Anda di halaman 1dari 15

KRONOLOGIS PERSIDANGAN PERDATA SAMPAI PADA PUTUSAN

1.1.

Pengertian Hukum Acara Perdata


a. Hukum Acara Perdata (Haper) adalah sekumpulan peraturan yang mengatur
tentang cara bagaimana seseorang bertindak terhadap negara atau badanbadan hukum begitu pula sebaliknya kalau seandainya hak dan kepentingan
mereka terganggu, melalui suatu badan yang disebut badan peradilan sehingga
terdapat tertib hukum (litigasi).
b. Peraturan yang digunakan untuk membela hak dan kepentingan jika diganggu
(oleh pihak yang merasa diganggu).
c. Dalam perdata diajukan atau tindaknya suatu perkara sangat tergantung pada
seseorang yang hak dan kepentingannya terganggu (yang bersangkutan) dan
tidak tergantung pada polisi.

1.2.

Para Pihak dalam Hukum Acara Perdata

Penggugat: orang yang berinisiatif menggugat orang lain yang dianggap


merugikan dirinya.

Tergugat: dirasa telah melanggar hak dan kepentingan tergugat.

Jumlah

tergugat mempengaruhi biaya mengajukan perkara (1:1=300-500ribu, +1 =


+75ribu).

Turut tergugat: seharusnya jadi penggugat yang ia melepas hak dan


kewajibannya tapi ia menanggung akibat hukum tergugat, ia harus masuk pihak
agar terkena putusan hakim jika tidak maka ia tidak terkena putusan hakim.

dalam Hukum Acara Perdata dikenal adanya:

Partij materil: pihak yg berhubungan langsung atau memiliki masalah langsung


(belum tentu itu formil)

Partij formil: pihak yg memiliki syarat dari partij tersebut.

Pengacara tidak termasuk kedua-duanya tapi sebagai kuasa hukum keberadaan dia
sebagai profesional (hubungan bisnis).
1.3.

Asas-Asas Hukum Acara Perdata


1. Hakim bersifat menunggu

Inisiatif ada pada pihak yang berkepentingan

Hakim menunggu datangnya tuntutan hak


1

Jika diajukan, Hakim tidak boleh menolak (baik dengan alasan tidak jelas
maupun tidak ada hukumnya) (pasal 14 (]) UU No. 14 tahun 1970).

Hakim dianggap tahu hukumnya (ius curia novit).

Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang


hidup dalam masyarakat (pasal 27 Undang-undang No. 14 Tahun l970).

Hakim harus menggali dan mengadili menurut hukum (pasal 5 (1) UU


No. 14 Tahun l970).

Hakim harus mengadili menurut undang-undang (pasal 20 AB) -dalam


asas legisme: hakim sebagai corong undang-undang.

Berdasarkan pasal 20 AB maka Hakim harus mengadili menurut undangundang sedangkan berdasarkan pasal 5 (1) UU No. 14 Tahun 1970
hakim harus mengadili menurut hukum, berkaitan dengan hal ini maka
berlaku asas lex posteriori derogat legi priori (undang-undang baru
mengalahkan undang-undang lama).

2. Hakim pasif

Ruang lingkup sengketa ditentukan oleh pihak yang berperkara, Hakim


tidak boleh menambah atau mengurangi.

Hakim hanya membantu mencari keadilan dan berusaha mengatasi


hambatan untuk tercapainya keadilan.

Hakim aktif dalam memimpin sidang dan memberi nasehat (pasal 30


HIR).

Hakim terikat pada peristiwa yang diajukan para pihak.

Hakim wajib mengadili seluruh gugatan dan dilarang menjatuhkan


putusan atau perkara yang tidak dituntut atau mengabulkan lebih dari
pada yang dituntut (pasal 178 (2) dan (3) HIR).

Pihak yang berkepentingan dapat secara bebas mengakhiri sengketa


yang telah diajukan ke pengadilan dan hukum tidak dapat menghalanghalangi.

3. Sifat terbukanya persidangan

Sidang pengadilan adalah terbuka untuk umum kecuali Undang-undang


menentukan lain (pasal 17 (1) Undang-undang No. 14 Tahun 1970).

Tujuannya

memberikan

perlindungan

hak

asasi

manusia

dalam

pengadilan serta menjamin objektivitas.

Putusan tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengakibatkan


putusan batal demi hukum.

Meskipun sidang tertutup, persidangan harus tetap terbuka dan


dinyatakan terbuka untuk umum lebih dahulu sebelum dinyatakan
tertutup.

4. Mendengar kedua belah pihak

Kedua belah pihak harus diperlakukan sama, tidak boleh memihak.

Kedua

belah

pihak

harus

didengar

keterangannya

(audi

et

alterampartem)

Hakim tidak boleh menerima keterangan dari salah satu pihak sebagai
benar sebelum pihak lawan dibcri kesempatan untuk didengar.

Pengajuan alat bukti harus dilakukan di muka sidang.

5. Putusan harus disertai alasan,

Memuat alasan-alasan putusan yang dijadikan dasar untuk mengadili.

Sebagai

pertanggungjawaban

hakim

atas

putusamya

terhadap

masyarakat, kepada pihak pengadilan lebih tinggi dan ilmu hukum.

Menurut yurisprudensi : Putusan tidak lengkap atau kurang cukup


dipertimbangkan merupakan alasan unluk kasasi dan harus dibatalkan.

Kita tidak menganut asas the binding forcc of precedent (keputusan


hakim sebelumnya bersifat mengikat terhadap kasus serupa), melainkan
dianut asas the persuasive force of precedent (hakim boleh mengikuti
keputusan hakim sebelumnya tetapi tidak harus).
Alasan mengapa Hakim mengikuti kcputusan hakim sebelumnya :
1. Hakim sebelumnya lebih senior;
2. Pertimbangan bahwa jika dilakukan upaya hukum, maka
hukumannya akan sama;
3. Merasa cocok alasan No (3) inilah yang paling tepat dalam
menerapkan asas the binding force of precedent (di Indonesia).

6. Beracara dikenai biaya


Meliputi: Biaya kepaniteraan, panggilan sidang, biaya pemberitahuan para pihak,
biaya materai, dan biaya kuasa hukum.
7. Tidak ada keharusan mewakilkan.

Para pihak dapat dibantu atau diwakili oleh kuasanya kalau dikehendaki
(pasal 123 HIR);
3

Dalam pasal 123 HIR, pasal 35 - 38 UU No. 14 tahun 1970 mengenai


LBH tidak ada keharusan bagi pihak-pihak yang berperkara untuk
mewakilkan

kepada

orang

lain

akan

tetapi

para

pihak

dapat

dibantu/diwakili oleh kuasa yang mau pada waktu ia menghendaki,


sedangkan dalam KUHPdt mengharuskan mengenai wakilnya di
pengadilan karena kalau tidak maka menyebabkan batalnya tuntutan hak
atau diputus secara verstek;

Tidak ada kewajiban untuk mewakilkan, dengan demikian tidak ada


pengertian asas verpliche procureurstelling seperti yang diatur dalam RV,
dimana mewakilkan untuk beracara merupakan suatu keharusan.

1.4.

Proses Beracara di Pengadilan

Keterangan :
A : Tingkat Pengadilan Negeri
B : Tingkat Pengadilan Tinggi
C : Tingkat Mahkamah Agung

Kronologis persidangan perdata secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut :


1. Sidang dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum (kecuali persidangan yang
dinyatakan tertutup untuk umum)
2. Para pihak (penggugat dan tergugat) diperintahkan memasuku ruang sidang
3. Para pihak diperiksa identitasnya (surat kuasanya), demikian pula diperiksa
surat ijin praktik dari organisasi advokat (jika dikuasakan kepada advokat)
4

4. Apabila

kedua

belah

pihak

lengkap

maka

diberi

kesempatan

untuk

menyelesaikan perkara secara damai (melalui mediasi)


5. Majelis Hakim menawarkan apakah akan menggunakan mediator dari
lingkungan PN atau dari luar (sesuai PERMA RI No. 1 Tahun 2008)
6. Apabila tidak tercapai kesepakatan damai, maka persidangan dilanjutkan
dengan pembacaan surat gugatan oleh penggugat/kuasanya
7. Apabila perdamaian berhasil maka dibacakan dalam persidangan dalam bentuk
akta perdamaian yang bertitel DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN
Yang Maha Esa
8. Apabila tidak ada perubahan acara, selanjutnya jawaban dari tergugat (jawaban
berisi eksepsi, bantahan, permohonan putusan provisionil, gugatan rekonvensi)
9. Apabila ada gugatan rekonvensi tergugat juga berposisi sebagai penggugat
rekonvesi
10. Replik dari penggugat, apabila digugat rekonvensi maka ia berkedudukan
sebagai tergugat rekonvensi
11. Pada saat surat menyurat (jawab dijawab) ada kemungkinan ada gugatan
intervensi (voeging, vrijwaring, toesenkomst)
12. Sebelum pembuktian ada kemungkinan muncul putusan sela (putusan
provisionil, putusan tentang dikabulkannya eksepsi absolut, atau ada gugat
intervensi)
13. Pembuktian
14. Dimulai dari penggugat berupa surat bukti dan saksi
15. Dilanjutkan dari tergugat berupa surat bukti dan saksi
16. Apabila diperlukan, Majelis Hakim dapat melakukan pemeriksaan setempat
(tempat objek sengketa)
17. Kesimpulan dari masing-masing pihak
18. Musyawarah oleh Majelis Hakim
19. Pembacaan Putusan Majelis Hakim
20. Isi putusan Majelis Hakim dapat berupa Gugatan dikabulkan (seluruhnya atau
sebagian); Gugatan ditolak, atau Gugatan tidak dapat diterima
Maka penjelasan secara detail untuk setiap tindakan dalam persidangan dijelaskan
sebagai berikut :

SUSUNAN DAN KEKUASAAN BADAN PERADILAN


1.
2.
3.
4.
5.

Peradilan Umum
Peradilan Agama
Peradilan Militer
Peradilan Tata Usaha Negara
*) Pengadilan = perpecahan dari peradilan umum : PN, PT, MA. (pasal 10 UU
No. 14 tahun 1970)

PEMERIKSAAN PERKARA DI PENGADILAN


1.
2.
3.
4.

Pengaduan gugatan (oleh penggugat)


Jawaban (oleh tergugat terhadap gugatan)
Replik (tanggapan atas jawaban dari tergugat, diajukan oleh penggugat)
Duplik (tanggapan terhadap replik, diajukan oleh tergugat).
Setelah itu ada putusan sela (putusan apakah berlanjut sampai putusan

akhir/tidak)
5. Pembuktian.
6. Kesimpulan akhir.
7. Putusan akhir (dalam putusan ini ada putusan tetap/eksekusi, yang diterima oleh
para pihak, dan putusan tidak tetap/para pihak belum menerima salah satu pihak
melakukan proses hukum)
IDEAL BERACARA

Pengajuan gugatan (Penggugat/P) jawaban (Tergugat/T) replik/penguat


dalil penggugat (P), merupakan tanggapan penggugat atas Jawaban tergugat
duplik/penguat dalil jawaban tergugat (T) (hakim bisa memberi putusan sela)
kesimpulan ke-1 pembuktian (hakim bisa memberi putusan sela)
kesimpulan akhir putusan akhir (1. Tidak tetap dan 2. Tetap) bagi putusan
tetap bisa dilakukan eksekusi sedangkan bagi putusan tidak tetap bisa dilakukan

upaya hukum selanjutnya didapat putusan tetap yang akhimya dapat dieksekusi.
Biasanya replik dan duplik terjadi hanya sekali (undang-undang sendiri
membolehkan lebih dari satu kali, jika hakim masih belum mengetahui apa
permasalahan yang disengketakan atau para pihak masih membutuhkan).

PROSES PENGURAIAN PERKARA PERDATA


1. Tindak pendahuluan :
a. Menentukan apakah akan mengutus sendiri / membiarkan kuasa.
b. Mengumpulkan bukti-bukti yang cukup dan membuat surat gugatan.

c. Mengajukan gugatan dengan mendaftar di pengadilan serta membayar


uang muka biaya perkara (untuk 2/3 x sidang oleh penggugat dulu).
d. Gugatan diberi nomor perkara dan keterangan pengadilan yang
menentukan siapa hakim / majelis yang memeriksa perkara.
e. Ditentukan sidang hari pertama dan pemanggilan para pihak.
f. Dilakukan pemanggilan sidang oleh panitera, pemangilan dianggap sah
bila diterima langsung oleh para pihak.
g. Pasal 118 HIR : gugatan harus dilakukan di tempat tergugat.
2. Tindakan penentuan
a. Dilakukan pemeriksaan perkara dimuka persidangan.
b. Hakim membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum, para
pihak dipanggil masuk ruang sidang.
c. Pemeriksaan di persidangan berlangsung dalam beberapa pertemuan,
dimulai dengan ;
i. Pemeriksaan surat gugatan.
ii. Acara jawab menjawab.
iii. Penyerahan dan pemeriksaan alat bukti/pembuktian.
d. Selesai pembuktian para pihak mengajukan kesimpulan akhir dan hakim
memutuskan perkara.
3. Tindakan pelaksanaan
a. Putusan hakim harus memperhatikan keadilan, kepastian hukum dan
kemanfaatan yang seyogyanya ditetapkan secara professional.
b. Jika perkara sudah diputus oleh hakim dan para pihak menerimanya
maka putusan itu telah mempunyai ketetapan hukum positif.
c. Pelaksanaan putusan dapat dilakukan secara sukarela /dengan paksaan
melalui bantuan pengadilan (eksekutif) dalam hal demikian pihak yang
menang harus mengajukan eksekusi ke pengadilan, putusan yang dapat
di eksekusi hanya putusan yang mempunyai kekuatan hukum yang pasti
dan bersifat memenuhi hukum.

PARA PIHAK YANG BERPERKARA

Dalam Haper:
o Penggugat adalah orang yang merasa bahwa haknya itu dilanggar,
o Tergugat adalah orang yang ditarik ke muka pengadilan karena ia
dianggap melanggar hak seseorang atau beberapa orang.
Dalam Haper dikenal:
o Partai formil (123 HIR) adalah pihak yang menghadap muka pengadilan
o

guna kepentingan orang lain (wali, kurator),


Partai materiil adalah orang yang langsung memliki hak dan kepentingan.

Pengacara tidak termasuk partai formil karena ia ada di muka


pengadilan dengan adanya suatu perjanjian kerja dengan imbalan upah

dan harus memakai surat kuasa khusus.


Dalam Hukum Acara Perdata tidak dikenal turut penggugat, yang dikenal
adalah turut tergugat.

TUNTUTAN HAK

Tuntutan hak dapat berupa:


o Permohonan; (untuk menguatkan hak) tanpa sengketa,
hakim sebagai tenaga administrasi (hanya mengesahkan),
bentuknya penetapan,
para pihak adalah pemohon/termohon.
o Gugatan;
ada sengketa,
hakim memutuskan dan mengadili,
bentuknya putusan,
para pihak adalah penggugat/ tergugat

PERKARA PERDATA:

Permohonan : penetapan hakim (tidak ada sengketa hanya kehendak untuk

ditetapkan status hukumnya, misal: adopsi)


Gugatan : putusan hakim (ada sengketa)

DASAR PENGAJUAN PERMOHONAN:

pengangkatan anak
ganti nama

DASAR PENGAJUAN GUGATAN:

perbuatan melawan hukum


ingkar janji
ganti rugi
waris
perceraian

PERMOHONAN:

Isi permohonan :
o Identitas pemohon/kuasanya
8

o
o
o

Apa yang domohonkan


Alasan pengajuan permohonan
Hal yang diinginkan diputus untuk ditetapkan hakim

GUGATAN:

Pengajuan gugatan :
o LISAN (pasal 120 HIR) jika penggugat tidak dapat
menulis/ buta huruf maka gugatan dapat diajukan lisan
kepada ketua PN yang akan mencatat gugatan tersebut.
Syaratnya :
cap jempol
waarmerking (pernyataan dari LBH /yang berhak/
yang

berwenang

bahwa

cap

jempol

yang

dibubuhkan adalah sah bagi yang membawa surat


o

tersebut). Kedua syarat tersebut mutlak harus ada.


TULISAN (pasal 118 HIR), gugatan diajukan secara
tertulis yang di tandatangani oleh penggugat /wakilnya
kepada ketua PN dalam daerah mana tergugat bertempat

tinggal.
Tanda tangan bermakna bahwa yang bertanda tangan

mengakui kebenaran dari surat yang ditandatanganinya.


Isi gugatan : (diatur dalam UU Acara Perdata, pasal 8 ayat
(3) R.V.)
o Identitas para pihak
o Posita/ fundamentum petendi (memuat gambaran
yang jelas tentang duduk persoalannya, atau
dengan

kata

dikemukakan

lain

dasar

gugatan

harus

dengan

jelas.
Posita terdiri dari 2 bagian:
a. Bagian berdasarkan kenyataan,
b. Bagian berdasarkan hukum.
Petitum (hal yang diinginkan diminta oleh penggugat agar
diputuskan/ditetapkan dan diperintahkan oleh hakim).
Petitum harus lengkap dan jelas (misal, mengenai sita
jaminan maka dimohonkan untuk dinyatakan sah dan

berharga).
Pada asasnya, gugatan diajukan di tempat tinggal

tergugat (asas aqtor sequitor forum rei) (pasal 118 HIR).


KTP merupakan bukti formal yang menunjukkan
9

kediaman (tempat tinggal tempat ia berdiam dalam


o

waktu lama, kediaman - tepat ia berdiam sewaktu-waktu).


Pengecualian asas aqtor sequitor forum rei, antara lain :
Jika tempat tinggal tergugat tidak diketahui
Jika tempat tinggal dan tempat kediaman

tergugat tidak diketahui;


Jika para tergugat dalam hubungan pihak
yang berutang dan penanggung (diajukan di
tempat

tinggal

orang

yang

benar-benar

berutang).
Jika mengenai

barang

tetap,

Terdapat

pendapat;
o Diajukan ditempat barang tetap berada.
o Berlaku apabila tempat tinggal tergugat

tidak diketahui.
Jika dengan suatu akta telah dipilih tempat
penyelesaian

sengketa

(penggugat

jika mau, merupakan hak istimewa penggugat).


Surat gugat diharuskan :
mencantumkan tanggal,
menyebutkan secara jelas identitas penggugat

dan tergugat/ turut tergugat,


tidak perlu bermaterai,
bertanda tangan/cap jempol

waarmerking,
didaftarkan
di

bersangkutan,
membayar persekot/uang muka biaya perkara.

kepanitcraan

setelah
PN

diyang

Gugatan yang diajukan dapat :


1. Dikabukan
2. Tidak dikabulkan
i. tidak diterima (di N.O.)

solusinya

adalah

diperbaiki, dapat di N.O. apabila :


o isi gugatan tidak berdasarkan hukum.
o Belum sampai pada pokok perkara
o Upaya hukum
ii. ditolak solusinya banding, dapat ditolak apabila :
o gugatan tidak beralasan
o telah memperhatikan pokok perkara
o upaya hukum
o ne bis in idem (tidak dapat menyidangkan 2
perkara yang sama).
10

KEWENANGAN MENGADILI
Merupakan kewenangan hakim / pengadilan umum untuk mengadili. Terbagi menjadi dua :
a. Absolut, yaitu badan pengadilan yang diberikan kepada pengadilan yang diberikan
kepada pengadilan untuk mengadili/ dalam memeriksa jenis perkara-perkara
tertentu yang secara mutlak tidak bisa diperiksa oleh badan peradilan lain
baik dalam lingkungan pengadilan yang sama atau berbeda. Contoh : kasus
perceraian, yang muslim tidak bisa diajukan di Pengadilan Negeri, harus tetap di
Pengadilan Agama. Dan pembatalan sertifikat di PTUN (bukan di Pengadilan
Negeri karena itu adalah beschikking
pemerintah).

Hakim

yang

dikelurkan

oleh

negara/

harus memberhentikan perkara jika ia tahu itu bukan

kewenangan pengadilan tersebut dan ia harus menyerahkan ke pengadilan


yang berhak (tanpa atau dengan eksepsi/ jawaban / bantahan) dan dalam
kewenangan ini tidak ada batas waktu.
b. Relatif, adalah kewenangan badan peradilan yang sejenis untuk memeriksa
suatu perkara secara relatif (berwenang/ atau tidak). Contoh : harus ada eksepsi
itu harus ada kewenangannya, hakim harus memperhatikan, harus pada sidang I
(untuk kasus penduduk Bale Bandung, tapi diadili di Pengadilan Negeri Bandung).
Tapi jika tidak ada eksepsi (dari tergugat) untuk kewenangan relatif, tidak apaapa. Misal baru diketahui di tengah-tengah, maka pengadilan tetap berjalan, tidak
usah dihentikan.
Kekuasaan PN dalam perkara perdata meliputi seluruh sengketa mengenai hak milik
atau hak yang timbul karenanya, serta hak-hak keperdataan lainnya, kecuali bila
undang-undang menentukan lain.
o

Bagi yang beragama Islam gugatan perceraian, sengketa waris, sengketa


harta bersama, perwalian, perwakafan dan sengketa berkaitan dengan

perkawinan, harus diajukan kepada Pengadilan Agama.


Jika tidak ada eksepsi (jawaban pertama) dari tergugat maka berkenaan
dengan kewenangan relatif yang keliru/salah, hakim boleh melanjutkan, lain
halnya dengan kompetensi absolut maka kapanpun dan tanpa eksepsi
pun, hakim harus menghentikan perkara.

PERDAMAIAN
o

Dapat dilakukan:
Di luar sidang di bawah tangan/ akta di bawah tangan.
Di muka sidang putusan perdamaian.
Perdamaian di muka sidang bukan merupakan ADR tetapi tetap
11

merupakan court dispute.


Pasal 130 HIR :
Hakim harus selalu berusaha mendamaikan,
Harus tertulis dalam bentuk akta perdamaian/ putusan perdamaian.
Tidak boleh banding.
Pasal 131 HIR Jika tidak tercapai perdamaian maka pemeriksaan perkara

dilanjutkan.
Hakim perdamaian desa merupakan bentuk pengadilan menurut Hukum adat

untuk menyelesaikan perselisihan diantara penduduk mengenai adat kebiasaan


o

desa dan perikehidupan sehari-hari di desa itu.


Menurut pasal 120a jo. 135a hakim tidak terpengaruh oleh Hakim perdamaian

desa.
Kalau akta perdamaian berbentuk akta dibawah tangan maka sengketa tersebut

bisa diajukan lagi ke pengadilan.


Kalau akta perdamaian berbentuk putusan, maka pada hakikatnya tak ada
upaya hukum baginya tapi kalaupun mau kasasi maka yang dasar/alasannya
adalah tentang penerapan hukumnya (tentang keadilannya).

PEMBUKTIAN
Memberi dasar yang cukup kuat kepada Hakim pemeriksa perkara guna memberikan
kepastian tentang kebenaran yang diajukan. Tujuannya menetapkan hubungan antara
kedua belah pihak.
Yang harus membuktikan
o Pasal 163 HIR jo. pasal 1865 KUHPerdata
o hakim yang mencari kebenaran, menetapkan atau yang menskonstatir
dan menerapkan haknya.
Yang harus dibuktikan
o
o

Peristiwanya atau hakimnya peristiwanya hukumnya oleh hakim.


kebenaran formal atau naluri seorang hakim harus pula diikutsertakan.

BEBAN PEMBUKTIAN
o

Sebelum putusan sela maka secara teori diperkenankan adanya kesimpulan


awal tetapi dalam praktek tidak lazim, sehingga selanjutnya dilanjutkan ke

o
o

pembuktian.
Beban pembuktian yaitu siapa yang pertama harus membuktikan.
HIR sendiri (pasal 163) menentukan bahwa para pihaklah yang dikenai beban
pembuktian tetapi redaksi dari pasal ini seolah-olah menyatakan bahwa beban

pembuktian diberikan kepada penggugat.


Dalam praktek berlaku teori kelayakan dimana pihak yang paling sedikit

menderitalah yang dikenai beban pembuktian.


Beban pembuktian secara teoritis diberikan pada putusan sela tetapi dalam
12

o
o

praktek di pembuktian.
Asas pembagian beban pembuktian pasal 163 HIR, beban pembuktian
diberikan kepada pihak yang paling sedikit dirugikan.
Alat bukti yaitu :
Bukti tertulis adalah bukti dalam HAPER yang pertama dan utama.
Saksi.
Persangkaan
Pengakuan
Sumpah
Secara yurisprudensi :
Pengetahuan hakim (dari hasil pemeriksaan setempat (pasal 154 HIR)),
Saksi ahli (hasil penyelidikan orang ahli (155 HIR)),
Apa yang diakui benar oleh kedua belah pihak

JAWABAN TERGUGAT
Dalam pasal 121 HIR, ada dua yaitu :
a. Tertulis
b. Lisan : disampaikan saat itu juga
Jawaban dapat berupa :
a. Pengakuan
Murni : mengakui secara keseluruhan atas gugatan yang diajukan (tidak

perlu pembuktian)
Tambahan : mengakui tapi menyebabkan perkara tidak selesai sampai

disini saja, harus ada pembuktian.


b. Referte (lisan) : menyerahkan kepada hakim tentang perkara tersebut
(tidak mengakui dan tidak membantah)
c. Bantahan
mengenai pokok perkara (sangkalan), posita dan petitum
bukan pokok perkara (eksepsi) : formalitas gugatan
Putusan dapat diambil dari pengakuan.
Jawaban tergugat berisi :
a. eksepsi : tergugat membantah hal-hal yang bukan menjadi pokok perkara
b. konvensi
c. rekonvensi : tergugat bisa menggugat dalam satu penelesaian perkara
Bantahan : jawaban berbentuk eksepsi
Akibat hukum adanya jawaban : penggugat tidak boleh mencabut gugatannya kecuali
atas persetujuan tergugat.
TUGAS HAKIM
a.
b.
c.
d.

Menentukan peristiwa berdasarkan bahan yang dikemukakan para pihak.


Menemukan hukumnya.
Menerapkan hukum.
Menjatuhkan putusan.
13

PUTUSAN HAKIM

Diatur dalam Pasal 179 - 187 HIR.


Diktum/ amar
(apa saja yang dijatuhkan/ diputuskan hakim): Dibawah

kata mengadili.
Dapat berupa Putusan atau Penetapan
Tidak menentukan tuntutan pidana.
Putusan hakim adalah pernyataan Hakim yang diucapkan dipersidangan (uit
spraak) dan dituangkan dalam bentuk tertulis (vonnis) yang bertujuan untuk

mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara.


Putusan tertulis tidak mempunyai kekuatan sebagai putusan sebelum diucapkan
di muka sidang oleh hakim.

ISI PUTUSAN
1. Diatur pada pasal 178, 182, 183, 184, dan l85 HIR:
1. Kepala putusan "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG
MAHA ESA
2. Identitas para pihak
3. Pertirnbangan-pertimbangan,

Asas

"putusan

berdasarkan pertimbangan-pertimbangan."
4. Amar/dictum putusan
2. Putusan yang baik sistematikanya adalah

putusan

Hakim

harus

yang

dimulai

dengan menyimpulkan terlebih dahulu dalil-dalil yang menjadi dasar gugat


yang diakui, setidak-tidaknya tidak disangkal, oleh pihak tergugat, baru kemudian
disusul dengan dalil-dalil yang disangkal dan yang menjadi persoalan dalam
perkara tersebut.
3. Kekuatan putusan hakim :
1. Kekuatan yang bersifat mengikat (dapat mengikat orang lain),
2. Kekuatan yang bersifat membuktikan (membuktikan peristiwa),
3. Kekuatan yang bersifat eksekutorial (supaya dapat dieksekusi).
EKSEKUSI/ Pelaksanaan Putusan
1. dimana seseorang dihukum untuk membayar sejumlah uang (196 HIR).
2. dimana seseorang dihukum untuk melaksanakan suatu perbuatan (225 HIR).
3. eksekusi riil.

DAFTAR PUSTAKA

14

Retno Wulansutantio, SH., Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, CV.
Mandar Maju, 1997.
Riduan Syahrani, SH., Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, PT. Alumni,
2000.
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata/BW)
Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD)
Undang-undang No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Undang-undang No. 5 tahun 2004 tentang Mahkamah Agung RI.
Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Undang-undang Peradilan Umum
Undang-undang Kepailitan
Kompilasi Hukum Islam
Yurisprudensi Mahkamah Agung RI.

15