Anda di halaman 1dari 8

1.

Istilah-istilah yang digunakan untuk menyebutkan hukum adat


Bali:
Istilah 'Hukum adat Bali' pada awalnya tidak begitu dikenal
dalam masyarakat umum di Bali. Masyarakat menggunakan
istilah-istilah, seperti: adat, dresta, awig-awig, gama, sima,
perarem, dan lain lain
Adat:
istilah 'adat' sendiri bukanlah istilah asli Bali, bahkan bukan pula
istilah asli Indonesia. Istilah adat berasal dari bahasa Arab yang
berarti kebiasaan, yang kemudian meresap ke dalam bahasa
Indonesia dan sudah lama pula dipakai dalam bahasa Bali. Dalam
bahasa Indonesia, istilah adat tidak lagi digunakan sekedar dalam
pengertiannya sebagai kebiasaan, yaitu tingkah laku yang
dilakukan secara berulang-ulang, melainkan dalam pengertian
sebagai aturan (perbuatan) yang lazim diturut atau dilakukan
sejak dahulu kala. Dengan demikian adat adalah kebiasaankebiasaan yang ajeg dan bersifat tradisional. Sifat tradisionalnya
itu yang menyebabkan, dalam masyarakat Bali kadang-kadang
istilah adat digunakan dalam konteks yang berbeda dengan
pengertiannya yang asli, seperti misalnya digunakan dalam istilah
desa adat, krama adat, banjar adat, upacara adat, pakaian adat,
dan sebagainya yang menunjuk kepada tradisi.

1.
2.

Dresta:
adalah pandangan, kebiasaan - kebiasaan maupun aturan - aturan
dari suatu daerah tertentu yang terdiri dari empat yang dinamakan
catur dresta, sebagaimana disebutkan dalam hukum Hindu, Catur
Dresta terdiri dari :
Purwa/Kuna Dresta merupakan kebiasaan-kebiasaan yang sudah
melekat pada kehidupan masyarakat secara turun tumurun.
Desa dresta merupakan peraturan-peraturan yang diterapkan untuk
lingkungan sempit atau desa adat pakraman. Bagi pendatang baru,
pertama kali masuk ke suatu desa adat pakraman terlebih dahulu harus
mampu beradaptasi dengan aturan desa adat pekraman yang telah ada.
Tujuannya tidak lain hanya semata-mata untuk menciptakan hubungan
yang hamonis.
1

3.

4.

Loka Dresta yaitu hampir sama dengan Desa Dresta hanya saja scope /
lingkupnya yang lebih luas. Agar hubungan menjadi harmonis maka
kita sebagai warga sepatutnyalah untuk mengikuti aturan - aturan
sesuai dengan daerahnya.
Sastra Dresta merupakan aturan pamungkas yaitu jika seluruh dresta
di atas tidak dapat diimplementasikan dan menimbulkan perdebatan
yang tidak jelas, maka satu-satunya yang harus dipedomani adalah
sastra dresta ini yaitu diluar dari tiga aturan tersebut di atas.
Sehingga kesebelan dari seseorang sebagaimana yang disebutkan
sebagai cuntaka dapat disesuaikan dengan dresta ataupun aturan aturan yang sesuai dengan daerah bersangkutan untuk
menciptakan kesucian dan hubungan yang hamonis pada
lingkungan daerah tersebut.
Awig-Awig:
hukum yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat Bali,
sehingga dapat dikatakan sebagai hukum yang hidup (the living
law). Materi awig-awig umumnya mengatur kehidupan
masyarakat Bali dalam tiga aspek Tri Hita Karana, yaitu aspek
kemasyarakatan atau pawongan (hubungan manusia antara
sesama manusia), aspek kewilayahan atau palemahan (hubungan
manusia dengan lingkungan alamnya) dan aspek keagamaan atau
parhayngan (Hubungan manusia dengan Tuhannya). Dalam
pengaturan setiap aspek tersebut dirumuskan tindakan-tindakan
yang diharuskan, dibolehkan ataupun yang dilarang.
Gama:
adalah adat yang sangat abstrak yang oleh semua anggota
masyarakat Bali dijunjung tinggi dan diusahakan untuk
dilaksanakan.

Sima:
adalah pelaksanaan dari ajaran-ajaran dan asas-asas umum dalam
gama, berlaku terbatas pada satu daerah sesuatu desa atau
sekelompok desa-desa
Pararem:
adalah jenis adat yang dirumuskan dalam rapat-rapat desa yang
disebut sangkepan. Keputusan ini diambil oleh desa dalam
sangkepannya sebagai jawaban atas suatu persoalan yang nyata
dihadapi oleh masyarakat yang memerlukan penyelesaian.
(Istilah-istilah diatas yang digunakan oleh masyarakat tersebut
diatas sesungguhnya tidaklah tepat semuanya diterjemahkan
sebagai hukum adat sebab tidak semua adat mempunyai sifat
hukum. Hukum adat hanyalah sebagaian dari adat, yaitu sisi adat
yang mempunyai akibat hukum, sebagaian besar lainnya dari adat
tidak mempunyai akibat hukum apabila tidak dituruti).
sumber: Pengantar Hukum Adat Bali, Bali Tours Guide
2.

Pengertian hukum adat Bali


Hukum adat Bali adalah kompleks norma-norma, baik dalam
wujudnya yang tertulis maupun tidak tertulis, berisi perintah,
kebolehan dan larangan, yang mengatur kehidupan masyarakat
Bali yang menyangkut hubungan antara sesama manusia,
hubungan manusia dengan lingkungan alamnya, dan hubungan
manusia antara dengan Tuhannya. Tujuan hukum adalah tujuan
hidup itu sendiri yaitu terciptanya kesejahteraan umat manusia
3

yang diterjemahkan sebagai kehidupan 'Sukerta Sakala


Niskala'.
sumber: Pengantar Hukum Adat Bali
3.

Sumber- sumber hukum adat Bali ditemukan


Dimanakah hukum adat Bali ditemukan atau apakah yang
merupakan sumber hukum adat Bali? Untuk bagian-bagian
hukum adat Bali yang tidak tertulis dapat ditemukan dalam
kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang telah lama hidup di
dalam masyarakat Bali (dresta: kuna dresta, desa destra loka
dresta). Untuk mengetahui bagaimana hukum yang berlaku di
dalam masyarakat, maka orang harus hidup di tengah-tengah
masyarakat yang bersangkutan, mengamati apa yang dilakukan
oleh masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Apabila hal
itu tidak dapat dilakukan, maka hukum adat Bali dapat
ditemukan dalam sumber-sumber tertulis, seperti di dalam
awig-awig/pararem tercatat atau tertulis; sastra dresta (kitabkitab agama), parwara (keputusan) raja-raja Bali ataupun
pemerintah; Keputusan lembaga-lembaga adat dan keagamaan,
seperti Majelis Pembina Lembaga Adat (MPLA), Majelis Desa
Pakraman (MDP), dan Parisada Hindu Dharma (PHD); dan
pendapat ahli atau tokoh-tokoh adat dan agama, seperti dapat
dilihat dari laporan-laporan penelitiannya ataupun karya
ilmiahnya.
sumber: Pengantar Hukum Adat Bali

4.

Hubungan adat Bali dengan hukum adat Bali


Hukum adat hanyalah sebagaian dari adat, yaitu sisi adat yang
mempunyai akibat hukum, sebagaian besar lainnya dari adat
tidak mempunyai akibat hukum apabila tidak dituruti. Wujud
akibat hukum tersebut dapat berupa sanksi, dapat pula berupa
lahirnya, berubahnya dan hapusnya suatu keadaan hukum
ataupun hubungan hukum. Untuk membedakan adat yang tidak
bersifat hukum dan adat yang mempunyai sifat hukum (hukum
adat) dapat ditemukan banyak contoh dalam kehidupan
masyarakat Bali. Salah satunya adalah adat kundangan dan
adat mejenukan. Keduanya adalah bentuk konkrit dari asas
tolong menolong (menyama braya) yang masih sangat kuat
diikuti dalam kehidupan masyarakat Bali. Dalam kedua
perbuatan tersebut, umumnya ada barang-barang bawaan yang
diberikan kepada keluarga yang dikunjungi. Dalam hal
kundangan, sudah lama menjadi adat kebiasaan orang Bali
untuk membawa barang suatu, baik berupa benda (kado) atau
belakangan sering berupa uang dalam amplop yang diserahkan
kepada keluarga yang mengundang. Apabila pengunjung tidak
membawa apa-apa, tidak menimbulkan akibat hukum/sanksi
hukum, paling-paling rasa malu sebagai bentuk sanksi moral.
Adat atau dresta demikian tidak dapat disebut sebagai hukum
karena tidak ada akibat hukum bila tidak dapat diikuti. Berbeda
dengan adat (dresta) melayat (mejenukan) yang mewajibkan
karma banjar (warga banjar) untuk membawa barang sesuatu,
baik berupa uang ataupun benda (sesuai sima masing-masing)
yang diberikan kepada keluarga yang mempunyai kematian.
Kewajiban demikian biasanya diatur dalam awig-awig atau
5

pararem banjar, disebut dengan istilah yang bervariasi setempat


demi setempat . Apabila kewajiban itu dilanggar maka akan
menimbulkan akibat hukum tertentu, yaitu berupa sanksi adat.

Hubungan hukum adat Bali dengan agama Hindu


Mayoritas masyarakat pulau Bali adalah pemeluk agama
Hindu. Kuatnya pengaruh agama Hindu terhadap kehidupan
orang Bali menyebabkan sulitnya membedakan bagian mana
dari aspek-aspek kehidupan orang Bali yang bersumber dari
kebudayaan, tradisi atau adat kebiasaan asli Bali dan bagianbagian mana yang dipengaruhi atau bersumber dari agama. Hal
itu juga terjadi juga dalam kehidupan hukum orang Bali. Tanpa
mengadakan penelitian dan pengkajian yang mendalam, sangat
sulit dibedakan mana aturan-aturan yang bersumber dari adat
(tradisi, kebiasaan-kebiasaan masyarakat) dan mana aturanaturan yang bersumber dari ajaran agama Hindu. Batas antara
adat dan agama Hindu di Bali amat kabur, demikian pula antara
hukum adat Bali dan agama Hindu. Seperti diketahui, tujuan
hukum dalam konsep orang Bali tidak hanya ditujukan bagi
keharmonisan hubungan antara manusia dengan sesamanya
(pergaulan

hidup),

keseimbangan

antara

melainkan
hubungan

juga

ditujukan

bagi

dengan

alam

manusia

lingkungannya, serta hubungan manusia dengan Tuhan.


Konsep keharmonisan inilah yang dalam masyarakat Bali
kemudian dibinhkai dalam filosofi Tri Hita Karana, yang
menghendaki adanya adanya keseimbangan hubungan antara
manusia

dengan

sesamanya

(pawongan),

keseimbangan
6

hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya


(palemahan), dan keseimbangan hubungan antara manusia
dengan Tuhan Sang Maha Pencipta (parhyangan). Pola
hubungan yang serba seimbang itu semuanya ditujukan agar
dapat dicapainya tujuan bersama, yaitu kesejahteraan lahir
bathin ( sukerta sekala niskala ).

Hubungan hukum adat Bali dengan hukum Hindu


Ada anggapan bahwa hukum adat yang berlaku dalam suatu
masyarakat adalah hukum agama yang dianut oleh masyarakat
itu, karena dengan masuknya seseorang ke dalam suatu agama
tertentu, ia menerima sepenuhnya dan tunduk pada agama yang
bersangkutan. Teori ini dikenal dengan teori reception in
compexu yang pertama kali diperkenalkan oleh CF Winter dan
Salomon (1823-1868) dan kemudian diikuti oleh LWC van den
Berg (1845-1927). Pada zaman kolonial Belanda teori ini
semula sangat berpengaruh dan sempat diadopsi oleh
pemerintah Kolonial sehingga dalam peraturan perundangundangan pada saat itu hukum yang berlaku bagi masyarakat
pribumi disebut pula dengan istilah undang-undang agama
(Pasal 75 ayat 3 RR). Dalam perkembangan kemudian, teori ini
ditentang banyak kalangan antara lain Snouck Hurgronje dan
C.van Vollenhoven. Mereka memperkenalkan teori receptive,
yang intinya menyatakan bahwa hukum yang hidup dan
berlaku bagi rakyat Indonesia-terlepas dari agama yang
dianutnya-adalah hukum adat, sedangkan hukum agama
meresepsi ke dalam dan berlaku sepanjang dihendaki oleh
7

hukum adat.
Untuk meyakini teori mana yang berlaku dalam hubungan
antara hukum adat Bali yang berlaku sekarang ini dengan
hukum Hindu, kalaupun itu ada, maka langkah penting yang
harus dilakukan terlebih dahulu adalah melakukan pengkajian
terhadap kitab-kitab yang diklaim berisi hukum Hindu. Perlu
didentifikasikan dan diinventarisir nilai-nilai, asas-asas, serta
norma-norma yang ada di dalamnya, kemudian dilihat tingkat
sinkronisasinya dengan hukum adat yang kini berlaku dalam
masyarkat Bali.
sumber: Pengantar Hukum Adat Bali