Anda di halaman 1dari 36

WRAP UP SKENARIO 1

BLOK REPRODUKSI DAN TUMBUH KEMBANG


KEPUTIHAN

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK A1
Ketua
: Kharisma Berlian Sjukri
Sekretaris
: Amorrita Puspita Ratu
Anggota
:
1. Hanny Ardian Cholis
2. Andina Dewanty
3. Camelia Farahdila Musaad
4. Dea Dwi Miranti
5. Irfan Arif Zulfikar
6. Debby Wulandari
7. Luvianti
8. Ajeng Rahayu Mulyo

(1102013150)
(1102013023)
(1102012107)
(1102013025)
(1102013061)
(1102013071)
(1102013140)
(1102012052)
(1102013158)
(1102013017)

FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM


UNIVERSITAS YARSI
2014/2015
1

SKENARIO 1
KEPUTIHAN
Pasien wanita, umur 26 tahun, ibu rumah tangga, baru 2 bulan menikah datang berobat ke dokter
dengan keluhan keputihan yang banyak, cair, berbau anyir yang kadang kadang disertai gatal
sejak 3 minggu yang lalu. Penderita mempunyai siklus menstruasi yang normal dan tidak
menggunakan kontrasepsi. Suami penderita bekerja sebagai supir dan riwayat melakukan
hubungan seksual dengan wanita lain disangkal. Pada pemeriksaan genetalia eksterna : labium
mayus dan minus tampak eritema dan sedikit erosi. Pada pemeriksaan inspekulo didapatkan:
discharge vagina homogeny, keabu-abuan dan tampak melekat pada dinding vagina. Pasien
disarankan melakukan pemeriksaan PAP smear.

KATA-KATA SULIT
1. Inspekulo: alat spekulum yang dimasukkan ke liang senggama sehingga vagina terbuka
dan terlihat bagian dalam, untuk melihat sebab keputihan, bentuk himen, dan posisi IUD.
2. Pap smear: pemeriksaan untuk mengetahui adanya kelainan atau tidak pada vagina,
terutama pada wanita yang sudah berhubungan suami istri.
3. Swab vagina: pemeriksaan cairan dari vagina dengan usapan, menggunakan alat seperti
cotton bud.
4. Keputihan: cairan yang keluar berlebihan dari bagian vagina, baik fisiologis atau
patologis.
5. Eritema: kemerahan pada kulit karena kongesti pembuluh darah.
6. IUD: alat kontrasepsi (spiral) dimasukkan ke rahim untuk mencegah kehamilan.
7. Erosi: pengikisan pada jaringan kulit sampai stratum spinosum.
8. Discharge vagina: sekret yang keluar dari vagina
PERTANYAAN DAN JAWABAN
1. Indikasi pap smear?
Usia menikah dibawah 20 tahun, pernah melahirkan lebih dari 3 kali, perdarahan setiap
berhubungan, dan sering berganti pasangan.
2. Kaitan IUD dengan keputihan?
Pemasangan IUD yang merupakan benda asing dapat menimbulkan keputihan yang
merupakan refleks fisiologis.
3. Hubungan keputihan dengan menstruasi normal?
Sel tak bersilia mengeluarkan sekret saat estrogen turun yaitu saat menstruasi.
4. Adakah hubungan keputihan dengan infeksi?
Ada, infeksi merupakan salah satu penyebab keputihan patologis.
5. Apakah keputihan bahaya bagi janin?
Bahaya, karena bisa menginfeksi janin.
6. Komplikasi lanjut keputihan?
Ca serviks dan infertilitas.
7. Mengapa tampak eritema dan erosi pada bagian labia mayor dan minus?
Merupakan tanda inflamasi. Erosi disebabkan karena gatal yang digaruk.
8. Pencegahan keputihan?
Menjaga kebersihan daerah vital dan tidak berganti pasangan.
9. Penyebab keputihannya berwarna hijau, berbau amis dan gatal?
Parasit (Trichomonas) menyebabkan keputihan berwarna hijau, jamur (candidiasis) dapat
menyebabkan gatal, dan berbau amis karena amine.
10. Apakah pap smear bahaya pada wanita hamil?
Bahaya karena dapat menyebabkan kontraksi uterus.
11. Hubungan riwayat keputihan dengan riwayat seksual suami?
Untuk mengetahui penyakit mengarah ke infeksi menular seksual atau tidak.
3

12. Tatalaksana keputihan?


Abstinensi sementara, penggunaan kondom, dan metronidazole.
13. Penyebab keputihan?
Non infeksi: fisiologis, benda asing (IUD atau kondom tertinggal), obat kontrasepsi,
keganasan, diet rendah nutrisi.
Infeksi: bakteri, jamur, virus, dan parasit.
HIPOTESIS
Keputihan dapat disebabkan oleh non infeksi: fisiologis, benda asing (IUD atau kondom
tertinggal), obat kontrasepsi, keganasan, diet rendah nutrisi, dan juga faktor infeksi: bakteri,
jamur, virus, dan parasit. Keputihan karena non infeksi disebabkan oleh penurunan estrogen
(fisiologis) dan pemasangan IUD. Infeksi menyebabkan keputihan jadi berwarna hijau, bau dan
gatal, eritema, dan erosi karena inflamasi. Pada kehamilan, keputihan karena infeksi dapat
membahayakan janin. Maka dapat dilakukan pemeriksaan swab vagina. Untuk deteksi adanya
keganasan dapat dilakukan pap smear. Indikasi pap smear adalah usia menikah dibawah 20
tahun, pernah melahirkan lebih dari 3 kali, perdarahan setiap berhubungan, dan sering berganti
pasangan. Namun pap smear berbahaya pada kehamilan, karena dapat menyebabkan kontraksi
uterus. Keputihan dapat diatasi dengan abstinensi sementara, penggunaan kondom, dan
metronidazole. Pencegahan keputihan dengan menjaga kebersihan daerah vital dan tidak berganti
pasangan.

SASARAN BELAJAR
4

LI 1. Memahami dan menjelaskan tentang Anatomi genitalia externa dan interna wanita
LO 1.1 Memahami dan menjelaskan tentang makroskopis anatomi genitalia externa dan
interna
Genitalia Eksterna Wanita memiliki 3 fungsi utama :
-

Jalan masuk sperma kedalam tubuh


Melindungi organ genitalia interna dari mikroorganisme
Seksual

Gambar1. Organ reproduksi eksternal pada wanita. Dinding vagina anterior terbawah
terlihat di balik labium minus. Pada nulipara, orifisium vaginae tidak mudah terlihat (inset)
oleh karena kedua labium minus yang saling mendekat
Pudenda sering disebut sebagai vulva dan meliputi semua struktur yang terlihat diantara pubis
sampai perineum.
Mons Pubis ( mons veneris ) terdiri dari jaringan lemak yang berada pada dinding depan
abdomen diatas simfisis pubis.
Labium Majus. Terdiri dari 2 buah lipatan kulit memanjang dari mons pubis kearah posteroinferior dan menyatu dibagian posterior membentuk commisura posterior. Secara morfologis
struktur ini identik dengan skrotum pada laki-laki.
Labium Minus. Berupa dua buah lipatan kulit yang berjalan dari klitoris dan menyatu
dibagian posterior untuk membentuk frenulum labia minora atau fourchette.
Klitoris. Berada di ujung anterior labia minor. Terdiri dari 2 buah corpus cavernosum yang
merupakan jaringan erektil di dalam selaput tipis jaringan ikat dan sebagian diantaranya
menyatu sepanjang tepi medial untuk membentuk korpus klitoris.

Gambar 2 Bagian sebelah dalam organ reproduksi eksternal wanita.Pada sisi kanan gambar
gambaran struktur kulit dan jaringan subkutis dihilangkan
Vestibulum vaginae. Berupa cekungan memanjang antara labia minor dan orifisium vaginae.
Lokasi klitoris berada dibagian ujung anterior vestibulum yang berbentuk segitiga. Pada orang
dewasa memiliki 6 buah lubang yaitu :
-

Urethra

Vagina

2 buah saluran kelenjar Bartholine

2 buah saluran kelenjar paraurethral (Skene)

Meatus urethra eksternus. Terletak 2 2.5 cm dibagian posterior basis klitoris. Pada kedua
sisi MUE terdapat 2 pasang saluran kelenjar paraurethralis (Skenes) yang mempunyai arti
klinis dalam infeksi Gonococcus atau infeksi non-spesifik lain. Ductus paraurethralis identik
dengan kelenjar Prostate pada laki-laki.
Bulbus vestibuli. Struktur jaringan erektil yang berada dikedua sisi orofisium vaginae yang
menempel dengan permukaan inferior diafragma urogenitalis dan tertutup oleh muskulus
Bulbocavernosus(sfingter vaginae). Bulbus vestibuli berukuran panjang 3 4 cm dan
diameter 1 2 cm. Mudah cedera saat persalinan dan menyebabkan hematoma vulva atau
perdarahan eksternal. Struktur ini homoloog dengan corpus cavernosus urethrae pada lakilaki.
Glandula Bartholine. Sepasang kelenjar yang terletak pada kedua sisi orifisium vaginae.
Berupa masa bulat dengan ukuran bervariasi antara 0.5 1 cm. Masing-masing kelenjar
memiliki saluran sepanjang 2 cm dengan orifisum yang terletak diantara labia minor dan
orifisium vagina. Fungsinya adalah menghasilkan sekret pada saat libido meningkat. Mudah

mengalami infeksi dengan kuman Gonococcus. Struktur ini identik dengan glandula
Bulbourethral (Cowpers) pada laki-laki.
Orifisium Vaginae. Terletak postero-inferior dari Meatus Urethrae Eksternus dengan bentuk
dan lebar yang derajatnya sesuai dengan virginitas usia dan paritas.
Himen. Lipatan selaput membran tipis yang melingkari orifisium vagina. Terdapat berbagai
jenis lubang hymen: annular semilunaris cribiformis septum imperforatus. Sisa-sisa
himen pada multipara disebut sebagai caruncula Myritiformis.
Vagina. Saluran musculo-membrane yang terbentang dari vestibulum sampai uterus. Berjalan
kearah postero-superior dan membentuk sudut tajam dengan servik uteri sehingga dinding
posterior vagina akan lebih panjang (sekitar 1.5 3 cm) dibandingkan dengan dinding anterior
(6 7.5 cm).
Penonjolan servik kedalam vagina akan membentuk Cavum Douglassi dan membagi puncak
vagina menjadi fornix anterior - posterior danlateralis.

Gambar 3. Penampang sagital panggul wanita dewasa yang memperlihatkan hubungan


antara organ viscera panggul
Di bagian anterior, vagina berbatasan dengan trigonum vesicalis ; dan di bagian posterior
dengan rektum. Dibagian posterior, bagian distal vagina terpisah dari saluran anus
dengan corpus perinealis ; 2/4 bagian tengah vagina berhimpitan dengan ampula recti ;
bagian proksimal vagina dibelakang fornix posterior tertutup dengan peritoneum
membentuk Cavum Douglassi. Lendir yang membasahi vagina berasal dari servik yang
menjadi asamakibat fermentasi glikogen epitel oleh bakteri vagina. Vagina terdiri dari lapisan
epitel pipih bertatah, otot dan jaringan ikat dibagian luar.
Fungsi vagina : organ copulasi, saluran keluar (darah haid), dan sebagai jalan lahir.
Syaraf-syaraf otonom system urogenital wanita adalah Nervus Pudendus.

Genetalia interna wanita merupakan organ atau alat kelamin yang tidak tampak dari luar, terletak
di bagian dalam dan dapat dilihat dengan alat khusus atau pembedahan. Genetalia interna terdiri
atas vagina (liang senggama), uterus (rahim), tuba falopi (saluran telur) dan ovarium (indung
telur).
Bagian dari genetalia interna, adalah:

Vagina (liang senggama)


Uterus (rahim)
Tuba falopi (saluran telur)
Ovarium (indung telur)

Vagina (liang senggama)


Vagina adalah saluran yang berbentuk tabung yang menghubungkan vulva dengan rahim.
Ukuran vaginasekitar 6- 7,5 cm meliputi dinding anterior dan 9-11 cm meliputi dinding posterior.
Fungsi vagina adalah sebagai berikut:
Saluran untuk keluarnya menstruasi dari rahim
Tempat senggama
Jalan lahir
PH vagina normal berkisar 4-5, sehingga menyebabkan cairan menjadi sedikit asam. Hal ini,
memberikan proteksi terhadap penyebaran kuman. Dinding vagina yang berlipat-lipat yang
berjalan sirkulair disebut rugae.Dinding vagina terdiri atas tiga lapisan yaitu: lapisan mukosa
yang merupakan kulit, lapisan otot dan lapisan jaringan ikat. Bagian dari leher rahim yang
menonjol ke dalam vagina disebut porsio. Sedangkan daerah di sekitar servik
disebut forniks. Forniks dibagi menjadi 4 kuadran, yaitu: forniks anterior, forniks posterior,
forniks lateral kanan dan kiri.
Uterus (rahim)

Uterus merupakan suatu organ muskular berbentuk seperti pir yang terletak di antara kandung
kencing dan rektum.
Fungsi dari uterus adalah:
Setiap bulan, berfungsi dalam pengeluaran darah haid dengan ditandai adanya perubahan
dan pelepasan dari endometirum.
Selama kehamilan sebagai tempat implantasi, retensi dan nutrisi konseptus.
Saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus,
isi konsepsidikeluarkan.
Ukuran uterus berbeda-beda tergantung pada usia, pernah melahirkan atau belum.
Ukuran uterus pada anak-anak 2-3 cm, nuli para 6-8 cm dan multi para 8-9 cm.
Uterus terdiri atas dua bagian utama yaitu serviks dan korpus uteri.

Serviks uteri

Serviks uteri merupakan bagian terbawah uterus, yang terdiri dari pars vaginalis dan pars
supravaginalis. Komponen utama dalam serviks uteri adalah otot polos, jalinan jaringan ikat
kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis
uteri dengan lubang ostium uteri externum, yang dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa
serviks, dan ostium uteri internum.

Korpus uteri

Korpus uteri terdiri dari: paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum
latum uteri di intra abdomen, tengah lapisan muskular / miometrium berupa otot polos tiga lapis
(dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan
endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat
pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intra abdomen mendatar dengan fleksi ke
anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.
Hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis ke dalam vagina disebut ostium uteri
eksternum. Isthmusadalah bagian uterus antar korpus dan serviks uteri, yang diliputi oleh
peritoneum viserale. Isthmus, akan melebar selama kehamilan dan disebut segmen bawah rahim.
Organ yang berbatasan dengan uterus adalah sebagai berikut:
Sebelah atas: rongga rahim berhubungan dengan tuba falopi
Sebelah bawah: berbatasan dengan saluran leher rahim (kanalis servikalis)
Dinding rahim terdiri atas tiga lapisan, yaitu:
Lapisan serosa (perimetrium) terletak paling luar
Lapisan otot (miometrium) terletak di tengah
Lapisan mukosa (endometrium) terletak paling dalam

Sikap dan letak uterus dalam rongga panggul terfiksasi dengan baik karena disokong dan
dipertahankan oleh:

Tonus rahim sendiri


Tekanan intra abdominal
Otot-otot dasar panggul
Ligamentum-ligamentum

Ligamentum-ligamentum uterus adalah sebagai berikut:


Ligamentum latum: Ligamentum latum terletak di sebelah kanan dan kiri uterus, meluas
sampai ke dinding panggul dan dasar panggul, sehingga uterus seolah-olah menggantung
pada tuba.
Ligamentum rotundum: Ligamentum rotundum terletak di bagian atas lateral dari uterus,
kaudal dari insersituba. Ligamen ini menahan uterus antefleksi.
Ligamentum infundibulo pelvikum: Indifundibulo pelvikum ada dua yaitu di bagian kiri
kanan dari infundibulum dan ovarium. Ligamentum ini menggantungkan uterus pada
dinding panggul.
Ligamentum kardinale: Ligamentum kardinale terdapat di kiri kanan dari serviks setinggi
ostium internum ke dinding panggul.
Ligamentum sakro uterinum: Ligamentum sakro uterinum terdapat di kiri dan kanan dari
serviks sebelah belakang ke sakrum mengelilingi rektum.
Ligamentum vesiko uterinum: Ligamentum vesiko uterinum terletak pada
daerah uterus ke kandung kencing.
Letak uterus adalah sebagai berikut:
Antefleksi (menekan ke depan), merupakan letak fisiologis
Retrofleksi (menghadap ke belakang)
Anteversio, uterus terdorong ke depan
Retroversio, uterus terdorong ke belakang
Torsio, uterus yang memutar
Pembuluh darah yang mengaliri uterus adalah arteri uterina dan arteri ovarika.
Tuba falopi (saluran telur)
Tuba falopi terdapat pada tepi atas ligamentum latum, berjalan ke arah lateral, kornu uteri kanan
dan kiri. Panjang tuba falopi adalah 12 cm, dengan diameter 3-8 mm.
Fungsi dari tuba falopi adalah:
Menangkap dan membawa ovum dari ovarium ke uterus
Tempat terjadinya konsepsi
Tuba falopi terdiri atas 4 bagian yaitu:
10

Pars interstisialis: Pars interstisialis merupakan bagian tuba yang berjalan dari
dinding uterus mulai dari ostium tuba.
Pars ismika: Pars ismika merupakan bagian tuba setelah ke luar dinding uterus. Pars
ismika merupakan bagian yang lurus dan sempit.
Pars ampularis: Pars ampularis merupakan bagian tuba antara pars ismika dengan
infundibulum. Pars ampularis merupakan bagian tuba yang paling lebar dan berbentuk S.
Pars ampularis merupakan tempat terjadinya konsepsi.
Infundibulum: Infundibulum merupakan bagian ujung dari tuba dengan umbai-umbai
yang disebut fimbrae.Fungsi dari fimbrae untuk menangkap ovum yang matang. Lubang
pada fimbrae disebut ostium abdominale tuba.
Ovarium (indung telur)
Ovarium homolog dengan testis pada pria. Ovarium berbentuk oval dan terletak pada dinding
panggul bagian lateral yang disebut fossa ovarium. Ovarium ada dua yaitu terletak di kiri dan
kanan uterus. Ovariumdihubungkan oleh ligamentum ovarii propium dan dihubungkan dengan
dinding panggul dengan perantara ligamentum infundibulo pelvikum.
Fungsi ovarium adalah sebagai berikut:
Mengeluarkan hormon progesteron dan esterogen
Mengeluarkan telur setiap bulan
Ukuran ovarium sekitar 2,5-5 cm x 1,5-3 cm x 0,9-1,5 cm. Berat ovarium kurang lebih 4-8 gram.
Pada seorang wanita, terdapat 100.000 folikel primer. Folikel tersebut setiap bulan akan matang
dan keluar, terkadang dua folikel matang dan keluar bersamaan. Folikel primer ini akan
berkembang menjadi folikel de graaf.
Folikel de graaf yang matang terdiri atas: ovum, stratum granulosum, teka internus, dan teka
eksternus.
LO 1.2 Memahami dan menjelaskan tentang mikroskopis anatomi genitalia externa dan
interna
Serviks
Serviks mempunyai serabut otot polos, namun terutama terdiri dari atas jaringan kolagen,
ditambah dengan elastin serta pembuluh darah. Peralihan serviks yang terutama yang berupa
jaringan kolagen ke korpus uteri yang terutama berupa jaringan muskuler, meskipun
umumnya mendadak namun bisa juga sedikit demi sedikit, sehingga terentang sepanjang 10
mm. Serviks yang berbentuk silinder pada nullipara panjangnya sekitar 3 cm dan diameter
2,5 cm.
Mukosa kanalis servikalis meskipun secara embriologis merupakan kelanjutan dari
endometrium, namun setelah mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga potongan
melintangnya menyerupai sarang tawon. Mukosanya terdiri dari satu lapisan epitel kolumnar
11

yang sangat tinggi, menempel pada membrana basalis yang tipis. Nukleus yang oval terletak
dekat dasar sel kolumner yang bagian atasnya terlihat agak jernih karena berisi mukus. Sel
sel ini mempunyai banyak silia. Terdapat banyak kelenjar servikalis yang memanjang dari
permukaan mukosa endoserviks langsung menuju jaringan ikat di sekitarnya, karena tidak
terdapat submukosa demikian, kelenjar inilah yang berfungsi mengeluarkan sekret yang
kental dan lengket

Sediaan Serviks

Vagina
Lapisan Vagina
Dinding vagina terdiri dari lapisan mukosa, muskularis, dan adventitia. Mukosa ini berada
didalam lipatan (rugae) yang terdiri dari lapisan permukaan epitel skuamosa berlapis tanpa
lapisan tanduk (nonkeratinized) diatas lamina propria. Sel-sel epitel mengandung glikogen
Lamina propria terdiri dari jaringan ikat, dibawah lapisan epitel, serabut elastis membentuk
jaringan padat. Jaringan limfatik menyebar dan nodular ditemukan sesekali, dan banyak limfosit,
bersama dengan leukosit granular, menginvasi epitel. Vagina tidak memiliki kelenjar, dan epitel
dijaga agar tetap lembab oleh sekresi dari leher rahim (servix). Muskularis terdiri dari kumpulan
sel-sel otot polos yang tersusun sirkuler di lapisan dalam dan longitudinal di lapisan luar.
Para adventitia adalah lapisan luar yang tipis yang tersusun dari jaringan ikat dengan
serat elastis. Berfungsi untuk mempertahankan vagina tetap di tempat.
Epitel skuamosa bertingkat nonkeratinized yang melapisi vagina terdalam adalah lapisan
basal (stratum germinativum), diikuti oleh lapisan (spinosus) menengah dan lapisan dangkal
(stratum korneum).
Labia
Labia mayor terdiri dari lipatan-lipatan kulit yang menutupi kumpulan jaringan adiposa. Pada
orang dewasa, permukaan luar ditutupi oleh rambut kasar dengan kelenjar keringat dan sebasea.
12

Labia majora adalah homolog dengan skrotum pada pria. Labia minora terdiri dari inti yang
sangat vaskular, jaringan ikat longgar tertutup oleh epitel skuamosa berlapis yang sangat
menjorok oleh papilla jaringan ikat. Kedua permukaan labia minora tidak terdapat rambut, tetapi
banyak terdapat kelenjar sebasea besar.
Klitoris
Klitoris adalah suatu badan yang terbentuk dari dua corpora cavernosa yang tertutup dalam
lapisan jaringan ikat fibrosa dan dipisahkan oleh septum yang tidak lengkap. Ujung bebas dari
klitoris berakhir dalam tuberkulum, kecil membulat,serta kelenjar clitoridis. Klitoris dibungkus
oleh lapisan tipis epitel skuamosa berlapis nonkeratinized , juga terkait dengan banyak ujung
saraf khusus. Klitoris tidak memiliki korpus spongiosum , oleh karena itu tidak dilalui oleh
uretra.
Kelenjar vestibular/ kelenjar Bartholin
Vestibulum adalah celah antara labia minora yang di dalamnya merupakan bukaan vagina dan
uretra. dibatasi oleh epitel skuamosa berlapis dan mengandung banyak kelenjar vestibular kecil.
Terdapat kelenjar lendir tubuloalveolar yang mengeluarkan cairan, pelumas jelas berlendir.
Kelenjar utama sesuai dengan kelenjar bulbourethral dari laki-laki.
(Junqueira, 2007)

Epitel Vagina

LI 2. Memahami dan menjelaskan tentang Leukorea


LO 2.1 Memahami dan menjelaskan tentang definisi leukorea
Keputihan (leukorea, fluor albus) merupakan gejala keluarnya cairan dari vagina selain darah
haid. Keputihan (fluor albus) ada yang fisiologik (normal) dan ada yang patologik (tidak
normal). Keputihan tidak merupakan penyakit melainkan salah satu tanda dan gejala dari suatu
penyakit organ reproduksi wanita.
LO 2.2 Memahami dan menjelaskan tentang etiologi leukorea
Etiologi
13

Keputihan fisiologik

Penyebab keputihan fisiologik adalah faktor hormonal, seperti bayi baru lahir sampai umur kirakira 10 hari disebabkan pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
Kemudian dijumpai pada waktu menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen. Rangsangan
birahi disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dingding vagina. Kelelahan fisik dan
kejiwaan juga merupakan penyebab keputihan.
Keputihan yang bersifat normal (fisiologis) pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada
daerah porsio vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior
vagina. Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang
mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang. Sedangkan pada keputihan yang
patologik terdapat banyak leukosit. Keputihan yang fisiologis dapat ditemukan pada:
a
b
c
d

Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen; keputihan ini dapat
menghilang sendiri akan tetapi dapat menimbulkan kecemasan pada orang tua.
Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh
pengeluaran transudat dari dinding vagina.
Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelanjar serviks uteri menjadi lebih
encer.
Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita
dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis
uteri.

Keadaan lain yang menyebabkan keputihan yaitu kelelahan, stres emosional, karena ada masalah
dalam keluarga atau pekerjaan, bisa juga karena penyakit yang melelahkan seperti gizi yang
rendah ataupun diabetes. Bisa juga disebabkan oleh status imunologis yang menurun maupun
obat obatan. Diet yang tidak seimbang juga dapat menyebabkan keputihan terutama diet dengan
jumlah gula yang berlebihan, karena merupakan faktor yang sangat memperburuk terjadinya
keputihan Diet memegang peranan penting untuk mengendalikan infeksi jamur. Dengan
makanan yang cukup gizi kita bisa membantu tubuh kita memerangi infeksi dan mencegah
keputihan vagina yang berlebihan. Hindari makanan yang banyak mengandung karbohidrat
dengan kadar gula tinggi seperti tepung, sereal, dan roti. Makanan dengan jumlah gula yang
berlebihan dapat menimbulkan efek negatif pada bakteri yang bermanfaat yang tinggal di dalam
vagina. Selaput lendir dinding vagina mengeluarkan glikogen, suatu senyawa gula. Bakteri yang
hidup di vagina disebut lactobacillus (bakteri baik) meragikan gula ini menjadi asam laktat.
Proses ini menghambat pertumbuhan jamur dan menahan perkembangan infeksi vagina. Gula
yang dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan bakteri lactobacillus tidak dapat meragikan
semua gula ke dalam asam laktat dan tidak dapat menahan pertumbuhan penyakit, maka jumlah
menjadi meningkat dan jamur atau bakteri perusak akan bertambah banyak.
Pada wanita yang telah mengalami menopouse terjadi penurunan aktivitas hormonal seperti
estrogen yang berdampak pada penurunan aktivitas organ genital. Seperti vagina menjadi lebih
14

keras, menipisnya epitel dan kurangnya degenerasi sel epitel. Hal ini dapat mempermudah
terjadinya infeksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan keputihan
Penggunaan obat-obat imunosupresan seperti kortikosteroid dan penggunaan antiseptik genital
secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan imunitas organ genital dan juga menyebabkan
kematian flora normal organ genital. Hal ini menyebabkan mudahnya terjadi infeksi daerah
vagina yang dapat menimbulkan keputihan.
b

Keputihan Patologik

Keputihan patologik disebabkan oleh karena kelainan pada organ reproduksi wanita dapat berupa
Infeksi, Adanya benda asing, dan penyakit lain pada organ reproduksi.
1

Infeksi

Infeksi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh. Salah satu gejalanya adalah keputihan.
Infeksi yang sering terjadi pada organ kewanitaan yaitu vaginitis, candidiasis, trichomoniasis.
a

Vaginitis
Penyebabnya adalah pertumbuhan bakteri normal yang berlebihan pada vagina. Dengan
gejala cairan vagina encer, berwana kuning kehijauan, berbusa dan bebau busuk, vulva
agak bengkak dan kemerahan, gatal, terasa tidak nyaman serta nyeri saat berhubungan
seksual dan saat kencing. Vaginosis bakterialis merupakan sindrom klinik akibat
pergantian Bacillus Duoderlin yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri
anaerob dalam konsentrasi tinggi seperti Bacteroides Spp, Mobiluncus Sp,
Peptostreptococcus Sp dan Gardnerella vaginalis bakterialis dapat dijumpai duh tubuh
vagina yang banyak, Homogen dengan bau yang khas seperti bau ikan, terutama waktu
berhubungan seksual. Bau tersebut disebabkan adanya amino yang menguap bila cairan
vagina menjadi basa. Cairan seminal yang basa menimbulkan terlepasnya amino dari
perlekatannya pada protein dan vitamin yang menguap menimbulkan bau yang khas.

Candidiasis
Penyebab berasal dari jamur kandida albican. Gejalanya adalah keputihan berwarna putih
susu, begumpal seperti susu basi, disertai rasa gatal dan kemerahan pada kelamin dan
disekitarnya. Infeksi jamur pada vagina paling sering disebabkan oleh Candida,spp,
terutama Candida albicans. Gejala yang muncul adalah kemerahan pada vulva, bengkak,
iritasi, dan rasa panas. Tanda klinis yang tampak adalah eritema, fissuring, sekret
menggumpal seperti keju, lesi satelit dan edema. Usaha pencegahan terhadap timbulnya
kandidiasis vagina meliputi penanggulangan faktor predisposisi dan penanggulangan
sumber infeksi yang ada. Penanggulangan faktor predisposisi misalnya tidak
menggunakan antibiotika atau steroid yang berlebihan, tidak menggunakan pakaian ketat,
mengganti kontrasepsi dengan kontrasepsi lain yang sesuai, memperhatikan hygiene.
Penanggulangan sumber infeksi yaitu dengan mencari dan mengatasi sumber infeksi yang
ada, baik dalam
15

tubuhnya sendiri atau diluarnya.


c

Trichomoniasis
Berasal dari parasit yang disebut Trichomonas vaginalis. Gejalanya keputihan berwarna
kuning atau kehijauan, berbau dan berbusa,kecoklatan seperti susu ovaltin, biasanya
disertai dengan gejala gatal dibagian labia mayora, nyeri saat kencing dan terkadang sakit
pinggang. Trichomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering
menyerang traktus urogenitalis bagian bawah. Pada wanita sering tidak menunjukan
keluhan, bila ada biasanya berupa duh tubuh vagina yang banyak, berwarna kehijauan
dan berbusa yang patognomonic (bersifat khas) untuk penyakit ini. Pada pemeriksaan
dengan kolposkopi tampak gambaran Strawberry cervix yang dianggap khas untuk
trichomoniasis. Salah satu fungsi vagina adalah untuk melakukan hubungan seksual.
Terkadang mengalami pelecetan pada saat melakukan senggama. Vagina juga
menampung air mani, dengan adanya pelecetan dan kontak mukosa (selapu lendir) vagina
dengan air mani merupakan pintu masuk (Port dentre) mikro organisme penyebab
infeksi PHS.

Chlamydia trachomatis
Chlamydia trachomatis merupakan salah satu dari empat spesies genus chlamydia yang
merupakan bakteri khusus yang hidup sebagai parasit intrasel. Chlamydia trachomatis
adalah infeksi bakteri menular seksual yang ditemukan diseluruh dunia. Chlamydia
trachomatis bersifat dimorfik yaitu organisme ini terdapat dalam dua bentuk, dalam
bentuk infeksiosa, Chlamydia trachomatis merupakan sferoid berukuran kecil, tidak aktif
secara metabolis, dan mengandung DNA dan RNA serta di sebut badan elementer.
Sferoid-sferoid ini memperoleh akses ke sel penjamu melalui endositosis dan setelah
berada didalam berubah menjadi organisme yang secara metabolis aktif yang bersaing
dengan sel penjamu memperebutkan nutrien. Organisme ini memicu timbulnya siklus
replikasi dan setelah kembali memadat menjadi EB sampai sel penjamu pecah, terjadi
ratusan EB untuk menginfeksi sel-sel sekitarnya. Chlamydia trachomatis memiliki
afinitas terhadap epitel uretra, serviks, dan konjungtiva mata. Pada laki-laki
uretritis,epididimitis dan prostatitis adalah manifestasi infeksi tersering. Pada perempuan
yang tersering adalah servisitis, diikuti oleh uretritis, bartolinitis dan akhirnya penyakit
radang panggul.dapat juga menginfeksi faring dan rektum orang yang melakukan
hubungan seks oral atau anal reseptif. Bayi dapat terinfeksi sewaktu dilahirkan dan
mengalami konjungtivitis dan pneumonia. Infeksi oleh Chlamydia trachomatis tidak
menimbulkan imunitas terhadap infeksi di kemudian hari.

16

Chlamydia trachomatis
e

Gardnerella vaginalis
Gardnerella vaginalis pada keadaan normal ditemukan dalam saluran pernapasan.
Namun, bakteri ini terdapat pada kira-kira 30% flora normal vagina wanita normal.
Organisme ini merupakan basil gram negatif yang biasanya ditemukan bersamaan dengan
keberadaan bakteri anaerob. Mungkin terjadi penularan melalui hubungan seksual, karena
90% laki-laki terinfeksi.

Gardnerella vaginalis
f

Human papillomavirus
Salah satu anggota grup papilovirus, dapat menyebabkan kondiloma akuminata. Virus ini
ditularkan secara seksual umumnya mengenai kedua pasangan dan menyerang kelompok
umur yang sama dengan penyakit lainnya. HPV diketahui sebagai penyebab kanker
kongenital, termasuk karsinoma serviks. Papillomavirus menggambarkan konsep bahwa
strain virus alamiah bisa berbeda dalam potensi onkogenik. Yang paling sering di temukan
HPV-16 atau HPV-18, walaupun beberapa kanker mengandung DNA dari HPV tipe 31 atau
tipe 45.

17

Human papillomavirus

Herpes simplek virus


Terdapat dua tipe virus herpes yang berbeda tipe 1 dan tipe 2. Susunan genom mereka
sama dan menunjukan kesesuaian urutan substansi. Tetapi mereka dapat dibedakan melalui
analisis pembatasan enzim dari DNA virus. Keduanya secara serologis bereaksi silang,
tetapi terdapat beberapa protein unik pada setiap tipe. Cara penularan mereka berbeda,
HSV-1 menyebar melalui kontak, biasanya melibatkan air liur yang terinfeksi sementara
HSV-2 ditularkan secara seksual atau melalui infeksi genitalia maternal kepada bayi yang
baru lahir. Ini menimbulkan gambaran klinis yang berbeda pada infeksi manusia.

Herpes simplek virus


h

Molluscum contagiosum
Molluscum contagiosum adalah virus yang autoinokulasi (masuknya virus dari tubuh
pasien sendiri) dengan masa tunas 1-4 minggu. Umumnya timbul tumor kulit epitel
berwarna merah muda hingga abu-abu, tanpa gejal, menyebar, dan berukuran kurang dari 1
cm di vulva. Gambaran histologik menunjukan sejumlah badan inklusi dalam sitoplasma
sel

18

Adanya benda asing dan penyebab lain


a

Keganasan/Neoplasia
Kanker merupakan penyebab keputihan hal ini karena meningkatanya proliferasi sel-sel
genital yang cepat dan mudah rusak. Sehingga timbul nekrosis sel yang menyebabkan
ikut pecahnya pembulu darah. Pada kasus seperti ini maka akan keluar cairan bercampur
darah yang berbau busuk.
Penggunaan celana dalam yang tidak menyerap keringat
Jamur tumbuh subur pada keadaan yang hangat dan lembab. Celana dalam yang terbuat
dari nilon tidak dapat menyerap keringat sehingga menyebabkan kelembaban. Campuran
keringat dan sekresi alamiah vagina sendiri mulai bertimbun, sehingga membuat
selangkangan terasa panas dan lembab. Keadaan ini menjadi tempat yang cocok untuk
pertumbuhan jamur candida dan bakteri lain yang merugikan.
Penggunaan celana panjang yang ketat
Celana panjang yang ketat juga dapat menyebabkan keputihan yang merupakan
penghalang terhadap udara yang berada disekitar daerah genetalia dan merupakan
perangkap keringat pada daerah selangkangan. Bila pemakaian jeans digabungkan
dengan celana nilon di bawahnya, efeknya sangat membahayakan.
Penggunaan deodorant vagina
Deodorant vagina sebenarnya tidak perlu karena dapat mengiritasi membran mukosa dan
mungkin menimbulkan keputihan. Deodorant tidak dapat bekerja semestinya karena
deodorant tidak mempengaruhi kuman- kuman di dalam vagina. Deodorant membuat
vagina menjadi lebih kering dan gatal serta dapat menyebabkan reaksi alergi. Mandi
dengan busa sabun dan antiseptik sebaiknya dihindari karena alasan yang sama.
Keduanya dapat mematikan bakteri alamiah dalam vagina dengan cara yang mirip
dengan antibiotika

LO 2.3 Memahami dan menjelaskan tentang klasifikasi leukorea


1. Leukorrhea Fisiologis
Leukorrhea adalah keluarnya cairan dari vagina. Proses ini dapat berupa keadaan fisiologis atau
patologis.1 Pada keadaan fisiologis leucorrhea terjadi saat menstruasi. Pada saat menstruasi
19

terjadi peluruhan endometrium yang nekrotik bersamaan dengan leukosit. Diperkirakan fungsi
leucorrhea fisiologis ini adalah untuk melindungi saluran genital dari infeksi.
Leukorrhea juga dipengaruhi oleh sekresi mucus serviks, terutama kelenjar Bartholin.1 Jumlah
sekresi mucus ini terutama dipengaruhi oleh estrogen. Komposisi lainnya dalam sekret ini adalah
sel epitel yang lepas dan bakteri. Keadaan yang dapat meningkatkan jumlah vaginal discharge
adalah stress emosi, ovulasi, kehamilan, dan kesenangan seksual.
2. Leukorrhea Patologis
Leukorrhea juga dapat menjadi petunjuk adanya keadaan patologis. Perubahan warna, bau,
konsistensi, dan jumlah dari yang normal menunjukkan adanya kelainan(tabel 1). Penyebab
tersering leucorrhea patologis adalah bacterial vaginosis, trichomoniasis, dan vulvovaginal
candidiasis.3
Pada Bacterial Vaginosis leucorrhea homogen dan berwarna putih. Ph vagina lebih dari 4,5 dan
pada pewarnaan gram ditemukan banyak organism yang beraneka ragam dengan squama(Cluecells) tanpa adanya lactobacilli. Pada candidiasis pH vagina kurang dari 4,5 serta pada
pewarnaan gram ditemukan spora dan pseudohifa. Pada trichomoniasis leucorrhea yang
terbentuk adalah kuning atau hijau yang disertai protozoa yang memiliki flagel motil.
Tabel 1. Morfologi vaginal discharge pada kondisi fisiologis dan patologis

Tabel 2. Beberapa Mikroorganisme Penyebab Vaginal Discharge4

20

LO 2.4 Memahami dan menjelaskan tentang epidemiologi leukorea


Sekret vagina sering tampak sebagai suatu gejala genital. Proporsi perempuan yang mengalami
flour albus bervariasi antara 1 -15% dan hampir seluruhnya memiliki aktifitas seksual yang aktif,
tetapi jika merupakan suatu gejala penyakit dapat terjadi pada semua umur. Seringkali fluor albus
merupakan indikasi suatu vaginitis, lebih jarang merupakan indikasi dari servisitis tetapi kadang
kedua-duanya muncul bersamaan. Infeksi yang sering menyebabkan vaginitis adalah
Trikomoniasis, Vaginosis bacterial, dan Kandidiasis. Sering penyebab noninfeksi dari vaginitis
meliputi atrofi vagina, alergi atau iritasi bahan kimia. Servisitis sendiri disebabkan oleh Gonore
dan Klamidia. Prevalensi dan penyebab vaginitis masih belum pasti karena sering didiagnosis
dan diobati sendiri. Selain itu vaginitis seringkali asimptomatis dan dapat disebabkan lebih dari
satu penyebab.
LO 2.5 Memahami dan menjelaskan tentang patofisiologi leukorea
Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina bisa dikatakan suatu
yang normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan penderita sebagai suatu infeksi,
khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa perempuan pun mempunyai sekret vagina yang
banyak sekali. Dalam kondisi normal, cairan yang keluar dari vagina mengandung sekret vagina,
sel-sel vagina yang terlepas dan mucus serviks, yang akan bervariasi karena umur, siklus
menstruasi, kehamilan, penggunaan pil KB.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara
Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil
metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap
bakteri pathogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus
(Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5
dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain.
21

Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh Candida sp. terutama C.
albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi vagina. Sel ragi akan berkompetisi
dengan flora normal sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah pertumbuhan ragi
adalah penggunaan antibiotik yang berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi, kadar estrogen
yang tinggi, kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian pakaian ketat, pasangan
seksual baru dan frekuensi seksual yang tinggi. Perubahan lingkungan vagina seperti
peningkatan produksi glikogen saat kehamilan atau peningkatan hormon esterogen dan
progesterone karena kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan Candida albicans pada sel epitel
vagina dan merupakan media bagi prtumbuhan jamur. Candida albicans berkembang dengan baik
pada lingkungan pH 5-6,5. Perubahan ini bisa asimtomatis atau sampai sampai menimbulkan
gejala infeksi. Penggunaan obat immunosupresan juga menajdi faktor predisposisi kandidiasis
vaginalis
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan
peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi
dari Trichomonas vaginalis
Vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena pengaruh bakteri patogen
atau adanya perubahan dari lingkungan vagina sehingga bakteri patogen itu mengalami
proliferasi. Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah
lingkungan vagina tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri patogen. Pada vaginosis bacterial,
diyakini bahwa faktor-faktor itu dapat menurunkan jumlah hidrogen peroksida yang dihasilkan
oleh Lactobacillus acidophilus sehingga terjadi perubahan pH dan memacu pertumbuhan
Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis dan Mobiluncus yang normalnya dapat dihambat.
Organisme ini menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan
menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau pada
flour albus pada vaginosis bacterial.(2)
Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita tuberculosis, anemia,
menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada perempuan dengan keadaan umum yang
jelek , higiene yang buruk dan pada perempuan yang sering menggunakan pembersih vagina,
disinfektan yang kuat

LO 2.6 Memahami dan menjelaskan tentang manifestasi klinis leukorea


Pada keputihan normal gejala dan tandanya sebagian besar berkaitan dengan siklus menstruasi.
Biasanya berupa cairan lengket berwarna kekuningan atau putih kelabu dari saluran vagina.
Cairan ini dapat encer ataupun kental dan biasanya pada keputihan yang normal tidak disetai
gatal serta akan menghilang dengan sendirinya.
Sedangkan pada keputihan abnormal gejala dan tandanya biasanya bisa bervariasi dalam warna,
berbau dan disertai keluhan seperti gatal, nyeri atau rasa terbakar disekitar vagina. Infeksi ini
dapat menjalar dan menimbulkan peradangan pada saluran kencing.
Segala perubahan yang menyangkut warna dan jumlah dari sekret vagina meerupakan suatu
tanda infeksi vagina. Infeksi vagina adalah sesuatu yang sering kali muncul dan sebagian besar
perempuan pernah mengalaminya dan akan memberikan beberapa gejala fluor albus:
22

- Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit dan nyeri.


- Sekret vagina yang bertambah banyak
- Rasa panas saat kencing
- Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal
- Berwarna putih kerabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk
Vaginosis bacterial
Sekret vagina yang keruh, encer, putih abu-abu hingga kekuning-kuningan dengan bau busuk
atau amis. Bau semakin bertambah setelah hubungan seksual
Trikomoniasis
Sekret vagina biasanya sangat banyak kuning kehijauan, berbusa dan berbau amis.
Kandidiasis
Sekret vagina menggumpal putih kental. Gatal dari sedang hingga berat dan rasa terbakar
kemerahan dan bengkak didaerah genital Tidak ada komplikasi yang serius
Infeksi klamidia
Biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna kuning seperti pus. Sering kencing dan
terdapat perdarahan vagina yang abnormal
Keputihan juga dapat dialami oleh wanita yang terlalu lelah atau daya tahan tubuhnya lemah.
Sebagian besar cairan tersebut berasal dari leher rahim, walaupun ada yang berasal dari vagina
yang terinfeksi atau alat kelamin luar.

LO 2.7 Memahami dan menjelaskan tentang diagnosis dan diagnosis banding leukorea
Diagnosis
1 Anamnesis
Usia, jumlah, masa inkubasi/lama terjadinya, paparan PHS, pemakaian antibiotic
(kortikostreroid), hubungan dengan menstruasi ovulasi dan kehamilan, antibiotic vaginal
touche, warna, iritatisi : infeksi, benda asing, neoplasma. Pruritus : T.vaginalis/
C.albikans. penyakit sistemik, pil KB.
2 Pemeriksaan fisik :
Inspeksi kulit perut bawah terutama perineum dan anus, inspeksi rambut pubis, inspeksi
dan palpasi genitalia eksterna, pemeriksaan speculum untuk vagina dan serviks,
pemeriksaan bimanual pelvis, palpasi pembesaran KGB inguinal dan femoral.
3 Pemeriksaan penunjang

23

Nilai sekresi dinding vagina (warna, konsistensi, bau), kertas indicator PH (n=4-4,5),
swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10%, kultur (pila
perlu), pewarnaan gram, serologi sifilis, tes PAP.
Diagnosis penyebab infeksi:
1 Trikomoniasis
- Anamnesis:
sering tidak menunjukkan keluhan , kalau ada biasanya berupa duh tubuh vagina yang
banyakmdan baerbau maupun dispareunia, perdarahan pasca coitus dan perdarahan
intermestrual. Jumlah lekore banyak, berbau, menimbulkan iritasi dan gatal.Warna
sekret putih, kuning atau purulen.Konsistensi homogen, basah, frothy atau berbusa
(foamy).Terdapat eritem dan edema pada vulva disertai dengan ekskoriasi.Sekitar 2-5%
tampak strawberry servix yang sangat khas pada trichomonas.
- Laboratorium: pH>4,5 dan Sniff test (+)
- Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan larutan garam fisiologis terlihat
pergerakan trichomonas berbentuk ovoid, ukuran lebih besar dari PMN dan mempunyai
flagel, leukosit (+) dan clue cell dapat (+)
2 Kandidosis vulvovaginal
- Anamnesis:
keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan keputihan yang tidak berbau. Rasa
gatal/iritasi disertai keputihan tidak berbau atau berbau asam. Keputihan bisa banyak,
putih keju atau seperti kepala susu/krim, tetapi kebanyakan seperti susu pecah. Pada
dnding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju (cottage cheeses). Pada vulva/dan
vagina terdapat tanda-tanda radang, disertai maserasi, psuedomembran, fissura dan lesi
satelit papulopustular
- Laboratorium: pH vagina <4,5 dan Whiff test (-)
- Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan KOH 10% atau dengan pewarnaan
gram ditemukan blastopora bentuk lonjong, sel tunas, pseudohifa dan kadang kadang
hifa asli bersepta
3

Vaginosis bacterial
- Anamnesis:
Mempunyai bau vagina yang khas yaitu bau amis terutama waktu berhubungan seksual,
namun sebagian besar dapat asimtomatik. Keputihan dengan bau amis seperti ikan.
Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai banyak, homogen, warna putih atau
keabu-abuan, melekat pada dinding vagina.Tidak ada tanda-tanda inflamasi.
- Laboratorium: pH >4,5 biasanya berkisar antara 5-5,5 dan Whiff test (+)
- Mikroskopik: clue cell (+) jarang terdapat leukosi

Servisitis Gonore
- Anamnesis:
Gejala subjektif jarang ditemukan .Pada umumnya wanita datang berobat kalau sudah
ada komplikasi.Sebagian besar penderita ditemukan pada pemeriksaan antenatal atau
24

pemeriksaan keluarga berencana.Duh tubuh serviks yang mukopurulen.Serviks tampak


eritem, edema, ektopi dan mudah berdarah pada saat pengambilan bahan pemeriksaan.
Laboratorium: kultur
Mikroskopik: Pemeriksaan sedian langsung dengan pengecatan gram ditemukan
diplokokus gram negatif, intraseluler maupun ekatraseluler

Klamidiasis
- Anamnesis: gejala sering tidak khas, asimtomatik, atau sangat ringan. Eksudat seviks
mukopurulen, erosi seviks, atau folikel-folikel kecil (microfollicles)
- Laboratorium: pemeriksaan serologis untuk deteksi antigen melalui ELISA
- Mikroskopik: dengann pengecatan giemsa akan ditemukan badan elementer dan badan
retikulat
DD :Kanker serviks (keputihan warna putih purulent yang berbau dan tidak gatal)
Normal
Vaginosis
Vaginitis
Vulvovaginitis
Bakteri
Trichomonas
Candida albicans
vaginalis

Gejala
primer

Tidak ada

Sekret, bau
busuk, mungkin
gatal

Sekret, bau busuk,


mungkin gatal

Sekret, gatal dan


seperti terbakar
pada kulit vulva

Sekret
vagina

Sedikit, putih,
flokulan

Meningkat,
tipis, homogen,
putih, abu-abu,
adheren

Meningkat, kuning,
hijau, berbusa,
adheren; petekia
servikal sering ada

Meningkat, putih,
keju lembut seperti
dadih

pH

< 4,5

> 4,5

> 4,5

4,5

Bau

Tidak ada

Sering, seperti
bau ikan

Dapat ada, seperti


bau ikan

Tidak ada

Mikroskopis

Sel epitel dengan


lactobacillus

Clue cells
dengan basil
adheren; tidak
ada PMN

Trikomonas motil;
banyak PMN

Preparat KOH
memperlihatkan
tangkai ragi dan
pseudohifa

Pengobatan

Tidak ada

Metronidazole

Metronidazole

Antifungi azol
topikal

LO 2.8 Memahami dan menjelaskan tentang tatalaksana leukorea


1

Farmakologi
25

Untuk menghindari komplikasi yang serius dari keputihan (fluor albus), sebaiknya
penatalaksanaan dilakukan sedini mungkin.
Penatalaksanan keputihan tergantung dari penyebab infeksi seperti jamur, bakteri atau
parasit. Umumnya diberikan obat-obatan untuk mengatasi keluhan dan menghentikan
proses infeksi sesuai dengan penyebabnya. Tujuan pengobatan yaitu:
1 Menghilangkan gejala
2 Memberantas penyebabnya
3 Mencegah terjadinya infeksi ulang
4 Pasangan diikutkan dalam pengobatan
Keputihan fisiologis : tidak ada pengobatan khusus, penderita diberi penerangan untuk
menghilangkan kecemasannya. Keputihan Patologis : Tergantung penyebabnya
Obat obatan untuk keputihan Patologis :
1

Antiseptik : Povidone Iodin


Sediaan ini berbentuk larutan 10% povidon iodin dan ada yang diperlengkapi dengan alat
douche-nya sebagai aplikator larutan ini. Selain sebagai antiinfeksi yang disebabkan
jamur Kandida, Trikomonas, bakteri atau infeksi campuran, juga sebagai pembersih.
Tidak boleh digunakan pada ibu hamil dan menyusui. Bila terjadi iritasi atau sensitif
pemakaian harus dihentikan.

Anti biotik
Clotrimazole : Memiliki aktivitas antijamur dan antibakteri. Untuk infeksi kulit dan
vulvovaginitis yang disebabkan oleh Candida albicans. Efek samping: pemakaian topikal
dapat terjadi rasa terbakar,eritema, edema ,gatal dan urtikaria
Sediaan dan posologi : Tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1%
dioleskan 2 kali sehari . Krim vagina 1% untuk tablet vagina 100 mg digunakan sekali
sehari pada malam hari selama 7 hari atau tablet vagina; 500 mg, dosis tunggal.
Tinidazole : Tinidazole adalah obat antiparasit yang digunakan untuk membrantas infeksi
Protozoa, Amuba.
Efek samping obat ini sama seperti Metronidazole tetapi dengan kelebihan tidak perlu
minum dengan waktu yang panjang sehingga mengurangi efek sampingnya. Tinidazole
sebagai preparat vaginal digunakan untuk infeksi Trichomonas. Biasa dikombinasi
dengan Nystatin sebagai anti jamurnya. Bentuk sediaan yang ada adalah vaginal tablet.
Metronidazole

26

Diberikan peroral ( 2 gram sebagai dosis tunggal , 1gr setiap 12 jam x 2 atau 250 mg
3xsehari selama 5-7 hari) untuk infeksi Trichomonas vaginalis. Diberikan 500 mg
2xsehari selama seminggu dan lebih baik secara mitraseksual. Untuk infeksi Gardnerella
vaginalis Efek samping : mual kadang kadang muntah, rasa seperti logam dan intoleransi
terhadap alkohol. Metronidazol tidak boleh diberikan pada trimester pertama kehamilan.
Nimorazole
Nimorazole merupakan antibiotika golongan Azol yang terbaru. Selain dalam sediaan
tunggal dalam bentuk tablet oral (diminum) juga ada kombinasinya (Chloramphenicol
dan Nystatin) dalam bentuk vaginal tablet.
Penisilin
1
2

Ampisilin pada pemberian oral dipengaruhi besarnya dosis dan ada tidaknya
makanan dalam saluran cerna
Amoksisilin lebih baik diberikan oral ketimbang ampisilin karena tidak terhambat
makanan dalam absorbsinya.

Efek samping : Reaksi alergi , nefropati, syok anafilaksis, efek toksik penisilin
terhadap susunan saraf menimbulkan gejala epilepsi karena pemberian IV dosis besar
Sediaan dan posologi :
Ampisilin : - Tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul 125mg, 250mg, 500mg
- Dalam suntikan 0,1 ; 0,25 ; 0,5 dan 1 gram pervial
Amoksisilin : Dalam bentuk kapsul atau tablet ukuran 125, 250, 500 gram dan
sirup125mg/5mL dosis diberikan 3 kali 250-500 mg sehari
3

Anti jamur : Nystatin


Nystatin adalah obat antijamur polien untuk jamur dan ragi yang sensitif terhadap obat
ini termasuk Candida sp. Di dalam darah sangat berbahaya bagi tubuh, tetapi dengan
sifatnya yang tidak bisa melewati membran kulit sangat baik untuk digunakan sebagai
obat pemakaian luar saja. Tetapi dalam penggunaannya harus hati-hati jangan
digunakan pada luka terbuka.

Anti Virus : Asiklovir

27

Hambat enzim DNA polimerase virus. Sediaan dalam bentuk oral, injeksi dan krim untuk
mengobati herpes dilabia. Efek samping :
Oral : pusing, mual, diare,sakit kepala
Topikal : Kulit kering dan rasa terbakar dikulit.
Kontraindikasi : tidak boleh digunakan pada ibu hamil
Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :
1 Candida albicans
Topikal
a Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu
b Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari
c Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 14 hari
Sistemik
a Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari
b Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari- Nimorazol 2 gram dosis tunggal
c Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal

Chlamidia trachomatis
a Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari (Illustrated of textbook gynecology)
b Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral
c Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila
d Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari
e Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
f Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari

Gardnerella vaginalis
a Metronidazole 2 x 500 mg
b Metronidazole 2 gram dosis tunggal
c Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari

Neisseria gonorhoeae
a Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau
b Amoksisiklin 3 gr im atau
c Ampisiillin 3,5 gram im
Ditambah :
a Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
b Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
c Tiamfenikol 3,5 gram oral
d Kanamisin 2 gram im
e Ofloksasin 400 mg/oral
Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase
a Seftriaxon 250 mg im atau
b Spektinomisin 2 mg im atau
28

c Ciprofloksasin 500 mg oral


Ditambah
a Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau
b Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
c Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
5 Virus herpeks simpleks
Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
a Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
b Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
c Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder
2 Non Farmakologi
Tindakan pencegahan keputihan yaitu dengan :
A Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olahraga rutin, istirahat cukup, hindari rokok,
dan alkohol serta dihindari stress berkepanjangan
B Setia pada pasangan, hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk mencegah
penularan penyakit menular seksual.
C Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi, dengan menjaganya agar tetap kering dan
tidak lembab, misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap
keringat, hindari pemakaina celana terlalu ketat, biasakan untuk mengganti oembalut
pantyliner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak
D Biasakan membasuh dengan cairan yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan
ke belakang
E Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan
flora normal vagina
F Hindari penggunaan bedak fakum, tissue atau sabun dengan pewangi pada daerah vagina.
G Hindari pemakaian barang-barang yang memdahkan penularan seperti meminjam
perlengkapan mandi.
LO 2.9 Memahami dan menjelaskan tentang komplikasi leukorea
Komplikasi yang sering adalah bila kuman telah menaiki panggul sehingga terjadi penyakit yang
dikenal dengan radang panggul. Komplikasi jangka panjang yang lenih mengerikan, yaitu
kemungkinan wanita tersebut akan mandul (infertile) akibat rusak dan lengketnya organ-organ
dalam kemaluan terutama tuba falopi dan juga dapat menyebabkan infertilitas.Komplikasi juga
dapat terdapat pada pria yaitu komplikasi non spesifikndapat menjalar ke prostat dan
menimbulkan infeksi buah zakar dan saluran kemih
Terinfeksinya kelenjar yang ada di dalam bibir vagina. Bisul kelenjar tersebut harus disedot
keluar karena tidak dapat disembukan dengan obat. Komplikasi pada wanita sering menimbulkan
radang saluran telur. Infeksi nonspesifik pada wanita sering tanpa keluhan maupun gejala

29

Pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi lahi premature.

LO 2.10 Memahami dan menjelaskan tentang prognosis leukorea


Prognosis baik, baik penyebab bakteri, parasit, dan jamur, hal ini apabila penaganan diaksanakan
dengan cepat dan tepat. Komplikasi dapat terjadi dalam penanganan yang lamban, begitu juga
prognosis yang buruk pada penyebab virus seperti pada HPV dan HSV.
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap
pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan
kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih efektif
- Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata rata 70 80% dengan regimen
pengobatan
- Kandidiasis mengalami kesembuhan rata rata 80 -95 %
- Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata rata 95 %
LO 2.11 Memahami dan menjelaskan tentang pencegahan leukorea
Keputihan dapat dicegah dengan :
a.
Selalu cuci daerah kewanitaan dengan air bersih setelah buang air, jangan hanya
menyekanya dengan tisu.
b. Jaga daerah kewanitaan tetap kering.
c.

Hindari bertukar celana dalam dengan teman atau saudara.

d. Potonglah secara berkala bulu disekitar kemaluan


e. Menggunakan alat pelindung (kondom)
Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan tertularnya penyakit karena hubungan seksual.
Kondom dinilai cukup efektif dalam mencegah penularan PHS
f. Pemakaian obat atau cara profilaksis (pemakaian obat antibiotika disertai dengan pengobatan
terhadap jasad renik penyebab penyakit), dan melakukan pemeriksaan dini
g. Melakukan pemeriksaan dengan alat tertentu untuk mendapatkan gambaran alat kelamin
yangg lebih baik, seperti melakukkan pemeriksaan kolposkopi yang berupa alat optik untuk
memperbesar gambaran leher rahim, liang senggama dan bibir kemaluan. Dan merencanakan
pengobatan setelah melihat kelainan yang ditemukan. Beberapa cara dapat dilakukan, yaitu
sebagai penawar saja, obat pemusnah atau pemungkas, dan melakukan penghancuran lokal pada
kutil leher rahim, liang senggama, bibir kemaluan, atau melakukan pembedahan.
Obat-obat penawar misalnya betadine vaginal kit, intima, dettol, yang sekadar membersihkan
cairan keputihan dari liang senggama, taoi tidak membunuh kuman penyebabnya
30

Melakukan penyinaran dengan radioaktif atau penyuntikan sitostatiska, sedangkan obat


pemusnah misalnya vaksinasi, tetrasiklin, penisilin, thiamfenikol, doksisiklin, eritromisin,
flukoonazole, metronidazoole, enystatin dan sebagainya.
Pemakain obatmengandung estriol baik krem maupun obat minum bermanfaat pada
pasienmenopause dengan gejala yang berat
h. Pemeriksaan dini. Kanker serviks dapat dicegah secara dini dengan melakukan pemeriksaan
pap smear secara berkala. Dengan pemeriksaan pap smear dapat diamatiadanya perubahan sel-sel
normal menjadi kanker yang terjadi secara berangsur-angsur, bukan secara mendadak

LO 3. Memahami dan menjelaskan tentang PAP Smear


Pap Smear merupakan suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan
kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pap Smear merupakan tes yang aman dan murah
dan telah dipakai bertahun- tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi
pada sel- sel leher rahim. Tujuan dilakukannya tes pap smear antara lain adalah untuk:
a Diagnosis dini keganasan
Pap Smear berguna dalam mendeteksi dini kanker serviks, kanker korpus endometrium,
keganasan tuba fallopi, dan mungkin keganasan ovarium.
b Perawatan ikutan dari keganasan
Pap Smear berguna sebagai perawatan ikutan setelah operasi dan setelah mendapat
kemoterapi dan radiasai.
c Interpretasi hormonal wanita
Pap Smear bertujuan untuk mengikuti siklus menstruasi dengan ovulasi atau tanpa
ovulasi, menentukan maturitas kehamilan, dan menentukan kemungkunan keguguran
pada hamil muda.
d Menentukan proses peradangan
Pap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi bakteri
dan jamur.
Syarat yang harus dipenuhi agar pengambilan sampel sesuai standar, maka perlu
diperhatikan:
1 Bahan pemeriksaan harus berasal dari portio serviks (sediaan servikal) dan mukosa
endoserviks (sediaan endoservikal)
2 Pengambilan Pap Smear dapat dilakukan setiap waktu di luar masa haid yaltu sesudah
hari sikius haid ke tujuh sampai masa premenstruasi.
3 Apabila penderita mengalami gejala perdarahan di luar masa haid dan dicuriigai
disebabkan oleh kanker serviks maka sediaan Pap Smear harus dibuat saat itu juga.
4 Alat-alat yang digunakan sedapat mungkin yang memenuhi syarat untuk menghindari
hasil pemeriksaan negatif palsu.
31

Teknik pengambilan sampel


1 Siapkan peralatan dan bahan.
2 Cuci tangan aseptik dengan langkah seperti pada cuci tangan rutin dengan menuangkan
kira-kira 5 ml larutan antiseptik pada tangan dan mengeringkan dengan menganginanginkan.
3 Pasang sarung tangan steril.
4 Pemeriksa duduk pada kursi yang telah disediakan, menghadap ke aspekus genitalis.
5 Lakukan periksa pandang (inspeksi) pada daerah vulva dan perineum.
6 Ambil spekulum dengan tangan kanan, masukkan ujung telunjuk kiri pada introitus
vagina (agar terbuka), masukkan ujung spekulum dengan arah sejajar introitus
7 Setelah masuk setengah panjang bilah, putar spekulum 90 derajat hingga tangkainya ke
arah bawah. Atur bilah atas dan bawah dengan membuka kunci pengatur bilah atas bawah
(hingga masing-masing bila menyentuh dinding atas dan bawah vagina).
8 Tekan pengungkit bilah sehingga lumen vagina dan serviks tampak jelas (perhatikan
ukuran dan wama porsio, dinding dan sekret vagina dan forniks).
9 Jika sekret vagina ditemukan banyak, bersihkan secara hati-hati (supaya pengambilan
epitel tidak terganggu)
10 Pengambilan sampel pertama kali dilakukan pada porsio diusahakan di daerah squamocolumnair junction. Sampel diambil dengan menggunakan spatula Ayre yang diputar
360.
11 Oleskan sampel pada gelas objek diusahakan tidak terlalu tebal/terlalu tipis.
12 Sampel segera difiksasi sebelum mengering. Fiksasi ini dapat menggunakan spray yang
disemprotkan dari jarak 20-25 cm, atau dengan merendam pada wadah yang mengandung
etil alkohol 95% selama 15 menit yang kemudian dibiarkan mengering kemudian diberi
label.
13 Setelah pemeriksaan selesai, lepaskan pengungkit dan pengatur jarak bilah, kemudian
keluarkan spekulum.
14 Letakkan spekulum pada tempat yang telah disediakan. Beritahukan pada ibu bahwa
pemeriksaan sudah selesal dan persilahkan ibu untuk mengambil tempat duduk.
15 Masukkan tangan yang masih bersarung tangan kedalam baskom berisi larutan klorin
0,5%, gosokkan kedua tangan untuk membersihkan bercak-bercak darah yang menempel
pada sarung tangan.
16 Lepaskan sarung tangan.

Intrepertasi Hasil
Saat ini, sistem intrepertasi hasil pap smear yang paling sering digunakan adalah Bethesda
system 2001. Lebih dari 90% laboratorium di Amerika Serikat menggunakan metode
Bethesda ini. Beberapa hal yang menjadi perhatian pada intrepertasi sistem Bethesda 2001
antara lain tertera pada tabel 8.
32

Adekuasi spesimen
Terdapat 3 kategori adekuasi spesimen: memuaskan, memuaskan namun terbatas karena
sampling yang tidak baik, dan tidak memuaskan. Hasil yang termasuk kategori kedua adalah
apabila sediaan apus (smear) tidak mengandung sel endocervical ataupun sel metaplastik,
yang mana merupakan bukti sampling dari area transformasi. Namun kategori ini dihapuskan
karena pada akhirnya klinisi harus mengulang pengambilan sampel.
Apabila sediaan dikatakan inadekuat, alasannya harus diberikan. Sebanyak 8.000-12.000 sel
epitel gepeng harus ada pada sediaan apus.
Negative for Intraepithelial Lesion or Malignancy
Kelainan akibat inflamasi, irradiasi, ataupun adanya IUD diklasifikasikan ke dalam normal
smear. Apabila ditemukan adanya mikroorganisme, maka harus ditulis pada hasil
intrepertasi.
33

Epithelial squamous cell abnormalities


a Atypical squamous cells (ASC)
b Squamous intraepithelial lesion
Low grade intraepithelial squamous lesion dan high grade intraepithelial squamous lesion
dikaitkan pada virus yang bersifat onkogenik. Low grade intraepithelial squamous lesion
dapat regresi secara spontan dan berevolusi secara perlahan menjadi high grade
intraepithelial squamous lesion.
High grade intraepithelial lesion dikaitkan dengan infeksi virus persisten.
Epithelial glandular cells abnormalities
a Atypical glandular cells
Sel glandular adalah sel yang memproduksi mucus dan banyak terdapat pada daerah
uterus serta daerah sekitar ostium uteri externum. Atypical glandular cell dapat terlihat
sedikit abnormal, namun tidak dikteahui sifat kanker nya.
b Endocervical adenocarcinoma in situ
Abnormalitas yang dimaksud Endocervical adenocarcinoma in situ adalah abnromalitas
morfologi spesifik.
c Adenocarcinoma
(Bergeron, 2003)
LI 4. Memahami dan menjelaskan tentang Thaharah pada keputihan
Keputihan bisa terjadi dalam keadaan tidak normal, yang umumnya dipicu kuman
penyakit dan menyebabkan infeksi. Akibatnya, timbul gejala-gejala yang sangat mengganggu,
seperti berubahnya warna cairan menjadi kekuningan hingga kehijauan, jumlah berlebih, kental,
lengket, berbau tidak sedap, terasa sangat gatal atau panas. Dalam khazanah Islam, keputihan
jenis ini biasa disebut dengan cairan putih kekuningan (sufrah )atau cairan putih kekeruhan
(kudrah ). Terkait dengan kedua hal ini, di kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa Sahabat
bernama Ummu Athiyyah radhiallahu anha berkata:

Kami tidak menganggap al-kudrah (cairan keruh) dan as-sufrah (cairan kekuningan) sama
dengan haidh
Berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan :
1 Hukum orang yang mengalami keputihan tidak sama dengan hukum orang yang mengalami
menstruasi. Orang yang sedang keputihan tetap mempunyai kewajiban melaksanakan shalat
dan puasa, serta tidak wajib mandi.
2 Cairan keputihan tersebut hukumnya najis, sama dengan hukumnya air kencing. Oleh
karenanya, apabila ingin melaksanakan shalat, sebelum mengambil wudhu, harus istinjak, dan
membersihkan badan atau pakaian yang terkena cairan keputihan terlebih dahulu.
Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullaahu
34

Pendapat yang dikemukakan oleh Syaikh Mushthafa al-Adawy dalam Jami Ahkam an-Nisa (
hlm. 67-68 ). Beliau berpendapat, cairan keputihan tersebut tidak termasuk najis. Alasannya,
pertama : tidak ditemukannya dalil yang menajiskan cairan tersebut. Kedua, keterangan bahwa
setiap yang keluar dari dua jalan ( dubur dan kelamin ) adalah najis hanyalah kesimpulan para
ulama. Tak ada keterangan dari al-Quran dan Sunnah yang tegas menyebutkan bahwa setiap
yang keluar dari dua jalan itu najis. Ketiga, cairan jenis tersebut keluar dari saluran rahim dan
bukan keluar dari saluran kencing yang sifatnya najis. Keempat, menganalogikan keputihan
dengan darah istihadhah. Darah istihadhah hukumnya tidak membatalkan shalat. Wanita hanya
diharuskan untuk berwudhu setiap kali hendak shalat atau mandi dengan menjama shalatnya.
Jika darah istihadhah saja yang juga merupakan penyakit tidak membatalkan shalat, demikian
pula halnya dengan darah keputihan.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.medicinesia.com/kedokteran-klinis/reproduksi/leukorrhea-keputihan/ ( diakses 20
oktober 2015, 20:31 PM)
Vorvick L. Vaginal Discharge. Baltimore: University of Maryland. 2009.[diakses 2011
November 21]. diakses dari: http://www.umm.edu/ency/article/003158.htm
Hall JE. 2010. Guytons Textbook of Medical Physiology. Philadelphia: Saunders. 12th ed.
[ebook]
Anonim. Disease Characterized by Vaginal Discharge. Atlanta: Centers for Disease Control and
Prevention. 2011.[diakses 2011 November 21]. diakses dari :
http://www.cdc.gov/std/treatment/2010/vaginal-discharge.htm

35

College NR, Walker BR, Ralston SH. 2010. Davidsons Principle and Practice of Medicine.
Amsterdam: Elsevier.21st ed.[ebook]
Swartz MH. 2007. Textbook of Physical Diagnosis: History and Examination. Amsterdam:
Elsevier. 5th ed. p.565
Amiruddin, D. Fluor Albus in Penyakit Menular Seksual. 2003.LKiS : Jogjakarta
Anindita, Wiki. Santi Martini. 2006. Faktor Resiko Kejadian Kandidiasis vaginalis pada akseptor
KB. Fakultas Kesehatan Masyarakat. UNAIR. Surabaya.
5. Jarvis G.J. The management of gynaecological infections in Obstetric and Gynaecology A
Critical Approach to the Clinical Problems. 1994. Oxford University Press : Oxford

36