Anda di halaman 1dari 200

PPh Badan

Anang Mury Kurniawan


anangmury@gmail.com
+6289604575476

Subjek Pajak
a.

b.
c.

1.
2.

orang pribadi;
warisan yang belum terbagi
sebagai satu kesatuan,
menggantikan yang berhak
Badan
Bentuk usaha tetap

7_6

Pengertian Badan
Badan adalah
sekumpulan orang dan/atau modal
yang merupakan kesatuan
baik yang melakukan usaha maupun yang tidak
melakukan usaha
yang meliputi
perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik
daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma,
kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan,
yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau
organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya
termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

6_8

Bukan Subjek Pajak Badan


Unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
1. pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
2. pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah;
3. penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah
Pusat atau Pemerintah Daerah; dan
4. pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional
negara; dan

Termasuk Subjek Badan


Badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah merupakan subjek pajak tanpa
memperhatikan nama dan bentuknya sehingga
setiap unit tertentu dari badan Pemerintah,
misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yang dimiliki
oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk
memperoleh penghasilan merupakan subjek pajak.

Subjek Pajak Badan Dalam Negeri dan


Luar Negeri
Badan Dalam Negeri
badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia

Badan Luar Negeri


badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui
bentuk usaha tetap di Indonesia
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari
Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

Didirikan di Indonesia
pendirian atau
pembentukannya:
berdasarkan ketentuan
perundang-undangan di
Indonesia
didaftarkan di Indonesia
berdasarkan ketentuan
perundang-undangan di
Indonesia
di dalam wilayah hukum
Indonesia.

Bertempat Kedudukan di
Indonesia
tempat kedudukan sesuai
akta pendirian
kantor pusat
pusat administrasi dan/atau
pusat keuangan
tempat kantor pimpinan yang
melakukan pengendalian
pengurusnya melakukan
pertemuan untuk membuat
keputusan strategis
pengurusnya bertempat
tinggal atau berdomisili
:98

Perbedaan Subjek Pajak dalam negeri


dan luar negeri
Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang
diterima atau diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak hanya atas penghasilan
yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.
Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto
dengan tarif umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak
berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan; dan
Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang
terutang dalam suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak luar negeri
tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan
pajak yang bersifat final.

Bentuk Usaha Tetap


Bentuk usaha tetap adalah
bentuk usaha
yang dipergunakan oleh
orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang
pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam
jangka waktu 12 bulan, dan
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia

untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di


Indonesia

BUT dapat berupa. (1)


tempat kedudukan manajemen;
cabang perusahaan;
kantor perwakilan;
gedung kantor;
pabrik;
bengkel;
gudang;
ruang untuk promosi dan penjualan;
pertambangan dan penggalian sumber alam;
wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;
perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau
kehutanan

BUT dapat berupa (2)


proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh
orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh)
hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;
orang atau badan yang bertindak selaku agen yang
kedudukannya tidak bebas;
agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang
menerima premi asuransi atau menanggung resiko di
Indonesia; dan
komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang
dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi
elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui
internet.

Perlakuan Perpajakan BUT


Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak
yang perlakuan perpajakannya dipersamakan
dengan subjek pajak badan

7_6z

Tidak termasuk subjek pajak


(1) Yang tidak termasuk subjek pajak adalah :
a. kantor perwakilan negara asing;
b. pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari
negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada
dan bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan syarat bukan warga negara
Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di luar
jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara bersangkutan memberikan perlakuan
timbal balik;
c. organisasi-organisasi internasional dengan syarat :
1. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
2. tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal
dari iuran para anggota;
d. pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud pada huruf
c, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha,
kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
(2) Organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Dari Segi Cara Pengenaan Pajak Atas


Penghasilan
Penghasilan Objek Pajak
o Penghasilan Objek PPh Final (Pasal 4 ayat
(2))
o Penghasilan Objek PPh Tidak Final (Objek
PPh Badan)

Penghasilan Bukan Objek Pajak (Pasal 4


ayat (3))

skema
TOTAL SELURUH PENGHASILAN .

dikurangi Penghasilan yang merupakan Objek


Pajak yang dipotong PPh Final (Pasal
4 ayat (2))

(B)

dikurangi Penghasilan yang bukan merupakan


Objek Pajak (Pasal 4 ayat (3)).

(C)

Penghasilan yang merupakan Objek


Pajak PPh tidak bersifat Final (Pasal
4 ayat (1))..

A-B-C

Objek Pajak
Ps. 4 ayat (1)
Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan
Penghasilan yaitu
setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak,
baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia,
yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,

dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

Bentuk Penghasilan
Dalam bentuk uang (Benefit in Cash)

Dalam bentuk barang (natura) / kenikmatan


(Benefit in Kind)

Pengelompokan Penghasilan
Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja
dan pekerjaan bebas,
seperti ; gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter,
notaris, aktuaris, pengacara, dsb.

Penghasilan dari usaha dan kegiatan.


Penghasilan dari modal yang berupa harta gerak
ataupun harta tak gerak
seperti ; bunga, dividen, royalty, sewa, keuntungan
penjualan harta atau hak yang dipergunakan untuk usaha,
dsb.

Penghasilan lain-lain,
seperti ; pembebasan utang, hadiah, dan sebagainya.

Objek Pajak
Termasuk penghasilan (1)
Penggantian atau imbalan berkenaan dengan
pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,
bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam
bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam
Undang-undang ini;
hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan
penghargaan;
laba usaha;

Objek Pajak
Termasuk penghasilan (2)
keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk :

keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan


badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau
anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;
keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan
dalam bentuk apa pun;
keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan,
kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk
yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil,
yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan; dan
keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak
penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam
perusahaan pertambangan;

Objek Pajak
Termasuk penghasilan (3)
penerimaan kembali pembayaran pajak yang
telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak;
Contoh: Pajak Bumi dan Bangunan yang sudah
dibayar dan dibebankan sebagai biaya, yang
karena sesuatu sebab dikembalikan, maka jumlah
sebesar pengembalian tersebut merupakan
penghasilan.

Objek Pajak
Termasuk penghasilan (3)
bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan
karena jaminan pengembalian utang;

Premium terjadi apabila misalnya surat obligasi dijual di


atas nilai nominalnya
sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli di
bawah nilai nominalnya.
Premium tersebut merupakan penghasilan bagi yang
menerbitkan obligasi
dan diskonto merupakan penghasilan bagi yang membeli
obligasi

dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun,


termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada
pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha
koperasi;

Objek Pajak
Termasuk penghasilan (4)
Termasuk Deviden

pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama
dan dalam bentuk apapun;
pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor;
pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham
bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham;
pembagian laba dalam bentuk saham;
pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran;
jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh
pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang
bersangkutan;
pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika
dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika
pembayaran kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter)
yang dilakukan secara sah;
pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima
sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut;
bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi;
bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;
pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;
pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang
dibebankan sebagai biaya perusahaan.,

Objek Pajak
Termasuk penghasilan (5)
royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
Royalti adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau
perhitungan apa pun, baik dilakukan secara berkala maupun tidak, sebagai imbalan atas
1. penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian atau karya
ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau
bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya;
2. penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial, atau
ilmiah;
3. pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial, atau komersial;
4. pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau hak
menggunakan hak-hak tersebut pada angka 1, penggunaan atau hak menggunakan peralatan/
perlengkapan tersebut pada angka 2, atau pemberian pengetahuan atau informasi tersebut
pada angka 3, berupa :
penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, yang disalurkan
kepada masyarakat melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa;
penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, untuk siaran
televisi atau radio yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang
serupa;
penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radio komunikasi;
penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films), film atau pita video untuk
siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio; dan

5. pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian
hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya sebagaimana tersebut di atas.

Objek Pajak
Termasuk penghasilan (6)
sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta;
penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;

keuntungan karena pembebasan utang, kecuali


sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah
PP NOMOR 130 TAHUN 2000; utang usaha yang jumlahnya tidak lebih dari Rp
350.000.000, Kukesra, KUT, KPRSS, KUK

keuntungan selisih kurs mata uang asing;


selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;

Objek Pajak
Termasuk penghasilan (7)
premi asuransi;
iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari
anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
tambahan kekayaan neto yang berasal dari
penghasilan yang belum dikenakan pajak.
penghasilan dari usaha berbasis syariah;
imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan
umum dan tata cara perpajakan; dan
surplus Bank Indonesia.

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)


bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan
amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang
diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh
penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; (PP No 18 Tahun 2009) dan
harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan,
badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang
menjalankan usaha mikro dan kecil (kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000,
hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000), yang ketentuannya diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,(KEPMENKEU NO.
604/KMK.04/1994, PER MENKEU NO. 245/PMK.03/2008)

sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan,


atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;

Hubungan antara Wajib Pajak pemberi dan Wajib


Pajak penerima bantuan atau, sumbangan atau zakat
Hubungan di antara pihak-pihak yang bersangkutan (Wajib Pajak pemberi
dan Wajib Pajak penerima bantuan atau, sumbangan, termasuk zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya
wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, dan atau harta hibahan)

dapat terjadi karena


ketergantungan atau keterikatan satu dengan yang lain secara
langsung atau tidak langsung berkenaan dengan:
a. Usaha dapat terjadi apabila terdapat transaksi yang
bersifat rutin antara kedua belah pihak
b. Pekerjaan terjadi apabila terdapat hubungan yang
berupa pekerjaan, pemberian jasa, atau pelaksanaan
kegiatan secara langsung atau tidak langsung antara kedua
pihak tersebut
c. kepemilikan atau penguasaan terjadi apabila terdapat:
a. penyertaan modal secara langsung atau tidak
langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat
(4) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan; atau
b. hubungan penguasaan secara langsung atau tidak
langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat
(4) huruf b Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Contoh hubungan berkenaan dengan pekerjaan


Tn. Bambang merupakan direktur PT ABC dan Tn.
Cahyono merupakan pegawai PT ABC. Dalam hal ini,
antara PT ABC dengan Tn. Bambang dan/atau Tn.
Cahyono terdapat hubungan pekerjaan langsung.
Jika Tn. Bambang dan/atau Tn. Cahyono menerima
bantuan sumbangan dari PT ABC atau sebaliknya,
maka bantuan sumbangan tersebut merupakan
objek Pajak Penghasilan bagi yang menerima karena
antara PT ABC dengan Tn. Bambang dan/atau Tn.
Cahyono mempunyai hubungan pekerjaan langsung.

Contoh hubungan berkenaan dengan pekerjaan


Tn Amir bekerja sebagai petugas dinas luar asuransi
dari perusahaan asuransi PT ABC. Meskipun Tn Amir
tidak berstatus sebagai pegawai PT ABC, namun antara
PT ABC dan Tn Amir dianggap mempunyai hubungan
pekerjaan tidak langsung.
Jika Tn Amir menerima bantuan atau sumbangan dari
PT ABC atau sebaliknya, maka bantuan atau
sumbangan tersebut merupakan objek Pajak
Penghasilan bagi pihak yang menerima karena antara
PT ABC dan Tn Amir mempunyai hubungan pekerjaan
tidak langsung.

Penguasaan manajemen secara langsung


Tuan Amir dan Tuan Bambang, adalah direktur PT PRIMA TAMA, sedangkan Tuan Cahyono
adalah komisaris PT PRIMA TAMA.
Selain itu, Tuan Cahyono juga menjadi direktur di PT AMAN SENTOSA, dan Tuan Bambang
sebagai komisaris di PT AMAN SENTOSA.
Tuan Bambang Junior adalah direktur PT SUMBER REJEKI, sedangkan Tuan Edi sebagai
komisaris PT SUMBER REJEKI.
Tuan Bambang Junior adalah anak dari Tuan Bambang yang menjadi direktur PT PRIMA
TAMA dan komisaris PT AMAN SENTOSA.

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN


KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN
(PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

Harta hibah, bantuan, atau sumbangan yang diterima


oleh :
a. keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat;
b. badan keagamaan;
c. badan pendidikan;
d. badan sosial termasuk yayasan dan koperasi; atau
e. orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil
(kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000, hasil
penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000)

dikecualikan sebagai objek Pajak Penghasilan.

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN


KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN
(PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

Keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat


adalah orang tua dan anak kandung.
Badan keagamaan adalah badan keagamaan yang kegiatannya
semata-mata mengurus tempat-tempat ibadah dan/atau
menyelenggarakan kegiatan di bidang keagamaan, yang tidak
mencari keuntungan.
Badan pendidikan adalah badan pendidikan yang kegiatannya
semata-mata menyelenggarakan pendidikan yang tidak
mencari keuntungan.

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN


KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN
(PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

Badan sosial termasuk yayasan dan koperasi adalah badan


sosial yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan :
pemeliharaan kesehatan;
pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo);
Pemeliharaan anak yatim-piatu, anak atau orang terlantar, dan anak
atau orang cacat;
santunan dan/atau pertolongan kepada korban bencana alam,
kecelakaan, dan sejenisnya;
pemberian beasiswa;
pelestarian lingkungan hidup; dan/atau
kegiatan sosial lainnya.

yang tidak mencari keuntungan

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN


KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN
(PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

Orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan


usaha kecil adalah orang pribadi yang menjalankan
usaha mikro dan usaha kecil yang memiliki dan
menjalankan usaha produktif yang memenuhi
kriteria sebagai berikut :
memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;atau
memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp
2.500.000.000

BADAN-BADAN DAN ORANG PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN


KECIL YANG MENERIMA HARTA HIBAH, BANTUAN, ATAU SUMBANGAN YANG TIDAK
TERMASUK SEBAGAI OBJEK PAJAK PENGHASILAN
(PERMENKEU NOMOR 245/PMK.03/2008)

Ketentuan pengecualian harta hibah, bantuan, atau


sumbangan dari objek Pajak Penghasilan berlaku
apabila pihak pemberi hibah, bantuan, atau
sumbangan tidak mempunyai hubungan usaha,
pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan dengan
penerima hibah, bantuan, atau sumbangan.
Harta hibah, bantuan, atau sumbangan dibukukan
oleh pihak penerima sesuai dengan nilai buku harta
hibah, bantuan, atau sumbangan dari pihak pemberi.

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)


warisan;
harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PPh
sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan
modal;
penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau
kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang
diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak
secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma
penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 UU PPh;
pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi
sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,
asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)


dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh
perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri,
koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik
daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan
syarat :
dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha
milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan
yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang
disetor;

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)


iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan, baik yang
dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun,
dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan;
bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari
perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas
saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi,
termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi
kolektif;

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)


penghasilan yang diterima atau diperoleh
perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari
badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia,
dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :
merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang
menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan; dan
sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)


beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih

lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; Peraturan


Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.03/2008 stdtd. Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 154/PMK.03/2009
Atas penghasilan berupa beasiswa yang diterima atau diperoleh Warga Negara Indonesia
dari Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan formal dan/atau
pendididikan nonformal yang dilaksanakan di dalam negeri dan/atau di luar negeri
dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri
atas tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Tidak berlaku apabila penerima beasiswa mempunyai hubungan istimewa dengan :

Pemilik;
Komisaris;
Direksi; atau
Pengurus,

dari Wajib Pajak pemberi beasiswa.

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)


sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya,
yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan
pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu
paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan; dan
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
80/PMK.03/2009, PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER 44/PJ./2009
Badan atau lembaga nirlaba wajib menyampaikan pemberitahuan (bersamaan dg
penyempaian SPT) mengenai rencana fisik sederhana dan rencana biaya
pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau
penelitian dan pengembangan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib
Pajak terdaftar dengan tindasan kepada instansi yang membidanginya.

Bukan Objek Pajak - Ps. 4 ayat (3)


bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada
Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya
diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan. (Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 247/PMK.03/2008)

Objek PPh Final Ps. 4 ayat (2)

Objek PPh Final Ps. 4 ayat (2)

Objek PPh Final Ps. 4 ayat (2)

Objek PPh Final Ps. 4 ayat (2)

Objek PPh Final Ps. 4 ayat (2)

Objek PPh Final Ps. 4 ayat (2)

PPh FINAL
Penghasilan Usaha WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
PP No 46 Tahun 2013

Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib


Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak
Penghasilan yang bersifat final
Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu adalah Wajib
Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a.
b.

Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk
bentuk usaha tetap; dan
menerima, penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari
jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto
tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 dalam 1 Tahun Pajak

Besarnya tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah 1%


Dasar pengenaan pajak yang digunakan untuk menghitung Pajak
Penghasilan yang bersifat final adalah jumlah peredaran bruto
setiap bulan, untuk setiap tempat kegiatan usaha.

PPh Final = 1% x Peredaran Bruto tiap bulan

Tidak termasuk Wajib Pajak Badan


Dikenakan PPh FINAL
Wajib Pajak badan yang belum beroperasi
secara komersial; atau
Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1
tahun setelah beroperasi secara komersial
memperoleh peredaran bruto melebihi
Rp4.800.000.000,00

Penentuan Saat Beroperasi Komersial


SE - 32/PJ/2014

saat Wajib Pajak melakukan kegiatan operasi secara


komersial untuk pertama kali bagi Wajib Pajak yang
bergerak di sektor:
jasa, adalah saat pertama kali dilakukannya penjualan jasa
dan/atau saat diterima atau diperolehnya pendapatan/
penghasilan; dan/atau
dagang dan industri, adalah saat pertama kali dilakukannya
penjualan barang dan/atau saat diterima atau
diperolehnya pendapatan/penghasilan.

Peredaran Bruto yang Menjadi Dasar


Pengenaan PPh FINAL didasarkan pada peredaran bruto
dari usaha dalam 1 tahun dari Tahun Pajak terakhir
sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan (tahun
sebelumnya)
Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4.800.000.000,00
ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha
seluruhnya termasuk dari usaha cabang, tidak termasuk
peredaran bruto dari:
a.
b.
c.

d.

jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas;


penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;
usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak
Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan tersendiri; dan
penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak

Peredaran Bruto yang Menjadi Dasar


bagi WP Baru
didasarkan pada jumlah peredaran bruto pada
bulan pertama diperolehnya penghasilan dari
usaha yang disetahunkan

Peredaran Bruto Sebelumnya


Kurang Dari 12 Bulan
Dalam hal peredaran bruto dari usaha pada Tahun
Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan
tidak meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan,
pengenaan Pajak Penghasilan didasarkan pada jumlah
peredaran bruto Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun
Pajak bersangkutan yang disetahunkan
Contoh :
WP A terdaftar sebagai WP tanggal 1 Oktober 2013. Peredaran
bruto Oktober sd Desember Rp300.000.000.
Untuk menentukan peredaran bruto sebagai dasar penerapan PP46 :
300.000.000 x 12/3 = 1.200.000.000

Dengan demikian Penghasilan Tahun 2014 dikenakan PPh Final

Peredaran Bruto Kumulatif Wajib Pajak Pada Suatu


Bulan Telah Melebihi Jumlah Rp4.800.000.000,00
Dalam hal peredaran bruto kumulatif Wajib Pajak pada suatu
bulan telah melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 dalam suatu
Tahun Pajak, Wajib Pajak tetap dikenai tarif PPh FINAL
sampai dengan akhir Tahun Pajak yang bersangkutan
Contoh :
Peredaran bruto tahun 2013 Rp4.000.000.000
Peredaran bruto Januari sd Juni 2014 mencapai Rp4.800.000.000
Peredaran bruto Juli sd Desember 2014 Rp5.000.000.000
Wajib pajak selama bulan Juli sd Desember 2014 tetap penghitung
sesuai PP-46 dikenakan tarif PPh FINAL

Peredaran Bruto Kumulatif Wajib Pajak Pada Suatu


Bulan Telah Melebihi Jumlah Rp4.800.000.000,00

Dalam hal peredaran bruto Wajib Pajak telah


melebihi jumlah Rp4.800.000.000,00 pada suatu
Tahun Pajak, atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak pada Tahun Pajak
berikutnya dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan
tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan

Contoh :
Peredaran bruto tahun 2013 Rp4.000.000.000
Peredaran bruto Januari sd Juni 2014 mencapai Rp4.800.000.000
Peredaran bruto Juli sd Desember 2014 Rp5.000.000.000
Peredaran bruto tahun 2015 Rp3.000.000.000
Wajib pajak tahun 2015 dikenakan Tarif Pasal 17 (TIDAK FINAL)

Wajib Pajak badan yang belum


beroperasi secara komersial
Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara
komersial dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan
tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan
sampai dengan jangka waktu 1 (satu) tahun sejak
beroperasi secara komersial.
Dalam hal Jangka waktu 1 (satu) tahun melewati
Tahun Pajak yang bersangkutan, ketentuan
pengenaan PPh dengan tarif umum berlaku
sampai dengan akhir Tahun Pajak berikutnya.

SE - 42/PJ/2013
Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak
Penghasilan yang bersifat final bagi Wajib Pajak
badan yang baru beroperasi secara komersial untuk
pertama kali ditentukan berdasarkan peredaran
bruto dari usaha 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun
Pajak beroperasi secara komersial, pengenaan Pajak
Penghasilan yang bersifat final selanjutnya untuk
Wajib Pajak yang bersangkutan ditentukan
berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak
sebelumnya

Penyetoran dan Pelaporan


Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang ke kantor
pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain
yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak, yang telah
mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara,
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir.
Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan wajib
menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling
lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan,
dianggap telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Penghasilan, sesuai dengan tanggal validasi Nomor Transaksi
Penerimaan Negara yang tercantum pada Surat Setoran Pajak.

Contoh
2014
Omset Rp0

2015
2016
2017
2018
Omset Rp1M Omset Rp4M Omset Rp5M Omset Rp3M

Perusahaan
Didirikan
10 Agustus 2014
Perusahaan
Beroperasi Komersial
15 April 2015
Pertanyaan :
a. Tahun kapan dikenakan PPh Final PP-46 ?
b. Tahun kapan dikenakan PPh Badan ?

Penilaian Harta
Pasal 10 ayat (1)
Harga perolehan atau harga penjualan dalam
hal terjadi jual beli harta yang tidak
dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah
jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau
diterima, sedangkan apabila terdapat
hubungan istimewa adalah jumlah yang
seharusnya dikeluarkan atau diterima.

Penilaian Harta Tukar Menukar


Pasal 10 ayat (2)
Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal
terjadi tukar-menukar harta adalah jumlah
yang seharusnya dikeluarkan atau diterima
berdasarkan harga pasar

Penilaian Harta
likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau
pengambilalihan usaha

Nilai perolehan atau pengalihan harta yang


dialihkan dalam rangka likuidasi,
penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, atau pengambilalihan usaha
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan
atau diterima berdasarkan harga pasar, kecuali
ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan

Penilaian Harta
Hibah
Apabila terjadi pengalihan harta :
yang BUKAN OBJEK PAJAK (memenuhi syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b),
maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan
sama dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan
pengalihan atau nilai yang ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak;
Yang OBJEK PAJAK (tidak memenuhi syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a), maka dasar
penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan
nilai pasar dari harta tersebut.

Penilaian Harta
Hibah
Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah, bantuan,
sumbangan yang bukan objek pajak atau warisan, maka nilai
perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah nilai sisa
buku harta dari pihak yang melakukan penyerahan. Apabila
Wajib Pajak tidak menyelenggarakan pembukuan sehingga
nilai sisa buku tidak diketahui, maka nilai perolehan atas harta
ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah, bantuan,
sumbangan yang objek pajak, maka nilai perolehan bagi pihak
yang menerima harta adalah harga pasar

Penilaian Harta
harta yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham
atau sebagai pengganti penyertaan modal

Apabila terjadi pengalihan harta sebagai


penyertaan modal (sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c), maka dasar
penilaian harta bagi badan yang menerima
pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta
tersebut

Penilaian Persediaan
Persediaan dan pemakaian persediaan untuk
penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan
harga perolehan yang dilakukan secara ratarata atau dengan cara mendahulukan
persediaan yang diperoleh pertama

Sekali Wajib Pajak memilih salah satu cara


penilaian pemakaian persediaan untuk
penghitungan harga pokok tersebut, maka
untuk tahun-tahun selanjutnya harus
digunakan cara yang sama

Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai


persediaan dengan menggunakan cara rata-rata

Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai


persediaan dengan menggunakan cara FIFO

Komersial Vs Fiskal
Net Realizable Value Vs Cost

Deductible Expense
Ps. 6 ayat (1)
biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang
merupakan objek pajak (tidak final)
biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan
usaha, antara lain:
biaya pembelian bahan;
biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium,
bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;
bunga, sewa, dan royalti;
biaya perjalanan;
biaya pengolahan limbah;
premi asuransi;
biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan;
biaya administrasi; dan
pajak kecuali Pajak Penghasilan.

Deductible Expense
Ps. 6 ayat (1)
penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh
harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran
untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal
11A;
Kelompok Harta Per Menkeu No 96/PMK.03/2009
Penyusutan Bidang tertentu Per Menkeu
249/PMK.03/2008
Penyusutan Masa sesungguhnya PER - 55/PJ/2009

Penyusutan

Metode penyusutan
Masa manfaat
Saat dimulainya penyusutan
Nilai sisa
Renovasi menambah masa manfaat
Tukar menukar aktiva

Penyusutan Menurut Ketentuan


Fiskal
Harta yg dpt disusutkan adalah harta berwujud yang memiliki
masa manfaat lebih dari 1 tahun yang digunakan untuk
mendapatkan menagih, dan memelihara penghasilan (obyek
pajak), kecuali tanah
Harta yang tidak digunakan untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan tidak boleh disusutkan secara
fiskal.
Dalam hal harta yang tidak boleh disusutkan secara fiskal
tersebut dijual (dialihkan),
keuntungannya merupakan obyek PPh, yang dihitung dari selisih
antara harga jual (nilai pasar) dengan harga perolehan.
Dalam hal selisihnya negatif (rugi), kerugian tersebut tidak dapat
dikurangkan sebagai biaya

Penyusutan Menurut Ketentuan


Fiskal
Penyusutan aktiva dimulai pada bulan
dilakukannya pengeluaran kecuali untuk harta
yang masih dalam proses pengerjaan,
penyusutannya dimulai pada bulan selesainya
pengerjaan harta tesebut

Metode Penyusutan Aktiva Tetap


Terhadap aktiva yang temasuk Kelompok I s.d.
Kelompok IV, wajib pajak diperkenankan untuk
memilih antara metode garis lurus (straight line
methode) atau metode saldo menurun (decline
balance methode).
Terhadap aktiva kelompok bangunan, wajib pajak
harus menerapkan metode garis lurus.
Penggunaan metode penyusutan tersebut harus
dilakukan secara taat azas.

Metode penyusutan
Garis lurus (straight line) mengalokasikan
biaya penyusutan dalam bagian yg sama besar
selama masa manfaat yg ditetapkan dari harta
Saldo menurun mengalokasikan biaya
penyusutan dalam bagian-bagian yg menurun
dg cara menerapkan tarif penyusutan atas
nilai sisa buku

masa manfaat dan tarif penyusutan


Kelompok Harta

Kelompok I
Kelompok II
Kelompok III
Kelompok IV
Bangunan
permanen
Bangunan tidak
permanen

Masa
Manfaat

Tarif Garis
Lurus

Tarif Saldo
Menurun

4 Th
8 Th
16 Th
20 Th
20 Th

25 %
12,5 %
6,25 %
5%
5%

50 %
25 %
12,5 %
10 %
-

10 Th

10 %

contoh
PT A membeli 1 unit mobil truck untuk
distribusi barang pada tanggal 5 Januari 2011
senilai Rp 200.000.000
PT A membeli 1 unit mesin fotocopy pada
tanggal 31 Maret 2011 senilai Rp 40.000.000

contoh
PT ABC membeli mobil pick up untuk distribusi
barang dagangan tanggal 10 Oktober 2011
seharga 100.000.000
Pada tanggal 5 April 2014 mobil tersebut
dijual seharga Rp 60.000.000
Hitung keuntungan (rugi) penjualan mobil tsb

PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN ATAS BIAYA PEMAKAIAN TELEPON


SELULER DAN KENDARAAN PERUSAHAAN
KEP - 220/PJ./2002

Atas biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang


dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu
karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai
biaya perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari
jumlah biaya perolehan atau pembelian melalui penyusutan
aktiva tetap kelompok I
Atas biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan
perbaikan telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau
pekerjannya, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan
sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah biaya
berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan dalam
tahun pajak yang bersangkutan

Atas biaya perolehan atau pembelian atau


perbaikan besar kendaraan bus, minibus, atau
yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk antar jemput para pegawai,
dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya
perusahaan melalui penyusutan aktiva tetap
kelompok II

Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin


kendaraan bus, minibus atau yang sejenis
yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan
untuk antar jemput para pegawai, dapat
dibebankan seluruhnya sebagai biaya
perusahaan dalam tahun pajak yang
bersangkutan

Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan


besar kendaraan sedan atau yang sejenis yang
dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai
tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50%
(lima puluh persen) dari jumlah biaya perolehan atau
pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan
aktiva tetap kelompok II

Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin


kendaraan yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan
atau pekerjaannya dapat dibebankan sebagai biaya
perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari
jumlah biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin
dalam tahun pajak yang bersangkutan.

Revaluasi
Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian
kembali aktiva, maka dasar penyusutan atas
harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian
kembali aktiva tersebut

Keuntungan Pengalihan/Penarikan
Harta
Apabila terjadi pengalihan atau penarikan
harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (1) huruf d atau penarikan harta karena
sebab lainnya, maka jumlah nilai sisa buku
harta tersebut dibebankan sebagai kerugian
dan jumlah harga jual atau penggantian
asuransinya yang diterima atau diperoleh
dibukukan sebagai penghasilan pada tahun
terjadinya penarikan harta tersebut

Pada dasarnya keuntungan atau kerugian karena pengalihan harta dikenai


pajak dalam tahun dilakukannya pengalihan harta tersebut.
Apabila harta tersebut dijual atau terbakar, maka penerimaan neto dari
penjualan harta tersebut, yaitu selisih antara harga penjualan dan biaya
yang dikeluarkan berkenaan dengan penjualan tersebut dan atau
penggantian asuransinya, dibukukan sebagai penghasilan pada tahun
terjadinya penjualan atau tahun diterimanya penggantian asuransi, dan
nilai sisa buku dari harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dalam
tahun pajak yang bersangkutan
Dalam hal penggantian asuransi yang diterima jumlahnya baru dapat
diketahui dengan pasti pada masa kemudian, Wajib Pajak dapat
mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah
sebesar kerugian tersebut dapat dibebankan dalam tahun penggantian
asuransi tersebut

Apabila terjadi pengalihan harta yang bukan


objek pajak (memenuhi syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan
huruf b), yang berupa harta berwujud, maka
jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak
boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak
yang mengalihkan

Amortisasi harta tak berwujud 1


Pengeluaran untuk memperoleh harta tak
berwujud dan pengeluaran lainnya
yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu
tahun, yang digunakan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan

Amortisasi harta tak berwujud 2


Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya
perluasan modal (dapat dipilih apakah diamortisasi
dengan metode di atas atau langsung dibebankan
seluruhnya pada tahun terjadinya).
Pengeluaran yang dilakukan sebelum perusahaan
beroperasi komersial yang memiliki masa manfaat
lebih dari satu tahun, dikapitalisasi (sebagai biaya
praoperasi) kemudian dimortisasi

Amortisasi harta tak berwujud 3


pengeluaran praoperasi adalah biaya-biaya yang
dikeluarkan sebelum perusahaan beroperasi
komersial, misalnya biaya study kelayakan dan biaya
produksi percobaan,
tetapi tidak termasuk biaya-biaya operasional yang
sifatnya rutin, seperti gaji pegawai, rekening listrik
dan telepon, dan biaya kantor lainnya.
Pengeluaran yang rutin tersebut harus dibebankan
sekaligus pada tahun terjadinya

masa manfaat dan tarif amortisasi


Kelompok Harta

Kelompok I
Kelompok II
Kelompok III
Kelompok IV

Masa
Manfaat

Tarif Garis
Lurus

Tarif Saldo
Menurun

4 Th
8 Th
16 Th
20 Th

25 %
12,5 %
6,25 %
5%

50 %
25 %
12,5 %
10 %

Amortisasi Hak
Penambangan Migas
Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan
pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
tahun di bidang penambangan minyak dan gas bumi dilakukan
dengan menggunakan metode satuan produksi.
Contoh
PT A mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan
minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp10 Milyar. Taksiran
jumlah kandungan minyak di daerah tersebut adalah sebanyak 200
juta barel
Pada tahun 2014 produksi minyak mencapai 50 juta barel

Amortisasi
Hak Penambangan Lainnya
Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak
penambangan
selain migas,
hak pengusahaan hutan, dan
hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam lainnya

yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun,


dilakukan dengan menggunakan metode satuan
produksi setinggi-tingginya 20% setahun.

Contoh
Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan,
yang mempunyai potensi 10.000.000 ton kayu, sebesar
Rp500.000.000 diamortisasi sesuai dengan persentase satuan
produksi yang direalisasikan dalam tahun yang bersangkutan.
Jika dalam 1 tahun pajak ternyata jumlah produksi mencapai
3.000.000 ton yang berarti 30% dari potensi yang tersedia,
walaupun jumlah produksi pada tahun tersebut mencapai
30% dari jumlah potensi yang tersedia, besarnya amortisasi
yang diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan
bruto pada tahun tersebut adalah 20% dari pengeluaran atau
Rp100.000.000,00

Pengalihan hak
Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud
atau hak, maka nilai sisa buku harta atau hakhak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan
jumlah yang diterima sebagai penggantian
merupakan penghasilan pada tahun terjadinya
pengalihan tersebut.

PT X mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak


dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp500.000.000,00. Taksiran jumlah
kandungan minyak di daerah tersebut adalah sebanyak 200.000.000 (dua
ratus juta) barel. Setelah produksi minyak dan gas bumi mencapai
100.000.000 (seratus juta) barel, PT X menjual hak penambangan tersebut
kepada pihak lain dengan harga sebesar Rp300.000.000,00. Penghitungan
penghasilan dan kerugian dari penjualan hak tersebut adalah sebagai
berikut :
Harga perolehan
Amortisasi yang telah dilakukan
100.000.000/200.000.000 barel (50%)
Nilai buku harta
Harga jual harta

Rp 500.000.000,00
Rp 250.000.000,00
Rp 250.000.000,00
Rp 300.000.000,00

Dengan demikian jumlah nilai sisa buku sebesar Rp 250.000.000,00


dibebankan sebagai kerugian dan jumlah sebesar Rp300.000.000,00
dibukukan sebagai penghasilan.

PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGELUARAN/BIAYA PEROLEHAN


PERANGKAT LUNAK (SOFTWARE) KOMPUTER
KEP - 316/PJ./2002

Perangkat lunak (software) komputer adalah semua program


yang (lapat digunakan pada sistem operasi komputer .
Program aplikasi umum adalah program yang dapat
dipergunakan oleh pengguna (users) umum untuk memproses
berbagai pekerjaan dengan komputer .
Program aplikasi khusus adalah program yang dirancang
khusus untuk keperluan otomatisasi sistem administrasi,
pekerjaan atau kegiatan usaha tertentu, seperti di bidang
perbankan, pasar modal, perhotelan, rumah sakit atau
penerbangan.

Perangkat lunak komputer merupakan harta tak


berwujud (intangible asset) yang mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun dan termasuk dalam
kelompok-1 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11A
ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan.
Perangkat lunak komputer berupa program aplikasi
umum diperlakukan sebagai pengeluaran atau biaya
operasional rutin

Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat


lunak komputer berupa program aplikasi umum yang dimiliki
dan digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan
umum Undang-undang Pajak Penghasilan, pembebanannya
dilakukan sekaligus dalam bulan pengeluaran
Dalam hal program aplikasi umum tersebut diperoleh sebagai
bagian dari harga pembelian perangkat keras komputer, maka
pembebanannya sudah termasuk dalam penyusutan
perangkat keras komputer tersebut (Kelompok-1).

Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat


lunak komputer berupa program aplikasi khusus yang dimiliki
dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan
ketentuan umum Undang-undang Pajak Penghasilan,
pembebanannya dilakukan melalui amortisasi harta tak
berwujud (Kelompok-1).
Dalam hal pengeluaran/biaya upgrade program aplikasi
khusus tersebut pada ayat (3). pengeluaran/biaya tersebut
terlebih dahulu ditambahkan pada nilai sisa buku fiskal yang
masih ada dan amortisasinya dilakukan dengan masa manfaat
baru/penuh terhitung mulai bulan dilakukan upgrade.

Deductible Expense - Penyusutan

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1


Nomor
1

Jenis Usaha

Jenis Harta

Semua jenis usaha

a.

b.

c.
d.
e.
f.
g.

Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk


meja, bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan
bagian dari bangunan.
Mesin
kantor
seperti
mesin
tik,
mesin
hitung,
duplikator, mesin fotokopi, mesin akunting/pembukuan,
komputer, printer, scanner dan sejenisnya.
Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/cassette,
video recorder, televisi dan sejenisnya.
Sepeda motor, sepeda dan becak.
Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa
yang bersangkutan.
Dies, jigs, dan mould.
Alat-alat komunikasi seperti pesawat telepon, faksimile,
telepon seluler dan sejenisnya.

Pertanian, perkebunan,
kehutanan,

Alat yang digerakkan bukan dengan mesin


peternakan, perikanan, garu dan lain-lain.

Industri makanan
minuman

dan

Mesin ringan yang dapat dipindah-pindahkan seperti, huller,


pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet, dan sejenisnya.

Transportasi
Pergudangan

dan

Mobil taksi, bus dan truk yang digunakan sebagai angkutan


umum.

Industri semi konduktor

Falsh memory tester, writer machine,


elimination (PE8-1), pose checker.

Jasa
Peralatan
Dalam

Anchor, Anchor Chains, Polyester Rope, Steel Buoys, Steel Wire


Ropes, Mooring Accessoris.

Jasa
selular

Persewaan
Tambat
Air
telekomunikasi

Base Station Controller

seperti

biporar

test

cangkul,

system,

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 2


Nomor
1

Jenis Usaha
Semua jenis usaha

Jenis Harta
a.

b.
c.

Pertanian,
perkebunan,
kehutanan, perikanan

a.

b.

Industri makanan dan


minuman

a.
b.

c.
d.

Industri mesin

Perkayuan, kehutanan

Konstruksi

Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja, bangku,


kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan merupakan
bagian dari bangunan. Alat pengatur udara seperti AC,
kipas angin dan sejenisnya.
Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya.
Container dan sejenisnya.

Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan mesin


bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan
sejenisnya.
Mesin
yang
mengolah
atau
menghasilkan
atau
memproduksi bahan atau barang pertanian, perkebunan,
peternakan dan perikanan.

Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas dan


perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan .
Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin
minyak kelapa, margarin, penggilingan kopi, kembang
gula, mesin pengolah biji-bijian seperti penggilingan
beras, gandum, tapioka.
Mesin yang menghasilkan/memproduksi minuman dan
bahan-bahan minuman segala jenis.
Mesin yang menghasilkan/memproduksi bahan-bahan
makanan dan makanan segala jenis.

Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin ringan (misalnya


mesin jahit, pompa air).
a.
b.

Mesin dan peralatan penebangan kayu.


Mesin
yang
mengolah
atau
menghasilkan
memproduksi bahan atau barang kehutanan.

atau

Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck,


crane buldozer dan sejenisnya.

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 2


7

Transportasi
Pergudangan

dan

a.
b.

c.

d.
e.

Telekomunikasi

a.
b.

Truk kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat, truk


peron, truck ngangkang, dan sejenisnya;
Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat
untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum,
batu - batuan, biji tambang dan sebagainya) termasuk
kapal pendingin, kapal tangki, kapal penangkap ikan dan
sejenisnya, yang mempunyai berat sampai dengan 100
DWT;
Kapal
yang
dibuat
khusus
untuk
menghela
atau
mendorong kapal-kapal suar, kapal pemadam kebakaran,
kapal
keruk,
keran
terapung
dan
sejenisnya
yang
mempunyai berat sampai dengan 100 DWT;
Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai
berat sampai dengan 250 DWT;
Kapal balon.

Perangkat pesawat telepon;


Pesawat telegraf termasuk pesawat pengiriman
penerimaan radio telegraf dan radio telepon.

dan

Industri semi konduktor

Auto frame loader, automatic logic handler, baking oven, ball shear
tester, bipolar test handler (automatic), cleaning machine, coating
machine, curing oven, cutting press, dambar cut machine, dicer,
die bonder, die shear test, dynamic burn-in system oven, dynamic
test handler, eliminator (PGE-01), full automatic handler, full
automatic mark, hand maker, individual mark, inserter remover
machine, laser marker (FUM A-01), logic test system, marker
(mark), memory test system, molding, mounter, MPS automatic,
MPS manual, O/S tester manual, pass oven, pose checker, re-form
machine,
SMD
stocker,
taping
machine,
tiebar
cut
press,
trimming/forming machine, wire bonder, wire pull tester.

10

Jasa Persewaan Peralatan


Tambat Air Dalam

Spoolling Machines, Metocean Data Collector

11

Jasa
Seluler

Mobile Switching Center, Home Location Register, Visitor Location


Register. Authentication Centre, Equipment Identity Register,
Intelligent Network Service Control Point, intelligent Network
Service Managemen Point, Radio Base Station, Transceiver Unit,
Terminal SDH/Mini Link, Antena

Telekomunikasi

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 3


Nomor

Jenis Usaha

Pertambangan
minyak dan gas

Permintalan,
pertenunan
pencelupan

Jenis Harta

selain

Mesin-mesin yang dipakai dalam bidang pertambangan,


termasuk mesin-mesin yang mengolah produk pelikan.
a.

dan

b.

Perkayuan

a.

b.

Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-produk


tekstil (misalnya kain katun, sutra, serat-serat buatan,
wol dan bulu hewan lainnya, lena rami, permadani,
kain-kain bulu, tule).
Mesin untuk yang preparation, bleaching, dyeing,
printing, finishing, texturing, packaging dan sejenisnya.

Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-produk


kayu, barang-barang dari jerami, rumput dan bahan
anyaman lainnya.
Mesin dan peralatan penggergajian kayu.

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 3


Nomor
4

Jenis Usaha

Jenis Harta

Industri kimia

a.

b.

Industri mesin

Transportasi
Pergudangan

Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin menengah dan


berat (misalnya mesin mobil, mesin kapal).
dan

a.

b.

c.
d.
e.

Telekomunikasi

Mesin peralatan yang mengolah/menghasilkan produk


industri kimia dan industri yang ada hubungannya
dengan industri kimia (misalnya bahan kimia anorganis,
persenyawaan organis dan anorganis dan logam mulia,
elemen radio aktif, isotop, bahan kimia organis, produk
farmasi, pupuk, obat celup, obat pewarna, cat, pernis,
minyak eteris dan resinoida-resinonida wangi-wangian,
obat kecantikan dan obat rias, sabun, detergent dan
bahan
organis
pembersih
lainnya,
zat
albumina,
perekat, bahan peledak, produk pirotehnik, korek api,
alloy piroforis, barang fotografi dan sinematografi.
Mesin yang mengolah/menghasilkan produk industri
lainnya (misalnya damar tiruan, bahan plastik, ester
dan eter dari selulosa, karet sintetis, karet tiruan, kulit
samak, jangat dan kulit mentah).

Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat


untuk pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya
gandum, batu-batuan, biji tambang dan sejenisnya)
termasuk kapal pendingin dan kapal tangki, kapal
penangkapan ikan dan sejenisnya, yang mempunyai
berat di atas 100 DWT sampai dengan 1.000 DWT.
Kapal dibuat khusus untuk mengela atau mendorong
kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal
keruk,
keran
terapung
dan
sejenisnya,
yang
mempunyai berat di atas 100 DWT sampai dengan
1.000 DWT.
Dok terapung.
Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai
berat di atas 250 DWT.
Pesawat terbang dan helikopter-helikopter segala jenis.

Perangkat radio navigasi, radar dan kendali jarak jauh.

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 4


Nomor

Jenis Usaha

Konstruksi

Transportasi
Pergudangan

Jenis Harta
Mesin berat untuk konstruksi
dan

a.
b.
c.
d.

e.

f.

g.

Lokomotif uap dan tender atas rel.


Lokomotif listrik atas rel, dijalankan dengan batere atau
dengan tenaga listrik dari sumber luar.
Lokomotif atas rel lainnya.
Kereta, gerbong penumpang dan barang, termasuk
kontainer khusus dibuat dan diperlengkapi untuk ditarik
dengan satu alat atau beberapa alat pengangkutan.
Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat
untuk pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya
gandum, batu-batuan, biji tambang dan sejenisnya)
termasuk kapal pendingin dan kapal tangki, kapal
penangkap ikan dan sejenisnya, yang mempunyai berat
di atas 1.000 DWT.
Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong
kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal
keruk, keran-keran terapung dan sebagainya, yang
mempunyai berat di atas 1.000 DWT.
Dok-dok terapung.

Jenis-jenis Harta Berwujud Bukan Bangunan


Yang Tidak Tercantum
Jenis-jenis harta berwujud bukan bangunan
yang tidak tercantum dalam Lampiran I,
Lampiran II, Lampiran III, dan Lampiran IV,
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
96/PMK.03/2009, untuk kepentingan
penyusutan digunakan masa manfaat
dalam Kelompok 3

Tata Cara Permohonan Dan Penetapan Masa Manfaat Yang


Sesungguhnya Atas Harta Berwujud Bukan Bangunan Untuk
Keperluan Penyusutan
Per Dirjen PER - 55/PJ/2009

Dalam hal Wajib Pajak dapat menunjukkan masa manfaat yang


sesungguhnya dari suatu harta berwujud bukan bangunan tidak dapat
dimasukkan ke dalam kelompok 3, Wajib pajak harus mengajukan
permohonan untuk penetapan kelompok harta berwujud bukan bangunan
tersebut sesuai dengan masa manfaat yang sesungguhnya kepada Direktur
Jenderal Pajak melalui Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
yang membawahi KPP tempat Wajib Pajak yang bersangkutan terdaftar
Permohonan harus disampaikan dengan menggunakan formulir Lampiran
1 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dan dilampiri:

penjelasan terperinci mengenai aktiva;


spesifikasi aktiva dari produsen;
perkiraan umur aktiva/masa manfaat ekonomis dari Penilai Publik; dan
dokumen teknis pendukung dari produsen mengenai masa manfaat aktiva.

Tata Cara Permohonan Dan Penetapan Masa Manfaat Yang


Sesungguhnya Atas Harta Berwujud Bukan Bangunan Untuk
Keperluan Penyusutan
Per Dirjen PER - 55/PJ/2009

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, atas


nama Menteri Keuangan, harus memberikan
keputusan atas permohonan Wajib Pajak paling lama
1 (satu) bulan sejak permohonan beserta dokumen
pendukung diterima secara lengkap
Apabila jangka waktu telah lewat dan Kepala Kantor
Wilayah Direktorat Jenderal Pajak belum
memberikan keputusan, permohonan Wajib Pajak
dianggap diterima.

Deductible Expense
Ps. 6 ayat (1)
iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
oleh Menteri Keuangan;
kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki
dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;
kerugian selisih kurs mata uang asing;
biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang
dilakukan di Indonesia;
biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;

KEUNTUNGAN ATAU KERUGIAN SELISIH KURS MATA UANG ASING


PASAL 9 PP NO 94 TAHUN 2010

Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang


asing diakui sebagai penghasilan atau biaya
berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan
dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.

Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata


uang asing yang berkaitan langsung dengan
usaha Wajib Pajak yang:
dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final;
atau
tidak termasuk objek pajak,

tidak diakui sebagai penghasilan atau biaya.

Contoh

PT A bergerak di bidang penyewaan apartemen. Sesuai dengan kontrak, sewa


apartemen tiap bulan adalah sebesar US$1,000 dan diterbitkan invoice setiap tanggal 1.
Pada tanggal 1 September 2010 PT A menerbitkan invoice sebesar US$ 1,000 kepada
penyewa. Pada tanggal tersebut, kurs yang berlaku adalah Rp9.000,00 per 1 US$.
Pada tanggal 1 September 2010 tersebut PT A mengakui penghasilan atas sewa
apartemen sebesar Rp9.000.000,00 (US$ 1,000 x Rp9.000,00).
Pada tanggal 15 September 2010 penyewa membayar sewa apartemen. Pada tanggal
tersebut, kurs yang berlaku adalah Rp8.700,00 per 1 US$, sehingga nilai sewa yang
dibayar adalah sebesar Rp8.700.000,00 (US$ 1,000 x Rp8.700,00).
Atas perbedaan waktu antara tanggal penerbitan invoice dan tanggal pembayaran
timbul kerugian selisih kurs bagi PT A sebesar Rp300.000,00 ((Rp9.000,00 - Rp8.700,00)
x US$ 1,000)).
Atas kerugian selisih kurs tersebut tidak diakui sebagai biaya bagi PT A karena berasal
dari penyewaan apartemen yang telah dikenai Pajak Penghasilan bersifat final.

Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang


asing yang tidak berkaitan langsung dengan usaha
Wajib Pajak yang:
dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final; atau
tidak termasuk objek pajak,

diakui sebagai penghasilan atau biaya sepanjang


biaya tersebut dipergunakan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan.

Contoh

PT A yang bergerak di bidang penyewaan apartemen, pada bulan September


2010 mendapatkan pinjaman sebesar US$ 10,000,000 yang digunakan masingmasing sebesar US$ 9,000,000 untuk membangun apartemen, dan sebesar
US$ 1,000,000 untuk membeli alat transportasi yang akan dipergunakan untuk
usaha jasa angkutan.
Atas keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing yang berasal dari
pinjaman sebesar US$ 1,000,000 tersebut dapat diakui sebagai penghasilan
atau biaya karena:
tidak berkaitan langsung dengan usaha PT A di bidang penyewaan apartemen yang
atas penghasilannya dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final; dan
merupakan pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan lainnya berupa usaha jasa angkutan yang atas penghasilannya dikenai
Pajak Penghasilan dengan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 UndangUndang Pajak Penghasilan.

Biaya gabungan
Wajib Pajak harus menyelenggarakan pembukuan secara
terpisah dalam hal:
memiliki usaha yang penghasilannya dikenai Pajak Penghasilan
yang bersifat final dan tidak final;
menerima atau memperoleh penghasilan yang merupakan
objek pajak dan bukan objek pajak; atau
mendapatkan dan tidak mendapatkan fasilitas perpajakan
sebagaimana diatur dalam Pasal 31A Undang-Undang Pajak
Penghasilan.

Biaya bersama bagi Wajib Pajak yang tidak dapat dipisahkan


dalam rangka penghitungan besarnya Penghasilan Kena Pajak,
pembebanannya dialokasikan secara proporsional.

Contoh
PT A bergerak dalam bidang usaha yang penghasilannya dikenakan Pajak
Penghasilan yang bersifat final. Dalam suatu tahun pajak, PT A
memperoleh penghasilan bruto yang terdiri dari:
penghasilan dari usaha yang telah dikenakan Pajak Penghasilan yang
bersifat final Rp 300.000.000,00
penghasilan bruto lainnya yang dikenakan Pajak Penghasilan yang
bersifat tidak final Rp 200.000.000,00
Jumlah penghasilan bruto Rp 500.000.000,00
Apabila biaya-biaya bersama yang tidak dapat dipisahkan setelah
dilakukan penyesuaian fiskal adalah sebesar Rp250.000.000,00 maka biaya
yang boleh dikurangkan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan adalah sebesar: 2/5 x Rp250.000.000,00 = Rp 100.000.000,00

Deductible Expense
Ps. 6 ayat (1)
piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat :
telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan
telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian
tertulis mengenai penghapusan piutang/ pembebasan utang antara kreditur
dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan
umum atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya
telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu
syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan
piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1) huruf k. UU PPh

yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan


Peraturan Menteri Keuangan (Peraturan Menteri Keuangan Nomor
105/PMK.03/2009)

Syarat
Permenkeu No 105/PMK.03/2009
Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah dibukukan
sebagai penghasilan oleh debitur yang bersangkutan pada tahun yang
bersangkutan;
Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang nyata-nyata tidak
dapat ditagih tersebut kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan
Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah diserahkan
perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah
yang menangani piutang negara, atau terdapat perjanjian tertulis
mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan
debitur atas piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut, atau
telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus, atau adanya
pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah
utang tertentu. (Persyaratan ini tidak berlaku untuk piutang yang nyatanyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil atau debitur kecil lainnya)

Debitur Kecil dan Debitur Kecil Lainnya


Permenkeu No 105/PMK.03/2009
Debitur Kecil jumlahnya tidak melebihi Rp100.000.000,00
(seratus juta rupiah), yang merupakan gunggungan jumlah
piutang dari beberapa kredit yang diberikan oleh suatu
institusi bank/lembaga pembiayaan dalam negeri sebagai
akibat adanya pemberian Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera
(Kukesra), Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit Pemilikan Rumah
Sangat Sederhana (KPRSS), Kredit Usaha Kecil (KUK), Kredit
Usaha Rakyat (KUR), Kredit kecil lainnya dalam rangka
kebijakan perkreditan Bank Indonesia dalam mengembangkan
usaha kecil dan koperasi.
Debitur Kecil Lainnya debitur kecil lainnya yang jumlahnya
tidak melebihi Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).

Administrasi
Permenkeu No 105/PMK.03/2009
Daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang diserahkan
kepada Direktorat Jenderal Pajak harus mencantumkan identitas debitur
berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pemenuhan ketentuan tsb dilakukan
dengan cara melampirkan :
fotokopi bukti penyerahan perkara penagihannya ke Pengadilan Negeri atau
instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau
fotokopi perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan
utang usaha yang telah dilegalisir oleh notaris;atau
fotokopi bukti publikasi dalam penerbitan umum atau penerbitan khusus; atau
surat yang berisi pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapukan
Daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dan bukti/dokumen harus
disampaikan bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT)
Tahunan.

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil atau
debitur kecil lainnya harus dilampiri daftar nominatif yang berisi identitas
debitur berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak, alamat dan jumlah
Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih.

Penerbitan Umum atau Khusus


Permenkeu No 105/PMK.03/2009

Penerbitan umum atau khusus adalah penerbitan


yang meliputi :
Penerbitan umum adalah pemuatan pengumuman pada
penerbitan koran/majalah atau media massa cetak yang
lazim lainnya Yang berskala nasional; atau
Penerbitan khusus adalah pemuatan pengumuman pada
penerbitan Himpunan Bank-Bank Milik Negara
(HIMBARA)/Persatuan Bank-Bank Swasta Nasional
(PERBANAS) dan/atau penerbitan/pengumuman khusus
Bank Indonesia

Deductible Expense
Ps. 6 ayat (1)
sumbangan dalam rangka penanggulangan
bencana nasional yang ketentuannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah;
sumbangan dalam rangka penelitian dan
pengembangan yang dilakukan di Indonesia
yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah

Kep Menkeu No 769/KMK.04/1990


Perlakuan Perpajakan Atas Biaya Penelitian Dan Pengembangan (Research And
Development) Yang Dilakukan Oleh Perusahaan

Yang dimaksud dengan biaya penelitian dan


pengembangan adalah biaya yang nyata-nyata
dikeluarkan untuk pengembangan produksi
(product development), serta biaya untuk
meningkatkan efisiensi perusahaan termasuk
teknologi untuk pengembangan proses
(process technology).

Deductible Expense
Ps. 6 ayat (1)
biaya pembangunan infrastruktur sosial yang
ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya
diatur dengan Peraturan Pemerintah; dan
sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang
ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Non Deductible Expense


Ps. 9 ayat (1)
pembagian laba dengan nama dan dalam
bentuk apapun seperti dividen, termasuk
dividen yang dibayarkan oleh perusahaan
asuransi kepada pemegang polis, dan
pembagian sisa hasil usaha koperasi;
biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk
kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu,
atau anggota;

Non Deductible Expense


Ps. 9 ayat (1)
pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali :
cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan
pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;
cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah
industri untuk usaha pengolahan limbah industri,

yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan


Peraturan Menteri Keuangan; (Per Menkeu No. 81/PMK.03/2009)

Pencadangan
Per Menkeu No. 81/PMK.03/2009
Besarnya cadangan piutang tak tertagih untuk bank umum

1% (satu persen) dari piutang dengan kualitas yang digolongkan lancar, tidak
termasuk Sertifikat Bank Indonesia dan Surat Utang Negara;
5% (lima persen) dari piutang dengan kualitas yang digolongkan dalam
perhatian khusus setelah dikurangi nilai agunan;
15% (lima belas persen) dari piutang dengan kualitas yang digolongkan kurang
lancar setelah dikurangi dengan nilai agunan;
50% (lima puluh persen) dari piutang dengan kualitas yang digolongkan
diragukan setelah dikurangi dengan nilai agunan; dan
100% (seratus persen) dari piutang dengan kualitas yang digolongkan macet
setelah dikurangi dengan nilai agunan.
Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang pada
cadangan paling tinggi adalah :
100% (seratus persen) dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan
75% (tujuh puluh lima persen) dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai yang
ditetapkan perusahaan penilai.

Non Deductible Expense


Ps. 9 ayat (1)
premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang
pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut
dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan;
penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan
makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau
imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang
berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; (PER MENKEU NOMOR
83/PMK.03/2009 Tentang Penyediaan Makanan Dan Minuman Bagi
Seluruh Pegawai Serta Penggantian Atau Imbalan Dalam Bentuk Natura
Dan Kenikmatan Di Daerah Tertentu Dan Yang Berkaitan Dengan
Pelaksanaan Pekerjaan Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto
Pemberi Kerja)

Penyediaan Makanan Dan Minuman Bagi Seluruh Pegawai Serta Penggantian /


Imbalan Dalam Bentuk Natura Dan Kenikmatan Di Daerah Tertentu Dan Yang
Berkaitan Dengan Pelaksanaan Pekerjaan Pemberi Kerja (PER MENKEU NOMOR
83/PMK.03/2009)

Pemberian natura dan kenikmatan yang dapat dikurangkan


dari penghasilan bruto pemberi kerja dan bukan merupakan
penghasilan bagi Pegawai yang menerimanya adalah :
Pemberian atau penyediaan makanan dan/atau minuman bagi seluruh
Pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang
diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah
tertentu dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk
mendorong pembangunan di daerah tersebut.
Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena
sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya.

Penyediaan Makanan Dan Minuman Bagi Seluruh Pegawai Serta Penggantian /


Imbalan Dalam Bentuk Natura Dan Kenikmatan Di Daerah Tertentu Dan Yang
Berkaitan Dengan Pelaksanaan Pekerjaan Pemberi Kerja (PER MENKEU NOMOR
83/PMK.03/2009)

Penggantian atau imbalan pelaksanaan pekerjaan di daerah


tertentu dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah
untuk mendorong pembangunan di daerah tersebut adalah
sarana dan fasilitas di lokasi kerja untuk:

tempat tinggal, termasuk perumahan bagi Pegawai dan keluarganya;


pelayanan kesehatan;
pendidikan bagi Pegawai dan keluarganya;
peribadatan;
pengangkutan bagi Pegawai dan keluarganya;
olahraga bagi Pegawai dan keluarganya tidak termasuk golf, power
boating, pacuan kuda, dan terbang layang,

sepanjang sarana dan fasilitas tersebut tidak tersedia,


sehingga pemberi kerja harus menyediakannya sendiri.

Penyediaan Makanan Dan Minuman Bagi Seluruh Pegawai Serta Penggantian /


Imbalan Dalam Bentuk Natura Dan Kenikmatan Di Daerah Tertentu Dan Yang
Berkaitan Dengan Pelaksanaan Pekerjaan Pemberi Kerja (PER MENKEU NOMOR
83/PMK.03/2009)

Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan


keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai
sarana keselamatan kerja atau karena sifat pekerjaan
tersebut mengharuskannya meliputi pakaian dan
peralatan untuk keselamatan kerja, pakaian seragam
petugas keamanan (satpam), sarana antar jemput
Pegawai, serta penginapan untuk awak kapal, dan
yang sejenisnya.

Penyediaan Makanan Dan Minuman Bagi Seluruh Pegawai Serta Penggantian /


Imbalan Dalam Bentuk Natura Dan Kenikmatan Di Daerah Tertentu Dan Yang
Berkaitan Dengan Pelaksanaan Pekerjaan Pemberi Kerja (PER MENKEU NOMOR
83/PMK.03/2009)

Pengeluaran untuk penyediaan makanan dan/atau


minuman bagi Pegawai sebagaimana meliputi:
a. pemberian makanan dan/atau minuman yang disediakan
oleh pemberi kerja di tempat kerja, atau
b. pemberian kupon makanan dan/atau minuman bagi
Pegawai yang karena sifat pekerjaannya tidak dapat
memanfaatkan pemberian sebagaimana dimaksud pada
huruf a, meliputi Pegawai bagian pemasaran, bagian
transportasi, dan dinas luar lainnya.

Non Deductible Expense


Ps. 9 ayat (1)
jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang
saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;
Dalam hubungan pekerjaan, kemungkinan dapat terjadi pembayaran imbalan
yang diberikan kepada pegawai yang juga pemegang saham. Karena pada
dasarnya pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto adalah
pengeluaran yang jumlahnya wajar sesuai dengan kelaziman usaha,
berdasarkan ketentuan ini jumlah yang melebihi kewajaran tersebut tidak
boleh dibebankan sebagai biaya. Misalnya, seorang tenaga ahli yang
merupakan pemegang saham dari suatu badan memberikan jasa kepada
badan tersebut dengan memperoleh imbalan sebesar Rp 50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah).
Apabila untuk jasa yang sama yang diberikan oleh tenaga ahli lain yang setara
hanya dibayar sebesar Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah), jumlah
sebesar Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah) tidak boleh dibebankan
sebagai biaya. Bagi tenaga ahli yang juga sebagai pemegang saham tersebut
jumlah sebesar Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah) dimaksud dianggap
sebagai dividen

Non Deductible Expense


Ps. 9 ayat (1)
harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan
huruf b UU PPh, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m serta
zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil
zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk
agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga
keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah,
yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah;

Non Deductible Expense


Ps. 9 ayat (1)
Pajak Penghasilan;
biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan
pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;
gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau
perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas
saham;
sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta
sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan
pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan.

PAJAK MASUKAN YANG TIDAK DAPAT DIKREDITKAN


Pasal 10 PP No 94 tahun 2010
Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) UU
PPN dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
sepanjang dapat dibuktikan Pajak Masukan tersebut:
benar-benar telah dibayar; dan
berkenaan dengan pengeluaran yang
berhubungan dengan kegiatan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan

Pajak Masukan yang dapat dikurangkan dari


penghasilan bruto sehubungan dengan pengeluaran
untuk memperoleh harta berwujud dan/atau harta
tidak berwujud serta biaya lainnya yang mempunyai
masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A UndangUndang Pajak Penghasilan, harus dikapitalisasi
dengan pengeluaran atau biaya tersebut dan
dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi

BIAYA PENGEMBANGAN TANAMAN INDUSTRI & BIAYA


PEMELIHARAAN TERNAK

Pasal 11 PP No 94 Tahun 2010


Biaya pengembangan tanaman industri yang berumur lebih dari 1 (satu)
tahun dan hanya 1 (satu) kali memberikan hasil, dikapitalisasi selama
periode pengembangan dan merupakan bagian dari harga pokok
penjualan pada saat hasil tanaman industri dijual.
Yang dimaksud dengan "biaya pengembangan" adalah seluruh pengeluaran
yang terkait dengan tanaman industri termasuk pembelian bibit,
pemeliharaan, dan pembesaran tanaman sampai dijual.

Biaya pemeliharaan ternak yang berumur lebih dari 1 (satu) tahun dan
hanya 1 (satu) kali memberikan hasil, dikapitalisasi selama periode
pemeliharaan dan merupakan bagian dari harga pokok penjualan pada
saat ternak dijual.
Yang dimaksud dengan "biaya pemeliharaan" adalah seluruh pengeluaran
yang terkait dengan ternak termasuk pembelian bibit, pemeliharaan, dan
pembesaran ternak sampai dijual.

Hubungan Istimewa
Pasal 18 (4) UU PPh
a. - Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung
atau tidak langsung paling rendah 25% pada Wajib Pajak
lain;
- hubungan antara Wajib Pajak dengan penyertaan paling
rendah 25% pada dua Wajib Pajak atau lebih; atau
- hubungan di antara dua Wajib Pajak atau lebih yang
disebut terakhir;
a. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau
lebih Wajib Pajak berada di bawah penguasaan yang sama
baik langsung maupun tidak langsung; atau
b. terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun
semenda dalam garis keturunan lurus dan/atau ke
samping satu derajat.

Perlakuan PPh atas transaksi


dipengaruhi hubungan istimewa
Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib
Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan
jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang
saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan
(Pasal 9 ayat (8) huruf f UU PPh)
Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali
besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang
sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak
bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan
Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha
yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa dengan
menggunakan metode perbandingan harga antara pihak yang
independen, metode harga penjualan kembali, metode biaya-plus,
atau metode lainnya (Pasal 18 ayat (3))

Pinjaman Tanpa Bunga


Pasal 12 PP No 94 Tahun 2010
Pinjaman tanpa bunga dari pemegang saham yang diterima oleh Wajib
Pajak berbentuk perseroan terbatas diperkenankan apabila:
pinjaman tersebut berasal dari dana milik pemegang saham itu sendiri
dan bukan berasal dari pihak lain;
modal yang seharusnya disetor oleh pemegang saham pemberi
pinjaman telah disetor seluruhnya;
pemegang saham pemberi pinjaman tidak dalam keadaan merugi; dan
perseroan terbatas penerima pinjaman sedang mengalami kesulitan
keuangan untuk kelangsungan usahanya.
Apabila pinjaman yang diterima oleh Wajib Pajak berbentuk perseroan
terbatas dari pemegang sahamnya tidak memenuhi ketentuan tersebut,
atas pinjaman tersebut terutang bunga dengan tingkat suku bunga wajar

tingkat suku bunga wajar


Yang dimaksud dengan "tingkat suku bunga
wajar" adalah tingkat suku bunga yang berlaku
yang ditetapkan sesuai dengan prinsip
kewajaran dan kelaziman (best practice) jika
transaksi dilakukan di antara pihak yang tidak
mempunyai hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) UndangUndang Pajak Penghasilan.

Biaya bunga
Apabila terdapat penempatan deposito atau
tabungan yang dananya langsung atau tidak langsung
berasal dari dana pinjaman yang dibebani bunga,
maka ; ( SE-46/PJ.4/1995 )
Apabila jumlah rata-rata pinjaman sama besarnya atau lebih
kecil dibanding jumlah rata-rata deposito atau tabungan,
maka bunga atas pinjaman tersebut seluruhnya tidak dapat
dikurangkan sebagai biaya.
Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dibanding
jumlah rata-rata deposito atau tabungan, maka bunga atas
pinjaman yang boleh dikurangkan sebagai biaya adalah
biaya bunga atas selisih antara jumlah rata-rata pinjaman
dengan jumlah rata-rata deposito atau tabungan.

contoh
Pada tahun 2010 PT ABC mendapat pinjaman dari Bank
Mandiri dengan batas maksimum sebesar Rp 200 Juta dan
tingkat bunga pinjaman 20%. Dari jumlah tersebut telah
diambil pada bulan Februari sebesar Rp 125 Juta, pada
bulan Juni diambil lagi sebesar Rp 25 Juta dan sisanya
diambil bulan Agustus.
Disamping itu PT ABC mempunyai dana yang ditempatkan
dalam bentuk deposito dengan perincian sebagai berikut :
Februari s/d Maret sebesar
April s/d Agustus sebesar
September s/d Desember sebesar

Rp 25 Juta
Rp 46 Juta
Rp 50 Juta

Hitung bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya

Pengecualian
Dana pinjaman tsb disimpan/ditempatkan dlm
bentuk rekening giro yg atas jasanya dikenakan PPh
yg bersifat Final
Adanya keharusan bagi WP utk menempatkan dana
dlm juml tertentu pd suatu bank dlm bentuk
deposito berdasarkan ketentuan perundangan
(keharusan)
Dapat dibuktikan penempatan deposito/tabungan
tsb dananya berasal dr tambahan modal dan sisa
laba setelah pajak

Kompensasi Kerugian
Ps. 6 ayat (2)
Apabila penghasilan bruto setelah
pengurangan didapat kerugian, kerugian
tersebut dikompensasikan dengan
penghasilan mulai tahun pajak berikutnya
berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun.

Kompensasi Kerugian
PT A dalam tahun 1998 menderita kerugian fiskal
sebesar Rp 1.200.000.000,00. Dalam 5 tahun
berikutnya, rugi laba fiskal PT A adalah sbb :

1999 : laba fiskal Rp 200.000.000,00


2000 : rugi fiskal Rp (300.000.000,00)
2001 : laba fiskal N I H I L
2002 : laba fiskal Rp 100.000.000,00
2003 : laba fiskal Rp 800.000.000,00
2004 : laba fiskal Rp 500.000.000

Rekonsiliasi Fiskal
Penghasilan Netto komersial
+Koreksi Fiskal Positif

xxxx
xxxx

Contoh : Biaya Non Deductible

- Koreksi Fiskal Negatif

(xxxx)

Contoh : Penghasilan bukan objek pajak


& penghasilan dikenakan PPh Final

Penghasilan Netto Fiskal

xxxx

Over (Under) Stated


PT A membeli mesin fotocopy dengan harga
perolehan Rp15 juta. Masa manfaat ekonomis mesin
fotocopy tersebut adalah 3 tahun, disusutkan
menggunakan metode garis lurus
Tahun Komersial (3 Tahun) Fiskal (4 Tahun) Selisih
2014
5.000.000
3.750.000 1.250.000
2015
5.000.000
3.750.000 1.250.000
2016
5.000.000
3.750.000 1.250.000
2017
3.750.000 (3.750.000)
Jumlah
15.000.000
15.000.000
-

Penghasilan dari usaha


Penjualan

Rp 52,000,000,000

Harga pokok penjualan

Rp 24,000,000,000

Laba Kotor

Rp 28,000,000,000

Biaya operasi
Gaji pegawai

Rp

3,600,000,000

Alat tulis kantor

Rp

3,200,000,000

Biaya pemeliharaan bangunan yang disewakan

Rp

2,800,000,000

PPh Pasal 25

Rp

2,400,000,000

Sanksi administrasi perpajakan

Rp

2,000,000,000

PBB

Rp

1,600,000,000

Biaya listrik, air, telpon kantor

Rp

1,200,000,000

Cadangan piutang tak tertagih

Rp

800,000,000

Sumbangan HUT RI

Rp

400,000,000

Jumlah biaya usaha

Rp 18,000,000,000

Penghasilan luar usaha


Penghasilan dari persewaan bangunan

Rp 20,000,000,000

Bunga pinjaman

Rp

4,000,000,000

Deviden dari penyertaan 25% saham di PT XYZ

Rp

800,000,000

Jumlah penghasilan luar usaha

Rp 24,800,000,000

Laba Bersih

Rp 34,800,000,000

Tarif PPh
Tarif PPh Badan (Tidak Final)
Tarif PPh Ps. 17 Ayat (1)
Tarif Umum PPh Badan

Tarif PPh Ps. 17 ayat (2b)


Khusus WP badan dalam negeri Tbk, dengan syarat tertentu
(40% saham diperdagangkan di bursa)

Tarif PPh Ps. 31E ayat (1)


Khusus WP Badan Dalam Negeri, dengan syarat tertentu
(peredaran bruto sampai dengan Rp50 Milyar)

Tarif PPh Final PP No.46 Tahun 2013


WP Badan peredaran bruto tahun sebelumnya tidak melebihi
Rp4,8 Milyar

Tarif PPh Ps. 17 Ayat (1)


Tarif Umum PPh Badan
Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan
Kena Pajak bagi Wajib Pajak badan dalam
negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar
28%
Tarif tsb menjadi 25% yang mulai berlaku sejak
tahun pajak 2010

Contoh Tarif PPh Ps. 17 Ayat (1)


Tarif Umum PPh Badan
PT ABC melaporkan Peredaran usaha dalam
tahun 2012 sebesar Rp 60 Milyar dengan
Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp
1.250.000.000,00
Pajak Penghasilan terutang:
25% x Rp1.250.000.000,00 = Rp 312.500.000,00

Tarif PPh Pasal 31E


Tarif Khusus WP Badan Dalam Negeri UKM

Wajib Pajak badan dalam negeri dengan


peredaran bruto sampai dengan Rp
50.000.000.000,00 mendapat fasilitas berupa
pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif Pasal
17 yang dikenakan atas Penghasilan Kena
Pajak dari bagian peredaran bruto sampai
dengan Rp 4.800.000.000,00

Contoh Tarif PPh Pasal 31E ayat (1) Tarif


Khusus WP Badan Dalam Negeri UKM
Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2010 sebesar Rp
4.500.000.000 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp
500.000.000
Penghitungan pajak yang terutang:
Seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto
tersebut dikenai tarif sebesar 50% dari tarif Pajak Penghasilan badan
yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT Y tidak melebihi Rp
4.800.000.000,00.

Pajak Penghasilan yang terutang:


(50% x 25%) x Rp 500.000.000,00 = Rp 62.500.000,00

Contoh Tarif PPh Pasal 31E ayat (1) Tarif


Khusus WP Badan UKM
Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2010 sebesar Rp 30 Milyar
dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 3 Milyar.
Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang :
Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh
fasilitas :
(Rp 4.800.000.000 : Rp 30.000.000.000) x Rp 3.000.000.000
= Rp 480.000.000,00

Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak
memperoleh fasilitas:
Rp 3.000.000.000,00 Rp 480.000.000,00 = Rp 2.520.000.000,00

Pajak Penghasilan yang terutang:


(50% x 25%) x Rp480.000.000,00
25% x Rp2.520.000.000,00
Jumlah Pajak Penghasilan yang terutang

= Rp 60.000.000,00
= Rp 630.000.000,00 (+)
= Rp 690.000.000,00

Tarif PPh Ps. 17 ayat (2b)


Khusus WP Badan Dalam Negeri Tbk

Wajib Pajak badan dalam negeri yang


berbentuk perseroan terbuka yang paling
sedikit 40% dari jumlah keseluruhan saham
yang disetor diperdagangkan di bursa efek di
Indonesia dan memenuhi persyaratan
tertentu lainnya dapat memperoleh tarif
sebesar 5% lebih rendah (menjadi 20%)

Tarif PPh Ps. 17 ayat (2b)


Tarif ini diterapkan bagi Wajib Pajak badan dalam negeri yang
berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat
puluh persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor
diperdagangkan di bursa efek di Indonesia dan memenuhi
persyaratan tertentu lainnya. Wajib Pajak tersebut dapat
memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah
daripada tarif sebagaimana dimaksud pada Pasal 17 ayat (1)
huruf b dan ayat (2a) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
PPh terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan
penghasilan kena pajak.

Contoh
Jumlah Penghasilan Kena Pajak dalam tahun
pajak 2010 Rp 1.250.000.000,00
Pajak Penghasilan yang terutang = (25% - 5%)
x Rp1.250.000.000,00 = Rp 250.000.000,00.

Permenkeu No. 238/PMK.03/2008


Syarat Penerapan Tarif Tarif PPh Ps. 17 ayat (2b)

1. Penurunan Tarif Pajak Penghasilan diberikan kepada Wajib


Pajakapabila jumlah kepemilikan saham publiknya 40%
(empat puluh persen) atau lebih dari keseluruhan saham yang
disetor dan saham tersebut dimiliki paling sedikit oleh 300
(tiga ratus) Pihak.
2. Masing-masing Pihak hanya boleh memiliki saham kurang dari
5% (lima persen) dari keseluruhan saham yang disetor.
3. Ketentuan poin 1 dan poin 2 harus dipenuhi oleh Wajib Pajak
dalam waktu paling singkat 6 (enam) bulan dalam jangka
waktu 1 (satu) tahun pajak.
4. Waktu 6 (enam) bulan tersebut adalah 183 (seratus delapan
puluh tiga) hari kalender.

Pembulatan
Ps. 17 ayat (4)

Untuk keperluan penerapan tarif pajak,


jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke
bawah dalam ribuan rupiah penuh.

TARIF
No

Kriteria

Omset tahun sebelumnya 4,8M

Omset tahun sekarang 4,8M

PPh Terutang

Dasar Tarif

1% x Omset perbulan

PP No.46 Th 2013
(PPh FINAL) *

12,5% x PKP

Pasal 31 E UU PPH

Pasal 31 E UU PPH

Omset tahun sekarang 4,8M sd 50M

(12,5% x Bagian PKP


yang dapat Fasilitas) +
(25% x Bagian PKP
yang tidak dapat
Fasilitas)

Omset tahun sekarang lebih dari 50M

25% x PKP

Pasal 17 ayat (1) UU


PPH

Perusahaan Terbuka (Go Publik)

20% x PKP

Pasal 17 ayat (2b) UU


PPH

Bagian PKP yang Dapat Fasilitas

= 4,8 M x PKP
Omset
Bagian PKP yang Tidak Dapat Fasilitas = PKP Bagian PKP yang Dapat Fasilitas

*PPh Final PP 46 Th 2013 tidak berlaku untuk :


Bentuk usaha tetap (BUT)
Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial
Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh
peredaran bruto melebihi Rp4.800.000.000,00

Contoh
2014
2018
2016
2020
2022
Omset Rp0
Omset Rp4m Omset Rp3m Omset Rp30m Omset Rp100m
Rugi (Rp200 jt) Laba Rp1,5m Laba Rp1m
Laba Rp10m Laba Rp40m
2015
2017
2019
Omset Rp1m Omset Rp5m Omset Rp10m
Laba Rp600jt Laba Rp2m
Laba Rp4m
2014 2015

2016

2017

Perusahaan
Beroperasi Komersial
15 April 2015
Perusahaan
Didirikan
10 Agustus 2014

2018

2019

2021
Omset Rp80m
Laba Rp30m

2020

2021 2022

Perusahaan
Go Public menjual saham
lebih dari 40% di bursa efek
20 Februari 2022

Kredit Pajak PPh Badan


Kredit Pajak Dalam Negeri
PPh Ps. 22
PPh Ps. 23

Kredit Pajak Luar Negeri


PPh Ps. 24

PPh yang Dibayar Sendiri


PPh Ps. 25 Bulanan
STP PPh Ps. 25 (Hanya Pokok Pajak)

PPh Pasal 22

.............(1/5)

Atas pemungutan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas:


impor:
barang tertentu sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri
(parfum,pakaian,alas kaki dll), sebesar 10% dari nilai impor;
barang tertentu lainnya sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Peraturan Menteri
(perlatan makan/dapur, karpet dll), sebesar 7,5% dari nilai impor;
selain barang tertentu dan barang tertentu lainnya sebagaimana dimaksud pada huruf a)
dan huruf b), yang menggunakan Angka Pengenal Impor (API), sebesar 2,5% dari nilai
impor, kecuali atas impor kedelai, gandum, dan tepung terigu sebesar 0,5% dari nilai
impor;
selain barang tertentu dan barang tertentu lainnya sebagaimana dimaksud pada huruf a)
dan huruf b), yang tidak menggunakan Angka Pengenal Impor (API), sebesar 7,5% dari
nilai impor; dan/atau
barang yang tidak dikuasai, sebesar 7,5% dari harga jual lelang;

ekspor komoditas tambang batubara, mineral logam, dan mineral bukan


logam, sesuai uraian barang dan pos tarif/Harmonized System (HS)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri, oleh eksportir
kecuali yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang terikat dalam perjanjian
kerjasama pengusahaan pertambangan dan Kontrak Karya, sebesar 1,5% dari
nilai ekspor sebagaimana tercantum dalam Pemberitahuan Ekspor Barang.

-652

PPh Pasal 22

.............(2/5)

Atas pembelian barang oleh bendahara


pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran
(KPA), dan pembelian barang dan/atau bahanbahan untuk keperluan kegiatan usaha oleh
Badan Usaha Tertentu, sebesar 1,5% dari
harga pembelian tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai.

PPh Pasal 22

.............(3/5)

Atas penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan pelumas
oleh produsen atau importir bahan bakar minyak, bahan bakar gas,
dan pelumas adalah sebagai berikut:
bahan bakar minyak sebesar:
a)
b)
c)

0, 25% (nol koma dua puluh lima persen) dari penjualan tidak termasuk
Pajak Pertambahan Nilai untuk penjualan kepada stasiun pengisian bahan
bakar umum Pertamina;
0,3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai untuk penjualan kepada stasiun pengisian bahan bakar
umum bukan Pertamina:
0,3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai untuk penjualan kepada pihak selain sebagaimana
dimaksud pada huruf a) dan huruf b);

bahan bakar gas sebesar 0,3% (nol koma tiga persen) dari penjualan
tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai;
pelumas sebesar 0,3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak
termasuk Pajak Pertambahan Nilai.
Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas penjualan bahan bakar minyak dan bahan bakar gas kepada:
penyalur/agen bersifat final;
selain penyalur/agen bersifat tidak final.

PPh Pasal 22

.............(4/5)

Atas penjualan hasil produksi kepada distributor di


dalam negeri oleh badan usaha yang bergerak dalam
bidang usaha industri semen, industri kertas, industri
baja, industri otomotif, dan industri farmasi:
penjualan semua jenis semen sebesar 0, 25% (nol koma
dua puluh lima persen);
penjualan kertas sebesar 0,1 % (nol koma satu persen);
penjualan baja sebesar 0,3% (nol koma tiga persen);
penjualan semua jenis kendaraan bermotor beroda dua
atau lebih sebesar 0,45% (nol koma empat puluh lima
persen);
penjualan semua jenis obat sebesar 0,3% (nol koma tiga
persen), dari dasar pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

PPh Pasal 22

.............(5/5)

Atas penjualan kendaraan bermotor di dalam negeri oleh Agen Tunggal


Pemegang Merek (ATPM), Agen Pemegang Merek (APM), dan importir
umum kendaraan bermotor sebesar 0,45% (nol koma empat puluh lima
persen) dari dasar pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.
Atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor oleh
badan usaha industri atau eksportir yang bergerak dalam sektor
kehutanan, perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan, sebesar
0,25% (nol koma dua puluh lima persen) dari harga pembelian tidak
termasuk Pajak Pertambahan Nilai.
Atas pembelian batubara, mineral logam, dan mineral bukan logam, dari
badan atau orang pribadi pemegang izin usaha pertambangan oleh
industri atau badan usaha sebesar 1,5% (satu setengah persen) dari harga
pembelian tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.
Atas penjualan emas batangan oleh produsen emas batangan, sebesar
0,45% (nol koma empat puluh lima persen) dari harga jual emas batangan.

PPh Pasal 23
sebesar 15% dari jumlah bruto atas

dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g;


bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f;
royalti; dan
hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah
dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21
ayat (1) huruf e;

sebesar 2% dari jumlah bruto atas :


sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta,
kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (2); dan
imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong
Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.

Jasa Lain Objek PPh Pasal 23 tarif 2%


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

9.

10.

11.
12.
13.
14.

15.
16.

Jasa penilai (appraisal);


Jasa aktuaris;
17.
Jasa akuntansi, pembukuan,
dan atestasi laporan keuangan;
Jasa hukum;
Jasa arsitektur;
Jasa perencanaan kota dan
18.
arsitektur landscape;
Jasa perancang (design);
19.
Jasa pengeboran (drilling) di
20.
bidang penambangan minyak
dan gas bumi (migas), kecuali
yang dilakukan oleh bentuk
usaha tetap;
21.
Jasa penunjang di bidang usaha
panas bumi dan penambangan
minyak dan gas bumi (migas);
Jasa penambangan dan jasa
penunjang selain di bidang usaha 22.
panas bumi dan
penambangan minyak dan gas 23.
bumi (migas);
Jasa penunjang di bidang
24.
penerbangan dan bandar udara;
Jasa penebangan hutan;
Jasa pengolahan limbah;
25.
Jasa penyedia tenaga kerja
dan/atau tenaga ahli
(outsourcing services);
Jasa perantara dan/atau
keagenan;
Jasa di bidang perdagangan
surat-surat berharga, kecuali
yang dilakukan oleh Bursa
Efek, Kustodian Sentral Efek
26.
Indonesia (KSEI) dan Kliring
Penjaminan Efek Indonesia

(KPEI);
Jasa
kustodian/penyimpanan/penitip
an, kecuali yang dilakukan oleh
Kustodian Sentral Efek Indonesia
(KSEI);
Jasa pengisian suara (dubbing)
dan/atau sulih suara;
27.
Jasa mixing film;
Jasa pembuatan saranan promosi
film, iklan, poster, photo, slide, 28.
klise, banner, pamphlet, baliho 29.
dan folder;
30.
Jasa sehubungan dengan
software atau hardware atau
31.
sistem komputer, termasuk
perawatan, pemeliharaan dan
perbaikan;
Jasa pembuatan dan/atau
pengelolaan website;
Jasa internet termasuk
32.
sambungannya;
33.
Jasa penyimpanan, pengolahan,
dan/atau penyaluran data,
34.
informasi, dan/atau program;
35.
Jasa instalasi/pemasangan
36.
mesin, peralatan, listrik, telepon, 37.
air, gas, AC, dan/atau TV
38.
kabel, selain yang dilakukan oleh 39.
Wajib Pajak yang ruang
40.
lingkupnya di bidang konstruksi 41.
dan mempunyai izin dan/atau 42.
sertifikasi sebagai pengusaha
konstruksi;
Jasa
perawatan/perbaikan/pemelihar
aan mesin, peralatan, listrik,
43.

telepon, air, gas, AC, TV kabel, 44.


dan/atau bangunan, selain yang 45.
dilakukan oleh Wajib Pajak yang
ruang lingkupnya di bidang
46.
konstruksi dan mempunyai izin
dan/atau sertifikasi sebagai
47.
pengusaha konstruksi;
48.
Jasa perawatan kendaraan
49.
dan/atau alat transportasi darat,
laut dan udara;
Jasa maklon;
Jasa penyelidikan dan keamanan; 50.
Jasa penyelenggara kegiatan
51.
atau event organizer;
52.
Jasa penyediaan tempat
53.
dan/atau waktu dalam media
masa, media luar ruang atau
media lain untuk penyampaian
informasi, dan/atau jasa
54.
periklanan;
55.
Jasa pembasmian hama;
Jasa kebersihan atau cleaning
56.
service;
57.
Jasa sedot septic tank;
58.
Jasa pemeliharaan kolam;
Jasa katering atau tata boga;
59.
Jasa freight forwarding;
60.
Jasa logistik;
61.
Jasa pengurusan dokumen;
62.
Jasa pengepakan;
Jasa loading dan unloading;
Jasa laboratorium dan/atau
pengujian kecuali yang dilakukan
oleh lembaga atau
insitusi pendidikan dalam rangka
penelitian akademis;
Jasa pengelolaan parkir;

Jasa penyondiran tanah;


Jasa penyiapan dan/atau
pengolahan lahan;
Jasa pembibitan dan/atau
penanaman bibit;
Jasa pemeliharaan tanaman;
Jasa pemanenan;
Jasa pengolahan hasil pertanian,
perkebunan, perikanan,
peternakan, dan/atau
perhutanan;
Jasa dekorasi;
Jasa pencetakan/penerbitan;
Jasa penerjemahan;
Jasa pengangkutan/ekspedisi
kecuali yang telah diatur dalam
Pasal 15 Undang-Undang
Pajak Penghasilan;
Jasa pelayanan kepelabuhanan;
Jasa pengangkutan melalui jalur
pipa;
Jasa pengelolaan penitipan anak;
Jasa pelatihan dan/atau kursus;
Jasa pengiriman dan pengisian
uang ke ATM;
Jasa sertifikasi;
Jasa survey;
Jasa tester, dan
Jasa selain jasa-jasa tersebut di
atas yang pembayarannya
dibebankan pada
Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah.

-696

Tidak dipotong PPh Pasal 23


1.
2.

3.

4.
5.
6.

penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;


sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna
usaha dengan hak opsi;
dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan
dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (2c);
bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i;
sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggotanya;
penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa
keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau
pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

PPh Pasal 24
Pengkreditan PPh yg dibayar di luar negeri

PPh dibayar di LN boleh dikreditkan dg PPh di


Indonesia
Pengkreditan PPh psl 24 dilakukan di tahun
pajak digabungkannya penghasilan tersebut
Kerugian di LN tidak boleh digabung

pengkreditan PPh yg dibayar di luar


negeri
PPh psl 24 yg dikreditkan jumlah yg lebih kecil antara:
Pajak yg sebenarnya dibayar di LN
Rumus :
PPh terutang atas X Penghasilan Netto LN
seluruh Penghasilan
Penghasilan Kena Pajak
(dihitung per-country basis)

Contoh

PT X berkedudukan di Jakarta memperoleh


penghasilan neto dalam tahun 2015 adalah sbb :
Penghasilan neto dari dalam negeri sebesar Rp
8.000.000.000.
Di Singapura memperoleh penghasilan (laba neto) Rp
2.000.000.000, dimana PPh yang dibayar di Singapura
sebesar Rp 800.000.000
Di Vietnam memperoleh penghasilan (laba neto) sebesar Rp
6.000.000.000, dimana PPh yang dibayar sebesar Rp
1.200.000.000
Di Malaysia menderita kerugian (rugi neto) sebesar Rp
5.000.000.000

Hitung kredit pajak PPh pasal 24

PPh Pasal 25 Secara Umum


Besarnya angsuran PPh Pasal 25 dalam tahun
berjalan =
sama dengan PPh yang terutang menurut SPT Tahunan
PPh tahun pajak yang lalu
dikurangi dengan PPh yang telah dipotong/dipungut
pihak lain ( PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 23) dan PPh
yang terutang di Luar Negeri yang boleh dikreditkan
(PPh Pasal 24)
dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam bagian tahun
pajak

Penghasilan tidak teratur tidak diperhitungkan


dalam menentukan PPh psl 25

Contoh
Penghitungan PPh Ps. 25
Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
tahun 2009
Rp 50.000.000,00
dikurangi :
a. Pajak Penghasilan yang dipotong pemberi Kerja (Pasal 21)
b. Pajak Penghasilan yang dipungut oleh pihak lain (Pasal 22)
c. Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pihak lain (Pasal 23)
d. Kredit Pajak Penghasilan luar negeri (Pasal 24)
Jumlah kredit pajak
Selisih

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

15.000.000,00
10.000.000,00
2.500.000,00
7.500.000,00 (+)
35.000.000,00 (-)
15.000.000,00

Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2010 adalah sebesar
Rp1.250.000,00 (Rp15.000.000,00 dibagi 12).

Apabila SPT Tahunan PPh Badan Tahun 2009 dilapor tgl 30 April 2010 maka angsuran tersebut
berlaku mulai masa pajak April 2010 yang harus disetor paling lambat tgl 15 Mei 2010

Contoh
Berdasarkan data SPT Tahunan 2014 PT ABC diketahui sebagaiberikut :
Penjualan
Harga pokok penjualan
Laba kotor
Biaya usaha
Laba usaha
Pendapatan luar usaha
- laba rugi selisih kurs
- bunga pinjaman
Laba bersih

60.000.000.000
42.000.000.000
18.000.000.000
14.300.000.000
3.700.000.000

PPh dipotong/dipungut pihak lain


PPh pasal 22
50.000.000
PPh pasal 23
30.000.000
Kredit pajak luar negeri
PPh pasal 24
20.000.000

200.000.000
100.000.000
4.000.000.000

Hitung besarnya angsuran PPh pasal 25 tahun 2015

Bagi Wajib Pajak yang Memperoleh


Penghasilan Tidak Teratur
Penghasilan tidak teratur tidak
diperhitungkan dalam menentukan PPh
pasal 25

Angsuran PPh Pasal 25


Bagi Wajib Pajak Baru
PPh Pasal 25 dihitung dengan menerapkan
tarif umum Pasal 17 terhadap Penghasilan
Kena Pajak sebulan yang disetahunkan, dibagi
12

Angsuran PPh Pasal 25


Bagi Wajib Pajak Baru
PT ABC mulai 1 Januari 2015 terdaftar sebagai
wajib pajak dan diberikan NPWP.
Peredaran usaha
Biaya
Laba

Januari
5.000.000.000
4.000.000.000
1.000.000.000

Februari
6.000.000.000
4.800.000.000
1.200.000.000

Hitung Angsuran PPh 25 untuk tahun 2015

Maret
7.000.000.000
5.600.000.000
1.400.000.000

PPh 25 sebelum batas waktu


penyampaian SPT Tahunan
Sama dengan jumlah angsuran PPh psl 25 bulan
terakhir tahun pajak sebelumnya (Masa Desember)
Contoh
Angsuran PPh pasal 25 bulan Desember 2014 sebesar Rp10.000.000
WP melaporkan SPT PPh Badan Tahun 2014 pada tanggal 30 April
2015 dengan PPh terutang Rp170.000.000 dan PPh yang telah
dipotong/dipungut pihak lain Rp20.000.000
Hitung PPh pasal 25 masa Januari sd Maret 2015
Hitung PPh pasal 25 masa April sd Desember 2015

Wajib Pajak yang Menyampaikan SPT


Lewat Batas Waktu
Diberi Ijin Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT
Besarnya angsuran PPh Pasal 25 mulai batas waktu penyampaian SPT s.d.
bulan disampaikannya SPT dihitung berdasarkan perhitungan sementara
PPh terutang yang disampaikan wajib pajak.
Setelah SPT Tahunan PPh disampaikan, besarnya angsuran PPh Pasal 25
dihitung kembali berdasarkan SPT Tahunan tersebut.
Contoh :
Pada tanggal 30 April 2015 wajib pajak mengajukan permohonan
perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT PPh Badan Tahun 2014
dengan penghitungan sementara PPh terutang Rp14.000.000 dengan
PPh dipotong/dipungut pihak lain Rp2.000.000
Wajib pajak diberikan ijin Perpanjangan jangka waktu penyampaian
SPT sampai dengan tanggal 30 Juni 2015
Tanggal 30 Juni 2015 wajib pajak baru melaporkan SPT PPh Badan
Tahun 2014 dengan PPh terutang Rp17.000.000 dengan PPh
dipotong/dipungut pihak lain Rp2.000.000
Hitung PPh pasal 25 masa April sd Mei 2015
Hitung PPh pasal 25 masa Juni sd Desember 2015

Wajib Pajak yang Menyampaikan SPT


Lewat Batas Waktu
Tidak diberi Ijin Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT
Besarnya angsuran PPh Pasal 25 mulai batas waktu s.d. bulan
disampaikannya SPT sama dengan angsuran bulan terakhir tahun pajak
sebelumnya
Setelah SPT Tahunan PPh disampaikan, besarnya angsuran PPh Pasal 25
harus dihitung kembali bedasarkan SPT Tahunan PPh yang disampaikan
Contoh :
Angsuran PPh pasal 25 bulan Desember 2014 sebesar Rp1.000.000
Tanggal 30 September 2015 wajib pajak baru melaporkan SPT PPh
Badan Tahun 2014 dengan PPh terutang Rp17.000.000 dengan PPh
dipotong/dipungut pihak lain Rp2.000.000
Hitung PPh pasal 25 masa Januari sd Maret 2015
Hitung PPh pasal 25 masa April sd Agustus 2015
Hitung PPh pasal 25 masa September sd Desember 2015

Penundan SPT

KEP-21/PJ/2009

Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan disampaikan dalam bentuk


formulir kertas (hardcopy) 1770-Y/1771-Y/1771-$Y atau dalam bentuk data
elektronik (e-SPT Y).
Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dibuat secara tertulis dan
disampaikan ke KPP sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan
berakhir.
Wajib menyebutkan alasan perpanjangan dan melakukan penghitungan
sementara pajak terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak yang batas waktu
penyampaiannya diperpanjang, serta melampirkan:
1. Laporan Keuangan Sementara untuk Tahun Pajak yang bersangkutan
dari Wajib Pajak itu sendiri (bukan Laporan Keuangan Sementara dari
konsolidasi grup).
2. Surat Setoran Pajak Penghasilan Pasal 29 sebagai bukti pelunasan
kekurangan pembayaran pajak yang terutang kecuali ada ijin untuk
mengangsur atau menunda pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 29.
3. Surat Pernyataan dari Akuntan Publik yang menyatakan audit Laporan
Keuangan belum selesai dalam hal Laporan Keuangan diaudit oleh
Akuntan Publik.

Jangka waktu penundaan


Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu
penyampaian SPT Tahunan untuk paling lama 2 bulan sejak
batas waktu penyampaian SPT Tahunan dengan cara
menyampaikan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan
Dalam hal Wajib Pajak belum siap untuk menyampaikan SPT
Tahunan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada
Pemberitahuan Perpanjangan Penyampaian SPT Tahunan yang
diajukan sebelumnya, maka Wajib Pajak masih dapat
menyampaikan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan
lagi sepanjang tidak melampaui batas waktu 2 bulan sejak
batas waktu penyampaian SPT Tahunan

Membetulkan SPT Tahunan PPh


PPh Pasal 25 dihitung kembali berdasarkan SPT Pembetulan dan berlaku
mulai batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh tersebut
Contoh
Pada tanggal 30 April 2015 wajib pajak penyampaian SPT PPh Badan
Tahun 2014 dengan PPh terutang Rp14.000.000 dengan PPh
dipotong/dipungut pihak lain Rp2.000.000
Tanggal 31 Juli 2015 wajib pajak melaporkan Pembetulan SPT PPh
Badan Tahun 2014 dengan PPh terutang Rp17.000.000 dengan PPh
dipotong/dipungut pihak lain Rp2.000.000
Hitung PPh pasal 25 masa April sd Mei 2015
Hitung PPh pasal 25 masa Juli sd Desember 2015

Wajib Pajak yang Berhak atas


Kompensasi Kerugian
Kompensasi kerugian yang masih dapat
diperhitungkan, diperhitungkan dalam
menentukan angsuran PPh 25
Contoh :
Th 2012 Rugi Fiskal (300.000.000)
Th 2013 Laba Fiskal 200.000.000
Th 2014 Laba Fiskal 75.000.000

Hitung Angsuran PPh psl 25 Th 2015

Diterbitkan Surat Ketetapan Pajak atas Tahun


Pajak Yang Lalu
Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan surat ketetapan
pajak untuk tahun pajak yang lalu, maka angsuran PPh
dihitung berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut,
Perubahan angsuran berlaku mulai bulan berikutnya setelah
diterbitkannya surat ketetapan pajak.
Contoh :
PT ABC melaporkan laba fiskal Rp 100 juta berdasar SPT
Tahunan 2014 yang disampaikan tgl 30 April 2015
Pada bulan Juni 2015 PT ABC dilakukan pemeriksaan dan
Surat Ketetapan Pajak diterbitkan tanggal 30 Agustus 2015
menetapkan laba fiskal Rp 150 juta

Wajib Pajak yang Mengalami


Perubahan Keadaan Usaha
Apabila setelah 4 bulan atau lebih dalam suatu tahun pajak
wajib pajak dapat menunjukkan bahwa PPh yang akan
terutang untuk tahun pajak tersebut kurang dari 75% dari PPh
yang menjadi dasar penghitungan PPh Pasal 25, wajib pajak
tersebut dapat mengajukan permohonan pengurangan
angsuran PPh Pasal 25 kepada Kepala KPP setempat
Apabila dalam suatu tahun pajak WP mengalami peningkatan
usaha dan diperkirakan PPh yang akan terutang untuk tahun
pajak tersebut lebih dari 150% dari PPh yang menjadi dasar
penghitungan PPh Pasal 25, maka PPh 25 untuk bulanyang
masih tersisa dihitung kembali berdasarkan perkiraan PPh
yang terutang di tahun tsb

WP Bank & SGU dg hak opsi


PPh tarif umum atas laba rugi fiskal menurut
laporan keuangan triwulan terakhir
disetahunkan dikurangi PPh 24 dibagi 12

BUMN /BUMD
Tarif umum dari laba rugi fiskal berdasar
rencana kerja dan anggaran pendapatan
(RKAP) tahun pajak ybs dikurangi PPh 22,
23,24 dibagi 12

Penghitungan
PPh Kurang/Nihil/(Lebih Bayar)
Penghasilan Netto Fiskal
Kompensasi Kerugian
Penghasilan Kena Pajak

xxxxx
(xxxx)
xxxxx

xxxxx
(xxxx)
(xxxx)
(xxxx)
xxxxx

PPh Terutang (Tarif x PKP)


Kredit Pajak Dalam Negeri
Kredit Pajak Luar Negeri
PPh yg Dibayar Sendiri (Ps 25)
PPh Kurang/Nihil/(Lebih Bayar)
PPh Pasal 29

Anda mungkin juga menyukai