Anda di halaman 1dari 6

PERCOBAAN 05 DAN 06

ALKOHOL DAN FENOL : SIFAT DAN REAKSI KIMIA


ALDEHID DAN KETON : SIFAT DAN REAKSI KIMIA
(KI- 2051)
Tanggal Praktikum : 8 Oktober 2015
Tanggal Pengumpulan: 15 Oktober 2015
Disusun oleh :
Semeru Gita Lestari
10614023
Kelompok 3
Asisten:
Nila T Berghuis
30512023

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

I.

Tujuan Percobaan
Pada praktikum kali ini, tujuan dari percobaannya adalah :
1. Menentukan bentuk senyawa A B dan C adalah fenol atau alkohol
2. Menentukan bentuk senyawa A` dan B` adalah aldehid atau keton

II.

Teori dasar
Alkohol merupakan senyawa rangkaian karbon yang berikatan dengan gugus
fungsi OH. Alkohol terbagi menjadi 3, yaitu alkohol primer (OH berikatan dengan 1
atom C), alkohol sekunder (OH berikatan dengan 2 atom C), dan alkohol tersier (OH
berikatan dengan 3 atom C). Perbedaan antara alkohol dan fenol adalah fenol

merupakan cincin aromatik, bersifat lebih asam dan akan mengalamai deprotansi jika
ditambahkan larutan NaOH (Mayo, et.all. 2011). Untuk membedakan itu alkohol
primer, sekunder atau tersier dapat dilakukan dengan uji Lucas dimana jika suatu
sampel keruh sebelum dipanaskan maka itu termasuk alkohol teriser, jika keruh setelah
dipanaskan maka termasuk alkohol sekunder dan jika tidak keruh sama sekali, maka itu
termasuk alkohol primer. Sedangkan untuk membedakan itu suatu sampel termasuk
alkohol atau fenol, dapat dilakukan uji dengan larutan NaOH.
Menurut Keenan (1986), alkohol adalah senyawa rangkaian karbon yang
berikatan dengan gugus fungsi OH. Ada tiga macam alkohol yang diketahui, yaitu
alkohol primer yaitu -OH berikatan dengan 1 atom C, alkohol sekunder yaitu -OH
berikatan dengan 2 atom C, dan alkohol tersier yaitu -OH berikatan dengan 3 atom C.
Adapun perbedaan antara alkohol dengan fenol. Fenol merupakan senyawa cincin
aromatik yang memiliki sifat lebih asam dan mengalamai deprotansi jika ditambahkan
larutan NaOH. Untuk mengetahui perbedaan antara alkohol primer, sekunder atau
tersier dapat dilakukan dengan uji Lucas. Yakni sebuah uji dimana jika suatu sampel
yang tadinya bening menjadi keruh sebelum dipanaskan, maka dapat dikatakan
senyawa itu termasuk alkohol teriser, jika perubahan warna keruh setelah dipanaskan
maka termasuk alkohol sekunder.
Fenol atau asam karoksilat atau benzenol adalah kristal tak berwarna yang
memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus
hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil. Karakteristik fenol memiliki
kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram / 100 ml. Fenol memiliki sifat yang
cenderung sama, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya.
Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O- yang dapat dilakukan
dalam air (Kaniawati, 2011).
Fenol didapat melalui oksidasi sebagian pada benzena atau asam benzoat
dengan proses Rasching, fenol juga dapat diperoleh sebagai hasil dari oksidasi batu
bara. Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik seperti yang digunakan Sir Joseph
Lister saat mempraktikkan pembedahan antiseptik. Fenol merupakan komponen utama
pada antiseptik dagang, triklorofenol atau dikenal TCP (trichlorophenol). Fenol juga
merupakan bagian komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik.

Fenol juga berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin,
pembasmi rumput liar dan lainnya) (Kaniawati, 2011).
Aldehid dan keton memiliki gugus fungsi karbonil ( =C=O ) yaitu atom karbon
yang berikatan dengan rangkap dua dengan oksigen. Pada keton terdapat 2 atom karbon
lain yang terikat pada gugus karbonil, karbon yang terikat dapat berupa reaksi alifatik
dan aromatik (Mayo, et.all. 2011). Perbedaan aldehid dan keton dapat ditentukan
dengan melakukan uji asam kromat, uji Tollens, uji iodoform dan uji 2,4dinitrofenilhidrazin. Asam kromat dapat mengoksidasi aldehid, namun tidak pada keton
(Jespersen et al., 2012).

III.

Data pengamatan
Tabel 3.1 Data pengamatan alkohol - fenol

Uji

1-Propanol

2-Propanol

Sikloheksana

t-butanol

Fenol

+ Aquades

Larut

Larut

Tidak larut

Larut

Larut

+ n-heksana

Larut

Larut

Larut

Larut dan Tidak larut

Uji Asam kromat

fasa,

hijau

atas 2 fasa, atas 2

keruh
atas Warna

fasa,

bawah hijau bawah hijau

bawah tetap

2 fasa, atas
hijau bawah

Uji Lucas

hitam
Kuning

hitam
Kuning

hitam
Keruh

(orange)
Sangat

hitam
Bening

Uji Alkali

2 fasa

2 fasa

(dipanaskan)
2 fasa

keruh
2 fasa

(dipanaskan)
larut

Uji Besi

Warna tetap

Warna tetap

Warna tetap

Warna

Warna hitam

pH

tetap
5

Tabel 3.2 Data Pengamatan Sampel A B dan C

Uji Alkali

Sampel A

Sampel B

Sampel C

2 fasa

2 fasa

2 fasa

Tabel 3.3 Data pengamatan aldehid keton


Uji

Benzaldehid

Aseton

Pentanon

Uji Tollens

Tidak bereaksi

Keruh

Berubah jadi hitam

Uji Iodoform

Keruh

Warna tetap

Warna tetap

Uji 2,4 dinitrofhenilhidrazin

Terbentuk endapan

Terbentuk endapan

Terbentuk endapan

Uji Asam Kromat

2 fasa, atas hijau Warna tetap


bawah hitam

Tabel 3.4 Data pengamatan sampel A dan B

Warna tetap

Uji Tollens

IV.

Sampel A`

Sampel B`

Terdapat cermin perak

Tidak bereaksi

Pembahasan
Untuk menguji sampel A B dan C digunakan uji alkali. Menurut literature, Uji
Alkali pada alcohol akan menghasilkan 2 fasa jika NaOH direaksikan dengan senyawa
alcohol. Hal ini dikarenakan pada pencampuran alcohol dan NaOH 10% terbentuk 2
senyawa yang berbeda dengan massa jenis yang berbeda. Selain itu, semakin panjang dan
bercabang suatu rantai C alkohol semakin non polar, sehingga semakin sukar larut dalam
NaOH dan akan terbentuk fasa cair lapisan kedua Sedangkan uji alkali pada fenol akan
terbentuk hanya 1 fasa saja (Pasto, 1992). Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan
diperoleh senyawa A B dan C yang telah ditambahkan NaOH 10% terbentuk 2 fasa. Hal
ini berarti bahwa sampel A B dan C merupakan senyawa alcohol.
Untuk menguji sampel A` dan B` digunakan uji Tollens. Pada uji Tollens,
diguanakn pereaksi tollens yang mengandung ion diaminperak (I). pada pengujian ini,
keton tidak bereaksi dengan tollens sedangkan aldehid yang awalnya adalah larutan tidak
berwarna jika ditambahkan tollens akan menghasilkan sebuah endapan perak berwarna
abu-abu atau sebuah cermin perak. Aldehid akan mereduksi ion diaminperak (I) menjadi
logam perak karena larutannya bersifat basa sehingga aldehid teroksidasi menjadi sebuah
garam dari asam karboksilat yang sesuai. Reaksinya adalah sebagai berikut: (Jespersen,
2012).
2Ag(NH3)2 + RCHO + 3OH-

2Ag +RCOO- + 4 HN3 + 2H2O

Berdasarkan pada hasil pengamatan, setelah diuji dengan uji Tollens, pada sampel
A` terbentuk cermin perak sedangkan pada sampel B`tidak terjadi reaksi sehingga dapat
diketahui bahwa sampel A merupakan senyawa aldehid sedangkan senyawa B merupakan
V.

senyawa keton karena tidak dapat bereaksi dengan pereaksi Tollens.


Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Sampel A B dan C merupakan alkohol


2. Sampel A` adalah aldehid dan sampel B` adalah keton
VI.

Daftar pustaka

Jespersen, Neil D., James E. Brady dan Alyson Hyslop. 2012. Chemistry The Molecular
Nature of Matter. Hoboken : John Wiley and Sons Inc.
Kaniawati. 2011. Asam Pikrat. Malang : Universitas Malang
Keenan, W. Charles. 1986. Ilmu Kimia untuk Universitas Edisi VI. Jakarta: Erlangga.
Mayo, D.W., Pike, R.M., Forbes, D.C. 2011. Microscale Organic Laboratory : With
th
Multistep and Multiscale Synthesis. 5 edition. John Wiley & Sons, New York.

Pasto, D., Johnson, C., Miller, M. 1992. Experiments and Techniques in Organic Chemistry.
Prentice Hall Inc, New Jersey.