Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

Konsumsi Oksigen Pada Ikan Mas


dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai mata kuliah fisiologi hewan air

Oleh :
Kelompok 4

MUHAMMAD FIKRI

230210140004

LISMA MAHESHA AMANDA

230210140047

PRODI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya,
penulis dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum yang berjudul Konsumsi Oksigen
pada Ikan Mas sebagaimana yang telah ditugaskan sebagai laporan akhir praktikum fisiologi
hewan air.
Penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen, koordinator asisten,
asisten pembimbing yang telah banyak membimbing dalam pelaksanaan praktikum ini.

Penulis menyadari bahwa laporan akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak agar dapat melengkapi
kekurangan yang banyak terdapat pada laporan akhir ini. Akhir kata, semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi penulis, teman-teman, maupun bagi pembaca pada
umumnya.

Jatinangor, 23 Oktober 2015

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................................iv
DAFTAR TABEL......................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................
1.1
1.2
1.3

Latar Belakang...............................................................................................1
Tujuan............................................................................................................1
Manfaat..........................................................................................................1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................


2.1
Ikan Mas.........................................................................................................2
2.2
Morfologi Ikan Mas.......................................................................................3
2.3
Pernafasan......................................................................................................4
2.4
Dissolved Oxygen..........................................................................................5
BAB III METODOLOGI
3.1
Waktu dan Tempat..........................................................................................7
3.2
Alat dan Bahan...............................................................................................7
3.3
Prosedur Penelitian........................................................................................7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................
4.1
Hasil...............................................................................................................8
4.1.1 Hasil Pengamatan..................................................................................8
4.2
Pembahasan....................................................................................................9
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan....................................................................................................12
5.2
Saran..............................................................................................................12
Daftar Pustaka............................................................................................................13
Lampiran....................................................................................................................14

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.Ikan Mas....................................................................................................2
Gambar 2. Morfologi Ikan Mas.................................................................................4
Gambar 3. Sistem Pernafasan Ikan Mas....................................................................5
Gambar 4. DO Meter.................................................................................................6
Gambar 5. Akuarium ikan mas..................................................................................14
Gambar 6. Timbangan................................................................................................14

Gambar 7. Wadah Ikan mas.......................................................................................14


Gambar 8. Penghitungan kandungan oksigen terlarut...............................................15
Gambar 9. Hasil penghitungan kandungan oksigen terlarut......................................15

DAFTAR TABEL

Tabel I. Hasil Pengamatan.........................................................................................8

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan merupakan hewan poikilotermik, suhu tubuhnya akan menyesuaikan diri dengan
suhu lingkungannya. Suhu media air akan mempengaruhi kandungan oksigen terlarut yang
akan berakibat terhadap proses respirasi ikan.

Oksigen atau zat asam adalah unsur kimia dalam sistem tabel periodik yang
mempunyai lambang O dan nomor atom 8. Ia merupakan unsur golongan kalkogen dan dapat
dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya (utamanya menjadi oksida).
Menurut massanya, oksigen merupkan unsur kimia paling melimpah di biosfer, udara, laut,
dan tanah bumi.
Respirasi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui
pemecahan senyawa berenergi tinggi dimulai dari pengikatan oksigen hingga pengeluaran
karbondioksida oleh darah melalui permukaan alat pernafasan organisme. Respirasi terjadi
pada semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan terkecil, sel.
Apabila pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai senyawa
pemecah, semua respirasi tidak melibatkan oksigen. Pada ikan sistem organ yang berperan
dalam hal ini adalah insang. Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat
pula berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion,
dan osmoregulator.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui, memahami, dan menghitung
konsumsi oksigen ikan mas yang sensitif terhadap kadar oksigen terlarut di media hidupnya.
1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini kita dapat menghitung jumlah kadar oksigen yang
dikonsumsi ikan mas dalam selang waktu tertentu, dengan alat bantu DO meter sebagai
pengukur kandungan oksigen terlarutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Mas


Ikan mas merupakan ikan yang sudah umum di pelihara menurut ahli perikanan Dr.
A.L Buschkiel dalam RO. Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan mas menjadi dua
golongan, yakni pertama, jenis-jenis mas yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang

memiliki ukuran sirip memanjang. Golongan pertama yakni yang bersisik normal
dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan mas yang bersisik biasa dan
kedua, bersisik kecil.
Ikan mas dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum

: Chordata

Class

: Actinopterygn

Ordo

: Cypriniformes

Family

: Cyprinidae

Genus

: Cyprinus

Species

: C. Carpio

Gambar 1. Ikan Mas


2.2 Morfologi Ikan Mas
Secara morfologis, ikan mas mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih
tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat
dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi
sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan karper
berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah,
kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya.

Tubuh ikan mas digolongkan (3) tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada
kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak
berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup insang, alat pendengar
dan keseimbangan yang tampak dari luar. Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jarijari. Sirip-sirip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal
merupakan anggota gerak yang bebas. Selain itu system alat pencernaan ikan mas secara
umum terdiri atas saluran pencernaan berturut-turut dari mulut hingga ke anus sebagai
berikut:
1

2
3
4
5

Rongga mulut, di dalam rongga terdadat sebagai berikut:


a Lidah yang melekat pada dasar mulut dan tidak dapat di gerakan
b Kelenjar-kelenjar lendir, tetapi tidak terdapat kelenjar ludah.
c Rahang dengan gigi-gigi kecil berbentuk kerucut.
Faring, yaitu pangkal tenggorokan yang tempatnya yang sesuai dengan tempatinsang.
Kerongkongan yaitu kelanjutan faring yang terletak di belakang insang.
Lambung yaitu kelanjutan kerongkongan yang merupakan pembesaran dariusus.
Ususnya panjang dan berliku-liku pada saluran pencernaan terdapat beberapakelenjar
pencernaan, antara lain:
a Hati, terletak di bagian muka rongga badan meluas mengelilingi usus.
b Pangkereas terletak dibagian lambung dan usus.
c Jantung, terletak di dalam rongga tubuh yang dibatasi dekat daerah insan dan
di bungkus oleh selaput

Gambar 2. Morfologi Ikan Mas

2.3 Pernafasan
Ikan bernapas menggunakan insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis
berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang berhubungan dengan air,
sedang bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang
terdiri dari sepasang filamen dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela).
Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler, sehingga
memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar.
Pada ikan bertulang sejati (Osteichthyes) insangnya dilengkapi dengan tutup insang
(operkulum), sedangkan pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes) insangnya tidak
mempunyai tutup insang. Selain bernapas dengan insang, ada pula kelompok ikan yang
bernapas dengan gelembung udara (pulmosis), yaitu ikan paru-paru (Dipnoi).
Mekanisme pernapasan ikan bertulang sejati dilakukan melalui mekanisme inspirasi
dan ekspirasi.

Gambar 3. Mekanisme Pernafasan Pada Ikan Bertulang Sejati

(Sumber: http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikan-pisces.html)

(1) Fase inspirasi ikan, gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang tetap
menempel pada tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar, sebaliknya celah
belakang insang tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam rongga mulut lebih kecil
daripada tekanan udara luar. Celah mulut membuka sehingga terjadi aliran air ke dalam
rongga mulut.

(2) Fase ekspirasi ikan, setelah air masuk kedalam rongga mulut, celah mulut menutup.
Insang kembali ke kedudukan semula diikuti membukanya celah insang. Air dalam mulut
megalir melalui celah-celah insang dan menyentuh lembaran-lembaran insang. Pada
tempat ini terjadi pertukaran udara pernafasan. Darah melepaskan CO 2 kedalam air dan
mengikat O2 dari air.
2.3 DO (Dissolve Oxygen)
Oksigen terlarut adalah tingkat saturasi udara di air yang dinyatakan dalam kadar mg
per liter air atau part per million (ppm). Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO)
dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran
zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu,
oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses
aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari
udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Kandungan
oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh
senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung
kehidupan organisme. KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm
untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut.
DO merupakan perubahan mutu air paling penting bagi organisme air, pada
konsentrasi lebih rendah dari 50% konsentrasi jenuh, tekanan parsial oksigen dalam air
kurang kuat untuk mempenetrasi lamela, akibatnya ikan akan mati lemas. Kandungan DO di
kolam tergantung pada suhu, banyaknya bahan organik, dan banyaknya vegetasi akuatik.
DO: Kelarutan suatu gas pada cairan. Penurunan kadar oksigen terlarut dapat
disebabkan oleh tiga hal:

Proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik.

Proses reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan baktri anaerob dari dasar perairan.

Proses pernapasan orgaisme yang hidup di dalam air, terutama pada malam hari. Semakin
tercemar, kadar oksigen terlerut semakin mengecil (Abdilanov, 2011).
DO dapat di ukur dengan alat bantu DO meter.

Gambar 4. Do Meter

BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu dan tempat pelaksanaan praktikum adalah sebagai berikut :
Hari, Tanggal

: Senin, 19 Oktober 2015

Waaktu dan Tempat

: Pkl. 13.30 WIB di Lab.FHA, Gedung Dekanat FPIK, UNPAD

3.2 Alat dan Bahan

Wadah plastik, untuk tempat percobaan.

DO meter, sebagai alat ukur untuk mengukur kelarutan oksigen

Stopwatch, untuk menghitung waktu lamanya ikan di perlakuan.

Timbangan, untuk mengukur bobot ikan.

Cling wrap, bahan pelapis

Ikan Mas

3.3 Prosedur Praktikum

Siapkan wadah plastik yang telah diisi air penuh

Ukur oksigen terlarutnya dengan menggunakan DO meter

Timbang ikan, lalu catat bobotnya.

Kemudian masukkan ikan dengan hati-hati

Tutup wadah percobaan dengan cling wrap, agar tidak ada kontak dengan udara luar.
Setelah itu, wadah percobaan dibiarkan selama 30 menit.

Setelah selesai, pentup plastik dibuka, ikan dipindahkan secara hati-hati, jangan sampai
terjadi percikan air, lalu ukur oksigen terlarut pada media air wadah percobaan tersebut
dengan menggunakan DO meter, catat hasilnya.

DO awal - DO akhir adalah konsumsi oksigen ikan tersebut.


DO awalDO akhir
bobot ikan

adalah laju konsumsi oksigen ikan tersebut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil
4.1.1

Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan dibuat dalam bentuk tabel berikut (data perlab)

LAB

Kelompok

Bobot
Ikan (g)

DO awal
(mg/l)

DO akhir
(mg/l)

Konsumsi
O2 (mg/l)

Konsumsi
O2 per
Gram
Bobot Ikan
(mg/l)

FHA

1
2
3
4
5

102
70
115
101
111

5
5
5
5
5

3,3
3,4
3,3
3,3
2,9

1,7
1,6
1,7
1,7
2,1

0,033
0,045
0,036
0,034
0,038

MSP

Aquakultu
r

4.2

6
7

141
94

5
5

3
3,2

2
1,8

0,028
0,038

8
10
11
12
13

86
83
84
81
89

5
5
5
5
5

1,9
1,3
1,6
1,2
2,5

3,1
3,7
3,4
3,8
2,5

0,036
0,044
0,040
0,047
0,028

14
15
16

83.2
105.92
68.88

5
5
5

2.5
2.9
3.2

2,5
2,1
1,8

0.06
0.04
0.05

17

95

3.1

1,9

0.04

18
19

105.92
97.21

5
5

2.9
2.9

2,1
2,1

0.04
0.04

Pembahasan
Dari praktikum mengenai konsumsi O2 pada ikan mas, didapatkan hasil pengamatan

yang disajikan dalam bentuk tabel (tabel 1 dan tabel 2). Percobaan dilakukan dengan
menghitung oksigen terlarut awal dan oksigen terlarut akhir yang kemudian digunakan untuk
perhitungan konsumsi O2 pada ikan. Ikan yang digunakan pada percobaan ini adalah ikan
mas. Ikan mas terlebih dahulu ditimbang menggunakan timbangan, dan didapatkan bobot
ikan seberat 101 gram. Ikan yang telah ditimbang dimasukkan kedalam wadah berisi air yang
memiliki kandungan oksigen terlarut sebesar 5 mg/L. Setelah itu wadah ditutup rapat selama
30 menit dan dilakukan kembali penghitungan kandungan oksigen terlarut dengan
menggunakan DO meter. Kandungan oksigen terlarut yang didapatkan adalah sebesar 3,3
mg/L.
Kadar oksigen terlarut pada percobaan mengalami penurunan dari 5 mg/L menjadi 3,3
mg/L. Menurunnya konsentrasi oksigen terlarut disebabkan oleh respirasi ikan. Dalam suatu
wadah yang tertutup dan terbatas, tekanan oksigen secara terus menerus akan menurun
sebagai akibat dari pengambilan oksigen yang terus menerus oleh ikan. Menurut Effendi

(2000), bahwa perairan yang baik untuk kehidupan ikan, memiliki kadar tidak kurang dari 5
mg/L. Kadar oksigen terlarut yang kurang dari 2 mg/L dapat mengakibatkan kematian ikan.
Selain faktor yang telah disebutkan sebelumnya, ditutupnya wadah penyimpanan ikan
menyebabkan oksigen terlarut yang berada dalam air berkurang. Hal ini dikarenakan oksigen
terlarut berasal dari difusi armosfer dan fotosintesis. Oksigen masuk kedalam air melalui
difusi langsung antara permukaan udara dan air (Spotte,1979). Salah satu cara untuk
mempertahankan tingkat kelarutan oksigen dalam air dengan pengaerasian, yaitu
penambahan oksigen atau udara berisi oksigen secara mekanik kedalam air hingga
konsentrasi oksige terlarut meningkat (Boyd,1982) tetapi hal ini tidak dilakukan dalam
percobaan.
Konsumsi oksigen dan kebutuhan oksigen pada ikan dapat dihitung sebagai berikut:
Konsumsi Oksigen
DO awal DO akhir = 5 mg/L 3,3 mg/L
= 1,7 mg/L
Kebutuhan Oksigen
DO awalDO akhir
53,3
x 2=
x2
bobot ikan
101
= 0,033 mg/L /gr
Kebutuhan oksigen ikan mas pada percobaan ini adalah 0,033 mg/L. Kebutuhan oksigen
untuk tiap jenis biota air berbeda-beda, tergantung dari jenisnya dan kemampuan untuk
beradaptasi dengan naik turunnya kandungan oksigen. Bobot ikan merupakan faktor penentu
kebutuhan oksigen hal ini dikarenakan, untuk menghitung kebutuhan oksigen, konsumsi
oksigen dibagi dengan bobot ikan dan dikali 2. Semakin besar ikan maka kebutuhan oksigen
akan semakin sedikit.
Pada saat pengamatan ikan cenderung tidak bergerak cepat, Hal ini mungkin
disebabkan oleh kadar karbon dioksida yang tinggi. Dahlberg et al (1968) menyatakan bahwa
tingginya konsentrasi karbon dioksida dapat mempengaruhi pola berenang ikan. Kemampuan
mengkosumsi oksigen berkurang pada tingkat karbon dioksida tinggi.

Dari data perkelas, dapat dilihat bahwa konsumsi oksigen maupun kebutuhan oksigen
setiap ikan berbeda padahal perlakuan yang dilakukan adalah sama. Perbedaan ini
dikarenakan oleh bobot masing masing ikan yang berbeda. Ikan dengan bobot yang lebih
kecil mempunyai kebutuhan oksigen yang lebih banyak dibanding dengan ikan yang
berbobot besar. Menurut Hemmingsen (1960) dalam Vernberg dan Vernberg 1972 organisme
berukuran kecil mengkonsumsi oksigen lebih banyak per satuan waktu dan berat daripada
yang berukuran besar. Penurunan tingkat konsumsi oksigen berdasarkan peningkatan bobot
badan dapat dipahami karena pada saat ikan berukuran kecil/muda kebutuhan oksigen untuk
respirasi banyak digunakan untuk berbagai kepentingan, selain untuk metabolisma juga untuk
pertumbuhan sel, molting dan lai lain sedangkan untuk ikan dengan ukuran lebih besar tidak
sebanyak untuk ikan muda karena lebih untuk pertahanan diri atau maintenance.
Oksigen merupakan salah satu parameter kualitas air yang sangat penting dalam
budidaya ikan. Oleh ikan oksigen digunakan untuk respirasi. Respirasi merupakan proses
pengambilan oksigen dari lingkungan melalui proses difusi, selanjutnya diangkut melalui
sistem vakular ke sel - sel dalam jaringan. Oksigen yang dikonsumsi ikan digunakan untuk
mengoksidasi zat-zat makanan untuk menghasilkan energi. Metabolisme biasanya
ditunjukkan oleh tingkat konsumsi oksigen pe unit waktu. Selain untuk respirasi, oksigen
juga digunakan untuk mengoksidasi bahan organik diperairan. Kekurangan oksigen dapat
membahayakan hewan air, karena dapat menyebabkan stress, mudah terkena penyakit,
bahkan dapat menyebabkan kematian.
Laju respirasi (konsumsi oksigen) dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal
dan internal. Faktor eksternal yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen adalah konsentrasi
oksigen terlarut, suhu, cahaya, status makanan dan karbon dioksida; sedangkan faktor internal
adalah spesies, ukuran (stadia), aktivitas, jenis kelamin, saat reproduksi dan molting
(Vernberg dan Vernberg, 1972).

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa

konsumsi oksigen pada ikan mas sangat dipengaruhi oleh ukuran ikan. Hasil konsumsi
oksigen pada ikan mas adalah 1,7 mg/L sedangkan kebutuhan oksigen ikan mas adalah 0,033
mg/L/gram. Laju respirasi (konsumsi oksigen) dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
eksternal dan internal. Faktor eksternal yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen adalah
konsentrasi oksigen terlarut, suhu, cahaya, status makanan dan karbon dioksida; sedangkan
faktor internal adalah spesies, ukuran (stadia), aktivitas, jenis kelamin, saat reproduksi dan
molting (Vernberg dan Vernberg, 1972). Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas karena
kekurangan oksigen dapat membahayakan hewan air, karena dapat menyebabkan stress,
mudah terkena penyakit, bahkan dapat menyebabkan kematian.

5.2

Saran
Praktikum diharapkan lebih cekatan saat memindahkan ikan dari akuarium ke dalam

wadah agar ikan tidak stress. Praktikan dapat melakukan penghitungan kandungan oksigen
terlarut dengan menggunakan DO meter.

DAFTAR PUSTAKA

Rostim, Ace. 2011. Tingkat Konsumsi Oksigen Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma
macropomum), Ikan Nilem (Osteochillus hasselti, C.V.) dan Ikan Tawes (Punctius
Javanicus, Blkr.). Skripsi, Budidaya Perairan IPB.
Bocek, A. 1992. Pengangkutan Ikan, Pedoman Teknis, Proyek Penelitian dan Pengembangan
Perikanan . Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta.
Huet, M., 1972. Texbook of Fish Culture, Breeding and Cultivation Of Fish. Fishing News
(Books) Ltd. Surrey. 436 p.
Watanabe T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture, JICA Text Book. The General
Aquaculture Course. Departement of Aquatic Bioscience. Tokyo University of
fisheries. Tokyo.
Herlinah dan Rachmansyah. 2010. Estimasi Padat Tebar Udang Pama (Penaeus
semisulcatus) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Oksigen. Balai Riset Perikanan
Budidaya Air Payau : Jurnal Proisding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur.

LAMPIRAN FOTO

Gambar 5. Ikan Mas berada dalam akuarium sebelum kemudian dipindahkan kedalam wadah

Gambar 6. Timbangan yang digunakan untuk menimbang ikan

Gambar 7. Wadah penyimpanan ikan

Gambar 8. Pengukuran kandungan oksigen terlarut

Gambar 8. Hasil pengukuran Dissolve Oxygen

Anda mungkin juga menyukai