Anda di halaman 1dari 37

TUMOR JINAK VULVA

Tumor Kistik
Kista Bartholini
Kista bartholini merupakan kista berukuran relatif besar yang paling sering
di jumpai. Kelenjar bartholini terletak pada 1/3 posterior dari setiap labium
mayus dan muara dari duktus sekretorius dari kelenjar ini, berada tepat di
depan (eksternal) himen pada posisi jam 4 dan 8.1

Gambar

1. Anatomi

Kelenjar

Bartholin2
Pembesaran

kistik

tersebut

terjadi akibat parut setelah infeksi (terutama yang disebabkan oleh nisseria
gonorea dan kadang streptokokus dan stafilokokus) atau trauma yang
kemudian menyebabkan sumbatan pada saluran eksresi kelenjar bartholini.
Bila pembesaran kelenjar bartholini terjadi pada usia menopause,
sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara seksama terkait dengan risiko
tinggi terhadap keganasan.1

Gambar 2. Kista Bartholini3


Peradangan pada kista yang terbentuk akibat sumbatan duktus sekretorius
dan kelenjar bartholini dapat juga terjadi secara kronis dan berlangsung
hingga bertahun-tahun. Untuk jenis ini, biasanya diameter indurasi kista
tidak mencapai ukuran yang besar sehingga penderita juga tidak
menyadari adanya kelainan ini. Lokasi kista juga berada di dinding
sebelah dalam pada 1/3 bawah labium mayus. Infeksi sekunder atau
eksaserbasi akut yang berat dapat menyebabkan indurasi yang luas. Reaksi
peradangan dan nyeri sehingga menimbulkan gejala klinik berupa nyeri,
dispareunia ataupun demam.1
Kista Bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan akan
tetapi

kadang

dirasakan

sebagai

benda

padat

dan

menimbulkan kesulitan pada waktu koitus. Jika kista


bartholini masih kecil dan tidak terinfeksi, umumnya
asimtomatik.

Tetapi

bila

berukuran

besar

dapat

menyebabkan rasa kurang nyaman saat berjalan atau


duduk. Tanda kista Bartholini yang tidak terinfeksi berupa
penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva
disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah
vulva.1

Bila pembesaran kistik ini tidak disertai dengan infeksi lanjutan atau
sekunder, umumnya tidak akan menimbulkan gejala-gejala khusus dan
hanya dikenali melalui palpasi. Sementara itu, infeksi akut disertai
penyumbatan , indurasu dan peradangan. Gejala akut inilah yang sering
membawa penderita untuk memeriksakan dirinya. Gejala utama akibat
infeksi biasanya berupa nyeri sentuh atau dispareunia. Pada tahap
supuratif, dinding kista berwarna kemerahan, tegang dan nyeri. Bila
sampai pada tahap eksudatif dimana sudah terjadi abses, maka rasa nyeri
dan ketegangan dinding kista menjadi sedikit berkurang disertai dengan
penipisan dinding diarea yang lebih putih dari sekitarnya. Umumnya
hanya terjadi gejala dan keluhan lokal dan tidak menimbulkan gejala
sistemik kecuali apabila terjadi infeksi yang berat dan luas.1

Adapun jika kista terinfeksi maka dapat berkembang menjadi abses


Bartholini dengan gejala klinik berupa :

Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik, atau berhubungan seksual.

Umumnya tidak disertai demam, kecuali jika terinfeksi dengan


mikroorganisme yang ditularkan melalui hubungan seksual atau
ditandai dengan adanya perabaan kelenjar limfe pada inguinal.

Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari.

Biasanya ada sekret di vagina, kira-kira 4 sampai 5 hari pasca


pembengkakan, terutama jika infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang
ditularkan melalui hubungan seksual.

Dapat terjadi ruptur spontan.


Teraba massa unilateral pada labia mayor sebesar telur ayam, lembut,
dan berfluktuasi, atau terkadang tegang dan keras.1

Gambar 3. Abses bartholin2

Terapi utama terhadap kista bartholini adalah insisi dinding kista dan
drainase cairan kista atau abses yang disebut dengan prosedur
marsupialisasi. Pengosongan dan drainase eksudat abses dapat pula
dilakukan dengan memasang kateter word.1
Banyak literatur menyebutkan tindakan marsupialisasi hanya digunakan
pada kista bartholin.Namun sekarang digunakan juga untuk abses kelenjar
bartholin karena memberi hasil yang sama efektifnya. Marsupialisasi
adalah suatu tehnik membuat muara saluran kelenjar bartholin yang baru
sebagai alternatif lain dari pemasangan word kateter.2
Cara:

Disinfeksi dinding kista sampai labia dengan menggunakan betadine.

Dilakukan lokal anastesi dengan menggunakan lidokain 1 %.

Dibuat insisi vertikal pada kulit labium sedalam 0,5cm (insisi sampai
diantara jaringan kulit dan kista/ abses) pada sebelah lateral dan sejajar
dengan dasar selaput himen.

Dilakukan insisi pada kista dan dinding kista dijepit dengan klem pada
4 sisi, sehingga rongga kista terbuka dan kemudian dinding kista
diirigasi dengan cairan salin.

Dinding kista dijahit dengan kulit labium dengan atraumatik catgut.


Jika memungkinkan muara baru dibuat sebesar mungkin(masuk 2 jari
tangan), dan dalam waktu 1 minggu muara baru akan mengecil

separuhnya, dan dalam waktu 4 minggu muara baru akan mempunyai


ukuran sama dengan muara saluran kelenjar bartholin sesungguhnya.2

Gambar 4. Prosedur Marsupialisasi2

Word catheter biasanya digunakan ada penyembuhan kista duktus


bartholin dan abses bartholin. Panjang tangkai catheter 1 inch dan
mempunyai diameter seperti foley catheter no 10. Balon Catheter hanya
bias menampung 3 ml normal saline.2
Cara:

Disinfeksi dinding abses sampai labia dengan menggunakan betadine.

Dilakukan lokal anastesi dengan menggunakan lidokain 1 %


Fiksasi abses dengan menggunakan forsep kecil sebelum dilakukan
tindakan insisi.

Insisi diatas abses dengan menggunakan mass no 11

Insisi dilakukan vertikal di dalam introitus eksternal terletak bagian luar


ring himen. Jika insisi terlalu lebar, word catheter akan kembali keluar.

Selipkan word kateter ke dalam lubang insisi

Pompa balon word kateter dengan injeksi normal salin sebanyak 2-3 cc

Ujung Word kateter diletakkan pada vagina.2


Proses epithelisasi pada tindakan bedah terjadi setelah 4-6 minggu, word
catheter akan dilepas setelah 4-6mgg,meskipun epithelisasa bias terbentuk
pada 3-4 minggu. Bedrest selama 2-3 hari mempercepat penyembuhan.
Meskipun dapat menimbulkan terjadinya selulitis, antibiotic tidak
diperlukan. Antibiotik diberikan bila terjadi selulitis (jarang)2.

Gambar 5. Insersi Word Catether2

Kista Pilosebasea

Merupakan kista yang paling sering ditemukan di vulva. Kista ini


terbentuk akibat adanya penyumbatan yang disebabkan oleh infeksi atau
akumulasi material sebum pada saluran tersebut pada duktus sekretorius
kelenjar minyak (blockage of sebaceous duct). Kista yang berasal dari
lapisan epidermal biasanya dilapisi oleh epitel skuamosa dan berisi
material seperti minyak atau lemak dan epitel yang terlepas dari dinding
dalam kista. Kista inklusi epidermal dapat terjadi dari trauma (benturan)
atau prosedur klinik (penjahitan) mukosa vulva yang membawa material
atau fragmen epidermal.1
Sebagian besar kista epidermoid terbentuk dari oklusi duktus pilosebasea.
Kista jenis ini, umumnya berdiameter kecil, soliter dan asimptomatik.
Pada kondisi tertentu, kista ini dapat terjadi di beberapa tempat pada labia
mayora. Pembetukan kista pilosebasea jenis inklusif, tidak terkait dengan
trauma dan fragmen epidermal dilapisan bawah kulit. Kista jenis ini
berasal dari jaringan embrionik yang pada akhirnya membentuk susunan
epitel kelenjar pada lapisan dermis. Umumnya, kista pilosebasea tidak
besar dan asimptomatik apabila dianggap mengganggu estetika atau
mengalami infeksi sekunder maka perlu dilakukan eksisi dan terapi
antibiotika.1
Walaupun dapat berjumlah lebih dari satu, kista polisebasea tidak banyak
menimbulkan

keluhan

kecuali

apabila

terjadi

indeksi

sehingga

menimbulkan rasa nyeri lokal dan memerlukan tindakan insisi dan


drainase.1

Hidradenoma papilaris
Kulit didaerah mons pubis dan labia mayora banyak mengandung kelenjar
keringat. Kelenjar apokrin ini akan mulai berfungsi secara normal setelah

masa pubertas. Sebagian besar hidradenoma merupakan kista soliter dan


dengan siameter kurang dari 1 cm. Hidradenoma pada vulva mirip dengan
gangguan serupa yang terjadi pada daerah aksila dan akan semakin
bermasalah jika disertai dengan iritasi lokal yang kronis.1
Terjadinya penyumbatan pada duktus sekretorius kelenjar keringat dapat
menimbulkan kista-kista kecil (microcyst) yang disertai rasa gatal dan hal
ini dikenal sebagai penyakit Fox-Fordyce. Penyebab utama infeksi
kelenjar apokrin di daerah ini adalah streptokokus dan stafilokokus.
Infeksi berulang dan berat dapat menimbulkan abses dan sinus-sinus
eksudatif di bawah kulit dimana kondisi ini dikenal sebagai hidradenitis
supurativa, dapat terjadi destruksi jaringan, eksudasi, dan limfedema
sehingga menyerupai limfopatia. Tahapan akhir dari hidradenoma,
menyebabkan bintik-bintik atau penonjolan halus papilomatosa pada kulit
vulva sehingga menyerupai infeksi difus pada kelenjar sebasea.1

Gambar 6. Hidradenoma vulva4


Untuk lesi ringan yang disertai pembentukan pustulasi berulang,
perjalanan penyakitnya dapat dimodifikasi dengan penggunaan pil
kontrasepsi hormonal karena sekresi kelenjar apokrin fungsional pada area
lesi dapat dikurangi. Pil kontrasepsi hormonal tersebut dapat pula
digunakan untuk mengurangi pruritus kronis pada sindroma Fox-Fordyce
pada penderita hidradenoma. Eksisi hanya dapat dilakukan pada
didradenoma soliter dengan keluhan utama pruritus vulva. Pada gangguan

yang bersifat supuratif dan ekstensif, biasanya dilakukan tindakan


debridement untuk menghentikan proses destruktif terhadap struktur
normal jaringan epidermal vulva.1,4

Hidrokel kanalis nuck


Penyumbatan prosesus vaginalis yang persisten (canal of nuck) juga dapat
menimbulkan tumor kistik atau hidrokel. Dalam fase tumbuh kembang
bayi didalam kandungan, insersio dari ligamentum rotundum pada labia
mayaor diikuti dengan liparan peritoneum yang dikenal sebagai kanalis
dari nuck. Kanalis ini akan mengalami obliterasi pada pertumbuhan
selanjutnya. Pada kondisi tertentu, kanalis ini tetap ada hingga usia dewasa
sehingga menjadi tempat akumulasi cairan serosa dan terbentuk hidrokel
(hydrocele of the canal of nuck).1

Gambar 7. Anatomi kanalis


Tumor kistik ini bermanifestasi
memanjang
dapat meluas hingga ke kanalis

nuck 5
sebagai penonjolan translusen yang
pada 1/3 atas labium mayus dan
inguinalis. Kadangkala cairan

didalam kista tersebut dapat dikempiskan dengan cara menekan


penonjolan kistik tersebut secara perlahan-lahan atau malahan dapat
mengempis sendiri apabila penderita berbaring karena adanya hubungan
kanalis nuck dengan kavum peritoneum. Jika terjadi hernia inguinalis pada
penderita ini, maka jalur masuk usus ke labium mayus adalah melalui
kanalis nuck.1

Gambar 8.

Hidrokel Kanalis

Nuck7

Gambar 8. Kista kanalis nuck6


Upaya untuk mengjhilangkan kista kanalis nuck dilakukan dengan jalan
melakukan insisi pada kantung kista.1

Gambar 8. Insisi Kista

Kanalis Nuck6

Tumor padat
Fibroma
Fibroma merupakan rumor padat vulva yang paling banyak ditemukan.
Tumor ini merupakan proliferasi dari jaringan fibroblas labium mayus.
Hampir sebagian besar fibroma pada vulva merupakan tumor bertangkai
dengan diameter kecil dan tidak dikenali oleh penderita. Pertumbuhan
lanjut dan pembesaran ukuran fibroma sehingga menimbulkan gangguan
aktivitas seksual membatasi mobilitas penderita menyebabkan mereka
datang ke fasilitas kesehatan atau klinisi, dengan demikian, gangguan atau
gejala yang ditimbulkan sangat tergantung dari diameter tumor. Penderita
mungkin tidak menyadari adanya pertumbuhan neoplastik dan tidak
mengeluhkan sesuatu tetapi bila pertumbuhan tumor tergolong cepat maka
dapat timbul gejala-gejala mekanis seperti nyeri, dorongan pada uretra,
gangguan saat senggama terkait dengan ukuran tumor dan organ sekitar
yang terdesak atau terdorong1

Gambar 9. Fibroma bertangkai8


Eksisi fibroma melalui prosedur operatif merupakan cara terbaik untuk
mengangkat tumor padat vulva. Seperti halnya dengan berat ringannya
gejala maka mudah atau sulitnya eksisi fibroma tergantung dari lokasi dan
diameter tumor.1,8

Lipoma
Walaupun terdapat cukup banyak sel lemak yang membentuk struktur
didaerah mons pubis dan vulva (terutama labia mayora) tetapi jarang
sekali ditemukan lipoma didaerah ini. Elemen utama penyusun lipoma
adalah sel lemak dan lapisan jaringan fibrosa.1
Gambaran klinik lipoma dapat dikatakan sama dengan fibroma berukuran
kecil dan sedang didaerah vulva. Kadang-kadang diperlukan pemeriksaan

mikroskopik atau histopatologi untuk membedakan dua kelainan ini.


Lipoma pada vulva merupakan tumor jinak dengan batas yang tergas dan
dapat digerakkan bebas dari dasarnya. Jarang sekali pasien mengeluhkan
tumor ini karena memang tidak menyebabkan gangguan yang berarti
didaerah genital ataupun gangguan aktivitas seksual1,9

Gambar 10. Lipoma9

TUMOR JINAK VAGINA


Kista inklusi
Kista inklusi merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan pada
vagina. Lokasi tumor umumnya pada 1/3 bawah vagina dan posterior atau
lateral. Tumor ini tumbuh dari jaringan epidermal yang berasa dibawah
lapisan mukosa vagina. Jaringan tersebut terperangkap dan tumbuh
dibagian tersebut akibat penjahitan robekan atau laserasi perineum yang
kurang sempurna. Komponen kelenjar pada jaringan epidermal yang
terperangkap tersebut menghasilkan cairan dan membentuk kista.
Walaupun kista tidak dapat mencapai ukuran hingga beberapa sentimeter,
tetapi seringkali menimbulkan keluhan pada saat-saat tertentu. Kista
inklusi juga pernah ditemukan pada bagian anterior dan puncak vagina,
terkait dengan prosedur histerektomi sebelumnya.1

Gambar 11. Kista Inklusi1


Kista inklusi merupakan tumor kistik dengan batas yang tegas dengan
gerakan yang terbatas dan berisi massa berupa cairan musin yang kental.
Permukaan dinding kista dilapisi oleh epitel skuamosa yang terstratifikasi,
pada ukuran dan kondisi tertentu (dispareunia). Tatalaksana pada kista
inklusi dilakukan tindakan eksisi.1

Kista gartner
Kista ini berasal dari sisa kanalis wolfii (disebut juga duktus gartner) yang
berjalan disepanjang permukaan anterior dan bagian atas vagina. Diameter
kista sangat tergantung dari ukuran duktus dan kapasitas tampung cairan di
dalamnya sehingga bisa dalam ukuran yang relatif kecil hingga cukup
besar untuk mendorong dinding vagina ke arah tengah lumen atau malahan
dapat memenuhi lumen dan mencapai introitus vagina.1
Lokasi utama kista gartner adalah bagian anterolateral puncak vagina.
Pada perabaan, kista ini bersifat kistik, dilapisi oleh dinding translusen
tipis yang tersusun dari epitel kuboiid atau kolumner, baik dengan atau
tanpa silia dan kadang-kadang tersusun dalam beberapa lapis. Ruang gerak
agak terbatas terkait dengan topografi duktus gartner disepanjang alurnya
pada puncak vagina. Insisi dinding anterolateral vagina dan eksisi untuk
mengeluarkan kista dari sisa kanalis wolfii ini.1
TUMOR JINAK SERVIKS

Tumor kistik serviks


Kista nabothi (kista retensi)

Gambaran umum
Epitel kelenjar endoserviks tersusun dari jenis kolumner tinggi yang
sangat rentan terhadap infeksi atau epidermidisasi skuamosa. Gangguan
lanjut infeksi atau proses restrukturalisasi endoserviks menyebabkan
metaplasia skuamosa maka muara kelenjar endoserviks akan tertutup.
Penutupan muara duktus kelenjar menyebabkan sekret tertahan dan
berkembang menjadi kantong kista. Kista ini dapat berukuran mikro hingg
makro dan dapat dilihat secara langsung oleh pemeriksa.

Gambaran klinik
Kista nabothi tidak menimbulkan gangguan sehingga penderita juga tidak
pernah mengeluhkan sesuatu terkait dengan adanya kista ini. Pada
pemeriksaan inskpekulo kista nabothi terlihat sebagai penonjolan kistik di
are endoseviks dengan batas yang relatif tegas dan berwarna lebih muda
dari jaringan di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh timbunan cairan musin
yang terperangkap didalam duktus sekretorius kelenjar endoserviks.
Pada beberapa keadaan, pembuluh darah di mukosa endoserviks menjadi
terlihat lebih nyata karena pembuluh darah berwarna merah menjadi
kontras di atas dasar yang berwarna putih kekuningan. Kista nabothi yang
berasa pada pars vaginalis endoserviks menunjukan adanya epitel
kolumner yang ektopik dan kemudian mengalami metaplasia skuamosa.
Semakin jauh keberadaan kista nabothi menunjukkan semakin luasnya
zona transisional ekto dan endoserviks.

Tumor padat seviks


Polip serviks

Gambaran umum

Polip merupakan lesi atau tumor padat serviks yang paling sering
dijumpai. Tumor ini merupakan penjuluran dari bagian endoserviks atau
intramukosal serviks dengan variasi eksternal atau regio vaginal serviks.
Dari sekitar 25.000 spesimen ginekologi dengan 4% polip serviks. Farrar
dan nedoss hanya menemukan sedikit sekali polip yang berasal dari
ektoserviks.

Gambaran klinik
Polip serviks bervariasi dari tunggal hingga multiple, berwarna merah
terang, rapuh dan strukturnya menyerupai spons. Kebanyakan polip
ditemukan berupa penjuluran berwarna merah terang yang terjepit atau
keluar dari ostium serviks. Walaupun sebagian besar polip berdiameter
kecil tetapi pertumbuhannya mungkin saja mencapai ukuran beberapa
sentimeter. Panjang tangkai polip juga bervariasi dari ukuran di bawah 1
cm (protrusi melalui ostium serviks) hingga mencapai beberapa sentimeter
sehingga memungkinkan ujung distal polip mencapai atau keluar dari
introitus vagina.
Bila polip serviks berasal dari ektoserviks maka warna polip menjadi lebih
pucat dan srukturnya lebih kenyal dari polip endoserviks. Ukuran polip
ektoserviks dapat mencapai diameter beberapa sentimeter dan tangkainya
dapat mencapai ukuran sama dengan jari kelingking. Gambaran
histopatologi polip adalah sama dengan jaringan asalnya. Umumnya
permukaan polip tersusun dari selapis epitel kolumner yang tinggi, epitel
kelenjar serviks dan stroma jaringan ikat longgar yang di infiltrasi oleh sel
bulat dan edema. Tidak jarang, ujung polip mengalami nekrotik atau
ulserasi sehingga dapat menimbulkan perdarahan terutama sekali
pascasenggama. Epitel endoserviks pada polip seringkali mengalami
metaplasia skuamosa dan serbukan sel radang sehingga menyerupai
degenerasi ganas.

Terapi
Karena pada umumnya polip bertangkai dan dasarnya mudah terlihat,
maka dapat diekstripasi dengan mudah. Setelah melakukan pemutaran
tangkai, biasanya juga dilakukan pembersihan dasar tangkai dengan kuret

atau kerokan. Untuk meminimalisasi jumlah perdarahan dapat dilakukan


pemutusan tangkai polip dengan kauter unipolar/bipolar. Apabila jumlah
polip lebih dari satu dan dasar polip menjadi sulit untuk dilihat secara
langsung, sebaiknya dilakukan dilatasi serviks sebelum tindakan ekstirpasi
atau kauterisasi.

Papiloma serviks

Gambaran umum
Papiloma serviks tergolong sebagai neoplasma jinak serviks yang terutama
tumbuh pada pars vaginalis serviks. Papiloma terdiri atas 2 janis, yaitu
projeksi papilaris eksoserviks dimana bagian tengah tersusun dari jaringan
ikat fibrosa dibagian tengah yang dilapisi oleh lapisan skuamosa. Jenis
pertama merupakan pertumbuhan neoplastik jinak murni. Jenis kedua
adalah kondiloma serviks yang bermanifestasi sebagai tumor dalam
kisaran beragam, mulai dari tonjolan minor yang rata hingga gambaran
papilomatosa seperti kondiloma akuminata.
Penonjolan ini terjadi akibat iritasi atau rangsang kronis dari human
papilloma virus (hPV). Pada populasi normal, insidens kondiloma
akuminata adalah 1-2% dan proporsinya sangat meningkat di lokalisasi
praktisi seks komersial (PSK) atau klinik penyakit menular seksual (PMS).

Gambaran klinik
Tidak dijumpai gejala khusus penderita papiloma serviks. Pada hampir
semua kasus, papiloma ditemukan saat melakukan pemeriksaan rutin atau
program penapisan massal dengan pemeriksaan apus papanicolaou atau
kolposkopi. Pencegahan penularan kondiloma akuminata dilakukan
dengan melakukan seks aman atau menggunakan kondom.

Terapi
Papiloma soliter dapat ditanggulanggi dengan eksisi dengan tindakan
bedah

konvensional

atau

kauterisasu

unipolar/bipolar. Kondiloma

akuminata dapat di hilangkan dengan menggunakan jepit biopsi tetapi


bhila mencakup permukaan yang luas dianjurkan untuk menggunakan
desikasi elektrik, krioterapi, eksisi dengan kauterisasi atau vaporisasi
dengan laser. Pemberian 5-fluorourasil secara topikal juga memberikan
hasil yang baik tetapi pengobatan mandiri sulit dilakukan karena
rendahnya tingkat kepatuhan pasien untuk dapat menyelesaikan terapi
secara penuh. Hal tersebut terkait dengan banyaknya keluhan rasa tidak
nyaman.

Mioma serviks

Gambaran umum
Kurangnya jumlah serabut otot polis didaerah serviks menyebabkan
kejadian mioma ditempat ini termasuk sangat jarang. Perbandingan
dengan insidensi mioma korpus dan serviks uteri adalah 12:1. Mioma
korpus uteri hanya tumbuh disatu tempat atau soliter. Walaupun soliter,
mioma serviks uteri hanya dapat tumbuh ekstensif mencapai ukuran yang
besar sehingga dapat memenuhi seluruh rongga pelvik dan menekan
kandung kemih rektum dan ureter.

Gambaran klinik
Seperti halnya tumor yang tumbuh di organ berongga, mioma serviks
ukuran kecil hampir tidak pernah menimbulkan keluhan. Penderita mulai
mengeluh apabila telah terjadi obstruksi atau desakan mekanik seperti
sipareunia, disuria, desakan ke rektum dan obstruksi darah menstruasi.
Obstruksi saluran kemih umumnya terjadi di muara uretra (penekanan
orificium uretra). Bila terjadi hematometra, hal ini disebabkan oleh
obstruksi ostium serviks oleh mioma yang berukuran besar.

Terapi
Mioma serviks yang soliter sebaiknya diobservasi secara berkala karena
apabila pertumbuhannya relatif cepat, hal itu merupakan indikasi untuk
dilakukan pengangkatan.

Apabila ukuran mioma serviks tidak terlalu besar, upaya pengangkatannya


dapat dilakukan secara pervaginam. Pertimbangan khusus harus dilakukan
pada mioma serviks berukuran besar karena pada umumnya hal ini terkait
dengan mioma uteri yang multiple dan untuk menghindarkan operasi
berulang kali maka diagnisus mioma korpus uteri harus dapat ditegakkan
sebelum pengangkatan mioma serviks. Dengan kata lain, tindakan
pengangkatan mioma serviks dapat berupa ekstirpasi, eksisi, enukleasi,
atau histerektomi.

TUMOR JINAK ENDOMETRIUM


Tumor padat endometrium
Polip endometrial

Gambaran umum
Tumor ini cukup sering dijumpai tetapi tidak dapat dipastikan jumlah
kejadiannya. Usia penderita yang mengalami gangguan ini berkisar antara
12-81 tahun tetapi angka kejadian tertinggi diantara usia 30-59 tahun.
Polip endometrial seringkali berupa penonjolan langsung dari lapisan
endometrium atau merupakan tumor bertangkai dengan pembesaran
dibagian ujungnya. Polip endometrial merupakan pertumbuhan aktif
stroma dan kelenjar endometrium secara fokal, terutama sekali pada
daerah fundus atau korpus uteri. Hampir sebagian besar penderita tidak
mengetahui atau menyadari keberadaan polip endometrial kerena kelainan
ini tidak menimbulkan gejala spesifik.
Perumbuhan polip mirip dengan proses hiperplasia endometrium dan tidak
jarang hal ini terjadi secara bersamaan. Seringkali ditemukan polip
endometrium, bersamaan dengan mioma uteri. Oleh karena itu, sulit untuk
menentukan apakah gejala klinis yang timbul disebabkan oleh salah satu
atau oleh semua kelainan secara bersamaan.

Gambaran klinik

Perdarahan diluar siklus yang nonspesifik seringkali menjadi gejala utama


dari polip endometrium. Seringkali polip endometrium ditemukan secara
tidak sengaja dari hasil pemeriksaan histeroskopi, ultrasonografi dan
kuretase atas indikasi dugaan hiperplasia endometrium. Apabila tangkai
polip berukuran cukup sehingga memungkinkan ujung polip mengalami
prostrusi keluar ostium serviks, maka hal ini daoat memudahkan klinisi
untuk menegakkan diagnosis. Polip endometrium mempunyai konsistensi
yang lebih kenyal dan berwarna lebih merah daripada polip serviks.
Sebagian besar polip mempunyai susunan histologis yang sama dengan
endometrium didasar tangkainya dan tidak menunjukan perubahan
sekretorik.
Kurang dari sepertiga polip memiliki komposisi jaringan yang sama
dengan jaringan endometrium penyusun atau endometrium asalnya. Ujung
polip yang keluar dari ostium serviks sering mengalami perdarahan,
nekrotik, menunjukkan adanya hiperplasia kistik, hanya sebagian kecil

saja yang menunjukkan hiperplasia adenomatosa.


Terapi
Bila ujung polip keluar melalui ostium serviks sehingga mudah untuk
dicapai maka pemutusan tangkai polip dapat dilakukan melalui dua cara.
Pertama, dengan menjepit tangkai polip kemudian melakukan putaran
pada tangkai sehingga terputus. Kedua dengan menggunakan ikatan laso
longgar yang kemudian didorong hingga mencapai dasar tangkai dan
kemudian diikatkan hingga tangkai terputus. Untuk jenis polip
endometrium yang tidak bertangkai maka dapat dilakukan kuretase atau
evakuasi dengan bantuan histeroskopi.

TUMOR JINAK MIOMETRIUM


Tumor padat miometrium
Mioma uteri

Gambaran umum

Mioma uteri merupakan tumor jinak yang struktur utama nya adalam otot
polos rahim. Mioma uteri terjadi pada 20-25% perempuan di usia
reproduktif, tetapi oleh faktor yang tidak diketahui secara pasti.
Insidensinya 3-9 kali lebih banyak pada ras kulit berwarna dibandingkan
dengan ras kulit putih. Selama 5 dekade terakhir, ditemukan 50% kasus
mioma uteri terjadi pada ras kulit berwarna.
Penyebab pasti mioma uteri tidak diketahui secara pasti. Mioma uteri
jarang sekali ditemukan sebelum usia pubertas, sehingga dipengaruhi oleh
hormon reproduksi dan hanya bermanifestasi selama usia reproduktif.
Umumnya mioma terjadi di beberapa tempat. Pertumbuhan mikroskopik
menjadi masalah utama dalam penanganan mioma karena hanya tumor
soliter dan tampak secara makroskopik yang memungkinkan untuk
ditangani secara enukleasi. Ukuran rerata tumor ini adalah 15 cm tetapi
cukup banyak yang melaporkan kasus mioma uteri dengan berat mencapai
45 kg.
Walaupun seringkali asimptomatik, gejala yang mungkin timbul sangat
bervariasi seperti metroragia, nyeri, menoragia hingga infertilitas.
Perdarahan hebat yang disebabkan oleh mioma merupakan indikasi utama
histerektomi di Amerika serikat. Yang menyulitkan adalah anggapan klasik
bahwa mioma adalah asimptomatik karena hal ini seringkali menyebabkan
gejala yang ditimbulkan dari organ sekitarnya (tuba, ovarium, atau usus)
menjadi terabaikan. Masalah lain terkait dnegan asimptomatik mioma
adalah mengabaikan pemeriksaan lanjutan dari spesimen hasil enukleasi
atau histerektomi sehingga miosarkoma menjadi tidak dikenali.
Tidak ada bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa estrogen menjadi
penyebab mioma. Telah diketahui bahwa hormon memang menjadi
prekursor pertumbuhan miomatosa. Konsentrasi reseptor estrogen dalam
jaringan mioma memang lebih tinggi dibandingkan dengan miometrium
sekitarnya tetapi lebih rendah bila dibandingkan dengan di endometrium.
Mioma tumbuh cepat saat penderita hamil atau terpapar estrogen dan
mengecil atau meghilang cepat saat menopause. Walaupun progesteron

dianggap sebagai penyeimbang estrogen tetapi efeknya terhadap


pertumbuhan mioma termasuk tidak konsisten.
Walaupun mioma tidak mempunyai kapsul yang sesungguhnya, tetapi
jaringannya dengan sangat mudah dibebaskan dari miometrium sekitarnya
sehingga mudah dienukleasi. Mioma berwarna lebih pucat, relatif bulat,
kenyal, berdinding ;icin dan apabila dibelah dalamnya akan menonjol
keluar sehingga mengesankan bahwa luarnya adalah kapsul.

Klasifikasi
Mioma uteri berasal dari miometrium dan klasifikasinya dibuat
berdasarkan lokasinya.
Mioma submukosa menempati lapisan dibawag endometrium dan
menonjol ke dalam kavum uteri. Pengaruhnya pada vaskularisasi dan luas
permukaan endometrium menyebabkan terjadinya perdarahan ireguler.
Mioma jenis ini dapat bertangkai panjang sehingga dapat keluar melalui
ostium serviks. Yang harus diperhatikam dalam menangani mioma
bertangkai adalah kemungkinan terjadinya torsi dan nekrosis sehingga
risiko sangatlah tinggi
Mioma intramural atau intersitial adalah mioma yang berkembang diantara
miometrium.
Mioma subserosa adalah mioma yang tumbuh dibawah lapisan serosa
uterus dan dapat bertumbuh ke arah luar dan juga bertangkai. Mioma
subserosa juga dapat menjadi parasit omentum atau usus untuk
vaskularisasi tambahan bagi pertumbuhannya.

Degenerasi
Bila terjadi perubahan pasokan darah dalam selama pertumbuhannya,
maka mioma dapat mengalami perubahan sekudner atau degeneratif
sebagai berikut :
- Degenerasi jinak
- Atrofi : ditandai dengan pengecilan tumor yang umumnya terjadi
-

setelah persalinan atau menopause


Hialin : terjadi pada mioma yang telah matang dimana bagian yang
semula aktif tumbuh kemudian tehenti akibat kehilangan pasokan

nutrisi dan berubah warnanya menjadi kekuningan, melunak atau


melebur menjadi cairan gelatin sebagai tanda terjadinya degenerasi
-

hialin.
Kistik : setelah mengalami hialinisasi, hal tersebut akan terus berlanjut
dengan cairnya gelatin sehingga mioma konsistensinya menjadi kistik.
Adanya kompresi atau tekanan fisik pada bagian tersebut dapat
menyebabkan keluarnya cairan kista ke kavum uteri, kavum

peritoneum atau retroperitoneum.


Kalsifikasi : disebut juga degenerasi kalkareus yang umumnya
mengenai mioma subserosa yang sangat rentan terhadap defisit
sirkulasi yang dapat menyebabkan pengendapan kalsium karbonat dan

fosfat di dalam tumor.


Septik : defisit sirkulasi dapat menyebabkan mioma mengalami
nekrosis dibagian tengah tumor yang berlanjut dengan infeksi yang

ditandai dengan nyeri, kaku dinding perut dan demam akut.


Kaneus : disebut juga degenerasi merah yang diakibatkan oleh
trombosis yang diikuti dengan terjadinya bendungan vena dan
perdarahan

sehingga

menyebabkan

perubahan

warna

mioma.

Degenerasi jenis ini, seringkali terjadi bersamaan dengan kehamilan


karena kecepatan pasokan nutrisi bagi hipertrofi miometrium lebih
diprioritaskan sehingga mioma mengalami defisit pasokan dan terjadi
degenerasi aseptik dan infark. Degenerasi ini disertai rasa nyeri tetapi
akan menghilang sendiri. Terhadap kehamilannya sendiri, dapat terjadi
-

partus prematurus atau koagulasi diseminata intravaskular.


Miksomatosa : disebut juga degenerasi lemak yang terjadi setelah
proses degenerasi hialin dan kistik. Degenerasi ini sangat jarang dan

umumnya asimptomatik.
Degenerasi ganas
Transformasi ke arah keganasan (menjadi miosarkoma) terjadi pada
0,1-0,5% penderita mioma uteri

Gambaran klinik
Hanya terjadi pada 35-50% penderita mioma.hampir sebagian besar
penderita tidak mengetahui bahwa kelainan didalam uterusnya terutama
sekali pada penderita dengan obesitas. Keluhan penderita sangat

tergantung pula dari lokasi atau jenis mioma yang diderita. Berbagai
keluhan dapat berupa :
- Perdarahan uterus abnorma
Perdarahan menjadi manifestasi klinik utama pada mioma dan hal ini
terjadi pada 30% kasus penderita. Bila terjadi secara kronik maka
dapat terjadi anemia defisiensi besai dan bila berlangsung lama dan
dalam jumlah besar maka sulit untuk dikoreksi dengan suplementasi
zat besi. Perdarahan pada mioma submukosa seringkali diakibatkan
karena hambatan pasokan darah endometrium, tekanan dan bendungan
pembuluh darah di area tumor (terutama vena) atau ulserasi
endometrium diatas tumor. Tumor bertangkai seringkali menyebabkan
trombosis vena dan nekrosis endometrium akibat tarikan dan infeksi.
Disminorea dapat disebabkan oleh efek tekanan, kompresi, termasuk
hipoksia lokal miometrium.
-

Nyeri
Mioma tidak menyebabkan nyeri dalam pada uterus kecuali apabila
kemudian terjadi gangguan vaskuler. Nyeri lebih banyak terkait
dengan proses degenerasi akibat okluasi pembuluh darah, infeksi, torsi
tangkai mioma atau kontaksi uterus sebagai upaya mengluarkan
mioma subserosa dari kavum uteri. Gejala abdomen akut dapat terjadi
bila torsi berlanjut dengan terjadinya infark atau degenerasi merah
yang mengiritasi selaput peritoneum. Mioma yang besasr dapat
menekan rektum sehingga menimbulkan sensasi untuk mengedan.
Nyeri pinggang dapat terjadi pada penderita mioma yang menekan
persyaraftan yang berjalan di atas permukaan tulang pelvis.

Efek penekanan
Walaupun mioma dihubungkan dengan adanya desakan tekan, tetapi
tidaklah mudah untuk menghubungkan adanya penekanan organ
dengan mioma. Mioma intramural sering dikatikan dengan penekanan
terhadap organ sekitar. Parasitik mioma dapat menyebabkan obstruksi
saluran

cerna

strangulasi

perlekatannya

usus.

Mioma

dengan

serviks

omentum

dapat

menyebabkan

menyebabkan

serosanguinea vaginal, perdarahan, dispareunia dan infertilitas.

sekret

Bila ukuran tumor lebih besar lagi maka akan terjadi penekanan ureter,
kandung kemih dan rektum. Semua efek penekanan ini dapat dikenali
melalui pemeriksaan IVP, kontras saluran cerna, rontgent, dan MRI.
Abortus spontan dapat disebabkan oleh efek penekanan langsung
mioma terhadap kavum uteri
-

Terapi
Terapi harus memperhatikan usia, paritas, kehamilan, konservasi
fungsi reproduksi, keadaan umum dan gejala yang ditimbulkan. Bila
kondisi pasien sangat buruk, lakukan upaya perbaikan yang diperlukan
termasuk nutrisi, suplementasi zat esensial ataupun tranfusi. Pada
keadaan gawat darurat akibat infeksi atau gejala abdominal akut,
siapkan tindakan bedah gawat darurat untuk menyelamatkan penderita.
Pilihan prosedur bedag terkait mioma uteri adalah miomektomi atau
histerektomi.

Adenomiosis

Gambaran umum
Adenomiosis merupakan lesi pada lapisan miometrium yang ditandai
dengan invasi jinak endometrium yang secara normal hanya melapisi
bagian dalam dinding uterus atau kavum uteri. Pada beberapa hal terdapat
kesamaan

antara

adenomiosis

dengan

endometriosis

walaupun

adenomiosis lebih banyak di derita oleh perempuan berusia 40-an tahun


dan multipara, sedangkan endometriosis pada perempuan dewasa muda
dan infertil. Oleh sebab itu sebagian besar pakar keilmuan menggolongkan
adenomiosis sebagai endometriosis interna untuk membedakannya dengan
endometriosis pelvik (eksterna).

Gambaran klinik
Dalam literatur disebutkan bahwa sekitar 10-20% spesimen histerektomi
adalah adenomiosis tetapi apabila gambaran epitel endometrium dalam
miometrium dijadikan patokan untuk diagnosis maka insidensinya
meningkat menjadi 38,5%. Pembesaran oleh adenomiosis bersifat difus.

Terjadi penebalan yang sangat nyata pada dinding endometrium dan


umunya tidak simetris. Gambaran histopatologi yang spesifik dari
adenomiosis adalah adanya pulau-pulaiu epital endometrium yang
menyusup jauh dari membrana basalis jaringan asal dan kadang-kadang
mencapai lapisan serosa uterus. Pulau-pulau endometrium didalam otot
berfungsi seperti yang ada di kavum uteru sehingga dibagian tengahnya
terdapat cairan merah kecoklatan seperti darah menstruasi. Sebagian besar
epitel endometrium adenomiosis bukan termasuk yang matur atau dewasa,
mom fungsional dan tersusun seperti keju swiss
Simptom utama adenomiosis adalah menoragia dan diminore yang
semakin lama semakin memberat, terutama pada perempuan berusia 40
tahunan. Dismenorea yang terjadi bersifat kolik sebagai akibat kontraksi
yang kuat dan pembengkakan intramural oleh timbunan darah didalam
pulau-pulau jaringan endometrium.
Dengan memperhatikan faktor predisposisi dan gambaran klinik yang jelas
maka upaya diagnosis relatif mudah dilaksanakan. Pemeriksaan rontgent
tidak banyak membantu untuk adenomiosis karena hanya nampak
gambaran tumor atau adanya filling defect apabila menggunakan kontras.
Gambaran yang lebih jelas dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan MRI.

Terapi
Terapi pilihan adalah histerektomi karena terapi konservatif (hormonal)
hanya akan menunda penyembuhan dan upaya untuk mengatasi keluhan
penderita , termasuk gangguan kesehatan akibat perdarahan atau stress
psikis yang berkepanjangan. Untuk tindakan tambahan (salfingoofoorektomi) sangat tergantung dari faktor usia, status fisik, tenggang
waktu dari saat operasi hingga menopause dan ada tidaknya gangguan lain
pada ovarium (termasuk endometriosis) pada saat laparotomi dilakukan.
Pada pasien-pasien yang terdapat kontra indikasi untuk operasi atau jika
takut operasi dapat dilakukan pemberian penghambat aromatase.

TUMOR JINAK OVARIUM

Tumor kistik ovarium


Kista folikel

Gambaran umum
Kista folikel merupakan kista yang paling sering ditemukan di ovarium
dan biasanya berukuran sedikit lebih besar (3-8 cm) dari folikel praovulasi (2,5cm). Kista ini terjadi karena kegagalan proses ovulasi (LH
surge) dan kemudian cairan intrafolikel tidak diabsorpsi kembali. Pada
beberapa keadaan, kegagalan ovulasi juga dapat terjadi secara artificial
dimana gonadotropin diberikan secara berlebihan untuk menginduksi
ovulasi. Kista ini tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Jarang sekali
terjadi torsi, ruptur atau perdarahan. Ada yang menghubungkan kista
folikel dengan gangguan menstruasi. Kista folikel yang besar dapat
dihubungkan dengan nyeri pelvik, dispareunia dan kadang perdarahan
abnormal uterus.

Gambaran klinik
Penemuan kista folikel umumnya dilakukan melalui pemeriksaan USG
transvaginal atau pencitraan MRI. Diagnosis banding kista folikel adalah
salfingitis, endometriosis, kista lutein dan kista neoplastik lainnya.
Sebagian kista dapat mengalami obliterasi dalam 60 hari tanpa
pengobatan. Pil kontrasepsi dapat digunakan untuk mengatur siklus dan
atresi kista folikel.

Terapi
Tatalaksana kista folikel dapat dilakukan dengan melakukan pungsi
langsung pada dinding kista menggunakan peralatan laparoskopi. Pastikan
dahulu bahwa kista yang akan dilakukan pungsi adalah kista folikel karena
bila terjadi kesalahan identifikasi dan kemudian kista tersebut tergolong
neoplastik ganas, maka cairan tumor invasif akan menyebar kedalam
rongga peritoneum.

Kista korpus luteum

Kista luteum terjadi akibat pertumbuhan lanjut korpus luteum atau perdarahan
yang mengisi rongga yang terjadi setelah ovulasi. Terdapat 2 jenis kista lutein
yaitu kista granulosa dan kista teka.
Kita granulosa
Kista granulosa merupakan pembesaran non neoplastik ovarium. Setelah ovulasi,
dinsing

sel

granulosa

mengalami

luteinisasi.

Pada

tahap

terbentuknya

vaskularisasi baru, darah terkumpul di tengah rongga membentuk korpus


hemoragikum.
Resorbsi darah di ruangan ini menyebabkan terbentuknya kista korpus luteum.
Kits lutein yang persisten dapat menimbulkan nyeri lokal dan tegang dinding
perut yang juga disertai dengan amenorea atau menstruasi terlambat yang
menyerupai gambaran kehamilan ektopik. Kista lutein juga dapat menyebabkan
torsi ovarium sehingga menimbulkan nyeri hebat atau perdarahan intraperitoneal
yang membutuhkan tindakan pembedahan segera untuk menyelamatkan penderita.

Kista teka
Kista jenis ini tidak pernah mencapai ukuran yang besar. Umumnya bilateral dan
berisi cairan jernih kekuningan. Kista teka seringkali dijumpai bersamaan dengan
ovarium polikistik, mola hidatidosa, koriokarsinoma. Terapi hCG dan klomifen
sitrat
Tidak banyak keluhan yang ditimbulkan oleh kista ini. Pada umumnya tidak
diperlukan tindakan bedag untuk menangani kista ini karena kista dapat
menghilang secara spontan setelah evakuasi mola, terapi korio karsinoma dan
penghentian stimulasi ovulasi dengan klomifen. Walaupun demikian, apabila
terjadi ruptur kista dan terjadi perdarahan ke dalam rongga peritoneum maka
diperlukan tindakan laparotomi segera untuk menyelamatkan penderita.

Ovarium polikistik (Stein-leventhal syndrome)

Gambaran umum
Penyakit ovarium polikistik ditandai dengan pertumbuhan polikitik
ovarium kedua ovarium, amenorea sekunder atau oligomenorea dan
infertilitas. Sekitar 50% pasien mengalami hirsutisme dan obesitas.
Gangguan ini terjadi pada perempuan berusia 15-30 tahun. Banyak kasus
infertilitas terkait dengan sindrom ini. Tampaknya hal ini berkaitan dengan
disfungsi hipotalamus.

Gambaran klinik
Walaupun mengalami pembesaran ovarium juga mengalami proses
sklerotika yang menyebabkan permukaannya berwarna putih tanpa
indentasi seperti mutiara sehingga disebut sebagai ovarium kerang.
Ditemukan banyak folikel berisi cairan dibawah dinding fobrosa korteks
yang mengalami penebalan. Teka interna terlihat kekuningan karena
mengalami luteinisasi, sebagian stroma juga mengalami hal yang sama.
Diagnosis penyakit ini dibuat berdasarkan anamnesis yang mengarah pada
beberapa gejala di atas dan pemeriksaan fisik terarah. Riwayat menarche
dan haid normal kemudian berubah menjadi episode amenorea yang
semakin lama. Pembesaran ovarium dapat dipalpasi pada sekitar 50%.
Terjadi peningkatan 17-ketosteroid dan LH tetapi tidak ditemukan fase
lonjakan FH (LH surge) yang akan menjelaskan mengapa tidak terjadi
ekskresi estrogen, FSH dan ACTH masih dalam batas normal.
Pemeriksaan yang dapat diandalkan adalah UGS dan laparoskopi. FSH
biasanya normal LH tinggi rasio LH > FSH > 2.

Terapi
Klomifen sitrat 50-100 mg perhari untuk 5-7 hari persiklus. Beberapa
praktisi juga menambahkan hCG untuk memperkuat efek pengobatan.
Walaupun reseksi baji cukup menjanjikan, hal tersebut jarang dilakukan
karena dapat terjadi perlengketan periovarial. Karena endometrium lebih
banyak terpapar estrogen maka dianjurkan juga untuk memberikan
progesteron (LNG, desogestrel, CPA).

TUMOR EPITEL OVARIUM

Epitelial tumor mencakup 60-80% dari keseluruhan neoplasma ovarium, termasuk


didalamnya adalah kistadenoma serosum, kistadenoma mucinosum, clear cell, sel
transisional (Brenner) dan epitel sel stroma.

Tumor kistikovarium
Kistadenoma ovarii serosum

Gambaran umum
Kistadenoma serosum mencakup sekitar 15%-25% dari keseluruhan tumor
jinak ovarium. Usia penderita berkisar antara 20-50 tahun. Pada 12-50%
kasus, kista ini terjadi pada kedua ovarium.ukuran kista berkisar antara 515 cm dan

ukuran ini lebih kecil dari rata-rata ukuran kistadenoma

musinosum. Kista berisi cairan serosa, jernih kekuningan. Proliferasi fokal


pada dinding kista menyebabkan proyeksi papilomatosa ke tengah kista
yang

dapat

bertranformasi

menjadi

kistadeno

fibroma.

Proyeksi

papilomatosa ini harus diperhatikan secara seksama dalam upaya untuk


membedakannya dengan proliferasi atipik

Gambaran klinik
Kistadenoma serosum yang ditemukan pada usia 20-30 tahun digolongkan
sebagai neoplasma potensi rendah untuk transformasi ganas dan hal ini
bertolak belakang dengan penderita pada usia peri atau pascamenopause
yang memiliki potensi anaplastik yang tinggi. Seperti dengan sebagian
besar tumor epitelial ovarium, tidak dijumpai gejala klinik khusus yang
dapat menjadi pertanda kistadenoma serosum. Pada sebagian besar kasus,
tumor ini ditemukan secara kebetulan saat dilakukan pemeriksaan rutin.
Pada kondisi tertentu penderita akan mengeluhkan rasa tidak nyaman
didalam pelvis, pembesaran perut dan gejala seperti ascites.

Terapi
Pengobatan terpilih untuk kistadenoma serosum adalah tindakan
pembedahan (eksisi) dengan eksplorasi menyeluruh pada organ intapelvik
dan abdomen. Untuk itu jenis insisi yang dipilih adalah mediana karena

dapat memberikan cukup akses untuk tindakan eksplorasi. Sebaiknya


dilakukan pemeriksaan PA selama operasi sebagai antisipasi terhadap
kemungkinan adanya keganasan.

Kistadenoma ovarii mucinosum

Gambaran umum
Kistadenoma ovarii mucinosum mencakup 16-30% dari total tumor jinak
ovarium dan 85% diantaranya adalah jinak. Tumor ini bilateral pada 5-7%
kasus. Tumor ini pada umumnya adalah multilokuler dan lokulus yang
berisi cairan mucinosum tampak berawrna kebiruan didalam kapsul yang
dindingnya tegang. Dinding tumor tersusun dari epitel didalam kolumner
yang tibggi dengan inti sel berwarna gelap terletak dibagian basal. Dinding
kistadenoma musinosum ini, pada 50% kasus mirip dengan struktur epitel
endoserviks dan 50% lagi mirip dengan struktur epitel kolon dimana
cairan musin didalam lokulus kista mengandung sel-sel goblet. Perlu untuk
memilih sampel pemeriksaan PA dari beberapa tempat karena sebaran
area-area dengan gambaran jinak, potensial ganas atau ganas adalah sangat
variatif.

Gambaran klinik
Tumor mucin ini merupakan tumor dengan ukuran terbesar dari tumor
dalam tubuh manusia. Terdapat 15 laporan yang menyebutkan berat tumor
di atas 70 kg. Sebagai konsekuensi semakin besar ukuran tumor
diovarium, semakin besar pula kemungkinan diagnisusnya dalag
kistadenoma ovarii mucinosum. Tumor ini juga asimptomatik dan
sebgaian besar pasien hanya merasakan pertambahan berat badan atau rasa
penug diperut. Pada kondisi tertentu, perempuan pascamenopause dengan
tumor ini dapat mengalami hiperplasie atau perdarahan pervaginam karena
stroma

sel

tumor

mengalami

proses

luteinisasi

sehingga

dapat

menghasilkan hormon (terutma estrogen). Bila hal ini terjadi pada


perepuan hamil maka dapat terjadi pertumbuhan rambut yang berlebihan
(virilisasi) pada wanita.

Cairan musin dari kistoma ini dapat mengalir ke kavum pelvik atau
abdomen melalui stroma ovarium sehingga terjadi akumulasi cairan musin
intraperitoneal dan hal ini dikenal sebagai pseudomiksoma peritonii. Hal
yang serupa, dapat pula disebabkan oleh kistadenoma pada apendiks

Terapi
Apabila ternyata stroma kistadenoma ovarii musinosum mendiseminasi
cairan mucin ke rongga peritoneum (pseudomiksoma) dan hal ini
ditemukan pada saat melakukan tindakan laparotomi, maka sebaiknya
dilakukan salfingo-ooforektomi unilateral. Untuk mengosongkan cairan
musin dari kavum peritoneum, encerkan terlebih dahulu mucin dengan
larutan dextrose 5%-10% sebelum dilakukan pengisapan (suction).

Kista dermoid

Gambaran umum
Kista dermoid merupakan tumor terbanyak (10% dari total tumor ovarium)
yang berasal dari sel germinativum. Tumor ini merupakan tumor jinak sel
germinativum dan paling banyam didertia oleh gadis berusia dibawah 20
tahun. Tumor sel germinall ini mencakup 60% kasus dibandingkan 40%
yang berasal dari sel nongerminal untuk kelompok umur yang telah
disebutka terlebih dahulu.

Gambaran klinik
Walaupun terdapat beberapa jaringan penyusun tumor, tetapi ektodermal
merupakan kompone utama yang kemudian dengan mesodermal dan
entodermal. Semakin lengkap unsur penyusun akan semakin solid
konsistensi tumor ini. Kista dermoid jarang mencapai ukuran yang besar
tetapi kadang-kadang bercampur dengan kistadenoma ovarii mucinosum
sehingga diameternya akan semakin besar. Unsur penyusun tumor terdiri
dari sel-sel yang telah matur sehingga kista ini juga disebut sebagai
teratom matur. Kista dermoid mempunyai dinding berwarna putih dan

relatif tebal, berisi cairan kental dan berimnyak karena dinding tumor
mengandung banyak kelenjar sebasea dan derivat ektodermal. Dalam
ukuran kecil, kista dermoid tidak menimbulkan keluhan apa pun dan
penemuan tumor pada umumnya hanya melalui pemeriksaan ginekologi
rutin. Rasa penuh dan berat didalm hanya dirasakan apabila ukuran tumor
cukup besar. Komplikasi kista dermoid dapat berupa torsi, ruptura,
perdarahan dan transformasi ganas.

Terapi
Laparotomi dan kistektomi

Tumor jaringan ikat ovarium / tumor padat ovarium


Fibroma

Gambaran umum
Tumor dari jaringan ikat ovarium ini sangat terkenal terkait dengan
kumpulan gejala yang disebut dengan sindroma megs. Mekanisme
sindroma ini masih belum diketahui secara pasti tetapi sistem limfatik
diafragma dianggap sebagai benang meah dari kesemua gejala yang ada,
termasuk dengan adanya timbunan cairan di rongga dada. Tidak seperti
namanya, tumor ini tidak sepenuhnya berasal dari jaringan ikat kerena
juga terdapat unsur germinal, tekoma dan tranformasi ke arah ganas
seperti tumor Brenner walaupun tanpa adanya metasetase ke pleura.
Hidrotoraks dan ascites selalu menyertai fibroma ovarium dalam sindorma
Meigs.

Gambaran klinik
Fibroma timbul secara bilateral pada 2-10% kasus dan ukuran rata-rata
tumor ini adalah 6 cm. Konsistensi tumor adalah kenyal, padat dengan
permukaan yang halus dan rata. Ascites dan hidrotoraks merupakan paket
dari sindroma Meigs dan tanpa kedua ini maka tumor yang berasal dari
jaringan ikat ovarium murni disebut sebagai fibroma ovarii.

Terapi
Hampir semua tumor padat ovarium diindikasikan untuk diangkat ,
termasuk fibroma. Pengangkatan tumor

biasanya

diikuti

dengan

menghilangnya hidrotoraks dan ascites.

Tumor Brenner

Gambaran umum
Robert meyer merupakan pionir dalam mengenali tumor ini karena
sebelum ini selalu didiagnosis sebagai fibroma. Ternyata, tumor ini
mempunyai karakteristik histopatologi yang berbeda karena tersusun dari
sarang atau kolom epitel didalam jaringan fibromatosa. Distribusi sarang
epitel di dalam stroma mengesankan gambaran ganas tetapi gambaran
homogen dan uniformal tanpa aktivitas anaplasia menunjukkan hal yang
sebaliknya.
Karakteristik sarang-sarang epitel tersebut seringkali menunjukkan
terdensi untuk mengalami degenerasi kistik sentralis. Rongga-rongga yang
terbentuk mempunyai massa sitoplasmik yang menyerupai gambaran
ovum didalam folikel.

Gambaran klinik
Tumor Brenner termasuk jarang ditemukan dan umumnya ditemukan pada
perempuan usia lanjut (50 tahun). Tidak ada gejala klinik khusus dari
tumor ini dan seringkali ditemui secara tidak sengaja pada saat operasi.
Pernah ditemukan tumor Brenner seberat 10 kg dab semula diduga sebagai
fibroma. Tumor ini tumbuh bilateral 10% dari total kasus. Novak
mengajukan teori Walt-hard call islet terkait dengan histogenesis tumor ini
tetapi Greene et al berpendapat bahwa jaringan asal tumor ini adalam
epitel permukaan, rete, dan stroma ovarium. Arey meragukan epitel
ovarium dan mengajukan uroepitel sebagai jaringan asal. Woodruff, acosta
dan Mc kinlay percaya bahwa teori metaplasia dan degenerasi berada di
balik histogenesis tumor Brenner.

Hingga akhir millenium ini, tumor Brenner dianggap sebagai tumor jinak
(98%). Tumor ini mencakup 1-2% dari total tumor ovarium dan sekitar
95% terjadi unilateral. Idelson melaporkan transformasi ganas pada sekitar
50 kasus dan melihat adanya hubungan kistdenokarsinoma musinosum
dengan tumor ini. Roth mendeskripsikan transformasi tersebut sebagai
proliferasi tanpa invasi nyata pada stroma. Farrar melaporkan ada 7,5%
kasus yang menunjukkan efek estrogenik (hiperplasia endometrium) dari
tumor Brenner. Ullery melaporkan sejumlah kasus tumor Brenner dengan
efek virilisasi pada penderita.

Terapi
Eksisi

Tumor sel stroma

Tumor sel granulosa


Tumor ini dikaitkan dengan adanya produksi hormon estrogen dan dapat
menyebabkan pubertas prekok pada gadis-gadis muda dan menyebabkan
hiperplasia adenomatosa dan perdarahan pervaginam pada perempuan
pascamenopause. Karakteristik histopatologinya berupa sel dengan inti
berlekuk

seperti

biji

kopi,

disertai

pertumbuhan

stroma

yang

mikrofolikular, karofolikular, trabekuler, insuler atau padat. Badan CallExner dikaitkan dengan corak pertumbuhan mikrofolikular dan ronggarongga kecil yang berisi cairan eosinofilik. Terdapat sejumlah sel teka
dalam jumlah tertentu.

Tumor sel teka


Seperti halnya tumor granulosa, tekoma ovarii juga memproduksi
estrogen. Tumor jinak ini terdiri dari stroma yang mengandung sebaran sel
lemak yang memberikan warna kekuningan pada badan tumor saat
dilakukan diseksi.

Tumor sel sertoli dan leydig


Tumor ini memberikan gejala variasi pada penderita dan umumnya terjadi
pada perempuan berusia 20-27 tahun. Sebagian besar tumor tumbuh secara
unilateral. Pada pemeriksaan mikroskopik akan dijumpai sel sertoli dan sel

leydig secara bersamaan. Didalam jaringan tumor, tekstur kedua sel ini
sangat variatif.

Tumor endometroid

Gambaran umum
Yang paling menarik dan banyak menjadi bahan diskusi adalah keberadaan
jaringan yang mirip dengan endometrium di dalam rongga pelvik,
termasuk yang bermanifestasi pda ovarium. Tumor endometrioid paling
sering dijumpai pada ovarium, ligamentum sakro uterina dan rotundum,
septum rektivaginalis, tunika serosa (uteri, tuba, rektum, sigmoid dan
kandung kemih), umbilikus, parut laparotomi, sakus hernialis, apendiks,
vagina, vulva, serviks, tuba, dan kelenjar limfe. Sekitar 30%-50%
endometroid ovarii terjadi bilateral dan hanya 10% tumor endometroid
timbul pada tempat yang sama dengan endometriosis. Sekitar 30%
penderita karsinoma endometroid terjadi bersamaan dengan karsinoma
endometrium.
Terdapat 4 teori terkait yang dianut hingga saat ini yaitu regurgitasi darah
haid (teori Sampson), metaplasia selomik, diseminasi limfatik (teori
Halban) dan hematogenik. Teori implantasi dan metaplasia di anggap
paling masuk akal walaupun tidak dapat menjelaskan endometroid di
tempat yang jauh (umbilikus, pleura dan sebagainya). Walaupun teori
linfatik dan hematogenik dapat menjelaskan pertumbuhan endometroid
ditempat jauh dari kavum uteri, tetapi sangat sedikit kasus atau studi yang
dapat mendukung teori ini.

Gambaran klinik
Bentuk manifestasi endometroid di berbagai tempat di kavum pelvik
sangat bervariatif. Bentuk yang paling sering ditemukan adalah penonjolan
berwarna merah kehitaman, terutama pada ovarium dan bagian belakang
dinding uterus. Kebocoran akibat upaya untuk melepaskan ovarium dari
perlekatannya dari jaringan sekitar akan disertai oleh keluarnya cairan
kecokelatan. Apabila endometroid membentuk kista pada ovarium maka

permukaan dalam dinding akan memiliki gambaran seperti lapisan


endometrium di kavum uteri disertai dengan area-area yang berdarah.
Walaupun terjadi perlengketan dengan fimbria tuba yang disertai lapisan
atau serat-serat fibrin tetapi pada banyak kasus hal tersebut tidak
menimbulkan penyatuan juluran fimbria. Perdarahan atau bekuan darah
dari tumor endometroid menjadi menyebab utama obstruksi dari bagian
paling ujung tuba. Penonjolan, perlengketan dan perdarahan adalah
penampakan umum di semua lokasi lesi endometroid di dalam kavum
pelvik. Cavanagh menemukan hubungan usia (kurang dari 30 tahun)
dengan progresivitas pertumbuhan endometroid (termasuk penyebarannya)
di ovarium dan kavum pelvik. Diagnosis ditegakkan dengan laparoskopi
diagnostik.

Terapi
Sangat tergantung dari usia dan fertilitas pasien karena tindakan
ooforektomi adalah pilihan yang cukup radikal untuk menyelesaikan kasus
ini. Untuk penanganan infertilitas dapat dicobakan eksisi endometroid
tumor dan dikombinasikan dengan hormon normal atau menopause buatan
secara temporer.

TUMOR JINAK TUBA UTERINA


Tumor kistik tuba
Kista Morgagni
Lokasi tersering dari tumor kistik tuba adalah pada atau dekat ujung fimbria dan
disebut sebagai kista morgagni. Kista ini berdinding tipis, transparan dan berisi
cairan jernih. Ukuran rata-rata adalah 1 cm dan dindingnya tersusun dari jenis
yang sama dengan tuba. Jarang sekali menimbulkan gejala klinis dan pada
sebagian besar kasus, tumor ini ditemukan hanya pada saat melakukan operasi
atau laparoskopi.