Anda di halaman 1dari 10

KEPERAWATAN PERIOPERATIF

MAKALAH INTRAOPERATIF COLLUM FEMUR


FASE INTRAOPERATIF PADA PASIEN USIA 70 TAHUN DENGAN
FRAKTUR COLLUM FEMUR

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Marsgo Nur .W
Marsha Hamira S.
Mentari Noviana H.
Niken Saraswati
Prastian Anton D.N
Rimba Mega Tania

(121420125950085)
(121420125980088)
(121420125990089)
(121420126070097)
(121420126140104)
(121420126180108)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN S1 / 6A


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2015

KATA PENGANTAR

AssalamualaikumWr.Wb.
Puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Makalah Hellp
Syndrome Banyak pihak yang telah membantu terlaksananya penyusunan tugas makalah ini,
sehingga dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada :
1. Martyarini Budi, S. Kep., Ns. M.Kep selaku dosen mata kuliah Kep. Perioperatif.
2. Teman-teman yang telah membantu dalam melaksanakan pembuatan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, masih terdapat beberapa kekurangannya dan untuk
itu kami mohon kritik dan saran yang dapat memberikan masukan positif bagi penyusun
makalah ini dan semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Wassalamu alaikum Wr.Wb
Purwokerto, 12 Mei 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .. ii
ii

Daftar Isi .... iii


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...... 1
B. Tujuan ...... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Keperawatan Intraoperatif ... 2


Fungsi Keperawatan Intraoperatif .. 2
Definisi Fraktur...................................................................................................... 3
Etiologi .................................................................................................................... 4
Patofisiologi .................... 4
Prosedur di Ruang Operasi .................................................................................. 5

BAB III PENUTUP


Kesimpulan .. 7
DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tindakan operasi adalah sebuah tindakan yang bagi sebagian besar klien adalah sesuatu
yang menakutkan dan mengancam jiwa klien.Hal ini dimungkinkan karena belum adanya
pengalaman dan dikarenakan juga adanya tindakan anestesi yang membuat klien tidak sadar
dan membuat klien merasa terancam takut apabila tidak bisa bangun lagi dari efek
anestesi.Tindakan operasi membutuhkan persiapan yang matang dan benar-benar teliti karena
hal ini menyangkut berbagai organ, terutama jantung, paru, pernafasan.Untuk itu diperlukan
perawatan yang komprehensif dan menyeluruh guna mempersiapkan tindakan operasi sampai
dengan benar-benar aman dan tidak merugikan klien maupun petugas.
Fraktur collum femur merupakan cedera yang banyak dijumpai pada pasien usia tua dan
menyebabkan morbiditas serta mortalitas. Lebih dari 250.000 fraktur pinggul terjadi di
Amerika Serikat setiap tahun (50% termasuk fraktur collum femur), dan jumlah ini
diperkirakan dua kali lipat pada tahun 2040. 80 % terjadi pada wanita, dan insidensinya
menjadi 2 kali lipat setiap 5 hingga 6 tahun pada wanita usia lebih dari 30 tahun.
B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan pengertian Keperawatan Intraoperatif
2. Menjelaskan fungsi Keperawatan Intraoperatif
3. Menjelaskan definisi fraktur
4. Menjelaskan etiologi terjadinya fraktur
5. Menjelaskan patofisiologi terjadinya fraktur
6. Menjelaskan prosedur (intraoperasi) pada pasien fraktur

BAB II
PEMBAHASAN
A. Keperawatan Intraoperatif

Keperawatan Intraoperatif dimulai ketika pasien masuk ke bagian bedah dan berakhir saat
pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.
Aktifitas keperawatan pada intraoperatif:
1.

Pemeliharaan Keselamatan
a. Atur Posisi Pasien
1) Kesejajaran fungsional
2) Pemajanan area pembedahan
3) Mempertahankan posisi selama di op.
b. Memasang alat grounding ke pasien
c. Memberikan dukungan fisik
d. Memastikan bahwa jumlah jarum dan instrument yang tepat.
2. Pemantauan Fisiologis
a. Memperhitungkan efek dari hilangnya atau masuknya cairan yang berlebihan.
b. Mengobservasi kondisi kardiopulmunal
c. Melaporkan perubahan-perubahan pada TPRS
3. Dukungan Psikologis (Sebelum Induksi dan Jika Pasien Sadar)
a. Memberikan dukungan emosional pada pasien.
b. Berdiri dekat dan menyentuh pasien selama prosedur dan induksi.
c. Terus mengkaji status emosional pasien.
d. Mengkomunikasikan status emosional pasien ke anggota kes yang sesuai.
4. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Memberikan keselamatan untuk pasien
b. Mempertahankan lingk aseptic dan terkontrol
c. Secara efektif mengelola SDM
B. Fungsi Keperawatan Intraoperatif
1. Fungsi keperawatan di ruang operasi :
a. Sirkulasi
b. Scrub ( instrumentasi )
2. Aktivitas perawat sirkulasi:
a. Mengatur ruang operasi
b. Melindungi keselamatan dan kebutuhan kesehatan pasien dengan cara :
1) Memantau aktivitas anggota tim bedah
2) Memeriksa kondisi di dalam ruang operasi.
c. Memastikan kebersihan, suhu yang tepat, kelembaban dan pencahayaan; menjaga
peralatan tetap berfungsi; dan ketersediaan perbekalan material.
d. Memantau praktik aseptis untuk menghindari pelanggaran teknik,
e. Memantau pasien sepanjang prosedur operasi untuk memastikan keselamatan dan
3.

kesejahteraan individu.
Aktivitas perawat scrub :
a. Scrubing untuk pembedahan
b. Mengatur meja steril, menyiapkan alat jahitan, dan peralatan khusus;
c. Membantu dokter bedah dan asisten dokter bedah selama prosedur bedah dengan
mengantisipasi instrument yang dibutuhkan, spons, drainase dan peralatan lain ;
2

d.

Terus mengawasi waktu pasien di bawah pengaruh anesthesia dan waktu luka

e.

dibuka.
Mengecek peralatan dan material untuk memastikan bahwa semua jarum, kasa dan

instrument sudah dihitung lengkap saat insisi ditutup.


f. Memberi label pada specimen dan dikirim ke petugas laboratorium.
C. Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis serta luasnya.
Fraktur dapat disebabkan oleh adanya pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir
mendadak ataupun kontraksi otot ekstrim. Meskipun patah jaringan sekitarnya juga akan
terpengaruh yang dapat mengakibatkan udema jaringan lunak, perdarahan keotot dan sendi,
dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh
dapat mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau fragmen tulang.

D. Etiologi
Fraktur dapat terjadi oleh beberapa faktor yaitu trauma kecelakaan lalu lintas, jatuh dari
ketinggian dengan posisi berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang,
patologis dari metastase dari tumor, degenerasi karena proses kemunduran fisiologis dari
jaringan tulang itu sendiri, spontan karena tarikan otot yang sangat kuat (Corwin, E.J, 2000:
298).
E. Patofisiologi
1. Proses Terjadinya Fraktur
Fraktur terjadi bila tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat
diabsorbsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan
puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot esktrem. Meskipun tulang patah dan jaringan
sekitarnya juga akan terpengaruh, mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke
otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh
darah (Brunner dan Suddarth, 2001: 2357).
Fraktur sering terjadi pada tulang rawan, jika tulang mengalami fraktur, maka
periosteum darah dari korteks marrow dan jaringan sekitarnya rusak, terjadi perdarahan
dan kerusakan jaringan di ujung tulang. Terbentuklah hematoma di kanal medulla,

jaringan ini merangsang kecenderungan untuk terjadi peradangan yang ditandai dengan
vasodilatasi, pengeluaran plasma dan leukosit dan infiltrasi dari sel-sel darah putih yang
lain (Corwin, 2000: 299).
2. Penyembuhan Fraktur
Fraktur dapat terjadi pada tulang dan jaringan disekitarnya. Jika satu tulang patah,
maka jaringan lunak sekitarnya juga rusak, periosteum juga terpisah dari tulang dan
terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut, akan
membentuk jaringan ganulasi dimana sel-sel pembentuk tulang primitif (osteogenik)
berdiferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas kemudian kondroblas akan mensekresi
fosfat yang merangsang reabsorpsi kalsium sehingga terbentuklah lapisan tebal (kalus) di
sekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapisan
kalus dari fragmen satunya dan menyatu. Fungsi dari kedua fragmen (penyembuhan
fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh osteoblas, yang melekat pada
tulang dan meluas menyebrangi lokasi fraktur. Persatuan tulang provisional ini akan
terorganisasi. Kalus tulang akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih
kuat dan lebih terorganisasi. Kalus tulang akan mengalami remodelling dimana osteoblas
akan membentuk tulang baru sementara osteoblas akan menyingkirkan bagian yang rusak
sehingga akan terbentuk tulang yang menyerupai tulang aslinya (Price, S.A, 1996: 1187).
F. Prosedur di ruang operasi
1. Persiapan alat dan Ruangan
a.

Alat tidak steril : Lampu operasi, Cuter unit, Meja operasi, Suction, Hepafik,
Gunting

b.

Alat Steril : Duk besar 3, Baju operasi 4, Selang suction steril, Selang cuter
Steril,side 2/0, palain 2/0,berbagai macam ukuran jarum

c.

Set Orif :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Koker panjang 2
Klem bengkok 6
Bengkok panjang 1
Pinset cirugis 2
Gunting jaringan 1
Kom 2
Pisturi 1
Hand mest
Platina 1 set
4

2.

10) Kassa steril


11) Gunting benang 2
12) Penjepit kasa 1
13) Bor 1
14) Hak Pacul 1
15) Hak Sedang 1
16) Hak Duk 3
Prosedur Operasi :
a.

Pasien sudah teranastesi GA

b.

Tim bedah melakukan cuci tangan (Scrub)

c.

Tim bedah telah memakai baju operasi (Gloving)

d.

Lakukan disinfeksi pada area yang akan dilakukan sayatan dengan arah dari dalam
keluar, alkohol 2x, betadine 2x

e.

Pasang duk pada area yang telah di disinfeksi (Drapping)

f.

Hidupkan cuter unit

g.

Lakukan sayatan dengan hand mest dengan arah paramedian

h.

Robek subkutis dengan menggunakan cuter hingga terlihat tulang yang fraktur

i.

Lakukan pengeboran pada tulang

j.

Pasang platina

k.

Lakukan pembersihan bagian yang kotor dengan cairan NaCl

l.

Jahit subkutis dengan plain 2/0

m. Jahit bagian kulit dengan side 2/0


n.

Tutup luka dengan kassa betadine, setelah itu diberi hepafik

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Keperawatan Intraoperatif dimulai ketika pasien masuk ke bagian bedah dan berakhir
saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan
ditentukan sesuai jenis serta luasnya. Fraktur dapat disebabkan oleh adanya pukulan langsung,
gaya meremuk, gerakan puntir mendadak ataupun kontraksi otot ekstrim. Fraktur dapat terjadi
oleh beberapa faktor yaitu trauma kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian dengan posisi
berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang, patologis dari metastase dari tumor,
degenerasi karena proses kemunduran fisiologis dari jaringan tulang itu sendiri, spontan karena
tarikan otot yang sangat kuat.

DAFTAR PUSTAKA
kamuskesehatan.com/arti/intraoperatif/
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 2, EGC,
Jakarta.
Budiyanto, Aris. 2009. Penatalaksanaan Terapi Latihan Pasca Operasi Pemasangan Orif Pada
Fraktur. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Retrived from :
http://www.scribd.com/doc/20058202/fraktur. Diakses pada 06 Februari 2012.
Johnson, M. Maas, M and Moorhead, S. 2007. Nursing Outcomes Classifications (NOC). Second
Edition. IOWA Outcomes Project. Mosby-Year Book, Inc. St.Louis, Missouri.
North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Nursing Diagnosis : Definition and
Classification 2012-2014. NANDA International. Philadelphia.
McCloskey, J.C and Bulechek, G.M. 2007. Nursing Intervention Classifications (NIC). Second
Edition. IOWA Interventions Project. Mosby-Year Book, Inc. St.Louis, Missouri.