Anda di halaman 1dari 7

(Pyricularia oryzae) PADA TANAMAN PADI

Salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi padi adalah penyakit
padi, salah satunya adalah penyakit blas yang disebabkan oleh jamur
Pyricularia grisea.
Gejala
Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea yang termasuk dalam
kelompok Ascomycetes. Penyebab penyakit blas menyerang tanaman dan
dapat membentuk gejala bercak pada daun, ruas batang, leher malai,
cabang malai, dan kulit gabah (Santoso et al. 2007). Infeksi buku batang
(node blas) menyebabkan bercak hitam dan batang patah, sedangkan infeksi
pada malai menyebabkan blas leher, bercak coklat pada cabang malai dan
bercak coklat pada kulit gabah. Blas leher malai mungkin menyebabkan
kehampaan. Faktor kelembanan sangat mempengaruhi untuk timbulnya
gejala blas, baik pada daun maupun pada leher malai (Santoso dan Anggiani,
2008).
pengendalian
Pengendalian yang dianjurkan adalah pengendalian secara terpadu yaitu
dengan memadukan berbagai cara yang dapat menekan perkembangan
penyakit di antaranya dengan teknik budidaya, penanaman varietas tahan,
dan penggunaan fungisida bila diperlukan. Penanaman varietas tahan
merupakan komponen utama dan merupakan cara yang paling efektif,
ekonomis, dan mudah dilakukan oleh petani. Namun, penggunaan teknologi
ini dibatasi oleh waktu dan tempat, artinya tahan di satu waktu dan tempat,
bisa rentan di waktu dan tempat lain (Sudir et al. 2014
Waktu tanam yang tepat ; pengaturan waktu tanam bertujuan untuk
menghindari stadia heading pada saat banyak hujan dan embun. Untuk ini
diperlukan data penunjang iklim dan umur tanaman sebagai dasar
penentuan waktu tanam tanam yang tepat (Santoso dan Anggiani 2008).
Cara tanam ; pertanaman yang terlalu rapat akan menciptakan kondisi
lingkungan terutama suhu, kelembaban, dan aerasi yang lebih
menguntungkan bagi perkembangan penyakit. Untuk memberikan kondisi
lingkungan yang kurang mendukung terhadap perkembangan penyakit blas

sangat dianjurkan tanam dengan system jajar legowo. Sistem tersebut akan
mengurangi kelembaban disekitar kanopi pertanaman, mengurangi
terjadinya embun dan air gutasi dan gesekan daun antar tanaman sebagai
media penularan pathogen (Sudir 2011).
Sanitasi lingkungan; menjaga kebersihan sawah dari gulma dan sisa-sisa
tanaman yang terinfeksi merupakan usaha yang sangat dianjurkan.
Pemakaian jerami sebagai kompos, yaitu dengan cara jerami dibenam dalam
tanah sebagai kompos, miselia dan spora mati karena naiknya suhu selama
proses dekomposisi (Santoso dan Anggiani, 2008).
Pemupukan ; pupuk Nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit
blas. Oleh karena itu agar perkembangan penyakit dapat ditekan dan
diperoleh produksi yang tinggi disarankan menggunakan pupuk N dan K
secara berimbang dengan menghindari pemupukan N terlalu tinggi (Sudir
2011).
Penyakit tungro merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman
padi(Oryza sativa). Penyakit ini menyebar tidak hanya terjadi di Indonesia
tetapi terjadi juga dibeberapa negara Asia lainnya seperti India, Malaysia,
Vietnam, Filipina, dan Thailand. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi dua
virus, yaitu virus bentuk batang Rice tungro bacilliform badnavirus (RTBV)
dan virus bentuk bulat Rice tungro spherical waikavirus (RTSV). Dalam
menyebaran kedua virus penyebab penyakit tungro ini membutuhkan vector,
yaitu oleh wereng hijau (Nephotettix virescen) ndan WBC .
Gejala serangan dan kerugian yang ditimbulkan
Secara morfologis tanaman padi yang tertular virus tungro menjadi kerdil,
daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna
coklat. Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian
pangkal. Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa. Infeksi
virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek
sehingga jumlah gabah per malai rendah. Serangan yang terjadi pada
tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan
kerusakan fatal. Tinggi rendahnya intensitas serangan tungro ditentukan
oleh beberapa faktor diantaranya: ketersediaan sumber inokulum (tanaman
terserang), adanya vektor (penular), adanya varietas peka dan kondisi
lingkungan yang memungkinkan, namun keberadaan vektor yang

mengandung virus adalah faktor terpenting. Intensitas penyakit tungro juga


dipengaruhi oleh tingkat ketahanan varietas dan stadia tanaman. Tanaman
stadia muda, sumber inokulum tersedia dan populasi vektor tinggi akan
menyebabkan tingginya intensitas serangan tungro. Ledakan tungro
biasanya terjadi dari sumber infeksi yang berkembang pada pertanaman
yang tidak serempak
Infeksi
Infeksi penyakit ini menyebabkan tanaman kerdil, daun muda berwarna
kuning dari ujung daun, daun yang kuning nampak sedikit melintir dan
jumlah anakan lebih sedikit dari tanaman sehat. Secara umum hamparan
tanaman padi terlihat berwarna kuning dan tinggi tanaman tidak merata,
terlihat spot-spot tanaman kerdil. Penyakit tungro disebabkan oleh dua jenis
virus yaitu virus bentuk batang (RTBV: rice tungro bacilliform virus) dan
bentuk bulat (RTSV : rice tungro sperical virus) yang hanya dapat ditularkan
oleh wereng, terutama yang paling efisien adalah spesies wereng hijau
Nephotettix virescens Distant. Wereng hijau dapat mengambil kedua virus
tersebut dari singgang, bibit voluntir (ceceran gabah saat panen yang
tumbuh), teki, dan eceng. Wereng hijau spesies N. virescens telah
mendominasi komposisi spesies wereng hijau di Jawa, Bali, dan Nusa
Tenggara Barat. Populasi N.virescens jarang mencapai kepadatan populasi
tinggi sehingga tidak menimbulkan kerusakan langsung. Adanya kebiasaan
pemencaran imago terutama di daerah tanam tidak sermpak, meskipun
populasinya rendah apabila ada sumber inokulum efektif menyebarkan
tungro.

Cara Pengendalian
1). Waktu tanam tepat Singgang merupakan sumber inokulum virus tungro.
Agar terhindar dari 2). Bibit sehat Jangan memindahkan/menggunakan bibit
dari daerah endemis tungro.
3). Tanam serentak Untuk membatasi keberadaan umur tanaman yang
rentan terhadap perkembangan dan penularan virus tungro dilakukan upaya
tanam serentak pada hamparan seluas-luasnya/unit hamparan pengairan.
4). Pergiliran tanaman Dilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan
padi/bukan inang virus tungro.

5). Penggunaan varietas tahan Penggunaan varietas tahan sesuai dengan


keadaan setempat.
6) Pergiliran varietas tahan Penanaman varietas tahan yang sama secara
terus menerus di areal yang luas akan memberikan tekanan seleksi yang
tinggi bagi vektor dan virus atau menunda munculnya strain/koloni baru.
7). Sanitasi dan Eradikasi Eradikasi dilakukan dengan cara pengolahan tanah
dan pembenaman sumber tungro, untuk menghilangkan atau menekan
jumlah sumber tungro dan sekaligus menekan terjadinya penularan virus
tungro lebih lanjut. Sanitasi dilakukan dengan cara mencabut dan
membenamkan tanaman terserang, turiang/singgang dan rumput yang
menjadi inang.
8). aplikasi insektisida butiran 6 kg/500 m2 sehari sebelum sebar benih.
Apabila
Pucinia sorghi
Gejala : Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat
di permukaan daun jagung bagian atas maupun bawah, uredinia
menghasilkan uredospora berbentuk bulat atau oval serta berperan penting
sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi Tanaman jagung lainnya,
sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah
sampai tinggi, infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau
musim kemarau.
b.Penyebab
Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia polysora
c.Pengendalian
- Menanam varietas tahankarat daun, seperti Lamuru, Sukmaraga, Palakka,
Bima-1
atau
Semar-10
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi
tanaman) pada tanaman terinfeksi karat daun maupun gulma
Penyemprotan
fungisida
menggunakan
bahan
Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di
kemasan.
SMV (soybean mozaik virus)

aktif

benomil.

Gejala mosaic menunjukan adanya bagian daun yang menunjukan warna


berbeda secara tidak teratur, seperti warna hijau tua yang diselingi dengan
hijau muda. bentuk gajala mosaik pada tanaman yang terinfeksi virus
beragam, tergantung pada jenis tanamannya. pada tanaman dikotil, gejala
mosaik berbentuk garis yang tidak beraturan, berwarna hijau tua dan hijau
kuning seperti halnya tembakau yang terinfeksi TMV. Gejala mosaik biasanya
didahului oleh pemucatan sepanjang tulang daun atau akumulasi warna
hijau sepanjang tulang daun. gajala mosaik juga dapat terjadi pada cabang
dan buah yang dihasilkan.
Pada tanaman monokotil, gajala mosaik biasanya ditandai dengan warna
hijau dan terang membentuk strip; sebagai akibat terjadinya klorosis.gejala
klorosis terjadi pada daun akibat terjadinya pengurangan klorofil, tidak
normalnya bentuk kloroplas, dan kerusakan sel daun. gajala mosaik akibat
klorosis biasanya dimulai dari sepanjang tulang dauan ke seluruh bagian
daun.
Penularan penyakit SMV pada tanaman muda dapat menurunkan hasil 5090% Penularan SMV
kedele yang resisten terhadap penularan melalui benih,
- membasmi tumbuhan inang SMV terutama yang dekat dengan areal
pertanaman kedele,
-mengadakan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang SMV,
- menggunakan insektisida ke dalam tanaman, antara lain :
-melalui luka,
-terinfeksi oleh virus Belang PolongBuncis,
- melalui benih,
- melalui vektor serangga.
Pengendalian penyakit SMV dapat dilakukan dengan cara :
-menanam benih bebas SMV,
-apabila ditemukan di areal pertanaman kedele SMV, maka segera cabut.dan
bakar tanaman yang telah terinfeksioleh SMV,
- menggunakan varietas kedele yang resisten/tahan terhadap infeksi
virus,misalnya varietas Thai-chung,
- menggunakan varietas untukmemberantas vector

Penyakit Gosong pada jagung (Ustilago maydis)


Siklus Hidup : Jamur dapat bertahan sebagai safrofit dan dalam bentuk
teleospora pada sisa-sisa tanaman sakit, pada pupuk organik atau dalam
tanah. Spora tersebut mempunyai ketahanan yang sangat tinggi sehingga
dapat bertahan bertahun-tahun. Pada keadaan yang cocok teliospora
berkecamba, membentuk sporodium yang dipencarkan oleh angin atau air.
Jamur dapat mengandalkan infeksi dengan lanhsung melalui epidermis atau
melalui mulut kulit, pada semua jaringan moristem yang terdapat pada
bagian-bagian tanaman diatas tanah. Oleh karena itu gejala terjadi terutama
pada tongkol, karena disini terdapat banyak jaringan meristematik.
Gejala Serangan
Gejala awal berupa pembengkakan atau gall yang dibungkus dengan
jaringan berwarna putih kehijauan sampai putih perak mengkilat. Bagian
dalam gall berwarna gelap dan berubah menjadi massa tepung spora
berwarna coklat sampai hitam. Apabila bunga jantan terinfeksi, maka semua
tongkol pada tanaman tersebut terinfeksi penyakit gosong (Wakman dan
Burhanuddin, 2007).
Biji-biji yang terinfeksi membengkak, membentuk kelenjar-kelenjar.
Dengan makin membesarnya kelenjar-kelenjar,kelobot terdesak ke samping,
sehingga sebagian dari kelenjar itu tampak dari luar(Akhirnya kelenjar pecah
dan spora jamur yang berwarna hitam terhambur keluar (Semangun, 1993).
Faktor yang mempengaruhi
Faktor yang mempengaruhi Penyakit ini lebih banyak terdapat
dipegunungan. Pertanaman yang rapat membantu perkembangan penyakit.
Makin panjang umur tanaman, biasanya makin besar pula kemungkinan
untuk mendapatkan serangan . Ustilago maydis meghendaki keadaan iklim
kering dan suhu antara 26 -34 C. Periode inkubasi dari infeksi sampai timbul
gall sekitar 1 sampai beberapa minggu. Pemupukan N dan pupuk kandang
meningkatkan penyakit ini

Pengendalian
(1)mengatur kelembaban
(2)sanitasi lahan
(3)perlakuan benih yang mungkin dapat membantu
(4) memotong bagian tanaman dan dibakar
(5) menanam varietas resisten
(6) perlakuan benih dengan fungisida.