Anda di halaman 1dari 18

BAB 4

Kerangka Teoritis danPenyusunan


Hipotesis
kerangka teoretis adalah suatu model
yang menerangkan bagaimana
hubungan suatu teori dengan faktorfaktor penting yang telah diketahui
dalam suatu masalah tertentu.

4.1 Esensi Ilmu


Ilmiah
mengandung arti harus memenuhi tuntutan sistematis, dapat
dibuktikan kebenarannya, dan relevan (Laeyendecker, 1983: 45-9).

Proses untuk mendapatkan ilmu secara metodologis mengikuti beberapa


tahap menurut komponen informasi, yaitu: teori, hipotesis, observasi
dan generalisasi; dilengkapi dengan kendala metodologis seperti
deduksi logis, penafsiran pengukuran, dan perumusan konsep
(Effendi, 1985: 12-24; Noerhadi, 1984: 48-9)

Proses Mendapatkan Ilmu

4.2 Bangunan Dasar


Teori
Ketika melakukan penelitian, kita perlu mengetahui apa (what is)
untuk memahami, menjelaskan, dan meramal fenomena yang
diamati.
Komponen Teori
4.2.1. Arti Teori
4.2.2. Konsep dan Konstruk
4.2.3. Proposisi

4.3 Variabel
Variabel adalah sesuatu yang dapat membedakan atau mengubah nilai.
Nilai dapat berbeda pada waktu yang berbeda untuk objek atau orang
yang sama, atau nilai dapat berbeda dalam waktu yang sama untuk objek
atau orang yang berbeda
Secara konseptual, variabel dapat kita bagi menjadi empat
bagian utama, yaitu
(Kuncoro, 2001: Bab 1; Sekaran, 2000: Bab 5):
1. Variabel dependen
2. Variabel independen
3. Moderating variable
4. Intervening variable

Hubungan Antara Variabel Independen, Intervening, Moderating, dan Dependen

4.4 Kerangka Teoretis


Kerangka teoretis adalah pondasi utama di mana sepenuhnya
proyek penelitian itu ditujukan.
Lima faktor yang memberikan peranan penting yang harus dipenuhi
dalam membangun kerangka teoretis (Sekaran, 2000: 103)
1. Variabel yang relevan harus dapat dijelaskan dan disebutkan dalam
diskusi
2. Diskusi haruslah dapat mewujudkan bagaimana dua atau lebih variabel
itu berhubungan satu sama lain.
3. Jika jenis dan arah hubungan tadi dapat diterima secara teori berdasarkan atas penelitian sebelumnya, maka harus ada indikasi pada diskusi
apakah hubungan tadi bersifat positif atau negatif.
4. Harus ada penjelasan secara jelas kenapa kita akan mengharapkan
hubungan tersebut terus bertahan.
5. Skema diagram yang menjelaskan kerangka teoretis harus dapat
diperlihatkan sehingga pembaca dapat melihat dengan mudah dan
memahami bagaimana hubungan antarvariabel secara teoretis.

Diagram Skematis Kerangka Teoretis dengan Memasukkan Intervening Variable

Diagram Skematis Kerangka Teoretis dengan Memasukkan Moderating Variable

Proses Berpikir Disertasi Santoso

(2006)

4.5 Hipotesis
Hipotesis adalah suatu penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena,
atau keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi.
Fungsi dari hipotesis adalah sebagai pedoman untuk dapat
mengarahkan penelitian agar sesuai dengan apa yang kita
harapkan.

4.5.1. Karakteristik Hipotesis

1. Konsisten dengan penelitian sebelumnya


2. Penjelasan yang masuk akal
3. Perkiraan yang tepat dan terukur
4. Dapat diuji

4.5.2. Jenis Hipotesis

Bagaimana hipotesis tersebut diperoleh (diturunkan)


Hipotesis induktif, akan menyusun generalisasi berdasarkan
observasi.
Hipotesis deduktif menggunakan perluasan logika dari penemuanpenemuan yang telah ada, atau didasarkan pada hal-hal yang bersifat
umum yang telah diterima kebenarannya.
Bagaimana hipotesis dinyatakan.
Hipotesis penelitian dinyatakandalam bentuk kalimat pernyataan
(deklaratif)
Hipotesis statistik dalam bentuk hipotesis nol (Ho) dan
hipotesis alternatif (Ha).

4.5.3. Perumusan Hipotesis

hipotesis yang baik adalah hipotesis yang


dinyatakan dengan jelas dan ringkas, menyatakan hubungan
antara dua variabel, dan menjelaskan variabel tersebut dalam
terminologi operasional yang terukur.

4.5.4. Uji Hipotesis


Dalam praktek, dikenal dua macam cara pengujian
hipotesis: cara langsung dan cara hipotesis nol
(Neuman, 2000: 131)

4.5.3. Perumusan Hipotesis

hipotesis yang baik adalah hipotesis yang


dinyatakan dengan jelas dan ringkas, menyatakan hubungan
antara dua variabel, dan menjelaskan variabel tersebut dalam
terminologi operasional yang terukur.

4.5.4. Uji Hipotesis


Dalam praktek, dikenal dua macam cara pengujian
hipotesis: cara langsung dan cara hipotesis nol
(Neuman, 2000: 131)

4.6. Ilustrasi 2: Studi


Lokasi Industri
Subbab ini akan menelusuri dan mengkaji secara mendalam
hakikat dan dinamika kekuatan aglomerasi yang mendasari
ketimpangan distribusi geografs industri manufaktur di Indonesia,
dengan menguji beberapa variabel kunci di bawah ini. Hakekat
variabel-variabel tersebut diturunkan baik dari teori maupun studi
terdahulu yang telah dibahas. Perspektif dinamika
berusaha untuk memasukkan secara eksplisit perilaku variabel yang
diamati sepanjang periode pengamatan (misal: Gujarati, 1995:
485; Matyas & Sevestre, 1992: 311-313).

4.6.1. Variabel Dependen


Analisis empiris yang ada berdasarkan ekonometri biasanya
menggunakan variabel-variabel berikut:
Tenaga kerja atau pertumbuhan tenaga kerja (Glaeser, Kallal,
Scheinkman, &Shleifer, 1992; Keeble, 1976)
Pertumbuhan nilai tambah (Sjoholm, 1999)
Pertumbuhan output (Mody & Wang, 1997)
Koefsien lokalisasi dan atau koefsien gini lokasional (Industri)
(Amiti, 1998; Kim, 1995; Krugman, 1991)
Indeks spesialisasi regional (Aziz, 1994; Kim, 1995)
Pertumbuhan quotient, yang dimodifkasi dari location quotient
(LQ) (Shilton & Stanley, 1999).

4.6.2. Variabel-variabel Penjelas

Skala Ekonomi.
Intensitas Sumber Daya
Kandungan Impor.
Dampak Pasar Dalam Negeri.
Struktur Pasar.
Keadaan Pasar Tenaga Kerja.
Path Dependency.
Orientasi Ekspor.
Investasi Asing.