Anda di halaman 1dari 6

Bumiayu pada Awal Revolusi:

Studi Pendahuluan
M. Fauzi

*
Revolusi Indonesia yang berlangsung sejak 1945 hingga 1949 hingga kini masih menjadi
periode yang menarik untuk diteliti secara mendalam. Banyak perkembangan menarik baik di
tingkat nasional maupun lokal selama periode ini, misalnya mengenai kepartaian, jatuh
bangunnya kabinet, perjuangan bersenjata dan diplomasi adalah beberapa topik yang banyak
diteliti tentang periode ini. Sementara itu, revolusi Indonesia juga menampilkan sisi lain seperti
kriminalitas, konflik antarlaskar, kekerasan dan pembunuhan terhadap etnis Tionghoa di
beberapa kota di Indonesia. Beberapa topik terakhir itu seakan memberi watak lain dari revolus i
itu sendiri yang penuh dengan gejolak revolusioner dan pengagungan kepahlawanan di sana-sini.
M asa yang penuh pergolakan ini ditandai pula oleh aksi penyerobotan, penggedoran, dombreng,
dan pendaulatan di berbagai kota. Hal itu memberi kesan bahwa revolusi Indonesia sepertinya
menampilkan dua wajah dalam perkembangannya.
Sisi lain dari revolusi itu sendiri memang tak banyak diteliti secara detil oleh para
sejarawan karena berbagai alasan dan sebab. Padahal, jika dilihat dari segi tema, sisi lain revolusi
Indonesia yang tercermin dalam bentuk-bentuk kekerasan di berbagai kota itu menyisakan
sejumlah pertanyaan tentang revolusi Indonesia itu sendiri. M isalnya, apa makna kemerdekaan
dan revolusi itu sendiri bagi masyarakat yang mengalaminya, atau yang tinggal di berbagai kota
di Indonesia dan jauh dari pusat kekuasaan baik di Jakarta maupun Yogyakarta. Tanggapan
masyarakat terhadap situasi sosial politik pascaproklamasi di Pegangsaan Timur, Jakarta,
seringkali disalurkan lewat beragam cara dan kadangkala unsur-unsur lokal juga turut berperan
di dalamnya. Perkembangan seperti ini dapat dilihat misalnya pada Banten di masa revolusi,
“Peristiwa Tiga Daerah” di Kabupaten Brebes, Pemalang, dan Tegal, kekerasan terhadap etnis
Tionghoa di kota M alang, Tangerang, dan kota-kota sekitar Karesidenan Pekalongan. Berbagai
aksi kekerasan yang berlangs ung di berbagai kota itu secara masif setidaknya menunjukkan
watak dari revolusi Indonesia. Situasi revolusioner ternyata juga berdampak buruk bagi sebagian
masyarakat yang tinggal di beberapa kota di Indonesia. Dendam, cemas, takut, dan bahkan
ketidakpastian bercampur dan menghinggap i benak serta hati sebagian masyarakat di berbagai
kota. Periode yang keras dan tidak menentu itu masih ditambah dengan ketidakpastian atas nasib,
harta dan bahkan nyawa sebagian masyarakat. Itulah sisi lain dari revolusi Indonesia yang justru
meminta banyak korban di kalangan rakyat Indonesia sendiri. Sepertinya konflik yang mengarah
ke “perang sipil” antar berbagai kelompok sejak bulan-bulan pertama pascaproklamas i
1
tampaknya sulit dihindari.
Dalam kaitan dengan studi sejarah lokal, salah satu peristiwa pada masa awal revolusi di

1 Beberapa studi berikut menjadi referensi tentang topik-topik menarik sekaligus sisi lain dari revolusi Indonesia
yaitu Audrey R. Kahin (ed). Regional Dynamics of the Indonesian Revolution: Unity from Diversit y. Honolulu:
University of Hawaii Press, 1985; Anton E. Lucas. Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi Dalam Revolusi. Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti, 1989; dan Michael Charles Williams. Communism, Religion, and Revolt in Banten. Athens,
Ohio: Ohio University Center for International Studies, 1990; Else Ensering. “ Banten in times of revolution,”
Archipel 50, 1995, hlm 131-164; Suharto. Banten Masa Revolusi 1945-1949: Proses Integrasi Dalam Negara
Kes atuan Republik Indonesi a. Disertasi Program Pascasarjana Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 2001.

1
Jawa Tengah yang menyita perhatian dan menggugah keingintahuan adalah kekerasan terhadap
etnis Tionghoa. Lokasi kejadian berlangs ung di sebuah kota perdagangan dengan pengaruh Islam
yang cukup kuat di sini yaitu di Bumiayu, Jawa Tengah. Kota setingkat kewedanan ini masuk
Kabupaten Brebes, Karesidenan Pekalongan, pada waktu itu. Secara geografis, Bumiayu berada
di daerah dataran tinggi, dan dilalui jalur transportasi utama Tegal-Purwokerto, serta jalur kereta
api Jakarta-Cirebon-Purwokerto-Yogyakarta-Surabaya. Stasiun kereta kota yang sejuk ini
terletak di Talok. Secara ekonomis, Bumiayu menduduki posisi penting dalam perdagangan dan
sebagian besar masyarakat di kota ini juga hidup dari perdagangan. Toko-toko dengan segala
macam barang dagangan berjajar sepanjang jalan raya di kota ini yang membentang dari Talok
hingga Jatisawit, kurang lebih 8 kilometer panjangnya. Pusat kota perdagangan ini terletak di
sepanjang jalan antara Dukuh Turi dan Jatisawit, antara kedua tempat ini dipisahkan oleh sebuah
jembatan besi yang panjangnya kurang lebih 200 meter yang di bawahnya mengalir air Kali
Keruh dengan batu-batu besar di sana-sini. Tak jauh dari jembatan tersebut dahulu terdapat
markas tentara Belanda, persisnya di Kalierang yang kini menjadi markas kepolisian. Selain itu
terdapat pula beberapa pabrik yang mengolah hasil pertanian dan perkebunan dari kota ini.
Tapioka dan cengkeh adalah dua jenis hasil pertanian dan perkebunan dari Bumiayu. Dalam
struktur sosial ekonominya, masyarakat Tionghoa termasuk salah satu pelaku penting dalam
perdagangan atau aktivitas perekonomian di kota ini. Sedangkan kiai adalah golongan
masyarakat lain di kota ini yang posisi sosialnya menempati kedudukan penting. M ungkin
karena Bumiayu secara ekonomis tergolong makmur, selama pendudukan Jepang dilaporkan tak
2
ditemukan adanya busung lapar.
Sebagai kota dagang dengan mayoritas penduduknya pemeluk Islam yang taat, Bumiayu
memiliki beberapa mesjid, musala atau langgar, dan pesantren. M uhammadiyah merupakan salah
satu organisasi sosial keagamaan yang punya pengaruh besar di kota ini. Selain M uhammadiyah,
Nahdlatul Ulama juga memiliki pengikutnya di kota ini. Dua organisasi sosial keagamaan itulah
yang sangat berpengaruh dan menempati kedudukan penting dalam struktur sosial masyarakat
Bumiayu. Kedua organisasi ini masing-masing membangun basis pengikut dan institusi
pendidikannya di beberapa tempat di kota ini. Kendati mempunyai beberapa institusi pendidikan,
para murid atau santri di kota ini justru banyak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih
tinggi di berbagai pesantren di kota lain di Jawa khususnya. Beberapa kota di Jawa Timur yang
mempunyai pesantren-pesantren yang sangat terkenal dan berpengaruh menjadi salah satu kota
tujuan untuk pendidikan lanjut dalam bidang keagamaan bagi santri-santri yang berasal dari
Bumiayu.

**

Bumiayu sebagai kota perdagangan yang makmur dan tanpa ada pergolakan yang berarti,
justru pada masa awal revolusi mengalami suatu gejolak sosial. Situasi itu bermula ketika
sebagian masyarakat Tionghoa yang tinggal di kota ini mengalami kekerasan secara fisik, harta
bendanya dijarah, rumahnya dibakar, dan bahkan dibunuh. Kekerasan terhadap masyarakat
Tionghoa di kota ini berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama atau beberapa pekan saja.
Namun, dampak psikologis dan kerugian materiil justru tak terhitung nilainya dan inilah suatu
lembaran hitam dalam sejarah Bumiayu. Sebagian besar para pelaku kekerasan itu adalah
pribumi, dan dalam aksi tersebut ada upaya memobilisasi masyarakat untuk melakukan

2 Lucas. Ibid, hlm 162.


kekerasan terhadap etnis Tionghoa di kota itu.3
Kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Bumiayu ini dapat ditelusuri akarnya hingga ke
situasi politik yang memanas di Kabupaten Brebes sebagai dampak pergolakan sosial di kota ini
pascaproklamasi. Di Brebes, kekuatan-kekuatan sosial politik yang berpengaruh terdiri dari
BKR/TKR, AM RI (Angkatan M uda Republik Indonesia) Brebes, dan AMRI-I (AMRI-Islam).
M erekalah yang berperan dalam politik lokal Brebes di awal revolusi. Pergolakan sosial politik
4
di Brebes dimulai di Pasarbatang yakni dengan kekeras an yang bernada rasialis anti-Cina. Aksi
kekerasan terhadap etnis Tionghoa itu bermula dari pembakaran babi dan kandangnya. Warga
Tionghoa di kota ini memang banyak yang memelihara babi di pinggir kota. Alasan pembakaran
babi dan kandangnya adalah karena hewan-hewan itu kerap kali lepas dari kandangnya dan
merusak tanaman serta pekarangan milik warga yang berdekatan rumahnya dengan lokasi
kandang itu. Selain itu, toko-toko milik etnis Tionghoa pun menjadi sasaran perampokan oleh
massa pada waktu itu. Kekerasan dan bahkan pembunuhan pun tertuju kepada orang Indo di
Pasarbatang. Besar kemungkinan bahwa kekerasan hingga pembunuhan terhadap orang-orang
Tionghoa dan Indo di Kabupaten Brebes inilah yang memicu kekerasan dan pembunuhan serupa
terhadap etnis Tionghoa di kota Bumiayu dan kota-kota lain di sekitar Brebes. Di antara tiga
kabupaten di dalam Karesidenan Pekalongan, Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari tiga
titik pergolakan sosial politik yang keras dan berdarah di Pantai Utara Jawa pada masa awal
revolusi.
Kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Bumiayu dimulai dari Talok hingga Jatisawit. Di
sepanjang jalur transportasi di kota yang menghubungkan antara Tegal dan Purwokerto ini,
pembakaran, penjarahan, dan pembunuhan terjadi di mana-mana. Pemenggalan, pemisahan
antara satu bagian anggota tubuh dan anggota bagian tubuh lainnya menjadi bagian dari kisah
kelam masyarakat Bumiayu pada waktu itu. Korban sebagian besar terutama kaum laki-laki,
sedangkan kaum perempuan Tionghoa diculik dan dibaw a entah ke mana oleh para penculiknya.
Tubuh-tubuh yang tak bernyawa lagi itu dapat ditemui di sejumlah tempat atau di tepi Kali
Keruh, kali besar yang membelah antara bagian utara dan selatan Bumiayu.
Selain manusia yang menjadi korban dalam aksi kekeras an itu, berbagai bangunan milik
etnis Tionghoa juga ikut menjadi sasaran perusakan dan pembakaran. Rumah, toko, Hotel
Slamet, bahkan klenteng tempat peribadatan etnis Tionghoa yang terletak di sekitar Dukuh Turi,
Kalierang hingga Jatisawit turut menjadi sasaran perusakan dan pembakaran oleh massa.
Beberapa di antara bangunan yang dirusak massa itu berarsitektur khas Cina yang menarik dan
5
bagus.
M ereka yang selamat dari aksi kekerasan itu kemudian melarikan diri atau mengungsi
untuk sementara waktu ke kota lainnya seperti ke Tegal, Pekalongan, atau Purwokerto. Rumah-
rumah yang ditinggalkan oleh para penghuninya itulah yang kemudian menjadi sasaran empuk
massa untuk diambil hartanya yang tersimpan di dalamnya. Oleh karena itu, tak mengherankan
jika kemudian banyak bermunculan orang kaya baru yang sebagian harta mereka justru
didapatnya dari menjarah harta benda milik etnis Tionghoa yang telah ditinggalkan. Emas atau
benda-benda berharga lainnya milik etnis Tionghoa seringkali memang disimpan di tembok atau
di sebidang lubang di lantai rumah mereka. M aka ketika terjadi perusakan dan penghancuran
rumah-rumah milik mereka, massa menemukan banyak perhiasan dan emas di tembok dan lant ai
rumah milik etnis Tionghoa. Selain itu, pakaian-pakaian bagus milik etnis Tionghoa yang

3 Wawancara dengan Mujanah di Jakarta, 1 April 2009.


4 Anton E. Lucas. Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi Dalam Revolusi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989, hlm 222.
5 Wawancara dengan Mujanah di Jakarta, 1 April 2009.

3
dibuang ke dalam sumur saat terjadi kepanikan dan perusakan itu kemudian diambil kembali
oleh massa. Oleh karena itu, muncullah sinisme yang tertuju kepada para penjarah itu seperti
“memakai baju baru tapi boleh nyrobot.” Beberapa etnis Tionghoa kaya Bumiayu yang menjadi
korban kekerasan di masa awal tercatat antara lain Tek Yun (pemilik toko yang ternama dan
besar), Tek Nyo Nie (pemilik usaha sapi perah), Nyonya Uli (pemilik usaha minyak kacang), dan
6
Hok Guan (pemilik pabrik tapioka).

***

Bagaimana melihat peristiwa tersebut dari perspektif sejarah lokal, mengingat sebagian
besar pelaku kekerasan dan korban mungkin tak lagi hidup, dan sulit ditelusuri keberadaannya?
Adakah pola yang sama dengan kekerasan terhadap etnis Tionghoa yang terjadi atau meluas di
berbagai kota lain di Indonesia pada awal revolusi, khususnya di Kabupaten Brebes, Pemalang
7
dan Tegal (Tiga Daerah)? Bagaimana metode, metodologi, dan corak peristiwa kekerasan
tersebut di atas jika diteliti lebih lanjut. Itulah beberapa pertanyaan awal yang muncul tentang
suatu peristiwa yang terjadi di tingkat lokal ini. Lalu, apa makna kekerasan itu bagi pelaku,
korban, atau masyarakat Bumiayu yang mengalaminya pada waktu itu jika melihatnya dari
8
perspektif sejarah lokal.
Studi yang tergolong mas ih sangat awal ini bermula ketika beberapa tahun lalu muncul
berita kecil hanya beberapa paragraf dalam sebuah surat kabar sezaman tentang aksi kekerasan di
Bumiayu pada awal revolusi. Bacaan atau buku-buku yang menulis tentang kekerasan di kota
tersebut sangat sulit ditemukan. Lucas dalam bukunya hanya menyinggung sedikit tentang apa
yang sesungguhnya terjadi di Bumiayu terhadap etnis Tionghoa di awal revolusi, kendati
studinya membahas tentang Brebes. Fokus studi sejarah lokal Bumiayu ini adalah mengenai
suatu peristiwa yaitu aks i kekerasan terhadap etnis Tionghoa pada awal revolusi. Pendekatan
terhadap topik ini yang melihat pada struktur mungkin dapat berguna mengingat kompleksitas
Bumiayu sebagai sebuah kawedanan dalam lingkup Kabupaten Brebes. Seperti diketahui,
Bumiayu sebagai kota perdagangan yang cukup berkembang ini dikenal pula sebagai kota santri.
Islam berkembang di kota ini dengan M uhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai ujung
tombak organisasi sosial keagamaan di sini. Dari sudut geografis, kota ini juga mempunyai nilai
strategis karena menjadi lintasan transportasi kendaraan bermotor ataupun kereta api yang
menghubungkan berbagai kota-kota di Jawa. Dari sisi itu, kota ini sesungguhnya cukup terbuka
bagi masuknya nilai-nilai lain dari kota-kota di sekitarnya, tak terkecuali ide-ide revolusioner
dari Tiga Daerah (Brebes, Pemalang, dan Tegal) yang sedang bergejolak pada masa awal
revolusi. Dengan kata lain, studi sejarah lokal Bumiayu yang bersifat peristiwa ini sebaiknya
dilihat dalam kerangka struktural. Oleh karena itu, pemahaman terhadap gejolak sosial yang
terjadi di Bumiayu pada awal revolusi sepatutnya juga dilihat melalui kacamata ilmu sosial lain
supaya pemahaman terhadap perubahan sosial yang berlangsung cepat di kota ini dapat lebih
mudah diserap.
Sumber tertulis tentang dinamika sosial politik di Bumiayu memang sangat minim sekali

6 Keterangan lisan Herman Samlawi di Jakarta, 11 April 2009.


7 Bandingkan pula dengan aksi kekerasan terhadap etnis Tionghoa di kota Malang, Tangerang, atau Bagan Siapi-api
di Sumatra Ut ara, lihat Sin Po, 4 April dan 5 Juli 1946; Boeroeh, 7 Djoeni 1946; Tjamboek Berdoeri. Indonesia
Dalem Api dan Bara. Jakarta: Elkasa, 2004; Remco Raben. “The other side of the revolution: Anti-Chinese Violence
1945-1949,” makalah ceramah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, 2008.
8 Taufik Abdullah (ed). Sejarah Lokal di Indonesia: Kumpulan Tulisan. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 1985, khususnya bab “ Di Sekitar Sejarah Lokal Indonesi a”.
sehingga metode sejarah lisan menjadi salah satu pilihan untuk riset lebih lanjut tentang
peristiwa ini. Oleh karena itu, sebagai sejarah lokal, studi tentang aksi kekerasan di Bumiayu ini
tentunya banyak bersandar pada ingatan orang yang pernah mengalami peristiwa tersebut atau
para pelaku dan korban sendiri. Sikap kritis tentunya tetap harus dikedepankan terhadap narasi
narasumber mengingat kualitas ingatan seseorang karena berbagai alasan tak sepenuhnya mampu
menceritakan peristiwa yang dialaminya beberapa tahun lalu secara akurat dan kronologis . Inilah
salah satu kendala yang harus dihadapi sejaraw an jika riset sejarah lisan tentang Bumiayu ini
menjadi suatu pilihan dalam studinya.
Kekerasan yang terjadi di Bumiayu memang mempunyai cerita yang berbeda jika
dibandingkan dengan gejolak sosial politik yang terjadi di Brebes seperti disinggung di atas.
Pengaruh Islam memang sangat kuat di kota Bumiayu sehingga pemicu awal terjadinya gejolak
sosial politik seperti di Brebes tampaknya sulit diajukan sebagai alasan utama berlangsungnya
aksi-aksi kekerasan di kota ini. Dugaan sementara adalah bahwa aksi kekerasan terhadap etnis
Tionghoa lebih disebabkan karena dendam dan kecemburuan sosial terhadap mereka. Kedekatan
etnis Tionghoa kepada Belanda dan Jepang tampaknya menjadi pembenaran bagi terjadinya aksi
kekerasan itu. Hal itu bila mempertimbangkan apa yang menjadi sasaran kemarahan dan
kekerasan penduduk terhadap etnis Tionghoa, terutama menyangkut bangunan dan barang
perhiasan yang dimilikinya. Kedekatan atau bahkan pro-Belanda merupakan alasan utama yang
memojokkan etnis Tionghoa sehigga menjadi sasaran kekerasan oleh penduduk. “Kalah” dalam
persaingan dagang mungkin menjadi motif lain yang menjadi pemicu terjadinya kekerasan
terhadap etnis Tionghoa jika melihat kota Bumiayu sebagai kota perdagangan yang berkembang
pada waktu itu.

****

Itulah beberapa temuan sementara tentang terjadinya aksi kekerasan yang berujung pada
dibunuhnya etnis Tionghoa di Bumiayu pada masa awal revolusi. Penelusuran atau penelitian
lebih lanjut secara mendalam dari berbagai sumber baik tertulis maupun lisan tentang apa yang
sesungguhnya terjadi di kota itu mungkin dapat memperjelas cerita sebenarnya. Surat kabar
sezaman, khususnya yang terbit di wilayah Karesidenan Pekalongan atau Jawa Tengah, arsip-
arsip baik yang berasal dari koleksi kepolisian, kementerian dalam negeri, maupun NEFIS
diharapkan dapat mengungkap sepenggal sejarah Bumiayu yang kelam itu. Keterbatasan waktu
membuat tulisan pendek ini menjadi tidak maksimal dalam penyajiannya. Padahal, sisi lain
revolusi Indonesia yang menunjukkan watak dan wajah aslinya dalam bentuk kekerasan hingga
pembunuhan di sana-sini, termasuk di Kewedanan Bumiayu, ini sangat menarik sebagai suatu
kajian historis. Hal itu tidak terlepas dari penggambaran lain tentang revolusi Indonesia yang
menunjukkan kisah-kisah kepahlawanan atau heroik dari aktor-aktor yang bermain dan berperan
di panggung revolusi waktu itu. Maka, bercermin pada sejarah Bumiayu di masa awal revolusi
itu, yang muncul adalah justru gambaran kelam dalam perubahan sosial politik di kota tersebut.
Itu juga tidak terlepas dari konteks sosial politik di kota-kota sekitar Bumiayu pada waktu itu
ketika dendam dan kebencian terhadap para pangreh praja, kolaborator, masyarakat Indo, dan
etnis Tionghoa tanpa kecuali mendapat salurannya yang tepat dalam bentuk kekerasan,
penjarahan, pendaulatan, dan bahkan hingga pembunuhan terhadap mereka yang dituduh itu.
M ungkin terlalu dini pula jika kekerasan terhadap etnis Tionghoa ini dipahami sebagai bagian
dari pembersihan etnis Tionghoa di berbagai kota di Indonesia pada mas a revolusi. Itulah sisi
bawah arus gelombang revolusi Indonesia yang paling deras dalam episode sejarah Indones ia

5
yang kemudian justru menelan korban di kalangan masyarakat di berbagai kota termasuk di
Bumiayu sendiri.