Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

DEPARTEMEN SURGICAL RUANG 14


EMPHYEMA DAN WSD
Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Surgical

Disusun Oleh:
ZULVANA
NIM 140070300011138

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
LAPORAN PENDAHULUAN
EMPHYEMA DAN WSD
I. DEFINISI

Empyema berasal dari bahasa Yunani empyein yang artinya menghasilkan nanah
(supurasi). Definisi empyema yang paling sering digunakan adalah pengumpulan nanah di
dalam rongga di sekitar paru (rongga pleura) (Murray, 2000).
Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) di dalam rongga pleura. Awalnya
rongga pleura adalah cairan encer dengan jumlah leukosit rendah, tetapi sering kali berlanjut
menjadi

yang kental. Hal ini dapat terjadi jika abses paru-paru meluas sampai rongga

pleura. Empiema juga di artikan,akumulasi pus diantara paru dan membran yang
menyelimutinya (ruang pleura) yang dapat terjadi bilamana suatu paru terinfeksi. Pus ini
berisi sel sel darah putih yang berperan untuk melawan agen infeksi (sel sel
polimorfonuklear) dan juga berisi protein darah yang berperan dalam pembekuan (fibrin). ).
Ketika pus terkumpul dalam ruang pleura maka terjadi peningkatan tekanan pada paru
sehingga pernapasan menjadi sulit dan terasa nyeri. Seiring dengan berlanjutnya perjalanan
penyakit maka fibrin-fibrin tersebut akan memisahkan pleura menjadi kantong kantong
(lokulasi). Pembentukan jaringan parut dapat membuat sebagian paru tertarik dan akhirnya
mengakibatkan kerusakan yang permanen. Empiema biasanya merupakan komplikasi dari
infeksi paru (pneumonia) atau kantong kantong pus yang terlokalisasi (abses) dalam paru.
Meskipun empiema sering kali merupakan dari infeksi pulmonal, tetapi dapat juga terjadi jika
pengobatan yang terlambat.
II.

KLASIFIKASI
Berdasarkan perjalanan penyakitnya empiema thoraks dapat dibagi dua :
a. Empiema akut

Terjadi sekunder akibat infeksi di tempat lain. Terjadinya peradangan akut yang diikuti
pembentukan eksudat. Ditandai dengan:
1. Panas tinggi dan nyeri pleuritik
2. Adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura
3. Bila dibiarkan sampai beberapa minggu akan menimbulkan toksemia, anemia, dan
clubbing finger
4. Nanah yang tidak segera dikeluarkan akan menimbulkan fistel bronco-pleural
5. Gejala adanya fistel ditandai dengan batuk produktif bercampur dengan darah dan
nanah banyak sekali
b. Empiema kronis
Batas tegas antara empiema akut dan kronis sukar ditentukan. Empiema disebut kronis, bila
prosesnya berlangsung lebih dari 3 bulan. Ditandai dengan:
1. Disebut kronis karena lebih dari 3 bulan
2. Badan lemah, kesehatan semakin menurun
3. Pucat, clubbing finger
4. Dada datar karena adanya tanda-tanda cairan pleura
5. Terjadi fibrothorak trakea dan jantung tertarik kea rah yang sakit
6. Pemeriksaan radiologi menunjukkan cairan

Sedangkan, the American thoracis society membagi empiema thoraks menjadi tiga :

1. Eksudat
Dimana cairan pleura yang steril di dalam rongga pleura merespons proses inflamasi di
pleura
2. Fibropurulen
Cairan pleura menjadi lebih kental dan fibrin tumbuh di perrmukaan pleura yang

bisa

melokulasi pus dan secara perlahan-lahan membatasi gerak dari paru.


3. Organisasi
Kantong-kantong nanah yang terlokulasi akhirnya dapat mengembang menjadi rongga
abses berdinding tebal, atau sebagai eksudat yang berorganisasi, paru dapat kolaps. Dan
dikelilingi oleh bungkusan tebal, tidak elastic.

III.

ETIOLOGI

Empiema thoraks dapat disebabkan oleh infeksi yang berasal dari paru atau luar paru.
1. Infeksi berasal dari paru

pneumonia

abses paru
bila timbul di perifer paru dan berdekatan dengan plura visceralis, kadang-kadang
dinding abses bias pecah serta ikut pula merobek pleura visceralis yang pada
akhirnya menjadi empiema

fistel bronkopleura

bronkiektasis

tuberculosis paru

aktinomikosis paru

2. Infeksi berasal dari luar paru

trauma thoraks

pembedahan thoraks

torakosentesis
masuknya jarum ke dinding dada untuk mengalirkan cairan di rongga pleura,
biasanya jarang terjadi

abses subfrenik,missal abses hati karena amuba

Empiema thoraks kuman penyebab tersering ialah kuman staphylococcus, kadangkadang pneumococcus dan streptococcus jarang sekali kuman-kuman gram negative
seperti hemophilus influenza. Empiema pelvic pada wanita biasanya disebabkan strain
Bacteroides atau pseudomonas aeruginosa. Pada empiema kandung empedu biasanya
disebabkan oleh E.coli, Klebsiella pneumonia, Streptococus.

IV.

PATOFISIOLOGI

Terjadinya empiema thoraks dapat melalui tiga jalan :


1. Sebagai komplikasi penyakit pneumonia atau bronchopneumonia dan abscessus
pulmonum, oleh karena kuman menjalar per continuitatum dan menembus pleura
visceralis
2. Secara hematogen , kuman dari focus lain sampai di pleura visceralis
3. Infeksi dari luar dinding thorax yang menjalar ke dalam rongga pleura, misalnya pada
trauma thoracis, abses dinding thorax.
Terjadinya empiema akibat invasi basil piogenik ke pleura, timbul peradangan akut yang
diikuti dengan pembentukan eksudat serous dengan banyak sel-sel PMN baik yang hidup
ataupun mati dan meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental.
Adanya endapan-endapan fibrin akan membentuk kantong-kantong yang melokalisasi nanah
tersebut. Apabila nanah menembus bronkus timbul fistel bronko pleura, atau menembus
dinding thoraks dan keluar melalui kulit disebut empiema nasessitatis. Stadium ini masih
disebut empiema akut yang lama-lama akan menjadi kronis (batas tak jelas).
Biasanya empiema merupakan suatu proses luas, yang terdiri atas serangkaian daerah
berkotak-kotak yang melibatkan sebagian besar dari satu atau kedua rongga pleura. Dapat
pula terjadi perubahan pleura parietal. Jika nanah yang tertimbun tersebut tidak disalurkan
keluar, maka akan menembus dinding dada ke dalam parenkim paru-paru dan menimbulkan
fistula.
Piopneumothoraks dapat pula menembus ke dalam rongga perut. Kantung-kantung
nanah yang terkotak-kotak akhirnya berkembang menjadi rongga-rongga abses berdinding
tebal, atau dengan terjadinya pengorganisasian eksudat maka paru-paru dapat menjadi
kolaps serta dikelilingi oleh sampul tebal yang tidak elastis .
Bagan 1.a
Empiema-Pathophysiologi

Bagan 1.b
Empiema-Pathophysiologi

V.

MANIFESTASI KLINIS
Tanda-tanda gejala awal terutama pada empiema thoraks adalah tanda dan gejala

pneumonia bacteria. Penderita yang diobati dengan tidak memadai atau dengan antibiotik
yang tidak tepat dapat mempunyai interval beberapa hari antara fase pneumonia klinik dan
bukti adanya empiema.
Kebanyakan penderita menderita demam. demamnya remitten. takikardi, dyspneu,
sianosis, batuk-batuk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda seperti pleural effusion
umumnya. Bentuk thoraks asimetrik, bagian yang sakit tampak lebih menonjol, pergerakan
nafas pada sisi yang sakit tertinggal, perkusi pekak, jantung dan mediastinum terdorong
kearah yang sehat, bila nanahnya cukup banyak sel iga pada sisi yang sakit melebar, bising
nafas pada bagian yang sakit melemah sampai hilang. Pemeriksaan darah tepi menunjukkan
leukositosis dan pergeseran ke kiri seperti pada infeksi akut umumnya.

Empiema Akut
Terjadi sekunder akibat infeksi tempat lain, bukan primer dari pleura. Pada permulaan,

gejala-gejalanya mirip dengan pneumonia, yaitu panas tinggi dan nyeri pada dada pleuritik.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura. Bila
stadium ini dibiarkan sampai beberapa minggu maka akan timbul toksemia, anemia, dan
clubbing finger. Jika nanah tidak segera dikeluarkan akan timbul fistel bronkopleura. Adanya
fistel ditandai dengan batuk yang makin produktif, bercampur nanah dan darah masif, serta
kadang-kadang bisa timbul sufokasi (mati lemas).
Pada kasus empiema karena pneumotoraks pneumonia, timbulnya cairan adalah
setelah keadaan pneumonianya membaik. Sebaliknya pada Streptococcus pneumonia,
empiema timbul sewaktu masih akut. Pneumonia karena baksil gram negatif seperti E. coli
atau Bakterioids sering kali menimbulkan empiema.

Empiema Kronis
Batas yang tegas antara empiema akut dan kronis sukar ditentukan. Disebut kronis jika

empiema berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Penderita mengeluh badannya terasa
lemas, kesehatan makin menurun, pucat, clubbing fingers, dada datar, dan adanya tandatanda cairan pleura. Bila terjadi fibrotoraks, trakea , dan jantung akan tertarik ke sisi yang
sakit.
VI.

KOMPLIKASI
Sebagai komplikasi dapat terjadi perluasan secara per kontinuitatum, pada infeksi

Stapiloccocus, sering timbul fistula broncopleura dan piopneumothoraks. Komplikasi lokal


lainnya, meliputi perikarditis purulen, abses paru, peritoinitis akibat robekan melalui
diafragma, dan osteomielitis iga. Komplikasi sepsis seperti meningitis , arthritis, dan

osteomielitis dapat juga terjadi secara hematogen. Pada empiema Stapiloccocus, septikimia
jarang terjadi; komplikasi ini sering ditemukan pada infeksi H. influenza dan Pneumococus.
VII.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda sebagai berikut yaitu bentuk thorak

asimetrik, bagian yang sakit tampak lebih menonjol, pergerakan napas pada sisi yang sakit
tertinggal, perkusi redup, bising napas pada bagian yang sakit melemah sampai hilang.
Pemeriksaan darah tepi menunjukkan leukositosis dan pergeseran ke kiri seperti pada
infeksi akut umumnya. (1,2,3)
Pada foto thorak PA dan lateral, didapatkan gambaran opasitas yang menunjukan
cairan. jantung dan mediastinum terdorong kearah yang sehat, bila nanahnya cukup banyak
sel iga pada sisi yang sakit melebar,dan juga tampak penebalan pleura.

gambar foto rontgen pada pasien empyema


Diagnosa pasti dapat ditegakan dengan melakukan aspirasi pleura, selanjutrnya
nanah dipakai sebagai bahan untuk pemerksaan bakteriologi, amuba, jamur, kultur dan tes
kepekaan antibiotik.
Biopsi pleura dapat dilakukan bersamaan dengan pungsi. Jaringan yang didapat
dikirimkan untuk pemeriksaan patologi anatomi dan mikroskopis. Pada pemeriksaan patologi
anatomi didapatkan gambaran endapan sentrifugasi padat dengan sel-sel radang yang
terdiri dari leukosit, PMN dan histiosit, kesan pleuritis supuratif. (2,3,4)

Gambaran Patologi anatomi


VIII.

PENATALAKSANAAN MEDIS

Prinsip penanggulangan empiema thoraks adalah :


a. Pengosongan rongga pleura
Prinsip ini seperti yang dilakukan pada abses dengan tujuan mencegah efek toksik dengan
cara membersihkan rongga pleura dari nanah dan jaringan-jaringan yang mati.
Pengosongan pleura dilakukan dengan cara:

Closed drainage = tube thoracostomy = water sealed drainage (WSD) dengan indikasi:

Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi


Nanah terus terbentuk setelah 2 minggu
Terjadinya piopneumothoraks
Pengeluaran nanah dengan cara WSD dapat

dibantu dengan melakukan

penghisapan bertekanan negative sebesar 10-20 cm H2O jika penghisapan telah berjalan 34 minggu, tetaapi tidak menunjukkan kemajuan, maka harus ditempuh dengan cara lain,
seperti pada empiema thoraks kronis.

Water Seal Drainage (WSD) adalah Suatu sistem drainage yang menggunakan water
seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura ( rongga pleura).
TUJUANNYA :
1.

Mengalirkan / drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk mempertahankan

2.

tekanan negatif rongga tersebut


Dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit
cairan pleura / lubrican.

INDIKASI PEMASANGAN WSD :


Hemotoraks, efusi pleura
Pneumotoraks ( > 25 % )
Profilaksis pada pasien trauma dada yang akan dirujuk
Flail chest yang membutuhkan pemasangan ventilator
KONTRA INDIKASI PEMASANGAN :
Infeksi pada tempat pemasangan
Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol.

CARA PEMASANGAN WSD


1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di linea aksillaris
anterior dan media.
2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.
3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam sampai muskulus
interkostalis.
4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan. Masukkan jari
melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga pleura / menyentuh paru.
5. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat dengan menggunakan
Kelly forceps
6. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke dinding dada
7. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.
8. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.
ADA BEBERAPA MACAM WSD :
1. WSD dengan satu botol
Merupakan sistem drainage yang sangat sederhana
Botol berfungsi selain sebagai water seal juga berfungsi sebagai botol penampung.
Drainage berdasarkan adanya grafitasi.
Umumnya digunakan pada pneumotoraks

2. WSD dengan dua botol


Botol pertama sebagai penampung / drainase
Botol kedua sebagai water seal
Keuntungannya adalah water seal tetap pada satu level.
Dapat dihubungkan sengan suction control

3. WSD dengan 3 botol

Botol pertama sebagai penampung / drainase


Botol kedua sebagai water seal
Botol ke tiga sebagai suction kontrol, tekanan dikontrol dengan manometer.

KOMPLIKASI Trauma Thorax


Laserasi, mencederai organ ( hepar, lien )
Perdarahan
Empisema subkutis.
Tube terlepas
Infeksi
Tube tersumbat.
Perawatan yang perlu dilakukan :
Fiksasi chest tube pada dinding dada dan fiksasi semua sambungan selang dengan baik.
Awasi chest tube supaya tidak terlipat atau tertekuk
Catat tanggal dan waktu pemasangan WSD dan jenis WSD yang digunakan.
Cek level water seal chamber dan suction control chamber
Perhatikan gelembung udara pada water seal.
Monitor tanda tanda vital dan status pernafasan.
Perhatikan dan catat cairan drainase yang keluar, jumlah dan konsistensinya.
Rawat luka drainase.

Open drainage
Karena drainase ini menggunakan kateter thoraks yang besar, maka diperlukan

pemotongan tulang iga. Drainase terbuka ini dikerjakan pada empiema menahun karena
pengobatan yang diberikan terlambat, pengobatan tidak adekuat atau mungkin sebab lain,
yaitu drainase kurang bersih.

gambar 3.a open window thoracostomy: claggette procedure

Gamabr 3.b open window thoracostomy : eloesser flap


b. Pemberian antibiotik yang sesuai
Mengingat kematian utama empiema karena terjadinya sepsis, maka antibiotik
memegang peranan penting. Antibiotik harus segera diberikan begitu diagnosis ditegakkan
dan dosis harus adekuat. Pemilihan antibiotik didasarkan pada hasil pengecatan Gram dari
hapusan nanah. Pengobatan selanjutnya bergantung dari hasil kultur dan uji kepekaan.
Empiema Stafiloccocus pada bayi paling baik diobati dengan cara paranteral atau bila
dapat diterapkan dengan penisilin G atau vankomisin. Infeksi Pneumoccocus berespon
terhadap penisilin, seftriakson atau sefotaksim, tetapi mungkin perlu vankomisin jika terjadi
resistensi terhadap penisilin. H. influenza berespon terhadap sefotaksim, seftriakson,
ampisilin atau klorampenicol.
Akhir-akhir ini penggunaan obat-obatan fibrolitik seperti streptokinase , urokinase secara
intrapleural juga dapat digunakan.tetapi penggunaan fibrinolitik ini masih dalam penelitian.
fibrinolitik bekerja menghancurkan fibrin yang melekat di permukaan pleura sehingga akan
mempermudah drainase dari cairan pleura.
Kategori Obat : Antibiotik
Nama Obat
Golongan
Dosis
Kontraindikasi
Perhatian

Penisilin G (pfizerpen)
Interferon
1-4 mU/4-6j
Hipersensitifitas
Penggunaan pada penyembuhan

fungsi

Keterangan

ginjal
Interaksi

dapat

dengan

probenecid

meningkatkan efektivitas obat, sedangkan


dengan

tetracycline

dapat

menurunkan

efektivitas obat
Nama Obat

Vankomisin (vankokin,vancoled,lyphocin)

Golongan

Dapat bekerja pada kuman gram positif dan

Dosis

spesies Enterococcus
30 mg/kgbb/hari

Kontraindikasi
Efek Samping
Keterangan

Hipersensitifitas
Eritema, flushing, reaksi anafilaktik
Perlu diperhatikan penggunaan pada gagal
ginjal dan neutropenia

c. Penutupan rongga empiema


Pada empiema menahun, seringkali rongga empiema tidak menutup karena penebalan
dan kekakuan pleura. Bila hal ini terjadi, maka dilakukan pembedahan, yaitu :
Dekortikasi
Tindakan ini termasuk operasi besar yaitu : mengelupas jaringan pleura pleura yang
menebal. Indikasi dekortikasi ialah :
-

Drainase tidak berjalan baik, karena kantung-kantung yang berisi nanah.


Letak empiema sukar dicapai oleh drain
Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura visceralis (peel sangat tebal)

Torakoplasti
Tindakan ini dilakukan apabila empiema tidak dapat sembuh karena adanya fistel
bronkopleura atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi. Pada kasus ini pembedahan
dilakukan dengan memotong iga subperiosteal dengan tujuan supaya dining thoraks dapat
jatuh ke dalam rongga pleura akibat tekanan udara luar.

gambar.5 torakoplasti
d. Pengobatan kausal
Pengobatan kausal ditujukan pada penyakit-penyakit yang menyebabkan terjadinya
empiema , misalnya abses subfrenik. Apabila dijumpai abses subfrenik, maka harus

dilakukan drainase subdiafragmatika. Selain itu masih perlu diberikan pengobatan spesifik,
untuk amebiasis, tuberculosis, aktinomikosis dan sebagainya.
e. Pengobatan tambahan
Pengobatan ini meliputi perbaikan keadaan umum serta fisioterapi untuk membebaskan
jalan nafas dari sekret (nanah), latihan gerakan untuk mengalami cacat tubuh (deformitas).
Penanggulangan empiema tergantung dari fase empiema :

fase I (fase eksudat)


Dilakukan drainase tertutup (WSD) dan dengan WSD dapat dicapai tujuan diagnostic
terapi dan prevensi, diharapkan dengan pengeluaran cairan tersebut dapat dicapai

pengembangan paru yang sempurna.


fase II (fase fibropurulen)
Pada fase ini penanggulangan harus lebih agresif lagi yaitu dilakukan drainase
terbuka (reseksi iga open window). Dengan cara ini nanah yanga ada dapat
dikeluarkan dan perawatan luka dapat dipertahankan. Drainase terbuka juga
bertujuan untuk menunggu keadaan pasien lebih baik dan proses infeksi lebih tenang
sehingga intervensi bedah yang lebih besar dapat dilakukan. Pada fase II ini VATS
surgery sangat bermamfaat, dengan cara ini dapat dilakukan empiemektomi dan atau

dekortikasi.
Fase III (fase organisasi)
Dilakukan intervensi bedah berupa dekortikasi agar paru bebas mengembang atau
dilakukan obliterasi rongga empiema dengan cara dinding dada dikolapskan
(torakoplasti) dengan mengangkat iga-iga sesuai dengan besarnya rongga empiema,
dapat juga rongga empiema ditutup dengan periosteum tulang iga bagian dalam dan
otot interkostans (air plombage), dan ditutup dengan otot atau omentum (muscle
plombage atau omental plombage).

gambar 6. air plombage


IX.
1.

ASUHAN KEPERAWATAN
Anamnesis

Identitas klien yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat
rumah, agama atau kepercayaan, suku bnagsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan, dan
pekerjaan klien/asuransi kesehatan.
Keluhan utama meliputi :

Ada tidaknya sesak napas

Rasa berat di dada saat bernapas

Keluhan susah bernapas

2.

Riwayat penyakit saat ini

Klien sering merasa sesak napas mendadak dan semakin lama semakin berat. Nyeri dada
dirasakan pada sisi dada yang sakit, rasa berat, tertekan, dan terasa lebih nyeri saat
bernapas. Perawat harus mengkaji apakah ada riwayat trauma yang mengenai rongga dada
seperti peluru yang menembus dada dan paru, ledkan yang menyebabkan peningkatan
tekanan udara, dan pernah tidaknya terjadi tekanan mendadak di dada sehingga
menyebabkan tekanan di dalam paru meningkat. Selain itu, kecelakaan lalu lintas biasanya
menyebabkan trauma tumpul pada dada atau bisa juga karena tusukan benda tajam
langsung menembus pleura.
3.

Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan apakah klien pernah merokok atau terpapar polusi udara yang berat.
4.

Riwayat penyakit keluarga

Perlu ditanyakan apakah ada riwayat alergi pada keluarga


5.

Pemeriksaan fisik

B1 (Breathing)
Inspeksi
Pada klien dengan empiema, jika kaumulasi pus lebih dari 300 ml, perlu diusahakan
peningkatan upaya dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot pernapasan. Gerakan
pernapasan ekspensi dada yang asimetris (pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit),
iga melebar, rongga dada asimetris (cembung pada sisi yang sakit). Pengkajian batuk yang
[roduktif dengan sputum purulen. Trakhea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat.
Palpasi
Taktil fremitus menurun pada sisi yang sakit. Di samping itu, pada palpasi juga ditemukan
peregerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. Pada sisi yang sakit, ruang
antar iga dapat kembali normal atau melebar.
Perkusi
Terdenag suara ketok pada sisi yang sakit, redup sampai pekak sesuai banyaknya
akumulasi pus di rongga pleura. Batas jantung terdorong ke arah thoraks yang sehat. Hal ini
terjadi apabila tekanan intrapleura tinggi.
B2 (Blood)
Perawat perlu memonitor dampak pneumothoraks pada status kardiovaskular, termasuk di
dalamnya keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah, dan CRT.
B3 (Brain)
Saat melakukan inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji. Disamping itu, juga diperlukan
pemeriksaan GCS. Apakah compos mentis, somnolen, atau koma.
B5 (Bowel)
Akibat sesak napas klien biasanya mengalami mual dan muntah, penurunan nafsu makan,
dan penurunan berat badan.
B6 (Bone)

Pada trauma tusuk di dada sering didapatkan adanya kerusakan otot dan jaringan lunak
dada sehingga meningkatkan resiko infeksi. Klien dengan trauma ini sering dijumpai
mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari akibat adanya sesak
napas, kelemahan, dan keletihan fisik secara umum.
6.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan radiologi
Foto thoraks PA dan lateral didapatkan gambar opacity yang menunjukkan adanya cairan
dengan atau tanpa kelainan paru. Bila terjadi fibrothoraks, trakhea di mediastinum tertarik ke
sisi yang sakit dan juga tampak adanya penebalan.
Pemeriksaan Pus
Aspirasi pleura akan menunjukkan adanya pus di dalam rongga dada (pleura). Pus dipakai
sebagai bahan pemeriksaan sitologi, bakteriologi, jamur, dan amoeba. Untuk selanjutnya
dilakukan kultur (pembiakkan) terhadap kepekaan antibiotik.
3.5 INTERVENSI
1. Dx 1 : Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan kelelahan otot pernafasan
DS : klien mengeluh sesak nafas
DO : klien tampak sesak nafas ditandai dengan :

Napas pendek
Nadi 135x/menit, RR 40x/menit
Pada auskultasi terdengar bunyi nafas menurun
Dullness
Penurunan taktil fremitus
Pemasangan O2 binasal 4l/menit
Terapi O2 4l/menit
Tujuan dan Kriteria hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam pasien menunjukkan
keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:

Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dg mudah, tidakada pursed

lips)
Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi

pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)


Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
Intervensi :

Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi


Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Berikan bronkodilator
Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.

Monitor respirasi dan status O2


Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
Pertahankan jalan nafas yang paten
Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Monitor vital sign
Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola

nafas.
Ajarkan bagaimana batuk efektif
Monitor pola nafas
2. Dx 2 : gangguan rasa nyaman b/d peningkatan asam laktat
DS : klien mengatakan nyeri dada
DO : Klien tampak gelisah, selalu memegang dadanya, berkeringat ditandai dengan :

Penurunan kadar O2 dalam darah, pada pengkajian skala nyeri didapati skala nyeri 8
Tujuan dan Kriteria hasil :
Pain Level
Pain control
Comfort level
Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama 1x24 jam Pasien tidak mengalami nyeri,

dengan kriteria hasil:


Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik

nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)


Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda)
Intervensi

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi


Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan

dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres

hangat/ dingin
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan

berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur


3. Dx 3 : Hipertermi b/d infeksi kapitas pleura
DS : klien mengeluh demam sejak 1 minggu yang lalu, klien juga mengatakan pernah
berobat di poli paru dan telah mendapat pengobatan antibiotic, tetapi klien demam terus

menerus sejak pemberian antibiotic.


DO :
S = 38C
Leukosit = 1217.500 ml3
Keringat malam

DT :
Pusing
Menggigil
Akral dingin
Tujuan dan Kriteria hasil
Thermoregulasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien menunjukkan :
Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil :

Suhu 36 37C
Nadi dan RR dalam rentang normal
Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman
Intervensi

4.

Monitor suhu sesering mungkin


Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tekanan darah, nadi dan RR
Monitor penurunan tingkat kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik:
Kelola Antibiotik
Selimuti pasien
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa)
Dx 4 : Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia
DS : klien mengatakan tidak selera makan
DO :
BB = 40 Kg
Klien terlihat lemas
Mukosa mulut kering
Tujuan dan Kriteria hasil :

Nutritional status: Adequacy of nutrient


Nutritional Status : food and Fluid Intake
Weight Control
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam nutrisi kurang teratasi dengan
indikator:
Albumin serum
Pre albumin serum
Hematokrit
Hemoglobin
Total iron binding capacity
Jumlah limfosit
Intervensi :

Monitor adanya penurunan BB


Monitor lingkungan selama makan
Monitor turgor kulit, kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht
Monitor mual dan muntah
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor intake nuntrisi
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
pasien

5. Dx 1 : Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan kelelahan otot pernafasan


DS : klien mengeluh sesak nafas
DO : klien tampak sesak nafas ditandai dengan :

Napas pendek
Nadi 135x/menit, RR 40x/menit
Pada auskultasi terdengar bunyi nafas menurun
Dullness
Penurunan taktil fremitus
Pemasangan O2 binasal 4l/menit
Terapi O2 4l/menit
Tujuan dan Kriteria hasil
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam pasien menunjukkan
keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:

Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dg mudah, tidakada pursed

lips)
Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi

pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)


Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
Intervensi :

Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi


Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Berikan bronkodilator
Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
Pertahankan jalan nafas yang paten
Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Monitor vital sign
Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola

nafas.
Ajarkan bagaimana batuk efektif

Monitor pola nafas


6. Dx 2 : gangguan rasa nyaman b/d peningkatan asam laktat
DS : klien mengatakan nyeri dada
DO : Klien tampak gelisah, selalu memegang dadanya, berkeringat ditandai dengan :

Penurunan kadar O2 dalam darah, pada pengkajian skala nyeri didapati skala nyeri 8
Tujuan dan Kriteria hasil :
Pain Level
Pain control
Comfort level
Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama 1x24 jam Pasien tidak mengalami nyeri,

dengan kriteria hasil:


Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik

nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)


Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda)
Intervensi

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi


Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan

dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres

hangat/ dingin
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur

7. Dx 3 : Hipertermi b/d infeksi kapitas pleura


DS : klien mengeluh demam sejak 1 minggu yang lalu, klien juga mengatakan pernah
berobat di poli paru dan telah mendapat pengobatan antibiotic, tetapi klien demam terus

menerus sejak pemberian antibiotic.


DO :
S = 38C
Leukosit = 1217.500 ml3
Keringat malam
DT :
Pusing
Menggigil
Akral dingin
Tujuan dan Kriteria hasil
Thermoregulasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien menunjukkan :

Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil :

Suhu 36 37C
Nadi dan RR dalam rentang normal
Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman
Intervensi

Monitor suhu sesering mungkin


Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tekanan darah, nadi dan RR
Monitor penurunan tingkat kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik:
Kelola Antibiotik
Selimuti pasien
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa)

8. Dx 4 : Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia


DS : klien mengatakan tidak selera makan
DO :
BB = 40 Kg
Klien terlihat lemas
Mukosa mulut kering
Tujuan dan Kriteria hasil :

Nutritional status: Adequacy of nutrient


Nutritional Status : food and Fluid Intake
Weight Control
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam nutrisi kurang teratasi dengan
indikator:
Albumin serum
Pre albumin serum
Hematokrit
Hemoglobin
Total iron binding capacity
Jumlah limfosit
Intervensi :
Monitor adanya penurunan BB
Monitor lingkungan selama makan
Monitor turgor kulit, kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht
Monitor mual dan muntah
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor intake nuntrisi

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
pasien

DAFTAR PUSTAKA
Somantri, Irman.2008.Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernafasan.Jakarta:Salemba Medika.
Amin, Muhammad dkk.1989.Ilmu Penyakit Paru.Surabaya: Airlangga University Press
Price, Sylvia A.1995.Patofisiologi:Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Ed4.Jakarta : EGC.
Mandal, B.K, dkk. 2008. Lecture Notes Penyakit Infeksi. Erlangga: Jakarta
Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular. Salemba Medika: Jakarta
Smeltzer, Suzzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
EGC : Jakarta