Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

1. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah :
a. Mahasiswa mampu menerapkan, mengadaptasi dan memodifikasi
metode-metode farmakologiuntuk penilaian efek obat
b. frMahasiswa dapat memperlakukan dan menangani hewan percobaan
seperti mencit dan tikus untuk percobaan farmakologi dengan baik.
c. Mahasiswa dapat menghargai hewan percobaan karena perannya
dalam mengungkapkan fenomena-fenomena kehhidupan.
d. Mengetahui cara pemberian obat
e. Mahasiswa dapat mengenal dan mempraktekkan cara pemberian obat
dengan berbagai rute.
f. Mengenal teknik-teknik pemberian obat melalui berbagai rute
pemberian obat
g. Mengetahui bagaimana pengaruh obat yang diberikan secara berbeda
rute pemberian

2. Tinjaun Pustaka
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang
kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai
model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan
tertentu, antara lain persyaratan genetis / keturunan dan lingkungan yang
memadai dalam pengelolaannya, disamping faktor ekonomis, mudah tidaknya
diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya
pada manusia. Pemanfaatan hewan percobaan menurut pengertian secara
umum ialah untuk penelitian yang mendasarkan pada pengamatan aktivitas
biologik.Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya,
di mana faktor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis
yang terlihat/karakteristik hewan percobaan, maka ada 4 golongan hewan,
yaitu :

1). Hewan liar.


2). Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka.
3). Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang
dipelihara dengan sistim barrier (tertutup).
4). Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang
dipelihara dengan sistem isolator Sudah barang tentu penggunaan hewan
percobaan tersebut di atas disesuaikan dengan macam percobaan biomedis
yang akan dilakukan. Semakin meningkat cara pemeliharaan, semakin
sempurna pula hasil percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, apabila
suatu percobaan dilakukan terhadap hewan percobaan yang liar, hasilnya
akan berbeda bila menggunakan hewan percobaan konvensional ilmiah
maupun hewan yang bebas kuman.
Hewan percobaan yang biasa digunakan pada penelitian farmakologi antara
lain :
1. Mencit
2. Tikus
3. Marmot
4. Kelinci
5. Merpati
6. Ayam
7. Itik
8. Kerbau
9. Kodok
10. Tupai

: Mus Musculus
: Rattus Morvergicus
: Cavis porsellus
: Oryctolagus cuniculus
: Columba livia
: Gallus domesticus
: Anasplatyrhynchos domesticus
: Bubalus buballs
: Xenophus laevis
: Mesocricetus auratus

Hewan coba / hewan uji atau sering disebut hewan laboratorium adalah
hewan yang khusus diternakan untuk keperluan penelitian biologik.Hewan
percobaan digunakan untuk penelitian pengaruh bahan kimia atau obat pada
manusia.
Peningkatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kesehatan
dibarengi dengan peningkatan kebutuhan akan hewan uji terutama mencit.
Penggunaan mencit ini dikarenakan relatif mudah dalam penggunaanya,
ukurannya yang relatif kecil, harganya relatif murah, jumlahnya peranakannya
banyak yaitu sekali melahirkan bisa mencapai 16-18 ekor, hewan itu memiliki

sistem sirkulasi darah yang hampir sama dengan manusia serta tidak memiliki
kemampuan untuk muntah karena memiliki katup dilambung. Sehingga banyak
digunakan untuk penelitian obat.
Perbedaan antara tikus dan manusia cukup besar. Memang suatu percobaan
farmakologi maupun toksikologi hanya dapat berarti bila dilakukan pada manusia
sendiri. Tetapi pengalaman telah membuktikan bahwa hasil percobaan
farmakologi pada hewan coba dapat diekstrapolasikan pada manusia bila beberapa
spesies hewan pengujian menunjukkan efek farmakologi yang sama.
Adapun tujuan penggunaan hewan percobaan sejalan dengan arah bidang ilmu
ialah sebagai berikut.
1.

Bidang Toksikologi

Pengujian toksikologi dan menggunakan hewan percobaan yang dilakukan


industri bertujuan agar bahan kimia yang dibutuhkan pada bahan makanan tepat
dalam arti aman buat konsumen,efektif daya kerjanya dan masih mendatangkan
keuntungan bagi perusahaan.status kesehatan berdasarkan pemeriksaan yaitu:

2.

Ektoparasit dan endoparasit


Patologi
Profil hematologi dan kimia darah
Penyakit menular

Bidang Patologi

Para ahli patologi memakai hewan percobaan terutama untuk meneliti atau
mengamati adanya perubahan-perubahan petologik jaringan tubuh yang
disebabkan oleh:
Terjadi kontak antar spesies (infeksi mikroorganisme atau invasi
parasit pada hewan atau manusia).
Stress karena faktor lingkungan
(suhu,kelembaban,sanitasi,ventilasi,kepadatan dan lain-lain).
Keracunan makanan
Deficiensi makanan (deficiensi vit.A,deficiensi vit.E)

Hewan percobaan juga dimanfaatkan oleh ahli patologi untuk penelitian tentang
tumor dan kanker bahkan hewan percobaan juga dimanfaatkan sebagai lahan
menanam dan menghasilkan sel-sel tumor ini dapat dimanfaatkan oleh ahli
mikrobiologi untuk membuat biakan guna membiakan virus,selain itu dapat juga
digunakan untuk mendeterminasi penyakit berdasarkan perubahan-perubahan
jaringan dan organ tubuh yang terjadi hewan percobaan tersebut mendapat
perlakuan (keracunan karena mengisap chloroform,keracunan aflaktoksin melalui
ransum).
3.

Bidang Parasitologi

Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian parasitologi dikehendaki


berkualitas baik,sebelum untuk melangkah untuk melakukan penelitian dalam
bidang parasitologi,kita perlu mengetahui interaksi antar parasit sendiri.misalnya
pada hewan mencit yang diberi antibiotik utuk mengusir mikro flora dalam usus
dan kemudian diganti oleh mikroorganisme tertentu.
4.

Bidang Imonologi

Respon imun pada hewan percobaan sangat dipengarui oleh berbagai faktor,yaitu
perihal infeksi oleh bakteri,virus maupun parasit,stress,faktor diet/ransum dan
peradangan non spesifik.
Hewan percobaan dapat dikelompokan menjadi 3,yaitu :
Pengelompokan berdasarkan asal hewan
Pengelompokan berdasarkan kandungan organisme dalam tubuhnya,
Pengelompokan berdasarkan kondisi organ dalam tubuh.

Cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula
diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah
berbeda-beda dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil)
serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan
atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan

penyuntikan atau pengambilan darah, misalnya) dan juga bagi orang yang
memegangnya (Katzug, B.G, 1989).
Perlakuan terhadap hewan percobaan
a. Karakter mencit
Dalam laboratorium mencit mudah ditangani, ia bersifat penakut,
fotofobik

cenderung

berkumpul

sesamanya,

mempunyai

kecenderungan unt uk bersembunyi dan lebih aktif pada malam hari,


suhu tubuh normal 37,4C dan laju reservesi 163/menit.
b. Cara memperlakukan mencit
Mencit diangkat dengan memegangnya pada ujung ekornya dengan
tangan kanan dan dibiarkan menjangkau kawat dengan kaki depannya.
Dengan tangan kiri, kulit tengkuknya dijepit diantara telunjuk dan ibu
jari. Kemudian ekornya dipindahkan dari tangan kanan ke antara jari
manis dan jari kelingking tangan kiri, hingga mencit cukup erat
dipegang. Pemberian obat kini dapat di mulai.
c. Cara pemberian obat
a) Oral : diberikan dengan alat suntik yang dilengkapi dengan jarum
oral.kanulla dimasukkan ke dalam mulut, kemudian perlahan-lahan
dimasukkan

melalui

tepi

langit-langit

kebelakang

sampai

esophagus.
b) Subkutan : diberikan dibawah kulit pada daerah tengkuk.
c) Intravena : penyuntikan dilakukan pada vena ekor menggunakan
jarum nomor 24. Mencit dimasukan kedalam pemegang (darai
kawat/bahan lain) dengan ekornya menjulur keluar. Lalu ekornya
dimasukkan ke dalam air hangat untuk mendilatasi vena guna
mempermudah penyuntikkan.
d) Intramuscular : menggunakan jarum nomor 24 disuntikkan
kedalam otot paha.
e) Intraperitoneal : untuk cara ini hewan dipegang punggungnya
sehingga kulit abdomennya menjadi tegang.pada saat penyuntikan
posisi kepala mencit lebih rendah dari abdomennya. Jarum
disuntikkan dengan bentuk sudut 10 dengan abdomen agak

menepi dari garis tengah untuk menghindari terkenanya kandung


kencing. Jangan pula terlalu tinggi agar tidak mengenai hati.
d. Cara mengorbankan hewan
Pengorbana hewan sering dilakukan apabila terjadi rasa sakit yang hebat atau
lama akibat suatu eksperimen, ataupun rasa sakit sebagian dari suatu eksperimen.
Apabila hewan mengalami kecelakaan, menderita penyakit atau jumlahnya terlalu
banyak dibandingkan dengan kebutuhan, juga dilakukan etanasi terhadap hewan.
Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi
dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini
berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim dan getah-getah
fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan
bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu
akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat (Katzug, B.G, 1989).
Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya
serta kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah
seperti berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik


Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute
Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter
Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacammacam rute

3. Alat dan Bahan


Bahan :
a. Tikus (Mus Musculus)
b. Mencit (Rattus Movergicus)
Alat :
a. Alat suntik
b. Jarum suntik

4. Cara Kerja

Cara pemberian obat :


a. Oral : Diberikan dengan alat suntik yang dilengkapi dengan jarum oral.
Kanulla

dimasukkan

kedalam

mulut,

kemudian

perlahan-lahan

dimasukkan melalui tepi langit-langit ke belakang sampai esophagus.


b. Subkutan : Diberikan dibawah kulit pada daerah tengkuk
c. Intravena : Penyuntikkan dilakukan pada vena ekor menggunakan jarum
nomor 24. Mencit dimasukkan dalam pemegang (darai kawat atau bahan
lain) dengan ekornya menuju keluar. Lalu ekornya dimasukkan kedalam
air hangat untuk medilatasi vena guna mempermudah penyuntikan.
d. Intramuskular : Menggunakan jarum nomor 24 disuntikkan kedalam otot
paha.
e. Intraperitoneal : Untuk cara ini hewan dipegang punggungnya sehingga
kulit abdomennya menjadi tegang. Pada saat penyuntikan posisi kepala
mencit lebih rendah dari abdomennya. Jarum disuntikkan dengan
membentuk sudut 10 derajat dengan abdomen agak menepi dari garis
tengah untuk menghindari terkenanya kandung kencing. Jangan pula
terlalu tinggi agar tidak mengenai hati.

5. Hasil Dan Pembahasan


Tabel Perbandingan Luas Permukaan Hewan Percobaan Untuk Konversi
Dicari
Dik

20g
Mencit

200g
Tikus

400g
1,5 kg
marmut kelinci

2,0 kg
kucing

4,0

12,0

20g
Mencit
200g
Tikus
400g
Marmot
1,5 kg
Kelinci
2,0 kg
Kucing
4,0 kg
Kera
12,0 kg
Anjing
70,0 kg

1,0

7,0

12,29

27,8

0,14

1,0

1,74

0,08

0,57

0,04

29,7

kg
kera
64,1

kg
anjing
124,2

3,33

4,2

9,2

17,8

56,0

1,0

2,25

2,4

5,2

10,2

31,5

0,25

0,44

1,0

1,06

2,4

4,5

14,2

0,03

0,23

0,41

0,92

1,0

2,2

4,1

13,0

0,016

0,11

0,19

0,42

0.92

1,0

1,9

6,1

0,008

0,06

0,10

0,22

0,24

0,52

1,0

3,1

0,0026

0,018

0,031

0,07

0,013

0,16

0,32

1,0

70,0 kg
Manusia
387,9

Manusia
1. Diketahui : BB Mencit = 20 g 0,02 kg
Dosis = 100 mg/Kg BB
C = 20 mg/ml
Ditanya : VAO (Volume Administrasi Obat) ?
Dijawab :
VAO = BB(Kg) x Dosis (mg/kg BB)
Konsentrasi Obat (mg/ml)
= 0,02 kg x 100 mg/kg BB
20 mg/ml
= 2 mg
20 mg/ml
= 0,1 ml
2. Diketahui : BB Mencit = 20 g 0,02 kg
Dosis = 100 mg/Kg BB
C = 0,2 % (b/v) = 0,2 gram = 200 mg = 2 mg/ml
100 ml 100 ml
Ditanya : VAO (Volume Administrasi Obat) ?
Dijawab

VAO = BB(Kg) x Dosis (mg/kg BB)


Konsentrasi Obat (mg/ml)
= 0,02 kg x 100 mg/kg BB
2 mg/ml
= 2 mg
2 mg/ml
= 1 ml
3. Diketahui : BB Mencit = 20 g 0,02 kg
Dosis = 100 mg/Kg BB
Ditanya : Konsentrasi Obat (mg/ml) ?
Dijawab :
Ketentuan :
VAO = 1% BB

VAO = 1 x 20 gram BB
100
= 0,2 ml
VAO = BB(Kg) x Dosis (mg/kg BB)
Konsentrasi Obat (mg/ml)
0,2 = 0,02 x 100
C
0,2 = 2
C
C =2
0,2
C = 10 mg/ml

PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, di lakukan berbagai macam cara pemberian obat
urethan kepada 8 mencit. Pada awalnya mencit bersifat normal (aktif berlari,
memanjat, dll). Kemudian disuntikkan obat urethan ke masing-masing mencit
dengan berbagai macam cara pemberian obat, yaitu oral, intra vena, intra
peritoneal, intra muscular, dan subcutan. Dosis yang diberikan kepada masingmasing mencit berbeda-beda, sesuai dengan berat badan mencit masing-masing.
Setelah pemberian urethan, perubahan mulai terjadi pada mencit, namun
ada 1 perbedaan pada hasilnya, yaitu perbedaan pada waktu obat mulai bereaksi
terhadap masing-masing mencit. Injeksi melalui vena dilihat paling cepat
memberikan efek obatnya. Itu disebabkan obat langsung diinjeksikan ke dalam
pembuluh darah vena , sehingga distribusi dan absorpsi obat lebih cepat.

Sedangkan oral sangat lama kerjanya, dikarenakan obat harus diabsorpsi


melalui saluran cerna terlebih dahulu.dan juga hewan percobaan rentan sekali mati
dikarnakan adanya kesalahan pada teknis pemberian obat kali ini yaitu
perhitungan dosis, dimana dosis yang diberikan harus sesuai dengan bobot hewan
coba, yang berarti setiap hewan coba memiliki dosis yang berbeda-beda.
Percobaan pertama diberikan pada jalur peroral dan intravena. Pemberian
obat secaraoral tidak memperlihatkan efek obat yang diinginkan, rata-rata
memerlukan waktu yanglama untuk dapat mencapai onsetnya. Hal ini disebabkan
banyaknya faktor yangmempengaruhi bioavailabilitas obat, yaitu jumlah obat
dalam persen terhadap dosis yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh
atau aktif. Salah satu faktor yangmempengaruhi yaitu faktor obat itu sendiri,
misalnya sifat-sifat fisikokimia obat.Sifat fisikokimia obat yang mempengaruhi,
antara lain
1.Stabilitas pada pH lambung,
2.stabilitas terhadap enzim-enzim pencernaan,
3.stabilitas terhadap flora usus
4.kelarutan dalam air atau cairan saluran cerna
5.ukuran molekul,6.derajat ionisasi pada pH salauran cerna,
7.kelarutan bentuk non-ion dalam lemak,
8.stabilitas terhadap enzim-enzim dalam dinding saluran cerna, dan
9.stabilitas terhadap enzim-enzim di dalam hati.

6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan maka dapat disimpulkan :

10

1. Karakter mencit cenderung penakut dan lebih suka berkumpul dengan


sesama. Pergerakannnya lebih banyak dibandingkan dengan tikus dan
lebih susah ditangani ketimbang tikus.
2. Karakter tikus lebih mudah ditangani dibandingkan mencit karena minim
pergerakan, namun apabila tikus tersebut diperlakukan secara kasar,
biasanya akan menyerang si pemegang.
3. Praktikum kali ini rute pemberian obat dilakukan dengan :
a. Oral
: diberikan dengan alat suntik yang dilengkapi dengan
b.
c.
d.
e.

jarum oral
Subkutan
: injeksi dimasukkan sampai kebawah kulit pada tengkuk
Intramuskular : injeksi melalui otot pangkal paha
Intravena
: penyuntikan dilakukan pada vena ekor
Intraperitoneal : injeksi melalui kedalam ronnga perut ( tidak sampai
masuk ke usus)

7. Jawaban atas Pertanyaan


a. Sebutkan keuntungan dan kerugian pemakaian masing-masing hewan
percobaan ?
Jawaban :
1. Mencit
Keuntungan :
- Cendrung berkumpul bersama
- Penakut, fotofobik
- Lebih aktif pada malam hari
- Aktivitas terhambat dengan kehadiran manusia
- Tidak mengigit
Kerugian :
-

Pergerakannnya lebih banyak dibandingkan dengan tikus dan lebih susah

ditangani ketimbang tikus


2. Tikus
Keuntungan :
-

Sangat cerdas
Tidak begitu fotofobik
Aktivitasnya tidak terhambat dengan kehadiran manusia
Dapat hidup sendiri di kandangnya
Kerugian :

11

Bila diperlakukan kasar atau dalam keadaan defisiensi nutrisi, cendrung


menjadi galak dan sering menyerang

b. Mencit adalah hewan yang paling banyak digunakan dalam eksperimen


laboratoris. Mengapa ?
Jawaban :
Mencit (mus musculus) dapat dipergunakan sebagai hewan coba karena
memiliki struktur organ dalam yang hampir sama dengan manusia.
Penggunaan mencit ini dikarenakan relatif mudah dalam penggunaanya,
ukurannya yang relatif kecil, harganya relatif murah, jumlahnya
peranakannya banyak yaitu sekali melahirkan bisa mencapai 16-18 ekor,
hewan itu memiliki sistem sirkulasi darah yang hampir sama dengan
manusia serta tidak memiliki kemampuan untuk muntah karena memiliki
katup dilambung. Sehingga banyak digunakan untuk penelitian obat.
c. Faktor- faktor apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih spesies
hewan percobaan untuk suatu penelitian laboratoris yang bersifat skrining
ataupun suatu efek khusus.
Jawaban :
Faktor internal seperti usia, kelamin, ras, sifat kinetik, status kesehatan,
status nutrisi, bobot tubuh, luas permukaan tubuh, yang mempengaruhi
terhadap

manipulasi

farmakologi

yang

dialami.

Berbagai

faktor

lingkungan juga dapat mempengaruhi respon yang diberikan hewan


percobaan.
d. Kemukakan 3 faktor lain yang dapat memodifikasi respon hewan
percobaan terhadap obat dengan memberikan contoh-contoh.
Jawaban :
Faktor internal, seperti usia, kelamin, ras, sifat kinetik, status kesehatan,
status nutrisi, bobot tubuh, luas permukaan tubuh.
Faktor lingkungan, seperti kandang, suasana asing atau baru, penempatan
hewan, pengalaman hewan sebelum menerima obat dan keadaan ruangan
tempat hidup.
Faktor eksternal, seperti suplai oksigen, pemeliharaan lingkungan
fisiologis dan isosmotik, pemeliharaan kebutuhan struktural ketika

12

menyiapkan jaringan atau organ untuk eksperimen turut menjamin bahwa


hasil eksperimen dapat dipercaya.
e. Bagaimana secara teoritis atau praktis pengaruh faktor-faktor tersebut turut
diperhatikan ketika memberikan obat kepada seseorang ?
Jawaban :
Meskipun belum semua faktor yang dapat diketahui dapat memodifikasi
respon hewan percobaan terhadap suatu obat, dan meskipun dapat
dipersoalkan seberapa jauh keadaan-keadaan yang terlalu artificial harus
dipatuhi ketika melakukan eksperimen, namun untuk mempelajari efek
serta intensitas efek tersebut yang sesungguhnya, dapat diterima bahwa
faktor-faktor luar yang memodifikasi hasil-hasil eksperimen sewajarnya
dihindari.

8. Daftar Pustaka

http://praktikum-farmakologi.blogspot.com/p/pengenalan-hewancoba.html?m=1
Diktat penuntun praktikum farmakologi farmasi.2013

Anief, M., 1993, Farmasetika, Yogyakarta : Gadjah mada University Press


Priyanto, 2008, Farmakologi Dasar Edisi II, Depok: Leskonfi
Setiawati, A. dan F.D. Suyatna, 1995. Pengantar Farmakologi Dalam
Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Editor: Sulistia G.G. Jakarta: Gaya

Baru. Hal. 3-5.


Sulaksono, M.E., 1992. Faktor Keturunan dan Lingkungan Menentukan
Karakteristik Hewan Percobaan dan Hasil Suatu Percobaan Biomedis.

Jakarta.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15_FaktorKeturunandanLingkungan.

pdf/15_FaktorKeturunandanLingkungan.html
http://linggawidayana.blogspot.com

13