Anda di halaman 1dari 3

Penyuluhan pertanian

Penyuluhan Pertanian adalah suatu usaha atau upaya untuk mengubah perilaku petani dan
keluarganya, agar mereka mengetahui dan mempunyai kemauan serta mampu memecahkan
masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat
kehidupannya.[1] Menurut U.Samsudin S penyuluhan pertanian adalah suatu cara atau usaha
pendidikan yang bersifat di luar bangku sekolah (non formal) untuk para petani dan keluarganya di
pedesaan.[1] Menurut A.T. Mosher dalam penyuluhan terkandung arti aktivitas pendidikan di luar
bangku sekolah (non formal).[1]

Sejarah penyuluhan pertanian


Berawal pada tahun 1867-1868, James Stuart dari Trinity College untuk pertama kalinya
memberikan ceramah atau pengarahan kepada para wanita dan pekerja pria di Inggris Utara, sejak
itu Stuart dianggap sebagai bapak penyuluhan.[1] Kemudian pada tahun 1871 Stuart mengusulkan
pada Universitas Cambridge agar penyuluhan masuk kedalam mata kuliah, secara resmi pada
tahun 1873 Universitas Cambridge menerapkan sistem penyuluhan, yang diikuti oleh Universitas
London dan Universitas Oxford.[1] Menjelang tahun 1880 kegiatan yang mulanya dilakukan diarea
kampus telah melebar keluar kampus. Sejak abad ke 20 istilah penyuluhan pertanian mulai
digunakan di Amerika Serikat.[2]

Fungsi penyuluhan pertanian


Ada empat fungsi penyuluhan pertanian yaitu:
1. Pembuka jalan bagi petani untuk mendapatkan kebutuhanya dibidang pertanian khususnya
ilmu pengetahuan.[1]
2. Penyuluhan pertanian merupakan jembatan antara praktek atau kegiatan yang dijalankan
petani dengan pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang dan senantiasa
dibutuhkan oleh petani.[1]
3. Penyampai, pengusahaan dan penyesuaian program nasional dan regional agar dapat
dilaksanakan oleh petani dalam rangka mensukseskan program pembangunan nasional.[1]
4. Kegiatan pendidikan non formal yang dilakukan secara terus-menerus untuk mengikuti
perkembangan teknologi yang dinamis dan masalah-masalah pertanian yang berkembang. [1]

Tujuan penyuluhan pertanian


Tujuan Penyuluhan Pertanian mencakup tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. [1] Tujuan
penyuluhan jangka pendek yaitu menumbuhkan perubahan-perubahan dalam diri petani yang
mencakup tingkat pengetahuan, kecakapan, kemampuan, sikap, dan motivasi petani terhadap
kegiatan usaha tani yang dilakukan.[1] Tujuan penyuluhan jangka panjang yaitu peningkatan taraf
hidup masyarakat tani sehingga kesejahteraan hidup petani terjamin. [1] Tujuan pemerintah terhadap
penyuluhan pertanian adalah: meningkatkan produksi pangan, merangsang pertumbuhan ekonomi,
meningkatkan kesejahteraan keluarga petani dan rakyat desa, mengusahakan pertanian yang
berkelanjutan.[2]

Unsur-unsur penyuluhan pertanian


Unsur-Unsur Penyuluhan pertanian meliputi
1. Penyuluh pertanian, penyuluh pertanian adalah orang yang mengemban tugas memberikan
dorongan dan pengarahan kepada petani agar mau mengubah cara berfikir, sikap dan
perilaku nya terhadap perkembangan teknologi.[1]
2. Sasaran penyuluhan pertanian, sasaran penyuluhan pertanian adalah audiens yang akan
diberikan materi penyuluhan.[1]
3. Metode penyuluhan pertanian, metode penyuluhan adalah cara-cara yang digunakan pada
saat dilakukan penyuluhan, yang bersifat mendidik, membimbing, dan menerapkan
sehingga dapat mengubah pemahaman, sikap, dan perilaku petani agar dapat menolong
dirinya sendiri (self help).[1]
4. Media Penyuluhan pertanian, media penyuluhan adalah salurann yang menghubungkan
penyuluh dengan materi penyuluhannya dengan petani yang sedang mengikuti penyuluhan.
[1]

5. Materi Penyuluhan Pertanian, materi penyuluhan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi
pertanian yang disamapaikan pada saat dilakukan penyuluhan.[1]
6. Waktu Penyuluhan Pertanian, waktu penyuluhan merupakan waktu yang dipilih seorang
penyuluh untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada petani.[1]
7. Tempat Penyuluhan Pertanian. Tempat yang strategis dan mudah dijangkau oleh petani
untuk melangsungkan kegiatan penyuluhan.[1]

Falsafah penyuluhan pertanian


Falsafah penyuluhan pertanian tidak dapat dipisahkan dengan falsafah pendidikan pada umumnya,
karena penyuluhan pertanian merupakan kegiatan pendidikan non formaluntuk petani dan
keluarganya.[1] Falsafah pendidikan mencakup ''idealisme'', ''pragmatisme'' , dan ''realisme'' begitu
juga dengan penyuluhan pertanian.[1] Penyuluhan pertanian dilakaukan untuk memberikan ilmu
pengetahuan kepada petani dengan tujuan meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan petani
serta membentuk masyarakat yang adil dan makmur yang menjadi cita-cita pembangunan
nasional penyuluhan pertanian telah membentuk sebuah idealisme.[1] Dalam mengikuti kegiatan
penyuluhan pertanian petani belajar sambil berbuat (learning by doing) atau melaksanakan materi
penyuluhan, dengan demikian mencerminkan aliran pragmatisme dalam diri petani. [1] Pada saat
materi penyuluhan disampaikan banyak petani yang kurang percaya, akan tetapi setelah melihat
hasilnya yang kenyataanya memberikan keuntungan petani akan sadar dan percaya kemudian
mencobanya, hal ini mencerminkan realisme.[1]

Pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian adalah:
1. Apa yang harus dilakukan, apa yang akan kita lakukan pada kegiatan penyuluhan terhadap
petani misalnya, menyebarkan informasi pertanian yang bermanfaat.[3]
2. Di mana penyuluhan pertanian dilakukan, kegiatan penyuluhan semestinya dilakukan
ditempat keluarga tani itu berada,misalnya tempat penjualan saprodi,
rumah PPL,masjid, greja, balai desa, tempat perkumpulan keluarga tani (PKK, kelompok
tani, dll).[4]
3. Bilamana kegiatan penyuluhan dilakukan, waktu yang dipilih untuk melaksanakan kegiatan
penyuluhan harus sesuai dengan keperluan dan kondisi sasaran. [5]
4. Oleh siapa kegiatan penyuluhan dilakukan, penyuluhan dilakukan oleh seorang penyuluh
pertanian yang prefesional baik PNS, swadaya, atau sukarelawan.[5]
5. Bagaimana kegiatan penyuluhan pertanian dilakukan, agar kegiatan penyuluhan
memperoleh hasil yang maksimal maka harus memenuhi syarat sesuai keadaan sasaran,
cukup dalam jumlah dan mutu, tepat mengenai sasaran dan waktunya, amanat harus
diterima dan dimengerti, murah pembiayaan.[6]