai dari kepala dan
menyebar ke badan (dari cronial ke
caudal) dan dari ujung-ujung anggota
badan ke atas (dari distal ke proximal).
Kedua gelombang pertumbuhan tsb
bertemu pada satu titik yaitu pada rusuk
terakhir.
Sekuensi perkembangan berbagai otot
daging dalam tubuh hewan
mencerminkan kepentingannya dalam
menopang kebutuhan hewan.

Ex : perkembangan jumlah otot daging dibagian


distal anggota tubuh berhubungan dengan sifat
mobilitas yang dibutuhkan untuk mencari
makanan hijauan, perkembangan otot daging
rahang berhubungan dengan kepentingannya
agar mampu mengunyah bahan makanan yang
lebih efektif.
Adanya dua gelombang pertumbuhan yang
bersamaan akan menyebabkan daerah bagian
belakang atas tubuh hewan, yaitu bagian paha,
pinggul, bokong dan iga tumbuh sempurna pada
saat paling akhir. Dengan demikian, daging di
bagian-bagian tersebut merupakan daging yang
berkualias tinggi dan lebih empuk, karena paling
akhir sekali terjadinya perubahan jaringan elastin
menjadi jaringan kolagen yang dapat
menyebabkan terjadinya kealotan daging.

Diferensiasi pertumbuhan otot daging


selanjutnya mengikuti jenis kelamin hewan.
Pada hewan jantan, otot daging leher dan
thorax tumbuh relatif cepat. Hal ini
berhubungan dengan kepentingan bahwa
hewan jantan harus mampu menghadapi
perkelahian untuk menentukan yang
dominan dalam kelompoknya.
Pada hampir semua hewan, yang betina
lebih cepat mencapai dewasa, namun yang
jantan mempunyai ukuran yang lebih besar
dan lebih berat daripada hewan betina pada
saat dewasa. Di samping itu kecepatan
tumbuh setiap bagian jaringan tubuh
berbeda, sehingga perkembangan proporsi
tubuhnyapun berbeda.

Faktor yg mempengaruhi
pertumbuhan & perkembangan
hewan
pedaging
1. Aspek Genetik
Pengaruh genetik terhadap pertumbuhan hewan
dapat diketahui dari awal kehidupan embrio.
Misalnya pada kelinci ras kecil & ras besar,
sudah ada perbedaan tingkat pembelahan sel
embrio saat 48 jam setelah pembuahan.
Bobot badan lahir sapi dan domba dipengaruhi
oleh sifat masing-masing embrio. Parameter
yang dipengaruhi adalah tingkat kegemukan
pada bobot badan karkas dalam umur yang
sama.

Perbedaan tingkat kegemukan berbagai ras


domba dan sapi pada umur yang
sama.
Lemak
Bangsa/Persilangan
Domba : Suffolk
Hampshire
Border
Poll Dorset/Dorset Horn
Romney
Chevior
Southdown
Sapi

: Jersey/Hereford
Red Poll X
South devon X
Simmental X
Charollais X
Limousin X
Chianina X

(% bobot karkas pada umur yang


sama)
32,9
33,1
33,3
33,8
34,3
34,4
38,5
22,1
21,0
20,0
15,6
15,2
15,2
13,0

Perbedaan umur fisiologis pada waktu


lahir, terutama tergantung pada waktu
pertumbuhan yang dihabiskan dalam
uterus.
Bobot lahir dipengaruhi umur, ukuran
dan status nutrisi induk, jenis kelamin,
lama perode kebuntingan (5,9 bulan
pada domba dn 4 bulan pada sapi dan
babi), dan oleh jumlah anak yang lahir.
Tanpa memperhitungkan bobot lahir,
peningkatan bobot anak babi banyak
ditentukan oleh urutan menyusui.

Anak babi yang menyusu pada putting


anterior kelenjar mammae, tumbuh paling
cepat karena jumlah pertambahan air susu
berlangsung secara seri mulai dari kelenjar
posterior ke arah kelenjar anterior.
Pada bangsa ternak yang sama, komposisi
karkas dapat berbeda.
Misalnya, sapi tipe susu cenderung
mempunyai proporsi lemak ginjal dan
pelvik yang lebih tinggi, dan proposi lemak
subkutan yang lebih rendah daripada tipe
pedaging. Perbedaan komposisi tubuh dan
karkas di antara bangsa ternak, terutama
disebabkan oleh perbedaan berat pada
saat dewasa.

Bila komposisi karkas hewan tipe besar


dibandingkan dengan tipe kecil pada berat
yang sama, maka hewan tipe besar akan
lebih lin (lean) dan lebih banyak
mengandung protein, proporsi tulang lebih
tinggi dan lemak lebih rendah daripada
bangsa tipe kecil. Perbedaan ini timbul
karena pada berat yang sama,hewan tipe
besar secara fisiologis lebih muda.
Pada umumnya bobot lahir anak dari induk
yang muda akan lebih rendah dari induk
yang dewasa, dan bobot lahir anak dari
hewan yang besar lebih tinggi daripada
induk yang berukuran kecil.

2. Aspek Lingkungan
Faktor lingkungan yang berkaitan dengan
fisiologi hewan antara lain temperatur,
iklim dan kelembaban. Temperatur dan
kelembaban yang tidak tepat dapat
menyebabkan hewan mengalami stres.
Toleransi hewan terhadap temperatur
lingkungan bervariasi, tergantung pada
species dan lingkungan hidupnya.
Diantara hewan domba, sapi dan babi;
domba adalah yang paling tahan terhadap
stres, sedangkan babi adalah yang paling
mudah mengalami stres. Kondisi panas
dan dingin yang lama dapat menyebabkan
perubahan hormonal hewan ternak.

Ternak yang hidup di daerah tropis lebih toleran


terhadap panas daripada ternak yang hidup di
daerah subtropis. Perbedaan tingkat toleransi ini
menyebabkan adanya perbedaan ketebalan
lemak di antara species. Misalnya, sapi Hereford
memiliki lemak subkutan yang lebih tebal (kirakira 20 %) daripada sapi Friesian pada ukuran
kondisi tubuh yang sebanding.
Pengaruh stres terhadap perubahan komposisi
karkas tergantung pada tingkat kondisi stres,
lama stres dan tingkat toleransi ternak terhadap
stres. Pada domba, stres dingin yang sedang,
tidak mempengaruhi deposisi protein, tetapi
menurunkan laju pertumbuhan dan sintesis
lemak. Laju sintesis protein baru terpengaruh bila
stres dinginnya ekstrim.

3. Aspek nutrisi
Nutrisi sangat mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan hewan, terutama terhadap
kadar lemak. Konsentrasi energi dan rasio
energi terhadap protein pakan, adanya bahan
aditif serta proporsi kandungan gizi pakan
dapat mengubah komposisi karkas. Respons
ternak terhadap manipulasi nutrisi yang
diberikan, juga akan menentukan komposisi
akhir dari karkas.
Pada umumnya, pemberian energi pakan yang
tinggi selama waktu tertentu pada sapi, akan
menghasilkan karkas sapi yang lebih berat
dan lebih berlemak daripada yang berenergi
rendah.

Pengaruh nutrisi terhadap komposisi karkas


melibatkan interaksi antara jumlah konsumsi dan
komposisi pakan. Kenaikan atau penurunan
konsumsi pakan, dapat berhubungan dengan
kualitas pakan, dan sebagai akibatnya dapat
mempengaruhi karakteristik daging yang
dihasilkan.
Pengaruh perbedaan perlakuan nutrisi terhadap
komposisi karkas ditunjukkan pada perbedaan
jumlah lemak karkas. Jadi, kandungan lemak
karkas pada berat potong tertentu dapat
dimanipulasi dengan mengubah kebutuhan
protein dan energi pada kondisi lingkungan
tertentu. Meskipun demikian, fungsi pemanfaatan
energi dan protein untuk pertumbuhan dan
komposisi karkas, dalam kenyataannya belum
dapat dipastikan.

4. Manipulasi eksogen
Dalam jangka waktu yang panjang karakter
hewan-hewan pedaging dapat timbul
akibat pengaruh faktor-faktor alam
(langsung atau tidak langsung), sedangkan
dalam jangka waktu yang pendek
merupakan hasil seleksi buatan manusia
untuk mendapatkan varian-varian yang
dikehendaki.
Beberapa manipulasi eksogen yang sering
dilakukan untuk mengubah pertumbuhan,
perkembangan dan produksinya melalui
kontrol reproduksi dan kontrol
pertumbuhan.

1). Kontrol reproduksi.


Kontrol reproduksi terutama dilakukan pada hewan
betina. Kontrol reproduksi dapat dilakukan melalui :
a). Meningkatkan kesuburan (fertilitas) hewan betina atau
meningkatkan jumlah anak yg diproduksi pada setiap
partus melalui perubahan nutrisi atau melalui
pemberian hormon-hormon gonadotropik.
b). Mempengaruhi ovulasi hewan yang gagal berovulasi
secara alamiah akibat pengaruh iklim atau pengaruh
post-portum melalui pemberian hormon atau diberi
perlakuan cahaya dengan menggunakan rasio cahaya
terang dan gelap tertentu selama periode 24 jam
(misal pada domba).

c). Meningkatkan jumlah ova yang dihasilkan setiap kali


ovulasi (superovulasi) melalui pemberian hormon.
Proses ini dapat dikombinasikan dengan transplantasi ova,
dimana ova yang sudah dibuahi dari hewan yang secara
genetik dikehendaki diimplantasikan ke dalam uteri betina
penerima (sebagai inkubator). Superovulasi banyak
dilakukan pada sapi dan domba.
d). Inseminasi buatan
Mulai dikembangkan secara besar-besaran di Uni Sovyet
(1932) pd 16 juta ekor domba betina. Metode ini dinilai
efektif dalam memperbaiki dan mengembangkan hewan
pedaging. Melalui perkawinan alami, seekor sapi pejantan
yang baik dapat menghasilkan 25-30 ekor anak per tahun,
sdgkan melalui inseminasi buatan 5000 anak per tahun.

Teknologi inseminasi buatan saat ini (di


Skandinavia) sudah dilengkapi dengan
praseleksi kelamin anak hewan melalui
pemisahan sperma pejantan dengan cara
sentrifugasi. Sinkronisasi ovulasi banyak
dilakukan dengan cara pemberian salah
satu dari dua kelas hormon yaitu progestin
(progesteron dihasilkan oleh corpus luteum
dan analognya) dan prostaglandin
(prostaglandin dihasilkan oleh dinding
uterus dan analognya).

(2). Kontrol pertumbuhan.


Kontrol pertumbuhan dapat dilakukan melalui :
a). Pemberian hormon dan penenang
Pemberian hormon dan penenang dilakukan untuk
merangsang pertumbuhan melalui pembentukan dan
aktivitas sejumlah peptida serum dan somatomedium.
Somatomedium dikenal sebagai faktor pertumbuhan
yang strukturnya menyerupai insulin, dan terdiri dari 70
buah asam amino. Hormon yang digunakan adalah :
androgen, estrogen, hormon tiroid dari glukokortiroid
b). Pemberian antibiotik
Pemberian antibiotik melalui pakan untuk meningkatkan
pertambahan bobot badan yang lebih baik pada babi dan
anak sapi telah dilakukan di Amerika sejak tahun 1951.

Pengaruh positif dari pemberian antibiotik adlh dpt mengontrol


infeksi subklinis, meningkatkan pencernaan pati & menurunkan
aktivitas mikroba yg bertanggung jawab pd produksi gas.
Bbrp antibiotik yg dpt digunakan adalah : penisilin, klortetrasiklin
dan oksitetrasiklin (untuk hewan dewasa), monensin, dan lasalocid
(pemodifikasi rumen).
c). Histerektomi steril
Cara ini terutama dilakukan utk mengatasi kerugian yg timbul
akibat terganggunya pertumbuhan & perkembangan hewan oleh
penyakit yang disebabkan virus pneumonia dan atrofik rinitis.
Caranya adalah : hewan yang belum lahir diambil dari uterus
induknya secara aseptis persis sebelum induknya melahirkan.
Hasilnya
disebut sebagai hewan minimum penyakit. Repopulasi babi di
Amerika cukup efektif melalui cara ini.