Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI

Dosen Pembimbing
Nurul Asikin,M.pd

Di susun oleh :
KELOMPOK 2 :
AFRILIANI

140384205011

FEBRISA

140384205012

ERNA JULIANI

140384205013

TREE EVRYANTI

140384205014

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
2014/2015

KATA PENGANTAR
Assalamualikum wr.wb
Pertama kami mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala
kebesaran dan kelimpahan nikmat yang diberikan-Nya, sehingga dapat
menyelesaikan makalah Media pembelajaran Biologi yang berjudul Karakteristik
siswa SMP dan SMA yang dikaitkan dengan media pembelajaran dengan baik.
Terimakasih kepada Bapak Nurul Asikin, M.pd selaku pembimbing dan
terimakasih kepada teman-teman yang telah memotivasi serta membantu sehingga
terselesaikannya makalah tentang .
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu, penulis berharap pada rekan-rekan seperjuangan dapat
memberikan kritik dan saran kepada penulis dalam rangka mencapai
kesempurnaan. Agar nantinya dapat bermanfaat bagi rekan-rekan kita lainnya.

Wassalamualaikum Wr.Wb.
Tanjungpinang, oktober 2015

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................................
BAB I.........................................................................................................................................
PENDAHULUAN......................................................................................................................
1.1 LATAR BELAKANG.......................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................
1.3 Tujuan Makalah................................................................................................................
BAB II........................................................................................................................................
PEMBAHASAN........................................................................................................................
2.1 PENGERTIAN KARAKTER..........................................................................................
2.2 Konsep Karakteristik siswa SMP dan SMA...................................................................
2.3 Karekteristik umum perkembangan peserta didik dan pemilihan media
pembelajaran yang tepat.........................................................................................................
2.4 Karakteristik hubungan remaja dengan teman sebaya..................................................
BAB III.....................................................................................................................................
PENUTUP................................................................................................................................
3.1 Kesimpulan....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Seorang guru harus dapat memahami perbedaan-perbedaan itu dan harus


mengenal karakteristik peserta didik, seorang guru juga harus memiliki
kedewasaan dan kewibawaan dalam hal mengajar, mempelajari anak didiknya,
menggunakan prinsip-prinsip psikologi maupun dalam hal menilai cara
mengajarnya sendiri.
Siswa di setiap sekolah terdiri datang dari berbagai latar belakang. Siswa
dalam satu kelas biasanya memiliki umur yang tidak jauh berbeda, namun mereka
memiliki latar belakang yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan mereka berasal
dari lingkungan yang berbeda. Ada yang berasal dari keluarga berada, ada pula
yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ada yang pintar, ada pula yang kurang
pandai. Sifat mereka pun berlainan satu sama lain. Sehingga didapatkan bahwa
siswasiswa dalam satu kelas memiliki latar belakang, sifat, dan karakter yang
berbeda, yang harus dipahami dan dimengerti oleh setiap guru, sehingga kegiatan
pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan
pembelajaran, diperlukan pemilihan media pembelajaran yang tepat. Pemilihan
media pembelajaran ini haruslah memperhatikan keadaan peserta didik, kondisi
lingkungan dan sosial setempat, agar media yang digunakan dapat efektif, tepat
sasaran dan sesuai pula dengan kemampuan peserta didik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pengertian karakter ?
2. Bagaimanakah penjelasan konsep karakteristik siswa menurut para ahli?
3. Bagaimanakah karakeristik siswa SMP dan pemilihan media pembelajaran
yang tepat?

4. Bagaimanakah karakeristik siswa SMA dan pemilihan media pembelajaran


yang tepat?
5. Bagaimanakah karakteristik hubungan remaja dengan teman sebaya?
1.3 Tujuan Makalah
1. mengetahui pengertian karakter
2. Mengetahui konsep karakteristik siswa menurut para ahli
3. Mengetahui karakeristik siswa SMP dan pemilihan media pembelajaran
yang tepat
4. Mengetahui karakeristik siswa SMA dan pemilihan media pembelajaran
yang tepat
5. Mengetahui karakteristik hubungan remaja dengan teman sebaya

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KARAKTER


Secara umum istilah karakter yang sering disamakan dengan istilah
temperamen ,tabiat, watak atau akhlak yang memberinya sebuah definisi
sesuatu yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan
dan konteks lingkungan. Secara harfiah menurut beberapa bahasa, karakter
memiliki berbagai arti seperti : kharacter (latin) berarti instrument of marking,
charessein (Prancis) berarti to engrove (mengukir), watek (Jawa) berarti ciri
wanci; watak (Indonesia) berarti sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah
laku, budi pekerti, tabiat, dan peringai. Dari sudut pandang behavioral yang
menekankan unsur somatopsikis yang dimiliki sejak lahir, Sehingga Doni Kusuma
(2007:80) istilah karakter dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau
sifat dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima
dari lingkungan.
W.B. Saunders, (1977: 126) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat nyata
dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang dapat diamati
pada individu.
Gulo W, (1982: 29) menjabarkan bahwa karakter adalah kepribadian
ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya
mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
Kamisa, (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain,
tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.

Wyne mengungkapkan bahwa kata karakter berasal dari bahasa Yunani


karasso yang berarti to mark yaitu menandai atau mengukir, yang
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan
atau tingkah laku. Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam
atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang
berprilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia.
Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang.

2.2 Konsep Karakteristik siswa SMP dan SMA


Ketika anak anak memasuki masa remaja konsep diri mereka mengalami
perkembangan yang sangat kompleks dan melibatkan sejumlah aspek dalam diri
mereka.

Santrock

(1998)

menyebutkan

sejumlah

karakterisktik

penting

perkembangan konsep diri pada masa remaja yaitu :

Abstrak and idealistc. Pada masa remaja anak anak lebih


mungkin membuat gambaran tentang diri mereka dengan kata
kata yang abstrak dan idealistik. Gambaran tentang konsep diri
yang abstrak misalnya dapat dilihat dari pernyataan remaja usia 14
tahun mengenai dirinya. saya seorang manusia. Saya tidak dapat
memutuskan sesuatu saya tidak tahu siapa diri saya. Sedangkan
deskripsi idealistik dari konsep diri remaja dapat dilihat dari
pernyataan. saya orang yang sensitive, yang sangat peduli
terhadap perasaan orang lain. Saya rasa, saya cukup cantik.
Meskipun tidak semua remaja menggambarkan diri mereka
dengan cara yang idealis, namun sebagian besar remaja
membedakan antara diri mereka yang sebenarnya dengan diri yang

diidamkannya.
Differentiated. Konsep diri remaja bisa menjadi semakin
terdiferensiasi. Dibandingkan dengan anak yang lebih muda
remaja lebih mungkin untuk menggambarkan dirinya sesuai
dengan konteks atau situasi yang semakin terdiferensiasi.
Misalnya remaja berusaha menggambarkan dirinya menggunakan

sejumlah karakteristik dalam hubungannya dengan keluarganya,


atau dalam hubungannya dengan teman sebaya, dan bahkan dalam
hubungan yang romantis dengan lawan jenisnya. Singkatnya,
dibandingkan

dengan

anak-anak,

remaja

lebih

mungkin

memahami bahwa dirinya memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda,

sesuai dengan peran atau konteks tertentu.


Contracdictions
within
the
self.

Setelah

remaja

mendeferensiasikan dirinya kedalam sejumlah peran dan dalam


konteks yang berbeda beda, maka munculah kontradiksi antara
diri-diri yang terdiferensiasi ini.
Dalam sebuah penelitian Susan Harter(1986) meminta siswa kelas 7
sembilan dan sebelas untuk mendeskripsikan diri mereka. Harter akhirnya
menemukan bahwa terdapat sejumlah istilah yang kontradiktif yang digunakan
remaja dalam mendeskripsikan dirinya(seperti jelek dan menarik, mudah busan
dan ingin tahu, peduli dan tak peduli, tertutup dan suka bersenang-senang)
meningkat secara dramatis antar kelas tujuh dan kelas sembilan.
Gambaran diri yang kontradiktif ini berkurang jumlahnya pada siswa kelas
11, namun masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa kelas 7.

The fluciating self. Sifat yang kontradiktif dalam diri remaja pada
gilirannya memunculkan fluktuasi diri dalam berbagai situasi dan lintas
waktu yang tidak mengejutkan. Seorang peneliti menjelaskan sifat
fluktuasi dari diri remaja tersebut dengan metafora. Diri remaja akan terus
memiliki ciri ketidakstabilan hingga masa dimana remaja berhasil
membentuk teori mengenai dirinya yang lebih utuh, dan biasanya tidak

terjadi hingga masa remaja akhir, bahkan hingga masa dewasa awal.
Real and ideal true dan false selves. Munculnya kemampuan remaja
untuk mengkontruksikan diri ideal mereka disamping diri yang
sebenarnya, merupakan sesuatu yang membingungkan bagi remaja
tersebut. Kemampuan untuk menyadari adanya perbedaan anatra diri yng
nyata dengan diri yang ideal menunjukan adanya peningkatan kemampuan
kognigtif mereka. Tetapi, carl rogers yakin bahwa adanya perbedaan yang

terlalu jauh antara diri yang nyata dengan diri ideal menunjukan ketidak
mampuan remaja untuk menyesuaikan diri. Penelitian yang dilakukan
strachen dan jones (1982) menunjukan bahwa pada pertenrgahan masa
remaja terjadi dikrepansi yang lebih besar antara diri yang nyata dengan
diri ideal dibandingkan dengan pada awal dan akhir masa remaja.

Remaja cenderung menunjukkan diri yang palsu ketika berada di lingkungan


teman-teman dikelasnya. Namun ketika berada bersama teman dekatnya remaja
menunjukkan yang asli. Diri yang palsu ditunjukkan oleh remaja untuk orang lain
mengaguminya, untuk mencoba perilaku atau peran baru yang disebabkan adanya
pemaksaan dari orang lain untuk berprilaku palsu, karena orang lain tersebut tidak
memahami diri remaja yang sebenarnya.

Social comparison. Sejumlah ahli perkembangan percaya bahwa,


dibandingkan dengan anak-anak, remaja lebih sering menggunakan
perbandingan sosial untuk mengevaluasi diri mereka sendiri. Namun
kesediaan remaja untuk mengakui bahwa mereka menggunakan
perbandingan social untuk mengevaluasi diri mereka sendiri cenderung
menurun pada masa remaja, karena menurut mereka perbandingan sosial
itu

tidaklah

diinginkan.

Menurut

remaja,

terungkapnya

motif

perbandingan sosial mereka akan membahayakan popularitas mereka.


Self-conscious. Karakter lain dari konsep diri remaja adalah bahwa
remaja lebih sadar akan dirinya dibandingkan dengan anak-anak dan lebih
memikirkan tentang pemahaman diri mereka. Remaja menjadi lebih
introspektif, yang mana hal ini merupakan bagian dari kesadaran diri
mereka dan bagian dari eksplorasi diri. Namun introspeksi tidak selalu
terjadi ketika remaja berada dalam keadaan isolasi sosial. Remaja
kadang-kadang meminta dukungan dan penjelasan dari teman temannya
memperoleh opini teman-temannya mengenai definisi diri yang baru

muncul.
Self-protective. Mekanisme untuk mempertahankan diri merupakan salah
satu aspek dari konsep diri remaja dalam upaya elindungi dirinya, remaja
cenderung menolak adanya karakteristik negatif dalam diri mereka.
6

Gambaran diri yang positif seperti menarik, suka bersenang senang dan
ingin tahu, lebih sering disebutkan sebagai bagian inti dari diri remaja
yang penting. Sedangkan gambaran diri yang negatif seperti jelek, egois

dan gugup lebih disebutkan sebagai bagian pinggir.


Unconscious. Konsep diri remaja melibatkan adanya pengenalan bahwa
komponen yang tidak disadari termasuk dalam dirinya, sama seperti
komponen yang disadari. Pengenalan seperti ini tidak muncul masa
remaja akhir. Artinya, remaja yang lebih tua lebih yakin akan adanya
aspek-aspek tertentu dari pengalaman mental diri mereka yang berada
diluar kesadaran atau kontrol mereka dibandingkan dengan remaja yang

lebih mudah.
Self-integraion.Terutama pada masa remaja akhir, konsep diri menjadi
lebih terintegrasi, dimana bagian yang berbeda beda dari diri secara
sistematik menjadi satu kesatuan. Remaja yang lebih tua, lebih mampu
mendeteksi adanya ketidakkonsistenan dalam gambaran diri mereka pada
masa sebelumnya ketika ia berusaha untuk mengkontruksikan teori
meneganai diri secara umum, atau suatu pemikiran yang terintegrasi dari
identitas. Ketika remaja menghadapi tekanan untuk membagi bagi diri
menjadi sejumlah peran, munculah pemikiran formal operasional yang
mendorong proses integrasi dan perkembangan dari suatu teori diri yang
konsisten dan koheren.

2.3 Karekteristik umum perkembangan peserta didik dan pemilihan media


pembelajaran yang tepat
Karakteristik anak usia sekolah menengah (SMP)
Dilihat dari taapan perkembangan yang disetujui oleh banyak ahli, anak usia
sekolah menengah (smp) berada pada tahpan perkembangan pubertas ( 10 -14
tahun ).terdapat sejumlah karakteristik yang menonjol pada usia smp ini, yaitu :
1.

Terjadinya ketidakseimbangan proposi tinggi dan berat badan.

2.

Mulai timbulnya ciri ciri seks sekunder

3.

Kecenderungan ambivalensi, antara keinginan untuk bebas dari dominasi


dengan keinginan bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi
kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua

4.

Senang membandingkan kaedah kaedah, nilai nilai etika atau norma


dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.

5.

Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi dan sifat


kemurahan dan keadilan tuhan

6.

Reaksi dan ekspesi emosi masih labil.

7.

Mulai mengembangkan standar dan harapan terhadap perilaku diri sendiri


yang sesuai dengan dunia sosial

8.

Kecenderungan minat dan pilihan karer relatif sudah lebih jelas.

Adanya karakteristik anak usia sekolah menengah yang demikian, maka guru
diharapkan untuk :
1.

Menerapkan model pembelajaran yang memisahkan siswa pria dan wanita


ketika membahas topik topik yang berkenaan dengan anatomi dan
fisiologi

2.

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan hobi dan


minatnya melalui kegiatan kegiatan yang positif.

3.

Menerapkana pendekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan


individu atau kelompok kecil.

4.

Meningkatkan kerja sama dengan orang tua dan masyarakat untuk


mengembangkan potensi siswa

5.

Tampil mejadi teladan yang baik bagi siswa

6.

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab

Karakteristik anak usia remaja (SMA)


Masa remaja (15-18 tahun ) merupakan masa peralhan anata masa
kehidupan anak anak dan masa kehidupan orang dewasa. Masa remaja sering
dikenal dengan masa pencarian jati diri. Masa remaja ditandai dengan sejumlah
karakteristik penting, yaitu :

1.

Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya

2.

Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa
yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

3.

Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakan secara efektif

4.

Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa


lainnya.

5.

Memilih dan mempersiapakn karier di masa depan sesuai dengan minat


dan kemampuan

6.

Mengembangkan sikap positif terhapdap pernikahan, hidup berkeluarga


dan memiliki anak.

7.

Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep konsep yang


diperlukan sebagai warga negara.

8.

Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial

9.

Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam


bertingkah laku.

10. Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas.


Berbagai karakteristik perkembangan masa remaja tersebut, menuntut
adanya pelayanan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini
dapat dilakukan guru, di antaranya :
1.

Memeberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi,


bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika.

2.

Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatif terhadap postur tubuh


atau kondisi dirinya.

3.

Menyediakan fasilitas yang memungkinkan siswa mengembangkan


keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakatknya, seperti saran
olahraga, kesenian dan sebagainya.

4.

Melatih siswa untuk mengembangkan resiliensi, kemampuan bertahan


dalam kondisi sulit dan penuh godaan

5.

Menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk


berfikir kritis, refleksi, dan positif.

6.

Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan


masalah dan mengambil keputusan

7.

Membantu siswa mnegmbangkan etos kerja yang tinggi dan sikap


wiraswasta

8.

Memupuk semanga keberagamaan siswa melalui pembelajaran agama


terbuka dan lebih toleran.

9.

Menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa, dan bersedia


mendengarkan segala keluhan dan problem yang dihadapinya.
Secara garis besarnya, media pembelajaran terbagi menjadi 10 golongan,

yaitu sebagai berikut :


No
1
2
3

Golongan Media

Contoh dalam Pembelajaran

Audio

Kaset audio, siaran radio, CD,

Cetak

telepon
Buku pelajaran, modul, brosur,

Audio-cetak

leaflet, gambar
Kaset audio yang dilengkapi
bahan tertulis

Proyeksi visual diam

Overhead transparansi (OHT),


Film bingkai (slide)

Proyeksi Audio visual diam

Film bingkai (slide) bersuara

Visual gerak

Film bisu

Audio Visual gerak

film gerak bersuara, video/VCD,


televise

Obyek fisik

Benda nyata, model, specimen

Manusia dan lingkungan

Guru, Pustakawan, Laboran

10

Komputer

CAI (Pembelajaran berbantuan


komputer), CBI (Pembelajaran
berbasis komputer)[2]

2.4 Karakteristik hubungan remaja dengan teman sebaya

10

Perkembangan kehidupan sosial remaja juga ditandai dengan gejala


meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. Sebagian besar
waktunya dihabiskan untuk berhubungan atau bergaul dengan teman teman
sebaya mereka.
Studi studi kontemporer tentang remaja, juga menunjukkan bahwa
hubungan yang positif dengan teman sebaya diasosiasikan dengan penyesuaian
sosial yang positif (santrock, 1998 ). Hartup (1982) misalnay mencatat bahwa
pengaruh teman sebaya yang harmonis selama masa remaja, dihubungkan dengan
kesehatan mental yang positif pada usia setengah baya (Hightower; 1990). Secara
lebih rinci, kelly dan hasnen (1987) menyebutkan 6 fungsi positif dari teman
sebaya, yaitu :
1.

Mengontrol impuls impuls agresif. Melalui interaksi dengan teman


sebaya, remaja belajar bagaimana memecahkan pertengahan pertengahan
dengan cara cara yang lain selain dengan tindakan agresi langsung.

2.

Memperoleh dorongan emosional dan sosial serta menjadi lebih


independen. Teman teman dan kelompok teman sebaya memeberikan
dorongan bagi remaja untuk mengambil peran dan tenggung jawab baru
mereka. Dorongan yang diperoleh remaja dari teman teman sebaya
mereka ini akan menyebabkan berkurangnya ketergantungan remaja pada
dorongan keluarga mereka.

3.

Meningkatkan keterampilan keterampilan sosial, mengembangkan


kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan
perasaan dengan cara cara yang lebih matang. Melalui percakapan dan
perdebatan dengan teman sebaya, remaja belajar mengekspresikan ide ide
dan perasaan perasaan serta mengembangkan kemampuan mereka
memecahkan masalah.

4.

Mengembangkan sikap sikap seksual dan tingkah laku peran jenis


kelamin terutama dibentuk melalui interaksi dengan teman sebaya. Remeja
belajar mengenai tingkah laku dan sikap sikap yang mereka asosiasikam
dengan menjadi laki laki dan perempuan muda

11

5.

Memperkuat penyesuaian moral dan nilai nilai. Umunya orang dewasa


menhajarkan kepada anak anak mereka tentang apa yang benar dan apa
yangb salah. Dalam kelompok teman sebaya, remaja mencoba mengambil
keputusan atas diri mereka sendiri. Remaja mencoba mengambil keputusan
atas diri mereka sendiri. Remaja mngevaluasi nilai nilai yang dimilikinya
dan yang dimiliki oleh teman sebayanya, serta memutuskan mana yang
benar. Proses mengavaluasi ini dapat membantu remaja mengembangkan
kemampuan penalaran moral

6.

Meningkatkan harga diri. Menjadi orang yang disukai oleh sejumlah besar
teman teman sebayanya membuat remaja merasa enak atau senang
tentang dirinya.
Sejumlah ahli teori lain menekankan pengaruh negatif dari teman

sebaya terhadap perkembangan anak anak dan remaja. Bagi sebagian remaja,
ditolak atau diabaikan oleh teman sebaya, menyebabkan munculnya perasaan
kesepian atau permusuhan.
Disamping itu, penolakan oleh teman sebaya dihubungkan dengan
kesehatan mental dan problem kejahatan. Sejumlah ahli teori juga telah
menjelaskan budaya teman sebaya remaja merupakan suatu bentuk kejahatan yang
merusak nilai nilai dan kontrol orang tua. Lebih dari itu, teman sebaya dapat
memperkenalkan remaja pada alkohol, obat obatan (narkoba), kenakan]lan, dan
berbagai bentuk perilaku yang dipandang orang dewasa sebagai maladaptif
(santrock, 1998)
Meskipun selama masa remaja kelompok teman sebaya memberikan
pengaruh yang besar, namun orangtua tetap memainkan peranan yang penting
dalam kehidupan remaja. Hal ini adalah karena antara hubungan dengan oang tua
dan hubungan dengan teman sebaya memberikan pemenuhan akan kebutuhan
kebutuhan yang berbeda dalam perkembangan remaja ( Savin William &
Berndt, 1990). Dalam hal kemajuan sekolah dan rencana karir misalnya, remaja
sering bercerita dengan orangtuanya. Orangtua menjadi sumber pentig yang
mengarahkan dan menyetujui dalam pembentukan tata nilai dan tujuan tujuan
masa depan. Sedangkan dengan teman sebaya, remaja belajar tentang hubungan

12

hubungan sosial di luar keluarga. Mereka berbicata tentang pengalaman


pengalaman dan minat minat yang lebih bersifat pribadi, seperti masalah
pacaran dan pandangan pandangan tentang seksualitas. Dalam masalah
masalah yang menjadi minat pribadinya ini umumnya remaja merasa lebih enak
berbicara dengan teman teman sebayanya, mereka percaya bahwa teman sebaya
akan memahani perasaan perasaan mereka dengan lebih baik dibandingkan
dengan orang orang dewasa.

13

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ketika anak anak memasuki masa remaja konsep diri mereka mengalami
perkembangan yang sangat kompleks dan melibatkan sejumlah aspek dalam diri
mereka.Karakteristik anak remaja bisa dilihat dalam beberapa aspek, yaitu dari
Pertumbuhan fisik, perkembangan seksual, cara berfikir kausalitas, emosi yang
meluap-luap, perkembangan sosial, perkembangan moral dan perkembangan
kepribadian.
Dalam hal ini peran orang tua sangatlah penting dalam kehidupan remaja
karena antara hubungan dengan oang tua memberikan pemenuhan akan
kebutuhan-kebutuhan yang berbeda dalam perkembangan remaja. Orangtua
menjadi sumber pentig yang mengarahkan dan menyetujui dalam pembentukan
tata nilai dan tujuan-tujuan masa depan.
Guru sebagai orang tua kedua bagi siswa di sekolah juga mempunyai
peranan yang sama penting dengan orang tua, dalam masa perkembangan remaja
guru harus memberikan arahan arahan tentang apa yang terjadi dalam diri
remaja, guru pun harus memberikan contoh yang baik karna dalam masa
perkembangannya, siswa cenderung meniru apa yang mereka lihat sehari hari.
Media pembelajaran adalah salah satu faktor penting dalam menunjang
keberhasilan suatu proses pembelajaran. Oleh karena itu, para pendidik
diharuskan untuk jeli memilih media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
peserta didik agar memperoleh hasil yang maksimal.

3.2 Saran

14

Kemajuan atau kemunduran generasi muda selaku generasi penerus di


masa yang akan datang sangat tergantung dari pendidikan yang diperolehnya di
masa kini, maka dari itu sudah seharusnya para pendidik dapat memanfaatkan
media pembelajaran untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar.

DAFTAR PUSTAKA
Destami. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya. 2010
Abu Ahmadi dan Munawar sholeh. Psikologi perkembangan. PT. Rineka
Cipta. 2005
Kustandi, Cecep, dan Sujipto, Bambang. 2011. Media Pembelajaran Manual dan
Digital. Ghalia Indonesia: Bogor.
Sadiman,Arif, dan Raharjo. 1990. Media Pendidikan. Rajawali: Jakarta.

15