Anda di halaman 1dari 4

ORGANISASI OTONOM (ORTOM)

MUHAMMADIYAH
Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah terdapat 7 organisasi, diantaranya :
1.

Aisyiyah

a. Sejarah berdirinya
K.H Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sangat
memperhatikan pembinaan terhadap kaum wanita, yaitu dengan
diadakannya pengajian khusus oleh kaum wanita, oleh istri K.H.
Ahmad Dahlan, pengajian wanita ini di beri nama Sopo Tresno.
Hasil keputusan rapat, secara aklamasi pengajian wanita ini
menjadi organisasi. Organisasi wanita Muhammadiyah yang
diberi nama Aisyiyah dan diresmikan tanggal 27 rajab 1335 H,
bertepatan pada tanggal 19 Mei 1917 dengan ketua Siti Bariyah.
Pada Mutamar Muhammadiyah tahun 1968 status Aisyiyah menjadi Pimpinan Pusat
(PP) Aisyiyah.

b. Tugas dan Perannya


Membimbing kaum wanita kearah kesadaran beragama dan berorganisasi, Menghimpun
anggota-anggota muhammadiyah wanita, menyeluruhkan serta menggembirakan amalanamalannya.

c. Amal Usaha Aisyiyah


1. Bidang Pendidikan
2. Bidang Kewanitaan
3. Bidang PKK
4. Bidang Kesehatan
5. Bidang Organisasi Wanita
2. Pemuda Muhammadiyah
a.
Sejarah Berdirinya
Berasal dari berdirinya Hdzbul Wathan yaitu asal
dari tentara tanah air, yang anggotanya adalah dari angkatan
muda yang di didik kepaduan keagamaan yang dipelopori
oleh KH. Mukhtar pada tahun 1920.
Pada tahun 1932 dalam keputusan kongres
Muhammadiyah ke 21 di Makasar di tetapkan berdirinya
Pemuda Muhammadiyah, dan pada Muktamar Muhammadiyah ke 37 di Yogyakarta
tahun 1958 baru di beri otonomi penuh.
b. Tugas dan Fungsinya
Menanamkan kesadaran dan pentungnya peranan putra Muhammadiyah sebagi
pelangsung gerakan Muhammadiyah. Mendorong terbentuknya Organisasi Pemuda
Muhammadiyah sebagi wadah bagi putra muhammadiyah yang berdiri sendiri.
3. Nasyiatul Aisyiyah
a. Sejarah berdirinya

Awal berdirinya Nasyiatul Aisyiyah bermula dari ide Somodirjo,


tujuannya untuk memajukan Muhammadiyah dengan mengadakan
perkulmpulan dengan anggotanya terdiri dari remaja putri
standar sekolah Muhammadiyah dengan nama Siswa Praja
(SP) tahun1919, maksud tujuannya adalah menanamkan rasa
persatuan , Memperbaiki Akhlak dan Memperdalam Agama.
Kegiatannya aialah pengajian, berpidato, jamaah sholat, kegiatan, kegiatan
keputrian karena anggotanya banayak berasal dari Siswa Praja Waniat (SPW).
Pada tahun 1923 Organisasi SPW menjadi urusan Aisyiyah dan tahun 1931
nama SPW diganti dengan nama Nasyiatul Aisyiyah (NA). Pada Mutamar
Muhammadiyah ke 26 di Yogyakarta, di tetapkan symbol padi menjdi simbol
Nasyiatul Aisyiyah.
4. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
a.
Sejarah berdirinya
Ada 2 faktoryang menjadi latar belakang sejarah
berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yaitu
faktor Intern dan faktor Ekstern
1. Fakror Intern
Faktor Internnya ialah bentuk motivasi idealis paham dan
cita-cita muhammadiyah, Karen muhammadiyah selalu
bersinggungan dan berinterakasi dengan mahasiswa dan
mengembangkan potensi bagi mahasiswa.
Issu pentingnya suatu wadah bagi mahasiswa tercetus saat mutamar
muhamamdiyah ke 25 di Jakarta tahun 1963. Menjelang mutamar
muhammadiyah setengah abad di Jakarta tahun 1962, mahasiswa-mahasiswa
Perguruan tinggi Muhammadiyah mengadakan kongres mahasiswa
muhammadiyah di Yogyakarta.
Pada tahun 1963 di jajaki berdirinya lembaga Dawah mahasiswa yang
dipraksikan oleh Drs. Mhd. Djasman dan kawan-kawan, kemudian diusulkan
kepada PP. Muhammadiyah yang diketuai oleh KH. Ahmad Badawi untuk
mendidrikan organisasi khusus bagi mahasiswa dengan nama Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan di setujui dan di resmikan tanggal 14
Maret 1964, (24 Syawal 1384 H)
2. Faktor Ektern
Faktor Eksternnya ialah situasi bangsa dan organisasi mahasiswa dan imat islam
saat itu banyak dipengaruhi tradisi, paham dan keyakinan yang belum sesuai
dengan ajaran islam yang sesungguhnya yang banyak bercampur dengan tahayul,
bidah dan khurafat. Sementara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tengah
terancam oleh pengaruh oleh idologi komunis (PKI), keterbelakangan,
kemiskinan, kebodohan dan konflik kekuasaan antar golongan dan pertai politik.
IMM yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan dan
kemahasiswaan memiliki fungsi :
1. Sebagai organisasi Kader
2. Sebagi organisasi Dawah
3. Sebagai eksponen mahasiswa islam dalm muhammadiyah.

5. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)


Keinginan para pelajar muhammadiyah untuk
mendirikan organisasi pelajar muhammadiyah telah
dirintis sejak tahun 1919 yaitu denganadanya siswa praja
di sekolah-sekolah. Titik terang mulai terlihat tahun 1958
yaitu pada konferensi Pemuda Muhammadiyah di Garut.
Konferensi itu menempatkan organisasi pelajar
muhammadiyah di bawaha pengawasan Pemuda
Muhammadiyah. Kemudian diperkuat pada mutamar
pemuda muhammadiyah ke-II pada tanggal 24 Juli 1960 di Yogyakarta, dan
memutuskan untuk membentuk Ikatan Pelajar Muahammadiyah (IPM).
6. Tapak Suci Putra Muhammadiyah
Sekitar tahun 1925 s/d 1951 di Kampung Kauman
Yogyakarta banyak sekali berkembang aliran pencak silat,
baik yang berbau ajaran islam maupun yang menyimpang
dari ajaran islam.
Didasari keprihatinan merosotnya kegiatan para
pendekar besar dalam mengembangkan pencak silat serta
mangkin terpecah belahnya perguruan pencak silat.
Berdasarkan alas an diatas, pendekar Muh. Barie Irsad, akhirnya perguruan pencak
silat didiriakan di Kauman Yogyakarta tahun 1925.
Berkat kebesaran pendekar-pendekar terdahulu melebur perguruan Kauman
yang telah ada jejak tahun 1925, maka pada tanggal 31 Juli 1963/10 Rabiul awal
1383 H Perguruan Tapak Suci Putra Muhammadiyah secara resmi berdiri.
7. Hizbul Wathan (HW)
Hizbul Wathan artinya pembela tanah air. HW adalh
nama gerakan kepanduan dalam Muhammadiyah,
dengan status Organisasi Otonom (Ortom) yang bergerak
khusus dalam kepanduan.
Pandu HW didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada
tahun 1918 dengan Padvinder Muhammadiyah , atas usul
KH. Agus Salim istilah Belanda Padvinder di
Indonesiakan menjadi kepanduan Muhammadiyah. Pada
tahun 1920, atas usul KH.R.Hajid, kepanduan Muhammadiyah dinamakan Hizbul
Wathan (disingkat Pandu HW).
Tahun 1942-1945, pemerintah pendudukan Jepang melarang Pandu HW, namun
terus bergerak menghadapi pemerintahan penjajahan. Bahkan Panglima TNI Jendral
Sudirman pernah menjadi guru, Pembina dan pemimpin Pandu HW. Ketika Sukarno
meminta Sudirman untuk menjadi Panglima TNI, beliau belum menjawab setuju,
tetapi memnta persetujuan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, akhirnya dapat
disetujui oleh PP Muhammadiyah.

KESIMPULAN
Organisasi Otonom (Ortom) dalam muhammadiyah :
1. Aisyiyah
2. Nasyiatul Aisyiyah
3. Pemuda Muhammadiyah
4. Ikatan Pelajar Muhammadiyah
5. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
6. Tapak Suci Putra Muhammadiyah
7. Hizbul Wathan
DAFTAR PUSTAKA
Amini, Nur Rahmah. Dkk. Kemuhammadiyahan. Medan: UMSU PRESS, 2014.