Anda di halaman 1dari 6

DEMOKRASI

PADA MASA ORDE REFORMASI


(1998 - ....)

Pada tanggal 1 Mei 1998 Soeharto selaku Presiden RI saat


itu mengundurkan diri, yang disambut antusias oleh
masyarakat, merupakan momentum awal reformasi di
Indonesia. Beliau kemudian digantikan oleh Wakil Presiden
RI saat itu Prof. Dr. Ing Bachruddin Jusuf Habibie dengan
mengucapkan sumpah di Istana Merdeka Jakara.
Hal
tersebut dilakukan mengingat gedung MPR RI sedang
diduduki oleh mahasiswa. Berbagai kontroversi muncul
terhadap pengambilan sumpah tersebut, ada yang
mengatakan konstitusional dan ada pula yang menganggap
inkonstitusional. Hal ini disebabkan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Habibie mengucapkan sumpah tidak disaksikan oleh
seluruh anggota MPR/DPR RI, lalu Soeharto tidak sedang
mendapat halangan sesuai Pasal 18 UUD 1945, tetapi
dihujat oleh orang banyak dan diminta untuk turun dari
jabatannya.
2. Bila dilangsungkan pengambilan sumpah tersebut di
gedung MPR, hal tersebut akan beresiko tinggi oleh
maraknya demonstrasi dan bukankah anggota MPR yang
berada di Senayan adalah buatan Soeharto sendiri yang
juga tidak dikehendaki oleh masyarakat ketika itu.
3. Apabila
anggota
MPR
diganti
pemilu
tidak
memungkinkan untuk dilakukan dalam waktu yang
sesingkat mungkin, lagipula berbagai Undang-Undang
Pemilihan Umum selama ini dituding tidak demokrasi.

Pemerintahan Habibie sebenarnya memang tidak sama


dengan pemerintahan Soeharto, bagaimanapun juga
Habibie mengucapkan sebagai murid Soeharto, beliau
adalah seorang yang demokratis, ilmuwan, dimana di masa
beliaulah para tahanan politik dibebaskan bahkan di masa
beliaulah untuk pertama kalinya pemilihan umum
dilangsungkan secara demokratis melebihi Pemilihan Umum
sebelumnya.
Pemilihan Umum tahun 1999 diikuti oleh 48 partai yang
bersaing
ketat
walaupun
hanya
21
partai
yang
mendapatkan bagian kursi di DPR RI PDI Perjuangan yang
didukung oleh rakyat jelata memang tidak meraih
kemenangan
mutlak
karena
Golkar
masih
tetap
mengimbanginya terutama di wilayah Indonesia Bagian
Timur. Itulah sebabnya Prof. Dr. Amien Rais, MA. yang
memimpin demonstrasi pada tanggal 20 Mei 1998
mengatakan bahwa masyarakat Indonesia belum cukup
pintar untuk mengerti arti sebuah demokrasi di negara yang
sebesar Indonesia, Prof. Dr. Amien Rais, MA. yang partainya
mendapatkan nomor urut 5 (lima) ini mengalami
kekecewaan lalu melirik kepada Partai Kebangkitan Bangsa
yang didirikan oleh KH. Abdurrahman Wahid.
Dalam suasana Sidang Istimewa MPR RI yang digelar di
bawah pimpinan Amien Rais, dengan telah menolak
pertanggungjawaban Presiden R.I Ke-3
B.J. Habibie, dan
setelah itu Golkar kehilangan calon presidennya. Prof. Dr.
Amien Rais, MA selanjutnya menggiring suara Golkar yang
merasa kecewa untuk beralih mendukung pencalonan
KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari Partai
Kebangkitan Bangsa, hal tersebut merupakan upaya untuk
menghalangi dukungan kepada Megawati Soekarno Putri
yang dicalonkan oleh PDI Perjuangan.

Partai Amanah Nasional yang didirikan Amien Rais


bersama Partai Keadilan yang bernuansa Islam kemudian
membentuk Fraksi Reformasi, dan mendukung Gus Dur
hingga menduduki kursi kepresidenan Republik Indonesia.
Gus Dur memang seorang ahli manajemen konflik, karena
dalam waktu sekejap berhasil melemahkan kekuatan
TNI/POLRI yang memang sudah ingin berganti paradigma.
Letjen.
Agus
Wirahadikusumah
yang
reformis
diorbitkan untuk menjadi Panglima Kostrad, sedangkan
Prof. Dr. Baharudin Lopa, SH yang terkenal sangat jujur
dijadikan Jaksa Agung, tetapi sayang keduanya meninggal
dunia di tengah perjalanan jihadnya.
Beberapa contoh konflik yang diciptakan Gus Dur pada
era kepemimpinannya antara lain sebagai berikut:
1. Menurut Presiden Abdurrahman Wahid apabila Presiden
dijatuhkan melalui Memorandum I, Memorandum II, dan
selanjutnya Sidang Istimewa MPR RI maka keadaan
akan menjadi kalut (darurat). Oleh karena itu sebaiknya
perlu dikeluarkan Dekrit, sedangkan menurut Ketua MPR
Amien Rais apabila MPR dibubarkan oleh Presiden, hal
tersebut menyalahi konstitusi karena Presiden dipilih
oleh MPR.
2. Jabatan Wakapolri yang sudah dibekukan, diaktifkan
kembali dan diangkatlah Jenderal Polisi Chairudin Ismail
untuk
menjabatnya,
sedangkan
Jenderal
Polisi
S. Bimantoro menolak usul tersebut dengan tetap
menjabat Kapolri non aktif.

3. Menurut Presiden Abdurrahman Wahid pencalonan Bagir


Manan dan Muladi sebagai calon Ketua Mahkamah
Agung adalah tidak tepat karena keduanya terlibat pada
kasus masa lalu, sedangkan menurut Ketua DPR RI
akbar Tanjung, hal tersebut terlalu mencampuri urusan
Legislatif dan Yudikatif.
4. Menurut Presiden Abdurrahman Wahid, Jenderal TNI
Endriartono Sutarto tidak taat kepada Presiden apabila
menolak Dekrit, sementara oleh hampir seluruh perwira
TNI Angkatan Darat pengumuman keadaan darurat
walaupun menguntungkan mereka dianggap akan
mempersulit posisi TNI.
5. Menurut Presiden Abdurrahman Wahid, Megawati tidak
menciptakan suasana Dwi Tunggal apabila membiarkan
partainya menggelar Sidang Istimewa MPR, kendati
menurut Megawati hal tersebut dapat dilakukan
sepanjang konstitusional.
Selain itu juga dalam pengangkatan pejabat, Presiden
Abdurrahman Wahid menciptakan konflik, antara lain:
1. Ryaas Rasyid yang gentar dengan keberadaan
federalisme malah diangkat sebagai Menteri Otonomi
Daerah.
2. A. S. Hikam yang banyak mengkritik keberadaan
Kementrian Riset justru diberikan jabatan pada posisi
tersebut.
3. Khofifah
Indar
Parawangsa
yang
menghendaki
emansipasi melalui pembubaran Kementrian Peranan
Wanita, justru diangkat sebagai Menteri Pemberdayaan
Perempuan.

Memang masyarakat Indonesia belum mengerti dengan


apa yang dilakukan oleh Presiden Abdurrahman Wahid
dalam manuver politiknya. Beliau sengaja melemahkan
eksekutif, dengan demikian sebagai Bapak Demokrasi maka
isu-isu akan menjadi wacana yang menarik dan
menghimpun masa.
Bayangkan saja isu komunis, isu Israel, isu judi, isu
pemecatan, isu Assalamu'alaikum, dan lain-lain, akan
membuat umat bersatu karena diciptaknnya musuh
monumental, dan kemudian beliaulah yang menggiring
persatuan
tersebut,
ketegangan
dianggap
sebagai
kemesraan setelah keresahan itu terlewati. Dan beliau
sendiri berada di tengah-tengah massa karena memiliki
Banser NU.
Namun pada akhirnya sosok Gus Dur yang
kontroversial itu diturunkan dari jabatannya dikarenakan
kasus Bruneigate, dan Buloggate yang dikonstitusionalkan
melalui Memorandum I, Memorandum II, dan Sidang
Istimewa MPR RI, kemudian Megawati melangkah mulus ke
kursi kepresidenan, dimana PDI Perjuangan yang dipimpin
oleh Megawati merupakan pemenang pada Pemilu 1999.
Hal yang sangat disayangkan adalah pada awal
pemerintahannya Megawati tampak terlalu berbeda dengan
kepemimpinan sang ayah yaitu Soekarno. Kalau Soekarno
pada masa kepemimpinannya dengan berani menolak
agresor Amerika Serikat dengan menyebutnya sebagai
Nekolim, sedangkan Megawati justru dengan rendah hati
berhiba kepada negara adikuasa ini, walaupun Amerika
Serikat juga cukup banyak mempunyai keterikatan dengan
Indonesia.

Inilah yang kemudian ditindaklanjuti oleh Wakil


Presiden Hamzah Haz dengan meperbesar isu akan
melakukan kunjungan ke Lybia yang merupakan musuh
utama Amerika Serikat, bersamaan dengan adanya konflik
antara Pemerintah Amerika Serikat dengan Usamah bin
Laden.
Megawati
Soekarno
Putri
memang
harus
memperhatikan akar rumput yang telah mendukungnya,
karena
apabila
tidak,
mereka
akan
mengalihkan
dukungannya kepada pihak lain yang lebih mau
mendengarkan dan memperhatikan aspirasi mereka.
Akhirnya Megawati pun harus lengser dari kursi
kepresidenan setelah kalah dalam pemilihan presiden dan
wakil presiden secara langsung oleh pasangan Susilo
Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla pada tahun
2004 yang lalu. Naiknya Susilo Bambang Yudhoyono dan
Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden merupakan
babak baru dalam demokrasi di Indonesia, karena untuk
pertama kalinya Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara
langsung oleh rakyat Indonesia