Anda di halaman 1dari 5

RINGKASAN MATERI KULIAH

AUDIT KEUANGAN DAERAH

AUDIT KEUANGAN DAERAH (LKPD)

Disusun oleh:
ADHIMAS GALIH HASMONO
NIM. F1314002

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

AUDIT KEUANGAN DAERAH (LKPD)


Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2000 tentang Pengelolaan Dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, setiap pemerintah daerah wajib menghasilkan laporan
keuangan yang terdiri atas Neraca, Laporan Perhitungan APBD, Laporan Arus Kas, Catatan
Atas Laporan Keuangan. Pelaporan keuangan tersebut merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dalam pertanggungjawaban kepala daerah kepada masyarakat

(public

accountability). Agar tercipta pemerintahan yang bersih dan mampu menyediakan public
goods dan service harus dilakukan pengelolaan keuangan Negara yang baik. Pengelolaan
keuangan Negara yang baik adalah keseluruhan kegiatan pejabat pengelola keuangan Negara
sesuai kedudukan dan kewenangannya, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,
dan pertanggungjawaban. Tanggung jawab keuangan Negara adalah kewajiban pemerintah
untuk melaksanakan pengelolaan keuangan Negara secara tertib, taat pada peraturan
perundang undangan , efisien, ekonomis, efektif dan transparan dengan memperhatikan rasa
keadilan dan kepatutan.
Untuk itu dibentuklah Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI).
Tugasnya melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan
Negara. Audit yang dilakukan BPK-RI meliputi 3 jenis yaitu :
1. Pemeriksa keuangan adalah pemeriksa atas laporan keuangan pemerintah pusat dan
pemerintah daerah.
2. Pemeriksa kinerja adalah pemeriksaan atas aspek ekonomi dan efisiensi, serta
pemeriksaan atas aspek efektivitas yang lazim dilakukan bagi kepentingan manajemen
oleh aparat pengawasan intern pemerintah
3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan
khusus diluar pemeriksaan keuangan dan kinerja.
Audit oleh BPK-RI tersebut merupakan proses identifikasi masalah, analisis, dan
evaluasi yang dilakukan secara independen, obyektif dan professional berdasar standar
pemeriksaan, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas dan keandalan informasi
mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. Dalam pelaksanaan auditnya,
BPK bebas dan mandiri dalam penentuan objek pemeriksaan, perencanaan, dan pelaksanaan
pemeriksaan,penentuan waktu dan metode pemeriksaan, serta penyusunan dan penyajian
laporan pemeriksaan.

Tujuan Audit Keuangan Daerah


Pemeriksaan/ audit atas LKPD bertujuan untuk memberikan pendapat/ opini atas
kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam LKPD, berdasarkan pada:
1. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dan/ atau prinsip-prinsip
akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan;
2. Kecukupan pengungkapan (adequate disclosure);
3. Kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
4. Efektifitas atau kehandala Sistem Pengendalian Intern (SPI).
Bagian dalam Laporan hasil pemeriksaan LKPD
Hasil pemeriksaan keuangan atas LKPD disajikan dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:
1. opini,
2. hasil pemeriksaan SPI,
3. hasil pemeriksaan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.
Opini dalam LKPD
Opini yang diberikan atas suatu laporan keuangan merupakan cermin bagi kualitas
pengelolaan dan penyajian suatu laporan keuangan. Terdapat 4 (empat) jenis opini yang
diberikan oleh BPK RI, antara lain:
1.
2.
3.
4.

Opini Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion);


Opini Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion);
Opini Tidak Wajar (Adversed Opinion); dan
Pernyataan Menolak Memberikan Opini (Disclaimer of Opinion).
Agar Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dapat memperoleh opini wajar

tanpa pengecualian dari BPK RI, Pemerintah Daerah harus memperhatikan beberapa hal
antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

lingkup pengendalian,
gaya operasi dan filosopi para pejabat Pemerintah Daerah,
struktur organisasi pemerintah daerah,
tanggung jawab dan wewenang,
kebijakan dan praktik Sumber Daya Manusia (SDM)
kegiatan pengawasan daerah.

Pelaksanaan Audit Keuangan Daerah


Dalam melaksanakan Audit Keuangan Daerah, seorang auditor harus memperhatikan
mengenai bukti audit. Bukti audit yang cukup harus diperoleh melalui :
a. inspeksi,
b. pengamatan,

c. permintaan keterangan, dan


d.

konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan
auditan.
Ukuran keabsahan bukti untuk tujuan audit tergantung pada pertimbangan auditor

independen. Relevansi, objektivitas, ketepatan waktu dan keberadaan bukti audit lain yang
menguatkan kesimpulan, seluruhnya terhadap kompetensi bukti audit. Jurnal, buku besar dan
buku pembantu dan buku pedoman akuntansi yang berkaitan seluruhnya merupakan bukti
yang mengandung laporan keuangan. Bukti audit penguat meliputi baik informasi tertulis
maupun elektronik, seperti cek, catatan elektronik, faktur, surat , dan lain lain. Auditor
menguji data akuntansi yang mendasari laporan keuangan dengan menganalisis dan merivew,
menelusuri kembali langkah-langkah prosedur yang diikuti dalam proses akuntansi dan dalam
proses pembuatan alokasi yang bersangkutan, menghitung kembali dan rekonsiliasi tipe-tipe
dan aplikasi yang berkaitan dengan informasi yang sama.
Setelah selesai mengumpulkan bukti audit dan mengaudit, auditor diwajibkan untuk
menyusun dan menyampaikan laporan hasil pemeriksaan secara tepat waktu. Laporan hasil
pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintahan daerah memuat opini, LHP atas kinerja
memuat temuan, kesimpulan dan rekomendasi, Laporan hasil pemeriksaan dengan tujuan
tertentu memuat kesimpulan. Tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas temuan,
kesimpulan, dan rekomendasi pemeriksa juga dilampirkan dalam laporan hasil pemeriksaan.
Laporan hasil pemeriksaan yang telah disampaikan kepada lembaga perwakilan, dinyatakan
terbuka untuk umum, kecuali laporan yang memuat rahasia Negara yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan.
Tindak Lanjut Hasil Keuangan Daerah
Atas hasil audit yang dilaksankan oleh BPK-RI , pejabat yang diperiksa wajib
menindaklanjuti rekomendasi dalam LHP dengan memberikan jawaban kepada BPK tentang
tindak lanjut atas rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan selambat-lambatnya 60 hari
setelah LHP diterima. Pejabat yang tidak melaksanakan kewajiban dapat dikenai sanksi
administratif sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang kepegawaian.
Apabila dari hasil audit BPk diketahui terdapat kerugia Negara, maka BPK
menerbitkan surat keputusan penetapan batas waktu pertanggungjawaban bendahara atas
kekurangan kas atau barang yang terjadi. Bendahara dapat mengajukan keberatan atau
pembelaan diri kepada Badan Pemeriksa dalam waktu 14 hari kerja setelah menerima surat

keputusan. Bila bendahara tidak mengajukan keberatan atau pembelaan ditolak, BPK
menetapkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian Negara kepada bendahara
tersebut. Beberapa hal terkait dengan pengenaan ganti kerugian negara/ daerah:
1. BPK menerbitkan surat keputusan penetapan batas waktu pertanggungjawaban
bendahara atas kekurangan kas/ barang yang terjadi, setelah mengetahui ada
kekurangan kas/ barang dalam persediaan yang merugikan negara/ daerah;
2. Bendahara dapat mengajukan keberatan atau pembelaan diri kepada BPK dalam
waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima surat keputusan tersebut;
3. Apabila bendahara tidak mengajukan keberatan atau pembelaan diri ditolak, BPK
menetapkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian daerah kepada
bendahara bersangkutan;
4. Tata cara penyelesaian ganti kerugian negara/ daerah terhadap bendahara ditetapkan
oleh BPK setelah berkonsultansi dengan pemerintah;
5. Gubernur/ Bupati/ Walikota melaporkan penyelesaian kerugian negara/ daerah
kepada BPK selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari setelah diketahui terjadinya
kerugian negara/ daerah; dan
6. BPK memantau penyelesaian pengenaan ganti kerugian negara/ daerah terhadap
pegawai negeri bukan bendahara dan/ atau pejabat lain pada pemerintah daerah.
Pemerintah Daerah diharuskan untuk menindaklanjuti setiap rekomendasi dari hasil
pemeriksaan BPK RI yang bertujuan untuk menciptakan tata kelola keuangan daerah yang
transparan, adil, tertib, dan akuntabel, sehingga diharapkan dapat mewujudkan pengelolaan
pemerintahan yang good governance dan clean governance.