Anda di halaman 1dari 36

Prosedur Audit Selanjutnya

Tinjauan umum
Prosedur Substantif
Prosedur substantif dapat dilaksanakan auditor untuk :

Mengumpulkan bukti tentang asersi yang menjadi dasar dan merupakan


bagian yang tidak terpisahkan (embedded) dalam salio akun dan jenis transaksi

Mendeteksi salah saji yang material

Uji Pengendalian (Test Of Controls)


o Menangani asersi-asersi tertentu
o Mencegah atau menemukan dan
mengoreksi kesalahan dan kecurangan yang
material.

Prosedur Substantif
o Test of details (uji rinci)
sebagai prosedur substantif, test of details ini melihat
substansi (misalnya dari satu akun) dengan menganalisis
rincian atau detailnya.
o Substantive analytical procedures (prosedur analitikal
substansi)
sama seperti test of details, sebagai prosedur substantif ia
melihat substansi angka dalam laporan keuangan

Uji Rinci (Test of Details)


Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam uji rinci adalah
sebagai berikut:
Saldo akun, transaksi, dan disclosure yang
material.
Prosedur audit yang diwajibkan
Perlunya prosedur konfirmasi eksternal
Risiko yang signifikan
Timing(penentuan waktu)

Dalam menentukan prosedur substantif mana yang paling tepat


menanggapi risiko yang dinilai (assessed risk), auditor dapat
melaksanakan:
1. Uji rinci (test of details) saja; atau
2.

Kalau tidak ada salah saji material yang signifikan, prosedur


analitikal substantif saja; atau

3.

Kombinasi uji rinci dan prosedur analitikal substantif.

Melaksanakan Prosedur Substantif pada


Tanggal Interim
Ketika prosedur substantif dilaksanakan pada tanggal
interim, auditor wajib melaksanakan prosedur substantif
selanjutnya, atau prosedur substantif yang dikombinasikan
dengan uji pengendalian untuk periode tersisa.

Prosedur Audit untuk Periode Sisa


Ketika prosedur audit dilaksanakan pada tanggal
interim:
o Bandingkan konfirmasi pada akhir tahun/periode dengan informasi terkait/
pembanding (compare information) pada tanggal interim
o

Identifikasi angka-angka yang kelihatannya janggal atau tidak umum (unusual)

o Sewaktu merencanakan prosedur analitikal substantif, lihat apakah prakiraan


saldo akhir tahun/periode dari jenis transaksi atau akun tertentu memang dapat
dibuat; dan
o Perhatikan prosedur entitas untuk menganalisis dan menyesuaikan jenis
transaksi atau saldo akun pada tanggal interim.

Prosedur Substantif yang Dilaksanakan


pada Periode yang Lalu

Penggunaan bukti audit yang diperoleh


melalui prosedur substantif yang
dilaksanakan pada periode yang lalu, dapat
dimanfaatkan dalam perencanaan audit
tahun ini.

Konfirmasi Eksternal
Sewaktu menggunakan prosedur konfirmasi eksternal,
auditor wajib mengendalikan seluruh proses permintaan
konfirmasi, termasuk:
a)
Menentukan informasi yang harus dikonfirmasi
atau akan diminta;
b)

Memilih siapa yang akan dimintai konfirmasinya;

c)

Merancang permintaan konfirmasi;

d)

Mengirimkan formulir konfirmasi.

Prosedur Analitikal
Substantif
Dalam prosedur analitikal substantif auditor
membandingkan angka-angka atau hubunganhubungan dalam atau di antara unsur-unsur
laporan keuangan. Dari informasi yang diperoleh
dalam tahap memahami entitas dan dari buktibukti lain, auditor dapat mengembangkan suatu
ekspektasi tertentu.
Untuk menggunakan prosedur analitikal sebagai
prosedur substantif, auditor harus merancang
prosedur
untuk
menekankan
risiko
tidak
terdeteksinya salah saji yang material dalam asersi
terkait, ke tingkat rendah yang dapat diterima.

Teknik Prosedur Analitikal


Teknik-teknik
prosedur
analitikal
adalah analisis rasio (ratio analysis),
analisis tren (trend analysis), analisis
pulang-pokok (break-even analysis),
analisis pola (pattern analysis) dan
analisis regresi (regression analysis).
Tujuannya ialah memilih teknik yang
paling tepat untuk memberikan tingkat
asuransi yang dikehendaki.


Perbedaan dengan Ekspektasi

Prosedur untuk menginvestigasi lebih lanjut


perbedaan dapat terdiri atas :
Pertimbangkan kembali metode dan faktor yang
digunakan untuk merumuskan ekspektasi.
Tanya atau minta penjelasan dari manajemen
tentang kemungkinan sebab-sebab perbedaan.
Nilai jawaban atau tanggapan manajemen, dengan
memperhatikan pemahaman auditor mengenai
bisnis entitas tersebut.
Lakukan prosedur audit lainnya untuk menguatkan
penjelasan yang diberikan manajemen.

Tujuan Uji Pengendalian


Uji pengendalian akan dipertimbangkan
auditor untuk digunakan, dalam hal:
Penilaian risiko didasarkan atas
ekspektasi bahwa pengendalian
internal berfungsi secara efektif, atau
Prosedur substantif saja tidak akan
dapat memberikan bukti audit yang
cukup dan tepat pada tingkat asersi.

Uji pengendalian dirancang untuk


memperoleh bukti audit mengenai :
Bagaimana prosedur pengendalian
internal diterapkan sepanjang audit
atau selama angkat waktu yang
relevan.
Konsistensi penerapan pengendalian
tersebut
Oleh siapa dengan cara apa
pengendalian diterapkan.


Merancang Uji Pengendalian

Uji pengendalian dirancang untuk


memperoleh bukti mengenai berfungsinya
pengendalian di dalam setiap unsur dari
pengendalian internal.
Pengendalian spesifik langsung menangani
pencegahan, ada pendeteksian dan
pembetulan salah saji. Di lain pihak,
pengendalian pervasif memberikan landasan
untuk pengendalian spesifik dan
memengaruhi bekerja atau berfungsinya
pengendalian spesifik tersebut.


Pengendalian yang Diotomatisasi
Tak jarang kegiatan pengendalian
dilaksanakan oleh komputer dan dokumen
pendukung tidak ada. Dalam situasi seperti
ini, auditor mungkin harus mengulang
prosesnya untuk memastikan bahwa
pengendalian aplikasi perangkat lunak
memang berfungsi seperti desainnya.
Pendekatan lainnya ialah menggunakan
Teknik Audit Berbantuan Komputer atau
Computer-Assisted Techniques (CAATs).

Uji Pengendalian dengan Rotasi


Prosedur audit bergantung pada pengendalian untuk
memitigasi (mencegah) risiko yang signifikan
Pengendalian internal sudah berubah sejak audit yang lalu,
atau risiko yang dimitigasi (dicegah) oleh pengendalian
tersebut sudah berubah
Lingkungan pengendalian lemah
Pemantauan atas berjalannya pengendalian internal lemah
Ada unsur manual yang signifikan dalam pengendalian yang
diuji
Perubahan personalia yang mempengaruhi secara signifikan
penerapan pengendalian yang di uji
Perubahan keadaan mengindikasikan perlunya perubahan
dalam pengendalian
General IT Control lemah atau tidak efektif.

MENENTUKAN LUASNYA
PENGUJIAN

Tinjauan Umum

Bukti audit yang cukup dan tepat dapat


diperoleh dengan memilih dan memeriksa
dengan cara sebagai berikut.
Semua Item memilih dan memeriksa semua
Item atau seluruh population tepat dalam hal :
Populasi masing-masingnya bernilai tinggi
Ada risiko yang signifikan dan cara-cara lain
tidak memberikan bukti audit yang cukup dan
tepat
CAATs dapat diterapkan dalam populasi yang
besar secara elektronis

Items yang spesifik memilih dan memeriksa intens yang


spesifik, merupakan cara yang tepat dalam hal :
Items yang spesifik itu bernilai tinggi atau merupakan item
utama yang secara individu bisa berdampak pada salah saji
material.
Semua items di atas nilai tertentu ditetapkan secara khusus
Semua items yang tidak biasa atau sensitif termasuk
disclosures mengenai hal-hal yang tidak biasa atau sensitif
Semua items yang sangat rentan terhadap salah saji
Semua items yang dapatmemberikan informasi tentang halhal seperi sifat khas entitas, sifat dari suatu transaksi, dan
pengendalian internal
Semua items untuk menguji berfungsinya kegiatan
pengendalian tersebut.
Items yang mewakili populasi merupakan cara yang tepat
untuk menyimpulkan seluruh set of data (atau Population)
dengan memlih dan memeriksa items yang mewakili.

Teknik Sampling
Dalam setiap sampel di bawah 100% dari populasi,
senantiasa ada risiko salah saji yang tidak
teridentifikasi dan salah saji ini melampaui tingkat
salah saji yang dapat diterima (tolerable level of
misstatement) atau tingkat penyimpangan yang
dapat diterima (tolerable level of Aviation). Risiko
ini disebut sampling risk. Sampling risk dapat
dikurangi dengan menaikkan banyaknya sampel.
Sedangkan non-sampling risk dapat dikurangi
dengan perencanaan, pelaksanaan, supervisi, dan
reviu atas pekerjaan audit dengan benar.

Ada dua jenis sampling yang lazim


digunakan dalam auditing, yaitu statistical
sampling dan non-statistical sampling.
Dalam statistical sampling, atribut dari
sampel adalah sebagai berikut.
Sampel dipilih secara acak.
Hasilnya dapat diproyeksikan secara
matematis.
Pendekatan yang tidak menggunakan ciri
atau atribut yang disebut diatas adalah
non-statistical sampling.

Memahami Sampling

Tolerable misstatement digunakan dalam sampling untuk


uji rincian untuk menangani :
Risiko bahwa gabungan dari semua salah saji yang tidak
material mengakibatkan laporan keuangan disalahsajikan
secara material, dan
Memberikan margin bagi salah saji yang mungkin tidak
terdeteksi.
Tolerable rate of deviation digunakan dalam uji
pengendalian di mana auditor menekan tingkat
penyimpangan dari prosedur pengendalian internal yang
dirancang, untuk memperoleh tingkat asuransi yang tepat.

Luasnya Prosedur Subtantif


Menentukan Sample Size dengan MUS
Cara yang paling umum dalam metode
sampling pada uji rincian adalah
monetary-unit sampling disingkat MUS.
Dengan MUS, problabilitas terpilihnya
suatu item (seperti saldo piutang
pelanggan)adalah
berbanding
lurus
dengan nilai moneter item itu.

Pemilihan Confidence Factor


Dalam merancang uji substantif, auditor
dapat memanfaatkan 3 tingkat penurunan
risiko, yakni tinggi, moderat, dan rendah.
Perbedaan ketiga tingkat penurunan risiko
dapat didasarkan atas confidence factor
yang digunakan dalam memilih sampel.
Makin tinggi confidence factor, makin
banyak sampel yang diambil dan makin
tinggi tingkat pengurangan risiko yang
diperoleh.

Tabel berikut menunjukkan confidence


levels yang ingin dicapai untuk tingkat
Penurunan Risiko risiko
Confidence
Level
Confidence Factor
penurunan
tinggi,
sedang,
dan
Tinggi
95%
3,0
rendah.
Sedang

80 90 %

1,6 2,3

Rendah

65 75 %

1,1 1,4

Seperangkat prosedur audit yang efektif


yang dirancang untuk menanggapi risiko
yang dinilai dan asersi yang spesifik
dapat
berisi
campuran
antara
uji
pengendalian dan prosedur substantif.

Tabel berikut memberikan contoh


confidence factors untuk berbagai
confidence
Confidencelevels.
Level
Confidence Factor
50%

0,7

55%

0,8

60%

0,9

65%

1,1

70%

1,2

75%

1,4

80%

1,6

85%

1,9

90%

2,3

95%

3,0

98%

3,7

99%

4,6

Memilih Sampel
Langkah-langkah dalam memilih
sampel
1. Keluarkan item bernilai tinggi (highvolume items)dari populasi.
2. Hitung sampling interval.
3. Pilih titik awal secara acak (random
starting point).

Sampling Interval
Sampling interval adalah jarak atau interval
antara satu sampel dengan sampel
berikutnya.
Sampling Interval = Performance
Materiality (Tolerable Misstatement) :
Confidence
Contoh: (a) titik
awal secara Factor
acak (random starting
point) adalah Rp 10.000 dan (b) Sampling interval Rp
17.391. Maka: (a) sampel pertama adalah item yang
berisi Rp 10.000; (b) sampel kedua adalah jumlah
kumulatif yang berisi Rp 27.391 (= 10.000 + 17.391);
(c) sampel ketiga adalah jumlah kumulatif yang berisi
Rp 44.782 (= 27.391 + 17.391); (d) proses yang
sama dilanjutkan sampai ke akhir populasi.

Sample Size
Sample Size = Population to Be
Tested : Sampling Interval
Sample size adalah banyaknya sampel dalam
suatu populasi. Definisi populasi disini ialah
populasi yang akan diuji (population to be
tested).
Dalam
pembahasan
mengenai
langkah-langkah
dalam
memilih
sampel,
dijelaskan bahwa high-value items dikeluarkan
dari populasi. Jadi, populasi yang akan diuji
adalah populasi semula dikurangi high-value
items.

Memproyeksikan Salah Saji


Langkah-langkah dalam memproyeksikan salah saji di dalam
populasi berdasarkan salah saji yang ditemukan dalam
sampel:
1. Hitung persentase salah saji dalam setiap item.
2. Jumlahkan semua salah saji, dan hitung dampak netonya
(artinya salah saji ketinggian atau overstatements
dikurangi salah saji kerendahan atau understatements).
3. Hitung persentase rata-rata salah saji dengan membagi
persentase seluruh salah saji dengan jumlah seluruh item
yang dijadikan sampel (yang mengandung salah saji
maupun yang tidak).
4. Kalikan persentase rata-rata salah saji dengan nilai
moneter seluruh populasi (sesudah dikeluarkan highvalue items).

Luasnya Prosedur Analitikal


Substantif
Prosedur analitikal substantif (substantive analytical procedures)
bisa merupakan pengujian utama dalam uji saldo akun (test of the
account balance), atau bisa juga dikombinasikan dengan uji rincian
lainnya (other test of details).
Prosedur analitikal sederhana (seperti membandingkan laba tahun
lalu dengan laba tahun ini) berguna untuk memberikan
pemahaman mengenai entitas, pelaksanaan prosedur penilaian
risiko, dan menelaah laporan keuangan final. Dalam merancang
prosedur analitikal substantif, auditor:
1) Menetapkan selisih antara angka yang dicatat dan angka
ekspektasi, yang tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
2) Memperhitungkan kemungkinan bahwa gabungan salah saji dalam
saldo akun, transaksi, atau disclosure tertentu, bisa mencapai
angka agregat salah saji yang tidak dapat diterima.
3) Meningkatkan tingkat pengurangan risiko yang diinginkan ketika
risiko salah saji material meningkat.

Uji Pengendalian
Pengendalian Pervasif (Tingkat Entitas)
Pengujian pengendalian pervasif pada tingkat entitas
cenderung lebih subjektif.
Auditor wajib memperoleh pemahaman atas lingkungan
pengendalian. Sebagai bagian dari upaya memperoleh
pemahaman ini, auditor wajib mengevaluasi apakah:
a. Manajemen, di bawah pengawasan menyeluruh dari TCWG
(those charged with governance), telah menciptakan dan
memelihara budaya kejujuran dan perilaku etis; dan
b. Kekuatan/keunggulan
dalam
unsur-unsur
lingkungan
pengendalian yang secara kolektif memberikan landasan
yang tepat untuk komponen pengendalian internal lainnya,
dan apakah komponen pengendalian internal lainnya tidak
kendur oleh kelemahan dalam lingkungan pengendalian.

Attribute Sampling
Uji pengendalian memberikan bukti bahwa
pengendalian berfungsi secara efektif selama
periode yang diuji yang ditetapkan, seperti
satu tahun (dalam tahun berjalan). Karena
pengendalian atas transaksi berfungsi atau
tidak berfungsi, auditor perlu menguji hal ini.
Dalam pengendalian yang tidak andal, auditor
berpeluang menemukan penyimpangan.
Sample size untuk uji pengendalian umumnya
sedikit karena didasarkan atas temuan
mengenai ada/tidaknya penyimpangan.

Memilih Sampel
Langkah-langkah untuk memilih sampel adalah:
1. Tentukan tujuan dari prosedur pengujian dan bukti
yang akan dihasilkan sehubungan dengan asersi yang
mendasari atribut pengendalian yang akan diuji.
2. Pilih populasi yang tepat untuk mencapai tujuan
pengujian. Populasi ini bisa berbeda, tergantung
asersi yang diperiksa.
3. Tentukan sample size terkecil untuk tingkat
penurunan risiko yang diperlukan. Ini bisa moderat
atau tinggi.
4. Gunakan random number generator (misalnya
dengan program Excel) untuk memilih sampel yang
akan diuji. Setiap item dalam populasi harus
mempunyai peluang yang sama untuk dipilih.

Mengevaluasi Penyimpangan
Langkah-langkah dalam mengevaluasi penyimpangan
adalah:
1. Identifikasi adanya penyimpangan. Tempatkan setiap
sampel dalam salah satu dari dua klasifikasi ini:
penyimpangan atau bukan penyimpangan.
2. Pertimbangkan dengan saksama sifat dan sebab dari
setiap penyimpangan. Misalnya, apakah ada indikasi
kecurangan?
3. Perhatikan
kemungkinan
sampling
risk.
Jika
penyimpangan ditemukan, pertimbangkan apakaha
mengandalkan
efektifnya
pengendalian
harus
dikurangi, atau sample size ditambah, atau laksanakan
prosedur alternatif.