Anda di halaman 1dari 6

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1. Kelimpahan, Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominasi

4.1.2 Windows Semua Session


1. Hendri Zand F Lahagu 26020113140118
a. Dendogram

b. Scree Plot

c. Bi Plot

d. Outlier Plot

4.2.
4.2.1.

Pembahasan
Analisis setiap indeks
A. Hendri Zand F Lahagu 26020113140118
Pada Praktikum kali digunakan data dari 4 stasiun yaitu
Trimulyo, Mangkangwetan, Mangunharjo dan Maron. Pada masingmasing pos dilakukan sampling dan perhitungan spesies yang kemudian
diolah untuk menjadi data kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman
dan dominasi.
Pada lokasi Trimulyo didapat data rata-rata dari tiga pos
berbeda. Kelimpahan yang didapat yaitu 343500,00. Indeks
keanekaragaman yang didapat ialah 1.67 dengan indeks keseragaman
sebesar 0.91. berdasarkan perhitungan pula dapat diketahui bahwa indeks
dominasinya sebesar 0.09. menurut hasil ini dapat diketahui bahwa
indeks keseragaman memiliki nilai yang cukup rendah. Menurut
Nybakken (1996), nilai ini menunjukkan keanekaragaman sedang dan
skeseragaman yang stabil. Stabil disini memiliki arti bahwa pada lokasi
ini tidak terjadi dominasi oleh spesies tertentu saja.
Lokasi kedua terdapat di Mangkangwetan didapatkan bahwa
nilai kelimpahannya lebih tinggi mencapai 4397000 dengan indeks
keanekaragaman 1.38 yang termasuk kedalam kelas sedang dan indeks
keseragaman 0.86 yang berarti nilainya stabil. Sedangkan dapat dilihat
bahwa nilai dominasi kecil yaitu 0.14 yang berarti bahwa tidak ada
penumpukan populasi pada suatu wilayah sehingga menggambarkan
bahwa sebaran spesies terjadi secara merata.
Lokasi ketiga terletak di Mangunharjo. Pada daerah ini
diperoleh indeks kelimpahan yang tidak terlalu besar yaitu 1616500, hal
ini dikarenakan jumlah spesies pada pos tersebut dapat dikatakan sedikit.
Besaran indeks keanekaragaman pada lokasi ini juga ada pada angka 1.37
yang menurut Nybakken (1996) berarti sedang. Keanekaragaman ini
berarti banyaknya jenis spesies dilokasi ini dapat dikatakan normal. Nilai
keseragamannya juga tergolong stabil dengan nilai 0.86 dan dominasi
sebanyak 0.14. nilai dominasi disini dikatakan cukup kecil karena nilai

4.2.2.

keseragamnanya yang rendah pula sehingga sulit ditemukan spesies yang


sama berkumpul dilokasi yang sama.
Lokasi keempat ialah Pantai Maron. Pada perairan ini
didapatkan data kelimpahan yang kecil sekitar 146537,2333 dengan
indeks keanekaragaman tergolong sedang dan nilai keseragaman yang
stabil yaitu 0,90. Nilai dominasi pada lokasi ini dapat dikatakan tinggi
namun masi normal sehingga member informasi bahwa lingkungan ini
masih baik karena persebaran spesiesnya normal.
Analisis grafik
A. Hendri Zand F Lahagu
Pada grafik hasil olahan pertama dapat dilihat nilai kelimpahan
tertinggi terdapat pada lokasi mangkang wetan dan terendah terdapat di
Mangunharjo. Pada mangkang wetan nilai kelimpahan tinggi dapat
disebabkan oleh keadaan wilayah sekitar dan kondisi alamnya. Nilai
kelimpahan disana tinggi dapat dimungkinkan karena pos tempat
pengambilan sampel dapat merupakan habitat asli spesies yang
ditemukan. Adanya sumber nutrient yang tinggi juga dapat
mempengaruhi adanya kelimpahan pada suatu daerah. Sedangkanpada
daerah Mangunharjo memiliki nilai yang kecil disebabkan oleh
sedikitnya ketersediaanya makanan di lingkungan itu.Nilai kelimpahan
pada pos Trimulyo dan Maron memiliki nilai yang hamper sama, dalam
hal ini keadaan lingkungan disana dapat dikatakan normal utnuk spesies
tertentu saja dapat hidup.
Indeks keanekaragaman digunakan utnuk mengetahui tingkat
keanekaragaman di suatu daerah. Berdasarkan data yang telah diolah
didapatkan nilai keanekaragaman hamper merata namun nilai tertinggi
terdapat pada stasiun Trimulyo sedangkan terendah terdapat di pantai
maron. Keanekaragaman di Trimulyo tinggi dapat disebabkan karena
adanya banyak jenis-jenis spesies lain yang terdata dalam satu pos
tersebut sehingga jenisnya bervariasi dan keanekaragamannya menjadi
tinggi. Sebaliknya pada Pantai Maron dapat ditemui sedikit dsaja jenis
spesies plankton sehingga nilai keanekaragamannya akan lebih rendah.
Indeks keseragaman keempat lokasi stasiun menunjukkan nilai
yang tidak begitu jauh berbeda. Hal ini berarti pada setiap stasiun
memiliki nilai yang hamper sama perbandingan antara jumlah spesies dan
lingkungannya. Berdasarkan hal ini juga dapat dikatakan bahwa kondisi
lingkungan keempat stasiun dapat dikatakan hamper serupa menurut
Odum (1993). Nilai keseragaman yang tinggi terdapat pada Mangunharjo
dan terkecil di Pantai Maron. Keseragaman tinggi berkaitan sekali
dengan penyebaran spesies. Jika keseragamannya tinggi maka dapat
dipastikan bahwa persebaran spesiesnya merata. Namun ditempat yang
keseragamannya rendah menandakan indikasi bahwa ada spesies-spesies

yang tidak mengalami persebaran yang merata sehingga menumpuk pada


satu titik saja. Hal ini berarti telah terjadi dominansi.
Indeks dominansi didapatkan untuk mengetahui keadaan suatu
lingkungan, ada atau tidaknya spesies tertentu yang menguasai atau
tinggal dalam kawasan tersebut dalam jumlah besar. Dari hasil yang
didapatkan pada grafik dapat terlihat bahwa dominansi tertinggi terjadi di
Pantai Maron. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya proses pengadukan
yang tinggi dan spesies menjadi terisolasi disatu bagian saja. Hal lain
yang dapat menyebabkannya ialah mengenai ketersediaan nutrien di
wilayah tersebut sehingga terdapat spesies tersebut yang bertahan dan
mencari mangsa. Sedangkan nilai terendah terdapat pada lokasi
Mangunharjo. Hal ini berarti bahwa tidak terjadi penumpukan spesies
pada suatu pos sebaliknya pada lokasi ini, persebaran spesies terjadi
merata dan baik. Hal ini dapat dikarenakan distribusi mangsa
menunjukkan keadaan yang normal.
4.2.3.

Analisis Dendogram
A. Hendri Zand F Lahagu
Pada praktikum modul dua dilakukan analisis struktur
komunitas dari lima stasiun berbeda. Hasil disajikan dalam bentuk
dendogram. Berdasarkan hasil yang didapat, terdapat 4 cluster yang
berbeda dari tempat pengambilan sampel. Stasiun 1 dan 5 menunjukkan
gambar dendogram yang digabungkan oleh satu garis. Hal ini berarti
bahwa stasiun 1 dan 5 memiliki kemiripan dari segi persebaran spesies
dan nilai dari parameter lingkungan.
Cluster selanjutnya ialah pada stasiun 3, stasiun ini memiliki
sedikit kemiripan dengan cluster sebelumnya karena letaknya yang
berdekatan pada dendogram. Sebab stasiun 3 tidak digabung dengan
stasiun 1 dan 5 dapat dikarenakan ada sedikit faktor pembeda dari
karakteristik kedua cluster meskipun hamper keseluruhan sama.
Cluster selanjutnya ialah stasiun 4. Pada stasiun ini terbilang
cukup jauh jaraknya di dendogram. Hal ini berarti karakteristik disini
sudah jauh berbeda dengan yang ada pada cluster sebelumnya. Hasil
seperti ini dapat disebabkan karena adanya perbedaan faktor lingkungan
yang mempengaruhi seperti gelombang, arus dan persebaran spesies serta
ketersediaan nutrient di daerah tersebut.
Cluster terakhir terdapat pada stasiun 2. Pada stasiun ini
hubungan dan kemiripan sudah sangat jauh berbeda. Hal ini dapat dilihat
dari dendogram yang tersaji. Menurut hasil tersebut jarak stasiun 2 ialah
yang paling jauh sehingga dapt dikatakan bahwa kemiripan dengan
cluster lain sangat sedikit.

4.2.4.

Analisis PCA (scree plot, outlier plot, biplot)


Hasil disajikan dalam bentuk diagram. Yang pertama ada lah
scree plot. Scree plot ini menggambarkan distribusi spesies di
lingkungan tempat dilakukan nya pengambilan sampel, diagram
menunjukkan kurang bagus nya distribusi spesies di lingkungan
tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor suhu dan do di
lingkungan perairan tersebut.
Yang kedua adalah Biplot. Diagram ini menggambarkan
asosiasi yang terjadi antar spesies di lingkungan tempat pengambilan
sampel. Apabila sudut yang terbentuk antara dua spesies semakin kecil
maka, asosiasi nya semakin banyak (positif) dan sebaliknya apabila
sudut yang terbentuk dalam diagram semakin besar maka asosiasi
antara kedua spesies tersebut semakin sedikit ( negatif). Contoh dari
diagram adalah Spesies yang memiliki hubungan asosiasi yang paling
positif adalah Microsetella sp. dan Trichodesmium sp. sedangkan dua
spesies yang memiliki hubungan asosiasi yang paling jauh
adalah Microsetella sp. dan Ceratium sp.