Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan

dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa
putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan dkk, 1993).
Depresi telah dicatat dan diketahui sudah sejak jaman masa lampau, diskripsi
tentang apa yang dinamakan gangguan mood dapat ditemukan pada dokumen
purbakala. Kira-kira tahun 400 SM. Hipokrates menggunakan istilah mania dan
melankolis untuk menggambarkan gangguan mental ini. Di tahun 1854 Gules Folret
menggambarkan suatu keadaan yang disebut falic circulaine, dimana pasien
mengalami perubahan mood.
Depresi merupakan salah satu gangguan psikiatrik yang sering ditemukan
dengan prevalensi seumur hidup adalah kira kira 15%. Pada pengamatan yang
universal terlepas dari kultur atau negara prevalensi gangguan depresi berat pada
wanita dua kali lebih besar dari pria. Pada umumnya onset untuk gangguan depresi
berat adalah pada usia 20 sampai 50 tahun, namun yang paling sering adalah pada
usia 40 tahun. Depresi berat juga sering terjadi pada orang yang tidak menikah dan
bercerai atau berpisah.
Patogenesis depresi kenyataannya sampai saat ini masih membingungkan dan
belumlah pasti sehingga banyak teori-teori semuanya timbul dan berkembang seiring
dengan kemajuan bidang psikofarmakologi.
1.2.
-

TUJUAN
Mahasiswa mengetahui definisi depresi endogen
Mahasiswa mengetahui etiologi dan gejala depresi endogen
Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan deperesi endogen

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEPRESI
2.1 Definisi depresi
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan
kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga
hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas
(Reality Testing Ability, masih baik), kepribadian tetap utuh atau tidak
mengalami keretakan kepribadian (Splitting of personality), perilaku dapat
terganggu tetapi dalam batas-batas normal (Hawari Dadang, 2006).
Selain itu depresi dapat juga diartikan sebagai salah satu bentuk
gangguan kejiwaan pada alam perasaan (afektif mood), yang ditandai dengan
kemurungan, kelesuan, ketidakgairahan hidup, perasaan tidak berguna, putus asa
dan lain sebagainya. Depresi adalah suatu gangguan perasaan hati dengan ciri
sedih, merasa sendirian, rendah diri, putus asa, biasanya disertai tandatanda
retardasi psikomotor atau kadang-kadang agitasi, menarik diri dan terdapat
gangguan vegetatif seperti insomnia dan anoreksia (Kaplan Sadock,2003).
Bermacam-macam gangguan psikiatrik, dapat dialami penderita stroke,
hal ini sudah lama diketahui oleh para ahli. Emil Kraeplin mengatakan bahwa
penyakit serebrovaskuler bisa menyertai gangguan manik depresif (Bipolar I)
atau menyebabkan keadaan depresi (Kaplan Sadock,2003).
2.2. Epidemiologi depresi
Gangguan depresi berat, paling sering terjadi, dengan prevalensi seumur
hidup sekitar 15 persen. Perempuan dapat mencapai 25%. Sekitar 10%
perawatan primer dan 15% dirawat di rumah sakit. Pada anak sekolah
didapatkan prevalensi sekitar 2%. Pada usia remaja didapatkan prevalensi 5%
dari komunitas memiliki gangguan depresif berat.
1. Jenis Kelamin
Perempuan 2x lipat lebih besar dibanding laki-laki. Diduga adanya
perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stresor psikososial

antara laki-laki dan perempuan, dan model perilaku yang dipelajari tentang
ketidakberdayaan.
Pada pengamatan yang hampir universal, terdapat prevalensi gangguan
depresif berat yang dua kali lebih besar ada wanita dibandingkan dengan lakilaki (Kaplan, 2010). Pada penelitian lain disebutkan bahwa wanita 2 hingga 3
kali lebih rentan terkena depresi dibandingkan laki-laki. Walaupun alasan
adanya perbedaan tersebut tidak diketahui, alasan untuk perbedaan tersebut
didalilkan sebagai keterlibatan dari perbedaan hormonal, efek kelahiran,
perbedaan stressor psikososial dan model perilaku keputusasaan yang
dipelajari (Kaplan, 2010).
Pada penelitian yang dilakukan NIMH (2002) ditemukan bahwa
prevalensi yang tinggi pada wanita dibandingkan pria kemungkinan
dikarenakan adanya ketidakseimbangan regulasi hormon yang langsung
mempengaruhi substansi otak yang mengatur emosi dan mood contohnya
dapat dilihat pada situasi PMS (Pre Menstrual Syndrome). Untuk wanita yang
telah menikah, depresi dapat diperparah dengan masalah keluarga dan
pekerjaan, merawat anak dan orangtua lanjut usia, kekerasan dalam rumah
tangga dan kemiskinan.
2. Usia
Rata-rata usia sekitar 40 tahun-an. Hampir 50% onset diantara usia 2050 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa anak atau lanjut
usia. Data terkini menunjukkan gangguan depresi berat diusia kurang dari 20
tahun. Mungkin berhubungan dengan meningkatnya pengguna alkohol dan
penyalahgunaan zat dalam kelompok usia tersebut.
Pada umumnya, rata-rata usia onset untuk gangguan depresif berat
adalah kira-kira 40 tahun, dimana 50% dari semua pasien mempunyai onset
antara usia 20 dan 50 tahun. Gangguan depresif berat juga memiliki onset
selama masa anak-anak atau pada lanjut usia. Beberapa data epidemiologis
menyatakan bahwa insidensi gangguan depresif berat mungkin meningkat
pada orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun (Kaplan, 2010). Pada
penelitian lain yang dilakukan oleh Akhtar (2007) didapatkan bahwa tingkat
prevalensi tertinggi terjadi pada kelompok usia 20-24 tahun (14,3%) dan yang
terendah pada kelompok usia >75 tahun (4,3%), sementara data yang
didapatkan dari NIMH (2002) menyebutkan bahwa tingkat depresi terbanyak
ditemukan pada kelompok usia >18 tahun (10%).
3. Status Perkawinan

Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan


interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai atau berpisah. Wanita
yang tidak menikah memiliki kecenderungan lebih rendah untuk menderita
depresi dibandingkan dengan wanita yang menikah namun hal ini berbanding
terbalik untuk laki-laki. Pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi
paling sering pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang
erat, pasangan yang bercerai atau berpisah (Kaplan, 2010). Penelitian yang
dilakukan oleh Akhtar (2007) memperlihatkan bahwa prevalensi tertinggi dari
depresi didapatkan pada pasangan yang bercerai atau berpisah.
4. Faktor Sosioekonomi dan Budaya
Tidak ditemukan korelasi antara status sosioekonomi dan gangguan
depresi berat. Depresi lebih sering terjadi di daerah pedesaan disbanding
daerah perkotaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National
Academy on An Aging Society (2000) didapatkan data bahwa pada kelompok
responden dengan pendapatan rendah ditemukan tingkat depresi yang cukup
tinggi yaitu sebesar 51%. Pada penelitian Akhtar (2007) ditemukan tingkat
depresi terendah pada kelompok pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA)
sebesar (9,1%) dan sebaliknya tingkat depresi yang tertinggi ditemukan pada
responden dengan kelompok pendidikan yang lebih tinggi sebesar (13,4%).
Walaupun hasil ini dapat menjadi indikasi adanya perbedaan tingkat depresi
pada tingkat pendidikan, namun hal tersebut tidak memiliki korelasi positif
dengan terjadinya gangguan depresif (Kaplan, 2010).
2.3. Etiologi depresi
Etiologi depresi terdiri dari:
1. Faktor genetic
Dari penelitian keluarga didapatkan gangguan depresi mayor dan
gangguan bipolar terkait erat dengan hubungan saudara; juga pada anak
kembar, suatu bukti adanya kerentanan biologik, pada genetik keluarga
tersebut.
Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di
dalam perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola
penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks. Bukan
saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non
genetik kemungkinan memainkan peranan kausatif dalam perkembangan
gangguan mood pada sekurangnya beberapa orang. Penelitian keluarga
5

menemukan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan


depresif berat berkemungkinan 2 sampai 3 kali lebih besar daripada sanak
saudara derajat pertama (Kaplan, 2010; Tomb, 2004).
2. Faktor Biokmia
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di
dalam

metabolit

amin

biogenik

yang

mencakup

neurotransmitter

norepinefrin, serotonin dan dopamine (Gambar 2.3.2). Dalam penelitian lain


juga disebutkan bahwa selain faktor neurotransmitter yang telah disebutkan di
atas, ada beberapa penyebab lain yang dapat mencetuskan timbulnya depresi
yaitu neurotransmitter asam amino khususnya GABA (Gamma-Aminobutyric
Acid) dan peptida neuroaktif, regulasi neurendokrin dan neuroanatomis
(Kaplan, 2010). Pada regulasi neuroendokrin, gangguan mood dapat
disebabkan terutama oleh adanya kelainan pada sumbu adrenal, tiroid dan
hormon pertumbuhan. Selain itu kelainan lain yang telah digambarkan pada
pasien dengan gangguan mood adalah penurunan sekresi nocturnal
melantonin, penurunan pelepasan prolaktin terhadap pemberian tryptophan,
penurunan kadar dasar FSH (Follicle Stimullating Hormon) dan LH
(Luteinizing Hormon), dan penurunan kadar testosteron pada laki-laki.
Ada dua hipotesis terjadinya depresi secara biokimia, yaitu:
a. Hipotesis Katekolamin
Beberapa penyakit depresi berhubungan dengan defisiensi
katekolamin pada reseptor otak. Reserpin yang menekan amina otak
diketahui kadang-kadang menimbulkan depresi lambat (Ingram dkk,
1993).
Disamping itu, MHPG (Metabolit primer noradrenalin otak)
menurun dalam urin pasien depresi sewaktu mereka mengalami
episode depresi dan meningkat di saat mereka gembira (Ingram dkk,
1993).
b. Hipotesis Indolamin
Hipotesis indolamin membuat pernyataan serupa untuk 5hidroxitriptamin (5 HT). metabolit utamnya asam 5-hidroksi
indolasetat (5HIAA) menurun dalam LCS pasien depresi, dan 5 HIAA
rendah pada otak pasien yang bunuh diri. L-Triptofan, yang
mempunyai efek antidepresi meningkatkan 5HT otak (Ingram dkk,
1993).
3. Faktor Hormon
6

Kelainan depresi mayor dihubungkan dengan hipersekresi kortisol dan


kegagalan menekan sekresi kortisol sesudah pemberian dexametason.
Pasien depresi resisten terhadap penekanan dexametason dan hasil
abnormal ini didapatkan pada sekitar 50% pasien, terutama pada pasien
dengan depresi bipolar, waham dan ada riwayat penyakit ini dalam
keluarga (Ingram dkk, 1993).
Wanita dua kali lebih sering dihubungkan dengan pruerperium atau
menopause. Bunuh diri dan saat masuk rumah sakit biasanya sebelum
menstruasi. Selama penyakit afektif berlangsung sering timbul amenore.
Hal ini menggambarkan bahwa gangguan endokrin mungkin merupakan
faktor penting dalam menentukan etiologi (Ingram dkk, 1993).
4. Faktor Kepribadian Premorbid
Personalitas siklotimik menjadi sasaran gangguan afek ringan selama
hidupnya, keadaan ini tidak berhubungan dengan penyebab eksterna.
Kepribadian depresi ditunjukkan dengan perilaku murung, pesimis dan
kurang bersemangat. Personalitas hipomania berperilaku lebih riang,
energetik dan lebih ramah dari rata-rata.
Mereka dengan rasa percaya diri rendah, senantiasa melihat dirinya
dan dunia luar dengan penilaian pesimistik. Jika mereka mengalami stres
besar, mereka cenderung akan mengalami depresi. Para psikolog
menyatakan bahwa mereka yang mengalami gangguan depresif
mempunyai

riwayat

pembelajaran

depresi

dalam

pertumbuhan

perkembangan dirinya. Mereka belajar seperti model yang mereka tiru


dalam keluarga, ketika menghadapi masalah psikologik maka respon
mereka meniru perasaan, pikiran dan perilaku gangguan depresif. Orang
belajar dengan proses adaptif dan maladaptif ketika menghadapi stres
kehidupan dalam kehidupannya di keluarga, sekolah, sosial dan
lingkungan kerjanya. Faktor lingkungan mempengaruhi perkembangan
psikologik dan usaha seseorang mengatasi masalah. Faktor pembelajaran
sosial juga menerangkan kepada kita mengapa masalah psikologik
kejadiannya lebih sering muncul pada anggota keluarga dari generasi ke
generasi. Jika anak dibesarkan dalam suasana pesimistik, dimana
dorongan untuk keberhasilan jarang atau tidak biasa, maka anak itu akan
tumbuh dan berkembang dengan kerentanan tinggi terhadap gangguan
depresif.
5. Faktor Lingkungan

Enam bulan sebelum depresi, pasien depresi mengalami lebih banyak


peristiwa dalam hidupnya. Mereka merasa kejadian ini tidak memuaskan
dan mereka keluar dari lingkungan social. 80% serangan pertama depresi
didahului oleh stress, tetapi angka ini akan jatuh menjadi hanya 50% pada
serangan berikutnya. Pasien depresi diketahui juga lebih sering pada anak
yang kehilangan orang tua di masa kanak-kanak dibandingkan dengan
populasi lainnya (Ingram dkk, 1993).
Menurut Freud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang dicintai,
pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit terminal,
sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu episode
gangguan depresif. Seringkali kombinasi faktor biologik, psikologik dan
lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan depresif
muncul.
Satu pengamatan klinis yang telah lama direplikasi adalah bahwa
peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului
episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya (Kaplan,
2010; Slotten, 2004). Satu teori yang diajukan untuk menjelaskan
pengamatan tersebut adalah bahwa stress yang menyertai episode pertama
menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan
yang bertahan lama tersebut dapat meyebabkan perubahan keadaan
fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberi sinyal
intraneuronal. Hasil akhir dari perubahan tersebut akan menyebabkan
seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita episode
gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stresor external
(Kaplan, 2010).
Faktor-faktor yang mempengaruhi depresi
Faktor yang diduga menjadi penyebab depresi secara garis besar dibedakan
menjadi faktor biologis dan faktor psikososial. Faktor tersebut berinteraksi satu
sama lain. Sebagai contoh faktor psikososial dapat mempengaruhi faktor biologis
(contoh,konsentrasi

neurotransmiter

tertentu).

Faktor

biologis

dapat

mempengaruhi respon seseorang terhadap stresor psikososial (Amir,2005).


Faktor yang diduga sebagai penyebab depresi dapat saling berinteraksi
adalah:
1.

Faktor biologi, meliputi genetik/ keturunan dan proses penuaan,


abnormalitas tidur, kerusakan syaraf atau penurunan neurotransmiter,

norefeneprin, serotonin, dan dopamin; hiperaktifitas aksis sistem


limbik-hipotalamus-adrenal (Kaplan & Sadock, 2003).
2.

Faktor

psikososial

meliputi

faktor ekstrinsik yaitu :

peristiwa

kehidupan yang dapat menyebabkan harga diri rendah dan tidak dapat
dihadapi dengan efektif, kehilangan seseorang atau dukungan, tekanan
sosial; dan faktorintrinsik meliputi sifat kepribadian yaitu narcissistic,
obsessive compluse,dan dependen personality, konflik dari diri
sendiri yang tidak terselesaikan, perasaan bersalah, evaluasi diri yang
negatif, pemikiran pesimis, kurang pertolongan, penyakit fisik serta
penggunaan obat obatan dan pendekatan/ persepsi terhadap
kematian (Faisal,2007). Faktor intrinsik

lainnya ketidakmampuan

dalam melakukan Activity Daily Living(Auryn,2007).

Teori Terjadinya Depresi


Teori penyebab depresi meliputi :
1. Teori biologi yang menerangkan bahwa depresi berhubungan dengan
gangguan pada ritme sirkandian, disfungsi otak, aktifitas kejang limbik,
disfungsi neuroendokrin, defisiensi biogenik amine, cacat pada sistem
imun, dan genetik.
2. Teori psikoanalitical yang menjelaskan depresi berasal dari respon
kehilangan,kekecewaan atau kegagalan,rasa marah dipindahkan &
dikembalikan pada diri sendiri, ketidakmampuan berduka cita karena
adanya kehilangan.
3. Teori

behavioral

yang

menjelaskan

kegagalan

untuk

menerima

reinforcement positif dari orang lain dan dari lingkungan merupakan


predisposisi bagi sesorang untuk mengalami depresi.
4. Teori Kognitif yang menjelaskan konsep negatif dari diri, pengalaman,
orang lain & dunia, kepercayaan bahwa seseorang tidak dapat mengontrol
situasi memberikan konstibusi terjadinya depresi.

5. Teori sosiological yang menjelaskan kehilangan kekuasaan, status,


identitas, nilai & tujuan untuk menciptakan eksistensi yang tepet akan
menyebabkan depresi .
6. Teori holism yang menjelaskan depresi adalah hasil dari genetik,biologi,
psikoanalisa, tingkah laku, kognitif,m dan pengalaman sosiologis
(Intansari,2002).
2.4.

Klasifikasi depresi
Klasifikasi depresi menurut DSM IV (Diagnostic and Stastistical Manual

of Mental Disorders) yaitu :


1. Gangguan depresi mayor unipolar dan bipolar
2. Gangguan mood spesifik lainnya

Gangguan distimik depresi minor

Gangguan siklotimik depresi dan hipomanik saat ini atau baru saja
berlalu

(secara terus-menerus selama 2 tahun).

Gangguan depresi atipik

Depresi postpartum

Depresi menurut musim

3. Gangguan depresi akibat kondisi medik umum dan gangguan depresi


akibat zat.
4.Gangguan penyesuaian dengan mood : depresi disebabkan oleh stresor
psikososial (Amir, 2005).
2.5. Tanda dan gejala depresi
Menurut Lumbantobing (2004), gejala-gejala depresi meliputi :
1. Gangguan tidur
2.

Keluhan somatik berupa nyeri kepala, dizzi (puyeng), rasa nyeri,


pandangan kabur, gangguan saluran cerna,gangguan nafsu makan
(meningkat atau menurun), konstipasi, perubahan berat badan (menurun
atau bertambah).

10

3.

Gangguan

psikomotor

berupa

aktivitas

tubuh

meningkat

(agitasi atauhiperaktivitas) atau menurun, aktivitas mental meningkat atau


menurun, tidak mengacuhkan kejadian di sekitarnya, fungsi seksual
berubah (mencakup libido menurun), variasi diurnal dari suasana hati dan
gejala biasanya lebih buruk di pagi hari.
4.

Gangguan psikologis berupa suasana hati (disforik, rasa tidak bahagia,


letupan menangis), kognisi yang negatif, gampang tersinggung, marah,
frustasi, toleransi rendah, emosi meledak, menarik diri dari kegiatan sosial,
kehilangan kenikmatan & perhatian terhadap kegiatan yang biasa
dilakukan, banyak memikirkan kematian & bunuh diri, perasaan negatif
terhadap diri sendiri, persahabatan serta hubungan sosial.

2.6.

Diagnosis depresi
DSM-IV-TR, membagi depresi menjadi tiga bagian besar : gangguan

depresi mayor/ major depressive disorder (MDD), distimia, dan depresi yang
tidak terklasifikasikan. MDD memiliki karakteristik dengan adanya satu atau
lebih episode depresi mayor (Kotak 2). kriteria diagnosis menunjukkan
beberapa gejala yang harus ada pada waktu yang sering, sekurang-kurangnya
dalam 2 minggu, walaupun durasinya terkadang lebih lama dari waktu yang
terlihat. Gejala yang muncul juga harus memperlihatkan perubahan fungsi yang
signifikan. Akhirnya, bereavement dan beberapa penyebab gejala depresi harus
dapat disingkirkan.
Episode depresi berdasarkan ICD-10
Kriteria Umum
1
2

Episode depresi harus bertahan setidaknya 2 minggu


Tidak ada hypomanic atau manik gejala cukup untuk memenuhi
kriteria untuk episode hypomanic atau manik pada setiap saat

dalam kehidupan individu


Tidak disebabkan penggunaan zat psikoaktif atau gangguan
mental organik.

Gejala Utama
11

Perasaan depresi untuk tingkat yang pasti tidak normal bagi


individu, hadir untuk hampir sepanjang hari dan hampir setiap
hari, sebagian besar tidak responsif terhadap keadaan, dan

bertahan selama minimal 2 minggu


Kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas yang biasanya

menyenangkan
Penurunan energi atau kelelahan meningkat

Gejala Lainnya
1
2

Kehilangan percaya diri atau harga diri


Tidak masuk akal perasaan diri atau rasa bersalah yang berlebihan

dan tidak tepat


Berpikiran tentang kematian atau bunuh diri, atau perilaku bunuh

diri
Keluhan atau bukti kemampuan berkurang untuk berpikir atau

5
6
7

berkonsentrasi, seperti keraguan atau kebimbangan


Pandangan masa depan yang suram dan pesimis
Gangguan tidur
Perubahan nafsu makan (penurunan atau kenaikan) dengan
perubahan berat badan yang sesuai

Kotak 2. DSM-IV-TR kriteria diagnosis episode depresi mayor


A Lima (atau lebih) gejala yang ada berlangsung selama 2 minggu dan
memperlihatkan perubahan fungsi, paling tidak satu atau lainnya (1)mood
depresi (2)kehilangan minat
1 Mood depresi terjadi sepanjang hari atau bahkan setiap hari,
diindikasikan dengan laporan yang subjektif (merasa sedih atau
kosong) atau yang dilihat oleh orang sekitar. Note : pada anak dan
2
3

remaja, dapat mudah marah


Ditandai dengan hilangnya minat disemua hal, atau hampir semua hal
Penurunan berat badan yang signifikan ketika tidak diet, atau
penurunan atau peningkatan nafsu makan hamper setiap hari. Note :

4
5

pada anak-anak, berat badan yang tidak naik


Insomnia atau hipersomnia hamper setiap hari
Agitasi psikomotor atau retardasi hampir setiap hari (dilihat oleh orang
lain, bukan perasaan yang dirasakan secara subjektif dengan kelelahan

6
7

atau lamban)
Cepat lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari
Merasa tidak berguna atau perasaan bersalah yang berlebihan (bisa

terjadi delusi) hampir setiap hari


Tidak dapat berkonsentrasi atau berpikir hampir setiap hari
12

Pemikiran untuk mati yang berulang, ide bunuh diri yang berulang

tanpa perencanaan yang jelas, atau ide bunuh diri dengan perencanaan.
B Gejala-gejalanya tidak memenuhi episode campuran
C Gejala yang ada menyebabkan distress atau kerusakan yang signifikan
secara klinis
D Gejala tidak disebabkan langsung oleh sebuah zat (penyalahgunaan obat,
obat-obatan) atau kondisi medis umum (hipotiroid)
E Gejala yang muncul lebih baik tidak masuk dalam kriteria bereavement
MDD dapat ditemukan sebagai penyakit yang baru pertama kali diderita
atau saat kambuh, setidaknya sudah pernah mengalami 2 kali episode depresi
mayor dengan jarak penyembuhan paling tidak 2 bulan. MDD juga dapat juga
memiliki beberapa sub tipe yang memiliki perbedaan pada beberapa spesifikasi
dan derajat keparahan.
Sub tipe MDD dikelompokkan berdasarkan gejala klinis yang muncul
dan pola dari episode depresi. DSM-IV-TR memberikan spesifikasi depresi
dengan maksud agar pemilihan terapi yang diberikan lebih baik dan
memprediksikan prognosisnya. Tabel 3 memperlihatkan kriteria-kriteria depresi
dengan beberapa kunci-kuncinya.
Tabel 3. DSM-IV-TR sub tipe dan spesifikasi MDD
Sub tipe

Spesifikasi DSM-IV-TR

Depresi melankolis

Dengan
melankolis

Kunci

gambaran Mood

nonreaktif,

anhedonia,
berat

kehilangan

badan,

rasa

bersalah,

agitasi

dan

retardasi

psikomotorik,

mood yang memburuk


pada pagi hari, terbangun
di pagi buta
Depresi atipikal

Dengan
atipikal

gambaran Mood
banyak

reaktif,

terlalu

tidur,

makan

berlebihan, paralisis yang


dibuat,

sensitive

pada

penolakan interpersonal
Depresi

psikotik Dengan

gambaran Halusinasi atau waham

13

(waham)

psikotik

Depresi katatonik

Dengan

gambaran Katalepsi,

katatonik

katatonik,

negativism,

mutisme,

mannerism,

echolalia,

echopraxia (tidak lazim


pada klinis sehari-hari)
Depresi kronik

Gambaran kronis

2 tahun atau lebih dengan


kriteria MDD

Gangguan

afektif Musiman

Onset yang seperti biasa

musiman

dan kambuh pada saat


musim tertentu (biasanya
musim gugur/dingin)

Depresi postpartum

Postpartum

Onset depresi selama 4


minggu postpartum

DSM-IV-TR

dan

ICD-10,

keduanya

mengkategorikan

tingkat

keparahan MDD menjadi tiga : ringan, sedang, dan berat (Tabel 4). DSM-IVTR membagi tngkat keparahannya berdasarkan efek yang dihasilkan depresi
dalam hal sosial/pekerjaan dan tanggung jawab individu dan ada atau tidaknya
gejala psikotik. ICD-10, sebaliknya, membedakan tingkat keparahan depresi
berdasarkan jumlah dan jenis gejala yang diperlihatkan saat seseorang
menderita depresi. Penggunaan skala depresi sangat dianjurkan untuk
menentukan derajat keparahan.
Tabel 4. Derajat keparahan depresi
Keparahan

Kriteria DSM-IV-TR

Kriteria ICD-10

depresi
Ringan

Sedang

Mood depresi atau kehilangan

minat + 4 gejala depresi lainnya


Gangguan minor sosial/

pekerjaan
Mood depresi atau kehilangan
minat + 4 atau lebih gejala

depresi lainnya
Gangguan sosial/pekerjaan yang

12 gejala tipikal
22 gejala inti lainnya

12 gejala tipikal
23 atau lebih gejala
inti lainnya

bervariasi
14

Berat

Mood depresi atau kehilangan


minat + 4 atau lebih gejala

depresi lainnya
Gangguan sosial atau pekerjaan
yang berat atau ada gambaran
psikotik

13 gejala tipikal
24 atau lebih gejala
inti lainnya
Juga dapat dengan
atau tanpa gejala
psikotik

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ-III.


Pedoman diagnostik pada depresi dibagi menjadi :

Semua gejala utama depresi :


- afek depresif
- kehilangan minat dan kegembiraan
- berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan
mudah lelah.
Gejala lainnya:
- konsentrasi dan perhatian berkurang
- harga diri dan kepercayaan diri berkurang
- gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- pandangan masa depan yang suram dan pesimis
- gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
- tidur terganggu
- nafsu makan berkurang
Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2

minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka
masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu dari 2
minggu.
Episode depresif ringan menurut PPDGJ III
1

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti

2
3

tersebut di atas
Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode

berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu


Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya.

Episode depresif sedang menurut PPDGJ III


1
2

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama


Ditambah sekurang-kurangnya 3 atau 4 dari gejala lainnya
15

3
4

Lamanya seluruh episode berlangsung minimum 2 minggu


Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan,
dan urusan rumah tangga.

Episode Depresif Berat dengan Tanpa Gejala Psikotik menurut PPDGJ


III :
1
2

Semua 3 gejala utama depresi harus ada


Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa

diantaranya harus berintensitas berat


Bila ada gejala penting (misalnya retardasi psikomotor) yang menyolok,
maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan
banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara

menyeluruh terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan.


Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat
terbatas.

Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik menurut PPDGJ III :


Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut No. 3 di atas
(F.32.2) tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.
Waham

biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau

malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal
itu. Halusinasi auditorik atau alfatorik biasanya berupa suara yang menghina
atau menuduh, atau bau kotoran. Retardasi psikomotor yang berat dapat
menuju pada stupor.
Asesmen Depresi

Geriatric Depression Scale (GDS)


Terdiri dari 30 pertanyaan, biasanya dipergunakan untuk
memisahkan apakah pasien tersebut masuk ke dalam kelompok depresi.
Alat ukur GDS ini memiliki sensitivitas 88,9% dan spesifisitas 47,8%.
Penilaian skala ini berdasarkan aspek kekhawatiran somatik, penurunan
afek, gangguan kognitif, berkurangnya orientasi terhadap masa yang akan
datang, dan kurangnya harga diri. Skala ini telah direkomendasikan agar
dipergunakan dalam situasi klinis oleh Institute of Medicine.

2.7. Tatalaksana depresi

16

Medikamentosa
Memilih pengobatan harus mencakup evaluasi seberapa parah

episode depresif telah terjadi, ketersediaan sumber daya pengobatan, dan


keinginan pribadi pasien. Untuk depresi ringan sampai berat, psikoterapi
berbasis bukti sama efektifnya dengan farmakoterapi. Terdapat sedikit bukti
bahwa kombinasi antara farmakoterapi dan psikoterapi untuk pengobatan
dini lebih unggul daripada pengobatan lainnya untuk depresi tanpa
komplikasi. Oleh karena itu, pengobatan kombinasi harus dipertimbangkan
ketika terjadi depresi berat, komorbiditas dengan kondisi lain, atau tidak
adanya respon yang memadai pada monoterapi.
o Anti depresi
- Golongan Trisiklik : Amytriptyline, Imipramine, Clomipramine,
-

Tianeptine
Golongan Tetrasiklik : Maprotiline, Mianserin, Amoxapine.
Golongan MAOI_Reversible ( REVERSIBLE INHIBITOR OF

MONOAMIN OXYDASE-A-(RIMA) : Moclobemide


Golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) :
Sertraline, Paroxentine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Duloxetine,

citalopram.
Golongan Atipical : Trazodone, Mirtazapine, Venlafaxine.

Psikologi Terapi
- Behaviour therapy
- Interpersonal Therapy
- Problem solving

B. DEPRESI ENDOGEN
a. Definisi depresi endogen
Depresi endogen adalah depresi yang sumbernya karna factor
biologis dan depresi yang disebabkan oleh sesuatu dari dalam.
Endogen depresi adalah sub-kelas atipikal dari gangguan suasana
mood, gangguan depresif Mayor (depresi klinis). Depresi endogen
termasuk pasien dengan gangguan depresi yang tahan pengobatan, bebaspsikotik, gangguan depresi mayor (MDD), ditandai dengan perilaku yang
tidak normal dari sistem opioid endogen tetapi bukan sistem
monoaminergic.
Endogen adalah sebuah kata yang berarti "dari dalam." Psikiater
dan peneliti sekali berteori bahwa itu penting untuk membedakan antara

17

endogen terutama (biologis dan genetik di alam) dan eksogen (peristiwa


kehidupan reaktif stres) jenis depresi.
Mereka percaya bahwa perawatan selalu akan bervariasi
tergantung pada bahwa perbedaan. Namun, awal penelitian obat
antidepresan gagal untuk mengungkapkan perbedaan dan istilah
"endogen" sebagian besar telah terserap ke dalam sastra psikiatri untuk
menggambarkan fitur melankolis yang terkait dengan gangguan depresif
Mayor (MDD).
Penelitian terbaru
Studi dari 1980-an dan 90-an tidak menemukan statistik korelasi
antara efektivitas antidepresan pada depresi yang disebabkan oleh
peristiwa merugikan kehidupan atau biologis di alam. Namun, penelitian
baru menunjukkan terdapat perbezaan antara dua subtipe.
Sebuah laporan yang diterbitkan dalam molekul psikiatri di 2012
menemukan bahwa "endogen depresi dan stres kronis respon diatur oleh
molekul jalur independen." Hal ini menyebabkan peneliti menduga
bahwa

orang-orang

yang

lebih

rentan

terhadap

stres

dapat

mengembangkan subtipe depresi yang berbeda dari orang-orang endogen.


Mereka

menyarankan

bahwa

mungkin

akan

bermanfaat

untuk

mengembangkan novel baru dan perawatan untuk membantu pasienpasien ini. Penelitian sedang berlangsung.
Perbedaan antara endogen dan eksogen depresi
Untuk individu dengan depresi endogen,gejala sering muncul
"dari mana" dan tampaknya tanpa alasan. Depresi endogen dicirikan oleh
perasaan bersalah dan tidak berharga dan anhedonia. Anhedonia adalah
ketidakmampuan

untuk

mendapatkan

kesenangan

dari

sekali

menyenangkan kegiatan seperti olahraga, hobi atau seks.


Meskipun ada sejumlah besar tumpang tindih antara dua jenis
depresi, bentuk eksogen biasanya dipicu oleh situasi yang sangat stres.
Ini paling sering tidak memiliki gejala fisik seperti perubahan dalam tidur
atau kebiasaan makan. Meskipun peristiwa stres sering memicu kedua

18

jenis depresi, orang-orang dengan bentuk endogen lebih mungkin untuk


kambuh daripada orang-orang yang depresi lebih reaktif di alam.
Satu Inggris studi yang dilakukan pada 1990-an ditemukan
bahwa, bagi menimbulkan depresi kedua, 70 persen dengan depresi
reaktif telah mengalami stres berat tak lama sebelum mereka? kambuh.
Dan hanya sepertiga dari orang-orang dalam kelompok endogen.
b. Etiologi depresi endogen
Depresi endogen adalah depresi yang terjadi karna factor dari
dalam, seperti gangguan hormone, gangguan kimia dalam otak atau
susunan saraf
a. Factor hormone meliputi perubahan siklus mentruasi, kehamilan,
keguguran, pasca melajirkan menjelang monopouse dan saat
monopouse
b. Gangguan kimia. Adanya perubahan kimia di otak.
Kelainan fisik yang dapat menyebabkan depresi
1. Efek samping obat-obatan : amfetamin simetidin
2. Kelainan hormonal : penyakit Addison, penyakit

cushing,

hiperparatiroidisme, hipertiroidisme , hipopituitarisme


3. Kelainan neurologis : tumor otak, cedera kepala, epilepsy lobus
temporalis
Factor yang diduga sebagai penyebab depresi dapat saling
berinteraksi (Auryn,2007)
1. Factor

biologi meliputi genetic/ keturunan dan proses penuaan,

abnormalitas tidur, kerusakan saraf atau penurunan neurotransmitter,


norefeneprin, serotonin, dan dopamine; hiperaktifitas aksis system
limbic hypothalamus adrenal
2. Factor psikosisal meliputi factor intrinsic yang meliputi sifat
kepribadian yaitu narcissistic, obsessive- compulse, dan depende
personality, konflik dari diri sendiri yang tidak terselesaikan, perasaan
bersalah, evaluasi diri yang negative, pemikiran pesimis, kurang
pertolongan, penyakit fisik serta penggunaan obat-obatan dan
pendekatan/persepsi terhadap kematian.
c. Gejala Depresi Endogen

19

Seperti halnya dengan gangguan depresif Mayor, individu dengan


depresi endogen sering mengalami anhedonia bersama dengan perasaan
putus asa, ketidakberdayaan, tidak dihargai, rasa bersalah, atau self-hate.
Gejala lain yang mungkin menyertai endogen depresi mencakup:
-

kelelahan atau kurang energi


iritabilitas dan kesulitan berkonsentrasi
isolasi sosial
insomnia atau hypersomnia (berlebihan tidur)
perubahan nafsu makan dengan sesuai berat keuntungan atau

kerugian
pikiran bunuh diri atau perilaku
Dalam banyak kasus, pasien juga bisa mengalami gejala

psikotik seperti delusi atau halusinasi


Gejala lain depresi endogen

Anhedonia bersamaan dengan perasaan putus asa


tidak berdaya
tidak berharga
rasa bersalah
terkadang mengalami gejala psikotik seperti halusinasi atau delusi

d. Diagnosis dan Treatment


Perlu pemeriksaan medic dan psikiatrik. Tanyakan tentang
gambaran-gambaran vegetative dan evaluasi potensi bunuh diri
Apakah pasien:
a. Mengalami ketidakmampuan akibat gangguan ini
b. Mempunyai lingkungan rumah yang dekstruktif atau dukungan
lingkungan yang terbatas
c. Mempunyai ie-ide bunuh diri
d. Mempunyai penyakit medic terkait yang memerlukan pengobatan
atau perawatan.
Semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi, dan
beberapa memerlukan tambahan terapi fisik. Jenis terapi bergantung
pada diagnosis, berat penyakit, umur pasien, respon terhadap terapi
sebelumnya.
Karena depresi endogen bentuk gangguan depresif Mayor,
diagnosis dan pengobatan adalah sama. Seorang dokter atau
20

profesional kesehatan mental akan meminta pasien serangkaian


pertanyaan tentang gejala mereka, sejarah medis, dan masalah
penyalahgunaan zat. Tes laboratorium juga biasanya dilakukan untuk
menyingkirkan penyebab fisik seperti ketidakseimbangan hormon.
Baris pertama dari pengobatan untuk endogen bentuk depresi
adalah biasanya obat-biasanya, inhibitor selektif serotonin re-uptake
(SSRI)-jenis antidepresan. Pengobatan tambahan sering terdiri dari
beberapa bentuk terapi bicara, seperti terapi perilaku kognitif. Dalam
kasus yang lebih serius, antipsikotik atau terapi electroconvulsive
( ECT ) dapat di gunakan. (Michael Kerr, 2012).
Farmakoterapi
Penanganan

efektif

dan

spesifik

biasanya

diberikan

antidepresan selektif serotonine Reuptake inhibitor (SSRI) seperti


fluoxetine, paroxetine (paxil) dan sertraline, atau antidepresan
golongan lain misalnya bupropion, venlafaxine, mrnunjukkan secara
klinis hasil yang sama efektif dengan obat terdahulu tetapi lebih aman
dan toleransinya lebih baik. Prinsip indikasi untuk antidepresi adalah
episode depresi berat. Gejala pertama menjadi pegangan adalah sulit
tidur dan gangguan pola makan. Gejala lainya yang dapat timbul
adalah mengamuk, cemas, dan rasa putus asa.
Edukasi pasien yang adekuat tentang kegunaan antidepresan
sebagai hal penting untuk kesuksesan terapi termasuk pemilihan obat
dan dosis yang paling sesuai. Dokter harus menekankan kepada pasien
tidak akan menjadi ketergantungan dengan obat antidepresan, karna
obat tidak memberikan kepuasan segera dan dosis obat akan
diturunkan secara perlahan-lahan sesuai dengan evaluasi gejala.
Pada pemberian antidepresan, obat akan memperlihatkan efek
antidepresan yang optimal 3-4 minggu. Timbulnya efek samping
menunjukkan obat bekerja, tetapi efek samping yang timbul ini harus
dijelaskan secara detail. Sebagai contoh, beberapa pasien meminum
antidepresan golongan SSRIs menjadi gelisah,

mual dan muntah

sebelum adanya perbaikan gejala. Efek samping berkurang seiring


berjalanya waktu. Dengan obat trisiklik dan MAOis, dokter akan
menjelaskan pada pasien bahwa gejala yang akan membaik lebih awal
21

adalah adanya perbaikan tidur dan selera makan, yang diikuti oleh
perbaiakan pada perasaan kurang energy, dan terakhir perasaan
depresi, untungnya hal terakhir merupakan gejala yang terakhir
muncul. Apabila pada 3 minggu setelah pemberian obat antidepressant
pasien belum memperlihatkan

perbaikan gejala kurang dari 20%

maka perlu mengganti antidepresan dengan antidepresan golongan


lainya. Namun setelah 3-6 minggu pemberian antidepresan, hanya
didapatkan respon parsial, maka dosis obat harus terus dinaikkan
sampai dosis maksimal atau dengan pemberian augmentasi, misalnya
dengan lithium, atau psikostimulan yang terbukti pada penelitian
mempercepat perbaikan gejala dalam waktu 1-2 minggu pada 25
persen pasien.
Alternative pengobatan. ECT biasanya digunakan

jika

pasien tidak berespon terhadap farmakoterapi dengan dosis yang


sudah adekuat atau tidak dapat mentoleransi farmakoterapi atau pada
tampilan klinis yang sangat berat yang memperlihatkan perbaikan
sanagt cepat dengan penggunaan ECTs

22

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila
kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial
sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Beberapa
gejala Gangguan Depresi berat dengan gejala psikotik adalah perasaan sedih,
rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan
semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur dan terdapat waham dan
halusinasi atau stupor depresi. Depresi sering merupakan salah satu penyebab
utama kejadian bunuh diri. Dan lebih spesifik, Endogen depresi adalah sub-kelas
atipikal dari gangguan suasana mood, gangguan depresif Mayor (depresi klinis).
Terapi yang diberikan yaitu Farmakologi dan psikoterapi atau konseling.
Dukungan dari orang-orang terdekat serta dukungan spiritual juga sangat
membantu dalam penyembuhan.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan and Saddock. (1993). Synopsis of Psychiatry. 7th ed. Vol 1. Sans
Tache. New York.
2. Hawari, Dadang. (2006). Manajemen Stress, Cemas, Dan Depresi.: Gaya
Baru, Jakarta.
3. Amir. (2005). Diagnosis Dan Penatalaksanaan Depresi Pasca Stroke. Cermin
Dunia Kedokteran, Jakarta
4. Kaplan, Saddock. (2003). Sinopsis Psikiatry, Ilmu Pngetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis. Binarupa Aksara, Jakarta
5. Kaplan and Saddock. (2010). Comprehensive Textbook Of Psychiatry. 7th Ed.
Lippincott Wiliams And Wilkins. Philadelphia.
6. I.M Ingram. dkk. (1993). Catatan kuliah Psikiatri. Buku kedokteran EGC,
Jakarta
7. Lumbantobing. (2004). Neurogeriatri. FKUI, Jakarta
8. Faisal, Idrus. (2007). Depresi Pada Penyakit Parkinson Cermin Dunia
Kedokteran No.156. FK Hasanuddin, Makassar
9. Intansari. (2002). Perubahan Tingkat Depresi Setelah Electroconvulsive
Therapy (ECT) Di RSUP DR Sardjito Berita Kedokteran Masyarakat
XVII(2). UGM, Yogyakarta
10.Nyhuis-P-W, Specka-M, Gastpar-M (2006). "Does the antidepressive
response to opiate treatment describe a subtype of depression?". European
Neuropsychopharmacology
11.Jump up^ Bodkin, JA; Zornberg, GL; Lukas, SE; Cole, JO (February 1995).
"Harvard Medical School Clinical Study "Buprenorphine treatment of
refractory depression."". Journal of Clinical Psychopharmacology
12. Michael

Kerr.

(2012).

Endogenous

Depression.

Available

from

www.healthline.com/health/depression/endogenous-depression. Diakses pada


tanggal 18 September 2015.
13. W. Lam R, Mok H. (2000). Depression Oxford Psychiatry Library. Lunbeck
Institutes. p. 1-57.
14. Kaplan & Sadock's.

(2007).

Synopsis

of

Psychiatry:

Behavioral

Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition Lippincott Williams & Wilkins. p.


1-89.
15. Maj M, Sartorius N. (2002). Depressive Disorder Second Edition. Evidence
and experience in psychiatry. p. 8-12.
24

16. W. Long P. Mayor depressive Disorder, Treatment. [online]. Updated on Feb.


9, 1998. p 1-31. Available from : http://www.mentalhealth.com. Diakses pada
tanggal 18 September 2015
17. Peveler R, Carson A, Rodin G. Depression in medical patients, in Mayou R,
Sharpe M, Alan C. ABC of Psychological Medicine. BMJ Publishing group
2003. p. 10-3.

25