Anda di halaman 1dari 20

IndoForum > Da Cafe > Forum Religi > Hindu > Hindu Dharma = SIWA BUDHA

PDA
View Full Version : Hindu Dharma = SIWA BUDHA
goesdun
11-02-2008, 02:47 PM
Hindu Dharma = SIWA BUDHA
Ada tujuh Maha Rsi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja,
Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 2500 tahun sebelum
Masehi.
Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda
tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru
mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekta-sekta yang jumlahnya ratusan.
Sekta-sekta yang terbanyak pengikutnya antara lain : Pasupata, Linggayat Bhagawata,
Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Sidhanta.
Sekta Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India
tengah) kemudian menyebar ke Indonesia.
Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini yang berasal dari pasraman
Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain : Kumbhayoni, Hari
Candana, Kalasaja, dan Trinawindu.
Yang populer di Bali adalah nama Trinawindu atau Bhatara Guru, begitu disebut-sebut
dalam lontar kuno seperti Eka Pratama.
Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekta Siwa yang
lain. Sidhanta artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidanta artinya kesimpulan dari
Siwaisme.
Kenapa dibuat kesimpulan ajaran Siwa?
Karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit menyampaikan pemahaman kepada para
pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas.
Bagi penganut Siwa Sidhanta kitab suci Weda-pun dipelajari yang pokok-pokok / intinya
saja; resume Weda itu dinamakan Weda Sirah (sirah artinya kepala atau pokok-pokok).
Lontar yang sangat populer bagi penganut Siwa Sidhanta di Bali antara lain Wrhaspati
Tattwa.
Pemantapan paham Siwa Sidhanta di Bali dilakukan oleh dua tokoh terkemuka yaitu Mpu

Kuturan dan Mpu/Danghyang Nirartha.


Di India wahyu Hyang Widhi diterima oleh Sapta Rsi dan dituangkan dalam susunan
sistematis oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk Catur Weda.
Weda memantapkan pemahaman Siwa Sidhanta meliputi tiga kerangka Agama Hindu
yaitu Tattwa, Susila, dan Upacara.
Weda menjadikan pemikiran-pemikiran cemerlang bagi orang-orang suci di Bali sekitar
abad ke delapan sampai ke-empat belas yaitu:
1. DANGHYANG MARKANDEYA
Pada abad ke-8 beliau mendapat pencerahan di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa
Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca
datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.
Setelah menetap di Taro, Tegal lalang - Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa
Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (Banten),
dan Pecaruan.
Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini
dinamakan Agama Bali.
Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya
daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh
pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang
Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.
Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu : Batur,
Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.
Beliau juga mendapat pencerahan ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang
gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan.
Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan
warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa iderider, lelontek, dll.
Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada
Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag
untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan
getah.
2. MPU SANGKULPUTIH

Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan


melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik
untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya
seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian:
beras, injin, kacang komak.
Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka,
daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita,
durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah
untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.
Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh,
Prawayah, dan Kabayan.
Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari
bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.
Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari
Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan,
Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.
Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan purapura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.
3. MPU KUTURAN
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan
sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.
Seperti disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan
keagamaan yang bersifat sektarian.
Ada sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte
Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan
Ganapatya.
Diantara sekte-sekte tersebut iwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan
(Ardhana 1989:56).
Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai
Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa istadewatalah
yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah.
Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan
sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa didalam tubuh
masyarakat Bali Aga.

Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan
ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negative pada hampir seluruh aspek
kehidupan masyarakat.
Akibat yang bersifat negative ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas
sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar
dan terganggu.
Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa perlu
mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya Dharmapatni sudah
dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur.
Oleh karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersekepatan untuk
mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:
a. Mpu Semeru, dari sekte Ciwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut,
bertepatan dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka
yaitu tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.
b. Mpu Ghana, penganut aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku
Kuningan tanggal 7 tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgel
c. Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu
Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan
atau tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padang)
d. Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku
Dungulan, bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa
dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis
(Lempuyang)
Sebenarnya keempat orang Brahmana ini di Jawa Timur bersaudara 5 orang yaitu adiknya
yang bungsu bernama Mpu Bharadah ditinggalkan di Jawa Timur dengan berparhyangan
di Lemahtulis, Pajarakan.
Kelima orang Brahmana ini lazim disebut Panca Pandita atau Panca Tirtha karena
beliau telah melaksanakan upacara wijati yaitu menjalankan dharma Kabrahmanan.
Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bata Anyar yang dihadiri oleh unsur tiga
kekuatan pada saat itu, yaitu :
o Dari pihak Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua

sidang
o Dari pihak Ciwa diwakili oleh Mpu Semeru
o Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga
Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan
keagamaan di Bali, yg terdiri dari berbagai aliran.
Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti
(Brahma,Wisnu,Ciwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap
sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa.
Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana
ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut Ciwa
Budha
sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha.
Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura)
untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing
bernama:
Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang
Hyang Widhi Wasa (Tuhan)
Pura Puseh untuk memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi
Wasa
Pura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Ciwa
sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa
Ketiga pura tersebut disebut Pura Kahyangan Tiga yang menjadi lambang persatuan
umat Ciwa Budha di Bali.
Dalam Samuan Tiga juga dilahirkan suatu organisasi Desa Pakraman yang lebih
dikenal sebagai Desa Adat.
Dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang
politik, social, dan spiritual.
Jika sebelum keempat Brahmana tersebut semua prasasti ditulis dengan menggunakan
huruf Bali Kuna, maka sesudah itu mulai ditulis dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).
Akhirnya di bekas tempat rapat itu dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Samuan
Tiga.
Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak
umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih
Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan
Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap
(Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.

Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal
(pangider-ider).
4. MPU MANIK ANGKERAN
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik
Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra.
Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari
pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan
memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut
segara rupek.
5. MPU JIWAYA
Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum
bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).
Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang
berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat
perang, topeng, barong, dll.
6. DANGHYANG DWIJENDRA
Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem
Waturenggong.
Atas wahyu Hyang Widhi di Purancak, Jembrana, Beliau mempunyai pemikiranpemikiran cemerlang bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni
pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama
Siwa.
Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.
Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan
horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan
vertikal.
Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat
ditata dengan baik.
Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan,
prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun.
Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan
kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi
dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang,
Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa
Sesana, Aji Pangukiran, dll.
Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma
wacana.
Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-Pura untuk memuja beliau di tempat
mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya : Purancak, Rambut siwi,
Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu,
Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti
Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.
Ke-enam tokoh suci tersebut telah memberi ciri yang khas pada kehidupan beragama
Hindu di Bali sehingga terwujudlah tattwa dan ritual yang khusus yang membedakan
Hindu-Bali dengan Hindu di luar Bali.
Di bidang tattwa misalnya, ciri khas yang paling menonjol adalah penyembahan Hyang
Widhi dalam manifestasi sebagai Trimurti dan Tripurusa dalam bentuk palinggih
Kemulan Rong Tiga dan Padmasana yang dikembangkan masing-masing oleh Mpu
Kuturan dan Mpu/Danghyang Nirartha.
Di bidang ritual ciri khas Hindu-Bali yang terpenting adalah adanya bebali atau banten
yang dikembangkan oleh Danghyang Markandeya dan Mpu Sangkulputih.
Sejarah kemudian membuktikan bahwa walaupun di Nusantara telah berkembang Agama
lain seperti Islam dan Kristen, Bali tetap dapat bertahan pada Hindu karena agama Hindu
telah membudaya mewujudkan jati diri orang-orang Bali yang mengagumkan dunia.
Zaman sudah globalisasi, dunia yang tanpa batas, pengaruh budaya luar terus menerus
menghantam ketahanan orang-orang Hindu.
Bermula dari perubahan nama Agama di era Orde Baru, di mana Agama Hindu-Bali
dirubah menjadi Agama Hindu Dharma. Ini merupakan tonggak bagi sebagian kecil
penduduk dari suku-suku: Batak Karo, Dayak, Banten, Jawa, dll. mendapat pengakuan
pada keyakinan spiritualnya di luar Agama yang sudah ada, menjadi tertampung dalam
Hindu Dharma.
Dengan demikian Hindu Dharma akan mampu memberikan acuan yang lengkap
mengenai Tattwa, Susila dan Upacara kepada saudara-saudara se-dharma di luar Bali,
karena sudah ratusan generasi meninggalkan Hindu atau tidak bersentuhan dengan
Hinduan seperti yang berkembang di Bali
Hindu Dharma harus mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh ke enam

tokoh suci yang disebutkan di atas.


Karena Bali saat ini banyak sekali aliran-aliran bermunculan dan saling bertentangan
seperti abad ke 10 sebelum kedatangan Mpu Kuturan di Bali.
Dalam perkembangan globalisasi saat ini Hindu Dharma sudah melakukan reformasi
kelembagaan yaitu:
Parisadha Hindu Dharma secara khusus sebagai lembaga umat yang menangani masalahmasalah agama sehingga Tattwa , Susila dan Upacara menjadi sesuatu yang utuh sebagai
manifestasi hubungan vertical (hubungan religius)
Lembaga Adat (Majelis Desa Pekraman untuk di Bali) secara khusus menangani
masalah-masalah Adat sebagai manifestasi hubungan Horisontal.(hubungan social)Hindu
Dharma adalah Agama SIWA-BUDHA yang social religius.
Semoga atas wahyu Hyang Widhi pemikiran-pemikiran cemerlang datang dari segala
arah.
\
JakaLoco
14-02-2008, 12:18 PM
Mari kita lestarikan ajaran2 dan warisan2 Leluhur kita...
goesdun
26-03-2008, 04:15 PM
Agama Hindu ditandai dengan sifat rasional yang sangat kuat. Melalui jalan berliku dari
harapan samar dan renunsiasi praktis, dogma-dogma ketat dan petualangan jiwa yang
tidak mengenal takut, melalui empat atau lima melinium upaya-upaya tanpa henti dalam
bidang menthapisik dan teologi para Maharesi Hindu telah mencoba untuk menangkap
masalah-masalah terakhir dalam suatu kesetiaan kepada kebenaran dan perasaan atas
kenyataan.
Reg Weda memberitahu kita mengenai Tuhan, Satu Hakekat Kenyataan Terakhir, Ekam
Sat, mengenai Dia para terpelajar menyebutnya dengan berbagai nama.
Upanisad-Upanisad juga mengatakan bahwa Tuhan yang satu itu disebut dengan berbagai
nama sesuai dengan tingkat kenyataan dimana Dia dilihat berfungsi.
Konsepsi mengenai Tri Murti muncul dari periode epik, dan dimantapkan dalam zaman
Purana-Purana.
Analogi dari kesadaran manusia, dengan tiga lapis kegiatan, yaitu mengetahui
(cognition), merasa (emotion), dan kehendak (will), menyarankan pandangan mengenai
Tuhan sebagai Sat, Cit dan Ananta Kenyataan (reality), kebijaksanaan (wisdom) dan
kebahagian (joy).
Triguna yaitu :
Sattwa atau ketenangan, lahir dan kebijaksanaan,

Rajas atau energi lahir dari rasa yang penuh semangat, dan
Tamas, kelambanan, lahir sebagai akibatnya kurangnya kendali dan pencerahan, adalah
merupakan unsur-unsur dari semua eksistensi.Tiga fungsi dari utpeti (shristi) atau
penciptaan stiti atau pemeliharaan dan pamralaya (pralina) atau penghancuran
(peleburan) juga berasal dari Tri Guna ini.
Wisnu Sang Pemelihara alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat
sattwa,
Brahman Sang Pencipta alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat
rajas dan
Siwa Sang Pemrelina alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat
tamas.Tiga Sifat dari Tuhan Yang Tunggal dikembangkan menjadi tiga pribadi yang
berbeda. Dan masing-masing pribadi itu dianggap berfungsi melalui sakti atau energinya
masing-masing: Uma, Saraswati dan Laksmi.
Secara harfiah ketiga sifa-sifat dan fungsi-fungsi ini seimbang di dalam Tuhan Yang
Tunggal sehingga Dia dikatakan tidak memiliki sifat-sifat sama sekali.
Satu Tuhan yang tidak dapat dipahami yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan ada di
mana-mana, tempat berbeda bagi pikiran yang berbeda dalam cara yang berbeda.
Satu teks kuno mengatakan bahwa bentuk diberikan kepada yang tak berbentuk bagi
kepentingan manusia.
Dengan keterbukaan pikiran yang merupakan sifat dan filsafat, orang Hindu percaya akan
relativitas dari keyakinan mayarakat umum yang memeluk keyakinan itu.
Agama bukanlah sekedar teori mengenai yang supernatural yang dapat kita pakai atau
kita tinggalkan semau kita.
Agama merupakan pernyataan dari pengalaman spiritual dari bangsa yang bersangkutan,
catatan dari evolusi sosialnya, bagian tak terpisahkan dari suatu mayarakat di atas di
mana ia didirikan.
Bahwa orang yang berbeda akan memeluk keyakinan yang berbeda, bukanlah sesuatu
yang tidak alamiah.
Ini adalah semua masalah cita rasa dan temperamen. Ruchinan vaichitriyat.
Ketika bangsa Arya bertemu dengan penduduk asli yang menyembah berbagai macam
dewa-dewa, meraka merasa tidak terpanggil untuk menggantikannya seketika itu dengan
keyakinan mereka.
Pada akhirnya semua manusia mencari Tuhan yang satu. Menurut Bagawad Gita Tuhan
tidak akan menolak keinginan pemuja-Nya semata-mata karena mereka tidak merasakan
kekacauan dan kebingungan.
Guru-guru besar dunia yang memiliki cukup penghormatan terhadap sejarah tidak akan

mencoba menyelamatkan dunia dalam generasi mereka dengan memaksakan


pertimbangan-pertimbangan mereka yang maju terhadap mareka yang tidak mengerti
atau menghargainya.
Para Maharesi Hindu, sementara mempraktekan ideal yang tinggi, memahami ketidak
siapan rakyat untuk itu, dan karena itu melakukan pelayanan dengan lemah lembut dari
pada pemaksaan yang liar.
Mereka mengakui dewa-dewa yang lebih rendah dan di puja oleh orang banyak dan
memberitahu mereka bahwa dewa-dewa itu semua berkedudukan lebih rendah dari
Brahman atau Tuhan Yang Tunggal: sementara beberapa menemukan dewa-dewa di air,
yang lain di surga, yang lain dalam benda-benda dunia, orang bijaksana menemukan
Tuhan yang benar, yang keagunganNya hadir di mana-mana, di dalam Atman.
Sloka yang lain mengatakan: "Manusia tindakan (man of action) menemukan Tuhan
dalam api, manusia perasaan (men of feeling) menemukan Tuhan dalam hati, manusia
yang masih rendah kemampuan berpikirnya menemukan Tuhan dalam patung, tapi
manusia yang kuat secara spiritual menemukan Tuhan di mana-mana."
Sistem agama dan falsafah Hindu mengakui evolusi dan involusi dunia secara periodik
yang mempresentasikan detak jantung universal, yang selalu diam dan selalu aktif.
Seluruh dunia merupakan pengejawantahan dari Tuhan. Sayana mengamati bahwa segala
sesuatu adalah wahana atau kendaraan dari manifestasi Jiwa Yang Tertinggi (Tuhan).
Mahluk dibedakan dalam beberapa tingkatan. "Di antara mahluk, yang bernafas yang
tertinggi; di antara ini, mereka yang telah mengembangkan pikirannya; di antara ini,
mereka yang telah mempergunakan pengetahuannya; sementara yang tertinggi adalah
mereka yang dikuasai oleh perasaan mengenai kesatuan dari semua kehidupan dalam
Tuhan. Jiwa yang satu mengungkapkan dirinya melalui tingkatan yang berbeda."
Yang tak terbatas dalam diri manusia tidak dapat dipuaskan oleh bentuk dunia terbatas
yang fana.
Kebebasan adalah harta milik kita, bila kita lari dari apa yang sementara dan terbatas
dalam diri kita. Makin banyak hidup kita memanifestasikan yang tak terbatas dalam diri
kita, makin tinggi kita berada dalam tingkatan hidup.
Manifestasi yang paling tinggi disebut Awatara atau inkarnasi dari Tuhan. Ini bukanlah
suatu yang tidak biasa, satu mukjijat Tuhan, tetapi hanya manifestasi yang lebih tinggi
dari prinsip tertinggi, berbeda dari yang umum yang lebih rendah dalam derajat saja.
Bagawad Gita mengatakan bahwa sekalipun Tuhan ada dan bergerak dalam segalanya,
Dia memanifestasikan dirinya dalam derajat khusus dalam hal-hal yang indah.
Para Maharesi dan para Buddha, para Nabi dan Mesiah, merupakan pengungkapan

terdalam dari jiwa universal.


Bagawad Gita menjanjikan bahwa mereka akan muncul bilamana mereka diperlukan.
Bila kecenderungan meteralis yang merendahkan atau mendominasi kehidupan, seorang
Rama atau Krishna atau seorang Buddha akan datang kedunia untuk memperbaiki
harmoni kebenaran.
Dalam manusia yang telah memutuskan kekuasaan indria, membuka hati yang penuh
kasih, dan memberikan kita inpirasi akan kasih, kebenaran dan keadilan, kita memiliki
konsentrasi yang kuat mengenai Tuhan. Mereka mengungkapkan kepada kita jalan,
kebenaran dan hidup. Mereka tentu saja melarang penyembahan buta terhadap diri
mereka, karena ini akan menurunkan pengejawantahan dari Jiwa yang Agung.
Rama mengungkapkan dirinya tidak lebih dari anak seorang manusia.
Seorang Hindu yang mengetahui sesuatu mengenai keyakinannya siap untuk memberikan
rasa hormat kepada setiap penolong kemanusiaan.
Dan percaya bahwa Tuhan berinkarnasi dalam seorang manusia (Awatara).
Manifestasi suci bukanlah pelanggaran terhadap kepribadian manusia sebaliknya, ia
merupakan drajat kemungkinan tertinggi dari pengejawantahan-diri manusia yang
alamiah sebab hakikat sebenarnya dari manusia adalah suci.
Tujuan dari hidup adalah pengungkapan secara perlahan dari yang abadi dalam diri kita,
dari eksistensi kemanusiaan kita. Kemajuan umum diatur oleh karma atau hukum sebab
akibat moral.
Agama Hindu tidak percaya akan satu Tuhan yang dari kursi-pengadilannya menimbang
tiap kasus secara terpisah dan menetapkan balasannya.
Dia tidak melalukan keadilan dari luar, menambah atau mengurangi hukuman
berdasarkan kehendakNya sediri.
Tuhan ada "dalam" manusia, dan demikian juga karma hukum adalah merupakan bagian
organik dari kakekat manusia.
Setiap saat ada pada pengadilannya sendiri, dalam setiap usaha yang jujur akan
memberikan dia kebaikan dalam upaya internalnya.
Karakter yang kita bangun akan berlanjut ke masa depan sampai kita menyadari kesatuan
kita dengan Tuhan.
Anak-anak Tuhan, yang dalam pandangannya satu tahun adalah seperti satu hari, tidaklah
merasa perlu kecil hati bila tujuan kesempurnaan itu tidak tercapai dalam suatu
kehidupan.
Kelahiran kembali diterima oleh semua penganut Hindu.
Dunia ini dipelihara oleh kesalahan-kesalahan kita.
Kekuatan-kekuatan yang menyatukan ciptaan adalah hidup kita yang terpatah-patah yang
perlu diperbaharui.
Alam semesta telah muncul dan lenyap berulang-kali tak terhitung di masa lampau yang

panjang, dan akan terus berlanjut dilebur dan dibentuk kembali melalui keadilan yang tak
dapat dibayangkan di masa yang akan datang.
Agama Hindu (Bahasa Sansekerta: Santana Dharma "Kebenaran Abadi", dan
Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak
benua India.
Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan
kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102
SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih eksis hingga kini.
Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setalah Kristen dan Islam dengan
jumlah umat sebanyak hampir 1 milyar jiwa.
Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat
sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai
kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu
agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas
pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain sebagian kecil yang
tersebar di pulau Jawa dan Lombok.
Etimologi
Dalam Bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sansekerta). Dalam
Rig Veda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan
tujuh sungai di barat daya anakbenua India, yang salah satu sungai tersebut bernama
sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend
Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya
kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu.
Keyakinan dalam Hindu
Agama Hindu adalah agama yang monoteisme, yaitu Tuhan tunggal tidak ada duanya,
disebut Brahman atau Shang Hyang Widhi Wasa, juga dapat disebut sebagai Dewata
Nawa Sangga.
Brahman hanya ada satu, tidak ada duanya, namun orang-orang bijaksana menyebutnya
dengan berbagai nama sesuai dengan sifatnya yang maha kuasa.
Dalam keesaannya dan tidak berwujud dipanggil OMKARA.
OMKARA adalah sebutan Tuhan pertama sama dengan ALLAH, sebagai manifestasi
Tuhan dalam ke Esaannya dan tidak berwujud.
Kemudian dalam penulisan menggunakan aksara suci Omkara yaitu dibaca OM.
Dalam prakteknya umat Hindu sebagai masyarakat social religius, menjalankannya
dengan konsep Monoteisme dan Panteisme.
Menurut Prof Sarvelli Radhakrishnan, filsuf dan mantan presiden India, monotheisme
hanya cocok bagi jiwa yang masih kanak-kanak.

Weda tidak mengajarkan apartheid agama, pemisahan orang beriman dengan orang kafir,
apalagi memerintahkan pengikutnya membunuh atau menaklukan orang kafir dan
membayar pajak perlindungan kecuali si kafir masuknya.
Einstein, yang juga Yahudi, hanya menerima paham ketuhanan Spinoza.
Spinoza dianggap sebagai salah seorang filsuf Barat modern yang terbesar.
Filsafatnya tentang Tuhan hampir mirip dengan dengan pandangan Hindu, yang disebut
Pantheisme (pan = segalanya; theis = Tuhan).
Ia memahami Tuhan mengejawantah di dalam hukum-hukum alam, yang di dalam Hindu
disebut Rta yang mengatur alam dan karma yang mengatur perbuatan manusia.
Mengenai ini ada ungkapan Einstein yang terkenal Tuhan tidak main dadu Artinya
Tuhan tidak sewenang-wenang, semaunya sendiri, apalagi bila Tuhan sedetik ini tidak
tahu apa yang dimauinya.
Apakah Einstein menganggap semua agama sama?
Ya, dalam arti negative; Karena Einstein tidak beragama, semua agama, tentunya agama
yang ada di lingkungannya, yaitu agama-agama semitik, yang menyebut dirinya agama
langit, tidak berguna.
Mengenai Tuhan, figur sentral atau protagonist di dalam kitab suci semua agama-agama
theistic, Einstein memilih Pantheisme dan menolak Monotheisme.
Arthur Schoupenhauer (filsuf Jerman), David Hume (filsuf Inggris), Arnold J. Toynbee
(sejarahawan Inggris) untuk menyebut beberapa nama, menolak monotheisme, karena
Tuhan monotheisme mengajarkan keberanian dan kekerasan.
Tuhan monotheisme ini, kata mereka telah mengalirkan darah manusia jauh melebihi
perang karena alasan lainnya. Masing-masing Tuhan monotheisme ini, mengajarkan
kebencian, kekerasan bahkan memerintahkan perang kepada bangsa, atau masyarakat
lain.
Monoteisme
Dalam agama Hindu umumnya (termasuk Agama Hindu Dharma di Indonesia), konsep
yang dipakai adalah monoteisme. Konsep tersebut dikenal sebagai filsafat Advaita
Vedanta yang berarti tak ada duanya (a + dvaita) dipanggil OMKARA. Selayaknya
konsep ketuhanan dalam agama monoteistik lainnya, Advaita Vednta menganggap
bahwa Tuhan merupakan pusat segala kehidupan di alam semesta, dan dalam agama
Hindu, Tuhan dikenal dengan sebutan Brahman.
Panteisme
Dalam salah satu Kitab Hindu yakni Upanishad, konsep yang ditekankan adalah
Panteisme.
Konsep tersebut menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud tertentu maupun tempat
tinggal tertentu, melainkan Tuhan berada dan menyatu pada setiap ciptaannya, dan
terdapat dalam setiap benda apapun, ibarat garam pada air laut.
Dalam agama Hindu, konsep panteisme disebut dengan istilah Wyapi Wyapaka. Kitab
Upanishad dari Agama Hindu mengatakan bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa

wujud tertentu, beliau tidak berada di surga ataupun di dunia tertinggi namun berada pada
setiap ciptaannya.
Tiga Kerangka Suci Umat Hindu yaitu :
1. Filsafat/Tattwa (Inti)
2, Ethika/Susila (Unit)
3. Rituil/Upacara/Persembahan (Reaksi)
Ketita bagian tersebut di atas menurut Agama Hindu dapat dikembangkan sebagai
berikut:
1. Filsafat/Tattwa (Inti) dijabarkan melalui :
Panca Sarada
Brahman = Percaya dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan
Atma = Percaya dengan adanya Roh
Karman = Percaya adanya Hukum Karma Phala
Samsara=Percaya bahwa manusia lahir berulang-ulang
Moksa=Percaya dengan adanya kebebasan abadi
2. Ethika/Susila (Unit) sesuai dengan ajaran Trikaya Parisudha.
Trikaya Parisudha:
Manacika = Pikiran Suci
Wakcika = Kata-kata benar
Kayika=Perbuatan yang baik dan terpuji
3. Rituil/Upacara/Persembahan (Reaksi) dilaksanakan melalui korban suci Panca Yadnya
dan Panca Maha Yadnya.
Panca Yadnya:
Dewa Yadnya = Persembahan kepada Tuhan.
Pitra Yadnya = Persembahan kepada para Leluhur
Rsi Yadnya= Persembahan kepada pra Rsi dengan mengalkan ilmu pengetahuan yang
diberikannya.
Manusa Yadnya = Persembahan dilakukan kepada Roh manusia semenjak embrio
sampai kematiannya.
Bhuta Yadnya = Korban sui terhadap makhluk diluar rendahan
Panca Maha Yadnya:
1. Drewiya Yadnya = Korban suci yang dilakukan dengan menggunakan banten sajen,
harta benda dan material iannya.
2. Tapa Yadnya = Korban suci dengan jalan tapa, yaitu dengan jalan tahan menderita,
meneguhkan iman, menghadapi segala godaan hidup.
3. Swadyaya Yadnya = Korban suci dan kebajikan yang diamalkan dengan menggunakan
diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbanan.
4. Yoga Yadnya = Korban suci melalui pemujaan kepada Ida Sang Hayang Widhi, dengan
jalan Yoga, yaitu mengatukan pikiran guna dapat menunggal Atman dengan Paramatman.
5. Jnana Yadnya = Korban suci berupa persembahan dan pemujaan untuk Ida Sang Hyang

Widhi dengan mengamalkan Weda / Ilmu Pengetahuan suci (Jnana).


Konsep ketuhanan
Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman merupakan sesuatu yang tidak berawal namun
juga tidak berakhir. Brahman merupakan pencipta sekaligus pelebur alam semesta.
Brahman berada di mana-mana dan mengisi seluruh alam semesta. Brahman merupakan
asal mula dari segala sesuatu yang ada di dunia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta
tunduk kepada Brahman tanpa kecuali.
Dalam konsep tersebut, posisi para Dewa disetarakan dengan malaikat dan enggan untuk
dipuja sebagai Tuhan tersendiri, melainkan dipuji atas jasa-jasanya sebagai perantara
Tuhan kepada umatnya.
Filsafat Advaita Vednta menganggap tidak ada yang setara dengan Brahman, Sang
pencipta alam semesta. Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman hanya ada satu, tidak ada
duanya, namun orang-orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama sesuai dengan
sifatnya yang maha kuasa. Nama-nama kebesaran Tuhan kemudian diwujudkan ke dalam
beragam bentuk Dewa-Dewi, seperti misalnya: Wisnu, Brahm, iwa, Lakshmi, Parwati,
Saraswati, dan lain-lain. Dalam Agama Hindu Dharma (khususnya di Bali), konsep Ida
Sang Hyang Widhi Wasa merupakan suatu bentuk monoteisme asli orang Bali.
FILSAFAT HINDU
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Panca
Sradha. Panca Sradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan
tersebut, yakni:
1. Widhi Tattwa percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2. Atma Tattwa percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3. Karmaphala percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan.
4. Punarbhawa percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5. Moksha percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia
Widhi Tattwa
Widhi Tattwa merupakan konsep kepercayaan terdapat Tuhan yang Maha Esa dalam
pandangan Hinduisme. Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya
kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Dalam
filsafat Advaita Vednta dan dalam kitab Veda, Tuhan diyakini hanya satu namun orang
bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Dalam agama Hindu, Tuhan disebut
Brahman. Filsafat tersebut juga enggan untuk mengakui bahwa Dewa-Dewi merupakan
Tuhan tersendiri atau makhluk yang menyaingi derajat Tuhan.
tm Tattwa
Atma tattwa merupakan kepercayaan bahwa terdapat jiwa dalam setiap makhluk hidup.
Dalam ajaran Hinduisme, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan percikan
yang berasal dari Tuhan dan disebut Jiwatma. Jiwatma bersifat abadi, namun karena
terpengaruh oleh badan manusia yang bersifat Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui

asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut Awidya. Hal tersebut mengakibatkan
Jiwatma mengalami proses reinkarnasi berulang-ulang. Namun proses reinkarnasi
tersebut dapat diakhiri apabila Jiwatma mencapai moksha.
Karmaphala
Agama Hindu mengenal hukum sebab-akibat yang disebut Karmaphala
(karma=perbuatan; phala=buah/hasil) yang menjadi salah satu keyakinan dasar. Dalam
ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil (baik atau buruk).
Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena
dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena
hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup
maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran
tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani
sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun
setelah reinkarnasi).
Punarbhawa
Punarbhawa merupakan keyakinan bahwa manusia mengalami reinkarnasi. Dalam ajaran
Punarbhawa, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada
kehidupannya yang terdahulu. Apabila manusia tidak sempat menikmati hasil
perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada
kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar
jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya (baik atau buruk) yang belum sempat dinikmati.
Proses reinkarnasi diakhiri apabila seseorang mencapai kesadaran tertinggi (moksha).
Moksha
Dalam keyakinan umat Hindu, Moksha merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa
sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat lagi
oleh berbagai macam nafsu maupun benda material. Pada saat mencapai keadaan
Moksha, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati
suka-duka di dunia. Oleh karena iu, Moksha menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh
umat Hindu.
Empat macam Moksha / kebebasan:
1. Samipya Moksa = Kebebasan yagn dicapai semasih hidup oleh para Resi sehingga
mampu menerima wahyu dari Tuhan.
2. Sarupya/Sadarmmya = Kebebasan yang diperoleh semasih hidup seperti Awatara Sri
Kresna, Budha Gautama.
3. Salokya / karma Mukti = Kebebasan yang dicapai oleh Atman itu sendiri telah berada
dalam posisi sama dengan Tuhan tetapi belum dapat bersatu dengan Tuhan.
4. Sayujya / Purna Mukti = Kebebasan yang tertinggi dan sempurna sehingga dapat
menyatu dengan Tuhan.
Vivekananda mengatakan agama universal harus memenuhi kecendrungan semua jenis
manusia : manusia yang aktif, pekerja; manusia yang emosional, pencinta keindahan dan
kelembutan; manusia yang menganilisis dirinya sendiri, penekun mistik; manusia yang

mempertimbangkan semua hal dan menggunakan inteleknya, pemikir, sang filsuf.


Untuk memenuhi kecendrungan semua jenis manusia ini, Hindu menyediakan empat
jalan, yaitu:
(1) Karma Yoga bagi yang aktif;
(2) Bhakti Yoga bagi sang pencinta;
(3) Raja Yoga bagi sang mistikus ;
(4) Jnana Yoga bagi sang filsuf.
Sebagai konsekuensinya, perbedaan jalan yang ditempuh memunculkan cara ibadah
yang lebih tepat sadhana atau praktek spiritual yang berbeda.
Dan ini sangat dipahami oleh pemeluk Hindu, seperti halnya memahami konsep Tapa
Catur Warna :
- Mengejar pengetahuan suci adalah Tapa bagi para Brahmana
- Melindungi rakyat adalah Tapa dari kaum Ksatrya
- Melaksanakan kewajiban berusaha adalah Tapa bagi Wesya
- Mengabdi adalah Tapanya kaum Sudra
Termasuk konsekuensi munculnya sebutan untuk pemimpin:
GURU :
Guru secara literal berarti dari satu kepada yang lain
Satu garis guru spiritual dalam inisiasi dan suksesi yang otentik; rantai kekuatan mistik
dan penerusan yang sah; dari satu guru kepada guru yang lain.
Sebuah aliran yang hidup dari tradisi atau theologi dalam agama Hindu, diteruskan secara
latihan lisan dan upanayana (inisiasi).
RSI, Pendeta atau Sulinggih = Dwijati
Dwijati Lahir dua kali, yaitu:
1. Lahir dari rahim ibu;
2. Lahir dari kegelapan (awidya) setelah Didiksa.
Dwijati artinya telah terlahir untuk kedua kalinya, yakni: pertama terlahir dari rahim
ibunya dan berikutnya terlahir dalam dunia ilmu pengetahuan, dikuti dengan segala
upacara yang terkait sejak ia dalam kandungan (sangaskara), sesuai dengan yang tersurat
dalam Weda-weda.
Hanya para Dwijati yang "diwajibkan" untuk mempelajari Weda-weda.
LORD / AWATARA Hyang Widhi turun untuk menegakkan ajaran Dharma
Hyang Widhi turun ke dunia dengan mengambil salah satu bentuk sesuai dengan keadaan
alam, dengan perbuatan dan ajaran sucinya memberikan tuntunan untuk membebaskan
umat manusia dari kesengsaraan yang diakibatkan oleh kegelapan (Awidya), dalam hal
ini disebut dengan Awatara.
Dalam Bhagawad Gita disebutkan Bilamana Dharma (kebenaran) didunia ini hilang
(runtuh) dan Adharma (kejahatan, keangkaramurkaan) mulai menguasai dunia, pada

waktu itu Aku akan menjelmakan diriKu.


Untuk memberikan perlindungan kepada yang baik (Dharma) dan membasmi yang jahat
(Adharma) dan membangkitkan perasaan keadilan, kebenaran dan kebaikan. Aku
menjelma dalam tiap-tiap jaman.
Dalam kitab Purana disebutkan ada 10 (sepuluh) Awatara Wisnu (sifat Hyang Widhi
sebagai pemelihara alam) yaitu:
a. Matsya Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Ikan yang besar yang
menyelamatkan manusia pertama dari tenggelam saat dunia dilanda banjir yang maha
besar.
b. Kurma Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai kura-kura besar yang menumpu
dunia agar selamat dari bahaya terbenam saat pemutaran Gunung Mandara di Lautan
Susu (Kesire Arnawa) oleh para Dewa untuk mencari Tirta Amertha (Air suci kehidupan)
c. Waraha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Badak Agung yang mengait dunia
kembali agar selamat dari bahaya tenggelam
d. Nara Simbha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai manusia berkepala singa
(Simbha/Sima) yang membasmi kekejaman Raja Hyrania Kasipu yang sangat lalim dan
menindas Adharma
e. Wamana Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai orang kerdil
berpengetahuan tinggi dan mulia dalam mengalahkan Maha Raja Bali yang sombong dan
ingin menguasai dunia serta menginjak-injak Dharma.
f. Paracu Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Rama Parasu yaitu
Rama bersenjatakan Kapak yang membasmi para ksatrya yang menyeleweng dari ajaran
Dharma.
g. Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sang Rama putra raja Dasa Rata dari
Ayodya untuk menghanncurkan kejahatan dan kelaliman yang ditimbulkan oleh Raksasa
Rahwana dari negara Alengka.
h. Krisna Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sri Krisna raja Dwarawati untuk
membasmi raja Kangsa, Jarasanda dan membantu Pandawa untuk menegakkan keadilan
dengan membasmi Kurawa yang menginjak-injak Dharma.
i. Budha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai putra raja Sododana di Kapilawastu
India dengan nama Sidharta Gautama yang berarti telah mencapai kesadaran yang
sempurna. Budha Gautama menyebarkan ajaran Budha dengan tujuan untuk menuntun
umat manusia mencapai kesadaran, penerangan yang sempurna atau Nirwana.
j. Kalki Awatara yaitu penjelmaan Hyang Widhi yang terakhir yang akan turun untuk

membasmi penghinaan-penghinaan, pertentangan-pertentangan agama akibat


penyelewengan umat manusia dari ajaran Hyang Widhi (Dharma). Menurut keyakinan
umat Hindu, awatara terakhir akan turun apabila memuncaknya pertentanganpertentangan agama di dunia ini.
goesdun
17-04-2008, 03:08 PM
Agama Siwa-Buddha
Pada Jaman Majapahit, agama Siwa dan Buddha berpadu menjadi satu.
Hal-hal persatuan ini bisa dilihat dalam beberapa karya sastra: Kakawin Sutasoma dan
Kakawin Arjuna Wijaya.
Warisan Terakhir Agama Siwa-Buddha
Pada jaman sekarang, di pulau Bali dan Lombok, agama Siwa dan Buddha dianggap dua
mazhab berbeda dari satu agama yang sama.
Di Bali ada sebuah desa yang bernama Budakeling di Karangasem, di sini seluruh
penduduknya menganut mazhab ini. Ajaran Siwa-Buddha di desa ini diwarisi oleh Dang
Hyang Astapaka dari Keling (Kalingga), yang kemudian dilanjutkan oleh Mpu Tantular.
Jejak-jejak warisan kedua pendeta ini masih bisa ditelusuri di Geria Budakeling.
Desa Bdudakeling Merupakan pusat peradaban Bali
Desa Budakeling memiliki budaya dan tradisi keagamaan.
Budakeling menyimpan warisan yang amat besar dari Dang Hyang Astapaka dan Mpu
Tantular.
Budakeling merupakan salah satu desa di Bali mempunyai sejarah panjang di dalam
membangun supremasi desanya. Generasi di Desa Budakeling kini mewarisi tradisi besar
yang tak pernah ditemukan di tempat lain.
Tradisi Agama Siwa-Budha hanya ditemukan di Indonesia yang hingga sekarang hidup
terpelihara dengan baik di Bali.
Dang Hyang Astapaka pada zamannya datang ke Budakeling dan meletakkan dasar
kadyatmikan, pada masa berikutnya dilanjutkan Mpu Tantular.
Budakeling, jika ditelusuri lebih dalam, menunjukkan tanda-tanda kebesaran Indonesia
pada masa silam.
Pola sintetik supra abad IX zaman Borobudur, Majapahit akhir dan masa pemerintahan
Dalem Waturenggong pusat kerajaan di Bali abad XV.
Api homa kerajaan mengantarkan Dang Hyang Astapaka, pendeta brahmana Buddha dari
Keling, menemukan berkas sinar aneh teja gni asta bajra pretiwi mandala yang kemudian
diberi nama Budakeling.
Dari kacamata peneliti asing Walfgang Wech, Stuttgart, Hooykaas, serta Fork
menyampaikan kesan bahwa desa itu merupakan pusat peradaban Bali, jantung
peradaban aksara.

vBulletin v3.7.0, Copyright 2000-2008, Jelsoft Enterprises Ltd.