Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN CA MAMMAE

  • A. PENGKAJIAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

    • 1. Riwayat Kesehatan Sekarang Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak dan nyeri.

    • 2. Riwayat Kesehatan Dahulu Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae, kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.

    • 3. Riwayat Kesehatan Keluarga Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada kemungkinan klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.

    • 4. Pemeriksaan Fisik

      • a. Kepala : normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.

      • b. Rambut : biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu berminyak.

      • c. Mata : biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.

      • d. Telinga : normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.

      • e. Hidung : bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.

      • f. Mulut : mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.

      • g. Leher : biasanya terjadi pembesaran KGB.

      • h. Dada : adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling, ulserasi atau tanda- tanda radang.

      • i. Hepar : biasanya tidak ada pembesaran hepar.

      • j. Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.

        • 5. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon

          • a. Persepsi dan Manajemen Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.

          • b. Nutrisi – Metabolik Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan mengandung MSG.

          • c. Eliminasi Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.

          • d. Aktivitas dan Latihan Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.

          • e. Kognitif dan Persepsi

Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.

  • f. Istirahat dan Tidur Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.

  • g. Persepsi dan Konsep Diri Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya sebagai wanita normal.

  • h. Peran dan Hubungan Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam melakukan perannya dalam berinteraksi social.

  • i. Reproduksi dan Seksual Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat kepuasan.

  • j. Koping dan Toleransi Stress Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus asaan.

  • k. Nilai dan Keyakinan Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang dada.

Pemeriksaan Diagnostik

  • 1. Scan (mis, MRI, CT, gallium) dan ultrasound. Dilakukan untuk diagnostik, identifikasi metastatik dan evaluasi.

  • 2. biopsi : untuk mendiagnosis adanya BRCA1 dan BRCA2

  • 3. Penanda tumor

  • 4. Mammografi

  • 6. sinar X dada

    • B. DIAGNOSA KEPERAWATAN CA MAMMAE PAYUDARA

(CARSINOMA

MAMMAE)/ KANKER

  • 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembedahan, mis; anoreksia

  • 3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses pembedahan

  • 4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah jaringan

  • 5. Ansietas berhubungan dengan diagnosa, pengobatan, dan prognosanya .

  • 6. Kurang pengetahuan tentang Kanker

mammae

berhubungan

dengan

kurang

pemajanan informasi

  • 7. Gangguan body image berhubungan dengan kehilangan bagian dan fungsi tubuh

 
  • 8. Potensial disfungsi seksual berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh, perubahan

dalam

citra

diri

C. PERENCANAAN

 

KEPERAWATAN CA

 

MAMMAE

(CARSINOMA

MAMMAE) / KANKER PAYUDARA

 
 

DIAGNOSA KEP.

 

NOC

 

NIC

 

Nutrisi

kurang

dari

NOC :

 

NIC :

kebutuhan

tubuh

v Nutritional Status

Nutrition Management

 

berhubungan

dengan

:

food

and Fluid

§

Kaji

adanya

alergi

pembedahan,

mis;

Intake

makanan

 

anoreksia

Kriteria Hasil :

§ Kolaborasi dengan ahli gizi

 

v

Adanya

untuk

menentukan

jumlah

peningkatan berat

kalori

dan

nutrisi

yang

badan

sesuai

dibutuhkan pasien.

dengan tujuan

§

Anjurkan

pasien

untuk

v

Berat badan

meningkatkan intake Fe

ideal

sesuai

§

Anjurkan

pasien

untuk

dengan

tinggi

meningkatkan

protein

dan

badan

vitamin C

v

Mampu

§ Berikan substansi gula

 

mengidentifikasi

§

Yakinkan

diet

yang

kebutuhan nutrisi

dimakan mengandung tinggi

v

Tidak ada tanda

serat

untuk

mencegah

tanda malnutrisi

konstipasi

v

Tidak terjadi

§ Berikan

makanan

yang

penurunan berat

terpilih

(

sudah

badan yang berarti

dikonsultasikan

dengan

ahli

gizi) § Ajarkan pasien bagaimana

membuat

catatan makanan

harian. Monitor jumlah nutrisi dan

§

kandungan kalori Berikan informasi tentang

§

kebutuhan nutrisi

 

§

Kaji

kemampuan pasien

untuk

mendapatkan

nutrisi

yang dibutuhkan

 

Nutrition Monitoring

 

§ BB pasien dalam batas normal § Monitor adanya penurunan berat badan § Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan § Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan § Monitor lingkungan selama makan § Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan § Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi § Monitor turgor kulit

§ Monitor kekeringan,

   

rambut kusam, dan mudah patah

§ Monitor mual dan muntah

§

Monitor kadar albumin,

total protein,

Hb, dan

kadar

Ht § Monitor makanan

kesukaan Monitor pertumbuhan dan

§

perkembangan § Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan

konjungtiva Monitor kalori dan intake

§

nuntrisi § Catat adanya edema,

hiperemik,

hipertonik

papila

lidah dan cavitas oral.

Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

§

Gangguan rasa nyaman

NOC :

NIC :

nyeri berhubungan

v

Pain Level,

Pain Management

 

dengan

proses

v

Pain control,

§

Lakukan pengkajian nyeri

pembedahan

v

Comfort level

secara

komprehensif

Kriteria Hasil :

termasuk lokasi, karakteristik,

v

Mampu

durasi, frekuensi, kualitas dan

mengontrol nyeri

faktor presipitasi

(tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan

tehnik

§ Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan § Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk

nonfarmakologi

mengetahui

pengalaman

untuk mengurangi

nyeri pasien

nyeri, mencari

§

Kaji

kultur

yang

bantuan)

mempengaruhi respon nyeri

v

Melaporkan

§ Evaluasi pengalaman nyeri

bahwa

nyeri

masa lampau

berkurang dengan

§

Evaluasi bersama pasien

menggunakan

dan

tim

kesehatan

lain

manajemen nyeri

tentang

ketidakefektifan

v

Mampu

kontrol nyeri masa lampau

mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda

§ Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

nyeri)

§

Kontrol

lingkungan

yang

 

v Menyatakan rasa

dapat mempengaruhi nyeri

Analgesic Administration

nyaman

setelah

seperti suhu ruangan,

nyeri berkurang

pencahayaan dan kebisingan

v

Tanda

vital

§ Kurangi faktor presipitasi

dalam

rentang

nyeri

normal

§ Pilih dan lakukan

penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal) § Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi § Ajarkan tentang teknik non farmakologi § Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri § Evaluasi keefektifan kontrol nyeri § Tingkatkan istirahat § Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil § Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

§ Tentukan lokasi,

karakteristik,

kualitas,

dan

derajat

nyeri

sebelum

pemberian obat Cek instruksi

§

dokter

tentang jenis obat, dosis, dan

frekuensi § Cek riwayat alergi

 

§

Pilih

analgesik

yang

diperlukan

atau

kombinasi

dari

analgesik ketika

pemberian lebih dari satu § Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri § Tentukan analgesik pilihan,

rute

pemberian,

dan

dosis

optimal

 

§

Pilih

rute

pemberian

secara

IV, IM

untuk

pengobatan

nyeri

 

secara

   

teratur § Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali

§

Berikan

analgesik

tepat

waktu

terutama

saat

nyeri

hebat

§

Evaluasi efektivitas

analgesik, tanda dan gejala

(efek samping)

Kerusakan

integritas

NOC :

Tissue

NIC : Pressure Management

kulit

berhubungan

Integrity : Skin and Anjurkan

pasien untuk

dengan

pengangkatan

Mucous

menggunakan pakaian yang

bedah jaringan

Membranes

 

longgar

Kriteria Hasil :

Hindari

kerutan

padaa

v

Integritas

kulit

tempat tidur

yang

baik

bisa Jaga

kebersihan

kulit

agar

dipertahankan

 

tetap bersih dan kering

(sensasi,

Mobilisasi

pasien (ubah

elastisitas,

 

posisi pasien) setiap dua jam

temperatur,

sekali

hidrasi, pigmentasi) Monitor

kulit

akan

adanya

v

Tidak

ada

kemerahan

luka/lesi pada kulit

Oleskan lotion atau

Perfusi jaringan baik

v

minyak/baby oil pada derah yang tertekan

v

Menunjukkan Monitor

aktivitas

dan

pemahaman dalam

mobilisasi pasien

proses

perbaikan Monitor status nutrisi pasien

kulit dan mencegah

terjadinya sedera berulang

v

Mampu

melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan

alami

Ansietas

berhubungan

NOC :

NIC :

dengan

diagnosa,

v

Anxiety control

Anxiety

Reduction

pengobatan,

dan

v

Coping

(penurunan kecemasan)

prognosanya .

Kriteria Hasil :

· Gunakan pendekatan

v

Klien

mampu

yang menenangkan

mengidentifikasi

·

Nyatakan dengan jelas

dan

harapan

terhadap

pelaku

 

mengungkapkan

pasien

gejala cemas

·

Jelaskan

semua

v

Mengidentifikasi,

prosedur

dan

apa

yang

mengungkapkan dan menunjukkan

dirasakan selama prosedur ·

Temani

pasien

untuk

tehnik

untuk

memberikan keamanan dan

mengontol cemas

mengurangi takut

Vital sign dalam batas normal

v

v

Postur tubuh,

· faktual mengenai diagnosis,

Berikan

informasi

tindakan prognosis

Lakukan back /

neck

ekspresi

wajah,

· Dorong keluarga untuk

bahasa tubuh dan

tingkat

aktivitas

menemani anak ·

menunjukkan

rub

berkurangnya

kecemasan

 

·

Dengarkan

dengan

penuh perhatian

 

·

Identifikasi

tingkat

kecemasan

·

Bantu

pasien

mengenal

situasi

yang

menimbulkan kecemasan

·

Dorong pasien untuk

mengungkapkan

perasaan,

ketakutan, persepsi · Instruksikan

pasien

teknik

menggunakan relaksasi

·

Barikan

obat

untuk

mengurangi kecemasan

Kurang

pengetahuan

NOC :

Teaching

:

Dissease

tentang

penyakit,

v

Kowlwdge

:

Process

perawatan,pengobatan

disease process

-

Kaji tingkat pengetahuan klien

kurang

paparan

v

Kowledge

:

dan keluarga tentang proses

terhadap informasi

health Behavior

penyakit

Kriteria Hasil :

-Jelaskan tentang

patofisiologi

v

Pasien

dan

penyakit,

tanda

dan

gejala

keluarga

serta penyebabnya

menyatakan

-Sediakan

informasi

tentang

pemahaman

kondisi klien

tentang penyakit, -Berikan informasi

tentang

kondisi, prognosis

perkembangan klien

dan program -Diskusikan perubahan gaya

pengobatan

hidup

yang

mungkin

v

Pasien

dan

diperlukan

untuk

mencegah

keluarga mampu

komplikasi

di

masa

yang

melaksanakan

akan datang dan atau kontrol

 

prosedur

yang

proses penyakit

 

dijelaskan

secara -Jelaskan

alasan

benar

dilaksanakannya tindakan

v

Pasien

dan

atau terapi

 

keluarga

mampu -Gambarkan

komplikasi yang

menjelaskan

 

mungkin terjadi

 

kembali

apa

yang -Anjurkan klien untuk mencegah

dijelaskan

efek samping dari penyakit

perawat/tim

-Gali

sumber-sumber atau

kesehatan lainnya

dukungan yang ada

 

-Anjurkan klien untuk

melaporkan tanda dan gejala

yang muncul pada petugas

kesehatan

 

Gangguan body image

1)

Klien

tidak

Diskusikan

dengan klien

berhubungan dengan

malu

dengan

atau orang terdekat respon

kehilangan

bagian

dan

keadaan dirinya.

klien terhadap penyakitnya.

fungsi tubuh

2)

Klien

dapat

Rasional : membantu dalam

menerima

efek

memastikan masalah untuk

pembedahan.

memulai proses pemecahan

 

masalah

 
 

Tinjau ulang efek

 

pembedahan

 

Rasional

:

bimbingan

antisipasi

dapat

membantu

pasien

memulai

proses

adaptasi.

 
 

Berikan

dukungan

emosi

 

klien.

Rasional

:

 

klien

bisa

menerima keadaan dirinya.

 

Anjurkan

keluarga

klien

 

untuk

selalu

mendampingi

klien.

Rasional : klien dapat merasa

masih

ada

orang

yang

memperhatikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius

Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk perencanaan dan

pendokumentasian perawatyan px) Jakarta : EGC

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification (NIC). St.

Louis :Mosby Year-Book.

Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby Year-

Book

Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10.Jakarta:EGC

Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4.

Jakarta. EGC

Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC : Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah :

Brunner Suddarth, Vol. 2. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta

Wiley

dan

Blacwell.

(2009). Nursing

NANDA.Singapura:Markono p

Diagnoses:

Definition

&

Classification

2009-2011,

PENGERTIAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Ca mammae merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara.

Kanker bisa tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak, maupun

jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2005).

Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus

tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.

Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase pada bagian-

bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun

diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati,

kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005)

Ca mammae (carcinoma mammae) adalah keganasan yang berasal dari sel

kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit

payudara. Ca mammae adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara.

Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun

jaringan ikat pada payudara. (Medicastore, 2011)

Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen

yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara (Karsono,

2006).

Carsinoma mammae atau kanker payudara adalah neoplasma ganas dengan

pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya,

tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995).

Kanker payudara adalah terjadinya gangguan pertumbuhan yang ganas yang

terjadi pada jaringan payudara. Kanker biasanya terdiri dari gumpalan yang keras dan

kenyal tanpa adanya batas. Mungkin adanya garis asimetris antara kedua

payudara.Bila kanker sudah berkembang, tanda-tanda akan lebih nyata sepeti jaringan

menjadi merah,borok,membengkak dan kanker terlihat dengan jelas.

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan

di Indonesia.Biasanya kanker ini ditemukan pada umur 40-49 tahun dan letak terbanyak

di kuadran lateral atas (Arif Mansjoer, Kapita selecta kedokteran Edisi 2 ).

Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Pada lateral atasnya,

jaringan kelenjar ini keluar dari buatannya ke arah aksila, disebut tonjolan spence atau

ekor payudara.

Setiap payudara terdiri atas 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masing-masing

mempunyai saluran ke papila mammae, yang disebut duktus laktiferus.

Pendarahan payudara terutama berasal dari cabang arteri Perforantes Anterior

dari arteri Mammaria Interna, arteri torakalis yang bercabang dari arteri aksilaris dan

beberapa arteri Interkostalis.

Penyaliran limf dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke kelenjar

sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila kontra lateral, ke m.

rektus abdominis lewat ligamentum falsifarum hepatis ke hati, pleura dan payudara

kontra lateral. (Sjamsuhidajat, 2004)

2. ETIOLOGI CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Sebab-sebab keganasan pada mammae masih belum diketahui secara pasti (Price &

Wilson, 1995), namun ada beberapa teori yang menjelaskan tentang penyebab

terjadinya Ca mammae, yaitu:

• Mekanisme hormonal

Steroid endogen (estradiol & progesterone) apabila mengalami perubahan dalam

lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi ca mammae

(Smeltzer & Bare, 2002: 1589).

Virus

Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa abnormal

pada sel yang sedang mengalami proliferasi.

Genetik

-

Ca mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya “linkage genetic”

autosomal dominan (Reeder, Martin, 1997).

-

Penelitian tentang biomolekuler kanker menyatakan delesi kromosom 17 mempunyai

peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan (Reeder, Martin, 1997).

-

mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien dengan riwayat

keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin & kumar, 1995) serta mutasi gen

supresor tumor p 53 (Murray, 2002).

Defisiensi imun

Defesiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi interferon yang

berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan jaringan kanker dan

meningkatkan aktivitas antitumor .

Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor resiko

pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :

  • a. Tinggi melebihi 170 cm

  • b. Masa reproduksi yang relatif panjang.

  • c. Faktor Genetik

  • d. Ca Payudara yang terdahulu

  • e. Keluarga

Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini, dikuatkan bila 3

anggota keluarga terkena carsinoma mammae.

  • f. Kelainan payudara ( benigna )

Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah ditunjukkan bahwa

wanita yang menderita / pernah menderita yang porliferatif sedikit meningkat.

  • g. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain

  • h. Faktor endokrin dan reproduksi

Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun, Menarche

kurang dari 12 tahun

  • i. Obat anti konseptiva oral

Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun mempunyai resiko

lebih besar untuk terkena kanker.

3. ANATOMI DAN FISIOLOGI

  • a. Anatomi Payudara

LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot

LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot

penyokong lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Pada bagian lateral ats

kelenjr payudara, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya kearah aksila, disebut

penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri atas 12-20 lobulus

kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran ke papilla mammae, yang

disebut duktus lactiferous. Diantara kelenjar susu dan fasia pectoralis, juga diantara

kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara lobules tersebut

ada jaringan ikat yang disebut ligamnetum cooper yang memberi rangka untuk

payudara.

Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a. perforantes

anterior dan a. mammaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a.

aksilaris, dan beberapa a. interkostalis.

Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.

interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus saraf simpatik. Ada beberapa

saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis dan mati rasa pasca

bedah, yakni n. intercostalis dan n. kutaneus brakius medialis yang mengurus

sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas.

Penyaliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke

kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan adapula

penyaliran yang ke kelenjar interpectoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50 buah

kelenjar getah bening yang berada disepanjang arteri dan vena brakialis.

Jalur limfe lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain menuju

ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila kontralateral,

ke m. rectus abdominis lewat ligamentum falsiparum hepatis ke hati, pleura dan

payudara kontralateral.

  • b. Fisiologi Payudara

Payudara merupakan kelenjar tubuloalveolar yang bercabang-cabang, terdiri

atas 15-20 lobus yang dikelilingi oleh jaringan ikat dan lemak. Tiap lobus

mempunyai duktus ekskretorius masing-masing yang akan bermuara pada puting susu,

disebut duktus laktiferus, yang dilapisi epitel kuboid selapis yang rendah, lalu ke duktus

alveolaris yang dilapisi epitel kuboid berlapis, kemudian bermuara ke duktus

laktiferus yang berakhir pada putting susu.

Ada 3 hal fisiologik yang mempengaruhi payudara, yaitu :

  • a) Pertumbuhan dan involusi berhubungan dengan usia

  • b) Pertumbuhan berhubungan dengan siklus haid

  • c) Perubahan karena kehamilan dan laktasi.

4. PATOFISIOLOGI CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut

transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi:

  • a. Fase Inisiasi

Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing

sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen

yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran)

atau sinar matahari. tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap

suatu karsinogen. kelainan genetik dalam sel atau bahan lainnya yang disebut

promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. bahkan gangguan

fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu

keganasan.

  • b. Fase Promosi

Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi

ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi.

karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel

yang peka dan suatu karsinogen).

Kanker mammae merupakan penyebab utama kematian pada wanita karena kanker

(Maternity Nursing, 1997). Penyebab pasti belum diketahui, namun ada beberapa teori

yang menjelaskan bagaimana terjadinya keganasan pada mammae, yaitu:

Mekanisme hormonal, dimana perubahan keseimbangan hormone estrogen dan

progesterone yang dihasilkan oleh ovarium mempengaruhi factor pertumbuhan sel

mammae (Smeltzer & Bare, 2002). Dimana salah satu fungsi estrogen adalah

merangasang pertumbuhan sel

mammae

.

Suatu penelitian menyatakan bahwa wanita yang diangkat ovariumnya pada usia muda

lebih jarang ditemukan menderita karcinoma mammae, tetapi hal itu tidak membuktikan

bahwa hormone estrogenlah yang, menyebabkan kanker

mammae pada manusia.

Namun menarche dini dan menopause lambat ternyata disertai peninmgkatan resiko

Kanker mammae dan resiko kanker mammae lebih tinggi pada wanita yang

melahirkan anak pertama pada usia lebih dari 30 tahun.

Virus, Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa

abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.\

Genetik

o Kanker mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya “linkage genetic”

autosomal dominan.

o Penelitian tentang biomolekuler kanker menyatakan delesi kromosom 17

mempunyai

peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan.

o mutasi

gen

BRCA 1

dan

BRCA 2

biasanya ditemukan pada klien dengan riwayat

keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin & kumar, 1995) serta mutasi gen

supresor tumor p 53 (Murray, 2002).

Defisiensi imun

Defesiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi interferon yang

berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan jaringan kanker dan

meningkatkan aktivitas antitumor. Gangguan proliferasi tersebut akan menyebabkan

timbulnya sel kanker pada jaringa epithelial dan paling sering pada system duktal. Mula-

mula terjadi hyperplasia sel dengan perkembangan sel atipikal. Sel ini akan berlanjut

menjadi karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker butuh waktu 7 tahun untuk

dapat tumbuh dari sebuah sel tunggal menjadi massa yang cukup besar untuk bias

diraba. Invasi sel kanker yang mengenai jaringan yang peka terhadap sensasi nyeri

akan menimbulkan rasa nyeri, seperti periosteum dan pelksus saraf. Benjolan yang

tumbuh dapat pecah dan terjadi ulserasi pada kanker lanjut.

Pertumbuhan sel terjadi irregular dan bisa menyebar melalui saluran limfe dan melalui

aliran darah. Dari saluran limfe akan sampai di kelenjer limfe menyebabkan terjadinya

pembesaran kelenjer limfe regional. Disamping itu juga bisa menyebabkan edema

limfatik dan kulit bercawak (peau d’ orange). Penyebaran yang terjadi secara

hematogen akan menyebabkan timbulnya metastasis pada jaringan paru, pleura, otak

tulang (terutama tulang tengkorak, vertebredan panggul)

Pada tahap terminal lanjut penderita umumnya menderita kehilangan progersif lemak

tubuh dan badannya menjadi kurus disertai kelemahan yang sangat, anoreksia dan

anemia. Simdrom yang melemahkan ini dinyatakan sebagai kakeksi kanker.

Pathway CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

5. MANIFESTASI PAYUDARA KLINIS CA MAMMAE Gejala umum Ca mamae adalah : (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER 

5. MANIFESTASI

PAYUDARA

KLINIS CA

MAMMAE

Gejala umum Ca mamae adalah :

(CARSINOMA

MAMMAE)/ KANKER

Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara

Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai timbul

pembengkakan

Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu,

mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara

Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas

Ada cairan yang keluar dari puting susu

Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan terjadi

retraksi

Ada rasa sakit

Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium darah

meningkat

Ada pembengkakan didaerah lengan

Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.

Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.

Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah diobati, serta

puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam.

Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d' Orange).

Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.

Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain

6. PENTAHAPAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

Pentahapan mencangkup mengklasifikasikan kanker payudara berdasarkan

pada keluasan penyakit. Pentahapan segala bentuk kanker sangat penting karena hal

ini dapat membantu tim perawatan kesehatan merekomendasikan pengobatan terbaik

yang ada, memberikan prognosis, dan beberapa pemeriksaan darah dan prosedur

diagnostik dilakukan dalam petahapan penyakit. Pemeriksaaan dan prosedur ini

mencankup rontgen dada, pemindaian tulang, dan fungsi hepar, pentahapan klinik yang

paling banyak digunakan untuk kanker payudara adalah sistem klasifikasi TNM yang

mengevaluasi ukuran tumor, jumlah nodus limfe yang terkena, dan bukti adanya

metastasis yang jauh.

Tumor primer (T) :

  • 1. Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan

  • 2. T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer

  • 3. Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor

  • 4. T1 :Tumor <>

  • a. T1a : Tumor <>

  • b. T1b :Tumor 0,5 – 1 cm

  • c. T1c :Tumor 1 – 2 cm

    • 5. T2 :Tumor 2 – 5 cm

    • 6. T3 : Tumor diatas 5 cm

    • 7. T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorax atau kulit :

  • a. T4a : Melekat pada dinding dada

  • b. T4b : Edema kulit, ulkus, peau d’orange

  • c. T4c : T4a dan T4b

  • d. T4d : Mastitis karsinomatosis

  • Nodus limfe regional (N) :

    2.

    N0 : Tidak teraba kelenjar axila

    • 3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat

    • 4. N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu sama lain

    atau melekat pada jaringan sekitarnya

    • 5. N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral

    Metastas jauh (M) :

    • 1. Mx : Metastase jauh tidak dapat ditentukan

    • 2. M0 : Tidak ada metastase jauh

    • 3. M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula

    Kanker payudara mempunyai 4 stadium, yaitu:

    • 1. Stadium I

    Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa

    penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada kulit dan otot

    pektoralis.

    2. N0 : Tidak teraba kelenjar axila 3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang

    Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa

    penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan

    limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.

    Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh atau tumor
    • 3. Stadium IIb

    Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa

    penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus

    (LN) dan tanpa penyebaran jauh.

    Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh atau tumor

    Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa

    penyebaran jauh.

    Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa penyebaran jauh. 5. Stadium IIIb
    • 5. Stadium IIIb

    Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan terdapat

    penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan limfonodus

    (LN) supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi / menyebar ke

    kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema pada tangan.

    Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga

    luka bernanah di payudara. Didiagnosis sebagai Inflamatory Breast Cancer. Bisa sudah

    atau bisa juga belum menyebar ke pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas,

    tapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh

    6. Stadium IIIc Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe infraklavikular ipsilateral, atau
    • 6. Stadium IIIc

    Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe infraklavikular

    ipsilateral, atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis kelenjar limfe mammaria

    interna dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau metastasis kelenjar limfe

    supraklavikular ipsilateral

    6. Stadium IIIc Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe infraklavikular ipsilateral, atau

    Tumor yang mengalami metastasis jauh, yaitu : tulang, paru-paru, liver atau tulang

    rusuk.

    Tumor yang mengalami metastasis jauh, yaitu : tulang, paru-paru, liver atau tulang rusuk. Status penampilan (performance

    Status penampilan (performance status) kanker menurut WHO (1979) :

    • 1. 0 : Baik, dapat bekerja normal.

    • 2. 1 : Cukup, tidak dapat bekerja berat namun bekerja ringan bisa.

    • 3. 2 : Lemah, tidak dapat bekerja namun dapat berjalan dan merawat diri sendiri 50% dari waktu sadar.

    • 4. 3 : Jelek, tidak dapat berjalan, dapat bangun dan merawat diri sendiri, perlu tiduran lebih 50% dari waktu sadar.

    • 5. 4 : Jelek sekali, tidak dapat bangun dan tidak dapat merawat diri sendiri, hanya tiduran saja.

    7. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK CA MAMMAE (CARSINOMA

    MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

    • a. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah, LED, Test fal marker (CEA)

    dalam serum/plasma, Pemeriksaan sitologis

    • b. Test diagnostik lain:

    Non invasive: Mamografi, Ro thorak, USG, MRI, PET

    Invasif : Biopsi, Aspirasi biopsy (FNAB), True cut / Care biopsy, Incisi biopsy, Eksisi

    biopsy

    Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan :

    • 1. Pemeriksaan payudara sendiri

    • 2. Pemeriksaan payudara secara klinis

    • 3. Pemeriksaan manografi

    • 4. Biopsi aspirasi

    6.

    Biopsi terbuka

    • 7. USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy medis, pembedahan,

    terapi radiasi dan kemoterapi.

    6. Biopsi terbuka 7. USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy medis, pembedahan, terapi radiasi
    6. Biopsi terbuka 7. USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy medis, pembedahan, terapi radiasi

    LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

    LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA 8. KOMPLIKASI Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran

    LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER PAYUDARA

    8. KOMPLIKASI

    Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru,pleura, tulang

    dan hati.

    Selain itu Komplikasi Ca Mammae yaitu:

    • a. metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh darahkapiler

    ( penyebaran limfogen dan hematogen0, penyebarab hematogen dan limfogen dapat

    mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang ,otak ,syaraf.

    • b. gangguan neuro varkuler

    • c. Faktor patologi

    • d. Fibrosis payudara

    • e. kematian

    9. PENATALAKSANAAN MEDIS CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ KANKER

    PAYUDARA

    1.

    Pembedahan

    • a. Mastectomy radikal yang dimodifikasi Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.

    • b. Mastectomy total Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot dinding dada tidak diangkat.

    • c. Lumpectomy/tumor

    Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut diangkat. Exsisi

    dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara normal yang berada di sekitar

    tumor tersebut.

    • d. Wide excision/mastektomy parsial.

    Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.

    • e. Ouadranectomy.

    Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot pectoralis mayor.

    • 2. Radiotherapy

    Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan

    therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri

    karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorokan.

    • 3. Chemotherapy

    Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah. Efek

    samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah

    terserang penyakit.

    • 4. Manipulasi hormonal.

    Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah bermetastase.

    Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga digabung dengan

    therapi endokrin lainnya.\