Anda di halaman 1dari 4

Geologi Struktur (Billings, 1972)

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 HUBUNGAN ANTARA GEOLOGI STRUKTUR DENGAN GEOLOGI
Istilah geologi (geology) dewasa ini dianggap sinonim dengan istilah solid earth sciences. Ilmu bumi (earth sciences) adalah
ilmu-ilmu yang membahas tentang berbagai aspek dan fenomena bumi. Kelompok ilmu tersebut terdiri dari beberapa disiplin
seperti geologi, geofisika, meteorologi, dan sebagian oseanografi. Para ahli geologi terutama mempelajari bagian padat bumi.
Solid earth sciences adalah ilmu-ilmu tentang sifat fisika, sifat kimia, dan berbagai proses yang bekerja di bumi dan benda ruang angkasa lain; asalusul, perkembangan, penyebaran, dan kegunaan berbagai material penyusun bumi serta lahan secara keseluruhan; serta tentang interaksi antara
bagian padat bumi dengan atmosfir dan hidrosfir (Bove, 1969).

Geologi merupakan ilmu yang mempunyai ruang lingkup luas sehingga kemudian dibagi menjadi beberapa cabang. Walau
demikian, pembagian itu sebenarnya bersifat arbitrer. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak ahli geologi memiliki
spesialisasi dalam dua atau lebih cabang ilmu geologi. Bahkan, lingkup kajian beberapa ahli geologi bertumpang-tindih dengan
lingkup kajian ahli-ahli fisika, kimia, dan biologi.
Geologi struktur (structural geology) adalah ilmu tentang arsitektur batuan hasil deformasi. Menurut sebagian ahli, tektonika
(tectonics) dan geologi tektonik (tectonic geology) adalah istilah-istilah yang sinonim dengan istilah geologi struktur. Menurut
sebagian ahli lain, keduanya tidak sinonim karena geologi struktur terutama menujukan perhatiannya pada geometri batuan,
sedangkan tektonika menujukan perhatiannya pada gaya-gaya internal bumi dan pergerakan yang mengakibatkan terbentuknya
struktur (Wilson, 1961). Gaya-gaya internal bumi menyebabkan terjadinya pergerakan yang mempengaruhi batuan padat dan,
pada gilirannya, menyebabkan terbentuknya sesar (fault), lipatan (fold), kekar (joint), dan foliasi (foliation). Pergerakan magma,
karena sering berasosiasi dengan perpindahan (displacement) tubuh batuan, juga termasuk dalam ruang lingkup kajian geologi
struktur. Deformasi yang terjadi pada berbagai benda-benda luar angkasa, serta efek-efek tumbukan (collison) antar benda
ekstraterestrial, juga merupakan objek geologi struktur.
Tujuan geologi struktur adalah untuk menentukan dan menjelaskan arsitektur batuan yang ditemukan di lapangan.
Pengamatan laboratorium hanya memiliki arti sekunder dalam studi geologi struktur.
Pemecahan masalah struktur di lapangan sebenarnya hanya merupakan satu bagian dari keseluruhan pekerjaan lapangan.
Untuk dapat melakukan penelitian struktur dengan baik, kita perlu memiliki dasar-dasar pengetahuan yang mantap dalam
cabang-cabang ilmu geologi yang lain. Sebagai contoh, kita tidak akan dapat meneliti struktur batuan sedimen yang terlipat
dan/atau tersesarkan tanpa memiliki pengetahuan stratigrafi. Sedimentasi memberikan banyak penting informasi mengenai
peristiwa-peristiwa tektonik yang berlangsung pada tempat yang berdekatan dengan cekungan pengendapan batuan berlapis.
Pengetahuan paleontologi sangat diperlukan oleh ahli geologi struktur yang meneliti batuan yang mengandung fosil. Petrologi
memberikan banyak informasi mengenai sejarah struktur batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Mineralogi
diperlukan karena sebagian besar batuan disusun oleh mineral. Vulkanologi memberikan pengetahuan yang diperlukan untuk
mempelajari struktur batuan vulkanik dan struktur yang berkembang di wilayah gunungapi. Geomorfologi diperlukan oleh para
ahli geologi struktur yang mempelajari daerah beraktivitas tektonik resen, di tempat mana topografi merupakan ungkapan
langsung dari tatanan struktur di daerah tersebut. Bahkan, untuk daerah yang telah lama dikenai oleh aktivitas tektonik,
geomorfologi dapat memberikan informasi penting mengenai struktur di daerah tersebut.
Banyak ilmu, misalnya geofisika, menyumbangkan metoda dan alat untuk memecahkan masalah geologi struktur. Geofisika
antara lain mencakup seismologi, studi gravitasi, studi kelistrikan bumi, dan magnetisme. Seismologi banyak membantu
memecahkan masalah geologi struktur. Selain itu, seismologi merupakan sumber informasi utama mengenai khuluk interior bumi
yang merupakan sumber energi tektonik. Mekanika batuan (rock mechanics) banyak memberikan informasi mengenai sifat-sifat
fisik batuan dan kebenaan sifat-sifat itu dalam deformasi batuan dan proyek rekayasa. Paleomagnetisme mempelajari medan
magnet purba dan kebenaan tektoniknya. Geokimia pada dasarnya merupakan penerapan prinsip-prinsip kimia untuk
memecahkan berbagai masalah geologi. Ruang lingkup kajian geokimia bertumpang-tindih dengan beberapa cabang ilmu
geologi seperti mineralogi, petrologi, dan pelapukan. Geokronologi membahas tentang penentuan saat-saat terjadinya peristiwa
geologi. Selama satu setengah abad terakhir, penentuan umur formasi geologi didasarkan pada hasil analisis fosil yang ada
didalamnya. Akhir-akhir ini banyak digunakan metoda penanggalan lain seperti analisis tree rings dan lempung warwa. Salah
satu metoda penanggalan penting adalah penanggalan radiogenik (radiogenic dating) yang secara teoritis dapat digunakan
untuk menentukan umur setiap peristiwa geologi dalam satuan tahun.
Ilmu geologi berevolusi dari hasil-hasil pengamatan yang dilakukan di daratan. Meskipun permukaan laut sejak lama
menarik perhatian para ilmuwan, namun baru-baru ini saja batuan padat yang terletak di bawah kolom air itu mulai diteliti secara
seksama. Osenografi merupakan ilmu yang merupakan hasil penggabungan beberapa disiplin ilmu lain, terutama fisika, kimia,
biologi, dan geologi. Para ahli geologi struktur secara khusus tertarik pada struktur lantai samudra serta kerak dan selubung
bumi yang terletak dibawahnya. Evolusi lantai samudra merupakan salah satu topik bahasan geologi struktur yang menarik.

Geologi Struktur (Billings, 1972)

Pada beberapa tahun terakhir, para ahli geologiterutama para ahli mineralogi, petrologi, geologi struktur, dan geomorfologi
terlibat dalam geologi bulan (lunar geology).
1.2 TUJUAN GEOLOGI STRUKTUR
Menurut Goguel (1962), para ahli geologi struktur dihadapkan pada 3 (tiga) permasalahan utama, yaitu:
1. Jenis struktur apa yang berkembang pada suatu daerah?
2. Kapan struktur tersebut terbentuk?
3. Di bawah kondisi fisik yang bagaimana struktur tersebut terbentuk?
Untuk menjawab pertanyaan pertama, para ahli geologi struktur harus dapat menentukan bentuk dan ukuran tubuh batuan.
Apakah tubuh batuan itu merupakan massa tabuler-datar yang menutupi suatu daerah yang luas, berupa massa tabuler yang
terlipat membentuk gelombang yang panjangnya beberapa kilometer, atau berupa massa silindris yang mempunyai diameter
ribuan meter dan tinggi beberapa kilometer?
Geologi lapangan sangat penting artinya dalam penelitian berbagai cabang geologi. Hal itu merupakan salah satu ciri
pembeda antara geologi dengan disiplin ilmu lain. Dalam penyelidikan seperti itu, ketepatan penentuan lokasi singkapan sangat
penting artinya dan untuk dapat menentukan lokasi suatu singkapan secara tepat diperlukan adanya peta dasar yang akurat.
Sebagian besar permukaan bumi telah dipetakan dan disajikan dalam bentuk peta topografi. Dengan adanya peta topografi,
para ahli geologi struktur dapat menentukan lokasi suatu singkapan secara akurat. Foto udara juga sangat bermanfaat dalam
kegiatan geologi lapangan. Foto udara, yang dibuat dengan cara melakukan pemotretan langsung dari udara, pada dasarnya
merupakan sebuah peta. Dalam beberapa hal, foto udara memiliki kelebihan tersendiri dibanding peta topografi karena foto itu
tidak saja memperlihatkan semua gejala alami dan gejala artifisial dengan akurasi yang tinggi, namun juga memperlihatkan
kehadiran objek-objek tertentu yang tidak terlihat dalam peta topografi, misalnya pepohonan, hutan, padang terbuka, dsb. Di lain
pihak, foto udara tidak memperlihatkan kontur topografi. Selain itu, untuk daerah berbukit-bukit atau pegunungan, skala yang
diperlihatkan oleh foto udara tidak sama di setiap tempat. Apabila bekerja di daerah yang peta topografi atau foto udaranya
belum ada, setiap ahli geologi harus mampu membuat peta dasar, biasanya dengan menggunakan plane-table methods.
Pembahasan tentang metoda-metoda penelitian lapangan berada di luar ruang lingkup buku ini. Mereka yang ingin mengetahui
lebih banyak berbagai metoda lapangan geologi dipersilahkan untuk menelaah buku-buku geologi lapangan seperti yang
disusun oleh Compton (1962) dan Lahee (1961).
Keberhasilan penelitian geologi lapangan antara lain ditentukan oleh jumlah fakta penting yang diperoleh. Pada setiap
singkapan seorang ahli geologi mencatat data apapun yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkannya. Idealnya, dia
tidak perlu melakukan penelitian lebih dari satu kali pada suatu singkapan. Hal itu terutama penting artinya apabila singkapan itu
terletak di tempat yang terpencil. Sebenarnya, apabila penelitian lapangan dirancang secara cermat dan seksama, setiap ahli
geologi tidak perlu lagi melakukan penelitian berkali-kali pada tempat yang sama, kecuali apabila dia melakukan beberapa
termin penelitian yang tujuannya berbeda-beda.
Pemetaan geologi menuntut kecakapan dan kebijaksanaan. Pemetaan geologi menuntut daya observasi yang tajam dan
pengetahuan yang memadai tentang jenis data yang diperlukan untuk memecahkan suatu permasalahan. Pengalaman dan
kebijaksanaan merupakan hal yang esensil, terutama ketika seorang ahli geologi mulai mengevaluasi data yang didapatkan dari
ribuan singkapan. Dalam menyusun deduksi mengenai struktur geologi yang berkembang di daerah penelitiannya, seorang ahli
geologi lapangan harus menggunakan metoda hipotesis kerja berganda (multiple working hypothesis) (Chamberlin, 1897).
Sejalan dengan terus berlangsungnya penelitian lapangan, seorang ahli geologi lapangan harus terus-menerus mengajukan
sebanyak mungkin tafsiran yang sesuai dengan fakta-fakta yang ada. Setelah itu, dia harus memformulasikan cara-cara untuk
menguji kesahihan setiap tafsiran tersebut (Gilbert, 1886) dengan cara memeriksa kesesuaian antara tafsiran itu dengan semua
data yang ada serta memeriksa kesahihan prediksi yang diturunkan dari setiap tafsiran itu. Banyak tafsiran di kemudian hari
akan ditinggalkan karena terbukti tidak sesuai dengan fakta baru. Sebaliknya, akan ada tafsiran baru yang lebih sesuai dengan
semua fakta tersebut. Tafsiran akhir yang diperoleh kemungkinan akan jauh berbeda dengan hipotesis yang diajukan pada awal
pelaksanaan penelitian.
Sebenarnya terlalu naif untuk mengatakan bahwa seorang ahli geologi pertama-tama hendaknya hanya bekerja dengan
fakta, sedangkan tafsiran baru diajukan kemudian setelah semua fakta diperoleh. Sebenarnya, apabila memiliki sekian banyak
tafsiran tentatif selama bekerja di lapangan, seorang ahli geologi lapangan akan tahu cara-cara untuk menguji setiap tafsiran itu
dengan fakta. Selain itu, adanya hipotesis-hipotesis tersebut akan membawa dia untuk sampai pada singkapan-singkapan kritis.
Apabila tidak dituntun oleh hipotesis-hipotesis tersebut, dia mungkin tidak akan pernah mencari singkapan-singkapan tersebut.
Di lain pihak, seorang ahli geologi lapangan hendaknya tidak pernah menganggap suatu hipotesis tentatif sebagai sebuah teori
karena hal itu dapat mendorongnya untuk mengabaikan fakta-fakta yang sebenarnya bertentangan dengan hipotesis itu.
Meskipun sebagian besar data geologi struktur di masa lalu diperoleh dari hasil pengamatan langsung, baik yang dilakukan
di permukaan bumi maupun dalam lubang-lubang pertambangan, namun makin lama makin banyak data struktur yang diperoleh
dari hasil pengamatan tidak langsung. Sebagai contoh, para ahli geologi perminyakan (petroleum geologist) banyak mendapatkan informasi struktur dari hasil pemelajaran lubang bor dan data geofisika. Geologi bawah permukaan (subsurface geology)
sebenarnya tidak hanya mencakup metoda-metoda geologi struktur, namun juga mencakup metoda-metoda paleontologi,
stratigrafi, sedimentologi, dan geofisika.

Geologi Struktur (Billings, 1972)

Foto udara (Ray, 1960) tidak hanya bermanfaat sebagai peta dasar, namun sering memperlihatkan gejala struktur yang tidak
disangka-sangka. Selain itu, sebuah peta geologi dapat dibuat dari peta tersebutdengan tambahan kontrol lapangan yang
tidak terlalu banyakapabila foto itu berasal dari daerah yang relatif terbuka dan tatanan geologi strukturnya tidak terlalu rumit.
Foto udara yang spektakuler dapat diperoleh dari hasil pemotretan satelit yang mengelilingi bumi (Pesa, 1968). Akhir-akhir ini
para ahli pengindraan jarak jauh (remote sensing) mengembangkan beberapa teknik foto udara yang memungkinkan direkamnya radiasi sinar gamma dan sinar inframerah yang dipantulkan oleh permukaan bumi. (Rydstrom, 1967) Selain itu, para ahli
pengindraan jarak jauh juga telah mengembangkan teknik pemakaian radar untuk membuat citra permukaan bumi (Rydstrom,
1967). Peta-peta geologi bulan, yang pada dasarnya merupakan peta struktur, telah dibuat berdasarkan foto-foto yang dibuat
oleh satelit dan teleskop (Wilhelms, 1968). Teknik-teknik khusus juga telah dikembangkan untuk mempelajari dasar laut
(Menard, 1964; Shepard, 1959) dan bulan (Abelson, 1970).
Tujuan kedua dari geologi struktur adalah menentukan urut-urutan umur berbagai struktur. Misalnya seorang peneliti
menemukan satu antiklin, satu sesar, dan satu retas di suatu daerah. Pertanyaannya adalah: bagaimana umur relatif dari ketiga
struktur tersebut? Antiklin mungkin merupakan struktur tertua dan retas kemungkinan merupakan struktur termuda. Namun
mungkin saja sesar merupakan struktur tertua, sedangkan antiklin merupakan struktur termuda. Disamping itu banyak pula
kemungkinan lain, bahkan di beberapa daerah, urut-urutan kronologis struktur mungkin sangat kompleks.
Seorang ahli geologi struktur tidak hanya menujukan perhatiannya pada urut-urutan peristiwa di daerah penelitiannya,
namun dia juga mungkin ingin mengetahui sejarah geologi daerah tersebut dalam konstelasi sejarah geologi dari bumi secara
keseluruhan. Penempatan sejarah geologi suatu daerah dalam kerangka sejarah bumi dapat dilaksanakan dengan menggunakan metoda penanggalan paleontologi (Kummel, 1970) atau metoda penanggalan radiogenik (Hamilton, 1965).
Tujuan ketiga dari geologi struktur adalah menentukan proses-proses fisika yang menghasilkan struktur. Pada temperatur
dan tekanan berapa suatu struktur terbentuk, dan bagaimana penyebaran stress pada saat itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut
sebaiknya dijawab terlebih dahulu sebelum seorang ahli geologi struktur menafsirkan sebab-musabab terbentuknya struktur
tersebut. Tanpa mengetahui distribusi stress pada saat struktur itu terbentuk, seorang ahli geologi struktur tidak akan dapat
menentukan apakah suatu lipatan terbentuk akibat kontraksi bumi, arus konveksi yang mengalir di bawah kerak bumi, atau
akibat injeksi magma.
Geologi eksperimental menghasilkan banyak data yang bermanfaat untuk memahami proses-proses tektonik. Hingga sejauh
ini, banyak sifat fisik batuan yang telah diteliti oleh para ahli (Clark, 1966). Meskipun para ahli menemukan banyak kesukaran
dalam membuat simulasi kondisi-kondisi alami dan menganalisis pengaruh dari semua faktor yang terlibat dalam pembentukan
struktur deformasi, namun banyak hal telah dapat dicapai dengan digunakannya beberapa peralatan canggih (Donath, 1970).
Dalam beberapa percobaan, para ahli mencoba untuk mereproduksikan struktur deformasi dalam model-model berskala
kecil untuk mengetahui jenis-jenis struktur apa saja yang akan terbentuk akibat diterapkannya gaya-gaya tertentu. Contoh klasik
dari percobaan seperti itu adalah pembentukan lipatan ketika material berlapis ditekan secara perlahan-lahan oleh suatu piston.
Walau demikian, kebenaan percobaan-percobaan tersebut masih dipertanyakan karena dalam banyak kasus para peneliti
ternyata mengganti-ganti material atau kondisi percobaan sedemikian rupa sehingga akhirnya mereka mendapatkan hasil yang
diharapkannya. Sebenarnya kita dapat merekonstruksikan model-model skala kecil yang merupakan simulasi dari kondisikondisi alami dengan cara menerapkan berbagai prinsip rekayasa secara tepat (Hubbert, 1937; Ramberg, 1967).
1.3 RUANG LINGKUP BUKU INI
Sebelum dapat menganalisis struktur suatu rantai pegunungan, kita harus mendapatkan informasi yang teliti tentang kondisi
geologi pada sekian banyak daerah kecil yang merupakan bagian dari rantai pegunungan tersebut. Daerah-daerah kecil itu
mungkin memiliki luas mulai dari sekitar 50 mil 2 hingga sekitar 200 mil2, namun daerah itu mungkin pula berupa suatu lapangan
migas atau suatu lokasi pertambangan. Penelitian terhadap tatanan struktur dari daerah-daerah yang relatif kecil seperti itu
merupakan langkah pertama untuk menyelesaikan masalah struktur pada rantai pegunungan itu (Bucher, 1950).
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah sintesis fakta-fakta yang diperoleh dari hasil penelitian pada daerah-daerah kecil
untuk mendapatkan suatu gambaran terpadu mengenai struktur dan sejarah tektonik kerak bumi. Sintesis itu terutama perlu
didasarkan pada pengetahuan mengenai literatur geologi struktur karena tidak ada seorang pun yang dapat melakukan
penelitian mendetil pada sekian banyak daerah kecil. Namun perlu dicamkan bahwa sebelum mencoba untuk menyusun sintesis
seperti itu, setiap ahli geologi struktur perlu menelaah terlebih dahulu kehandalan dan kebenaan berbagai informasi yang telah
diterbitkan selama itu. Untuk dapat melakukan penilaian seperti itu, ahli geologi tersebut sudah barang tentu perlu memiliki
sekian banyak pengalaman dalam melakukan penelitian struktur yang mendetil. Contoh-contoh sintesis geologi struktur klasik
adalah karya Edward Suess (diterbitkan sejak 1904 hingga 1924), Beloussov (1962), Bucher (1933), dan Umbgrove (1947).
Buku ini hanya akan membahas struktur-struktur deformasi lokal. Meskipun penting dan menarik, sintesis struktur pada
suatu daerah yang luas merupakan topik bahasan geologi struktur tingkat lanjut sehingga kurang tepat untuk disajikan dalam
buku yang bersifat elementer ini. Selain itu, sintesis struktur baru dapat dilaksanakan apabila seseorang telah menguasai
prinsip-prinsip struktur lokal.
Pemelajaran geologi struktur akan terasa kering dan tidak akan terlalu terasa manfaatnya apabila tidak disertai dengan
pembahasan tentang gaya-gaya yang terlibat dalam pembentukan struktur. Dalam praktek sebenarnya, setiap ahli geologi

Geologi Struktur (Billings, 1972)

struktur biasanya memulai penelitiannya dengan melakukan pengamatan lapangan. Setelah itu dia mencoba untuk menyusun
berbagai tafsiran mengenai struktur-struktur deformasi yang ditemukannya. Terakhir, dia akan mencoba untuk menafsirkan
khuluk gaya-gaya yang menyebabkan terbentuknya struktur-struktur tersebut. Pengamatan dan pemerian biasanya dilakukan
sebelum penafsiran. Karena itu, logis kiranya apabila pembahasan mengenai mekanika pembentukan struktur deformasi juga
dibahas pada bagian akhir sebuah buku yang bersifat elementer seperti ini. Walau demikian, penulis melihat bahwa hasil yang
lebih memuaskan akan diperoleh apabila kita membahas setiap kategori struktur sebagai suatu satuan, memerikannya,
kemudian membahas tentang gaya-gaya yang terlibat dalam pembentukannya. Karena itu, setelah bab ini, kita akan membahas
terlebih dahulu prinsip-prinsip mekanika agar pembahasan mengenai asal-usul setiap kategori struktur pada bab-bab berikutnya
dapat dilaksanakan dengan lebih baik lagi.
RUJUKAN
Abelson, PH (ed.) 1970. The moon issue. Science 167:480-792.
Beloussov, VV. 1962. Basic Problems in Geotectonics. New York: McGraw-Hill. 816 h.
Bishop, MS. 1960. Subsurface Mapping. New York: John Wiley & Sons. 198 h.
Bove, AN (ed.) 1969. Earth-Science Newsletter (NAS-NAE-NRC) No. 5. Hlm. 4.
Bucher, WH. 1933. The Deformation of the Earths Crust. Princeton: Princeton University Press. 518 h.
Bucher, WH. 1950. Megatectonics and geophysics. AGU Trans. 31:495-507.
Chamberlin, TC. 1897. The method of multiple working hypotheses. Jour. Geol. 5:837-848.
Clark, SP, Jr. 1966. Handbook of Physical Constants. GSA Mem. 97. 587 h.
Compton, RR. 1962. Manual of Field Geology. New York: John Wiley & Sons. 378 h.
Donath, FA. 1970. Some information squeezed out of rock. Amer. Scientist 58:54-72.
Gilbert, GK. 1886. The inculcation of scientific method, with an illustration drawn from Quaternary geology of Utah. Amer. Jour. Sci. Ser. 3. 31:284-299.
Goguel, J. 1962. Tectonics. San Fransisco: W. H. Freeman & Co. 384 h. [Diterjemahkan oleh Hans E. Thalmann dari edisi Bahasa Perancis yang diterbitkan
pada 1952].
Hamilton, EI. 1965. Applied Geochronology. London: Academic Press. 267 h.
Hubbert, MK. 1937. Theory of scale models as applied to the study of geologic strucutres. GSA Bull. 48:1459-1520.
Kummel, B. 1970. History of the Earth. edisi-2. San Fransisco: W. H. Freeman & Co. 707 h.
Lahee, FH. 1961. Field Geology. edisi-6. New York: McGraw-Hill. 926 h.
Menard, HW. 1964. Marine Geology of the Pacific. New York: McGraw-Hill. 271 h.
Pesa, A. 1968. Gemini Space Photographs of Libya and Tibesti. Tripoli: Petroleum Exploration Society of Libya.
Ramberg, H. 1967. Gravity, Deformation, and the Earths Crust. London: Academic Press. 214 h.
Ray, RG. 1960. Aerial Photographs in Geologic Interpretation and Mapping. USGS Prof. Paper 373. 230 h.
Rydstrom, HP. 1967. Interpreting geology from radar imagery. GSA Bull. 78:429-436.
Shepard, FP. 1959. The Earth Beneath the Sea. Baltimore: John Hopkins University Press.
Suess, E. 1904-1924. The Face of the Earth. 5 jilid. Oxford: Clarendon Press.
Umbgrove, JHF. 1947. The Pulse of the Earth. edisi-2. The Hague: Martinus Nijhoff. 358 h.
Wilhelms, DE. 1968. Geological Map of Mare Vaporum Quadrangle: Geological Atlas of the Moon, I-54g (LAC 59). USGS.
Wilson, G. 1961. The tectonic significance of small-scale structures and their importance to the geologist in the field. Annales de la Socit Gologique de
Belgique. Tome 84. Hlm. 423-548.