Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum alkalinity adalah:
1. Menganalisa kadar CODdalam sampel dengan penambahan larutan KMnO4
berlebihan dalam suasana asam pada suhu 60 70 C.
2. Memahami metode analisis kadar COD.

1.2 Landasan Teori


1.2.1 PENERAPAN METODE ELEKTROKIMIA UNTUK PENURUN
CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) DAN TOTAL SUSPENDED
SOLID (TSS) LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU
Pendahuluan
Mikroorganisme aerob dalam air yang berfungsi sebagai perombak
(decomposer) senyawa organik hanya dapat menjalankan fungsinya jika
terdapat oksigen yang cukup. Jika oksigen yang tersedia tidak mencukupi
jumlah yang dibutuhkan maka oksidasi senyawa organik menjadi terhambat
atau hanya sampai pada tahap pembusukan. Semakin banyak oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik akan menyebabkan
kandungan oksigen dalam badan perairan berkurang. Dampaknya adalah
kematian biota perairan. (Suharto, 2011)
Indikator tingginya kadar senyawa organik dalam limbah cair
industri tahu adalah tingginya nilai COD dan TSS limbah cair tersebut. Oleh
karena itu, untuk menurunkan nilai COD dan TSS limbah cair industri tahu
tersebut perlu dilakukan penguraian senyawa organik yang terkandung
dalam limbah sebelum dibuang ke badan perairan. Berbagai metode telah
direkomendasikan untuk penurunan nilai COD dan TSS limbah cair industri
tahu, namun metode-metode tersebut tidak efektif dan memerlukan biaya
yang tinggi. Oleh sebab itu, sebagian besar industri tahu membuang limbah
ke badan perairan tanpa pengolahan terlebih dahulu.
Metode elektrokimia memiliki keunggulan untuk pengolahan limbah
cair organik dibandingkan dengan metode-metode lain. Kelebihan metode
elektro-kimia adalah : biaya operasional yang rendah sehingga lebih
ekonomis, menghasilkan produk yang ramah lingkungan yaitu berupa CO 2
dan H2O, tidak menghasilkan limbah baru, berlangsung pada suhu rendah,
dan efektif. (Comninellis, 1994; Chen et al., 2013; Suharto , 2011, dan
Kapalka et al., 2009).
Berdasarkan sifat PbO2/Pb yang dapat menghantarkan arus, tahan
terhadap korosi, mempunyai resistensi yang lebih baik dibandingkan
elektroda lain baik dalam kondisi asam maupun basa, dan bersifat inert,
maka material ini memenuhi syarat untuk dijadikan elektroda. (Klamklang

et al , 2012).
Berdasarkan latar belakang tersebut, telah dilakukan penelitian
penerapan metode elektrokimia untuk penurunan nilai COD dan TSS limbah
cair industri tahu dengan menggunakan elektroda PbO 2/Pb. Pada penelitian
ini dipelajari pengaruh voltase, jarak elektroda, pH, dan waktu elektrolisis
terhadap persentase penurunan nilai COD dan TSS.
BAHAN DAN METODE
Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, reaktor pengolahan
limbah secara elektrokimia, adaptor, PbO2/ Pb dari limbah sel aki sebagai
elektroda. Bahan yang diperlukan adalah limbah cair industri tahu dari Desa
Cilongok Kabupaten Banyumas, Na2SO4, NaOH, H2SO4, K2Cr2O7, HgSO4,
Ag2SO4, ferro ammonium sulfat, indikator feroin, kertas Whatman nomor
40, akuades.
Desain alat

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan oksidasi senyawa


organik menggunakan metode elektrokimia adalah material elektroda yang
digunakan.
Gambar 1. Bagan Reaktor Elektrolisis

Penentuan Pengaruh Voltase, Jarak Elektroda, pH, dan Waktu


terhadap Penurunan Nilai COD dan TSS
Limbah cair industri tahu sebanyak 500 mL dimasukkan ke dalam
reaktor, kemudian ditambahkan 0,71 g Na2SO4 sebagai elektrolit. pH larutan
diatur menggunakan NaOH dan atau H2SO4 1 M. Lempeng PbO2 dan Pb
dimasukkan ke dalam reaktor dengan jarak 1 cm. Larutan dielektrolisis pada
variasi waktu 0 sampai 120 menit dengan selang waktu 30 menit pada
2
voltase 4 V dan rapat arus 9 A/dm . Nilai COD dan TSS ditentukan sebelum
dan setelah elektrolisis. Dengan prosedur yang sama dilakukan untuk variasi
voltase dari 4 sampai 12 Volt, variasi jarak elektroda 0,5 ; 1; 1,5 cm, dan
variasi pH 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13.
Analisis COD (APHA, 1995)
Penentuan COD dilakukan dengan menggunakan metode titrasi
iodometri. Akuades sebanyak 5 mL sebagai blanko dan 5 mL sampel
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL ditambahkan 2,5 mL K 2Cr2O7
HgSO4 dan 5 mL H2SO4 Ag2SO4. Ditutup, lalu dipanaskan selama 2 jam
o
dalam oven pada suhu 150 C, didinginkan dan dibilas bagian tutupnya
dengan 2 mL akuades. Ditambahkan 1 mL H2SO4 pekat dan 3 tetes indikator

feroin. Kemudian dititrasi dengan larutan standar ferro ammonium sulfat


0,025 N sampai berwarna merah coklat. Kadar COD dapat dihitung dengan
rumus :
Kadar COD (ppm) = (A B) x N x 8000 mL sampel
Keterangan :
A = mL pentiter untuk blanko B = mL pentiter untuk
sampel N = normalitas Na2S2O3
Analisis TSS
TSS ditentukan dengan metode Gravimetri (PUSARPEDAL, 1996).
Sebanyak 100 mL akuades disaring dengan kertas Whatman nomor 40,
kemudian kertas saring tersebut dipanaskan di dalam oven dengan suhu 105
o
C selama 1 jam dan didinginkan dalam desikator selama 15 menit, lalu
ditimbang berat awalnya (misalnya : a gram). Diambil 100 mL sampel air
limbah, disaring dengan menggunakan kertas saring yang telah diketahui
o
beratnya, kemudian dikeringkan di dalam oven dengan suhu 105 C selama
1 jam. Selanjutnya didinginkan dalam desikator selama kurang lebih 15
menit, lalu ditimbang berat akhirnya (misalnya : b gram). Kandungan total
padatan tersuspensi dihitung dengan menggunakan rumus:
TSS b a

100
0
-1
mg.L
100

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada penelitian ini dilakukan pengolahan limbah cair industri tahu
secara elektrokimia dengan memanfaatkan limbah sel aki sebagai elektroda.
PbO2 sebagai anoda, Pb sebagai katoda, dan Na2SO4 sebagai elektrolit
pendukung. Senyawa organik yang terdapat dalam limbah cair industri tahu
akan dioksidasi di anoda. Sebagai indikator telah teroksidasinya senyawa
organik dalam limbah cair industri tahu, dilakukan pengukuran nilai COD
dan TSS sebelum dan setelah diolah secara elektrokimia.
Pengaruh Voltase pada Proses Elektrolisis terhadap Nilai COD dan
TSS
Untuk mempelajari pengaruh voltase selama proses elektrolisis pada
pengolahan limbah cair industri tahu secara elektrokimia, dilakukan variasi
voltase dari 4 sampai dengan 12 volt. Elektrolisis dilakukan selama 30, 60,
90, dan 120 menit pada pH larutan 3 dan jarak

elektroda 1 cm.
diukur sebelum

Nilai COD dan TSSHasil penelitian dapat dilihat pada


dan setelah elektrolisis.Gambar 2 dan 3.

210
0

nil CO (mg/
ai D
L)

2000

1900
1800
1700
1600
1500
1400
1300

1200
1100

1000

900
800

700

600

500

400
300
200
100

0
4

30
5

60
waktu
(menit)
8
9

90
10

120
11

12

Gambar 2. Grafik hubungan antara variasi voltase dengan nilai COD, hasil elektrolisis
limbah cair industri tahu, menggunakan elektroda PbO2/Pb

TS (mg/
S L)

210
0
2000
1900
1800
1700
1600
1500
1400
1300
1200
1100
1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100

0
4

30
5

60
waktu
(menit)
8
9

90
10

120
11

12

Gambar 3. Grafik hubungan antara variasi voltase dengan TSS,


hasil elektrolisis limbah cair industri tahu, menggunakan elektroda PbO2/Pb
Berdasarkan Gambar 2 dan 3 yang menyatakan bahwa voltase dapat
dilihat bahwa penurunan nilai COD merupakan salah satu faktor yang dapat
dan TSS meningkat dengan bertambahnya mempengaruhi proses elektrolisis
voltase. Hal ini disebabkan karena apabila (Klamklang et al., 2012).

77

karena itu, voltase


optimum
proses
elektrolisis adalah
12 Volt.
Pengaruh
Jarak
Elektroda
pada
Proses
Elektrolisis
terhadap Nilai COD
dan TSS
Pada penelitian ini
dilakukan variasi jarak
elektroda yaitu 0,5: 1; 1,5
cm. Hasil penelitian seperti
terlihat pada Gambar 4 dan
5.
Berdasarkan
hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa jarak elektroda
mempengaruhi penurunan
nilai COD dan TSS, dengan
jarak elektroda optimum
adalah 1 cm.

nilai COD (mg/L)

210
0
2000
1900
1800
1700
1600
1500
1400
1300
1200
1100
1000

900
800

700
600
500
400
300
200
100

30
0,5

60
waktu (menit)
1

90

120
1,5

pada jarak elektroda optimum ini


terjadi penurunan nilai COD dan TSS
paling maksimum. Nilai COD turun
menjadi 76,98 mg/L dan TSS turun
menjadi 290 mg/L. Persentase penurunan
nilai COD dan TSS berturut-turut adalah
96,19% dan 77,83%. Pada jarak elektroda
optimum, radikal OH yang dihasilkan
selama proses elektrolisis berada di
permukaan anoda PbO2 lebih banyak dan
merata. Semakin banyak jumlah radikal
OH di permukaan anoda PbO2, semakin
banyak senyawa organik yang teroksidasi
dan semakin besar penurunan nilai COD
dan TSS.
Gambar 4. Grafik hubungan antara
variasi jarak elektroda dengan nilai
COD, hasil elektrolisis limbah cair

industri tahu, menggunakan elektroda


PbO2/Pb

TSS (mg/L)

210
0
2000
1900
1800
1700
1600
1500
1400
1300
1200
1100

1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100

30
0,5

Gambar 5. Grafik hubungan antara


variasi jarak elektroda dengan TSS,
hasil elektrolisis limbah cair industri
tahu, menggunakan elektroda PbO2/Pb
Pengaruh pH Larutan
pada Proses Elektrolisis
terhadap Nilai COD dan
TSS
Untuk mengetahui
pengaruh pH terhadap
penurunan nilai COD dan
TSS dilakukan variasi pH
pada pH 3; 5; 7; 9; 11; dan
13. Hasil penelitian seperti
terlihat pada Gambar 6 dan
7.
Gambar 6 dan 7
menunjukkan bahwa pH
optimum dalam proses
oksidasi senyawa organik
limbah cair industri tahu
adalah pH asam yaitu pH 1.
Nilai COD yaitu 96 mg/L
dengan
persentase
penurunannya
96,33%.
Nilai TSS 310 mg/L dengan
persentase penurunannya
87,87%.
Persentase
penurunan nilai COD dan
TSS limbah cair industri
tahu dengan menggunakan
metode elektrokimia ini
lebih baik dibandingkan
dengan
menggunakan
metode Multi Soil Layering
dan juga sistem zeolit
teraktivasi
dan

60
waktu
(menit)
1

90

120
1,5

terimpregnasi
TiO2.
Persentase penurunan nilai
COD
dan
TSS
menggunakan metode Multi
Soil
Layering
adalah
95,53%
dan
78,62%
(Irmanto dan Suyata, 2009).
Persentase penurunan nilai
210
0
2000
1900

1800

nil CO (mg/L
ai D
)

1700

1600
1500
1400
1300

1200
1100

1000

900

800

700

600

500

400
300
200
100

0
1

30
3

60
waktu
(menit)
5

90

120
11

13

COD dan TSS menggunakan


sistem zeolit teraktivasi dan terimpregnasi
TiO2 adalah 89,92% dan 82,42%% (Suyata
dan Irmanto, 2009).
Penurunan
nilai
COD dan TSS maksimum
terjadi pada suasana asam.
Hal ini disebabkan karena
+
jumlah H yang terkandung
dalam larutan lebih banyak.
+
Jumlah
H
sebanding
dengan jumlah radikal OH,
sehingga
menyebabkan
oksidasi senyawa organik
dalam limbah cair industri
tahu menjadi lebih banyak
dibandingkan dengan pH
yang lebih besar.
Menurut Klamklang
et al., 2012; Nava et al.,
2008; Sala and Bouzan,
2012,
reaksi
oksidasi
senyawa organik akibat

aktivitas
OH
adalah
sebagai berikut:
PbO2 [ ] + H2O+
- PbO2
[OH] + H + e R +
[ +OH] R +
H +e

+
R +H +e
CO2
+ CO + H2O dengan R
adalah senyawa organik.

Jika proses oksidasi


berlangsung sempurna
maka CO tidak akan
terbentuk karena akan
teroksidasi lebih lanjut
menjadi CO2.
Gambar 6. Grafik hubungan antara
variasi pH larutan dengan nilai COD,
hasil elektrolisis limbah cair industri
tahu, menggunakan elektroda PbO2/Pb

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dibawah
kondisi optimum pada voltase 12V, jarak elektroda 1 cm, pH 1 dan waktu
elektrolisis selama 120 menit, penurunan nilai COD dan TSS mencapai
96,33% dan 87,87%

1.1.1.

COD
COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk

mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana
pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing
agent) (G. Alerts dan SS Santika, 1987). COD adalah jumlah oksigen
yang diperlukan agar bahan buangan yang ada dalam air dapat
teroksidasi melalui reaksi kimia baik yang dapat didegradasi secara
biologis maupun yang sukar didegradasi. Bahan buangan organic
tersebut akan dioksidasi oleh kalium bichromat yang digunakan
sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) menjadi gas CO2 dan gas
H2O serta sejumlah ion chrom. Reaksinya sebagai berikut :

HaHbOc + Cr2O72- + H+ CO2 + H2O + Cr 3+


Jika pada perairan terdapat bahan organic yang resisten
terhadap degradasi biologis, misalnya tannin, fenol, polisacharida
dansebagainya, maka lebih cocok dilakukan pengukuran COD
daripada BOD. Kenyataannya hampir semua zat organic dapat
dioksidasi oleh oksidator kuat seperti kalium permanganat dalam
suasana asam, diperkirakan 95% - 100% bahan organic dapat
dioksidasi .
Seperti pada BOD, perairan dengan nilai COD tinggi tidak
diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. Nilai COD pada
perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/L, sedangkan
pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/L dan pada limbah
industri dapat mencapai 60.000 mg/ (UNESCO,WHO/UNEP, 1992).
Kehidupan mikroorganisme, seperti ikan dan hewan air
lainnya, tidak terlepas dari kandungan oksigen yang terlarut di dalam
air, tidak berbeda dengan manusia dan mahluk hidup lainnya yang ada
di darat, yang juga memerlukan oksigen dari udara agar tetap dapat
bertahan. Air yang tidak mengandung oksigen tidak dapat memberikan

kehidupan bagi mikro organisme, ikan dan hewan air lainnya. Oksigen
yang terlarut di dalam air sangat penting artinya bagi kehidupan.
Untuk

memenuhi

kehidupannya,

manusia

tidak

hanya

tergantung pada makanan yang berasal dari daratan saja (beras,


gandum, sayuran, buah, daging, dll), akan tetapi juga tergantung pada
makanan yang berasal dari air (ikan, kerang, cumi-cumi, rumput laut,
dan lain-lain).
Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari,
melakukan fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Oksigen yang
dihasilkan dari fotosintesis ini akan larut di dalam air. Selain dari itu,
oksigen yang ada di udara dapat juga masuk ke dalam air melalui
proses difusi yag secara lambat menembus permukaan air. Konsentrasi
oksigen yang terlarut di dalam air tergantung pada tingkat kejenuhan
air itu sendiri. Kejenuhan air dapat disebabkan oleh koloidal yang
melayang di dalam air oleh jumlah larutan limbah yang terlarut di
dalam air. Selain dari itu suhu air juga mempengaruhi konsentrasi
oksigen yang terlarut di dalam air. Tekanan udara dapat pula
mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air. Tekanan udara dapat
pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air karena tekanan
udara mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air.
Kemajuan industri dan teknologi seringkali berdampak pula
terhadap keadaan air lingkungan, baik air sungai, air laut, air danau
maupun air tanah. Dampak ini disebabkan oleh adanya pencemaran air
yang disebabkan oleh berbagai hal seperti yang telah diuraikan di
muka. Salah satu cara untuk menilai seberapa jauh air lingkungan telah
tercemar adalah dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di
dalam air.
Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan
oksigennya sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di
dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi
bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap

(yang ditandai dengan bau busuk). Selain dari itu, bahan buangan
organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air
organik yang ada di dalam air, makin sedikit sisa kandungan oksigen
yang terlarut di dalamnya. Bahan buangan organik biasanya berasal
dari industri kertas, industri penyamakan kulit, industri pengolahan
bahan makanan (seperti industri pemotongan daging, industri
pengalengan ikan, industri pembekuan udang, industri roti, industri
susu, industri keju dan mentega), bahan buangan limbah rumah tangga,
bahan buangan limbah pertanian, kotoran hewan dan kotoran manusia
dan lain sebagainya.
Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air
dapat ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan
telah terjadi. Cara yang ditempuh untuk maksud tersebut adalah
dengan uji :

COD, singkatan dari Chemical Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen

kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air.


BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen
biologis

untuk

memecah

bahan

buangan

di

dalam

air

oleh

mikroorganisme.

Melalui

kedua

cara

tersebut

dapat

ditentukan

tingkat

pencemaran air lingkungan. Perbedaan dari kedua cara uji oksigen


yang terlarut di dalam air tersebut secara garis besar adalah sebagai
berikut ini. Chemical Oxygen Demand adalah kapasitas air untuk
menggunakan oksigen selama peruraian senyawa organik terlarut dan
mengoksidasi senyawa anorganik seperti amonia dan nitrit. Biological
(Biochemical) Oxygen Demand adalah kuantitas oksigen yang
diperlukan oleh mikroorganisme aerob dalam menguraikan senyawa
organik terlarut. jika BOD tinggi maka dissolved oxygen (DO)
menurun karena oksigen yang terlarut tersebut digunakan oleh bakteri.
akibatnya ikan dan organisme air hubungan keduanya adalah samasama untuk menentukan kualitas air, tapi BOD lebih cenderung ke arah

cemaran organik. Dalam proses penanganan air limbah biologis


dengan sistem aerobik, oksigen menjadi penting untuk penurunan
kadar BOD dan COD yang efektif.
Tingkat Oksigen terlarut yang Positif harus dipertahankan
dalam pabrik penanganan biologis aerobik untuk memungkinkan
biomass mencernakan BOD dan COD secara optimal. Pada saat aerasi
biasa digunakan, oksigen dengan tingkat kemurnian yang tinggi
menawarkan lebih banyak oksigen tingkat tinggi dan penurunan kadar
COD daripada sistem aerasi yang konvensional.
Proses Oxy Dep Air Products telah dikembangkan untuk
menggunakan oksigen dalam proses pengaliran pelumas yang
diaktifkan (ASP) dalam bentuk yang efisien. Penggunaan oksigen
Oxy-Dep atau proses hibridasi udara oksigen secara luar biasa telah
meningkatkan kapasitas ASP untuk pemindahan kontaminasi.

1.1.1.1. Metode Analisa COD


Prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan
sejumlah

tertentu

kalium

bikromat

(K2Cr2O7)

sebagai

oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah


ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat, kemudian
dipanaskan selama beberapa waktu. Selanjutnya, kelebihan
kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan demikian
kalium bikromat yang terpakai untuk oksidasi bahan organik
dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat ditentukan.
Metoda standar penentuan kebutuhan oksigen kimiawi
atau Chemical Oxygen Demand (COD) yang digunakan saat
ini adalah metoda yang melibatkan penggunaan oksidator kuat
kalium bikromat, asam sulfat pekat, dan perak sulfat sebagai
katalis.

Kepedulian

akan

aspek

kesehatan

lingkungan

mendorong perlunya peninjauan kritis metoda standar

penentuan COD tersebut, karena adanya keterlibatan bahanbahan berbahaya dan beracun dalam proses analisisnya.
Berbagai usaha telah dilakukan untuk mencari metoda
alternatif yang lebih baik dan ramah lingkungan.
Perkembangan metoda-metoda penentuan COD dapat
diklasifikasikan menjadi dua kategori. Pertama, metoda yang
didasarkan pada prinsip oksidasi kimia secara konvensional
dan sederhana dalam proses analisisnya. Kedua, metoda yang
berdasarkan pada oksidasi elektrokatalitik pada bahan organik
dan disertai pengukuran secara elektrokimia.KOK atau
Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand atau
COD) adalah jumlah oksidan Cr2O72- yang bereaksi dengan
contoh uji dan dinyatakan sebagai mg O2 untuk tiap 1000 ml
contoh uji.
Senyawa organik dan anorganik, terutama organik
dalam contoh uji dioksidasi oleh Cr2O72- dalam refluks tertutup
menghasilkan

Cr3+.

Jumlah

oksidan

yang

dibutuhkan

dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O2 mg /L) diukur secara


spektrofotometri sinar tampak. Cr2O72- kuat mengabsorpsi
pada panjang gelombang 400 nm dan Cr 3+ kuat mengabsorpsi
pada panjang gelombang 600 nm. Untuk nilai KOK 100 mg/L
sampai dengan 900 mg/L ditentukan kenaikan Cr 3+ pada
panjang gelombang 600 nm. Pada contoh uji dengan nilai
KOK yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran terlebih
dahulu sebelum pengujian. Untuk nilai KOK lebih kecil atau
sama dengan 90 mg/L ditentukan pengurangan konsentrasi
Cr2O72- pada panjang gelombang 420 nm.

1.1.1.2. Kelebihan dan Kelemahan Metode Analisis COD

KOK atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical


Oxygen Demand atau COD) adalah jumlah oksidan Cr2O72yang bereaksi dengan contoh uji dan dinyatakan sebagai mg
O2 untuk tiap 1000 ml contoh uji. Senyawa organik dan
anorganik, terutama organik dalam contoh uji dioksidasi oleh
Cr2O72- dalam refluks tertutup menghasilkan Cr3+. Jumlah
oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen
(O2 mg /L) diukur secara spektrofotometri sinar tampak.
Cr2O72- kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 400 nm
dan Cr3+ kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 600 nm.
Untuk nilai KOK 100 mg/L sampai dengan 900 mg/L
ditentukan kenaikan Cr3+ pada panjang gelombang 600 nm.
Pada contoh uji dengan nilai KOK yang lebih tinggi,
dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum pengujian.
Untuk nilai KOK lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L
ditentukan pengurangan konsentrasi Cr2O7(2-) pada panjang
gelombang 420 nm.

Metode Nessler secara kualitatif. Kelebihannya adalah dimana


waktu dalam pengerjaannya lebih singkat karena hanya
membandingkan warna sampel dengan warna larutan stock
(NH4+) sedangkan kelemahannya adalah hasil yang diperoleh
tidak akurat karena hanya mengira ngira saja atau dengan kata

lain hasil tidak pasti.


Metode Nessler secara kuantitatif. Kelebihannya adalah hasil
yang diperoleh lebih akurat karena dilakukan dua kali pengerjaan
dimana pertama dilakukan penambahan reagen Nessler kedalam
sampel dicampurkan dengan larutan garam maka akan terbentuk
warna kuning kecoklatan, dan warna inilah yang diukur dengan
spectrometer pada panjang gelombang 425 nm.

Setelah itu dapat dihitung dengan deret standart yang


telah diketahui kadarnya dan dapat dihitung secara regresi

linier. Dan kelemahannya dalam pengerjaannya lebih lama


daripada metode nessler secara kualitatif karena pengujian
pada metode nessler secara kuantitatif dua kali pengerjaan.
1. Kekurangan dan Kelemahan Metode Ion Kromatigrafi.

Kromatografi pasangan ion digunakan untuk


mengatasi masalah ionisasi dimana spesi ion tersebut
sangat polar, ionisasi ganda, dan basa kuat. Manfaat utama
dari kromatografi ini adalah adanya fase kebalikan dari
kromatografi cair yang bertahap atau pertukaran-ion HPLC
yang dapat memfasilitasi analisis dari sampel yang
mengandung

ion

sekaligus

molekul.

Tidak

seperti

pertukaran ion yang konvensional, kromatografi pasangan


ion dapat memisahkan senyawa ionik dan nonionik dalam
sampel yang sama. Kelebihan dari metode kromatografi
pasangan-ion:

waktu

pengerjaan

relatif

singkat,

memberikan hasil yang reproducible, menghasilkan bentuk


peak yang tajam., dapat langsung memperoleh hasil
pemisahan analit terionisasi dan tidak terionisasi dan
pemilihan zat tambahan (berupa reagen tau larutan buffer)
lebih beragam untuk meningkatkan proses pemisahan.
Kemurnian zat tambahan pada eluen mempengaruhi
reprodusibilitas dan keakuratan hasil percobaan. Zat ini
dapat menghasilkan peak yang tidak murni jika kualitasnya
tidak memadai.
Jika dibandingkan dengan kromatograti cair, teknik
ini mempunyai kelebihan untuk medukung pemisahan
spesies ion dan molekul. Dapat memisahkan senyawa ionik
dan nonionik dalam sampel yang sama. Kekurangan
metode kromatografi pasangan-ion:

a. Larutan ionik seringkali bersifat korosif dan mengakibatkan


kolom tidak bertahan lama.
b. Beberapa larutan ionik

mengabsorbsi

pada

panjang

gelombang UV tetapi membatasi detektor UV. Bahan berdasar


silika terbatas pada pH di bawah 7,5.
c. Fase gerak tidak boleh dibiarkan semalaman tetapi diganti
dengan air.

1.1.2.

Penanggulangan Kelebihan / Kekurangan Kadar COD


Penaggulangan kelebihan kadar COD dapat dilakukan dengan alat

tricking filter. Pada Trickling filter terjadi penguraian bahan organik


yang terkandung dalam limbah. Penguraian ini dilakukan oleh
mikroorganisme yang melekat pada filter media dalam bentuk lapisan
biofilm. Pada lapisan ini bahan organik diuraikan oleh mikroorganisme
aerob, sehingga nilai COD menjadi turun. Pada proses pembentukan
lapisan biofilm, agar diperoleh hasil pengolahan yang optimum maka
dalam hal pendistribusian larutan air kolam retensi Tawang pada
permukaan media genting harus merata membasahi seluruh permukaan
media. Hal ini penting untuk diperhatikan agar lapisan biofilm dapat
tumbuh melekat pada seluruh permukaan genting.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang telah
dilakukan dapat diketahui bahwa semakin lama waktu tinggal, maka
nilai COD akhir semakin turun (prosentase penurunan COD semakin
besar). Hal ini disebabkan semakin lama waktu tinggal akan memberi
banyak kesempatan pada mikroorganisme untuk memecah bahanbahan organik yang terkandung di dalam limbah. Di sisi lain dapat
diamati pula bahwa semakin kecil nilai COD awal (sebelum treatment
dilakukan) akan menimbulkan kecenderungan penurunan nilai COD
akhir sehingga persentase penurunan COD-nya meningkat.
Karena dengan COD awal yang kecil ini, kandungan bahan
organik dalam limbah pun sedikit, sehingga bila dilewatkan trickling

filter akan lebih banyak yang terurai akibatnya COD akhir turun.
Begitu pula bila diamati dari sisi jumlah tray (tempat filter media).
Semakin banyak tray, upaya untuk menurunkan kadar COD akan
semakin baik. Karena dengan penambahan jumlah tray akan
memperbanyak jumlah ruang atau tempat bagi mikroorganisme
penurai untuk tumbuh melekat.
Sehingga proses penguraian oleh mikroorganisme akan
meningkat dan proses penurunan kadar COD semakin bertambah.
Permukaan

media

penyaring

bertindak

sebagai

pendukung

mikroorganisme yang memetabolisme bahan organik dalam limbah.


Penyaring

harus

mempunyai

media

sekecil

mungkin

untuk

meningkatkan luas permukaan dalam penyaring dan organisme aktif


yang akan terdapat dalam volume penyaring akan tetapi media harus
cukup besar untuk memberi ruang kososng yang cukup untuk cairan
dan udara mengalir dan tetap tidak tersumbat oleh pertumbuhan
mikroba. Media berukuran besar seperti genting (tanah liat kering)
berukuran 2-4 in akan berfungsi secara maksimal. Media yang
digunakan berupa genting dikarenakan lahan diatas permukaan genting
cenderung berongga dibanding media lain yang biasa mensuplai udara
dan sinar matahari lebih banyak daripada media lain yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan mikroba pada genting.
Pada penelitian ini, efisiensi Trickling Filter dalam penurunan
COD tidak dapat menurunkan sampai 60% dikerenakan:
a. Aliran air yang kurang merata pada seluruh permukaan genting karena
nozzle yang digunakan meyumbat aliran air limbah karena tersumbat air
kolam retensi Tawang.
b. Supplay oksigen dan sinar matahari kurang karena trickling filter
diletakkan didalam ruangan sehingga pertumbuhan mikroba kurang
maksimal. Dalam penumbuahan mikroba distibusi air limbah dibuat
berupa tetesan agar air limbah tersebut dapat memuat oksigen lebih
banyak jika dibanding dengan aliran yang terlalu deras karena oksigen
sangat diperlukan mikroba untuk tumbuh berkembang.

LAMPIRAN
Standar Mutu Air
Peraturan Menteri Kesehatan RI
Peraturan No. 82 Tahun 2001

No

Parameter

Satuan

Golonga

Kadar Maksimum
Golonga
Golonga

nA
FISIKA
1
Bau
Jumlah zat padat
2
terlarut

nB

Golongan

nC

Mg/L

1000

1000

1000

1000

3
4
5

Kekeruhan
Rasa
Warna

Skala NTU
Skala TCU

Suhu

Daya Hantar
Listrik

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

KIMIA anorganik
Air raksa
Aluminium
Arsen
Barium
Besi
Florida
Kadmium
Kesadahan CaCO3
Klorida
Kromium valensi 6
Mangan
Natrium
Nitrat sebagai N
Nitrit sebagai N
Perak
.pH
Selenium
Seng
Sianida
Sulfat
Sulfida sebagao H2S
Tembaga
Timbal
Oksigen terlarut

25
26
26
27

(DO)
COD
BOD
Nikel
SAR (Sodium

5
15
Suhu
udara

Umhos/cm

Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt

2250

Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt

0.001
0.2
0.005
1
0.3
0.5
0.005
500
250
0.005
0.1
200
10
1.0
0.05
6.5 8.5
0.01
5
0.1
400
0.05
1.0
0.05
-

Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt

12
2
-

Mg/lt
Mg/lt

0.0007
0.01

0.001
0.05
1
5
1.5
0.01

0.002

0.005

1.5
0.01

0.01

600
0.05
0.5

0.003
0.05

10
1
59
0.01
5
0.1
400
0.1
1
0.01
>=6

0.06
69
0.05
0.02
0.02
0.002
0.02
0.03
>3

59
0.05
2

0.1
1

0.5
1.5 2.5

Absortion Ratio)
Kimia Organik
1
Aldrin dan dieldrin
2
Benzona

1
2
60

0.017

3
4

Benzo (a) Pyrene


Chlordane (total

Mg/lt
Mg/lt

0.00001
0.0003

5
6
7
8
9
10
11

isomer)
Chlordane
2,4 D
DDT
Detergent
1,2 Dichloroethane
1,1 Dichloroethane
Heptachlor

Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt

0.03
0.10
0.03
0.5
0.01
0.0003
0.003

0.003
0.042

0.002

0.018

heptachlor
12
13
14
15
16
17

epoxide
Hexachlorobenzene
Lindane
Metoxychlor
Pentachlorophenol
Pestisida total
2,4,6

Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt

0.00001
0.004
0.03
0.01
0.1
0.01

18

Trichlorophenol
Zat Organik

Mg/lt

10

19
20
21

(KMnO4)
Endrin
Fenol
Karbon kloroform

Mg/lt
Mg/lt
Mg/lt

0.001
0.002
0.05

0.004
0.001

22
23

ekstrak
Minyak dan lemak
Organofosfat dan

Mg/lt
Mg/lt

Nihil
0.1

1
0.1

24
25

carbanat
PCD
Senyawa aktif biru

Mg/lt
Mg/lt

Nihil
0.5

0.2

26
27

metilen
Toxaphene
BHC

Mg/lt
Mg/lt

0.005

Mikrobiologik
1
Koliform tinja

Jml/100m

2000

l
Jml/100m

10000

Total koliform

0.056
0.035

0.21

1
2

Radioaktivitas
Gross Alpha activity
Gross Beta activity

Bq/L
Bq/L

0.1
1.0

0.1
1.0

0.1
1.0

0.1
1.0