Anda di halaman 1dari 9

Kumpulan Cerita Dewasa.

Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu


kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak,
namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku
berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah
tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya
kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku
banyak di bank dan rumahku besar.

Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-
bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis
kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran
sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang
sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang
tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit
Sentul dll.

Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan
pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena
aku dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh
kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya.

Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di
rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar
setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari
kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan
obat yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam
malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.

Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air
bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang
lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan
aku pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah
petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak
gadis si ibu tinggal.

Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk
menginap sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan
pulasnya, dan tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar
remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar
awal dua puluhan.

“Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan
dapur terendam di bawah”, katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar
terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.
“Oh, enggak apa-apa kok Dik”, sahutku.
Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.
Ternyata Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di
laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka
Sri tetap menjanda. Sri sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun
perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini
hari, dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja,
dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Sri yang mulai
merebahkan diri.

Tampak rambut Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung
tampak bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri berbalik
badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah
dadanya yang montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping
lebih menonjolkan busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba
merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.

Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada
montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di
panti pijat tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati
ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku.
Waktu itu aku hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih
tetap keras dan mengacung setelah ’selesai’ bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak
terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam
berahi di antara selangkanganku.

Aku mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai
beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba
melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Sri
terbangun. Aku dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap
tertidur. Aku mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi
aku teruskan permainan bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan aku mulai
meremas buah dada Sri yang montok itu. Terasa Sri bergerak di bawah himpitanku, dan
tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit.
Aku lumatkan bibirku ke bibirnya, sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya.
Terasa sekali Sri yang semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga
permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke dua buah
dadanya.

Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil
tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya.
Ternyata Sri sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah
malah aku dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat
di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus, dengan bulu kemaluan
yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.
Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar
kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Sri sudah mulai mengeras, dan aku jilati
sepuas hatiku sampai terasa Sri agak menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan
gejolak berahinya yang mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.

Sri membiarkan aku bermain dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka
kancing kemejaku, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku.
Agaknya Sri mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit karena
kemaluanku yang makin membesar dan makin menegang.

Sambil tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Sri melepaskan celana panjang dan
celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang bulat, berbaring bersama
di lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.

Mata Sri tampak agak terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh
ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah
membesar penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang
membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.

Kutarik kepala Sri agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke
arah bibirnya yang mungil. Ternyata Sri tidak canggung membuka mulutnya dan
mengulum kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya mengelus batang
kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aku memajukan
bokongku dan batang kemaluanku makin dalam memasuki mulut Sri. Kedua tanganku
sibuk meremas buah dadanya, lalu bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan
jariku di clitoris Sri, yang membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Sri
mulai membasah, aku tahu, saatnya sudah dekat.

Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Sri, dan kudorong Sri hingga telentang.
Rambut panjangnya kembali terburai di atas bantal. Sri mulai sedikit merenggangkan
kedua pahanya, sehingga aku mudah menempatkan diri di atas badannya, dengan dada
menekan kedua buah dadanya yang montok, dengan bibir yang melumat bibirnya, dan
bagian bawah tubuhku berada di antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku
turunkan bokongku, dan terasa kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Sri, lalu
aku geserkan agak ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua
bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.

Kemudian aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama


Sri. Terasa agak seret majunya, karena Sri telah menjanda dua tahun, dan agaknya belum
merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan sabar aku majukan terus batang
kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Sri. Ternyata kemaluanku
cukup besar dan panjang bagi Sri, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Sri
mulai sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang
kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Sri.
Aku membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Sri sekitar 20 detik, baru
setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aku
dorongkan dengan lebih cepat sampai habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan
berahi Sri yang juga menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur,
kadangkala ke arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala
dan batang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Sri yang makin
membasah.

Tidak terasa, Sri terdengar mendasah dasah, terbaur dengan dengusan nafasku yang
ditimpali dengan hawa nafsu yang makin membubung. Untuk kali pertama aku
menyetubuhi Sri, aku belum ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya
kaget, jadi aku teruskan gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional,
namun ini juga membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40 menit
kemudian, disertai dengan jeritan kecil Sri, aku hunjamkan seluruh batang kemaluanku
dalam dalam, kutekan dasar kemaluan Sri dan seketika kemudian, terasa kepala
kemaluanku menggangguk-angguk di dalam kesempitan liang kemaluan Sri dan
memancarkan air maniku yang telah tertahan lebih dari satu minggu.

Terasa badan Sri melamas, dan aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya
yang montok. Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan
kubiarkan tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir
membasahi pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Sri yang berkeringat, aku bisikan ke
telinganya, “Sri, terima kasih, terima kasih..”
Koleksi Cerita Dewasa Terlengkap

an pertamaku. Untung ia tidak memperkosaku, pikirku.

Namun hari-hari berikut, kegiatan tadi jadi semacam acara rutin kami. Paling tidak
seminggu dua kali pasti terjadi aku disuruh mengocoknya. Lama-lama akupun jadi
terbiasa. Toh selama ini tak pernah terjadi perkosaan atas vaginaku. Namun yang terjadi
kemudian malah perkosaan atas mulutku. Ya, setelah tanganku tak lagi memuaskan, Pak
S mulai memintaku mengonani dengan mulutku. Mula-mula aku jelas menolak karena
jijik. Tapi ia setengah memaksa dengan menjambak rambutku dan mengarahkan mulutku
ke penisnya.

“Cobalah, Yem. Tak apa-apa.. Jilat-jilat aja dulu. Sudah itu baru kamu mulai kulum lalu
isep-isep. Kalau sudah terbiasa baru keluar masukkan di mulutmu sampai spermanya
keluar. Nanti aku bilang kalau mau keluar..” Awalnya memang ia menepati, setiap
hendak keluar ia ngomong lalu cepat-cepat kulepaskan mulutku dari penisnya sehingga
spermanya menyemprot di luar mulut. Namun setelah berlangsung 2-3 minggu, suatu saat
ia sengaja tidak ngomong, malah menekan kepalaku lalu menyemprotkan spermanya
banyak-banyak di mulutku sampai aku muntah-muntah. Hueekk..! Jijik sekali rasanya
ketika cairan kental putih asin agak amis itu menyemprot tenggorokanku. Ia memang
minta maaf karena hal ini, tapi aku sempat mogok beberapa hari dan tak mau
mengoralnya lagi karena marah. Namun hatiku jadi tak tega ketika ia dengan memelas
memintaku mengoralnya lagi karena sudah beberapa bulan ini tak sempat pulang
menjenguk istrinya. Anehnya, ketika setiap hendak keluar sperma ia ngomong, aku justru
tidak melepaskan zakarnya dari kulumanku dan menerima semprotan sperma itu. Lama-
lama ternyata tidak menjijikkan lagi.

Demikianlah akhirnya aku semakin lihai mengoralnya. Sudah tak terhitung berapa
banyak spermanya kutelan, memasuki perutku tanpa kurasakan lagi. Asin-asin kental
seperti fla agar-agar. Akibat lain, aku semakin terbiasa tidur dipeluk Pak S. Bagaimana
lagi, setelah capai mengoralnya aku jadi enggan turun dari ranjangnya untuk kembali ke
kamarku. Mataku pasti lalu mengantuk, dan lagi, toh ia tak akan memperkosaku. Maka
begitu acara oral selesai kami tidur berdampingan. Ia telanjang, aku pakai daster, dan
kami tidur dalam satu selimut. Tangannya yang kekar memelukku. Mula-mula aku takut
juga tapi lama-lama tangan itu seperti melindungiku juga. Sehingga kubiarkan ketika
memelukku, bahkan akhir-akhir ini mulai meremasi tetek atau pantatku, sementara
bibirnya menciumku. Sampai sebatas itu aku tak menolak, malah agak menikmati ketika
ia menelentangkan tubuhku dan menindih dengan tubuh bugilnya.

“Oh, Yem.. Aku nggak tahan, Yem.. buka dastermu ya?” pintanya suatu malam ketika
tubuhnya di atasku.
“Jangan pak,” tolakku halus.
“Kamu pakai beha dan CD saja, Yem, gak bakal hamil. Rasanya pasti lebih nikmat..”
rayunya sambil tangannya mulai mengkat dasterku ke atas.
“Jangan pak, nanti keterusan saya yang celaka. Begini saja sudah cukup pak..” rengekku.
“Coba dulu semalam ini saja, Yem, kalau tidak nikmat besok tidak diulang lagi..”
bujuknya sambil meneruskan menarik dasterku ke atas dan terus ke atas sampai melewati
kepalaku sebelum aku sempat menolak lagi.
“Woow, tubuhmu bagus, Yem,” pujinya melihat tubuh coklatku dengan beha nomor 36.

“Malu ah, Pak kalau diliatin terus,” kataku manja sambil menutup dengan selimut. Tapi
sebelum selimut menutup tubuhku, Pak S sudah lebih dulu masuk ke dalam selimut itu
lalu kembali menunggangi tubuhku. Bibirku langsung diserbunya. Lidahku dihisap, lama-
lama akupun ikut membalasnya. Usai saling isep lidah. Lidahnya mulai menuruni
leherku. Aku menggelinjang geli. Lebih lagi sewaktu lidahnya menjilat-jilat pangkal
payudaraku sampai ke sela-sela tetekku hingga mendadak seperti gemas ia mengulum
ujung behaku dan mengenyut-ngenyutnya bergantian kiri-kanan. Spontan aku merasakan
sensasi rasa yang luar biasa nikmat. Refleks tanganku memeluk kepalanya. Sementara di
bagian bawah aku merasa pahanya menyibakkan pahaku dan menekankan zakarnya tepat
di atas CD-ku.

“Ugh.. aduuh.. nikmat sekali,” aku bergumam sambil menggelinjang menikmati


cumbuannya. Aku terlena dan entah kapan dilepasnya tahu-tahu payudaraku sudah tak
berbeha lagi. Pak S asyik mengenyut-ngenyut putingku sambil menggenjot-genjotkan
zakarnya di atas CD-ku.

“Jangan buka CD saya, pak,” tolakku ketika merasakan tangannya sudah beraksi
memasuki CDku dan hendak menariknya ke bawah. Ia urungkan niatnya tapi tetap saja
dua belah tangannya parkir di pantatku dan meremas-remasnya. Aku merinding dan
meremang dalam posisi kritis tapi nikmat ini. Tubuh kekar Pak S benar-benar mendesak-
desak syahwatku.

Jadilah semalaman itu kami tak tidur. Sibuk bergelut dan bila sudah tak tahan Pak Siregar
meminta aku mengoralnya. Hampir subuh ketika kami kecapaian dan tidur berpelukan
dengan tubuh bugil kecuali aku pakai CD. Aku harus mampu bertahan, tekadku. Pak S
boleh melakukan apa saja pada tubuhku kecuali memerawaniku.

Tapi tekad tinggal tekad. Setelah tiga hari kami bersetubuh dengan cara itu, pada malam
keempat Pak S mengeluarkan jurusnya yang lebih hebat dengan menjilati seputar
vaginaku meskipun masih ber-CD. Aku berkelojotan nikmat dan tak mampu menolak
lagi ketika ia perlahan-lahan menggulung CD ku ke bawah dan melepas dari batang
kakiku. Lidahnya menelusupi lubang V-ku membuatku bergetar-getar dan akhirnya
orgasme berulang-ulang. Menjelang orgasme yang kesekian kali, sekonyong-konyong
Pak Siregar menaikkan tubuhnya dan mengarahkan zakarnya ke lubang nikmatku. Aku
yang masih belum sadar apa yang terjadi hanya merasakan lidahnya jadi bertambah
panjang dan panjang sampai.. aduuhh.. menembus selaput daraku.

“Pak, jangan pak! Jangan!” Protesku sambil memukuli punggunya. Tetapi pria ini begitu
kuat. Sekali genjot masuklah seluruh zakarnya. Menghunjam dalam dan sejurus
kemudian aku merasa memiawku dipompanya cepat sekali. Keluar masuk naik turun,
tubuhku sampai tergial-gial, terangkat naik turun di atas ranjang pegas itu. Air mataku
yang bercampur dengan rasa nikmat di vagina sudah tak berarti. Akhirnya hilang sudah
perawanku. Aku hanya bisa pasrah. Bahkan ikut menikmati persetubuhan itu.

Setelah kurenung-renungkan kemudian, ternyata selama ini aku telah diperkosa secara
halus karena kebodohanku yang tidak menyadari muslihat lelaki. Sedikit demi sedikit aku
digiring ke situasi dimana hubungan seks jadi tak sakral lagi, dan hanya mengejar
kenikmatan demi kenikmatan. Hanya mencari orgasme dan ejakulasi, menebar air mani!

Hampir dua tahun kami melakukannya setiap hari bisa dua atau tiga kali. Pak S benar-
benar memanfaatkan tubuhku untuk menyalurkan kekuatan nafsu seksnya yang gila-
gilaan, tak kenal lelah, pagi (bangun tidur), siang (kalau dia istirahat makan di rumah)
sampai malam hari sebelum tidur (bisa semalam suntuk). Bahkan pernah ketika dia libur
tiga hari, kami tidak beranjak dari ranjang kecuali untuk makan dan mandi. Aku
digempur habis-habisan sampai tiga hari berikutnya tak bisa bangun karena rasa perih di
V-ku. Aku diberinya pil kb supaya tidak hamil. Dan tentu saja banyak uang, cukup untuk
menyekolahkan adik-adikku. Sampai akhirnya habislah proyeknya dan ia harus pulang ke
kota asalnya. Aku tak mau dibawanya karena terlalu jauh dari orang tuaku. Ia janji akan
tetap mengirimi aku uang, namun janji itu hanya ditepatinya beberapa bulan. Setelah itu
berhenti sama sekali dan putuslah komunikasi kami. Rumahnya pun aku tak pernah tahu
dan akupun kembali ke desa dengan hati masygul.Cerita Dewasa

Kumpulan Cerita Dewasa,Setelah percumbuanku dengan tante Layla dan tante Dewi, aku
ingin melakukannya lagi. Aku berharap kedua tante tersebut datang lagi ke rumahku pada
saat sepi. Harapanku tinggal harapan sampai pada pertengahan bulan Mei tahun 2000 lalu
aku melakukannya lagi, meskipun bukan dengan tante Layla dan tante Dewi. Aku
melakukannya lagi dengan temanku sendiri yang bernama Chintya.

Saat itu aku, Chintya dan beberapa teman yang lain mengadakan kegiatan camping di
sebuah lereng gunung. Setelah mendirikan tenda, aku dan Chintya mencari air sekalian
mandi di sungai yang berada beberapa meter ke bawah dari tempat camping itu. Kami
berdua sama-sama memakai celana jeans dan kaos oblong putih sambil berkalungkan
handuk.

Aku ingat lagi ketika Chintya terjatuh masuk ke air. Pakaiannya basah sehingga bagian
dalam tubuhnya kelihatan. Dia memakai BH hitam. Aku terangsang dengan keadaannya.
Aku lalu menolongnya dan pura-pura terjatuh tepat di hadapannya. Dia lalu mencipratkan
air ke tubuhku. Kuajak dia mandi sekalian dan diapun mau. Dia lalu naik ke atas batu dan
melepas kaos dan celananya. Kemudian dia duduk bersimpuh dan mengambil sabun yang
ada di saku celananya. Posisiku waktu itu berada di belakangnya. Aku semakin
terangsang melihatnya hanya memakai pakaian dalam sedang menyabuni tubuhnya.

Aku cepat-cepat melepas pakaianku dan kusisakan CD-ku, kuhampiri dia dan dari
belakang aku melepas BH-nya. Dia tidak menolak ketika tanganku mengambil sabun dari
tangannya. Aku lalu menyabuni kedua payudaranya yang sama besar dengan punyaku
dari belakang sambil meremasnya. Dia membalikkan tubuhnya. Aku jadi leluasa
menyabuni tubuhnya. Rupanya dia merasa aku tidak adil. Ketika aku meremas payudara
kirinya dia mengambil busa sabun yang ada di payudara kanannya kemudian diusapnya
kedua payudaraku. Aku memotong sabun itu dan kuberikan potongannya ke Chintya.
Sekarang kami saling menyabuni kedua payudara. Kuberanikan diri mencium bibirnya.
Dia membalasnya dengan lembut.

Perlahan-lahan sambil kucium, dia kurebahkan di atas batu dan kuratakan sabunnya ke
seluruh tubuhnya bagian atas sampai busanya hilang. Demikian juga dengan apa yang
dilakukan pada tubuhku. Sekarang tubuh kami berdua sudah kering dari busa dan
kutindih dia sehingga kedua payudara kami saling menempel. Kami terguling dan posisi
Chintya sekarang di atasku. Dia lalu berdiri dan cepat-cepat aku dari belakang
memeluknya. Aku mendesah ketika kedua payudaraku menempel di punggungnya.
Tanganku meremas kedua payudaranya dan turun ke bawah masuk ke dalam CD-nya.
Tetapi dia kurang suka dengan sikapku ini sehingga dia menarik tanganku kembali dan
melepaskan diri dari pelukanku.
Dia kemudian turun ke air dan kuikuti dia. Kuajak dia melanjutkan permainan yang
tertunda di dalam air. Dia tidak mau dan mendorongku. Aku tidak memaksanya. Ketika
dia mandi aku juga mandi. Sendiri-sendiri. Malamnya, dia tidur berdua setenda
denganku. Kebetulan malam itu dinginnya sampai ke tulang. Meskipun kami sudah
memakai pakaian hangat plus berselimutan. Ketika itu kami tidur saling berhadapan.

Aku terbangun dan pikiran gilaku muncul lagi. Kusingkirkan selimut. Kemudian
perlahan-lahan kuturunkan retsliting jaketnya. Aku kaget dia ternyata hanya memakai BH
di dalamnya. Dia rupanya terbangun juga dan tidak menolak ketika kulepas jaketnya.
Bahkan dia melepas jaketku sehingga kedua payudaraku yang tadi kututupi jaket
sekarang sudah telanjang. Dia melentangkanku dan dihisapnya kedua payudaraku
bergantian. Aku merasakan kehangatan. Mulutnya kemudian naik dan mencium bibirku
sambil dia melepas BH-nya. Aku lalu meremas kedua payudaranya begitu juga
dengannya. Kemudian di tidur di atasku dan berpelukan.

Kami bergulingan ke atas ke bawah sampai kami tidak merasakan kedinginan lagi bahkan
berkeringat. Vaginaku mulai basah sehingga ketika dia di bawahku aku lalu duduk dan
melepas retsliting celananya. Dia mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh dan langsung
dipeluknya sambil dia berkata bahwa dia tidak mau bertindak lebih jauh lagi. Aku
memakluminya dan kami akhirnya tidur berpelukan sampai pagi dan tidak merasakan
dingin lagi. Keesokan harinya rombongan kami pulang kembali ke kota.

Beberapa hari kemudian, aku yang tidak dapat menahan nafsu untuk bercumbu lagi
datang ke tempat kostnya. Kulihat di balik kaos putih tipisnya dia tidak mengenakan BH.
Kutanya kenapa dia tidak memakai BH. Dia menjawab bahwa BH-nya basah semua.
Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku duduk mendekatinya dan kuremas kedua
payudaranya. Dia mendesah yang kusambut dengan ciuman di bibirnya. Dia
mendorongku dan memintaku untuk tidak kurang ajar. Aku takut dia akan menjerit dan
terdengar dari luar kamar kostnya. Tapi dia kelihatanya juga kasihan padaku. Sambil dia
melepas kaosnya dia mengijinkanku mencumbunya untuk yang terakhir kalinya.

Dia lalu tidur dan aku mulai melepas seluruh pakaianku. Ketika aku ingin melepas CD,
dia melarangnya. Aku turuti larangannya. Kemudian kucium bibirnya sambil kuremas
kedua payudaranya. Dia juga meremas kedua payudaraku dan salah satu tangannya
kemudian turun ke bawah ke pantatku dan diremasnya pantatku. Aku disuruhnya berdiri
dan dia dari belakang memelukku dan tangan kirinya meremas kedua payudaraku
bergantian sedangkan tangan kanannya masuk ke CD-ku. Jarinya masuk ke vaginaku
yang sudah basah serta mengocok vaginaku perlahan-lahan.

Dia kemudian berlutut di hadapanku dan melepas CD-ku. Dijilatinya vaginaku yang
sudah basah. Salah satu tanganku menekan kepalanya dan tanganku yang satunya lagi
meremas kedua payudaraku sendiri bergantian. Aku mendesah berkali-kali ketika jarinya
mengocok vaginaku sambil dijilatinya cairan yang keluar dari vaginaku. Mulutnya
kemudian naik ke atas dan menghisap kedua payudaraku sedangkan kedua tangannya
melepas CD-nya sendiri.
Setelah itu mulutnya naik ke atas lagi dan mencium bibirku yang juga kubalas dengan
jilatan lidah. Sedangkan kedua vagina kami yang basah saling menempel. Tangannya
menekan pantatku sehingga kami berpelukan sambil berciuman, berjilat-jilatan, kedua
payudara dan vagina saling menempel ditambah dengan jarinya yang keluar masuk ke
pantatku yang kubalas dengan jariku yang juga keluar masuk ke pantatnya. Aku tidak
mengira Chintya akan sejauh ini. Aku menikmatinya sampai beberapa menit sampai kami
terkulai lemas.

Demikian pengalamanku bercumbu dengan Chintya meskipun kemudian dia tidak mau
lagi bercumbu denganku. Dia katanya mau hidup normal dan hanya menganggapku
sebagai teman. Cerita D