Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seorang anak harus mendapatkan perlindungan baik saat masih dalam
kandungan maupun setelah dilahirkan karena anak adalah buah hati yang sangat
berharga bagi setiap keluarga, sebagai pewaris dan penerus kedua orang tuanya..
Namun, sekarang ini berita-berita tentang ditemukannya bayi yang baru lahir dalam
keadaan meninggal karena dibunuh oleh ibunya, seringkali dijumpai di media masa.
Seharusnya seorang ibu adalah sosok yang penuh kasih sayang, apapun dikorbankan
demi anaknya.1
Pembunuhan anak sendiri adalah suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa dimana
kejahatan ini bersifat unik. Keunikan tersebut dikarenakan pelaku pembunuhan haruslah
ibu kandungnya sendiri dan alasan atau motivasi untuk melakukan kejahatan tersebut
adalah karena ibu kandungnya takut ketahuan bahwa dia telah melahirkan anak, salah
satunya karena anak tersebut adalah hasil hubungan gelap. Selain itu, keunikan lainnya
adalah saat dilakukannya tindakan menghilangkan nyawa anaknya, yaitu saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian. Patokannya dapat dilihat apakah sudah atau belum
ada tanda-tanda perawatan, dibersihkan, dipotong tali pusat, atau diberikan pakaian.
Kasus pembunuhan seperti ini telah dikenal sejak dahulu dan terjadi dimana saja.2
Saat dilakukannya kejahatan tersebut, dapat dikaitkan dengan keadaan mental
emosional dari ibu, seperti rasa malu, takut, benci, serta rasa nyeri bercampur aduk
menjadi satu, sehingga perbuatan yang dilakukannya dianggap sedang dalam keadaan
mental yang tidak tenang, sadar, serta dengan perhitungan yang matang.2
Untuk dapat menuntut seorang ibu telah melakukan tindak pidana pembunuhan
anak sendiri, haruslah terbukti bahwa bayi tersebut hidup pada saat dilahirkan. Sebagai
dokter forensik, tanda-tanda kehidupan sudah tidak ditemukan lagi pada saat otopsi.
Tanda yang masih dapat ditemukan adalah tanda pernah bernapas di luar rahim. Hal
tersebut menjadi sulit bila saat otopsi dilakukan, jenazah bayi sudah berada dalam
keadaan membusuk. Kesulitan juga dijumpai pada saat menentukan sebab kematian
bayi. Pada umumnya tidak terdapat keterangan apapun mengenai jalannya persalinan
dan keadaan bayi setelah dilahirkan. Bila ditemukan tanda kematian akibat asfiksia,
maka penyebab tersebut harus segera ditentukan.3
Aborsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengguguran kandungan.
Makna aborsi lebih mengarah kepada suatu tindakan yang disengaja untuk mengakhiri
kehamilan seorang ibu ketika janin sudah ada tanda-tanda kehidupan dalam rahim.
Sedangkan abortus adalah berakhirnya kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan. Abortus terbagi dua, yaitu abortus spontan dan abortus
provokatus. Abortus provokatus sendiri terbagi menjadi dua, yaitu abortus provokatus
artifisial terapeutik dan abortus provokatus kriminalis. Abortus provokatus artifisial
terapeutik adalah pengguguran kandungan menggunakan alat-alat medis dengan alasan
kehamilan membahayakan bagi ibu.. Abortus terapeutik diizinkan menurut ketentuan
profesional seorang dokter atas indikasi untuk menyelamatkan sang ibu. Sedangkan
1

abortus provokatus kriminalis adalah pengguguran kandungan tanpa alasan medis yang
sah dan dilarang hukum karena jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke
dalam abortus buatan ilegal. Termasuk dalam abortus jenis ini adalah abortus yang
terjadi atas permintaan pihak perempuan, suami, atau pihak keluarga kepada seorang
dokter untuk menggugurkan kandungannya. 7
Aborsi di dunia dan di Indonesia khususnya tetap menimbulkan banyak persepsi
dan bermacam interpretasi, tidak saja dari sudut pandang kesehatan, tetapi juga dari
sudut pandang hukum dan agama. Aborsi merupakan masalah kesehatan masyarakat
karena memberi dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui
penyebab kematian ibu yang utama adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia.
Diperkirakan diseluruh dunia setiap tahun terjadi 20 juta kasus aborsi tidak aman, 70
ribu perempuan meninggal akibat aborsi tidak aman dan 1 dari 8 kematian ibu
disebabkan oleh aborsi tidak aman. 95% (19 dari 20 kasus aborsi tidak aman)
dintaranya bahkan terjadi di negara berkembang. Di Indonesia setiap tahunnya terjadi
kurang lebih 2 juta kasus aborsi, artinya 43 kasus/100 kelahiran hidup (sensus 2000).
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah aborsi di Indonesia masih cukup
besar (Wijono 2000). Suatu hal yang dapat kita tengarai, kematian akibat infeksi aborsi
ini justru banyak terjadi di negara-negara dimana aborsi dilarang keras oleh undangundang. 8
1.2 Tujuan
1) Mampu mengetahui definisi pembunuhan anak sendiri dan abortus
2) Mampu mengetahui dan menjelaskan macam-macam abortus
3) Mampu menjelaskan komplikasi abortus
4) Mampu mengetahui dan melakukan pemeriksaan terhadap korban pembunuhan anak
sendiri dan abortus
5) Mampu mengetahui hukum yang terkait dengan pembunuhan anak sendiri dan
abortus
1.3 Manfaat
Bagi masyarakat dan institusi
Memberikan informasi, wawasan, dan pengetahuan tentang hukum yang berlaku pada
kasus pembunuhan anak sendiri dan abortus
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pembunuhan Anak Sendiri
2.1.1 Definisi Pembunuhan Anak Sendiri
Pembunuhan anak sendiri adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu
atas anak kandungnya pada saat lahir atau tidak lama setelah dilahirkan. Dengan
demikian berdasarkan pengertian di atas, persyaratan yang harus dipenuhi dalam kasus
pembunuhan anak, adalah:
A. Pelaku adalah ibu kandung.
B. Korban adalah anak kandung.
C. Waktu pembunuhan, yaitu tepat pada saat melahirkan atau beberapa saat setelah
melahirkan.4
Untuk itu, dengan adanya batasan yang tegas tersebut, suatu pembunuhan yang
tidak memenuhi salah satu kriteria di atas tidak dapat disebut sebagai pembunuhan
anak, melainkan suatu pembunuhan biasa.4
Pengertian pembunuhan anak sendiri ini harus dipisahkan dari pengertian
infanticide, pembunuhan biasa pada anak dan abortus. Infanticide artinya membunuh
infant, anak yang berumur di bawah 12 bulan. Di Inggris dan Negara-negara
commonwealth pengertian Infanticide memang pembunuhan anak yang berusia
dibawah 12 bulan, sesuai dengan undang-undang yang dipakai mereka. Dalam
Infanticide act (Inggris, 1938) dijelaskan : provides that where a woman by any willful
ac or mission causes the death of her child, being a child under twelve month.
Pengertian pembunuhan anak sendiri di Indonesia, tidak merujuk pada waktu 12 bulan
melainkan pada saat anak dilahirkan atau tidak berapa lama kemudian. Tidak berapa
lama kemudian dimaksud sebelum anak mendapat perawatan. Artinya Undang-undang
menganggap bila ibu telah merawat anaknya dianggap telah keluar dari krisis kejiwaan
atau ketidakseimbangan jiwa dalam menerima kehadiran anaknya sendiri dan ingin
membunuh anaknya sendiri termasuk dalam pembunuhan biasa pada anak.
Pembunuhan ini dilakukan karena ibu tidak menginginkan anak tersebut (unwanted
child), mungkin suatu kelanjutan dari kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted
pregnancy).5
2.1.2 Dasar Hukum Menyangkut Pembunuhan Anak Sendiri
Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan
terhadap nyawa orang. Adapun bunyi pasalnya adalah:
Pasal 341. Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada
saat anak dilahirkan atau tidak lama sesudah dilahirkan, dengan sengaja merampas
nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
Pasal 342. Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena
takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau
3

tidak lama sesudah dilahirkan merampas nyawa anak sendiri dengan rencana, dengan
pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 343. Bagi orang lain yang turut serta melakukan kejahatan yang
diterangkan dalam pasal 342 KUHP diartikan sebagai pembunuhan atau pembunuhan
berencana.5
Berdasarkan undang-undang tersebut, dapat dilihat adanya tiga faktor penting,
yaitu:
A. Ibu, yaitu hanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan pembunuhan
anak sendiri. Tidak dipersoalkan apakah ibu telah menikah atau belum. Sedangkan,
bagi orang lain yang melakukan atau turut membunuh anak tersebut dihukum
karena pembunuhan atau pembunuhan berencana, dengan hukuman yang lebih
berat, yaitu 15 tahun penjara (pasal 338 pembunuhan tanpa rencana), atau 20 tahun,
seumur hidup/hukuman mati (pasal 339 dan 340, pembunuhan dengan rencana).
B. Waktu, yaitu dalam undang-undang tidak disebutkan batasan waktu yang tepat,
tetapi hanya dinyatakan pada saat dilahirkan atau tidak lama sesudah dilahirkan.
Sehingga boleh dianggap pada saat belum timbul rasa kasih sayang seorang ibu
terhadap anaknya. Bila rasa kasih sayang sudah timbul maka ibu tersebut akan
merawat dan bukan membunuh anaknya.
C. Psikis, yaitu ibu membunuh anaknya karena terdorong oleh rasa ketakutan akan
diketahui orang lain telah melahirkan anak itu, biasanya anak yang dilahirkan
tersebut didapatkan dari hubungan tidak sah.5
Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misalnya tempat
sampah, got, sungai dan sebagainya, maka bayi tersebut mungkin adalah korban
pembunuhan anak sendiri (pasal 341, 342), pembunuhan (pasal 338, 339, 340, 343),
lahir mati kemudian dibuang (pasal 181), atau bayi yang ditelantarkan sampai mati
(pasal 308).5
2.1.3 Peran Dokter pada Kasus Pembunuhan Anak Sendiri
Peran dokter pada kasus pembunuhan anak sendiri adalah memeriksa jenazah
bayi. Dokter akan diminta oleh penyidik secara resmi guna membantu penyidikan untuk
memperoleh kejelasan di dalam hal sebagai berikut:
A. Apakah anak tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati?
B. Apakah terdapat tanda-tanda perawatan?
C. Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab kematian?
D. Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan?
E. Apakah pada anak tersebut didapatkan kelainan bawaan yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak ?2,5
Visum et Repertum (VeR) itu juga mengandung makna sebagai pengganti
barang bukti. Oleh karena itu, segala hal yang berkaitan dengan barang bukti, dalam hal
ini yaitu tubuh anak, harus dicatat dan dilaporkan.
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, bayi tersebut harus
dilahirkan hidup setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu (separate existence).
Selain itu, viabilitas dan maturitas bayi juga perlu ditentukan untuk menerangkan sebab
4

lahir mati. Bila bayi tersebut lahir mati kemudian dibuang, maka hal tersebut bukanlah
kasus pembunuhan anak sendiri, melainkan kasus lahir mati kemudian dibuang atau
menyembunyikan kelahiran dan kematian.5,6
2.1.3.1 Lahir hidup atau lahir mati
Lahir hidup (live birth) adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang
lengkap, yang setelah pemisahan, bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain
tanpa mempersoalkan usia gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan ari
dilahirkan.6
Lahir mati (stillbirth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau
dikeluarkan oleh ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun
setelah kehamilan berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh janin
yang tidak bernapas atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain seperti denyut
jantung, denyut nadi tali pusat atau gerakan otot rangka.5
Tanda-tanda kehidupan pada bayi yang baru dilahirkan, diantaranya :
A. Pernapasan
Pernapasan spontan terjadi akibat rangsangan atmosfer dan adanya gangguan
sirkulasi plasenta, dan ini menimbulkan perubahan penting yang permanen pada
paru. Pernapasan setelah bayi lahir mengakibatkan perubahan letak diafragma dan
sifat paru-paru.3,6
a. Gambaran Makroskopik Paru
Paru-paru bayi yang sudah bernapas berwarna merah muda tidak homogen
namun berbercak-bercak (mottled). Konsistensinya adalah seperti spons dan
berderik pada perabaan. Sedangkan, pada paru-paru bayi yang belum bernapas
berwarna merah ungu tua seperti warna hati bayi dan homogen, dengan
konsistensi kenyal seperti hati atau limpa.3
b. Uji Apung Paru
Uji apung paru dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique),
paru-paru tidak disentuh untuk menghindari kemungkinan timbulnya artefak
pada sediaan histopatologik jaringan paru akibat manipulasi berlebihan.5
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil paru
mengingat kemungkinan adanya pernapasan sebagian (parsial respiration) yang
dapat bersifat buatan atau alamiah (vagitus uternus atau vagitus vaginalis) yaitu
bayi sudah bernapas walaupun kepala masih dalam uterus atau dalam vagina).5
Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan
bayi dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih
berdenyut, sehingga udara dalam alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini,
pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan untuk memastikan bayi lahir
mati atau lahir hidup.5
Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru kurang dapat
dipercaya, sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan.5
c. Mikroskopik paru-paru
5

Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang belum
bernapas, tetapi merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26
minggu. Tanda khas untuk paru janin belum bernapas adalah adanya tonjolan
(projection) yang berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang kemudian akan
bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga akan tampak seperti gada
(club-like). Pada permukaan ujung bebas projection tampak kapiler yang berisi
banyak darah. Pada paru bayi belum bernapas yang sudah membusuk dengan
perwarnaan Gomori atau Ladewig, tampak serabut-serabut retikulin pada
permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut yang keriting,
sedangkan pada projection berjalan di bawah kapiler sejajar dengan permukaan
projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops).5
Pada paru bayi yang lahir mati mungkin pula ditemukan tanda inhalasi
cairan amnion yang luas karena asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekannya
tali pusat atau solusio plasenta sehingga terjadi pernapasan janin prematur
(intrauterine submersion). Tampak sel-sel verniks akibat deskuamasi sel-sel
permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti piknotik berbentuk
huruf S, bila dilihat dari atas samping terlihat seperti bawang. Juga tampak
sel-sel amnion bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti terletak
eksentrik dengan batas yang juga tidak jelas.5
Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin
terlihat dalam bronkioli dan alveoli. kadang-kadang ditemukan deskuamasi selsel epitel bronkus yang merupakan tanda maserasi dini, atau fagositosis
mekonium oleh sel-sel dinding alveoli.5
Lahir mati ditandai pula oleh keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya
kehidupaan seperti trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat,
dengan atau tanpa robekan tentorium serebeli, pneumonia intrauterin, kelainan
kongenitasl yang fatal seperti anensefalus.5
B. Menangis
Bernapas dapat terjadi tanpa menangis, tetapi menangis tidak dapat terjadi
tanpa bernapas. Suara tangis yang terdengar belum berarti bayi tersebut lahir hidup
karena suara tangisan dapat terjadi dalam uterus atau dalam vagina.

C. Pergerakan Otot
Keadaan ini harus disaksikan oleh saksi mata, karena post mortem tidak dapat
dibuktikan. Kaku mayat dapat terjadi pada bayi yang lahir hidup kemudian mati
maupun yang lahir mati.4,6
D. Peredaran Darah, Denyut Jantung, dan Perubahan pada Hemoglobin
Meliputi bukti fungsional yaitu denyut tali pusat dan detak jantung (harus ada
saksi mata) dan bukti anatomis yaitu perubahan-perubahan pada Hb serta perubahan
dalam duktus arteriosus, foramen ovale dan dalam duktus venosus (cabang vena
umbilicalis yang langsung masuk vena cava inferior).4
6

E. Isi Usus dan Lambung


Bila dalam lambung bayi ditemukan benda asing yang hanya dapat masuk
akibat reflek menelan, maka ini merupakan bukti kehidupan (lahir hidup). Udara
dalam lambung dan usus dapat terjadi akibat pernapasan wajar, pernapasan buatan,
atau tertelan. 4,6
F. Keadaan Tali Pusat
Yang harus diperhatikan pada tali pusat adalah pertama ada atau tidaknya
denyut tali pusat setelah kelahiran. Ini hanya dapat dibuktikan dengan saksi mata.
Kedua, pengeringan tali pusat, letak dan sifat ikatan, bagaimana tali pusat itu di
putus (secara tajam atau tumpul).4,6
G. Keadaan Kulit
Tidak satupun keadaan kulit yang dapat membuktikan adanya kehidupan
setelah bayi lahir, sebaliknya ada satu keadaan yang dapat memastikan bahwa bayi
tersebut tidak lahir hidup yaitu maserasi, yang dapat terjadi bila bayi sudah mati di
dalam uterus beberapa hari (8-10 hari).4,6
Kematian pada bayi dapat terjadi saat bayi dilahirkan, sebelum dilahirkan, atau
setelah terpisah sama sekali dari si ibu. Bukti kematian dalam kandungan adalah:
a. Ante partum rigor mortis yang sering menimbulkan kesulitan waktu melahirkan
b. Maserasi, yaitu perlunakan janin dalam air ketuban dengan ciri-ciri:
1) Warna merah kecoklatan (pada pembusukan warnanya hijau).
2) Kutikula putih, sering membentuk bula berisi cairan kemerahan.
3) Tulang-tulang lentur dan lepas dari jaringan lunak.
4) Tidak ada gas, baunya khas.
5) Maserasi ini terjadi bila bayi sudah mati 8-10 hari dalam kandungan.4
2.1.3.2 Tanda Perawatan
Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami perawatan dapat
diketahui dari tanda-tanda sebagai berikut:
A. Tubuh masih berlumuran darah.
B. Ari-ari (plasenta) masih melekat dengan tali pusat dan masih berhubungan
dengan pusat (umbilikus).
C. Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak beraturan, hal ini dapat
diketahui dengan meletakkan ujung tali pusat tersebut ke permukaan air.
D. Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta di daerah yang
mengandung lipatan-lipatan kulit, seperti daerah lipat ketiak, lipat paha dan
bagian belakang bokong.3,5
2.1.3.3 Viabilitas
Bayi yang viable adalah bayi yang sudah mampu untuk hidup di luar kandungan
ibunya atau sudah mampu untuk hidup terpisah dari ibunya (separate existence).
Viabilitas mempunyai beberapa syarat, yaitu:
A. Umur 28 minggu dalam kandungan.
B. Panjang badan 35 cm.
C. Berat badan 2500 gram.
7

D. Tidak ada cacat bawaan yang berat.


E. Lingkaran fronto-ocipital 32 cm.3,4
2.1.3.4 Cukup Bulan dalam Kandungan
Bayi yang cukup bulan (matur, term) adalah bayi yang lahir setelah dikandung
selama 37 minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh. Pengukuran bayi
cukup bulan dapat dinilai dari:
A. Ciri-ciri eksternal
a. Daun telinga
b. Susu
c. Kuku jari tangan
d. Garis telapak kaki
e. Alat kelamin luar
f. Rambut kepala
g. Skin opacity
h. Processus xiphoideus
i. Alis mata
B. Pusat penulangan
Pusat-pusat penulangan khususnya pada tulang paha (femur) mempunyai
arti yang cukup penting. Bagian distal femur dan proksimal tibia akan
menunjukkan pusat penulangan pada umur kehamilan 36 minggu. Sedangkan,
talus dan calcaneus pusat penulangan akan tampak pada umur kehamilan 28
minggu.
C. Penaksiran umur gestasi
a. Rumus De Haas
Menurut rumus De Haas, untuk 5 bulan pertama panjang kepala-tumit dalam
sentimeter adalah sama dengan kuadrat angka bulan. Untuk 5 bulan terakhir,
panjang badan adalah sama dengan angka bulan dikalikan dengan angka 5.3
b. Rumus Arey
Menggunakan panjang kepala, tumit dan bokong.
Umur (bulan) = panjang kepala - tumit (cm) x 0,2
Umur (bulan) = panjang kepala - bokong (cm) x 0,3.3
c. Rumus Finnstrom
Menggunakan panjang lingkar kepala oksipito-frontal.
Umur gestasi = 11,03 + 7,75 (panjang lingkar kepala)3
2.1.3.5 Penyebab Kematian
Ada berbagai penyebab kematian pada bayi, yaitu:
A. Kematian wajar
a. Kematian secara alami
1) Imaturitas
2) Penyakit kongenital
b. Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi dari umbilikus, perut, anus dan organ genital.
c. Malformasi
8

Kadangkala bayi tumbuh dengan kondisi organ tubuh yang tidak lengkap
seperti anensefali.
d. Penyakit plasenta
Penyakit plasenta atau pelepasannya secara tidak sengaja dari dinding
uterus akan dapat menyebabkan kematian dari bayi dan ibu, dan dapat diketahui
jika sang ibu meninggal dan dilakukan pemeriksaan dalam.
e. Spasme laring
Hal ini dapat terjadi karena aspirasi mekonium ke dalam laring atau
akibat pembesaran kelenjar timus.
f. Eritroblastosis fetalis
Ini dapat terjadi karena ibu yang memiliki rhesus negatif mengandung
anak dengan rhesus positif.
B. Kematian akibat kecelakaan
a. Akibat persalinan yang lama
b. Jeratan tali pusat
c. Trauma
d. Kematian dari ibu
C. Kematian karena tindakan pembunuhan
a. Pembekapan (sufokasi)
b. Penjeratan (strangulasi)
c. Penenggelaman (drowning)
d. Kekerasan tumpul pada kepala
e. Kekerasan tajam
f. Keracunan
Penentuan penyebab kematian dapat ditunjang dari pemeriksaan patologi
anatomi yang diambil dari jaringan tubuh mayat bayi.3
2.1.4 Pemeriksaan terhadap Pelaku Pembunuhan Anak Sendiri
Pemeriksaan terhadap wanita yang disangka sebagai ibu dari bayi bersangkutan
bertujuan untuk menentukan apakah wanita tersebut baru melahirkan. Pada pemeriksaan
juga perlu dicatat keadaan jalan lahir untuk menjawab pertanyaan Apakah mungkin
wanita tersebut mengalami partus presipitatus?.3
A. Tanda telah melahirkan anak
a. Robekan baru pada alat kelamin
b. ostium uteri dapat dilewati ujung jari
c. keluar darah dari rahim
d. ukuran rahim saat post partum setinggi pusat, 6-7 hari post partum setinggi
tulang kemaluan
e. payudara mengeluarkan air susu
f. hiperpigmentasi aerola mamma
g. striae gravidarum dari warna merah menjadi putih2
B. Berapa lama telah melahirkan
a. ukuran rahim kembali ke ukuran semula 2-3 minggu
b. getah nifas : 1-3 hari post partum berwarna merah
9

4-9 hari post partum berwarna putih


10-14 hari post partum getah nifas habis
c. robekan alat kelamin sembuh dalam 8-10 hari2
D. Pemeriksaan histopatologi yaitu sisa plasenta dalam darah yang berasal dari rahim.2
Upaya membuktikan seorang tersangka ibu sebagai ibu dari anak yang diperiksa
adalah suatu hal yang paling sukar. Beberapa cara dapat digunakan, yaitu:
A. Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak
B. Memeriksa golongan darah ibu dan anak
C. Pemeriksaan DNA
2.2 Abortus
2.2.1 Definisi
Gugur kandungan atau keguguran adan keguguran itu sendiri berarti
berakhirnya kehamilan, sebelum fetus dapat hidup sendiri di luar kandungan.
Batas umur kandungan yang dapat dapat diterima didalam abortus adalah
sebelum 28 minggu dan berat badan fetus yang keluar kurang dari 1000 gram.1

2.2.2 Jenis Abortus


Terdapat beberapa jenis abortus yang dibagi menurut terjadinya :
A. Abortus spontan
Merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses
kehamilan tanpa tindakan. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita
si Ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan
kelainan pada sistem reproduksi, diantaranya9:
a. Abortus Imminens ( Threatened abortion, Abortus mengancam )
Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi
serviks.
b. Abortus Insipiens
Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat dan mendatar,
tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus, tinggi fundus uteri sesuai dengan usia
gestasi berdasarkan HPHT.
10

c. Abortus Kompletus
Proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi (desidua dan fetus)
telah keluar melalui jalan lahir sehingga rongga rahim kosong pada kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
d. Abortus Inkompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus3.
d. Missed Abortion
Berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun keseluruhan
hasil konsepsi tertahan dalam uterus 2 bulan atau lebih. Fetus yang meninggal
ini dapat.9
e. Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi 3 kali berturut turut atau lebih oleh sebab apapun.
Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit untuk hamil kembali,
tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran secara berturut-turut.9
f. Abortus Infeksious
Suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi genital.
Diagnosis9,10:
g. Septic Abortion
Abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke
dalam peredaran darah atau peritoneum. Diagnosis septic abortion ditegakan
jika didapatkan tanda tanda sepsis, seperti nadi cepat dan lemah, syok dan
penurunan kesadaran.9,10
B. Abortus Provokatus
Abortus Provokatus adalah abortus yang sengaja dibuat atau merupakan
suatu upaya yang disengaja, baik dilakukan oleh ibunya sendiri atau dibantu oleh
orang lain, untuk menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu,
dimana janin (hasil konsepsi) yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di
dunia luar. 4,5Abortus provokatus dapat dibedakan menjadi:
a. Abortus provokatus Medisinalis/Therapeutikus
Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi
menyelamatkan nyawa Ibu. Syarat-syaratnya adalah10,11:
11

1) Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan


untuk melakukannya
2) Mengkonsultasikan dengan sedikitnya dua orang ahli
3) Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum,
psikologi).
4) Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga
terdekat.
5) Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/ peralatan yang
memadai, yang ditunjuk oleh pemerintah.
6) Prosedur tidak dirahasiakan.
7) Dokumen medik harus lengkap.
b. Abortus Provokatus Kriminalis
Abortus yang sengaja dilakukan dengan tanpa adanya indikasi medik
(ilegal) dan dilarang oleh hukum. Biasanya pengguguran dilakukan dengan
menggunakan alat-alat atau obat-obatan tertentu, atau dengan kekerasan
mekanik lokal.10,11
Kekerasan dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan
dari luar dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain, seperti
melakukan gerakan fisik berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian
bawah, kekerasan langsung pada perut atau uterus, pengaliran listrik pada
serviks dan sebagainya. 10,11,12
Kekerasan dari dalam yaitu dengan melakukan manipulasi vagina atau
uterus. Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan
air sabun atau air panas pada porsio, aplikasi asam arsenik, kalium
permanganat pekat, atau jodium tinktur; pemasangan laminaria stift atau
kateter ke dalam serviks; atau manipulasi serviks dengan jari tangan.
Manipulasi uterus, dengan melakukan pemecahan selaput amnion atau
dengan penyuntikan ke dalam uterus. 10,11,12
Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat
apa saja yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan atau
penyemprotan cairan biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson
tipe syringe, sedangkan cairannya adalah air sabun, desinfektan atau air
biasa/air panas. Penyemprotan ini dapat mengakibatkan emboli udara. 10,11,12

12

Obat / zat tertentu Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang


mengandung minyak eter tertentu yang dapat merangsang saluran cerna
hingga terjadi kolik abdomen, jamu perangsang kontraksi uterus dan hormon
wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi mukosa uterus.
Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah (takaran), sensitivitas
individu dankeadaan kandungannya (usia gestasi). 10,11,12
Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nanas
muda, bubuk beras dicampur lada hitam, dan lain-lain. Ada juga yang agak
beracun seperti garam logam berat, laksans dan lain-lain; atau bahan yang
beracun, seperti strichnin, prostigmin, pilokarpin, dikumarol, kina dan lainlain. Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin)
ternyata sangat efektif. Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika (aminopterin)
sebagai abortivum. 10,11,12
2.2.3 Metode-Metode Aborsi dan Efek Sampingnya
Beberapa metode aborsi pada trimester Pertama, diantaranya :
a.

Metode

Curettage)
b.
c. PIL RU 486
d.

Penyedotan

(Suction

Metode D&C - Dilatasi dan Kerokan


Suntikan Methotrexate (MTX)

Sedangkan metode aborsi pada trimester kedua, diantaranya :


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Metode Dilatasi dan Evakuasi


Metode Racun Garam (Saline)
Urea
Prostaglandin
Partial Birth Abortion
Histerektomi (untuk kehamilan trimester kedua dan ketiga)

2.2.4 Komplikasi Aborsi


Komplikasi yang dapat terjadi karena aborsi adalah16 :
A. Perdarahan (hemorrhage)
B. Perforasi
C. Infeksi dan tetanus
D. Gagal ginjal akut
E. Syok
13

F. DIC (Disseminated Intravaskular Coagulation)


2.2.5 Pembuktian Kasus Abortus
Untuk dapat membuktikan apakah kematian seorang wanita itu merupakan
akibat dari tindakan abortus yang dilakukan atas dirinya, diperlukan petunjukpetunjuk18 :
A. Adanya kehamilan
B. Umur kehamilan, bila dipakai pengertian abortus menurut pengertian medis
C. Adanya hubungan sebab akibat antara abortus dengan kematian
D. Adanya hubungan antara saat dilakukannya tindakan abortus dengan saat
kematian
E. Adanya barang bukti yang dipergunakan untuk melakukan abortus sesuai
dengan metode yang dipergunakan
F. Alasan atau motif untuk melakukan abortus itu sendiri
2.2.5.1 Pemeriksaan Korban Hidup
Pada pemeriksaan pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha
dokter adalah mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan menentukan cara
pengguguran yang dilakukan. Pada pemeriksaan ini sebaiknya juga
diikutsertakan dokter Sp.OG. 18
Untuk menentukan tanda-tanda sisa kehamilan diusahakan melakukan
anamnesis secara teliti dan pemeriksaan fisik berupa adanya payudara yang
membesar dan pengeluaran ASI serta dijumpai adanya kolustrum pada
pemeriksaan laboratorium, Warna kehitaman disekitar payudara, uterus masih
membesar, dijumpai adanya striae, lochia dari vagina, dan perlukaan pada
portio. 18
Untuk menentukan usaha penghentian kehamilan dilakukan
pemeriksaan toksikologi, pemeriksaan PA jaringan hasil aborsi atau sisa
plasenta yang tertinggal dirahim, luka, peradangan, bahan-bahan yang tidak
lazim dalam liang senggama, sisa bahan abortivum. Pada masa kini bila
diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan DNA untuk pemastian hubungan ibu
dan janin. 18
2.2.5.2 Pemeriksaan Korban Mati
Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan
dalam (autopsi). Pemeriksaan ditujukan pada18:
14

A. Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak maka


perlu diperiksa :
a. Payudara secara makroskopis maupun mikroskopis
b. Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara mikroskopik
c. Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara
mikroskopik adanya sel-sel trofoblast dan sel-sel decidua
B. Mencari tanda-tanda cara abortus provokatus yang dilakukan
a. Mencari tanda-tanda kekerasan lokal seperti memar, luka, perdarahan
jalan lahir
b. Mencari tanda-tanda infeksi akibat pemakaian alat yang tidak steril.
Jika digunakan zat kimia secara lokal maka pada liang senggama atau
cavum uteri dapat ditemukan zat-zat tersebut.
c. Jika digunakan obat-obatan oral atau suntikan maka tentunya obatobatan tersebut akan dapat dilacak melalui pemeriksaan toksikologik.
C. Menentukan sebab kematian.
Dengan otopsi yang teliti disertai pemeriksaan penunjang maka
dapat diketahui penyebab kematiannya:
a. Vagal refleks
b. Perdarahan
c. Emboli udara
d. Sepsis
2.2.6 Segi Hukum Aborsi
A. UU Kesehatan No 36 tahun 2009:
Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik
yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit
genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki
sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
15

b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis


bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah
melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling
pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a) Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid
terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b) Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang
memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d) Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e) Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
Menteri.
Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu,
tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama
dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada penjelasan UU Kesehatan pasal 77 dinyatakan sebagai berikut:
a. Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa
persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi dan
pelayanan
yang
berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada
indikasi medis.
b. Namun sayangnya didalam UU Kesehatan ini belum disinggung soal masalah
kehamilan akibat hubungan seks komersial yang menimpa pekerja seks
komersial.
16

(3) Dalam peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan
antara lain mengenai keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau
janinnya, tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian & kewenangan bentuk
persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk.
B. KUHP
Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan abortus yaitu pasal
283, 299, 346,347,348, 349,535 KUHP.19
Pasal 283 KUHP
Barang siapa mempertunjukkan alat atau cara menggugurkan kandungan
kepada anak dibawah usia 17 tahun atau dibawah umur hukuman maksimum 9
bulan.
Pasal 299 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya
diobati dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan
itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah.
(2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia
seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
(3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan
pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 346 KUHP
Seorang wanita dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun.
Pasal 347 KUHP
(1) Barang siapa dngan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 KUHP
17

(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan


seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama
lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lima tujuh tahun.
Pasal 349 KUHP
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu
kejahatan yang diterapkan dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan
dalam pasal itu dapat dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk
menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.
Pasal 535 KUHP
Barang siapa mempertunjukkan secara terbuka alat atau cara menggugurkan
kandungan, hukuman maksimum 3 bulan.
Dari Pasal 346, 347 dan 348 KHUP, jelas bahwa undang-undang tidak
mempersoalkan masalah umur kehamilan atau berat badan dari fetus yang keluar.
Sedangkan pasal 349 dan 299 KUHP memuat ancaman hukuman untuk orangorang tertentu yang mempunyai profesi atau pekerjaan tertentu bila mereka turut
membantu atau melakukan kejahatan seperti yang dimaksud ke tiga pasal tersebut.
Yang dapat dikenakan hukuman adalah tindakan menggugurkan atau
mematikan kandungan yang termasuk tindakan pidana sesuai dengan pasal-pasal
pada KUHP (abortus kriminalis). Sedangkan tindakan yang serupa demi keselamatn
ibu yang dapat dipertanggung jawabkan secara medis (abortus medicinalis atau
abortus therapeuticus), tidaklah dapat dihukum walaupun pada kenyataan dokter
dapat melakukan abortus medisinalis, itu diperiksa oleh penyidik dan dilanjutkan
dengan pemeriksaan di pengadilan.19
Pemeriksaan oleh penyidik atau hakim di pengadilan bertujuan untuk mencari
bukti-bukti akan kebenaran bahwa pada kasus tersebut memang murni tidak ada
unsur kriminalnya, semata-mata untuk keselamatan jiwa ibu. Perlu diingat bahwa
hanya Hakimlah yang berhak memutuskan apakah seseorang itu (dokter) bersalah
atau tidak bersalah. 19
C. UU HAM
Pasal 53
Ayat 1 : Setiap anak sejak dalam kandungan berhak untuk hidup, mempertahankan
hidup & meningkatkan taraf kehidupannya.
18

19

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Pembunuhan anak sendiri adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu
atas anak kandungnya pada saat lahir atau tidak lama kemudian karena takut ketahuan
telah melahirkan anak. Berdasarkan undang-undang, terdapat tiga faktor penting
mengenai pembunuhan anak sendiri, yaitu faktor ibu, waktu, dan psikis.
Pemeriksaan kedokteran forensik pada kasus pembunuhan anak atau yang
diduga kasus pembunuhan anak ditujukan untuk memperoleh kejelasan mengenai anak
tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati, adanya tanda-tanda perawatan, luka-luka yang
dapat dikaitkan dengan penyebab kematian, anak tersebut dilahirkan cukup bulan dalam
kandungan, dan adanya kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi kelangsungan
hidupnya.
Pemeriksaan terhadap kasus pembunuhan anak sendiri dilakukan terhadap
pelaku/tertuduh (ibu kandung yang baru melahirkan) dan korban (bayi yang baru
dilahirkan). Pada ibu, diperiksa tanda telah melahirkan anak, berapa lama telah
melahirkan, adanya tanda-tanda partus precipitates, pemeriksaan golongan darah, dan
pemeriksaan histopatologi terhadap sisa plasenta dalam darah yang berasal dari rahim.
Sedangkan, pada korban diperiksa viabilitas, penentuan umur, pernah atau tidak pernah
bernapas, umur ekstrauterin, dan sebab kematian. Sebab kematian dapat berupa akibat
penyakit, kecelakaan, dan tindakan kriminal. Salah satu contoh kematian akibat
tindakan criminal adalah tindakan pembunuhan berupa sufokasi (pembekapan).
Pada kasus ini, korban dilahirkan hidup, tidak ada tanda-tanda perawatan, viable,
cukup bulan dalam kandungan, dan terdapat luka-luka akibat kekerasan tumpul. Sebab
kematian korban tersebut adalah mati lemas akibat dibekap. Oleh karena itu, bila
pelakunya adalah ibu kandung korban, maka akan dikenakan pasal 341 atau pasal 342
KUHP.
Selain itu, banyak orang melakukan aborsi dengan alasan-alasan tertentu.
Sebagian besar orang yang melakukan abortus dikarenakan alasan kesehatan, ekonomi,
sosial. Melakukan aborsi tanpa indikasi medis yang pasti dapat menimbulkan suatu
persoalan yang mengancam keselamatan dan kesehatan ibu, yang lebih parah adalah
resiko gangguan psikologis.
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kese
hatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang
sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Semua agama sangat tidak
berkenan atas pembunuhan seperti yang dilakukan dalam tindakan aborsi, karena ini
adalah kejahatan yang terbesar. Hidup manusia dari dalam kandungan itu layak
untuk mendapatkan segala usaha untuk memastikan kelahirannya. Dilihat dari aspek
agama, hukum aborsi adalah haram dan termasuk tindakan kriminal, kecuali dalam
kondisi darurat atau indikasi medis. Walaupun aborsi dilarang secara undang-undang
tapi banyak yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

20

Baik tindakan pembunuhan anak sendiri maupun tindakan aborsi merupakan


tindakan tidak berperikemanusiaan yang sangat bertentangan dengan hukum dan agama
karena anak yang dititipkan oleh Tuhan yang Maha Esa untuk dirawat, dijaga, dan
dicintai bukan untuk diakhiri kehidupannya secara tragis.
3.2 Saran
Institusi Pelayanan Kesehatan dan masyarakat
Bagi institusi pelayanan kesehatan dan masyarakat agar selalu memberikan
perhatian dan kepedulian terutama pada korban yang mengalami kehamilan yang tidak
diinginkan.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Hadijah, Siti. Penegakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Pembunuhan Bayi Di


Wilayah DIY. 2008. Available from: http://eprints.undip.ac.id (accessed: 2011, Mei 28)
2. Idries, Abdul Munim. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. 1997. Jakarta: Binarupa
Aksara.
3. Budijanto, dkk. Pembunuhan Anak Sendiri. 1988. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
4. Apuranto H, Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. 2007.
Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.
5. Budiyanto, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi pertama, cetakan kedua. 1997. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 165 176.
6. Hoediyanto. (Last Update: 2008, September 17). Pembunuhan Anak (Infanticide). Available
from: http://www.fk.uwks.ac.id
7. Idries, Abdul Munim. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan.
2008. Jakarta: Sagung Seto.
8. Chadha, PV. Abortus dalam Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan Toksikologik. 1995. Jakarta :
Widya Medika.
9. Manuaba, Ida Bagus Gde. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi. 2004.
Jakarta: EGC.
10. Achdiat, Chrisdiono M. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. 2006. Jakarta: EGC.
11. Sastrawinata, Sulaiman., dkk. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi volume 2.
2003. Jakarta: EGC.
12. Manuaba, Ida Ayu Chandranita., dkk. Buku Ajar Patologi Obstetri. 2006. Jakarta: EGC.
13. Manuaba, Ida Bagus Gde. Penuntun Diskusi Obstetri dan Ginekologi. 2005. Jakarta: EGC.
14. Pradono, Julianty et al. Pengguguran yang Tidak Aman di Indonesia, SDKI 1997. Jurnal
Epidemiologi Indonesia. Volume 5 Edisi I-2001. Adami Chazawi. 2002. Kejahatan
Terhadap Tubuh dan Nyawa. Jakarta. Raja Grafindo Persada
15. World Health Organization.Unsafe Abortion: Global and Regional Estimates of Incidence
of and Mortality due to Unsafe Abortion with a Listing of Available Country Data. Third
Edition. Geneva: Division of Reproductive Health (Technical Support) WHO, 1998.
16. Cunningham, Gary, F. dkk. Obstetri Williams Vol. 2. 2006. Jakarta: EGC.
17. Wiknjosastro, Hanifa. Gangguan Bersangkutan dengan Konsepsi dalam Ilmu Kandungan.
Edisi kedua. 1999. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiohardjo.
18. Apuranto, H dan Hoediyanto. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal. 2006. Surabaya:
Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UNAIR
19. Hamzah, Andi, Dr.SH. Kitab Undang-undang Hukum Pidana, 1984. Ghalia Indonesia,
Jakarta.
20. Hanafiah, M. Yusuf., Prof.Dr.SPOG & Amri Amir, Dr.SpF. Etika Kedokteran &Hukum
Kesehatan. 1999. Jakarta: EGC.
21.Abbas Syauman. Hukum Aborsi Dalam Islam. 2004.Jakarta: Cendekia Sentra Muslim.

22