Anda di halaman 1dari 4

SPIRITUALITAS DI DALAM DAN DILUAR

KEGIATAN BISNIS DAN MANAJEMEN


Sejumlah orang yang telah menerapkan prinsip-prinsip spiritual kedalam manajemen
merasa bahwa pilihan mereka merupakan sesuatu yang istimewa, dan bahwa mereka
memiliki beberapa manfaat khusus dari spiritual manajemen sekaligus dapat menciptakan
budaya khusus, etos kerja dan etika bisnis, yang telah menggugah minat para pekerja.
Spiritual manajemen pada dasarnya berhubungan erat dengan aspek kemanusiaan dari para
pekerja diluar hubungan formal organisasional. Dengan kata lain, meskipun hubungan formal
harus dipertahankan, akan tetapi pada saat yang sama, faktor hubungan antara sesama
manusia tidak boleh diabaikan. Mereka yang didera oleh padatnya pekerjaan pada suatu saat
akan membutuhkan udara segar, dan spiritual manajemen adalah penawar dahaganya.
Sebagaimana hampir pada semua teori dan praktik manajemen, baik klasik maupun
kontemporer, maka spiritual manajemen pun menemukan momentumnya, dimana semakin
banyak organisasi yang merasakan manfaatnya. Bahkan mulai dari organisasi berskala besar
sampai ke rumah produksi berskala kecil telah memanfaatkan spiritual manajemen. Mereka
yang memanfaatkan spiritual manajemen menjadi lebih peduli dengan kebutuhan sesama para
pekerja termasuk yang berkenaan dengan masalah keluarga atau rumah tangga mereka.
Pada sejumlah organisasi di Indonesia, sudah banyak pimpinan yang menanamkan
tradisi, sebelum memulai bekerja memanjatkan doa syukur bersama terlebih dahulu
memohon kasih sayang dan karunia Tuhan untuk keselamatan dan kesuksesan para pekerja,
baik bagi individual pekerja maupun bagi organisasi secara keseluruhan. Pada gilirannya
mereka juga cenderung akan membawa prinsp-prinsip etika dan kode etik spiritual kedalam
budaya kerja mereka. Misalnya mereka menjadi terbiasa mengutip teks-teks spiritual dalam
setiap kesempatan rapat atau pertemuan dan mempertahankannya menjadi semacam skenario
otoritatif. Mereka juga cenderung mengurangi berbagai hingar-bingar perayaan keberhasilan
yang bersifat tepuk dada, dengan beralih pada sejumlah kegiatan sosial yang berorientasi
pada pemberian pelayanan sosial dan informasi yang berharga dan dibutuhkan oleh
masyarakat. Tentu saja masih banyak orang yang mempertanyakan manfaat dan efektivitas
spiritual manajemen dalam bisnis. Seiring dengan itu, semakin banyak pula organisasi bisnis
yang telah melaporkan bahwa mereka mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih
menguntungkan melalui spiritual manajemen. Diantara hal yang dirasakan adalah keakraban
dan kehangatan hubungan atasan bawahan yang terasa dekat yang pada gilirannya dapat
mencegah praktik pemogokan. Tidak mengherankan jika kualitas kerja meningkat dan
tumbuh kepedulian para pekerja terhadap tujuan bersama organisasi. Meskipun sejumlah
organisasi masih enggan menyatakan secara terbuka tentang manfaat spiritual manajemen,
namun dari pernyataan-pernyaan mereka acapkali terkandung pengakuan akan manfaatnya.
Aspek spiritual telah muncul sebagai pendatang baru di arena bisnis dan manajemen, yang
telah menempatkan setiap orang sebagai manusia dan untuk selanjutnya sebagai tenaga kerja.
Saat ini, mulai muncul keyakinan, bahwa kesadaran spiritual diperlukan sebagai
kekuatan untuk mengatasi efek sistem kapitalisme bisnis pada pemikiran bisnis dan
manajemen yang merusak lingkungan maupun kehidupan manusia. Dengan kesadaran
spiritualitas, maka sukses material (profit, uang, aset) maupun sukses sosial (reputasi, brand,
citra) tanpa dibarengi kesuksesan spiritual dapat menimbulkan ketimpangan tidak hanya bagi
perusahaan itu sendiri tapi juga bagi masyarakat, lingkungan, maupun bangsa. Jika motifmotif spiritual ini berhasil ditanamkan ke dalam manajemen, maka manajemen bisnis yang
semula bersifat kapitalis akan menunjukkan wajahnya yang lebih spiritual. Spiritualitas di
organisasi tidak semata-mata berhubungan dengan keagamaan tetapi lebih diarahkan kepada

semangat manusia untuk mencari benang merah antara dirinya, organisasi tempat ia bekerja
dan nilai-nilai kebenaran Tuhan.
Spiritualitas di tempat kerja memang tema yang akan selalu dapat di-multi tafsirkan,
tetapi tetap menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas. Kita sangat percaya niat dan motif
di balik setiap keputusan yang dibuat atas nama bisnis, kepemimpinan, dan karyawan
bermanifestasi menjadi konsekuensi positif atau negatif berdasarkan kemurnian niat dan
motivasi asli dengan mana keputusan tersebut dibuat. Singkatnya, niat buruk biasanya
mengakibatkan konsekuensi negatif, sebaliknya niat yang baik menghasilkan konsekuensi
positif atau keberhasilan. Semangat kerja karyawan memiliki pengaruh langsung pada
produktivitas, karena itulah organisasi sangat banyak berinvestasi untuk membuat lingkungan
kerja yang nyaman dan menyenangkan. Ketika ketulusan dan motif yang sangat murni
digabungkan dengan kepemimpinan bisnis yang sangat maju dan pengambilan keputusan
serta keterampilan yang konsisten, hasilnya tentunya lebih besar kemungkinannya untuk
menghasilkan dan menumbuhkan organisasi yang kuat dan bermotivasi tinggi.
Saat ini, banyak sekali studi yang mengungkapkan fakta yang membuktikan bahwa
adanya hubungan yang kuat antara pikiran dan tubuh. Studi-studi menunjukkan berapa
banyak orang yang memiliki penyakit, seperti penyakit jantung atau kanker, juga menderita
depresi sebagai bagian dari hal yang memberatkan pasien. Penyakit fisik menciptakan depresi
emosional, yang pada gilirannya menghasilkan stres yang memperburuk kondisi fisik yang
mendasarinya. Banyak studi mengungkapkan bahwa sikap positif dapat meningkatkan
kesehatan yang pada gilirannya dapat meningkatkan umur panjang. Organisasi harus
ditumbuhkan sebagai tempat berkumpulnya sikap dan pikiran yang positif secara kolektif.
Sebagai organisasi yang ingin sukses, organisasi harus secara sadar menghubungkan diri
kepada yang Maha Tinggi mulai dari memikirkan visi, misi dan tujuan-tujuan bisnisnya.
Organisasi yang berlatih psikologi positif dan berinvestasi dalam program motivasi karyawan
memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk menuai imbalan dalam bentuk kinerja
karyawan yang meningkat dan diwujudkan dalam bentuk kepuasan karyawan. Maka sudah
selayaknya kita belajar dari organisasi-organisasi besar yang jatuh karena berseberangan
dengan prinsip dan nilai-nilai kebenaran Tuhan.Pembentukan budaya perusahaan harus
benar-benar disadari untuk selalu menumbuhkembangkan nilai-nilai kebenaran. Di dalam
mengembangkan organisasi sangat perlu untuk dikembangkan sikap saling mengingatkan,
dan menumbuhkan konsep spiritual leadership.
Terdapat sejumlah organisasi bisnis berskala besar di abad ke-18 dan ke-19 yang
didirikan dengan prinsip-prinsip yang penuh kasih sayang dan spiritualitas. Misalnya
Cadbury dan Rowntree yang didirikan di negara Inggris oleh Quaker sedari awal telah
menerapkan prinsip welas asih yang dalam dunia bisnis dan manajemen saat ini justru masih
dipertimbangkan sisi keilmuannya. Prinsip-prinsip mencintai yang muncul saat itu juga
muncul dalam kalimat yang sama pada saat sekarang ini, dengan mengutamakan prinsipprinsip kepedulian sebagaimana pernah dijalankan oleh pebisnis Quaker. Bisnis industri
perkereta apian juga pernah mengadopsi prinsip kepedulian sosial dari Quaker ini. Beberapa
bagian dari sejarah bisnis Quaker telah memberikan contoh yang baik dalam mengelola bisnis
dan manajemen yang berhasil, yaitu memimpin, mengelola dan membuat keputusan dengan
landasan cinta, kasih sayang, dan kepedulian akan kelestarian alam. Sejalan dengan hal itu,
kita juga dapat melihat contoh-contoh lama dari gerakan koperasi, organisasi para pekerja,
kredit mutual union, dan bisnis sejenis lainnya justru semakin sukses di zaman moderen ini.
Banyak dari organisasi tersebut secara terbuka menganjurkan dan mendukung cita-cita
tentang kepedulian dan prinsip berbagi yang menempatkan aspek etika terdepan ketimbang
aspek keuntungan, dan ternyata filosofi kepedulian dapat diterjemahkan kedalam strategi
meraih keunggulan kompetitif, dan kinerja komersial lainnya dengan lebih baik. Dengan
demikian, akan tiba saatnya bagaimana ide-ide demikian banyak diadaptasikan untuk zaman

modern ini. Cinta, kasih sayang, spiritualitas dan etika dalam banyak praktik bisnis dan
manajemen tidak tergantung pada keanggotaan kelompok, golongan atau sekte yang ada pada
masyarakat.
Peranan spiritualitas dalam organisasi.
Nilai-nilai yang terkait dengan kesadaran akan adanya kekuatan
yang lebih tinggi (bersifat transedental) seperti kebermaknaan,
kebersyukuran, optimisme, dll, dan juga nilai-nilai yang terkait dengan
hubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar
(connectedness) seperti kasih sayang, penghargaan, perhatian dan
kepedulian, damai, dll. Nilai-nilai ini dapat menjadi indikator sejauh mana
tingkat spiritualitas individu atau organisasi tersebut.
Seperangkat nilai-nilai spiritualitas diatas tentunya baru akan
memberikan dampak dan peranan bagi kinerja individu atau organisasi
ketika nilai-nilai tersebut terwujud dalam perilaku dan sistem organisasi.
Penerapan spiritualitas dalam organisasi bisnis dapat dilihat dari berbagai
level organisasi mulai dari level individual, level kelompok, level
kepemimpinan, dan level organisasi.
Level Individual
Pada level individual, penerapan spiritualitas terdiri dari tiga
komponen utama. Yang pertama adalah kesadaran akan kehidupan sejati
(inner life) hal ini terkait dengan rasa pengharapan, kesadaran akan nilainilai personal dan perhatian pada spiritualitas. Yang kedua, individu
membentuk makna dalam bekerja (meaning at work), hal ini ditunjukkan
dengan memiliki pendirian dan rasa tentang apa yang penting dalam
hidup, membangkitkan semangat, dan kebahagiaan dalam bekerja.
Komponen yang ketiga adalah kondisi komunitas (condition of community)
yang ditunjukkan dalam dimensi persahabatan dalam pengembangan
spiritualitas dalam komunitas.
Level Kelompok
Penerapan spiritualitas dalam organisasi bisnis pada level kelompok
terdiri dari dua komponen utama. Yang pertama adalah unit kerja sebagai
sebuah komunitas, yang ditunjukkan melalui perilaku sejauh mana unit
kerja saling mendukung dan memperhatikan. Yang kedua adalah nilai-nilai
positif unit kerja, yang ditunjukkan melalui sejauh mana setiap individu
memihak pada nilai-nilai, tujuan, dan misi unit kerja.
Penerapan lingkungan spiritual dalam tempat kerja akan dapat
meningkatkan kinerja organisasi. Dengan lingkungan kerja yang spiritual,
setiap individu akan memiliki kesadaran yang lebih dalam dan mendorong
terbangunnya intuisi dalam pemecahan masalah. Ketika karyawan dapat
menggunakan intuisi mereka pada organisasi, mereka dapa membangun
tujuan yang lebih tinggi dan visi organisasi serta meningkatkan inovasi
mereka. Unit kerja yang lebih inovatif akan meningkatkan rasa pelayanan
yang lebih tinggi, dan pertumbuhan pengembangan personal yang lebih
besar. Nilai-nilai berbasis spiritual ini akan meningkatkan kerja sama tim
dan komitmen karyawan dalam unit kerja.
Level Kepemipinan
Gerakan penerapan spiritualitas dalam organisasi bisnis juga
menunjukkan perkembangan pada level kepemimpinan. Sebuah

penelitian tentang spiritualitas di tempat kerja yang dilakukan oleh Sloan


Management Review mengindikasikan bahwa para pemimpin bisnis
melihat bahwa spiritualitas adalah hal yang sangat penting dalam praktek
bisnis masa depan. Kebanyakan mereka percaya bahwa organisasi harus
mempunyai energi spiritual yang besar pada setiap orang agar dapat
menghasilkan produk dan jasa kelas dunia. (Mitroff, 1999). Di kalangan
para pimpinan bisnis, konsep kepemimpinan sebagai pelayan (servant
leadership) adalah hal yang sangat diprioritaskan.
Level Organisasi
Organisasi bisnis adalah sebuah entitas atau sistem yang juga
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang turbulen dan juga mencari cara
untuk mempertahankan kondisi kerja yang lebih seimbang, sehat, dan
lebih memelihara. Organisasi bisnis yang tidak menerapkan nilai-nilai
spiritual akan kehilangan jiwanya, seperti yang disampaikan oleh Caioppe
(2000) berikut ini,
[Sebagai sebuah dampak dari psikososial lingkungan kerja
kontemporer] banyak produk memiliki mutu yang rendah dari isi
maupun kualitasnya karena produk-produk ini dibuat oleh orang
yang kehilangan kegembiraan dalam membuatnya. Pelayanan
kadang dilakukan dalam cara yang biasa-biasa dengan hanya uang
yang menjadi fokus transaksinya. Organisasi menghargai kualitas,
pelayanan pelanggan, dan pengalaman yang berkesan, namun para
karyawan seringkali melihat bahwa prioritas sebenarnya dari
manajer hanyalah profit dan penghematan.
Penilaian :
1. Spiritualitas dalam manajemen menawarkan wawasan yang lebih dalam dan
pemahaman yang nilai-nlai yang lebih universal sementara agama sebagian besar
bertumpu pada upacara formal dan scriptures. Jadi lebih dikatakan bahwa
membandingkan tradisi yang spiritualitas lebih luas daripada Spiritualitas religion.
2. Revel or survive ?, pertanyaan ini terkait dengan kelangsungan hidup Jika kita
menganggap serius dan dengan tanggung jawab masalah kelangsungan hidup, bukan
sebagai masalah kelangsungan hidup 'kita' dengan mengorbankan 'mereka,' generasi
yang akan datang' atas biaya generasi masa depan, tetapi sebagai masalah mengenai
kelangsungan hidup spesies, maka kita harus kolektif memulai pekerjaan menciptakan
budaya baru. memutuskan untuk membentuk budaya baru, dan dengan
mempertimbangkan kelangkaan sumber daya, kita harus mengatur kehidupan
kontemporer sedemikian rupa bahwa apa pun yang dilakukan tidak harus mengancam
masa depan setiap generasi dalam waktu mendatang. Keberhasilan suatu usaha
tersebut akan tergantung pada sendi tindakan oleh semua untuk kebaikan semua.
3. Dengan memiliki spiritualitas dalam manajemen maka akan muncul nilai-nilai yaang
mendorong setiap anggota organisasi untuk bertindak lebih baik.
4. Manajer harus memberikan peluang untuk pertumbuhan rohani dan refleksi diri dari
setiap anggota organisasi, hal ini untuk terus meningkatkan nilai-nilai ketaqwaannya
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. Spiritualitas menjadi salah satu faktor penting dalam organisasi untuk mengejar
integritas.