Anda di halaman 1dari 34

BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM

MODUL
REPRODUKSI
Semester 5

Penyusun:

Tim Modul Reproduksi

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2013

PRAKTIKUM HISTOLOGI

A. PRAKTIKUM : DAUR HAID DAN HORMON FISIOLOGIS


Sasaran Belajar
Setelah mengikuti praktikum I Modul Reproduksi, mahasiswa memahami
1. Struktur normal mikroskopik organ reproduksi perempuan.
2. Pengaruh hormonal dalam daur haid terhadap mukosa vagina dan getah serviks.
3. Pemeriksaan hormon reproduksi (LH, FSH, Prolaktin, Estradiol)
4. Kelainan endometrium yang menyebabkan gangguan haid.

PEMBAHASAN :
A. OVARIUM:
Pelajarilah pada sediaan Anda:
1. Korteks ovarium:

a. Epitel Germinativum: epitel selapis (torak, pada masa anak-anak, kuboid pada masa
reproduktif dan gepeng pada masa lansia)
b. Tunika Albuginea, tepat di bawah epitel germinativum terdiri atas lapisan jaringan ikat padat
yang terutama terdiri atas serat-serat kolagen.
c. Folikel dalam berbagai fase perkembangan (Folikulogenesis).
Folikulogenesis
Pelajari struktur folikel dalam berbagai tahapan perkembangan:
a. Folikel primordial, epitel folikel masih selapis gepeng meliputi oosit primer
b. Folikel primer dengan selapis epitel folikel kuboid dan epitel folikel berlapis meliputi
oosit primer
c. Folikel sekunder oosit primer diliputi epitel folikel berlapis, yang sudah mempunyai
ruang-ruang folikel dan yang sudah menjadi 1 antrum folikel,
d. Folikel tersier, antrum, membran granulosa, kumulus ooforus, zona pellucida, korona
radiata, oosit primer.
e. Teka interna yang mempunyai sel-sel pensekresi hormon dan Teka eksterna jaringan ikat,
mulai terlihat pada folikel fase apa?
f. Korpus luteum: sel-sel penghasil hormon, Lutein Granulosa dan Lutein Teka.
g. Korpus albikans. Apabila tidak terjadi kehamilan, maka korpus luteum akan berdegenerasi
menjadi jaringan ikat.
1

h. Folikel atretis: degenerasi folikel yang terjadi pada berbagai tahap perkembangan
2. Medula ovarium: terdapat banyak pembuluh darah, di antara jaringan ikat.

B. UTERUS:
a. Lapisan pada uterus: endometrium, miometrium, dan (perimetrium)
b. Fase-fase endometrium:
1. Haid (tidak tersedia sediaan, pelajari gambar slaid dan foto, jaringan nekrotik sebagian
terlepas, sel-sel darah di antara jaringan ikat dan kelenjar)
2. Proliferasi: endometrium berisi kelenjar lurus dengan lumen sempit, arteri spiralis kadang
dapat dikenali.
3. Sekresi (Luteal): kenali kelenjar uterina yang berkelok-kelok, lumen lebar dan kadang
terlihat sekret dalam lumennya.
4. Prahaid: terlihat permulaan jaringan kelenjar yang nekrotik, pembuluh darah pecah, sel-sel
darah)

B. PRAKTIKUM : FERTILITAS PEREMPUAN


Sasaran Belajar :
Mahasiswa memahami mengenai keadaan fertilitas perempuan berupa :
1. Struktur mikroskopis organ yang terlibat dalam proses kehamilan dan laktasi
2. Gangguan kehamilan dan laktasi (abortus, kehamilan ektopik, adenoma laktans)
3. Pemeriksaan kehamilan urin ( HCG)
4. Berbagai sediaan obat yang dapat mempengaruhi fertilitas serta mekanisme kerjanya

PEMBAHASAN :
TUBA FALLOPII bagian-bagian tuba terdiri:
Pars intramural: berjalan menembus dinding uterus, sehingga diliputi lapisan muskularis tebal,
miometrium. Lipatan lapisan mukosa hanya berupa lipatan dangkal, dengan epitel selapis terdiri
atas sel sekretorik yang jumlahnya lebih banyak ketimbang sel bersilia.
Ismus: merupakan bagian tuba paling ramping, lipatan mukosa tidak terlalu bercabang, epitel
mukosa terdiri atas sel sekretorik dan bersilia.

Ampula: bagian tuba dengan lumen paling lebar, lipatan mukosa amat bercabang-cabang,
sehingga lumen dipenuhi cabang-cabang mukosa. Bagian ini paling sering merupakan tempat
fertilisasi. Sel mukosa terdiri atas sel sekretorik dan bersilia.
Fimbria: merupakan bagian paling distal tuba, yang pada saat ovulasi dapat bergerak membantu
masuknya ovum ke dalam lumen ke arah pars ampularis tuba.

PLASENTA
Pars Fetalis Plasenta (Plasenta bagian Fetus), terdiri atas:
Lempeng Korion berisi jaringan ikat ekstra embrional dan permukaan yang menghadap fetus,
dibatasi dari air ketuban oleh selapis epitel kuboid, yaitu Epitel Amnion
dan Vilus Korialis:

Vilus Utama, berukuran besar, menyeberangi ruang antar vili dan ujungnya menempel pada
pars maternal di seberangnya, mempercabangkan vilus-vilus bebas.

Vilus Bebas mengapung dalam darah ibu di ruang antar vilus, kenalilah Sawar Plasenta,
yaitu jaringan antara darah anak fetus dan darah ibu. Struktur apa saja yang menyusun sawar
plasenta?

Pars Maternalis (Plasenta bagian Ibu)


Merupakan jaringan endometrium yang pada keadaan hamil dibawah pengaruh hormon
mengalami perubahan menjadi desidua. Sel yang merupakan penanda pars maternalis plasenta
ialah Sel-sel Desidua, yaitu sel besar dengan sitoplasma berwarna pucat.
KELENJAR MAMMA
Fase-fase kelenjar Mamma: Mamma non-laktans, Mamma kehamilan, dan Mamma laktans.
a. Mamma non-laktans: terutama terdiri atas jaringan ikat interlobular dan interlobar, jaringan
kelenjar/alveoli belum ditemukan. Sejumlah kecil sekret, kadang ditemukan dalam lumen sistem
duktus.
b. Mamma Kehamilan: di bawah pengaruh hormon estrogen terjadi peningkatan pertumbuhan
duktus yang bertambah banyak dan bercabang-cabang, progesteron mempengaruhi pertumbuhan
jaringan kelenjar, sehingga duktus dan jaringan kelenjar bertambah banyak di antara jaringan ikat
inter lobar dan interlobular.
c. Mamma Laktans: terdiri terutama dari jaringan kelenjar dengan banyak alveoli yang beberapa
di antaranya mengandung sekret dalam lumen. Ditemukan juga duktus dan sinus laktiferus,
sedangkan Jaringan ikat hanya sedikit di antara alveoli.
3

C. PRAKTIKUM : FERTILITAS PRIA


Sasaran Belajar :
Mahasiswa mengetahui dan memahami mengenai keadaan fertilitas pria berupa :
1. Struktur makroskopik dan mikroskopik organ reproduksi pria (testis dan saluran keluarnya,
kelenjar pelengkap dan penis)
2. Kelainan makroskopik (hipogonadismus) dan mikroskopik organ reproduksi pria (atrofi testis)
3. Analisis semen

PEMBAHASAN :
Testis dan Epididymis.
1. Testis:
a. Tubulus seminiferous: Epitel Seminiferus, Sel Sertoli (penyokong), Sawar testis
b. Jaringan interstisial: Sel Leydig dan kapiler darah dalam jaringan ikat
2. Saluran keluar testis:
a. Intra testikular: Tubulus rektus dan Rete testis Halleri dalam mediastinum testis
b. Ekstra testikular: ductus

Eferentes dan ductus Epididymidis dalam organ yg disebut

Epididimis, ductus Deferens, ductus Ejakulatorius.


3. Kelenjar pelengkap laki-laki:
a. Prostat: Jaringan kelenjar prostat (mukosa, submukosa, dan marginal), urethra pars prostatika,
konkremen prostat.
b. Vesikula Seminalis: kelenjar berbentuk saluran, tunika mukosa bercabang-cabang.
4. Penis:
a. Aa. Dorsalis penis, vv.Dorsalis penis, nn. Dorsalis penis
b. Corpora Cavernosa Penes: a. Profunda penis, trabekula, aa. Helisinae, kavernae.
c. Corpus Cavernosum Uretra/Corpus Spongiosum: trabekula & kavernae, Uretra pars
kavernosa.

D. PRAKTIKUM : KEGANASAN
Sasaran Belajar :
Mahasiswa mengetahui dan memahami mengenai penyakit keganasan pada organ reproduksi
berupa :
1.

Struktur mikroskopik normal serviks dan vagina

2.

Struktur makroskopik dan mikroskopik pada lesi pra-kanker pada serviks


4

3.

Struktur makroskopik dan mikroskopik pada kanker payudara

4.

Struktur makroskopik dan mikroskopik pada kanker prostat

5.

Mengetahui pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit keganasan pada organ reproduksi

PEMBAHASAN :
1. Serviks Uteri: bagian paling inferior uterus, bagian yang menonjol ke dalam vagina -> portio
vaginalis, mempunyai dua permukaan:
a. Endocervix: lumennya menghubungkan lumen uterus dengan vagina, epitel yang menutupi
permukaannya berjenis selapis torak yang merupakan lanjutan epitel endometrium.
Mempunyai plika palmatae, berupa lipatan mukosa ke dalam yang aktif bersekresi mukus
sekitar pertengahan daur haid, untuk mempermudah transportasi sperma ke lumen uterus.
b. Ectocervix: epitelnya merupakan lanjutan epitel vagina, berjenis gepeng berlapis tanpa
lapisan tanduk. Tempat peralihan mukosa endocervix menjadi epitel ectocervix, menjadi
penting oleh karena kecenderungan terjadinya metaplasia di daerah perbatasan tersebut.
2. Vagina: mempunyai epitel gepeng berlapis, yang mengandung banyak glikogen saat pengaruh
estrogen sekitar waktu ovulasi. Lamina proprianya mempunyai banyak pembuluh darah, dan
vena berdinding tipis, yang mirip jaringan erektil saat stimulasi seksual.

PRAKTIKUM ANATOMI

Sasaran Belajar :
Setelah mengikuti praktikum anatomi, mahasiswa memahami struktur normal makroskopik :
ORGAN REPRODUKSI WANITA:
A. Genitalia eksterna:
Carilah :
1. Mons pubis
2. Labium majus, labium minus
3. Commissura anterior
4. Preputium clitoridis (bila ada)
5. Clitoris
6. Frenulum clitoridis
7. Orificium urethrae externa
8. Orificium vaginae.
9. Frenulum labiorum pudenda/minorum
10. Fossa navicularis vaginae
11. Comissura posterior
Pelajarilah :
1. M. Bulbocavernosus
2. M. Ischiocavernosus
3. Bulbus vestibuli
4. Gl. Vestibularis major Bartholini

Apakah yang dimaksud dengan vulva?


Apakah yang dimaksud dengan vestibulum?
B. Genitalia interna:
1. Ovarium
2. Tuba uterina
3. Uterus
4. Vagina
5. Excavatio vesicouterina,
6. Excavatio rectouterina disebut juga sebagai .
7. Ligamenta fixasi ovarium & uterus.
6

Pelajarilah pada sediaan genitalia interna perempuan yang telah dilepaskan dari tubuh :
a. Ovarium :
Pelajarilah bentuk dan letaknya.
Carilah jaringan ikat yang memfiksasi ovarium :
1. Lig. Suspensorium ovarii, disebut juga
2. Jaringan ikat ini dilintasi oleh
3. Lig. Ovarii prorium, menghubungkan . dengan
4. Mesovarium
b. Tuba uterina
Pelajarilah letak dan bagian-bagiannya;
Tuba uterina menghubungkan rongga .. dengan
c. Uterus
Pelajarilah bentuk dan letaknya
Carilah bagian-bagiannya :
1. Fundus
2. Corpus
3. Pars supravaginalis cervicis
4. Pars vaginalis cervicis (portio vaginalis)
5. Osteum uteri externum (periksa bentuknya: bulat atau semu bibir)
6. Cavum uteri
Carilah jaringan ikat penggantung uterus, antara lain :
1. Lig. Latum uteri
2. Lig. Teres uteri
Jaringan ikat ini melintasi saluran .dan melekat di .
Pelajarilah letak ureter terhadap pars supravaginalis cervicis dan fornix vaginae lateralis.
Carilah : A. uterina
d. Vagina
Carilah :
1. Fornix anterior
2. Fornix lateralis
3. Fornix posterior
Kea rah kraniodorsal, fornix posterior berbatasan dengan ..
Perhatikan bagian diafragma pelvis yang ditembus vagina!
7

ORGAN REPRODUKSI LAKI-LAKI:


A. Genitalia eksterna:
1. Penis
Pelajarilah bagian bagian penis :
a. Glans penis
b. Corpus penis
c. Radix penis
Radix penis terdiri atas : ................................ dan ............................ masing-masing melekat
di ramus ischiopubis pelvis dan membrana perinealis.
Carilah dan pelajarilah :
a. Corpus carvernosum penis
b. Corpus spongiosum penis
Lihatlah cavernae dan urethra di dalamnya!
c. Vena, arteri dan nervus dorsalis penis
d. Lubang a. profunda penis pada corpus cavernosum penis
e. Glans penis
f. M. bulbocavernosus, yang menutupi
g. M. ischiocavernosus, yang menutupi .
h. Frenulum preputii
i. Preputium penis
j. Corona glandis
k. Collum glandis
l. Orificium urethrae externum
Pelajarilah bangunan-bangunan yang berada pada urethrae pars prostatica.
2. Testis
a. Bentuk dan letaknya di dalam scrotum
b. Sebutkan lapisan-lapisan pembungkus testis dari luar ke dalam dan renungkan lapisanlapisan yang turut membungkus ductus deferens!
c. Pelajarilah bagian-bagian testis yang dipotong longitudinal : cortex, mediastinum testis,
rete testis, dan bagian-bagian epididimis (caput, corpus dan cauda epididimis).
d. Letak epididimis di sebelah ..terhadap testis.
3. Scrotum

B. Genitalia interna
Pada cadaver carilah :
1. Glandula prostata
2. Glandula vesiculosa, dahulu disebut.............................
3. Ductus deferens
Pelajarilah pada sediaan genitalia pria yang telah dilepaskan dari tubuh :
1. Glandula prostata
Letak, bentuk, permukaan, basis dan apex
Kelima lobus kelenjar
Carilah lobus medius yang letaknya antara . dan .
Muara kelenjar ini pada . di sinus prostaticus
Perhatikan diaphragma urogenitale yang berbatasan dengan apex glandula prostata.
2. Glandula vesiculosa

Letak, bentuk dan saluran keluarnya.


3. Ductus deferens
Pangkalnya berada di , sebagai lanjutan .
Berturut-turut melintasi lubang .., saluran , dan
lubang untuk sampai ke dalam rongga panggul
Perhatikan persilangan ductus deferens dengan bagian akhir ureter.
Setelah bersilangan dengan ureter, ductus deferens membentuk pelebaran yang disebut
..
4. Ductus deferens bersatu dengan saluran keluar glandula vesiculosa membentuk ..................
yang menembus glandula prostate untuk bermuara di tepi coliculus seminalis
Apa isi funiculus spermaticus?

PRAKTIKUM BIOLOGI

A. PRAKTIKUM : DAUR HAID DAN HORMON FISIOLOGIS


Sasaran Belajar
Setelah mengikuti praktikum I Modul Reproduksi, mahasiswa memahami
a.

Struktur normal mikroskopik organ reproduksi perempuan.

b. Pengaruh hormonal dalam daur haid terhadap mukosa vagina dan getah serviks.
c.

Pemeriksaan hormon reproduksi (LH, FSH, Prolaktin, Estradiol)

d.

Kelainan endometrium yang menyebabkan gangguan haid.

PEMBAHASAN
Hapus Vagina
Siklus estrus dan siklus menstruasi memiliki persamaan atau kemiripan, yaitu : (1) suatu
periode perkembangan folikel dan kematangan ovum disertai dengan peningkatan hormon estrogen,
(2) ovulasi mengakhiri periode folikuler dan (3) periode korpus luteum menghasilkan hormon
progesteron dan pertumbuhan endometrium yang cocok untuk proses kehamilan.
Tahap pematangan dan tahap-tahap siklus estrus atau menstruasi dapat diketahui melalui
analisis hapus vagina. Perubahan yang terjadi erat hubungannya dengan siklus diurnal yang
dikontrol oleh mata, sistem saraf pusat dan hipofisis anterior.
Stadium

Lekosit

Epitel sel berinti

Epitel sel bertanduk

Diestrus

++

++

Proestrus I

++

Proestrus II

+++

Estrus

Metestrus I

-/+

Metestrus II

+++

-/++

Tugas :
Dengan perbesaran lemah dan sedang (10x dan 40x), carilah keempat stadia hapus vagina tikus
Getah Serviks
Serviks uterus manusia merupakan struktur seperti tabung yang runcing ke arah mulut
serviks. Mukosa serviks merupakan sistem kripti seperti celah yang terdiri atas epitel sel torak
bersilia dan sel torak tanpa silia yang menghasilkan sekresi getah serviks. Dipastikan bahwa kripti
10

bertindak sebagai reservoir sperma. Getah serviks merupakan sekresi yang bersifat heterogen, lebih
dari 90% terdiri atas air, selain itu mengandung pula beberapa jenis protein, enzim dan karbohidrat.
Getah serviks memperlihatkan gambaran spesifik seperti daun pakis (fern leaf like shape) setelah
dikeringkan di udara di atas kaca objektif.
Produksi getah serviks diatur oleh hormon ovarium, estrogen merangsang produksi getah
serviks yang berlimpah dan lebih encer, sedangkan progesteron menghambat aktivitas sel epitel
servik mensekresi getah serviks. Dengan demikian jumlah getah serviks yang dihasilkan
memperlihatkan variasi siklik.
Perubahan siklik pada konstituen getah serviks dapat mempengaruhi penetrasi sperma ke
dalam getah serviks dan kehidupannya dalam vagina. Spermatozoa mulai dapat melakukan
penetrasi ke dalam getah serviks manusia kira-kira pada hari ke sembilan dari siklus normal 28 hari;
kemudian berangsur-angsur jumlah penetrasi akan meningkat sampai mencapai puncaknya tetap
sebelum ovulasi. Selanjutnya penetrasi sperma mulai berkurang beberapa hari setelah ovulasi.
Tugas :
Dengan perbesaran kuat (40x dan 100x), carilah gambaran daun pakis pada getah serviks sapi

B. PRAKTIKUM : FERTILITAS PRIA


Sasaran Belajar
Mahasiswa mengetahui dan memahami mengenai keadaan fertilitas pria berupa :
1. Struktur makroskopik dan mikroskopik organ reproduksi pria (testis dan saluran keluarnya,
kelenjar pelengkap dan penis)
2. Kelainan makroskopik (hipogonadismus) dan mikroskopik organ reproduksi pria (atrofi testis)
3. Analisis semen

PEMBAHASAN
Analisis semen dilakukan untuk mengevaluasi gangguan fertilitas (kesuburan) yang disertai
dengan atau tanpa disfungsi hormon androgen. Dalam hal ini hanya beberapa parameter ejakulat
yang diperiksa (dievaluasi) berdasarkan buku petunjuk WHO, Manual for the examination of the
Human Semen and Sperm-Mucus Interaction (WHO, 1999).

11

Lihat buku petunjuk WHO Manual for the examination of the Human Semen and SpermMucus Interaction (WHO, 1999) berikut ini :
Recommendation Standards of Analysis of Human Semen
Macroscopic examination

Microscopic examination

Sperm Function Test

1. Koagulasi dalam semen

1. Sperma motil (%/ml)

1. Uji HOS

2. Likuifaksi :

2. Gerak sperma lurus (%)

2. Uji eosin Y

-Warna (putih keabuan)

3. Konsentrasi sperma (10/ml)

3. Uji interaksi

-Bau (bunga akasia)

4. Total sperma/ejakulat

3. Volume (ml)

5. Morfologi sperma

4. Viskositas (kekentalan)

6. Sel-sel bulat

interaksi sperma-mukus

5. Ph

Tugas :
Dengan menggunakan perbesaran lemah dan sedang (10x dan 40x), lakukan evaluasi makroskopik
dan mikroskopik terhadap semen manusia.

12

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
A. PRAKTIKUM : INFEKSI
Sasaran Belajar :
Mahasiswa mengetahui dan memahami mengenai penyakit infeksi pada organ / proses reproduksi
berupa :
1. Mikroorganisme penyebab infeksi : parasit, bakteri, jamur, virus
2. Kelainan organ reproduksi yang disebabkan penyakit infeksi
3. Pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan untuk menegakkan diagnosis penyakit infeksi

PEMBAHASAN :
Infeksi saluran reproduksi dapat dibedakan dalam infeksi secara eksogen dan endogen.
Infeksi secara eksogen dapat terjadi pada saat melakukan aktivitas seksual, oleh sebab itu disebut
dengan infeksi akibat hubunhan seksual (Sexually transmitted infections = STI). Sebaliknya infeksi
endogen berasal dari organisme yang merupakan flora normal genitalia.
Pada wanita, infeksi saluran reproduksi dapat dibagi menjadi infeksi saluran reproduksi
bagian bawah (vulva, vagina dan serviks) dan infeksi saluran reproduksi bagian atas (uterus, tuba
falopii, ovrium dan rongga abdomen). Infeksi saluran reproduksi bagian bawah sering didapat
melalui kontak langsung ataupun melalui hubungan seksual, sementara infeksi saluran reproduksi
bagian atas biasanya akibat perluasan infeksi reproduksi bagian bawah.
Pada pria, mikroorganisme yang menyebabkan infeksi saluran reproduksi bagian bawah
(uretra) juga dapat menyebar melalui permukaan mukosa dan menyebabkan infeksi pada organ
reproduksi seperti misalnya epididimis.
Jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi saluran reproduksi sangat banyak
dan bervariasi, terbagi dalam 4 kelompok besar (bakteri, jamue, virus dan parasit). Pemeriksaan
laboratorium mikrobiologi dapat dipergunakan sebagai pemeriksaan penunjang infeksi saluran
reproduksi yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut.
Tabel dibawah ini memperlihatkan mikroorganisme penyebab utama infeksi saluran
reproduksi

13

A. Bakteri penyebab infeksi saluran reproduksi


No.
Bakteri
1. Treponema pallidum

Sifilis

Penyakit

2.

Neisseria gonorrhoeae

Gonore

3.

Donovaria granulomatis

Granuloma inguinale

4.

Haemophilus ducreyi

Chancroid

5.

Gardnerella vaginalis

Vaginitis non-spesifik

6.

Chlamydia trachomatis

Infeksi genital non-spesifik


LVG (Lymphogranuloma venereum)

7.

Mycoplasma/Ureaplasma

Uretritis non-spesifik

B. Jamur penyebab infeksi saluran reproduksi


No.
Jamur
1. Candida albicans

Penyakit
Vaginal thrush, balanitis

C. Virus penyebab infeksi saluran reproduksi


No.
Virus
1. Herpes Simplex (tipe 1 & 2)

Genital Herpes

Penyakit

2.

Papova

Genital warts

3.

Poxvirus

Moluscum contagiosum

4.

Hepatitis B

Hepatitis

5.

HIV

AIDS

I. PENGUMPULAN SPESIMEN DAN MEDIUM TRANSPORT


Bagian ini ditujukan untuk pemeriksaan langsung dan pemeriksaan kultur. Prosedur
pengumpulan dan tranportasi spesimen untuk deteksi etiologi dengan metode non - kultur sebaiknya
sesuai dengan prosedur yang telah tertulis pada petunjuk yang terdapat dalam kemasan.
A. PEREMPUAN
1. Kista Bartholin
a. Disinfeksi kulit sebelum pengambilan sampel
b. Cairan spinal
c. Pemakaian tabung transport anaerob
d. Transportasi ke laboratorium dalam 24 jam pada suhu kamar
14

2. Cul-de-sac
a. Kumpulkan aspirat
b. Gunakan tabing transport anaerob
c. Traansportasi ke laboratorium dalam 24 jam pada suhu kamar
3. Uretra
a. Bersihkan eksudat dari mulut uretra
b. Kumpulkan secret dengan memijat uretra kea rah simfisin pubis atau dengan usapan
fleksibel 2-4 cm ke dalam uretra dan putar selama 2 detik
c. Pengambilan sample sedikitnya 1 jam setelah miksi
d. Medium transport : Stuart atau Amies
e. Transportasi ke laboratorium dalam 24 jam pada suhu kamar
4. Usap vagina dan serviks
a. Jangan memakai pelumas dan analgesic
b. Bersihkan vulva dengan akuades atau NaCl fisiologis steril
c. Pasang spekulum dengan hati-hati
d. Bersihkan secret vagina yang berlebihan
e. Usap vagina pada forniks posterior atau endoserviks
f. Usapan diambil sebanyak 2 kali
g. Untuk anak-anak atau wanita yang belum pernah berhubungan seksual usapan diambil
dengan hati-hati pada vagina distal setelah membersihkan vulva.
h. Medium transport : Stuart dan Amies
i. Transportasi ke laboratorium dalam 24 jam pada suhu kamar
5. Endometrium
a. Biopsi bedah atau aspirat transervikal
b. Pemakaian tabung transport anaerob
c. Transportasi ke laboratorium dalam 24 jam pada suhu kamar

B. LAKI-LAKI
1. Spesimen Uretra
a. Bersihkan meatus uretra dari flora normal kulit
b. Keluarkan eksudat dari uretra dan ambil dengan menggunakan usapan
c. Bila tidak terdapat eksudat, masukkan usapan uretra 2-4 cm, putar dengan perlahan sekitar
2 detik dan angkat
15

d. Medium transport : Stuart dan Amies


e. Transportasi ke laboratorium dalam 24 jam pada suhu kamar
2. Spesimen Genitalia
a. Usap lesi dengan hati-hati setelah terlebih dahulu dibersihkan dengan akuades atau NaCl
fisiologis steril
b. Cairan aspirat
3. Spesimen prostat
a. Glans dibersihkan dengan air dan sabun
b. Pengumpulan sekret dengan usapan
c. Medium transport : Stuart dan Amies
d. Transportasi ke laboratorium dalam 24 jam pada suhu kamar

II. KULTUR Neisseria gonorrhoeae


Reabilitas diagnosis gonore tergantung pada beberap faktor, yaitu :
1.

Jumlah lokasi pengambilan sampel

2.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan

3.

Metoda dan lama transportasi ke laboratorium

4.

Komposisi dan kualitas medium perbenihan

5.

Kondisi inkubasi

6.

Reagen dan teknik yang dipergunakan untuk identifikasi isolat

Medium yang direkomendasikan untuk diagnosis rutin gonore adalah medium selektif Thayer
Martin
PROSEDUR KULTUR
1. Spesimen pada usapan dioleskan pada bagian permukaan lempeng
2. Dengan memakai sengkelit steril, sebarkan inokulum ke semua bagian medium untuk membuat
pertumbuhan koloni-koloni kuman yang terpisah
3. Medium yang telah diinokulasikan kemudian diinkubasi segera pada inkubator CO2 yang
mengandung 3-7 % CO2 atau memakai candle jar yang dimasukkan dalam inkubator biasa pada
suhu 35-36 C
4. Periksa adanya pertumbuhan bakteri setelah 18-24 jam dan laporkan NEGATIF bila tidak terlihat
adanya pertumbuhan setelah 48 jam

16

5. Setelah 1 hari inkubasi, koloni yang khas akan terlihat dengan diameter antara 0,5 - 1,0 mm
dengan warna bervariasi antara abu-abu sampai putih, transparan sampai opaque, cembung
sampai rata
6. Pada inkubasi lebih lanjut, koloni akan mencapai ukuran diameter 3 mm dan menjadi lebih kasar
7. Seringkali terlihat campuran beberapa tipe koloni

IDENTIFIKASI PRESUMTIF
Identifikasi presumtif koloni dengan tampilan yang menyerupai N. gonorrhoeae dapat ditegakkan
dengan pewarnaan Gram dan uji oksidase
1. Pewarnaan Gram :
Satu koloni tersangka diemulsikan dengan 1 tetes Nacl fisiologis diatas kaca objek, keringkan,
fiksasi dan warnai dengan pewarnaan Gram
2. Uji oksidase
Ada 2 metode yang direkomendasikan untuk mendeteksi adanya cytochrome C oxidase, yaitu :
a. Tuangkan 1 tetes tetramethyl-p-phenylenediamine dihydrochloride langsung pada koloni
tersangka.
b. Goreskan koloni tersangka dengan menggunakan lidi pada cakram/strip oksidase yang
mengandung dimethyl-p-phenylene diamine hydrochloride
Hasil uji oksidase positif bila : terjadi perubahan warna menjadi ungu kehitaman

IDENTIFIKASI KONFIRMATIF
Setiap penemuan oksidase positif pada diplokokus yang berasal dari semua isolat terutama
isolat ekstragenital dilakukan uji

konfirmatif.. Salah satu uji konfirmatif yang paling sering

dilakukan adalah uji erdasarkan degradasi karbohidrat. Metode perbenihan konvensional pada
Cystein Tryptic Agar (CTA) tidak lagi dianjurkan sejak ditemukannya metode lain yang lebih cepat
yang tidak perlu melihat pertumbuhan sehingga hasil yang lebih spesifik dapat diperoleh dalam
waktu beberapa jam.
Masalah yang sering terjadi pada semua uji karbohidrat adalah :
1. Reaksi positif palsu yang disebabkan oleh kontaminasi mikroorganisme lain
2. Reaksi negatif palsu yang disebabkan oleh penggunaan kultur lebih dari 24 jam sehingga terjadi
autolisis

17

Untuk mencegah terjadinya masalah diatas, hindari pemeriksaan uji karbohidrat dari isolasi primer
pada medium selektif yang diduga mengandung koloni mikroorganisme lain dan adanya
mikroorganisme kontaminan lain yang menghambat pertumbuhan bakteri yang diinginkan. Lakukan
subkultur beberapa tipe koloni kedalam satu atau dua agar coklat dan inkubasi selama 18-24 jam,
amati hasil subkultur dengan seksama untuk memastikan bahwa kultur benar-benar murni dari 1
macam mikroorganisme kemudian
dilakukan uji karbohidrat.
DETEKSI ADANYA RESISTENSI TERHADAP MIKROBA
1. Deteksi Penicillinase Producing Neisseria gonorrhoeae (PPNG)
a. Metode asidometrik
b. Uji Iodometrik
c. Uji Kromogenik (uji cakram/uji slide)
2. Plasmid Mediated Tetracycline Resistant Neisseria gonorrhoeae (TRNG)
Agar Diffusion Test

3. Uji kepekaan terhadap mikroba


a. Disk Duffusion Method
b. Agar Dilution Technique
c. E-test
III. SYPHILIS
A. MIKROSKOP
a. Mikroskop dark-field
b. Uji Antibodi Fluoresen Langsung
B. UJI SEROLOGI
1. Uji non-treponema
a. Uji venereal Disease Research Laboratory (VDRL) = Uji kardiopilin mikroskopik
Karena antigen pada uji ini bersifat tidak stabil, suspensi segar yang baru dibuat harus
dipersiapkan setiap kali sebelum uji dilakukan. Uji ini harus memakai serum yang sudah
dipanaskan (56C) dan lihat dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 100.

18

b. Rapid Plasma Reagin (RPR) = Uji kardiopilin makroskopik


Keuntungan utama dari RPR dibandingkan dengan VDRL adalah RPR lebih konsisten
karena memakai antigen yang stabil, disamping pemakaian kartu sebagai pengganti kaca
objek dan penambahan partikel charcoal pada antigen. Antigen tidak diselubungi denagn
partikel-partikel charcoal tetapi charcoal terperangkap dalam formasi lattice yang dibuat
oleh kompleks antigen-antibodi dari sampel yang reaktif dan menyebabkan dapat dilihat
denagn pengamatan mata biasa. Uji ini disebut juga uji VDRL-charcoal.
Prosedur RPR card test kit (Becton Dickinson) :
a. Prosedur uji kualitatif
1) Teteskan 50 l serum atau plasma yang tidak dipanaskan pada lingkaran yang terdapat pada
kartu uji dengan memakai alat sampling yang telah dikalibrasi sebarkan sampai memenuhi
permukaan lingkaran
2) Tambahkan dengan tepat 1 tetes penuh (20 l) antigen yang telah dikocok dengan perlahan
sebelumnya pada setiap lingkaran
3) Letakkan kartu pada rotator mekanik dengan cover dan goyang seama 8 menit
4) Baca reaksi dengan pengamatan mata biasa dibawah cahaya lampu sesegera mungkin setelah
diangkat dari rotator
b. Prosedur uji kuantitatif
1) Teteskan 50 l NaCl fisiologis pada lingkaran 2-5, jangan disebarkan ke seluruh lingkaran
2) Letakkan 50 l sampel pada lingkaran 1-2
3) Dengan memakai alat pengambilan sampel yang telah dikalibarasi, campur NaCl fisiologis
dengan sampel pada lingkaran ke 2 dengan pipet sebanyak 5-6 kali. Hindari gelembung udara
4) Pindahkan 50 l dari lingkaran 2 (pengenceran 1:2) ke lingkaran 3 dan campur sampai merata.
Pindahkan 50 l dari lingkaran 3 (pengenceran 1:4) ke lingkaran 4 dan campur sampai merata.
Pindahkan 50 l dari lingkaran 4 (pengenceran 1:8) ke lingkaran 5 (pengenceran 1;16) dan
campur sampai merata. Buang 50 l dari lingkaran 5.
5) Dengan memakai ujung alat yang bersih, sebarkan sampel dari lingkaran 5

kemudian

lingkaran 4, 3, 2 dan 1 secara berurutan


6) Tambahkan 1 tetes antigen ke dalam tiap lingkaran. Goyang pada rotator dan laporkan hasil
pengenceran tertinggi yang menunjukkan reaktifitas

19

2. Uji treponema
a. Imunofluoresen tidak langsung
b. Hemaglutinasi
c. Enzyme-linked immunosorbent assay

20

PRAKTIKUM PARASITOLOGI

Tujuan Umum :
Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui infestasi parasit yang berpengaruh pada organ reproduksi
dan pemeriksaan laboratorium yang diperlukan untuk diagnosis.
Tujuan khusus :
1. Mahasiswa mengetahui morfologi parasit yang berpengaruh pada organ reproduksi yaitu
Toxoplasma gondii, cacing tambang dan Trichomonas vaginalis.
2. Mahasiswa mengetahui stadium infektif parasit yang penting dalam transmisi penyakit.
3. Mahasiswa mengetahui stadium parasit yang menyebabkan gejala klinis.
4. Mahasiswa mengetahui prosedur serologi ELISA pada diagnosis toksoplasmosis dan interpretasi
hasilnya.
5. Mahasiswa mengetahui cara pengambilan dan pemeriksaan spesimen klinis sekret vagina untuk
diagnosis trikomoniasis.
No

1.

Demonstrasi

Necator americanus
Mulut

Gambar

10 x 45

Perhatikan :
- mempunyai satu pasang benda khitin

2.

Ancylostoma duodenale
Mulut

10 x 45

Perhatikan :
- mempunyai dua pasang gigi

21

3.

Cacing tambang
Telur

10 x 45

Perhatikan :
Bentuk : lonjong
Besar : 60 x 40 mikron
Dinding : tipis, jernih
Isi : 4 - 8 sel

4.

Cacing tambang
Larva filariform

10 x 45

Perhatikan :
Bentuk : halus panjang
Panjang : 600 mikron
Esofagus : kira-kira 1/4 panjang badan
Mulut : tertutup
Ekor : lancip

5.

Sediaan cairan peritoneum tikus; pulasan


Giemsa

6 x 100

Toxoplasma gondii
Bentuk takizoit/proliferatif
Perhatikan:
bentuk seperti bulan sabit
letaknya di luar sel atau dalam sel
di luar sel: satu-satu atau berkelompok
6.

Sediaan jaringan otak pulasan Giemsa

6 x 100

Toxoplasma gondii
Stadium kista
Perhatikan:
kista bulat dengan dinding tebal
di dalamnya terdapat banyak
bradizoit

22

7.

Toxoplasma gondii
Stadium ookista
Perhatikan :
Bentuk lonjong
Ukuran 10 - 13 mikron
Dinding berlapis dua
Di dalamnya terdapat
2 sporokista,
masing-masing mengandung 4 sporozoit

8.

Sediaan sekret vagina; pulasan Giemsa


Trichomonas vaginalis
stadium vegetatif

6 x 100

Perhatikan :
- ukuran : 17
- bentuk seperti jambu monyet
- intinya : 1 inti lonjong
- flagel anterior (4 buah)
- aksostil membran bergelombang

23

PRAKTIKUM PATOLOGI ANATOMIK


ORGAN REPRODUKSI
Sasaran Belajar
Setelah mengikuti praktikum I Modul Reproduksi, mahasiswa memahami
1. Struktur normal mikroskopik organ reproduksi perempuan.
2. Pengaruh hormonal dalam daur haid terhadap mukosa vagina dan getah serviks.
3. Pemeriksaan hormon reproduksi (LH, FSH, Prolaktin, Estradiol)
4. Kelainan endometrium yang menyebabkan gangguan haid.
Organ reproduksi dapat mengalami berbagai kelainan seperti kelainan kongenital, infeksi,
tumor dll. Pada praktikum ini saudara akan mempelajari beberapa contoh kelainan tersebut dari
sediaan makroskopik dan mikroskopik yang berasal dari penderita.
Hal yang perlu diperhatikan :
1. Pelajari tampilan makroskopik untuk lebih memahami gejala klinik yang ditimbulkan
2. Pelajari gambaran mikroskopik dari sediaan makroskopik yang terkait sehingga dapat lebih
mamahami hubungan antara gambaran mikroskopik-makroskopik dan tentunya manifestasi
klinik yang akan saudara hadapi sebagai dokter.
Ingat sistematika cara bekerja :
1. Deksripsi kelainan yang ditemukan dan buat gambar skematis dibuku saudara
2. Cari hubungan antara kelainan morfologik dengan gejala yang dapat timbul.
ORGAN REPRODUKSI PRIA
SEDIAAN MAKROSKOPIK
INFEKSI
KP.1 FIMOSIS
Merupakan kelainan penis dimana kulit yang menutupi glans penis tidak dapat ditarik
kebelakang untuk membuka glans penis.
Perhatikan kulit prepusium yang sangat rapat menutupi glans penis. Kelainan ini dapat
merupakan kelainan kongenitas maupun akibat infeksi.
KP.3 ATROFI TESTIS
Merupakan kelainan regresif karena berbagai sebab. Dapat juga terjadi tanpa sebab yang
jelas (primary failure). Perhatiakan satu testis yang atrofik/mengecil. Bandingkan dengan
yang normal.
KP.4 TUBERKULOSIS EPIDIDIMIS
Sediaan dari 2 testis/epididimis yang dibelah. Yang satu normal, yang lain menunjukkan
bercak-bercak kekuningan (tuberkel/nekrosis perkijuan) pada epididimis.

24

KP.10. HIDROKEL TESTIS


Hidrokel merupakan penimbunan cairan di dalam tunika vaginalis, kelainan ini merupakan
penyebab tersering pembesaran skrotum. Tampak kantong tunika vaginalis melebar. Tunika
vaginalis menebal. Testis terdesak ke tepi.
TUMOR
KP.2 KARSINOMA PENIS
Tampak tumor di dekat glans penis menyerupai kembang kol. Di korpus penis juga terdapat
pertumbuhan tumor. Pada stadium lanjut seluruh penis dapat berubah menjadi tumor.
KP.11. HIPERPLASIA PROSTAT NODULAR
Tampak prostat yang dibelah menunjukkan pembesaran zona transisional, menonjol ke
uretra pars prostatika. Perhatikan dinding kandung kemih yang menebal disertai trabekulasi
yang terjadi sekunder karena sumbatan akibat hiperplasi prostate. Pelajari sediaan
mikroskopiknya.
SEDIAAN MIKROSKOPIK
KP.1 KONDILOMA AKUMINATUM
Kondiloma akuminatum merupakan kelainan kulit/mukosa akibat infeksi virus HPV.
Tampak stroma jaringan ikat yang bercabang diliputi oleh epitel gepeng berlapis yang
hiperplastik dan mengalami parakeratosis, hyperkeratosis, papilomatosis serta koilositosis.
Koilositosis ialah perubahan selular akibat infeksi HPV yang ditandai oleh atipia inti dan
vakuolisasi perinuklear.
KP. 3 HIPERPLASIA PROSTAT NODULAR
Kadang-kadang disebut juga sebagai HIPETROFI PROSTAT (oleh ahli klinik). Yang
sebenarnya kurang tepat. Yang lebih tepat ialah istilah PPJ (Pembesaran Prostat Jinak),
karena pada kelainan ini terjadi penambahan proliferatif yang mengakibatkan pembesaran
jaringan prostate.
Tampak asinus prostate bertambah banyak dan bertambah besar. Epitel kelenjar membentuk
tonjolan/ papil ke dalam lumen. Ukuran asinus bermacam-macam, ada yang kecil dan ada
yang besar dan lebar.
Jaringan stroma fibromuskular bertambah, dapat ditemukan pula sebukan sel radang
menahun yang pada beberapa tempat sangat padat sampai kadang-kadang membentuk
bangunan folikel limfoid.
ORGAN REPRODUKSI PEREMPUAN
Organ reproduksi perempuan terdiri atas bebagai unsur ----- ingat anatomi/histologi/fisiologi !
sehingga kelainan patologiknya akan menimbulkan keluhan/gejala klinik yang sangat bervariasi,
seperti beberapa contoh di bawah ini :
-

Pendarahan pervaginam dapat merupakan haid normal atau diakibatkan oleh berbagai
kelainan antara lain abortus, hormonal. Radang/ infeksi atau akibat tumor jinak maupun
ganas.
Pembesaran perut bagian bawah dapat pula sebagai akibat
o Kehamilan normal/abnormal
o Tumor-tumor kistik padat yang bersifat jinak/ganas dari uterus, ovarium dll.
25

SEDIAAN MAKROSKOPIK
INFEKSI
KW 9. PIOSALPINGS
Tampak tuba yang besar dan panjang sehingga menyerupai sosis. Kedua ostium tuba
tertutup. Pada dinding tampak bercak-bercak merah hitam, mungkin karena perdarahan dan
pernanahan. Umumnya dinding menebal oleh karena radang kronik/lama.

KW 10. KISTA TUBO-OVARIUM


Tampak ujung distal melebar kistik dan dindingnya berpadu dengan kista ovarium
KELAINAN KEHAMILAN
KW. 7. MOLA HIDATIDOSA
Mola hidatidosa termasuk golongan PTG (penyakit trofoblas gestasional) yang ditandai oleh
pembengkaakan villi korialis (apakah villi korialis ?) disertai proliferasi sel trofoblas yang
mela[pisinya.
Jaringan berasal dari wanita hamil dengan perdarahan pervaginam disertai gelembung
seperti anggur dan titer HCG seruk yang meningkat (mengapa?)
Tampak gelembung-gelembung berdinding tipis berisi cairan jernih dan mudah pecah.
KW. 11 dan 12. KEHAMILAN TUBA
Tampak hasil konsepsi di dalam lumen tuba yang lebar. Secara makroskopik, hasil konsepsi
umumnya berupa beku darah dan kadang-kadang dapat diteumkan embrio dan kantong
janin. Bila disertai rupture tuba, gejala klinik apa yang akan terjadi ?
TUMOR
KW 13. KISTADENOAM OVARII MUSINOSUM
Jaringan berasal dari penderita usia produktif dengan pembesaran abdomen dan rasa
begah/penuh. Tampak kista multikuler (berongga banyak) denga sekat tipis diantaranya. Isi
kista berupa lender, kadang kadang bercampur darah atau nanah bila disertai perdarahan
atau infeksi.
KW. 5. LEIOMIOMA UTERUS
Tumor ini merupakan tumor berasal dari sel otot polos yang paling sering ditemukan pada
wanita, biasanya usia produktif.
Perhatikan gambarannta yang berbatas tegas, padat, berwarna putih disertai gambaran
pusaran (whorling).
Berdasarkan letak tumor pada uterus dikenal 3 jenis yaitu submukosa, intramural dan subserosa. Apa kira-kira gambaran klinis yang diakibatkan ?
KW. 3. KARSINOMA SERVIKS UTERI
Tampak potongan dari serviks, uterus dan adneksa. Serviks tampak besar karena merupakan
infiltrasi tumor.
Untuk kepastian diagnosis diperlukan pemeriksaan mikroskopik

26

SEDIAAN MIKROSKOPIK
KELAINAN KEHAMILAN
KW. 6 SISA HASIL KONSEPSI
Jaringan berasal dari kuretasi/kerokan kavum uteri penderita yang mengaku hamil 8 minggu
dengan perdarahan pervaginam. Bahan yang keluar terdiri atas unsur fetal (janin, kantong
janin, villi koriales/plasenta) dan unsur maternal (endometrium masas hamil/desidua
graviditatis)
TUMOR
KW. 3. KARSINOMA SEL SKUAMOSA SERVIKS
Sediaan berasal dari biopsy masa tumor di serviks dengan gambaran makroskopik seperti
kembang kol.
Perhatikan sel epitel permukaan skuamosa yang tumbuh infiltratif membentuk gencel/pulau
sel tumor jaringan ikat. Cari tanda / sifat sel epitel seperti jembatan antar sel, perhatikan
tanda ganas seluler seperti pleomorfi, hiperkromasi, rasio inti dan sitoplasma yang menigkat,
serta mitosis. Pada jenis berkeratin cari gambaran mutiara tanduk.
PAYUDARA
Kelainan pada payudara umumnya berupa masa, tergantung dari penyebabnya, dapat berupa
nodul tunggal atau multiple, berbatas tegas atau tidak, mudah digerakkan atau melekat di dasar /
permukaan kulit.
Sediaan yang akan dipelajari merupakan beberapa contoh lesi payudara yang cukup sering dijumpai.
SEDIAAN MAKROSKOPIK
M.2 FIBROADENOMA
Sediaan fibroadenoma yang telah dibebaskan dari jaringan payudara yang normal
(pengangkatan in toto = seluruh massa tumor). Tumor tampak berbatas tegas bersimpai tipis.
Pada potongan, jaringan tumor tampak uniform (serba rata). Perhatikan gambaran lobulus
kelenjar yang proliferatif/bertambah banyak (berupa bundara-bundaran kecil)
KARSINOMA PAYUDARA DENGAN VARIASI PERTUMBUHAN MAKROSKOPIK.
M 4. KARSINOMA PAYUDARA
Potongan payudara melalui puting susu. Tampak tumor diantara jaringan lemak : tidak
berbatas, memberi kesan infiltratif. Gambaran Chalk-Streaks tidak jelas sediaan sudah
lama dalam fiksasi)
M.5. KARSINOMA PAYUDARA
Pada sediaan ini terlihat kulit ditembus dan massa tumor yg tumbuh menonjol seperti
kembang kol (eksofitik)
M.6. KARSINOMA PAYUDARA
Tampak infiltrasi tumor sampai ke kulit di sekitar putting susu sehingga menimbulkan ulkus.

27

M.7.

KARSINOMA PAYUDARA
Tampak seluruh putting susu diinvasi oleh tumor yang bertonjol-tonjol.

SEDIAAN MIKROSKOPIK
M.6. ADENOMA LAKTANS
Sediaan berasal dari biopsy masa dipayudara yang sedang menyusui.
Perhatiakan penambahan asinus kelenjar didalam sistim lobulus disertai gambaran epitel
dengan sitoplasma bervakuol, secret di dalam lumen (tanda sekresi ----- ingat histologyi)
M.5. KARSINOMA PAYUDARA.
Sediaan berasal dari biopsy masa di payudara dengan gambaran makroskopik M4-M7.
Perhatikan gencel/pulau sel tumor epithelial dengan tanda ganas seperti pleomorfi,
hiperkromasi, rasio inti dan sitoplasma yang bertambah, makronukleus serta mitosis.
Kadang-kadang masih terlihat struktur tubular (sebagian besar karsinoma payudara berasal
dari epitel kelenjar).

28

PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK


PRAKTIKUM I : DAUR HAID

PEMERIKSAAN HORMONAL (FSH, LH, PROLAKTIN, ESTRADIOL, PROGESTERON,


TESTOSTERON)
Tujuan Praktikum
Mengetahui gambaran hormon reproduksi

pada wanita Follicle Stimulating Hormone (FSH),

Luteinizing Hormone (LH), Estradiol, Progesteron dan Prolaktin.

Hormon Reproduksi
Hormon LH dan FSH merupakan hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh kelenjar
hipofisis anterior. Hormon FSH berfungsi dalam stimulasi sel gonad (folikulogenesis pada wanita
dan spermatogenesis pada pria), sehingga dihasilkan sel ovum dan sel sperma yang matur. Pada usia
reproduksi didapatkan kadar FSH dan LH berkisar antara 4-15 mIU/ml, pada masa periovulasi
terjadi lonjakan kadar LH sebesar 4-6 kali (LH surge) dan kadar FSH 2-3 kali. LH surge akan
memicu terjadinya proses ovulasi .
Hormon Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior. Hormon Prolaktin berperan
pada proses pematangan akhir dari sel oosit dan sel spermatozoa.
Hormon Estradiol merefleksikan fungsi ovarium karena dihasilkan oleh sel teka dan sel granulose
folikel ovarium pada fase proliferasi dan sel lutel pada fase sekresi.
Pemeriksaan Hormon Progesteron dilakukan untuk mengetahui adanya proses ovulasi pada
daur haid. Pada fase proliferasi kadar Progesteron 1,5 ng/mL dan peningkatan terjadi pada saat sel
lutein terbentuk akibat proses luteinisasi pada sel teka/ sel granulosa. Kadar Progesteron mencapai
puncak pada saat masa luteal tengah (haid hari ke-20-22 siklus 28 hari) sebesar 10-30 ng/mL.
Pemeriksaan kadar Testosteron pada wanita menunjukkan adanya peningkatan produksi
androgen ovarium. Sedangkan pada pria pemeriksaan testosteron menunjukkan fungsi sel testis
dalam spermatogenesis.

Tehnis Praktikum :
Mempelajari hasil pemeriksaan hormon reproduksi dari pasien antara lain : FSH, LH, Estradol,
Progesteron, Prolaktin dan Testosteron.

29

Gambar 1. Jalur stimulus hormon reproduksi

Gambar 2. Daur haid

30

JENIS PEMERIKSAAN
HORMON REPRODUKSI
LH

HASIL SATUAN
9.0

NILAI RUJUKAN

mlU/ml

Wanita :
Foliculer phase : 1-8
Ovulatory peak : 24 -105
Luteal phase : 0.4 20
Post menopause : 15 - 62
FSH
3.3
mlU/ml Wanita :
Foliculer phase : 4-13
Ovulatory peak : 5 -22
Luteal phase : 2 - 13
Post menopause : 20 - 138
PROLAKTIN
8.7
ng/ml
Wanita : 1.39 24.20
PROGESTERON
21.5
ng/ml
Wanita :
Foliculer phase : 0.15 0.70
Ovulatory peak : 10.3 - 229
Luteal phase : 2.0 25.0
Post menopause : 0.06 1.60
ESTRADIOL
106
pg/ml
Wanita :
Foliculer phase : 23 -145
Ovulatory peak : 112 - 443
Luteal phase : 2.0 25.0
Post menopause : 0.06 1.60
Gambar 3. Contoh pelaporan hasil pemeriksaan hormone reproduksi

PRAKTIKUM II : FERTILITAS PEREMPUAN


PEMERIKSAAN TES KEHAMILAN
Tujuan
Mahasiswa mengetahui pemeriksaan untuk mendeteksi kemungkinan kehamilan.
Pemeriksaan Beta HCG Urin
Pemeriksaan Beta HCG urin secara kualitatif digunakan untuk mendeteksi kemungkinan kehamilan.
Pemeriksaan ini didasarkan pada keadaan ditemukannya beta HCG dalam serum wanita hamil
akibat nidasi sel embrio pada endometrium yang diikuti penentrasi jonjot vili koriales. Pemeriksaan
dapat dilakukan sejak 10 hari pasca ovulasi dan sebaiknya menggunakan urin pertama pagi hari.
Cara Pemeriksaan :
- Ambillah setetes urin pagi hari menggunakan pipet
- Teteskan pada kaset tes HCG pada sumur sampel
- Tunggulah 5 10 menit
- Bacalah dengan memperhatikan kontrol dan hasil tes
- Laporkan hasil pemeriksaan !
31

Gambar 1. Cara melakukan tes strip kehamilan

Gambar 2. Jenis-jenis tes kehamilan

32

PRAKTIKUM FARMASI-KEDOKTERAN

A. PRAKTIKUM : FERTILITAS PEREMPUAN


Sasaran Belajar :
Mahasiswa memahami mengenai keadaan fertilitas perempuan berupa :
1. Struktur mikroskopis organ yang terlibat dalam proses kehamilan dan laktasi
2. Gangguan kehamilan dan laktasi (abortus, kehamilan ektopik, adenoma laktans)
3. Pemeriksaan kehamilan urin ( HCG)
4. Berbagai sediaan obat yang dapat mempengaruhi fertilitas serta mekanisme kerjanya
PEMBAHASAN :
Mengenal berbagai sediaan obat yang dapat mempengaruhi fertilitas perempuan dan mekanisme
kerjanya:
1. Sediaan tablet yang mengandung hormon progesterone
2. Sediaan tablet yang mengandung hormon progesterone dan estrogen
3. Sediaan injeksi yang mengandung hormon progesterone
4. Sediaan injeksi yang mengandung hormon progesterone dan estrogen

B. PRAKTIKUM : KELUARGA BERENCANA


Sasaran Belajar :
Mahasiswa mengetahui dan memahami mengenai :
1. Cara mengisi Partograph dan kemanfaatannya
2. Mempelajari berbagai sediaan obat KB hormonal dan Non-hormonal, aplikasinya dan
contoh penulisan resepnya
PEMBAHASAN :
1. Preparat sediaan tablet yang mengandung hormon progesterone dan aplikasi pemakaian
2. Preparat sediaan tablet yang mengandung hormon progesterone dan estrogen dan aplikasi
pemakaian
3. Preparat sediaan injeksi yang mengandung hormon progesterone dan aplikasi pemakaian
4. Preparat sediaan injeksi yang mengandung hormon progesterone dan estrogen dan aplikasi
pemakaian
5. Preparat sediaan IUD
6. Preparat sediaan non hormonal dan aplikasi pemakaian
Contoh penulisan resep yang rasional
33