Anda di halaman 1dari 12

PENERIMAAN PEMERINTAH : PERPAJAKAN

Oleh :

Pada umumnya, penerimaan pemerintah dapat dibedakan antara penerimaan pajak dan
penerimaan bukan pajak. Penerimaan bukan pajak, misalnya adalah penerimaan pemerintah
yang berasal dari pinjaman dalam negeri maupun pinjaman luar negeri, penerimaan dari
badan usaha milik pemerintah, penerimaan dari lelang, retribusi, dan sebagainya.
Penerimaan pemerintah lainnya adalah dari pajak. Definisi pajak adalah suatu
pungutan yang merupakan hak prerogatif pemerintah, punggutan tersebut didasarkan pada
Undang-undang, pemungutannya dapat dipaksakan kepada subjek pajak untuk mana tidak
ada balas jasa yang langsung dapat ditunjukkan penggunaannya.
Penerimaan negara dari pajak selalu mendapat perhatian yang besar oleh karena itu
dari sektor pajak timbul dua hal yang sebenarnya merupakan akibat dari adanya aktivitas
pemerintah, yaitu :
1. Siapakah yang membayar pajak (wajib pajak)
Pihak-pihak yang membayar suatu jenis pajak (wajib pajak) yaitu orang atau badan
yang disebutkan dalam undang-undang pajak. Misalnya pajak penghasilan suatu
perseroan, yang menjadi wajib pajak adalah perseroan tersebut.
2. Siapakah yang pada akhirnya menderita beban pajak
Teori yang menganalisis pihak yang menderita beban pajak disebut teori insidens pajak
(tax incidence theory). Pada umumnya ada tiga konsep beban pajak, yaitu : insidens
pajak absolut; insidens pajak anggaran berimbang (balanced budget incidence); dan
insidens pajak diferensial (differential incidence). Perbedaan ketiga konsep tersebut
terletak pada pola pengeluaran pemerintah. Dalam pengenakan pajak, pemerintah dapat
mengenakan berbagai jenis pajak dan perbedaan setiap jenis pajak tersebut dapat
dibedakan karena adanya perbedaan pada titik pengenaan pajak.
INSIDENS PAJAK (TAX INCIDENCE) DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Bagi seorang ekonom yang penting adalah indifikasi insidens pajak (tax incidence)
yaitu pihak yang menderita beban suatu pajak karena wajib pajak (yaitu orang yang
membayar pajak kepada pemerintah, disebut juga tax impact) mungkin dapat menggeserkan
beban pajak tersebut sebagian atau seluruhnya kepada orang / pihak lain. Musgrave
membedakan analisis insidens pajak menjadi tiga, yaitu :
1) Insidens Pajak Anggaran Berimbang (Balanced Budget Incidence)

Yang dimaksud dengan insidens pajak anggaran berimbang (Balanced Budget


Incidence) adalah pengaruh distributif suatu pajak terhadap pengeluaran pemerintah
yang dibiayai dari penerimaan-penerimaan pajak dalam jumlah yang sama.
Insidens pajak dengan anggaran berimbang menunjukkan bagaimana biaya
suatu program pemerintah didistribusikan di antara para anggotan masyarakat.
Kelemahan analisis insidens pajak anggaran berimbang terjadi karena kita hanya
dapat menganalisis insidens pajak hanya dari segi penerimaan dan pengeluaran
pemerintah sebagai suatu aktivitas keseluruhan, dan kita tidak dapat menganalisis
dampak distributif suatu jenis pajak terhadap satu aktivitas pemerintah saja.
2) Insidens Pajak Absolut (Absolute Incidence)
Analisis insidens pajak absolut hanya melihat pengaruh suatu jenis pajak
(misalnya pajak pedapatan) terhadap distribusi pendapatan masyarakat tanpa melihat
efek distributif jenis-jenis pajak lainnya atau efek distributif dari suatu program
pemerintah (pengeluaran pemerintah).
3) Insidens Pajak Diferensial (Differential Incidence)
Analisis

insidens pajak diferensial

menganalisis

pengaruh distribusi

pendapatan dari suatu jenis pajak apabila digantikan dengan jenis pajak lain untuk
membiayai aktivitas pemerintah dalam jumlah yang sama. Dengan kata lain, insidens
pajak diferensial menganalis berbagai alternatif pembiayaan dengan pajak akan suatu
program pemerintah.
Insidens pajak diferensial menganalisis perbedaan distribusi pendapatan
masyarakat dan tidak menghiraukan pengeluaran pemerintah karena pengeluaran
pemerintah dianggap konstan sehingga analisis insidens pajak diferensial hanya
menganalisis pengaruh distribusi penerimaan pemerintah dari berbagai jenis pajak.
Oleh karena itu maka insidens pajak diferensial memerlukan suatu jenis pajak sebagai
dasar perbandingan, yang biasanya adalah pajak pendapatan dengan tarif yang
proporsional.
PENDEKATAN PADA ANALISIS INSIDENS PAJAK (TAX INCIDENCE)
Analisis mengenai insidens pajak dapat dilaksanakan dengan dua pendekatan,
yaitu: Pendekatan Keseimbangan Partial (Partial Equilibrium Approach) dan
Pendekatan Keseimbangan Umum (General Equilibrium Approach). Pendekatan
keseimbangan partial adalah suatu pendekatan dimana yang dianalisis adalah
distribusi pendapatan yang terjadi dalam satu pasar saja sebagai akibat adanya suatu

pajak. Pendekatan keseimbangan umum menganalisis pengaruh suatu jenis pajak


dalam satu pasar terhadap keseimbangan pada pasar-pasar lainnya yang terkait dengan
pihak yang dikenakan pajak tersebut.
INSIDENS PAJAK KESEIMBANGAN PARTIAL
Analisis insidens pajak dengan menggunakan pendekatan keseimbangan
partial hanya melihat beban akhir suatu jenis pajak dalam suatu pasar saja. Oleh
karena itu analisis insidens pajak keseimbangan partial tidak dapat dipergunakan
untuk menganalisis pajak penjualan umum (general sales tax), yaitu pajak penjualan
yang dikenakan pada semua jenis barang.
Ada dua jenis pajak penjualan, yaitu pajak advalorem (advalorem tax) dan
pajak per unit (unit tax). Yang disebut pajak advalorem adalah pajak penjualan yang
dikenakan berdasarkan nilai, misalnya untuk penjualan tekstil dikenakan pajak
advalorem sebesar 10% dari harga jualnya. Pajak penjualan per unit (unit tax)
dikenakan berdasarkan jumlah unit barang yang dijual. Misalnya untuk setiap unit
rokok dikenakan pajak penjualan Rp200,00 berarti jika transaksi penjualan rokok
setahun ada 10 juta unit, maka pajak penjualan yang diterima pemerintah sebesar Rp2
miliar.
Pemerintah mengenakan pajak penjualan dengan maksud agar pajak tersebut
dibayar oleh konsumen. Tujuan ini akan menjadi lebih jelas lagi dianalisis dengan
pengenaan cukai atas suatu barang. Pajak penjualan dan cukai keduanya adalah sama,
yaitu termasuk pajak tidak langsung, akan tetapi ada dua perbedaan yang mendasar
antara kedua jenis pajak tersebut yaitu:
1. Cukai dikenakan pada barang yang terbatas
2. Cukai

dimaksudkan

untuk

mengendalikan/membatasi

konsumsi

masyarakat akan suatu barang


Pajak tidak langsung didefinisikan sebagai jenis-jenis pajak yang bebannya
diharapkan akan diderita oleh konsumen (misalnya pajak penjualan, PPN, cukai dsb),
sedangkan pajak langsung adalah pajak yang bebannya diderita oleh wajib pajak atau
orang yang dimaksud dalam Undang-Undang.

Dapat atau tidaknya suatu pajak digeserkan kepada konsumen tergantung pada empat
faktoe ekonomi:
1. Elastisitas penawaran
2. Elastisitas permintaan
3. Bentuk pasar
4. Motivasi pengusaha
PAJAK PENJUALAN PADA PASAR PERSAINGAN SEMPURNA
Akibat adanya cukai sebesar Rp200,00 harga rokok yang tadinya Rp400,00 sekarang
menjadi Rp600,00 yang berarti konsumen rokok harus membayar rokok dengan harga yang
lebih mahal Rp200,00, yaitu besarnya cukai rokok. Berarti cukai rokok seluruhnya
dibebankan kepada konsumen, walaupun cukai rokok tersebut dibayarkan kepada pemerintah
oleh perusahaan rokok, atau produsen rokok dapat menggeserkan seluruh beban cukai rokok
kepada konsumen.
Dalam hal pajak penjualan dan cukai, pernyataan pemerintah bahwa pajak penjualan
dan cukai dibayar oleh konsumen, sama artinya dengan menyatakan permintaan akan barang
yang dikenakan pajak/cukai tersebut mempunyai elastisitas sama dengan nol, atau
mempunyai elastisitas penawaran sama dengan tak terhingga. Mana yang lebih besar, beban
pajak yang diderita konsumen ataukah beban pajak yang diderita produsen tergantung pada
elastisitas kurva permintaan dan elastisitas kurva penawaran.
PAJAK PENJUALAN PADA PASAR MONOPOLI
Pada pasar monopoli, hanya terdapat seorang penjual saja yang menghasilkan suatu
jenis barang. Apabila pemerintah mengenakan pajak penjualan yang dibayarkan oleh
monopolis, monopolis tersebut dapat menggeserkan seluruh beban pajak kepada konsumen.
Jadi seorang monopolis dapat dengan mudah menaikkan harga suatu barang karena tidak
mempunyai saingan yang akan mengganggu penjualannya. Tetapi disisi lain, produsen juga
menderita beban pajak penjualan karena keuntungan yang diterima menjadi lebih kecil
walaupun produsen tersebut mempunyai motivasi keuntungan yang maksimum dalam ppasar
monopoli.
PAJAK PENJUALAN PADA PASAR TIDAK SEMPURNA

Pada jenis pasar persaingan tidak sempurna, pengaruh pajak terhadap harga sulit
ditentukan karena teori ekonomi mikro juga belum dapat menjelaskan perilaku produsen pada
pasar persaingan tidak sempurna secara memuaskan. Seorang pengusaha pada pasar
persaingan tidak sempurna akan menggeserkan beban pajak kepada konsumen atau tidak,
tergantung pada reaksi produsen lainnya. Apabila produsen berusaha untuk menggeserkan
beban pajak kepada konsumen dengan jalan menaikkan harga sedangkan produsen-produsen
lainnya tidak menaikkan harga jual mereka maka produsen tersebut akan kehilangan pangsa
pasar. Dalam hal ini, maka seorang pengusaha akan cenderung menanggung beban pajak
penjualan. Konsumen hanya dapat menderita seluruh beban pajak apabila permintaan akan
barang tersebut sifatnya inelastis sempurna.
PAJAK PENGHASILAN
Pajak penghasilan dapat digolongkan dalam dua golongan, yaitu pajak pendapatan
perseorangan dan pajak perseroan (Pajak Badan, yang subyek pajaknya adalah penghasilan
suatu badan hukum). Walaupun secara administratif kedua pajak ini diklasifikasikan dalam
pajak langsung yang tidak dimaksudkan untuk digeserkan kepada pihak lain, akan tetapi pada
kenyataannya pajak tersebut mungkin dapat digeserkan kepada pihak lain oleh wajib pajak.
PAJAK PENDAPATAN PERSEORANGAN
Pajak pendapatan perseorangan dikenakan pada setiap orang yang memperoleh
pendapatan diatas pendapatan kena pajak dalam suatu periode tertentu. Jadi, apabila
pemerintah menyatakan bahwa pajak penghasilan dibayar oleh karyawan dan merupakan
beban bagi mereka, sama artinya bahwa pemerintah membuat asumsi permintaan akan tenaga
kerja sifatnya elastis sempurna atau penawaran tenaga kerja mempunyai sifat inelastis
sempurna.
PAJAK PENGHASILAN BADAN
Pajak pendapatan badan dikenakan pada keuntungan yang diperoleh suatu badan
hukum dalam suatu periode tertentu dan untuk selanjutnya pajak ini akan disebut dengan
pajak perseroan. Dapat atau tidaknya pajak perseroan digeserkan kepada konsumen
tergantung pada struktur pasar dan motivasi pengusaha.
PAJAK PERSEROAN PADA PASAR PERSAINGAN SEMPURNA

Pada pasar persaingan sempurna seoarang pengusaha yang dikenakan pajak perseroan
dalam jangka pendek tidak dapat menggeserkan beban pajak tersebut kepada konsumen. Hal
ini disebabkan karena pada pasar persaingan sempurna, seorang produsen tiadak dapat
mempengaruhi harga (harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran seluruh industri) dan
pengusaha tersebut tidak dapat berpindah usaha ke jenis lain yang tidak dikenakan pajak
perseroan. Dalam jangka panjang, semua pengusaha yang berada pada pasar persaingan
sempurna akan berada dalam keseimbangan jangka panjang dana tidaka memperoleh
keuntungan ekonomi. Karena itu, dalam jangka panjang tidak ada pajak perseroan yang
dibayar oleh pengusaha karena mereka tidak memperoleh suatu keuntungan ekonomi.
PAJAK PERSEROAN PADA PASAR MONOPOLI
Bagi pengusaha pada pasar monopoli, besarnya pajak perseroan yang dikenakan pada
keuntungan perseroan tergantung pada motivasi pengusaha. Apabiala pengusaha mempunyai
motivasi keuntungan maksimum, maka ia akan menetapakan produksi diaman biaya marginal
sama dengan penerimaan marginal (MC=MR). Karena keuntungan adalah perbedaan antara
penerimaan total dan biaya toatal (TR-TC), pajak perseroan tidak mempengaruhi baik biaya
total maupun penerimaan toatal, sehingga pajak perseroan tidak mengubah posisi keuntungan
maksimum. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan suatu perseroan yang bukan pencapaian
tingkat keuntungan maksimum akan menyebabkan pengurangan penjualan apabila perseroan
tersebut dikenakan pajak perseroan. Pengurangan penjualan atau produksi akan menyebabkan
kenaikkan harga barang pada pasar monopoli atau pasar persaingan tidak sempurna lainnya.
Karenna sebagai akibat dikenakannya pajak perseroan maka jumlah barang yang dihasilkan
menjadi lebih sedikit, berarti pajak perseroan dapat digeserkan sebagian atau seluruhnya
kepada konsumen yang harus membayar barang dengan harga yang lebih tinggi dan besarnya
tergantung dari elastisitas permintaan akan barang yang dihasilkan.
Harbeger membuat suatu analisis insidens pajak dengan pendekatan keseimbangan umum
(general equilibrium approach on tax incidence). Semenjak Harbeger mengemukakan teori
insiden pajak dengan pendekatan keseimbangan umum, maka dalam penelitian-penelitian
insidens pajak tidak lagi digunakan pendekatan keseimbangan partial.
INSIDENS PAJAK PENDEKATAN KESEIMBANGAN UMUM
Pendekatan ini tidaka saja melihat alokasi beban pajak pada sektor yang dikenakan
suatu pajak, tetapi juga pada sektor lainnya yang berhubungan. Misalnya, pemerintah

mengenakan cukai terhadap bensin. Pemungutan cukai tersebut akan menyebabkan harga
bensin naik sehingga permintaan akan bensin menjadi lebih sedikit (dianggap kurva
permintaan akan bensin tidak elastis sempurna atau tidak elastis sama sekali). Kenaikan harga
bensin tersebut relatif terhadap harga barang lainnya yang menyebabkan permintaan akan
barang lain juga mengalami kenaikkan sehingga harga barang lain akan naik. Akibatnya,
penghasilan nyata masyarakat menjadi berkurang dan ini selanjutnya akan menyebabkan
berkurangnya permintaan akan semua barang. Untuk menganalisis insidens pajak dengan
model keseimbangan umum, dapat digunakan model dengan dua sektor dan dua jenis faktor
produksi untuk menyerdehanakan.
ANALISIS BERBAGAI JENIS PAJAK DENGAN MODEL KESEIMBANGAN UMUM
Asumsi diatas merupakan asumsi yang sangat menyerdehanakan model insidens pajak
keseimbangan umum, namun model sederhana ini sangat berguna untuk menganalisis beban
akhir suatu pajak.
Pajak atas barang Y (tY)
Apabila suatu pajak dikenakan pada sektor Y (yang menghasilkan barang Y), maka
harga Y akan naik relatif terhadap barang lain, sehingga konsumen akan mengurangi
konsumsi barang Y. Sebaliknya, konsumsi barang lain (dalam hal ini barang X) akan naik.
Akibatnya produksi barang X akan bertambah, sedangkan produksi barang Y akan turun.
Kesimpulannya, pajak yang dikenakan pada penjualan suatu barang akan menyebabkan
turunnya harga faktor produksi yang digunakan secara intensif dalam proses produksi untuk
menghasilkan barang tersebut.
Turunnya harga barang-barang modal (input modal) tergantung dari tiga faktor:
1. Elastisitas permintaan akan barang Y
2. Perbedaan faktor intensitas dikedua faltor
3. Elastisitas substitusi faktor produksi di sektor X
Pajak pendapatan (tM)
Pajak pendapatan sama dengan pajak atas modal dan tenaga kerja dengan tarif yang
sama. Karena diasumsikan bahwa penawaran faktor-faktor produksi tidak berubah, maka
pajak pendapatan sepenuhnya akan menjadi beban pemilik faktor-faktor produksi karena
tidak dapat digeserkan kepada pihak lain.

Pajak atas upah karyawan (tL)


Pajak atas penghasilan karyawan dikenakan atas upah karyawan baik disektor X
maupun disektor Y, karena itu tidak ada hasrat karyawan untuk menghindari pajak dengan
bekerja disektor lain. Selain itu diasumsikan bahwa penawaran faktor-faktor produksi
(termasuk tenaga kerja) tidak berubah, maka pajak upah juga tidak dapat digeserkan kepada
konsumen maupun kepada pemilik faktor produksi lainnya.

PRINSIP PENGENAAN PAJAK


Prinsip pengenaan pajak yang baik, telah dikemukakan oleh Adam Smith dengan
cannon of taxation dan para ahli keuangan negara lainnya. Suatu sistem pajak yang baik
haruslah memenuhi beberapa kriteria, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Distribusi dari beban pajak harus adil, setiap orang harus membayar sesuai dengan
bagiannya yang wajar
2. Pajak-pajak harus sedikit mungkin mencampuri keputusan-keputusan ekonomi, pabila
keputusan-keputusan ekonomi tersebut telah memungkinkan tercapainya sistem pasar
yang efisien. Beban lebih pajak (excess burden) harus seminimal mungkin
3. Paja-pajak haruslah memperbaiki ketidakefisienan yang terjadi disektor swasta,
apabila instrumen pajak dapat melakukannya
4. Struktur pajak haruslah mampu digunakan dalam kebijakan fiskal untuk tujuan
stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi
5. Sistem pajak harus dimengerti oleh wajib pajak
6. Administrasi pajak dan biaya pelaksanaannya haruslah sesedikit mungkin
7. Kepastian
8. Dapat dilaksanakan
9. Dapat diterima
Dalam bidang perpajakan konsep keadilan dibedakan menjadi dua klasifikasi, yaitu keadilan
datar dan keadilan tegak. Yang dimaksud dengan keadilan datar adalah pengenaan pajak
dimana setiap orang yang keadaannya sama haruslah menderita beban pajak yang sam
besarnya. Sedangkan keadilan tegak adalah situasi dimana oarng yang keadaannya berbeda
haruslah menderita beban pajak yang berbeda-beda pula. Dalam membahas masalah keadilan

sistem pajak, terdapat dua prinsip keadilan yang digunakan yaitu prinsip manfaat dan prinsip
kemampuan membayar.
Prinsip manfaat dalam perpajakan
Menurut prinsip ini, setiap orang harus membayar pajak sebesar manfaat yang
diterima dari aktivitas pemerintah. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa prinsip manfaat
sesuai dengan insidens keseimbangan anggaran, kedua-duanya berdasarkan model pertukaran
suka rela. Dalam hal ini pengenaan pajak dapat didasarkan pada kriteria efisiensi, yaitu
dimana tingkat produksi ditentukan pada biaya marginal sama dengan harga.
Prinsip kemampuan membayar
Menurut prinsip ini, setiap ornag harus membayar bagiannya (pajak) sesuai dengan
kemampuannya membayar. Prinsip ini tidak mempunyai dasar ilmiah karena didasrkan pada
sesuatu yang sangat abstrak. Untuk dijadikan suatu prinsip perpajakan yang operasional maka
prinsip ini juga harus menggunakan suatu ukuran operasioanal untuk mengukur kemampuan
seseorang untuk memabayar pajak. Tiga ukuran untui mengukur kemampuan seseorang
membayar pajak:
1. Pendapatan
2. Pengeluaran konsumsi
3. Kekayaan
Ada tiga konsep mengenai pengorbanan yang sama dalam bidang perpajakan, yaitu kesamaan
mutlak, kesamaan proporsional, dan kesamaan pengorbanan marginal.
Konsep kesamaan mutlak menyatakan bahwa distribusi pajak haruslah sedemikian rupa
sehingga pengurangan kepuasan total diantara keduaorang tersebut sama besarnya.
Konsep kesamaan proporsional menyatakan bahwa pengenaan pajak harus sedemikian rupa
sehingga proporsi dari pengurangan kepuasan total antara kedua orang tersebut sama
besarnya.
Konsep kesamaan pengorbanan marginal pada konsep pengorbanan marginal, beban pajak
didistribusikan sedemikian rupa di antara A dan B sehingga kepuasan total sesudah dikurangi
pajak antara kedua prang tersebut sama besarnya. Analisis ini juga didasarkan pula, suatu
anggapan bahwa meningkatnya pendapatan menyebabkan menurunnya kepuasan marginal.

Diatas telah dinyatakan bahwa ada tiga ukuran kemampuan seseorang dalam
membayar pajak. Umumnya kriteria yang dipakai adalah pendapatan, dalam hubungannya
dengan pendapatan, struktur pajak dapat dibedakan antara struktur pajak progesif,
proporsional, dan regresif. Suatu pajak dikatakan mempunyai struktur progesif apabila
persentase beban pajak terhadap pendapatan naik dengan semakin meningkatnya pendapatan.
Struktur pajak proporsional apabila persentase beban pajak terhadap pendapatan tidak
berubah/tetap dengan meningkatnya pendapatan. Apabila persentase beban pajak terhadap
pendapatan menurun dengan meningkatnya pendapatan, maka struktur pajak disebut regresif.

Beban lebih pajak (excess burdens)


Persyaratan lain dari suatu pajak yang baik adalah beban lebih pajak haruslah
seminimal mungkin. Beban lebih pajak adalah kerugian masyarakat dengan adanya suatu
pajak yang tidak dapat dikompensasikan. Semakin tinggi elastisitas penawaran suatu barang,
semakin besar pula beban lebih suatu pajak yang dikenakan pada barang tersebut dan
sebaliknya, semakin inelastis penawaran suatu barang maka semakin kecil beban lebih suatu
pajak.
Hubungan antara beban lebih dan elastisitas besarnya beban lebih tergantung dari beberapa
faktor, yaitu elastisitas permintaan, tarif pajak, jumlah barang dan harga barang. Semakin
besar elastisitasnya akan semakin besar beban lebih, begitu juga dengan semakin besar tarif
pajaknya maka semakin besar pula (secara kuadratik) beban lebih yang diderita masyarakat.
Apabila industri yang dikenakan pajak tidaka mempunyai struktur biaya konstan maka beban
lebih tersebut harus memperhitungkan berkurangnya surplus konsumen dan surplus produsen.
Beban lebih (excess burden) pada pendekatan keseimbangan umum aanalisis mengenai
beban lebih yang duraikan diatas merupakan analisis dalam suatu pasar saja, atau partial
equilibrium analysis. Pada uraian diatas dapat dilihat bagaimana akibat dari pengenaan cukai
atas suatu barang terhadap barang lainnya yang merupakan barang sustitusi atau barang
komplementer dari barang yang dikenai cukai. Oleh karena itu, penghitungan beban lebih
dengan pendekatan keseimbangan partial akan menjadi terlalu rendah atau terlalu tinggi
karena tidak memperhitungkan dampaknya terhadap pasar-pasar lainnya yang terkait. Untuk
melihat bagaimana penghitungan beban lebih dengan memperhatikan pasar lainnya yang
terkait digunakan analisis keseimbangan umum.

KRITERIA SISTEM PAJAK LAINNYA


Beberapa kriteria suatu sistem pajak yang baik lainnya adalah unsur kepastian, biaya
administrasi yang minimal, pelaksanaan (enforcement), dan dapat diterima oleh masyarakat.
Aktivitas investasi yang dilakukan oleh masyarakat memerlukan biaya yang sangat besar dan
penuh resiko. Oleh karena itu, para invesrtor haruslah mendapat kepastian akan besarnya
pajak yang harus dibayar. Tanpa adanya kepastian maka investor akan enggan menanamkan
modalnya, sehingga investasi cenderung akan berkurang. Biaya administrasi untuk
melaksanakan suatu jenis pajak yang merupakan biaya pemungutan dan pengenaan pajak
haruslah diusahakan seminimal mungkin. Jenis pajak yang berbeda mempunyai biaya
administrasi yang berbeda pula, atau suatu jenis pajak mempunyai biaya administrasi yang
berbeda, tergantung siapa yang menjadi wajib pajaknya. Suatu sistem pajak yang baik
haruslah dapat dilaksanakan dan dipaksakan. Pemerintah harus dapat meneliti usaha-usaha
wajib pajak untuk meminimalisir penghindaran pembayaran pajak. Selain kriteria yang telah
disebutkan sebelumnya, kriteria lainnya adalah bahwa suatu sistem pajak juga harus dapat
diterima oleh masyarakat, sebab suatu sistem pajak yang tidak dapat diterima oleh
masyarakat akan mengakibatkan usaha-usaha untuk menghindarkan diri dari pajak yang lebih
besar.
Upaya masyarakat untuk menghindarkan pajak merupakan suatu hal yang sangat
wajar, mengingat pajak merupakan suatu pungutan paksaan dan sesuatu yang dipaksakan
pastilah akan menimbulkan reaksi negatif. Upaya penghindaran pajak oleh masyarakat dapat
dilakukan secara legal (disebut tax avoidance) dan secara tidak legal (tax evasion). Tax
evasion yang dilakukan masyarakat karena merupakan tindakan melawan hukum, bagi
pelaksananya akan dikenakan sanksi/hukuman. Tax avoidance merupakan tindakan yang
tidak melanggar hukum, oleh karenanya para pelaku tidak dapat dikenakan hukuman.
Misalnya, pengenaan pajak penghasilan disuatu negara yang terlalu tinggi menyebabkan
seseorang berpindah menjadi warga negara lain.