Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACARA PENYULUHAN

TERAPI KELUARGA PADA GANGGUAN JIWA

Disusun Oleh :
Cita Utami, S.Kep
Eka Riyana Wati, S.Kep
Ida Rovida Missa, S.Kep
Natalia Puspitasari, S.Kep
Novida Ayu Mahartika, S.Kep

PROGRAM PENDDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATANHARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN


POKOK BAHASAN

: Perawatan Pasien dengan Gangguan Jiwa

SUB POKOK BAHASAN

: Terapi Keluarga Pada Gangguan Jiwa

SASARAN

: Keluarga pasien di Poli Jiwa RSJ Grhasia

WAKTU

: 30 Menit

HARI/TANGGAL

: Jumat, 27 Februari 2015

TEMPAT

: Poli Jiwa RSJ Grhasia

PENYULYUH

: Mahasiswa Co Ners STIKES Harapan Bangsa


Purwokerto

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan bidang keperawatan jiwa, seiring perkembangan waktu
terus berkembang untuk meningkatkan kualitas pelayanannya, antara lain
dengan pemberian terapi modalitas, yaitu terapi individu, kelompok
lingkungan, komplementer, psikosomatik dan terapi keluarga. Disamping
juga memberikan terapi medis, konseling, psikoterapeutik dan pendidikan
kesehatan. Asuhan keperawatan jiwa merupakan asuhan keperawatan
spesialis yang tetap diberikan secara holistik dan komprehensif berdasarkan
respon

dan

kebutuhan,

yang

berupaya

untuk

meningkatkan

dan

mempertahankan perilaku yang terkonstribusi pada fungsi yang terintergrasi


baik individu, keluarga, kelompok, organisasi atau komunitas.
Perawat jiwa dalam memberikan asuhan keperawatan harus
memberikan asuhan sepanjang rentang asuhan yang bersifat komprehensif
dan berkesinambungan. Asuhan keperawatan yang diberikan mencakup pada
pencegahan primer, sekunder dan tersier. Asuhan keperawatan yang dilakukan
salah satunya adalah dengan pencegahan primer, secara spesifik adalah
kegiatan pemberian pendidikan kesehatan atau penyuluhan kesehatan
terhadap keluarga, dukungan sistem sosial dan pengubahan lingkungan.
Pemberian pendidikan kesehatan kepada keluarga, akan memperkuat
dukungan sistem dukungan sosial bagi klien gangguan jiwa, dengan tujuan
untuk menyingkirkan factor pencetus terjadinya stressor dan meningkatkan
koping klien dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

B. TUJUAN
1. Tujuan instruksionsl umum
Setelah mendapat penyuluhan selama 30 menit tentang terapi keluarga
bagi penderita gangguan jiwa, diharapkan keluarga klien dapat memahami
serta mengaplikasikan tentang bagaimana cara merawat penderita
gangguan jiwa.
2. Tujuan instruksional khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, keluarga pasien dapat :
a. Menyebutkan pengertian gangguan jiwa
b. Mengetahui tanda dan gejala gangguan jiwa
c. Mengetahui pengertian terapi keluarga
d. Mengetahui tujuan terapi keluarga
e. Mengetahui manfaat terapi keluarga
f. Mengetahui indikasi dilakukan terapi keluarga
g. Mengetahui peran keluarga dalam terapi keluarga
C. STRATEGI PELAKSANAAN
1. Metode

: Ceramah dan Tanya Jawab

Presentator

Moderator

Anggota

2. Media

: Leaftlet

3. Waktu

: Pukul 08.00-08.30 WIB

4. Hari/Tanggal

: Jumat, 27 Februari 2015

5. Tempat

: Poli Jiwa RSJ Grhasia Yogyakarta

6. Garis besar materi:


a. Pengertian gangguan jiwa
b. Tanda dan gejala gangguan jiwa
c. Pengertian terapi keluarga
d. Tujuan terapi keluarga
e. Manfaat terapi keluarga

f. Indikasi dilakukan terapi keluarga


g. Peran keluarga dalam terapi keluarga
D. PROSES PELAKSANAAN
NO

KEGIATAN

1.

2.

RESPON PESERTA

WAKTU

Pembukaan
a. Penyampaian salam

a. Membalas salam

b. Perkenalan

b. Memperhatikan

c. Menjelaskan topic penyuluhan

c. Memperhatikan

d. Menjelaskan tujuan

d. Memperhatikan

5 menit

e. Menjelaskan waktu pelaksanaan


e. Memperhatikan
Penyampaian
materi
(Metode Mendengarkan,
Ceramah)

Memperhatikan

a. Pengertian gangguan jiwa

menyimak penjelasan serta

b. Tanda dan gejala gangguan jiwa

mencermati

c. Pengertian terapi keluarga

disampaikan

materi

dan
15 menit

yang

d. Tujuan terapi keluarga


e. Manfaat terapi keluarga
f. Indikasi dilakukan terapi keluarga
g. Peran
3.

keluarga

dalam

terapi

keluarga
Penutup
a. Kesimpulan
b. Evaluasi
c. Memberikan reinforcement positif
d. Memberikan salam penutup

a. Mendengarkan
b. Menyampaikan keluhan
c. Mendengarkan
d. Menjawab salam

E. SETTING TEMPAT
Penyuluh berdiri menerangkan materi dan peserta penyuluhan duduk tertata
rapi.

10 me
nit

Keterangan :
: Penyuluh
: Peserta
F. KRITERIA EVALUASI
Menanyakan pada peserta penyuluhan tentang :
1. Prosedur : test akhir pertemuan
2. Jenis Soal : Lisan
3. Butir-butir Soal ; Menanyakan pada peserta penyuluhan tentang :
Pengertian gangguan jiwa
Tanda dan gejala gangguan jiwa
Pengertian terapi keluarga
Tujuan terapi keluarga
Manfaat terapi keluarga
Indikasi dilakukan terapi keluarga
Peran keluarga dalam terapi keluarga
G. LAMPIRAN MATERI
a. Pengertian
Gangguan jiwa adalah kelainan perilaku yang terjadi akibat ketidak
mampuan manusia menghadapi kondisi stress.
Kriteria jiwa sehat (WHO), adalah:
1. Menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan walaupun buruk.
2. Memperoleh kepuasan diri dari sahayanya
3. Lebih puas memberi dari pada menerima
4. Bebas/relatif dari ketegangan-kecemasan
5. Berhubungan dengan orang lain secara memuaskan, tolong menolong
6. Kekecewaan dipakai sebagai pengalaman dikemudian hari.
7. Rasa permusuhan diarahkan pada penyelesaian yang konstruktif-kreatif.
8. Daya kasih sayang besar
Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus
dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan

karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya


sendiri. (Djamaluddin, 2001).
Gangguan jowa dalah gangguan dalam cara berpikir, kemauan, emosi
dan tindakan. (Yosef, 2007)
b. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala gangguan jiwa menurut Yosep (2007) adalah sebagai
berikut :
1. Ketegangan (tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas,
perbuatan-perbuatan yang terpaksa (convulsive), hysteria, rasa lemah,
tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk.
2. Gangguan
kognisi
pada
persepsi:
merasa
mendengar
(mempersepsikan)

sesuatu

bisikan

yang

menyuruh

membunuh,melempar, naik genting, membakar rumah, padahal orang


di sekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya tidak
ada hanya muncul dari dalam diri individu sebagai bentuk kecemasan
yang sangat berat dia rasakan. Hal ini sering disebut halusinasi, klien
bias mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang
sebenarnya tidak ada menurut orang lain.
3. Gangguan kemauan: klien memiliki kemauan yang lemah (abulia)
susah membuat keputusan atau memulai tingkah laku, susah sekali
bangun pagi, mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor, bau
dan acak-acakan.
4. Gangguan emosi: klien merasa senang, gembira yang berlebihan
(Waham kebesaran). Klien merasa sebagai orang penting, sebagai raja,
pengusaha, orang kaya, titisan Bung karno tetapi di lain waktu ia bias
merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi) sampai ada ide
ingin mengakhiri hidupnya.
c. Pengertian terapi keluarga
Terapi keluarga adalah pendekatan terapeutik yang melihat masalah
individu dalam konteks lingkungan khususnya keluarga dan menitik
beratkan pada proses interpersonal.

Terapi keluarga merupakan intervensi spesifik dengan tujuan membina


komunikasi secara terbuka dan interaksi keluarga secara sehat.
d. Tujuan terapi keluarga
Menurunkan konflik kecemasan keluarga
Meningkatkan kesadaran keluarga thd kebutuhan masing-masing
anggota keluarga
Meningkatkan kemampuan penanganan thd krisis
Mengembangkan hubungan peran yg sesuai
Membantu keluarga menghadapi tekanan dari dlm maupun dari luar
anggota keluarga
Meningkatkan kesehatan jiwa keluarga sesuai dg tingkat perkembangan
anggota keluarga
e. Manfaat terapi keluarga
Bagi Klien:
Mempercepat proses penyembuhan
Memperbaiki hubungan interpersonal
Menurunkan angka kekambuhan
Bagi Keluarga:
Memperbaiki fungsi & struktur keluarga
Keluarga mampu meningkatkan pengertian thd klien shg lebih dpt
menerima, toleran & menghargai klien sbg manusia
Keluarga dpt meningkatkan kemampuan dlm membantu klien dlm
proses rehabilitasi
f. Indikasi dilakukan terapi keluarga
Konflik perkawinan, sibling konflik, konflik beberapa generasi
Konflik orang tua & anak
Proses transisi dlm keluarga ; pasangan baru menikah, kelahiran anak
pertama, anak mulai remaja

Terapi individu yg perlu melibatkan anggota keluarga lain


Tdk ada kemajuan terapi individu
g. Peran keluarga dalam terapi keluarga
Membuat suatu keadaan dimana anggota keluarga dapat melihat bahaya
terhadap diri klien dan aktivitasnya.
Tidak merasa takut dan mampu bersikap terbuka
Membantu anggota bagaimana memandang orang lain
Bertanya dan memberikan informasi tak berbelit, memudahkan dalam
memberi dan menerima informasi yang memudahkan bagi anggota
keluarga untuk melakukannya.
Membangun self esteem
Menurunkan ancaman dengan latar belakan aturan atau interaksi
Menurunkan ancaman dengan struktur pembahsan yang sistematis
Pendidikan ulang anggota untuk bertangung jawab.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000 . IONI . Jakarta: Sagung Seto
Gail, S.W. 2006 .Buku saku keperawatan Jiwa edisi 5. Jakarta: EGC
Iyus, Y. 2009. Keperawatan jiwa. Bandung: PT Refika Aditama
Rasmun. 2001 . Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan
Keluarga Jakarta: Sagung Seto