Anda di halaman 1dari 40

KEDARURATAN DALAM ILMU PENYAKIT MATA

Dalam Ilmu Penyakit Mata, maka mata yang dapat dikatakan dalam keadaan darurat ialah bila terdapat keadaan dimana mata terancam akan kehilangan fungsi penglihatan atau akan terjadi kebutaan bila tidak dilakukan tindakan ataupun pengobatan secepatnya. Terancamnya mata untuk menjadi buta dapat diakibatkan oleh penyakit atau kelainan mata dan trauma mata. Biasanya penderita meminta pertolongan seorang dokter dengan keluhan-keluhan yang dapat memberikan pengarahan pada kemungkinan berat ringannya penderita. Keluhan yang biasa diberikan penderita dengan kelainan mata ialah mata merah, mata sakit, mata lelah, lihat ganda, tajam penglihatan menurun, pandangan tertutup, adanya kilatan lampu pada lapang pandangan, dan sakit kepala. Tidak semua mata yang merah akan terancam menjadi buta, demikian pula tidak semua penglihatan yang kurang, berarti dalam keadaan darurat atau memerlukan tindakan cepat.

Bila kita berhadapan dengan seorang penderita untuk mengetahui keadaan matanya gawat atau tidak, maka diperlukan pemeriksaan yang mengarah pada setiap kemungkinan penyakit, seperti:

Riwayat penyakit penderita yang sedang atau sudah diderita

Pemeriksaan fisik umum

Pemeriksaan khusus mata

 

Trauma

 

Non Trauma

 
 

Mata merah visus menurun

 

Mata tenang visus menurun mendadak

Trauma

kimia

Keratitis

Neuritis optika

basa/ asam

Uveitis

Kelainan retina, n II, cv

Trauma

panas/

Glaukoma

(ablatio,perdarahan,

sinar

Infeksi Intraokular

radang)

Trauma tumpul

 

Kelainan

vaskuler

Trauma tajam:

retina, n II, cv

  • - Dengan perforasi

 
  • - Tanpa perforasi

  • - Dengan benda asing intraokular

1

-

Tanpa

benda

asing

   

intraokular

KEGAWATAN DALAM ILMU PENYAKIT MATA

Dalam Ilmu Penyakit Mata kadang-kadang kita menemukan penyakit atau kelainan mata yang memerlukan pengobatan atau tindakan segera. Bila kita berhadapan dengan keadan ini maka sesungguhnya kita berhadapan dengan mata dalam keadaan gawat.

Mata gawat dapat digolongkan ke dalam kelompok. Sangat gawat, tidakan sudah harus diberikan dalam beberapa menit. Penyakit yang termasuk kedalam golongan sangat gawat ialah:

Luka bakar kimia pada mata: trauma alkali, trauma asam

Okulasi arteri retina sentral.

Gawat, diagnosis dan pengobatan sudah harus diberikan dalam satu atau beberapa jam.

Penyakit mata yang termasuk ke dalam golongan gawat ialah:

Dakriosistitis akut

Laserasi kelopak

Konjungtivitis gonore

Skleritis

Trauma tumpul mata

Erosi kornea

Laserasi kornea

Benda asing kornea

Descemetokel Tukak kornea Tukak kornea sentral Tukak kornea marginal

2

Hifema

Iritis akut

Endofatalmitis

Endofatalmitis fakoanafilaktik

Glaukoma akut kongestif

Glaukoma dibangkitkan lensa (fakogenik glaukoma)

  • - Glaukoma fakoformik

  • - Glaukoma fakolitik

  • - Glaukoma akibat dislokasi lensa

  • - Glaukoma akibat luksasi lensa anterior

  • - Glaukoma akibat luksasi lensa posterior

  • - Glaukoma akibat lensa subluksasi Ablasi retina akut

Selulitis orbita

Trombosit sinus kavernosus

Trauma radiasi

Trauma tembus bola mata

Benda asing magnetik intraokular

Semi gawat, bila mungkin pengobatan sudah diberikan dalam beberapa hari atau minggu. Penyakit mata yang dimasukkan ke dalam semi gawat ialah:

Difesiensi vitamin A

Trakoma

Oftalmia simpatika

Katarak kongenital

Glaukoma kongenital

Glaukoma simpleks

Perdarahan badan kaca

Retinoblastoma

3

Hipertensi maligna

Toksemia gravidarum

Retinopatia diabetes

Neuritis optik

Eksoftalmos akut

Tumor intra orbita

Leukimia pada mata

Rabdomiosarkoma Mukormukosis Perdarahan retrobulbar Fistel arteriovena Eksofatalmos goiter Ambliopia Juling Selanjutnya akan dibicarakan kelainan dan penyakit mata yang termasuk kedalam golongan sangat , gawat,dan semi gawat

PENDEKATAN DIAGNOSIS

Berdasarkan kasus di skenario, didapatkan data berupa :

  • 1. Mata kiri terbentur pipa besi sekitar 1 jam lalu di tempat kerja

  • 2. Pasien bekerja di pabrik kimia

  • 3. Kaca mata pecah

  • 4. Terdapat luka sayatan kecil

  • 5. Hematom palpebra superior dan inferior okuli sinistra

  • 6. Darah pada fissura palpebra dan jaringan kehitaman

Berdasarkan data tersebut, kemungkinan pasien mengalami :

4

Trauma tumpul pada mata kiri akibat benturan besi.

Hematom pada kelopak mata (palpebra) merupakan kejadian yang sering terjadi akibat trauma tumpul pada mata karena longgarnya jaringan ikat subkutan di daerah tersebut. Hematom palpebra merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra.

Pada setiap trauma palpebra perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti mengenai luas dan dalamnya lesi (luka), sebab lesi yang tampak kecil pada kelopak mata kemungkinan disertai suatu lesi yang luas di dalam rongga orbita bahkan sampai ke dalam bola mata.

Trauma tembus pada mata akibat masuknya serpihan kaca mata yang pecah saat terjadi benturan dengan pipa besi. Serpihan ini menimbulkan luka penetrasi (laserasi) berupa luka sayat dan dapat tertahan di dalam mata.

Trauma karena pecahan kaca mata, bila pecahan dapat masuk biasanya akan berada di segmen anterior, yang mempunyai kemungkinan jatuh di sudut bilik mata depan.

Serpihan kaca yang tertahan di dalam mata merupakan benda asing (corpus allenum) yang dapat menimbulkan reaksi mekanik yang mungkin dapat mengganggu fungsi mata jika dibiarkan. Sebagai contoh : pecahan kaca di dalam sudut bilik mata depan akan menimbulkan kerusakan pada endotel kornea sehingga mengakibatkan edema kornea yang mengganggu fungsi penglihatan. Perlu digali lebih lanjut apakah pasien mengalami gangguan pada penglihatannya terutama penurunan visus (tajam penglihatan). Trauma kimia. Ada kemungkinan terjadi penetrasi dari bahan kimia karena pada saat kecelakaan pasien sedang bekerja di pabrik kimia.

Secara umum, kerusakan jaringan yang terjadi akibat trauma mata bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat. Untuk mengetahui kelainan yang ditimbulkan perlu diadakan pemeriksaan yang cermat, terdiri atas anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan mata, dan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mengarahkan diagnosis.

1.

Anamnesis

Riwayat trauma/proses terjadinya trauma:

5

Benda apa yang mengenai mata tersebut (besar dan bahan benda tersebut), bagaimana arah datangnya benda yang mengenai mata, dan kecepatannya ketika mengenai mata. Contoh : penggunaan palu dan alat pahat dapat melepaskan serpihan-serpihan logam yang akan menembus bola mata dan hanya akan meninggalkan petunjuk perdarahan subkonjungtiva yang mengindikasikan adanya penetrasi sclera dan benda asing yan tertinggal. Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata dapat mengakibatkan edema kornea bahkan rupture membrane descement.

Sifat atau bahan kimia yang mungkin mengalami kontak dengan mata:

Basa kuat menembusa jaringan anterior mata dan dapat dengan cepat

menyebabkan kerusakan irreversible. Riwayat pekerjaan:

Untuk menghubungkan penyakit dengan sebab kecelakaan. Penyakit yang dihubungkan dengan pekerjaan dapat berupa trauma yang terjadi pada saat melakukan pekerjaan. Misalnya pekerja las atau pemanggang akan mudah menderita kerusakan pada matanya akibat sinar ultraviolet.

Gejala/keluhan pasien:

Gejala pasien berhubungan dengan derajat dan jenis trauma yang dialami. Nyeri, lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma, namun gejala ringan dapat menyamarkan benda asing intraocular yang berpotensi membutakan.

Apabila terjadi pengurangan penglihatan ditanyakan apakah terjadi sebelum atau sesudah kecelakaan tersebut. Apakah trauma disertai keluarnya darah juga perlu ditanyakan.

Penyakit lain yang sedang diderita:

Bila sedang menderita penyakit lain dengan keadaan yang buruk maka jika terjadi infeksi di mata akan sukar sembuh.

Penyakit mata sebelumnya:

Kadang-kadang dengan mengetahui riwayat penyakit mata sebelumnya akan dapat menerangkan tambahan gejala-gejala penyakit yang dikeluhkan penderita.

6

Seseorang yang pernah menderita hifema,uveitis atau ulkus dengan perforasi akan mudah mendapat glaucoma.

  • 2. Pemeriksaan fisik umum : untuk mengetahui keadaan umum pasien

  • 3. Pemeriksaan khusus mata:

Pemeriksaan visus:

 

Untuk mengetahui apakah ada akibat kelainan mata terhadap tajam penglihatan. Bila terdapat gangguan tajam penglihatan berarti telah terjadi gangguan pada media penglihatan sehingga sebaiknya diselidiki terdapat kelainan pada kornea, humor aquous, lensa dan badan kaca ataupun macula lutea. Selain itu pencatatan tajam penglihatan perlu untuk dapat mempertanggungjawabkan tindakan yang diberikan. Dengan pemeriksaan yang berulang dapat diketahui kemajuan atau kemunduran perawatan yang diberikan.

Pemeriksaan gerakan bola mata :

 

Untuk

mengetahui

apakah

ada

keterlibatan

otot

penggerak

mata

atau

saraf

penggerak bola mata yang terkena yang menyebabkan pergerakan bola mata terganggu.

Pemeriksaan susunan mata luar dan system lakrimal:

 

Untuk memperoleh gambaran yang tepat pada kelainan mata diperlukan pemeriksaan sistematis. Pemeriksaan dimulai dari kelopak mata,system lakrimal, konjuntiva tarsal, konjungtiva bulbi, kornea, bilik mata depan, iris, lensa dan pupil.

Pada trauma berat, pupil akan melebar dan reaksi terhadap cahaya akan menjadi lambat atau hilang.

Pemeriksaan dengan oftalmoskop:

 

Dengan oftalmoskop dapat diperiksa keadaan badan kaca dan retina sehingga dapat juga dilihat bila ada benda asing di badan kaca dan retina. Benda asing tersebut dapat dilihat dengan oftalmoskop, bila tidak ada kekeruhan badan kaca.

Dengan oftalmoskop kita dapat meramalkan prognosis fungsi penglihatan. Misalnya: bila dengan oftalmoskop tampak kekeruhan badan kaca atau perdarahan retina atau balsio retina maka prognosis penglihatan kurang baik.

7

4.

Pemeriksaan Radiologi:

Pada setiap luka perforasi, selalu harus dilakukan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaaan radiologi ini penting untuk mengetahui ada tidaknya suatu benda asing yang “radiopaque” serta letaknya benda asing tersebut dalam mata. Pemeriksaan yang paling sederhana untuk mengetahui ada tidaknya benda yang “radiopaque” adalah melakukan Plane X-Ray daripada orbita dengan posisi Postero-Anterior (PA) dan Lateral.

Untuk menentukan apakah benda asing tersebut intraokuler atau ekstraokuler dibutuhkan teknik khusus seperti netode Sweet, metode Comberg dengan menggunakan lensa kontak.

Bila benda asing tersebut non-radiopaque diperlukan pemeriksaan USG untuk mengetahui letaknya.

Pemeriksaan yang teliti tapi mahal adalah pemeriksaan CT scan-orbita.

Selain itu dengan pemeriksaan radiologi dapat memastikan adanya fraktur bagian dalam orbita.

TRAUMA BASA

Definisi

TRAUMA KIMIA

Trauma basa merupakan salah satu jenis trauma kimia mata dan termasuk kegawatdaruratan mata yang disebabkan zat kimia basa dengan pH>7.

Etiologi

Zat-zat basa atau alkali yang dapat menyebabkan trauma pada mata antara lain:

Semen

Soda kuat

Amonia

8

NaOH

CaOH

Cairan pembersih dalam rumah tangga

Bahan alkali Amonia merupakan gas yang tidak berwarna, dipakai sebagai bahan pendingin lemari es, larutan 7% ammonia dipakai sebagai bahan pembersih. Pada konsentrasi rendah ammonia bersifat merangsang mata. Amonia larut dalam air dan lemak, hal ini dangat merugikan karena kornea mempunyai komponen epitel yang lipofilik dan stroma yang hidrofilik. Amonia mudah merusak jaringan bagian dalam mata seperti iris dan lensa. Amonia merusak stroma lebih sedikit disbanding dengan NaOH dan CaOH. pH cairan mata naik beberapa detik setelah trauma.

Bahan alkali lainnya adalah NaOH dan Ca(OH)2. NaOH dikenal sebahai kausatik soda. NaOH dipakai sebagai pembersih pipa. pH cairan mata naik beberapa menit sesudah trauma akibat NaOH. Ca(OH)2 memiliki daya tembus yang kurang pada mata. Hal ini akibat terbentuknya sabun kalsium pada epitel kornea. pH cairan mata menjadi normal kembali sesudah 30 sampai 3 jam pascatrauma

Menurut klasifikasi Thoft, trauma basa dapat dibedakan menjadi:

Derajat 1 : terjadi hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata

Derajat 2 : terjadi hiperemi konjungtiva disertai hilangnya epitel kornea

Derajat 3 : terjadi hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea

Derajat 4 : konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%

Patofisiologi

Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Namun, apabila dilihat pada bagian dalam mata, trauma basa ini mengakibatkan suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, camera oculi anterior, dan sampai

9

retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses persabunan, disertai dengan dehidrasi.

Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. Pada pH yang tinggi alkali akan mengakibatkan persabunan disertai dengan disosiasi asam lemak membrane sel. Akibat persabunan membrane sel akan mempermudah penetrasi lebih lanjut dari pada alkali. Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi penggumapalan sel kornea atau keratosis. Serat kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat edema kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukan sel ini cenderung disertai dengan masuknya pembuluh darah baru atau neovaskularisasi. Akibat membrane sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui plasminogen activator. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivatir dilepas juga kolagenase yang akan merusak kolagen kornea. Akibatnya akan terjadi gangguan penyembuhan empitel yang berkelanjutan dengan tukak kornea dan dapat terjadi perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknya terdapat pada hari ke 12-21. Biasanya tukak pada kornea mulai terbentuk 2 minggu setelah trauma kimia. Pembentukan tukak berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap atau vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan mata susunannya akan berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang. Kedua unsure ini memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan kornea.

Manifestasi Klinis

Perjalanan penyakit trauma alkali :

Keadaan akut yang terjadi ada minggu pertama :

Sel membrane rusak.

Bergantung pada kuatnya alkali akan mengakibatkan hilangnya epitel, keratosit, saraf kornea dan pembuluh darah.

10

Terjadi kerusakan komponen vascular iris, badan siliar dan epitel lensa, trauma berat akan merusak sel goblet konjungtiva bulbi.

Tekanan intra ocular akan meninggi.

Hipotoni akan terjadi bila terjadi kerusakan pada badan siliar

Kornea keruh dalam beberapa menit.

Terjadi infiltrasi segera sel polimorfonuklear, monosit dan fibroblast

Keadaan minggu kedua dan ketiga :

Mulai terjadi regenerasi sel epitel konjugtiva dan kornea.

Masuknya neovaskularisasi ke dalam kornea diserta dengan sel radang.

Kekeruhan pada kornea akan mulai menjernih kembali,

Sel penyembuhan berbentuk invasi fibroblast memasuki kornea.

Terbentuknya kolagen.

Trauma alkali berat akan membentuk jaringan granulasi pada iris dan badan siliar sehingga terjadi fibrosis.

Keadaan pada minggu ketiga dan selanjutnya :

Terjadi vaskularisasi aktif sehingga seluruh kornea tertutup oleh pembuluh darah.

Jaringan pembuluh darah akan membawa bahan nutrisi dan bahan penyembuhan jaringan seperti protein dan fibroblast.

Akibat terdapatnya jaringan dengan vaskularisasi ini, tidak akan terjadi perforasi kornea.

Mulai terjadi pembetukan panus pada kornea.

11

Endotel yang tetap sakit akan mengakibatkan edema kornea.

Terdapat membaran retrokornea, iristis, dan membrane siklitik.

Dapat terjadi kerusakan permanen saraf kornea dengan gejala-gejala seperti tekanan bola mata mata dapat rendah atau tinggi.

 Endotel yang tetap sakit akan mengakibatkan edema kornea.  Terdapat membaran retrokornea, iristis, dan membrane
 Endotel yang tetap sakit akan mengakibatkan edema kornea.  Terdapat membaran retrokornea, iristis, dan membrane
 Endotel yang tetap sakit akan mengakibatkan edema kornea.  Terdapat membaran retrokornea, iristis, dan membrane

12

Diagnosis

Pemeriksaan awal pada trauma mata antara lain meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik:

  • 1. Anamnesis:

Sering sekali pasien menceritakan telah tersiran cairan atau tersemprot gas pada mata atau pastikel-partikelnya masuk ke dalam mata. Tanyakan kepada pasien apa persisnya zat kimia dan bagaimana terjadinya trauma tersebut (misalnya tersiram sekali atau akibat ledakan dengan kecepatan tinggi).

Secara umum, pada anamneses dari kasus trauma mata perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera terjadi. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi secara tiba-tiba. Nyeri, lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma. Dan harus dicurigai adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat salah satunya apabila trauma terjadi akibat ledakan.

  • 2. Pemeriksaan Fisik:

Pemeriksaan yang seksama sebaiknya ditunda sampai mata yang terkena zat sudah terigasi dengan air dan pH permukaan bola mata sudah netral. Obat anestesi topical boleh digunakan untuk membantu pasien lebih nyaman dan kooperatif. Setalah dilakukan irigasi, pemeriksaan mata yang seksama dilakukan dengan perhatian khusus untuk memeriksa kejernihan dan keutuhan kornea, derajat iskemik limbus dan tekanan intra okuli.

Pada kasus trauma basa dapat dijumpai kerusakan kornea yaitu terjadi kekeruhan kornea, konjungtivalisasi pada kornea, neovaskularisasi, peradangan kronik dan defek epitel yang menetap dan berulang serta perforasi kornea. Apabila trauma basa tersebut mengakibatkan penetrasi kedalam intraokuler dapat kita jumpai adanya komplikasi katarak, glaukoma sekunder dan kasus berat ptisis bulbi. Kelainan lain yang dapat dijumpai yaitu pada palpebra berupa jaringan parut pada palpebra dan sindroma mata kering. Pada konjungtiva dapat dijumpai adanya simbleparon.

  • 3. Pemeriksaan Penunjang:

13

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dalam kasus trauma basa mata adalah pemeriksaan pH bola mata secara berkala. Irigasi pada mata harus dilakukan sampai tercapai pH netral. Pemeriksaan bagian anterior mata dengan lup atau slit lamp yang bertujuan untuk mengetahui lokasi luka. Pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek juga dapat dilakukan. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri untuk mengatahui tekanan intraocular.

Penatalaksanaan :

Penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya trauma ataupun jenis trauma itu sendiri. Namun demikian ada empat tujuan utama dalam mengatasi kasus trauma okular adalah:

Memperbaiki penglihatan.

Mencegah terjadinya infeksi.

Mempertahankan arsitektur mata.

Mencegah sekuele jangka panjang.

Penatalaksanaan yang dilakukan untuk menangani trauma basa pada mata adalah:

  • 1. Bila terjadi trauma basa adalah secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik selama mungkin. Irigasi dilakukan sampai pH menjadi normal, paling sedikit 2000 ml selama 30 menit. Bila dilakukan irigasi lebih lama akan lebih baik.

  • 2. Untuk mengetahui telah terjadi netralisasi basa dapat dilakukan pemeriksaan dengan kertas lakmus. pH normal air mata 7,3.

  • 3. Bila penyebabnya adalah CaOH, dapat diberi EDTA karena EDTA 0,05 dapat bereaksi dengan CaOH yang melekat pada jaringan.

  • 4. antibiotika

Pemberian

dan

debridement

untuk

mencegah

infeksi

oleh

kuman

oportunis.

  • 5. Pemeberian sikloplegik untuk mengistirahatkan iris mengatasi iritis dan sinekia posterior.

14

6.

Pemberian Anti glaukoma (beta blocker dan diamox) untuk mencegah terjadinya glaucoma sekunder.

  • 7. Pemberian Steroid secara berhati-hati karena steroid menghambat penyembuhan. Steroid diberikan untuk menekan proses peradangan akibat denaturasi kimia dan kerusakan jaringan kornea dan konjungtiva. Steroid topical ataupun sistemik dapat diberikan pada 7 hari pertama pasca trauma. Diberikan Dexametason 0,1% setiap 2 jam. Steroid walaupun diberikan dalam dosis tinggi tidak mencegah terbentuknya fibrin dan membrane siklitik.

  • 8. Kolagenase inhibitor seperti sistein diberikan untuk menghalangi efek kolagenase. Diberikan satu minggu sesudah trauma karena pada saat ini kolagenase mulai terbentuk.

  • 9. Pemberian Vitamin C untuk pembentukan jaringan kolagen.

10. Selanjutnya diberikan bebat (verban) pada mata, lensa kontak lembek dan artificial tear (air mata buatan).

11. Operasi

Keratoplasti

penglihatan.

dilakukan

bila

kekeruhan

kornea

sangat

mengganggu

Komplikasi

Komplikasi dari trauma mata juga bergantung pada berat ringannya trauma, dan jenis trauma yang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus trauma basa pada mata antara lain.

  • 1. Simblefaron

  • 2. Kornea keruh, edema, neovaskuler

  • 3. Katarak traumatik, merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun. Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari trauma mata. Trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak, selain menyebabkan kerusakan kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen basa yang masuk mengenai mata menyebabkan peningkatan PH

15

cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi secara akut ataupun perlahan-lahan. Trauma kimia dapat juga disebabkan oleh zat asam, namun karena trauma asam sukar masuk ke bagian dalam mata dibandingkan basa maka jarang

  • 4. Phtisis bulbi

Prognosis

Trauma kimia pada mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat jangka panjang dan rasa tidak enak pada mata. Prognosinya ditentukan oleh anestesi kornea dan bahan alkali penyebab trauma tersebut. Terdapat 2 klasifikasi trauma basa pada mata untuk menganalisis kerusakan dan beratnya kerusakan.

TRAUMA ASAM

Definisi

Trauma asam merupakan salah satu jenis trauma kimia mata dan termasuk kegawatdaruratan mata yang disebabkan zat kimia bersifat asam dengan pH < 7. Beberapa zat asam yang sering mengenai mata adalah asam sulfat, asam asetat, hidroflorida, dan asam klorida. Jika mata terkena zat kimia bersifat asam maka akan terlihat iritasi berat yang sebenarnya akibat akhirnya tidak berat. Asam akan menyebabkan koagulasi protein plasma. Dengan adanya koagulasi protein ini menimbulkan keuntungan bagi mata, yaitu sebagai barrier yang cenderung membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. Hal ini berbeda dengan basa yang mampu menembus jaringan mata dan akan terus menimbulkan kerusakan lebih jauh. Selain keuntungan, koagulasi juga menyebabkan kerusakan konjungtiva dan kornea. Dalam masa penyembuhan setelah terkena zat kimia asam akan terjadi perlekatan antara konjugtiva bulbi dengan konjungtiva tarsal yang disebut simblefaron.

Perjalanan penyakit trauma asam :

  • 1. Pada minggu pertama:

16

Terjadi koagulasi protein epitel kornea yang mengakibatan kekeruhan pada kornea, demikian pula terjadi koagulasi protein konjungtiva bulbi. Koagulasi proten ini teratas pada daerah kontak bahan asam dengan jaringan.

Akibat koagulasi protein ini kadang-kadang seluruh kornea terelupas.

Koaguasi protein ini dapat mengenai jaringan yang lebh dalamseperti stroma kornea, keratosi dan endotel kornea.

Bila terjadi penetrasi jarigan yang lebh dalam akan terjadi edema kornea, iritisdan katarak.

Bila trama disebabkan oeh asam lemah maka regenerasi epitel akan terjadi dalam beberapa hari dan kemudian sembuh.

Bila trauma disebabkan oeh asam kuat maka stroma kornea akan berwarna kelabu infiltrasi sel radang ke dalamnya. Infiltrasi e daam stroma oleh bahan asam terjadi daam waktu 24 jam.

Beberapa menit atau jam sesudah trauma asam konjugtiva bulbi menjadi hiperemi dan kemotik. Kadang kadang terdaapt perdarahan pada konjungtiva bulbi.

Tekanan bola mata akan meninggi pada hari pertama, yang kemudian dapat menjadi norml atau merendah.

  • 2. Trauma asam pada minggu 1- 3:

Umumnya trauma asam mulai sembuh pada minggu kesatu sampai ketiga ini.

Pada trauma asam yang berat akan terbentuk tukaak kornea dengan vaskularisasi yang ersifat progresi.

Keadaan terburuk akibat trauma asam pada saat ini ialah berupa vaskularisasi berat pada kornea.

17

3.

Trauma sesudah 3 minggu:

Trauma asam yang tidak sangat berat akan sembuh sesudah 3 minggu

Pada endotel dapat terbentuk membran fibrosa kerusakan endotel.

yang merupakan bentuk

Patofisiologi :

Akibat trauma asam diketahui ahwa perubahan reaksi biokimia ditentukan oleh jenis asam yang menyebabkan trauma. Asam merusa dan memutus ikatan intramuskuar protein, dan protein ynag berkagulasi merupakan barier terhadap penetrasi lanjut daripada asam ke dalam jaringan. Diketahui bahwa asam sulfur mengakiatkan kadar monosakarida jaringan menurun. Bila trama disebabkan oleh HCl, maka pH cairan mata turun sesudah trauma berlangsung 30 menit. Pada trauma asam tdak terdapa gangguan pembentukan jaringan kolagen. Pada trauma asam berat yang merusak badan siliar akan terjadi penurunan kadar askorbat dalam cairan mata dankornea.

Pengobatan trauma asam :

Irigasi segera dengan garam fisiologik atau air.

Kontrol pH air mata untuk melihat apakah sudah normal

Selanjutnya pertimbangkan pengobatan sama dengan pengobatan yang diberikan pada traum alkali.

TRAUMA TEMBUS BOLA MATA

Definisi

Trauma tembus pada mata adalah suatu trauma dimana seluruh lapisan jaringan atau organ

mengalami kerusakan.

Etiologi

Trauma tembus disebabkan benda tajam atau benda asing masuk kedalam bola mata.

18

Tanda Dan Gejala

  • 1. Tajam penglihatan yang menurun

  • 2. Tekanan bola mata rndah

  • 3. Bilikmata dangkal

  • 4. Bentuk dan letak pupil berubah

  • 5. Terlihat adanya ruptur pada corneaatau sclera

  • 6. Terdapat jaringan yang prolapsseperti caiaran mata iris,lensa,badan kaca atau retina

  • 7. Kunjungtiva kemotis

Tanda Dan Gejala 1. Tajam penglihatan yang menurun 2. Tekanan bola mata rndah 3. Bilikmata dangkal

Pemeriksaan Penunjang

  • a. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiology pada trauma mata sangat membantu dalam menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing .Pemeriksaan ultra sonographi untuk menentukan letaknya, dengan pemeriksaan ini dapat diketahui benda tersebut pada bilik mata depan, lensa, retina.

  • b. Pemeriksaan “Computed Tomography” (CT) Suatu tomogram dengan menggunakan komputer dan dapat dibuat “scanning” dari organ tersebut.

Penatalaksanaan

Bila terlihat salah satu tanda diatas atau dicurigai adanya perforasi bola mata, maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotik topical, mata ditutup, dan segera dikirim kepada dokter mata untuk dilakukan pembedahan. Sebaiknya dipastikan apakah ada benda asing yang masuk ke dalam mata dengan membuat foto. Pada pasien dengan luka tembus bola mata selamanya diberikan antibiotik sistemik atau intravena dan pasien dikuasakan untuk kegiatan pembdahan. Pasien juga diberi antitetanus provilaksis, dan kalau perlu penenang. Trauma tembus dapat terjadi akibat masuknya benda asing ke dalam bola mata. Benda asing didalam

19

bola mata pada dasarnya perlu dikeluarkan dan segera dikirim ke dokter mata. Benda asing yang bersifat magnetic dapat dikeluarkan dengan mengunakan magnet raksasa. Benda yang tidak magnetic dikeluarkan dengan vitrektomi. Penyulit yang dapat timbul karena terdapatnya benda asing intraokular adalah indoftalmitis, panoftalmitis, ablasi retina, perdarahan intraokular dan ftisis bulbi.

Patofisiologi

Trauma tembus pada mata karena benda tajam maka dapat mengenai organ mata dari yang

terdepan sampai yang terdalam. Trauma tembus bola mata bisa mengenai :

  • Palpebra: Mengenai sebagian atau seluruhnya jika mengenai levator apaneurosis dapat menyebabkan suatu ptosis yang permanen

  • Saluran Lakrimalis: Dapat merusak sistem pengaliran air mata dai pungtum lakrimalis sampai ke rongga hidung. Hal ini dapat menyeabkan kekurangan air mata.

  • Congjungtiva: Dapat merusak dan ruptur pembuluh darah menyebabkan perdarahan sub konjungtiva

  • Sklera:

Bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan tekana bola mata dan kamera okuli jadi dangkal (obliteni), luka sklera yang lebar dapat disertai prolap jaringan bola mata, bola mata menjadi injury.

  • Kornea: Bila ada tembus kornea dapat mengganggu fungsi penglihatan karena fungsi kornea sebagai media refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea menyebabkan iris prolaps, korpusvitreum dan korpus ciliaris prolaps, hal ini dapat menurunkan visus

  • Uvea: Bila luka dapat menyeabka pengaturan banyaknya cahay yang masuk sehinggan muncul fotofobia atau penglihatan kabur

  • Lensa: Bila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina sehingga menurunkan daya refraksi dan sefris sebagai penglihatan menurun karena daya akomodasi tisak adekuat.

  • Retina:

20

Dapat menyebabkan perdarahan retina yang dapat menumpuk pada rongga badan kaca, hal ini dapat muncul fotopsia dan ada benda melayang dalam badan kaca bisa juga teri oblaina retina.

LASERASI KELOPAK MATA

Penyebab

Trauma tajam atau tumpul yang keras.

Manifestasi klinis

Kerusakan yang terjdi dapat bersama-sama dengan kerusakan kanalikuli lakrimal, tendon kantus internus ataupun eksternus, septum orbita dan aponeurosis levator palpebra. Laserasi kelopak yang luas berupa avulsi dengan tau tanpa hilangnya jaringan dapat berakibat masalah pada tindakan rekonstruksi jaringan.

Dapat menyebabkan perdarahan retina yang dapat menumpuk pada rongga badan kaca, hal ini dapat muncul fotopsia

Pemeriksaan

Pada pemeriksaan laserasi kelopak mata, perlu diperhatikan segala kemungkinan terdapatnya benda asing yang merupakan penyebab kerusakan kelopak mata tersebut. Dengan menggunakan mikroskop bedah dapat membantu untuk melihat jauhnya kerusakan.

Tatalaksana

Benda berbebentuk partikel harus dikeluarkan dari palpebra yang mengalami abrasi untuk mengurangi resiko pemebntukan tato (tattooing) pada kulit. Luka kemudian diirigasi dengan

21

salin dan ditutup dengan salep antibiotik dan kasa steril. Jaringan yang terlepas dibersihkan dan dilekatkan kembali. Karena vaskularisasi palpebra sangat baik, maka kemungkinan tidak terjadi nekrosis iskemik.

Bila perbaikan primer tidak dilakukan dalam 24 jam, terjadinya edema mengharuskan penutupan ditunda. Luka harus dibersihkan secara cermat dan diberikan antibiotik. Setelah bengkak mereda, dapat dilakukan perbaikan. Debridement harus dilakukan seminimal mungkin, terutama bila kulitnya tidak longgar.

  • 1. Laserasi kelopak mata dengan kerusakan kanalikuli Perbaikan disarankan untuk dilakukan sejak dini karena jaringan menjadi semakin kulit diidentifikasi dan diperbaiki saat membengkak. Dilakukan penjahitan kanalikuli lakrimal, sebelum melakukan penjahitan yang lain. Sesudah menjahit dengan aposisi baik yang kadang-kadang dipermudah dengan memakai alat yang disebut pig tail dilakukan penjahitan laserasi kelopak. Bila terjadi kerusakan yang luas pada kanalikuli atas dan bawah maka dapat dilakukan dakriosistorinostomi.

  • 2. Laserasi kelopak mata yang luas Keadaan ini dapat menyebabkan hilangnya perlindungan bola mata terhadap dunia luar. Pada keadaan ini diperlukan penutupan segera bola mata yang tidak terlindung oleh kelopak mata.

salin dan ditutup dengan salep antibiotik dan kasa steril. Jaringan yang terlepas dibersihkan dan dilekatkan kembali.

22

Trauma kelopak mata

HEMATOM KELOPAK

Definisi

TRAUMA TUMPUL

Hematom palpebra merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra. Hematom kelopak merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauma tumpul kelopak. Keadaan ini merupakan bentuk yang menakutkan untuk pasien, dapat tidak berbahaya ataupun sangat berbahaya karena mungkin ada kelainan lain di belakangnya.

Penyebab

Pukulan tinju, atau benda-benda keras lainnya.

Manifestasi Klinis

Bentuk yang berbahaya atau gawat yaitu hematom kaca mata (Brill hematom). Terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis kranii. Pada pecahnya arteri oftalmika maka darah masuk ke dalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita. Akibat darah tidak dapat menjalar lanjut karena dibatasi septum orbita kelopak maka akan berbentuk gambaran hitam pada kelopak seperti seseorang memakai kacamata.

Tatalaksana

Awalnya dapat diber kompres dingin untuk menghentikan perdarahan dan menghilangkan rasa sakit. Bila telah lama, untuk memudahkan absorbsi darah dapat dilakukan kompres hangat pada kelopak mata.

TRAUMA TUMPUL PADA KONJUNCTIVA

Edema Konjunctiva

Jaringan konjunctiva yang bersifat selaput lender dapat menjadi kemotik pada setiap kelainannya, demikian pula akibat trauma tumpul. Kemotik konjuctiva yang berat dapat

23

mengakibatkan

[alpebra

tidak

menutup

sehingga

bertambah

rangsangan

terhadap

konjunctiva.

Pada edema konjunctiva dapat diberikan dekongestan untuk mencegah pembendungan cairan dalam selaput lender konjunctiva.

Pada edema berat dapat dilakukan insisi sehingga cairan konjungtiva yang kemotik dapat keluar dari insisi tersebut.

Hematoma Subkonjungtiva

Hematoma subkonjungtiva dapat terjadi kaibt pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada atau dibawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Pecahnya pembuluh darah ini dapat akibat batuk rejan, trauma tumpul basus kranii (hematoma kaca mata), atau pada keadaan pembuluh darah yang rentan atau mudah pecah pada usia lanjut, hipertensi, aterosklerose, konjungtivitis, anemia dan obat-obatan tertentu.

Pemeriksaan sangat diperlukan untuk setiap kejadian perdarahan subkonjungtiva. Bila tekanan bola mata rendah dengan pupil lonjong disertai tajam penglihatan menurun dan hematoma subkonjungtiva maka sebaiknya eksplorasi bola mata untuk mencari kemungkinan adanya rupture bulbus okuli.

Pengobatan dini pada hematoma konjungtiva adalah denga compress hangat. Perdarah subkonjugtiva akan hilang atau diabsorbsi dalam 1-2 minggu tanpa di absorbsi.

mengakibatkan [alpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap konjunctiva. Pada edema konjunctiva dapat diberikan dekongestan untuk

TRAUMA TUMPUL KORNEA

Edema Kornea

24

Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata dapat mengakibatkan edema korne bahkan rupture membrane descemet. Keluhan yang dirasakan pasien adalah penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi disekitar la,pu atau sumber cahaya yang dilihat. Kornea akan terlihat keruh dan pada uju plasido positif.

Edema korne berat mengakibatnya masuknya serbukan sel radang dan neovaskularisasi ke dalam jaringan stroma kornea.

Pengobatan yang dilakukan adalah larutan hipertonik seperti NaCl 5%atau l arutan garam hipertonik2-8%, glokosa 40% dan larutan albumin.

Bila terjadi peninggian tekanan bola mata maka dapat diberikan asetozalamida.

Penyulit trauma kornea yang berat berupa terjadinya kerusakan M. descemet yang lama sehingga menimbulkan keratopatibulosa yang akan menyebabkan rasa sakit dan tajam penglihatan menurunakibat astigmatisme irregular.

Erosi Kornea

Merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea. Pada erosi kornea dapat menimbulkan rasa sakit sekali pada karena erosi merusak korne yang mempunyai serat yang sensible, mata berair, dengan blefarospasme, lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan akam terganggu.

Pada kornea akan terlihat suatu defek epitel yang bila diberi pewarnaan fluoreseinakan berwarna hijau.

Anestesi topical dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa sakit. Hati-hati bila menggunakan obat tersebut untuk menghilangkan rasa sakit pada pemeriksanan karena dapat menambah kerusakan epitel.

Epitel yang terkelupas sebaiknya dilepas atau dikupas. Untuk mencegah infeksi sebaiknya diberikan antibiotic spectrum luas Neosporin, kloramfenikol, dan sulfasetamid tetes mata. Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasame silier maka diberikan sikloplegik aksi pendek seperti tropikamida. Pasien akan merasa lebih tenang jika dibebat tekan selama 24 jam. Erosi kecil biasanya dapat tertutup kembali setelah 48 jam.

25

TRAUMA TUMPUL UVEA

Iridoplegia

Definisi

Iridoplegia adalah suatu kelainan pada uvea yang diakibatkan trauma tumpul sehingga mengakibaykan kelumpuhan otot sfingter pupil.

Tanda dan gejala

  • - pupil menjadi lebar (midriasis), pupil tidak terlihat sama besar (anisokoria) dan bentuk pupil dapat menjadi iregular serta pupil tidak bereaksi terhadap sinar,

  • - pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi,

  • - silau akibat gangguan pengaturan masuknya sinar atau pupil.

Tatalaksana

Diberikan istirahat untuk mencegah terjadinya kelelahan sfingter dan pemberian roboransia (pengoabatan tambahan, semacam vitamin)

Iridodialisis

Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga bentuk pupil menjadi berubah.

Tanda dan gejala

  • - Pasien akan melihat ganda dengan satu matanya

  • - Pupil terlihat lonjong (bentuk pupil berubah)

  • - Biasanya terjadi bersama-sama dengan hifema

Tata l aksana

Sebaiknya dilakukan pembedahan dengan melakukan reposisi pangkal iris yang terlepas.

26

Iridosiklitis

Tanda dan Gejala

Pada trauma tumpul dapat terjadi reaksi jaringan uvea sehingga menimbulkan iridosiklitis atau radang uvea anterior.

Pada mata akan terlihat mata merah, akibat adanya darah di dalam bilik mata depan maka akan terdapat suar dan pupil yang mengecil dengan tajam penglihatan menurun.

Tata l aksana

Pada uveitis anterior diberikan tetes mata midriatik dan steroid topikal. Bila terlihat tanda radang berat maka dapat diberikan steroid sistemik.

Sebaiknya pada mata juga diukur tekanan bola mata untuk persiapan memeriksa fundus dengan midriatika.

Bilik Mata Depan (Hifema)

Definisi

Hifema adalah darah yang terdapat di dalam bilik mata depan (aqueous) yang terlihat membentuk suatu lapisan yang dapat terlihat. Biasanya diakibatkan trauma tumpul yang merobek pembuluh-pembuluh darah di iris dan merusak sudut bilik mata depan.

Diagnosa

  • - Pasien akan mengeluh sakit pada matanya

  • - Disertai dengan epifora dan blefarospasme

  • - Penglihatan pasien akan sangat menurun

  • - Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan (hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan)

  • - Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan irisodialisis

  • - Pemeriksaan berkala untuk mencari adanya perdarahan sekunder, glaukoma, atau bercak darah di kornea akibat pigmen besi

  • - Pemeriksaan Ultrasonografi mencari kerusakan segmen posterior

Komplikasi

27

  • - Glaukoma akut terjadi bila anyaman trabekular tersumbat oleh fibrin dan sel atau bila pembentukan bekuan darah menimbulkan blokade pupil.

  • - Hifema sekunder kadang-kadang sesudah hifema hilang atau 7 hari setelah trauma dapat terjadi perdarahan atau hifema baru yang pengaruhnya akan lebih hebat karena perdarahan lebih sukar hilang.

  • - Siderosis bulbi akibat terdapatnya zat besi di dalam bola mata bila didiamkan akan dapat menimbulkan fisis bulbi dan kebutaaan.

  • - Leukemia dan retinoblastoma biasanya pada anak ditandai dengan terjadinya hifema spontan

Tata l aksana

  • - Istirahat pasien dengan hifema yang tampak mengisi lebih dari 5% bilik mata depan

  • - Merawat pasien dengan tidur di tempat yang ditinggikan 30 derajat pada kepala

  • - Diberikan koagulasi dan mata ditutup

  • - Pada anak yang gelisah dapat diberikan penenang

  • - Pemberian steroid tetes harus segera dimulai; hindari penggunaan aspirin dan antiinflamasi nonsteroid

  • - Penggunaan asam aminokaproat oral (100 mg/kg setiap 4 jam sampai maksimum 30 g/hari selama 5 hari) untuk menstabilkan pembentukan bekuan darah sehingga menurunkan resiko perdarahan ulang

  • - Asetazolamide ada glaukoma

  • - Parasentesis tindakan pembedahan dengan mengeluarkan darah atau nanah dari bilik mata depan bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda-tanda hifema akan berkurang.

TRAUMA TUMPUL RETINA

Edema Retina dan koroid

Tanda dan gejala

28

Penglihatan akan sangat menurun

Edema retina akan memberikan warna retina yang lebih abu-abu akibat sukarnya melihat jaringan koroid melalui retina yang sembab

Tidak terlihat cherry red spot makula juga terjadi edema

Bisa terjadi edema makula (edema berlin) terjadi edema yang luas sehinga seluruh polus posterior fundus okuli berwarna abu-abu.

Umumnya penglihatan akan normal kembali setelah beberapa waktu, akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang akibat tertimbunnya daerah makula oleh sel pigmen epitel.

Ablasi retina

Trauma pencetus untuk terlepasnya retina dari koroid pada penderita ablasi retina.

Biasanya pasien telah mempunyai bakat untuk terjadinya ablasi retina ini seperti retina tipis akibat retinitis semata, miopia dan proses degenerasi retina lainnya.

Tanda dan gejala

  • - Terdapat keluhan seperti adanya selaput yang seperti tabir mengganggu lapang pandangannya.

  • - Bila terkena atau tertutup daerah makula maka tajam penglihatan akan menurun.

  • - Pemeriksaan funduskopi terlihat retina yang berwarna abu-abu dengan pembuluh darah yang terlihat terangkat dan berkelok-kelok. Kadang-kadang terlihat pembuluh darah seperti yang terputus-putus.

Tata laksana

Secepatnya dirawat untuk dilakukan pembedahan oleh dokter mata

Ruptur koroid

Etiologi Trauma keras ruptur koroid perdarahan subretina

29

Ruptur biasanya terletak di polus posterior bola mata dan melingkar konsentris di sekitar papil saraf optik

Bila

ruptur

koroid

ini

terletak

atau

mengenai

daerah

makula

lutea

maka

tajam

penglihatan akan turun dengan sangat.

Ruptur ini bila tertutup oleh perdarahan subretina agak sukar dilihat akan tetapi bila darah tersebut telah diabsorpsi maka akan terlihat bagian ruptur berwarna putih karena sklera dapat dilihat langsung tanpa tertutup koroid.

TRAUMA TUMPUL LENSA

Dislokasi lensa

Trauma tumpul lensa dapat mengakibatkan dislokasi lensa. Dislokasi lensa terjadi pada putusnya zonula zinn yang akan mengakibatkan kedudukan lensa terganggu.

Subluksasi lensa

Subluksasi lensa terjadi akibat putusnya sebagian zonula Zinn sehingga lensa berpindah tempat. Subluksasi lensa dapat juga terjadi spontan akibat pasien menderita kelainan pada zonula Zinn yang rapuh (sindrom Marphan).

Tanda dan gejala

  • - Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang

  • - Subluksasi lensa akan memberikan gambaran pada iris berupa iridodonesis

  • - Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada maka lensa yang elastis akan menjadi cembung dan mata akan menjadi lebih miopik lensa yang menjadi sangat cembung mendorong iris ke depan sehingga sudut bilik mata tertutup bila sudut bilik mata menjadi sempit pada mata ini mudah terjadi glaukoma sekunder.

Tata laksana

Bila tidak terjadi penyulit subluksasi lensa seperti glaukoma atau uveitis maka tidak dilakukan pengeluaran lensa dan diberi kaca mata koreksi yang sesuai.

30

Luksasi lensa anterior

Bila seluruh zonula Zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma maka lensa dapat masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat lensa terletak di dalam bilik mata depan ini maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata sehingga akan timbul glaukoma kongestif akut dengan gejala-gejalanya.

Tanda dan gejala

  • - Pasien akan mengeluh penglihatan menurun mendadak, disertai rasa sakit yang sangat, muntah, mata merah dengan blefarospasme.

  • - Terdapat injeksi siliar yang berat, edema kornea, lensa di dalam bilik mata depan.

  • - Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar.

  • - Tekanan bola mata sangat tinggi.

Tata Laksana

Pada luksasi lensa anterior sebaiknya pasien secepatnya dikirim pada dokter mata untuk dikeluarkan lensanya (terlebih dahulu diberikan asetazolamide untuk menurunkan tekanan bola matanya).

Luksasi lensa posterior

Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat terjadi luksasi lensa posterior akibat putusnya zonula Zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah polus posterior fundus okuli.

Tanda dan gejala

Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangannya akibat lensa mengganggu kampus.

  • - Mata akan menunjukkan gejala mata tanpa lensa (afakia)

  • - Pasien akan melihat normal dengan lensa + 12,0 dioptri untuk jauh

  • - Bilik mata depan dalam

31

  • - Iris tremulans

  • - Lensa yang terlalu lama berada pada polus posterior dapat menimbullkan penyulit akibat degenerasi lensa, berupa glaukoma fakolitik ataupun uveitis fakotoksik

Tata Laksana

Bila luksasi lensa telah menimbulkan penyulit sebaiknya secepatnya dilakukan ekstraksi lensa

Katarak Trauma

Katarak akibat cedera pada mata (trauma perforasi atau tumpul) terlihat sesudah beberapa hari ataupun tahun.

Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior atau posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius.

Trauma tembus menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan menutup dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan terdapatnya massa lensa di dalam bilik mata depan.

Pemeriksaan histopatologik terlihat massa lensa yang akan bercampur makrofag dengan cepatnya, yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakoanafilaktik. Lensa dengan kapsul

anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan terbentuknya cincin Soemering atau bila epitel lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara Elsching.

Tata Laksana pengobatan katarak traumatik tergantung pada saat terjadinya.

Bila terjadi

pada anak

sebaiknya

dipertimbangkan

terjadinya

ambliopia. Untuk

mencegah ambliopia dapat dipasang lensa intra okular primer atau sekunder

Apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang.

Bila terjadi penyulit seperti glaukoma, uveitis maka segera dilakukan ekstraksi lensa.

32

TRAUMA RADIASI

Mata berfungsi sebagai penglihatan dengan memfokuskan cahaya. Dengan difokuskannya sinar ini mengakibatkan tenaga yang memasuki sinar mata bertambah besar 100.000 kalinya. Radiasi sinar-sinar yang mengenai mata juga tidak akan terelakkan menimbulkan hal-hal buruk bagi mata. Namun, mata memiliki perlindungan dengan berkedip atau secara refleks dengan terjadinya miosis

Terdapat beberapa jenis dari trauma radiasi

Sinar Infra Merah

Sinar ini merupakan sinar dengan gelombang panjang dan tidak terlihat. Sinar ini dapat menimbulkan katarak kortikal posterior yang nantinya berakhir dengan katarak total. Akibat buruk dari sinar ini dapat kita lihat pada tempat pencairan kaca, karena pencairan kaca menimbulkan sinar ini. selain itu juga terjadi saat-saat gerhana matahari. Sinar ini dapat membakar fovea saat memasuki mata 1/10 detik. Dan bila melihat gerhana matahari secara langsung dapat terjadi koagulasi koroid. Bergantung pada lamanya dan beratnya koagulasi, dapat mengakibatkan gangguan tajam penglihatan yang permanen.

Tidak ada pengobatanterhadap akibat buruk yang sudah terjadi, kecuali mencegah terkenanya mata oleh sinar infra merah. Steroid sistemik dan local dapat diberikan untuk mencegah terbentuknya jaringan parut pada macula atau mengurangi gejala radang yang timbul.

Sinar Ultraviolet

Merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat. Akibat penyerapan sinar ini oleh lensa akan menimbulkan kekeruhan di dataran depan lensa. Pada permukaan anterior lensa terjadi denaturasi protein. Sinar ini memberi akibat buruk pada orang yang mudah terkena sinar ini seperti pada orang Eskimo, nelayan, pendaki gunung dan pekerja las.

Akibat sinar ini akan menimbulkan mata terasa sangat sakit, mata seperti kelilipan atau kemasukan pasir, fotofobia, blefarospasme, lakrimasi pada jam pertama setelah kontak.pupil terlihat miosis. Keluhan ini dapat timbul sesudah beberapa jam terkena sinar ultraviolet. Ditemukan juga infiltrate kecil pada kornea berupa keratitis interpalpebral. Keratitis ini dapat

33

sembuh tanpa cacat, akan tetapi bila radiasi berjalan lama kerusakan dapat permanen sehingga akan memberikan kekeruhan kornea

Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia, antibiotika local, analgetic, dan mata ditutup selama 2-3 hari

Sinar Terlihat

Disini sinar yang terlihat dengan intesitas tinggi seperti sinar laser dan xenon. Sinar laser akan membakar iris dan epitel pigmen retina. Daya koagulasi sinar laser pada iris dan sel pigmen berguna untuk iridektomi pada penderita glaucoma atau koagulasi retina pada retinopatia. Kerusakan retina dapat terjadi pada pemakaian alat diagnostic mata atau alat bedah mata seperti:

  • a) Oftalmoskopi indirek dapat merusak macula lutea

  • b) Pemakaian sinar koaksial pada mikroskop bedah akan merusak macula lutea

  • c) Iluminasi endsokopi pada waktu vitrektomi akan merusak retina. Berat kerusakan bergantung lama, terfokusnya sinar dan panjang gelombang yang memberikan akibat buruk pada jaringan.

Sinar ionisasi dan sinar x

Sinar ionisasi dibedakan dalam bentuk:

  • a) Sinar alfa yang dapat diabaikan

  • b) Sinar beta yang dapat menembus 1 cm jaringan

  • c) Sinar gama dan X

Radiasi oleh sinar ini daoat menimbulkan katarak dan keruskan etina. Dapat juga menimbulkan pembelahan sel yang abnormal pada epitel lensa. Sinar x merusak retina dan memberikan gambaran seperti rteinopati diabetes. Akibat sinar X pada retina akan terlihat dilatasi kapiler, perdarahan, mikroaneurisma dan eksudat seperti umumnya terdapat pada retinopatia diabetes.

Trauma Elektrik

34

Trauma listrik dapat mengakibatkan terbentuknya vakuolvakuol pada lensa yang akan berakhir dengan kekeruhan lensa.Bila sumber listrik mempunyai jarak sama dengan kedua mata maka akan timbul katarak pada kedua mata sekaligus.

Trauma Panas

Panas dan dingin sangat merusak mata kita. Mata dapat mengalami peradangan, terbakar dan terkelupas. Trauma hipotermik dapat dilihat pada pembedahan dengan memakai alt krio untuk katarak dan retina.

Untuk pengobatannya apabila panas merusak kornea dan konjungtiva maka diberikan anestesi local, kompres dingin, dan antibiotic local selama 3 hari.

CORPUS ALIENUM INTRA OCULI

Struktur wajah dan mata sangat sesuai untuk melindungi mata dari cedera. Bola mata terdapat di dalam sebuah rongga yang dikelilingi oleh bubungan bertulang yang kuat. Kelopak mata bisa segera menutup untuk membentuk penghalang bagi benda asing dan mata bisa mengatasi benturan yang ringan tanpa mengalami kerusakan.Meskipun demikian, mata dan struktur disekitarnya bisa mengalami kerusakan akibat cedera. Kadang sangat berat sampai terjadi kebutaan atau mata harus diangkat. Cedera mata harus diperiksa untuk menentukan pengobatan dan menilai fungsi penglihatan.

Definisi

Corpus alienum adalah benda asing. Istilah ini sering digunakan dalam istilah medis. Merupakan salah satu penyebab cedera mata yang paling sering mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva. Meskipun kebanyakan bersifat ringan, tetapi beberapa cedera bisa berakibat serius . Apabila suatu korpus alienum masuk ke dalam bola mata maka biasanya terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata dan terjadi iridocylitis serta panophthmitis. Karena itu perlu cepat mengenali benda asing tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk kemudian mengeluarkannya.

Beratnya kerusakan pada organ – organ di dalam bola mata tergantung dari besarnya corpus alienum, kecepatannya masuk, ada atau tidaknya proses infeksi dan jenis bendanya

35

sendiri.Bila ini berada pada segmen depan dari bola mata, hal ini kurang berbahaya jika dibandingkan dengan bila benda ini terdapat di dalam segmen belakang. Jika suatu benda masuk ke dalam bola mata maka akan terjadi salah satu dari ketiga perubahan berikut :

1. Mecanical effect

Benda yang masuk ke dalam bola mata hingga melalui kornea ataupun sclera. Setelah benda ini menembus kornea maka ia masuk ke dalam kamera oculi anterior dan mengendap ke dasar. Bila kecil sekali dapat mengendap di dalam sudut bilik mata. Bila benda ini terus, maka ia akan menembus iris dan kalau mengenai lensa mata akan terjadi catarack, traumatic. Benda ini bisa juga tinggal di dalam corpus vitreus. Bila benda ini melekat di retina biasanya kelihatan sebagai bagian yang dikelilingi oleh eksudat yang berwarna putih serta adanya endapan sel – sel darah merah, akhirnya terjadi degenerasi retina.

2. Permulaan terjadinya proses infeksi

Dengan masuknya benda asing ke dalam bola mata kemungkinan akan timbul infeksi. Corpus vitreus dan lensa dapat merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman sehingga sering timbul infeksi supuratif. Juga kita tidak boleh melupakan infeksi kuman tetanus.

3. Terjadi perubahan – perubahan spesifik pada jaringan mata karena proses kimiawi ( reaction of ocular tissue )

Etiologi

Penyebab cedera mata pada permukaan mata adalah percikan kaca, partikel yang terbawa angin dan ranting pohon.

Tanda dan Gejala

Setiap cedera pada permukaan mata biasanya menimbulkan perasaan ada sesuatu dimata. Gejala lainnya adalah kepekaan terhadap cahaya, mata atau pembengkakan mata dan kelopak mata. Penglihatan bisa menjadi kabur.

36

Pemeriksaan 1. Anamnesa kejadian trauma 2. Pemeriksaan tajam penglihatan kedua mata. 3. Pemeriksaan dengan optalmoskop 4.
Pemeriksaan 1. Anamnesa kejadian trauma 2. Pemeriksaan tajam penglihatan kedua mata. 3. Pemeriksaan dengan optalmoskop 4.
Pemeriksaan 1. Anamnesa kejadian trauma 2. Pemeriksaan tajam penglihatan kedua mata. 3. Pemeriksaan dengan optalmoskop 4.

Pemeriksaan

  • 1. Anamnesa kejadian trauma

  • 2. Pemeriksaan tajam penglihatan kedua mata.

  • 3. Pemeriksaan dengan optalmoskop

  • 4. Pemeriksaan keadaan mata yang kena trauma

  • 5. Bila ada perforasi lakukan pemeriksaan X-Ray orbita dengan PA dan lateral

Penatalaksanaan

Perawatan luka

Pengeluaran benda asing sesuai dengan fasilitas dan kemampuan

Rujuk ke rumah sakit pusat. Benda asing di mata harus dikeluarkan . Agar benda asing terlihat lebih jelas dan untuk melihat adanya goresan atau benda asing pada mata, bisa diberikan obat tetes mata khusus yang mengandung zat warna flouresensi.Kemudian diberikan obat tetes mata yang mengandung obat bius untuk mematikan rasa dipermukaan mata. Dengan menggunakan alat penerangan khusus, benda tersebut bisa dibuang oleh dokter. Benda asing seringkali bisa diambil dengan menggunakan kapas steril yang lembab atau kadang dengan mengguyur mata dengan air steril.

37

Jika benda asing menyebabkan goresan kecil pada permukaan kornea, diberikan salep antibiotik selama beberapa hari. Goresan yang lebih besar memerlukan pengobatan tambahan. Pupil diusahakan tetap melebar dengan pemberian obat, lalu dimasukkan antibiotik dan mata ditutup dengan plester. Sel-sel pada permukaan mata berregenerasi dengan cepat, meskipun goresannya besar, penyembuhannya akan berlangsung selama 1-3 hari. Jika benda asing telah menembus ke lapisan mata yang lebih dalam, segera hubungi dokter spesialis mata.

BENDA ASING INTRAOKULAR

Benda Asing Magnetik Intraokular

Pada keadaan diduga adanya benda asing magnetik intraokular perlu diambil riwayat terjadinya trauma dengan balk. Benda asing intraokular yang magnetik ataupun tidak akan

memberikan gangguan pada tajam penglihatan. Akan terlihat kerusakan kornea, lensa, iris ataupun sklera yang merupakan tempat jalan

masuknya benda asing ke dalam bola mata. Bila pada pemeriksaan pertama lensa masih jernih maka untuk melihat kedudukan

benda asing di dalam bola mata dilakukan melebarkan pupil dengan midriatika.

o

Pemeriksaan funduskopi sebaiknya segera dilakukan karena bila lensa terkena maka akan lensa menjadi keruh secara perlahan-lahan sehingga akan memberikan kesukaran

untuk melihat jaringan belakang lensa. Pemeriksaan radiologik akan memperlihatkan bentuk dan besar benda asing yang terletak

intraokular. Bila pada pemeriksaan radiologik dipakai cincin Flieringa atau lensa kontak Comberg

o

akan terlihat benda bergerak bersama dengan pergerakan bola mata. Untuk menentukan letak benda asing ini dapat dilakukan pemeriksaan tambahan lain

yaitu dengan metal locator. Pemeriksaan ultrasonografi digunakan untuk pemeriksaan yang lebih menentukan

o

letak dan gangguan terhadap jaringan sekitar lainnya. Penanganan pada benda asing intraokular ialah dengan mengeluarkannya dan dilakukan

dengan perencanaan pembedahan agar tidak memberikan kerusakan yang lebih berat

terhadap bola mata. Mengeluarkan benda asing melalui jalan melewati sklera merupakan cara untuk tidak

o

merusak jaringan lain.

PEMERIKSAAN AWAL PADA TRUMA MATA

38

1.

ANAMNESIS

Mekanisme trauma, waktu trauma dan aktifitas saat trauma.

 

Perkiraan jenis benda asing, bentuk, ukuran, ketajaman, kecepatan saat memasuki mata, bahan dari benda asing tersebut apakah karet, besi, asam, basa dsb.

Harus dicurigai adanya benda asing intraokuler bila terdapat riwayat memalu, mengasah atau ledakan.

Keluhan-keluhan

yang

dialami

pasien

seperti

penurunan

tajam

penglihatan,

penglihatan ganda, nyeri, fotofobia, sulit membuka mata dsb.

Mencakup perkiraan ketajaman penglihatan sebelum dan sesaat setelah cedera. Harus diperhatikan apakah gangguan penglihatan yang ada bersifat progresif lambat atau memiliki onset mendadak.

  • 2. PEMERIKSAAN FISIK

Pengukuran dan pencatatan ketajaman penglihatan.

Bila parah, diperiksa proyeksi

cahaya, diskriminasi dua titik dan adanya defek pupil aferen

Pemeriksaan motilitas mata dan sensasi kulit periorbita

Periksa adanya enoftalmus

Periksa keadaan semua bagian bola mata untuk mencari adanya benda asing, laserasi, luka abrasi, dan perdarahan.

Ukuran dan bentuk pupil, serta reaksi pupil terhdap cahaya.

Palpasi untuk mencari defek pada bagian tepi tulang orbita.

Oftalmoskopi untuk mengamati lensa, vitreus, diskus optikus, dan retina.

  • 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Radiografi

39

Pengecetan gram, jika terdapat infeksi sehingga perlu mencari antibiotik yang peka.

PENANGANAN SEGERA PADA TRAUMA MATA

Bila jelas terdapat ruptur bola mata, manipulasi lebih lanjut harus dihindari sampai perbaikan secara bedah dalam kondisi steril dapat dilakukan, biasanya dengan anastesi umum.

Obat sikloplegik atau antibiotik topikal tidak boleh diberikan sebelum pembedahan karena potensi toksisitas pada jairngan intraokuler yang terpajan.

Analgetik, antiemetik, dan antitoksin tetanus diberikan sesuai kebutuhan,

Induksi anastesi umum tidak boleh menggunakan obat-obat penghambat depolarisasi neuromuskular karena obat-obat ini dapt meningkatkan tekanan di dalam bola mata secara transien sehingga meningkatkan kecenderungan herniasi isi intraokuler.

Hal yang perlu diperhatikan adalah pemberian anastesi topikal, zat warna, dan obat lain yang diberikan ke mata yang cedera harus steril, baik tetrakain dan fluoresein ter5sedia dalam unit- unit dosis individual yang steril.

INDIKASI PERUJUKAN

Keadaan yang memerlukan tindakan yang lebih lanjut à misalnya pembedahan (pada perforasi mata)

Misalnya trauma disebabkan oleh trauma tembus à corpus alienum intraokuler yang tidak bisa dikeluarkan à dirujuk

Adanya penyulit yang signifikan pada masing-masing trauma :

  • - Trauma tembus: glaukoma, katarak, endoftalmitis, ablasio retina, perforasi bola mata, ptisis

  • - Trauma kimia: katarak, glaukoma

Trauma tumpul : jika sudah menimbulkan edema subkonjungtiva, hifema, erosi kornea, trauma lensa, retina, koroid

40