Anda di halaman 1dari 76

HUMAN RIGHTS CITIES

DOKUMEN REFERENSI

HUMAN RIGHTS CITIES


DOKUMEN REFERENSI

@Desember 2014
Layout isi dan Cover:
Galih Gerryaldy
Diterbitkan oleh:

International NGO Forum on Indonesian Development (INFID)


Jl. Jati Padang Raya Kav.3 No.105, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12540 - Indonesia
Phone: (62-21) 781 9734, 781 9735, 7884 0497
Fax: (62-21) 7884 4703
E-mail: infid@infid.org
www.infid.org

DIDUKUNG OLEH:

KABUPATEN WONOSOBO

MEDIA PARTNER:

Daftar Isi
Piagam Dunia tentang Hak atas Kota
Laporan perkembangan Komite Penasehat
Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota
Forum Dunia tentang HAM di Kota tahun 2011

1
21
45
65

PIAGAM DUNIA
TENTANG HAK
ATAS KOTA
Forum Sosial Amerika Quito Juli 2004
Forum Sosial Dunia Barcelona Oktober 2004
Forum Sosial Dunia Porto Alegre Januari 2005
Revisi persiapan untuk Barcelona September 2005

vi

Dokumen Referensi

Pendahuluan
Milenium baru disertai dengan kenyataan bahwa setengah dari populasi dunia
tinggal di wilayah perkotaan, dan para ahli memperkirakan bahwa pada tahun
2050 tingkat urbanisasi di dunia akan mencapai 65%. Perkotaan merupakan
wilayah yang memiliki potensi kekayaan dan keberagaman ekonomi, lingkungan,
politik dan budaya yang luas. Cara hidup masyarakat perkotaan mempengaruhi
cara kita berhubungan dengan sesama manusia dan wilayah sekitar.
Namun, bertentangan dengan keberadaan potensi ini, model pembangunan
yang diterapkan di sebagian besar negara-negara miskin ditandai dengan
kecenderungan untuk melakukan konsentrasi pada pendapatan dan kekuasaan
sehingga mengakibatkan terjadinya kemiskinan dan pengucilan, yang
berkontribusi terhadap degradasi lingkungan, mempercepat proses migrasi
dan urbanisasi, segregasi sosial dan spasial, serta privatisasi kesejahteraan
umum maupun ruang publik. Proses ini mendukung meluasnya proliferasi
daerah perkotaan yang ditandai dengan kemiskinan, kondisi yang genting, dan
kerentanan terhadap bencana alam.
Saat ini, kota menawarkan kondisi dan kesempatan yang masih jauh dari adil
bagi penduduknya. Mayoritas penduduk perkotaan terampas atau terbatas
dalam memperoleh manfaat dari karakteristik ekonomi, sosial, budaya, etnis,
jenis kelamin atau usia mereka untuk memenuhi kebutuhan dan hak-hak yang
paling mendasar mereka. Kebijakan publik yang berkontribusi terhadap kondisi
ini dengan mengabaikan peran penduduk dalam proses pembangunan kota
dan kewarganegaraan, hanya merugikan kehidupan perkotaan. Konsekuensi
serius yang harus dihadapi dari situasi ini mencakup pengusiran besar-besaran,
segregasi, dan kerusakan yang disebabkan oleh koeksistensi sosial.
Konteks ini mengakibatkan timbulnya kesulitan yang dihadapi perkotaan yang
masih tetap terfragmentasi dan belum mampu menghasilkan perubahan yang
transendental dalam model pembangunan saat ini, meskipun betapa pentingnya
hal tersebut secara sosial dan politik.

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

Untuk menghadapi kenyataan ini, dan perlunya membalikkan tren yang ada,
organisasi dan gerakan perkotaan saling bekerjasama sejak Forum Sosial Dunia
Pertama (2001) yang membahas dan menghadapi tantangan untuk membangun
sebuah model masyarakat dan kehidupan perkotaan yang berkelanjutan,
berdasarkan prinsip-prinsip solidaritas, kebebasan, keadilan, martabat, dan
keadilan sosial, serta didirikan dengan menghormati budaya perkotaan yang
berbeda dan keseimbangan antara perkotaan dan pedesaan. Sejak saat itu,
kelompok terpadu dari gerakan rakyat, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi
profesional, forum, serta jaringan masyarakat sipil nasional dan internasional,
yang berkomitmen untuk melakukan perjuangan sosial bagi terciptanya kota yang
adil, demokratis, manusiawi dan berkelanjutan, telah bekerja untuk membangun
Piagam Dunia tentang Hak atas Kota. Piagam ini bertujuan untuk menggalang
komitmen dan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh masyarakat sipil,
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, anggota parlemen, serta organisasiorganisasi internasional, sehingga semua orang dapat hidup bermartabat di kota.
Hak atas Kota akan memperluas fokus tradisional tentang peningkatan kualitas
hidup masyarakat berdasarkan perumahan dan lingkungan yang ada selama
ini, untuk mencakup kualitas hidup pada skala kota dan pedesaan di sekitarnya,
sebagai mekanisme perlindungan penduduk yang hidup di wilayah perkotaan atau
wilayah-wilayah dengan proses urbanisasi yang cepat. Hal ini mengindikasikan
agar memulai cara baru untuk memajukan, menghargai, membela dan memenuhi
hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan yang dijamin dalam
instrumen HAM regional dan internasional.
Di kota dan pedesaan di sekitarnya, korelasi antara hak-hak dan tugas yang
diperlukan dapat dituntut sesuai dengan tanggung jawab dan kondisi sosial ekonomi
penduduknya yang berbeda, sebagai bentuk promosi: distribusi yang merata atas
manfaat dan tanggung jawab yang dihasilkan dari proses urbanisasi; pemenuhan
fungsi sosial kota dan properti; distribusi pendapatan perkotaan; serta demokratisasi
akses terhadap lahan tanah dan layanan publik bagi semua warga negara, terutama
mereka yang kurang memiliki sumberdaya ekonomi dan berada dalam situasi yang
rentan.
Sebagai asal-usul dan arti sosial, Piagam Dunia tentang Hak atas Kota sebenarnya
merupakan instrumen yang berorientasi untuk memperkuat proses perkotaan,
pembenaran, dan perjuangan. Kami menyebut Piagam yang disusun tersebut
sebagai platform yang mampu menghubungkan upaya dari pihak semua aktor yang
terkait publik, sosial dan pribadi yang tergerak untuk mengalokasikan validitas
dan efektivitas secara penuh terhadap hak asasi manusia yang baru ini melalui upaya
pemajuan, pengakuan hukum, implementasi, regulasi, dan penempatan yang tepat.

Dokumen Referensi

Bagian I Ketentuan Umum


PASAL I. HAK ATAS KOTA
Semua orang memiliki Hak atas Kota yang bebas dari diskriminasi berdasarkan
jenis kelamin, usia, status kesehatan, pendapatan, kebangsaan, etnis, kondisi
migrasi, orientasi politik, agama atau seksual, dan untuk melestarikan nilai
budaya dan identitas sesuai dengan prinsip-prinsip dan norma-norma yang
ditetapkan dalam Piagam ini.

Hak atas Kota didefinisikan sebagai hak pakai hasil kota yang setara dalam
prinsip-prinsip keberlanjutan, demokrasi, kesetaraan, dan keadilan sosial.
Hak ini merupakan hak kolektif dari penduduk kota, khususnya kelompokkelompok yang rentan dan terpinggirkan, yang menganugerahkan kepada
mereka legitimasi tindakan dan organisasi, berdasarkan kegunaan dan
adat istiadat mereka, dengan tujuan mencapai hak secara penuh dalam
memperoleh kebebasan atas kemauan sendiri dan standar hidup yang layak.
Hak atas Kota adalah saling bergantungnya semua hak asasi manusia yang
diakui secara internasional dan dipahami secara integral, dan oleh karena itu
mencakup semua hak sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan
yang sudah diatur dalam perjanjian internasional tentang hak asasi manusia.

Hal ini mengasumsikan tercakupnya hak untuk bekerja dalam kondisi yang
adil dan memuaskan; hak untuk mendirikan dan berafiliasi dengan serikat
kerja; jaminan sosial, kesehatan masyarakat, air minum yang bersih, energi,
transportasi umum, dan layanan sosial lainnya; hak atas makanan, pakaian,
dan tempat tinggal yang layak; hak atas pendidikan publik yang berkualitas
dan budaya; hak atas informasi, partisipasi politik, hidup berdampingan
secara damai, dan akses terhadap keadilan; serta hak untuk berorganisasi,
berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Hak tersebut juga mencakup
penghormatan terhadap kaum minoritas; pluralitas etnis, ras, seksual dan
budaya; serta menghargai para migran.

Wilayah perkotaan dan lingkungan pedesaan di sekitar mereka juga


merupakan ruang dan lokasi bagi pelaksanaan dan pemenuhan hak-hak
kolektif sebagai cara untuk menjamin adanya distribusi dan penggunaan
yang setara, universal, adil, demokratis, dan berkelanjutan atas sumberdaya,
kekayaan, jasa, barang, dan peluang yang dimiliki kota. Oleh karena itu
Hak atas Kota juga meliputi hak terhadap pembangunan, lingkungan yang
sehat, penggunaan dan pelestarian sumberdaya alam, partisipasi dalam
perencanaan dan manajemen perkotaan, serta warisan sejarah dan budaya.

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

Kota ini adalah ruang kolektif budaya yang kaya dan beragam yang berkaitan
dengan semua penghuninya.

Sebagai akibat dari keberadaan Piagam ini, arti dari konsep kota menjadi
berlipat ganda. Sebagai karakter fisik, kota adalah setiap metropolis,
desa, atau kota kecil yang secara kelembagaan diselenggarakan sebagai
satu unit pemerintah lokal dengan karakter kota atau metropolitan. Hal ini
mencakup ruang kota serta lingkungan pedesaan atau semi-pedesaan di
sekitarnya yang merupakan bagian dari wilayahnya. Sebagai ruang publik,
kota adalah keseluruhan lembaga dan aktor yang ikut ambil bagian dalam
pengelolaannya, seperti otoritas pemerintah, lembaga legislatif dan yudikatif,
entitas partisipasi sosial yang dilembagakan, gerakan dan organisasi sosial,
serta masyarakat pada umumnya.

Sebagai akibat dari keberadaan Piagam ini, semua individu yang menghuni
kota, baik secara permanen atau sementara, dianggap sebagai warganya.

Kota, yang bertanggung jawab secara bersama dengan otoritas nasional,


harus mengadopsi semua langkah yang diperlukan hingga pada tingkat
maksimum yang memungkinkan berdasarkan sumberdaya yang tersedia
bagi mereka agar berupaya secara bertahap untuk mencapai, dengan
segala cara yang tepat dan dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif
dan peraturan, serta secara penuh merealisasikan hak-hak ekonomi, sosial,
budaya, dan lingkungan. Selanjutnya, kota sesuai dengan kerangka hukum
dan perjanjian internasional, harus menegakkan ketentuan legislatif atau
ketentuan yang tepat lainnya sehingga secara penuh merefleksikan hak-hak
sipil dan politik yang terkumpul dalam Piagam ini.

PASAL II. PRINSIP DAN LANDASAN STRATEGIS DARI HAK ATAS KOTA
1. PENERAPAN PENUH KEWARGANEGARAAN DAN PENGELOLAAN KOTA
YANG DEMOKRATIS:
1.1. Kota seharusnya merupakan lingkungan yang berperan sebagai
realisasi penuh atas hak asasi manusia dan kebebasan fundamental,
yang menjamin martabat dan kesejahteraan kolektif dari semua orang,
dalam kondisi yang setara, merata, dan berkeadilan. Semua orang
memiliki hak untuk mendapati kota dalam kondisi yang sesuai dengan
keperluan realisasi politik, ekonomi, budaya, sosial, dan ekologi mereka,
asalkan menjaga solidaritas.

Dokumen Referensi

1.2. Semua orang mempunyai hak untuk berpartisipasi secara langsung


maupun dalam bentuk perwakilan dalam melakukan elaborasi, definisi,
implementasi, dan distribusi fiskal serta manajemen kebijakan publik
dan anggaran kota, dalam rangka memperkuat transparansi, efektivitas,
dan otonomi pemerintah daerah dan organisasi masyarakat.
2. FUNGSI SOSIAL KOTA DAN PROPERTI PERKOTAAN:
2.1. Sebagaimana tujuan utamanya, kota harus melaksanakan fungsi
sosial, yang menjamin semua penghuninya atas hak penuh untuk
memanfaatkan sumberdaya yang ditawarkan oleh kota. Dengan kata
lain, kota harus mulai melakukan realisasi proyek dan investasi untuk
kepentingan masyarakat perkotaan secara keseluruhan, dalam kriteria
yang secara distributif merata, komplementaritas ekonomi, menghargai
budaya, dan keberlanjutan ekologi, untuk menjamin kesejahteraan
semua penduduknya, yang selaras dengan alam, bagi generasi
sekarang dan generasi mendatang.
2.2. Ruang-ruang publik dan swasta serta barang-barang dari kota
dan warganya harus digunakan dengan dengan memprioritaskan
kepentingan sosial, budaya, dan lingkungan. Semua warga negara
memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kepemilikan wilayah perkotaan
dalam parameter demokrasi, yang berkeadilan sosial dan dalam kondisi
lingkungan yang berkelanjutan. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan
publik harus mendorong penggunaan ruang dan lahan perkotaan yang
berkeadilan sosial dan seimbang secara lingkungan, dalam kondisi
keamanan dan kesetaraan gender.
2.3. Kota harus menyebarluaskan perundangan yang memadai serta
menetapkan mekanisme dan sanksi yang dirancang untuk menjamin
keuntungan penuh dari lahan perkotaan dan properti publik dan swasta
yang kosong, tidak terpakai, kurang dimanfaatkan, atau tidak dihuni,
bagi pemenuhan fungsi sosial properti.
2.4. Dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan perkotaan, kepentingan
sosial dan budaya kolektif harus diutamakan di atas hak kepemilikan
individu dan kepentingan spekulatif.
2.5. Kota harus menghambat spekulan real estate melalui pengadopsian
norma-norma perkotaan bagi distribusi beban dan manfaat yang
adil yang ditimbulkan oleh proses urbanisasi, dan adaptasi ekonomi,

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

penghargaan, keuangan, serta instrumen kebijakan belanja publik


dengan tujuan pembangunan perkotaan yang adil dan berkelanjutan.
Pendapatan luar biasa (apresiasi) yang dihasilkan oleh investasi publik
yang saat ini digunakan oleh bisnis real estate dan sektor swasta
- harus diarahkan dalam mendukung program-program sosial yang
menjamin hak atas perumahan dan kehidupan yang bermartabat bagi
sektor-sektor yang hidup dalam kondisi kesulitan dan situasi berisiko.
3. KESETARAAN, TANPA ADA DISKRIMINASI:
3.1. Hak yang disebutkan dalam Piagam ini harus dijamin untuk semua
orang yang menghuni kota, baik secara permanen maupun sementara,
tanpa ada diskriminasi dalam bentuk apapun.
3.2. Kota harus mempunyai komitmen dalam hal pelaksanaan kebijakan
publik yang menjamin kesempatan yang setara bagi perempuan di kota,
yang dinyatakan diantaranya dalam Konvensi tentang Penghapusan
Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) dan
Konferensi Lingkungan (Rio de Janeiro 1992), Konferensi Perempuan
(Beijing 1995), serta Konferensi Habitat II (Istanbul 1996). Sumberdaya
yang diperlukan harus dialokasikan dari anggaran pemerintah untuk
menjamin efektivitas kebijakan yang dilakukan, dan mekanisme yang
diperlukan serta indikator kuantitatif dan kualitatif harus dibentuk untuk
memantau pemenuhannya dari waktu ke waktu.
4. PERLINDUNGAN KHUSUS TERHADAP KELOMPOK DAN INDIVIDU YANG
BERADA DALAM SITUASI YANG RENTAN
4.1. Kelompok dan individu yang berada dalam situasi yang rentan
memiliki hak atas langkah-langkah khusus untuk perlindungan dan
integrasi, distribusi sumberdaya, akses terhadap layanan penting, serta
perlindungan dari diskriminasi. Sebagai akibat dari keberadaan Piagam
ini, kelompok berikut ini dianggap sebagai rentan: orang atau kelompok
yang hidup dalam kemiskinan atau dalam situasi lingkungan yang
berisiko (terancam oleh bencana alam), korban kekerasan, penyandang
cacat, migran paksa (pengungsi internal), pengungsi lintas batas, dan
semua kelompok yang tinggal dalam situasi yang kurang menguntungkan
dibandingkan dengan penduduk lainnya, sesuai dengan realitas masingmasing kota. Pada gilirannya, prioritas perhatian dalam kelompokkelompok ini harus ditujukan untuk orang tua, perempuan (khususnya
perempuan kepala rumah tangga), dan anak-anak.

Dokumen Referensi

4.2. Kota, melalui kebijakan aksi afirmatif yang mendukung kelompok


rentan, harus menekan hambatan politik, ekonomi, sosial, dan budaya
yang membatasi kebebasan, keadilan, dan kesetaraan warga negara
dan menghambat perkembangan penuh seseorang dan partisipasi
efektif seseorang dalam bidang politik , ekonomi, sosial, dan budaya di
kota.
5. KOMITMEN SOSIAL DARI SEKTOR SWASTA:

Kota harus meningkatkan partisipasi pihak swasta dalam program-program


sosial dan upaya ekonomi yang bertujuan untuk mengembangkan solidaritas
dan kesetaraan sepenuhnya di kalangan penduduk, sesuai dengan prinsipprinsip yang ditetapkan dalam Piagam ini.

6. MEMAJUKAN
PROGRESIF:

SOLIDARITAS

EKONOMI

DAN

KEBIJAKAN

PAJAK

Kota harus mempromosikan dan menghargai kondisi politik dan ekonomi yang
diperlukan untuk menjamin program-program ekonomi solidaritas sosial dan
sistem pajak progresif yang menjamin distribusi yang adil dari sumberdaya
dan dana yang diperlukan bagi pelaksanaan kebijakan sosial.

Bagian II. Hak-hak yang terkait dengan Pelaksanaan


Kewarganegaraan dan Partisipasi dalam Perencanaan,
Produksi dan Manajemen Kota
PASAL III. PERENCANAAN DAN MANAJEMEN KOTA
1. Kota harus membuka bentuk dan ruang yang dilembagakan bagi partisipasi
warga negara laki-laki dan perempuan yang luas, langsung, adil dan demokratis
dalam proses perencanaan, elaborasi, persetujuan, manajemen serta evaluasi
kebijakan dan anggaran publik. Jaminan harus diberikan untuk bagi operasional
perguruan tinggi, dengar pendapat, konferensi, konsultasi dan debat publik,
serta untuk memungkinkan dan mengenali proses inisiatif masyarakat dalam
proposal legislatif dan perencanaan pembangunan perkotaan.
2. Sesuai dengan prinsip-prinsip dasar organisasi hukum mereka, kota harus
merumuskan dan menerapkan kebijakan yang terkoordinasi dan efektif
terhadap korupsi; dalam mendorong partisipasi masyarakat; dan dalam
mencerminkan prinsip-prinsip penegakan hukum, manajemen permasalahan

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

dan properti publik, integritas, transparansi, dan akuntabilitas.


3. Untuk menjaga prinsip transparansi, kota harus mengatur struktur administrasi
mereka dengan cara sedemikian rupa yang menjamin tanggung jawab efektif
fungsionaris mereka terhadap warga negara mereka, serta tanggung jawab
pemerintah kota yang terkait dengan pemerintah di tingkat lainnya serta
badan dan lembaga hak asasi manusia regional maupun internasional.

PASAL IV. PRODUK SOSIAL DARI HABITAT


Kota harus membentuk mekanisme kelembagaan dan mengembangkan
instrumen hukum, keuangan, administrasi, programatik, keuangan, teknologi,
dan pelatihan yang diperlukan untuk mendukung beragam modalitas dari produk
sosial habitat dan perumahan, dengan memberikan penekanan khusus pada
proses swakelola, baik individu , keluarga, atau upaya kolektif yang terorganisir.

PASAL V. PEMBANGUNAN PERKOTAAN YANG SETARA DAN


BERKELANJUTAN
1. Kota harus mengembangkan perencanaan, regulasi, dan manajemen
lingkungan perkotaan yang menjamin keseimbangan antara pembangunan
perkotaan dan perlindungan alam, sejarah, arsitektur, warisan seni
dan budaya; yang menghambat segregasi dan eksklusi teritorial; yang
mengutamakan produk sosial habitat, dan yang menjamin fungsi sosial
kota dan properti. Untuk mencapai hal itu, kota harus mengadopsi langkahlangkah yang menumbuhkan kota terpadu dan merata.
2. Perencanaan kota serta program dan proyek sektoral harus mengintegrasikan
tema keamanan perkotaan sebagai atribut dari ruang publik.

PASAL VI. HAK TERHADAP INFORMASI PUBLIK


1. Semua orang berhak untuk meminta dan menerima informasi yang lengkap,
handal, memadai dan tepat waktu sehubungan dengan kegiatan administrasi
dan keuangan dari setiap entitas yang terkait dengan administrasi kota,
cabang-cabang legislatif dan yudikatif, serta kalangan bisnis dan swasta
atau campuran masyarakat yang memberikan layanan publik.
2. Para fungsionaris dari sektor pemerintah atau swasta masing-masing harus
menghasilkan informasi yang diperlukan sesuai dengan kompetensi mereka
dalam jangka waktu yang paling singkat jika mereka tidak memiliki informasi

Dokumen Referensi

tersebut pada saat ada permintaan. Satu-satunya batasan akses terhadap


informasi publik adalah penghormatan terhadap hak individu atas privasi
mereka.
3. Kota harus menjamin mekanisme sehingga semua orang memiliki akses
terhadap informasi publik yang efektif dan transparan. Untuk itu, tindakan
harus dikembangkan untuk mendorong akses bagi semua sektor penduduk
terhadap teknologi informasi baru, penggunaan, dan periode pemutakhiran
data mereka.
4. Semua orang atau kelompok yang terorganisasi, dan terutama mereka yang
membangun perumahan mereka sendiri dan komponen habitat lainnya,
memiliki hak untuk memperoleh informasi tentang ketersediaan dan lokasi
lahan yang memadai, program perumahan yang dikembangkan di kota, dan
instrumen pendukung yang tersedia.

PASAL VII. KEBEBASAN DAN INTEGRITAS


Semua orang memiliki hak atas kebebasan dan integritas, baik fisik maupun
spiritual. Kota harus berkomitmen untuk membangun jaminan perlindungan yang
memastikan bahwa hak-hak tersebut tidak dilanggar oleh individu atau lembaga
dalam bentuk apapun.

PASAL VIII. PARTISIPASI POLITIK


1. Semua warga negara memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan
politik lokal melalui pemilihan umum yang bebas dan demokratis terhadap
dewan perwakilan lokal mereka, serta dalam semua keputusan yang
mempengaruhi kebijakan lokal dari perencanaan, produksi, renovasi,
perbaikan, dan manajemen kota.
2. Kota harus menjamin hak atas pemilu yang bebas dan demokratis untuk
memilih perwakilan lokal, realisasi plebisit/referendum dan inisiatif legislatif
masyarakat, serta akses yang setara terhadap debat publik dan dengar
pendapat tentang isu-isu yang terkait dengan kota.
3. Kota harus menerapkan kebijakan aksi yang afirmatif bagi perwakilan dan
partisipasi politik perempuan dan kaum minoritas di semua pos dan posisi
elektif lokal yang bertanggung jawab atas kebijakan publik, penganggaran,
dan pendefinisian program kota.

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

PASAL IX. HAK UNTUK BERSERIKAT, BERKUMPUL, MENUNJUKKAN


JATI DIRI, DAN PENGGUNAAN YANG DEMOKRATIS DARI RUANG PUBLIK
PERKOTAAN
Semua orang memiliki hak untuk berserikat, berkumpul, dan menunjukkan jati
diri. Kota harus menyediakan dan menjamin ruang publik untuk memenuhi hal ini.

PASAL X. HAK ATAS KEADILAN


1. Kota harus mengadopsi langkah-langkah yang dirancang untuk meningkatkan
akses setiap orang terhadap hukum dan keadilan.
2. Kota harus menggerakkan penyelesaian konflik sipil, pidana, administrasi,
dan tenaga kerja melalui pelaksanaan mekanisme publik yang berupa
rekonsiliasi, transaksi, mediasi, dan arbitrase.
3. Kota harus menjamin akses terhadap layanan peradilan, menetapkan
kebijakan khusus yang mendukung kelompok penduduk yang rentan, dan
memperkuat sistem pertahanan publik secara cuma-cuma.

PASAL XI. HAK ATAS KEAMANAN DAN KETENANGAN PUBLIK,


SOLIDARITAS DAN HIDUP BERDAMPINGAN DALAM BERAGAM BUDAYA
1. Kota harus menciptakan kondisi untuk keamanan publik, hidup berdampingan
secara damai, pengembangan kolektif, dan penerapan solidaritas. Untuk
itu mereka harus menjamin hak untuk memanfaatkan kota secara penuh,
menghormati keberagaman dan melestarikan warisan budaya dan identitas
semua warga negara tanpa ada diskriminasi dalam bentuk apapun.
2. Misi utama dari pasukan keamanan mencakup penghargaan dan perlindungan
terhadap hak-hak warga negara. Kota harus memastikan bahwa aparat
keamanan yang berada di bawah yurisdiksi mereka menerapkan penggunaan
kekuatan secara ketat sesuai dengan ketentuan hukum dan dengan kontrol
yang demokratis.
3. Kota harus menjamin partisipasi seluruh warga kota mereka berada dalam
kendali dan evaluasi aparat keamanan.

10

Dokumen Referensi

Bagian III. Hak atas Pembangunan Ekonomi, Sosial,


Budaya, dan Lingkungan terhadap Kota
PASAL XII. HAK ATAS AIR SERTA HAK ATAS AKSES DAN PENYEDIAAN
LAYANAN PUBLIK DOMESTIK DAN PERKOTAAN
1. Kota harus menjamin bagi semua warga mereka akses yang permanen
terhadap layanan publik seperti layanan air minum, sanitasi, pembuangan
sampah, energi dan telekomunikasi, serta fasilitas untuk perawatan kesehatan,
pendidikan, pasokan kebutuhan pokok, dan rekreasi, yang tanggung
jawabnya dipikul bersama dengan badan-badan publik atau badan-badan
swasta lainnya, sesuai dengan kerangka hukum yang ditetapkan dalam hakhak internasional oleh masing-masing negara.
2. Dalam hal layanan publik, kota harus menjamin biaya sosial yang dapat
diakses dan layanan yang memadai bagi semua orang termasuk orang
atau kelompok yang rentan dan para pengangguran bahkan dalam kasus
privatisasi layanan publik yang mendahului adopsi Piagam ini.
3. Kota harus berkomitmen untuk menjamin bahwa layanan publik disandarkan
pada pengelolaan di tingkat administratif yang paling dekat dengan
masyarakat, dengan partisipasi warga dalam pengelolaan dan pengawasan
keuangannya. Layanan ini harus tetap di bawah koridor hukum sebagai
kebutuhan publik, yang menghalangi upaya privatisasi terhadap layanan
tersebut.
4. Kota harus membangun sistem kontrol sosial atas kualitas layanan yang
diberikan oleh badan publik atau swasta, khususnya relatif terhadap kontrol
kualitas, penentuan biaya, dan perhatian terhadap masyarakat.

PASAL XIII. HAK ATAS TRANSPORTASI PUBLIK DAN MOBILITAS


PERKOTAAN
1. Kota harus memberikan jaminan bagi semua orang, hak atas mobilitas dan
sirkulasi di kota, sesuai dengan rencana sirkulasi perkotaan dan antarkota
serta melalui sistem transportasi publik yang dapat diakses, yang tersedia
dengan biaya yang wajar dan memadai bagi kebutuhan lingkungan dan
sosial yang berbeda (jenis kelamin, usia, kapasitas, dll).
2. Kota harus merangsang penggunaan kendaraan non-polusi dan menetapkan
area yang disediakan bagi lalu-lintas pejalan kaki, secara permanen atau
selama waktu-waktu tertentu dalam sehari.

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

11

3. Kota harus mendorong penghapusan hambatan arsitektur, instalasi fasilitas


yang diperlukan dalam sistem mobilitas dan sirkulasi, dan adaptasi dari
semua bangunan publik atau bangunan yang digunakan publik serta fasilitas
kerja dan liburan untuk memastikan akses bagi para penyandang cacat.

PASAL XIV. HAK ATAS PERUMAHAN


1. Kota, dalam kerangka kompetensi masing-masing, harus mengambil langkahlangkah untuk menjamin semua warga negara bahwa biaya perumahan
dapat dijangkau sesuai dengan pendapatan, sehingga memenuhi kondisi
hidup yang memadai, sehingga secara memadai terletak, dan bahwa hal itu
beradaptasi dengan karakteristik budaya dan etnis semua penghuninya.
2. Kota harus memfasilitasi pasokan perumahan dan fasilitas perkotaan
yang layak bagi semua warga kota dan menetapkan program subsidi dan
keuangan bagi pembebasan lahan dan perumahan, kepemilikan regularisasi,
serta peningkatan kondisi lingkungan yang genting dan pemukiman informal.
3. Kota harus menjamin adanya prioritas bagi kelompok rentan dalam undangundang, kebijakan, dan program perumahan, serta menjamin keuangan dan
layanan yang khusus ditujukan untuk kalangan anak-anak dan orang tua.
4. Kota harus menyertakan perempuan dalam dokumen kepemilikan yang
dikeluarkan dan tercatat, tanpa memandang status sipil mereka, dalam
semua kebijakan publik yang dikembangkan terkait dengan tanah dan
distribusi perumahan dan peruntukannya.
5. Kota harus mendorong pembangunan tempat penampungan dan perumahan
sewa sosial bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah
tangga.
6. Semua warga tunawisma, baik secara individu, sebagai pasangan, atau
sebagai kelompok keluarga, memiliki hak untuk menuntut otoritas atas
pelaksanaan yang efektif dari hak mereka atas perumahan yang layak
secara progresif dan melalui aplikasi dari seluruh sumberdaya yang tersedia.
Fasilitas tempat penampungan dan bed and breakfast (kamar dan sarapan
pagi) dapat diadopsi sebagai langkah darurat sementara, tanpa mengurangi
kewajiban untuk memberikan solusi perumahan yang definitif.
7. Semua orang memiliki hak atas keamanan kepemilikan perumahan melalui
instrumen hukum yang memberikan jaminan akan hal itu, dan berhak atas

12

Dokumen Referensi

perlindungan dari penggusuran, pengambilalihan, atau pemindahan paksa


atau sewenang-wenang. Kota harus melindungi penyewa dari pencatutan dan
penggusuran sewenang-wenang, melakukan pengaturan sewa perumahan
sesuai dengan Komentar Umum No. 7 dari Komite PBB tentang Hak Ekonomi,
Sosial dan Budaya.
8. Kota harus berperan sebagai perwakilan langsung dari organisasi dan
gerakan sosial yang membela dan bekerja untuk memenuhi hak-hak yang
terkait dengan hak atas perumahan yang terkandung dalam Piagam ini.
Perhatian, dorongan dan dukungan yang sangat khusus harus diarahkan ke
organisasi kaum rentan dan terkucilkan, yang menjamin dalam semua kasus
atas terjaganya otonomi mereka.
9. Pasal ini berlaku untuk semua orang, termasuk keluarga, kelompok,
penghuni liar, tunawisma, dan orang-orang atau kelompok-kelompok yang
kondisi perumahan mereka bervariasi, terutama termasuk kaum nomaden,
pelancong, dan kaum gipsi.

PASAL XV. HAK ATAS PEKERJAAN


1. Kota, dalam tanggung jawab bersama dengan otoritas nasional, harus
memberikan kontribusi, dengan tingkat yang paling memungkinkan, untuk
mempekerjakan secara penuh di kota. Kota juga harus mendorong pendidikan
lanjutan dan pelatihan ulang bagi pekerja, baik yang masih aktif bekerja atau
yang menganggur, melalui program pembentukan formasi yang permanen.
2. Kota harus mendorong terciptanya kondisi yang sedemikian rupa agar dapat
mencegah pekerja anak sehingga anak laki-laki dan perempuan dapat
menikmati masa kecil mereka dan memperoleh pendidikan.
3. Kota, yang bekerja sama dengan sektor administrasi publik dan sektor swasta
lainnya, harus mengembangkan mekanisme untuk menjamin kesetaraan bagi
semua orang dalam masalah ketenagakerjaan dan menghambat terjadinya
diskriminasi.
4. Kota harus mendorong akses yang setara bagi kaum perempuan terhadap
pekerjaan melalui pendirian pusat-pusat penitipan anak dan langkah-langkah
lainnya, dan bagi para penyandang cacat melalui implementasi fasilitas yang
tepat. Untuk memperbaiki kondisi kerja, kota harus menetapkan program
untuk meningkatkan perumahan perkotaan yang digunakan oleh kepala
rumah tangga perempuan dan kelompok rentan sebagai ruang kerja.

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

13

5. Kota harus meningkatkan integrasi perdagangan informal secara progresif


yang dilakukan oleh kalangan berpenghasilan rendah dan pengangguran,
menghindarkan mereka dari tindak eliminasi dan represi terhadap pedagang
informal. Ruang yang diadaptasi sedemikian rupa bagi perdagangan informal
harus disediakan dan kebijakan yang memadai harus dikembangkan untuk
menyertakan mereka dalam perekonomian perkotaan.

PASAL XVI. HAK ATAS LINGKUNGAN YANG SEHAT DAN


BERKESINAMBUNGAN
1. Kota harus mengadopsi langkah-langkah pencegahan terhadap polusi,
pekerjaan yang tidak tertata dalam suatu wilayah, dan pendudukan wilayah
lingkungan yang dilindungi, serta langkah-langkah yang mendukung
konservasi energi, pengelolaan limbah dan pemakaian kembali, daur ulang,
pemulihan lereng, serta perluasan dan perlindungan daerah hijau.
2. Kota harus menghargai warisan alam, sejarah, arsitektur, budaya, dan
seni, serta mendorong pemulihan maupun rehabilitasi daerah dan fasilitas
perkotaan yang mengalami kerusakan.

Bagian IV. Ketentuan Akhir


PASAL XVII. KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB NEGARA DALAM
MEMAJUKAN, MELINDUNGI, DAN MELAKSANAKAN HAK ATAS KOTA
1. Badan internasional dan pemerintah di tingkat nasional, provinsi, regional,
metropolitan, kota dan lokal bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan
pembelaan yang efektif atas hak yang tercantum dalam Piagam ini, serta
semua hak-hak asasi sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan
dari semua warga negara, berdasarkan sistem hak asasi manusia internasional
dan sistem kompetensi yang berlaku di negara masing-masing.
2. Tidak diterapkannya hak-hak yang terkandung dalam Piagam ini oleh
pemerintah yang bertanggung jawab, atau penerapannya yang bertentangan
dengan prinsip-prinsip dan arahan atau dengan norma-norma hak asasi
manusia internasional dan nasional yang berlaku di negara, merupakan
pelanggaran terhadap Hak atas Kota, yang hanya dapat diperbaiki melalui
pelaksanaan langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan/
membalikkan tindakan atau kelalaian yang menjadi asal-muasal pelanggaran.
Langkah-langkah perbaikan tersebut harus memastikan bahwa dampak

14

Dokumen Referensi

negatif atau kerusakan yang berasal dari pelanggaran dapat diperbaiki/


dikembalikan sedemikian rupa untuk menjamin semua warga tentang
dorongan, penghargaan, perlindungan, dan pemenuhan yang efektif atas
hak asasi manusia yang terkandung dalam Piagam ini.
PASAL XVIII. LANGKAH-LANGKAH BAGI PELAKSANAAN DAN
PEMANTAUAN HAK ATAS KOTA
1. Kota harus mengadopsi semua langkah-langkah pengaturan yang diperlukan,
dengan cara yang tepat dan cepat, untuk menjamin Hak atas Kota bagi
semua orang, sesuai dengan Piagam ini. Kota harus menjamin partisipasi
warga dan organisasi masyarakat sipil dalam proses peninjauan peraturan.
Kota diwajibkan untuk mendayagunakan sumberdaya yang tersedia hingga
semaksimal mungkin untuk memenuhi kewajiban hukum yang ditetapkan
dalam Piagam ini.
2. Kota harus memberikan pelatihan dan penyuluhan pendidikan tentang HAM
bagi semua kalangan publik yang terkait dengan pelaksanaan Hak atas
Kota dan kewajiban yang mengikatnya, khususnya bagi para fungsionaris
yang dipekerjakan oleh badan-badan publik yang pengaruh kebijakannya
sedemikian rupa sehingga merupakan realisasi penuh dari Hak atas Kota.
3. Kota harus mendorong pengajaran dan sosialisasi Hak atas Kota di seluruh
pusat pendidikan, perguruan tinggi, dan melalui media komunikasi.
4. Kota harus menetapkan, bersama-sama dengan warga penduduk, mekanisme
evaluasi dan pemantauan melalui sistem yang efektif dari indikator-indikator
hak atas kota, dengan diferensiasi gender, untuk menjamin Hak atas Kota
berdasarkan prinsip-prinsip dan norma-norma dari Piagam ini.
5. Kota harus secara reguler dan terus-menerus memantau tingkat penghargaan
yang ditegakkan atas kewajiban dan hak yang tercantum dalam Piagam ini.

PASAL XIX. PELANGGARAN TERHADAP HAK ATAS KOTA


1. Pelanggaran terhadap Hak atas Kota yang disebabkan oleh tindakan dan
kelalaian, langkah-langkah legislatif, administratif dan hukum, serta praktek
sosial yang mengakibatkan adanya hambatan, penolakan, kesulitan, atau
ketidakmungkinan dalam:
1.1. pelaksanaan hak-hak yang ditetapkan dalam Piagam ini;

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

15

1.2. partisipasi politik kolektif dari semua penduduk, yang mencakup


khususnya kalangan perempuan dan kelompok-kelompok sosial,
dalam pengelolaan kota;
1.3. pemenuhan keputusan dan prioritas yang ditetapkan dalam proses
partisipatif yang membentuk bagian dari manajemen kota;
1.4. Konservasi identitas budaya, bentuk hidup berdampingan secara
damai, produksi sosial habitat, dan bentuk-bentuk manifestasi dan
tindakan dari kelompok sosial dan warga, terutama kalangan yang
rentan dan kurang beruntung, berdasarkan kegunaan dan adat istiadat
mereka.
2. Tindakan dan kelalaian dapat terjadi di bidang administratif dalam perluasan
dan pelaksanaan proyek, program dan rencana; di bidang legislatif
melalui pemberlakuan hukum dan kontrol sumberdaya publik dan tindakan
pemerintah; dan di bidang hukum dalam pengujian dan keputusan tentang
konflik kolektif dan keputusan pengadilan yang terkait dengan isu-isu
kepentingan perkotaan.

PASAL XX. TUNTUTAN YANG DAPAT DILAKUKAN DARI HAK ATAS KOTA
Semua orang memiliki hak untuk mengakses dan memanfaatkan sumberdaya
administratif maupun hukum yang efektif dan lengkap yang terkait dengan hak
dan kewajiban yang tercantum dalam Piagam ini, termasuk tidak dimanfaatkannya
hak-hak tersebut.

PASAL XXI. KOMITMEN YANG TERKAIT DENGAN PIAGAM TENTANG HAK


ATAS KOTA
I. Jaringan dan organisasi sosial berkomitmen untuk:

16

a.

Menyebarkan Piagam ini secara luas dan mendorong artikulasi


internasional agar mendukung Hak atas Kota dalam konteks Forum
Sosial Dunia, serta dalam konferensi dan forum internasional lainnya,
yang bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam memajukan
perjuangan gerakan sosial dan jaringan non-pemerintah pada
pembangunan kehidupan yang bermartabat di kota;

b.

Membangun platform yang dapat digunakan untuk menuntut Hak atas


Kota, serta mendokumentasikan dan menyebarluaskan pengalaman di

Dokumen Referensi

tingkat nasional dan lokal yang berkontribusi terhadap penyusunan hak


ini;
c.

Menyampaikan Piagam Dunia tentang Hak atas Kota ini ke badanbadan dan lembaga-lembaga Sistem PBB dan badan-badan regional
yang berbeda untuk memulai proses yang bertujuan untuk memperoleh
pengakuan tentang Hak atas Kota sebagai hak asasi manusia.

2. Pemerintah pusat dan daerah berkomitmen untuk:


a.

Menjabarkan dan mendorong kerangka kerja kelembagaan yang


menjunjung tinggi Hak atas Kota, dan segera merumuskan rencana
aksi untuk model pembangunan berkelanjutan yang diterapkan untuk
kota, sesuai dengan prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam ini;

b.

Membangun platform kemitraan, dengan partisipasi masyarakat sipil


yang luas, untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan di kota;

c.

Mendorong upaya untuk melakukan ratifikasi dan penerapan perjanjian


hak asasi manusia serta instrumen internasional dan regional lainnya
yang berkontribusi terhadap penyusunan Hak atas Kota.

3. Anggota parlemen berkomitmen untuk:


a.

Mendorong adanya konsultasi warga negara dan melakukan kegiatan


lobi yang bertujuan untuk memperkaya isi Hak atas Kota dan
mempercepat pengakuan dan penerapannya oleh badan-badan hak
asasi manusia internasional dan regional dan oleh pemerintah pusat
dan daerah.

b.

Menjabarkan dan menetapkan undang-undang yang mengakui dan


menjunjung tinggi hak asasi manusia atas kota, sesuai dengan isi yang
tercantum dalam Piagam ini dan instrumen HAM internasional.

c.

Menyesuaikan kerangka hukum nasional dan lokal untuk menyertakan


kewajiban internasional yang dilakukan oleh negara dalam permasalahan
yang terkait dengan hak asasi manusia, dengan perhatian khusus pada
kewajiban-kewajiban yang tercantum dalam Piagam ini.

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

17

4. Lembaga internasional berkomitmen untuk:


a.

Melakukan semua upaya yang memungkinkan untuk menyadarkan,


memancing, dan mendukung pemerintah dalam mempromosikan
kampanye, seminar dan konferensi, serta untuk memfasilitasi publikasi
teknis yang tepat yang mendukung kepatuhan pemerintah terhadap
komitmen yang terkandung dalam Piagam ini;

b.

Memantau dan mempromosikan penerapan perjanjian hak asasi


manusia serta instrumen internasional dan regional lainnya yang
berkontribusi terhadap penyusunan Hak atas Kota;

c. Membuka ruang untuk berpartisipasi dalam badan konsultatif


dan pengambilan keputusan dari sistem PBB yang memfasilitasi
pembahasan inisiatif ini.

Semua orang, organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, anggota parlemen,


dan organisasi internasional diundang untuk berpartisipasi secara aktif di tingkat
lokal, nasional, regional dan global dalam proses integrasi, adopsi, diseminasi
dan implementasi Piagam Dunia tentang Hak atas Kota sebagai salah satu
paradigma bagi dunia yang lebih baik dalam milenium ini.
Terjemahan: Jodi Grahl, Mei 2005

International Alliance of Inhabitants, 2005


http://creativecommons.org/licenses/by-nd/2.0/fr/deed.fr

18

Dokumen Referensi

Piagam Dunia tentang Hak atas Kota

19

Perserikatan
Bangsa-Bangsa
Majelis Umum

A/HRC/27/59
Distr.: Umum
4 September 2014
Terjemahan: Bahasa Indonesia

Dewan Hak Asasi Manusia Sesi ke-dua puluh tujuh Item agenda 3 dan 5
Memajukan dan melindungi seluruh hak-hak asasi, hak-hak sipil, politik,
ekonomi, sosial dan budaya, termasuk hak atas pembangunan Badan dan
mekanisme HAM

Laporan perkembangan Komite Penasehat


tentang peran pemerintah daerah dalam
memajukan dan melindungi hak-hak asasi
manusia, termasuk pengarusutamaan HAM ke
dalam pemerintahan lokal dan layanan publik

GE.14-15562 (E)

*1415562*
20

Dokumen Referensi

Pendahuluan
Pada bulan Agustus 2012, Komite Penasehat menyerahkan kepada Dewan Hak
Asasi Manusia untuk meminta pertimbangan dan persetujuan dari proposal
penelitian tentang pemerintah daerah dan hak asasi manusia (A/HRC/AC/9/6).
Pada tanggal 20 September 2013, Dewan HAM mengadopsi resolusi 24/2 dengan
mempertimbangkan proposal penelitian yang disebutkan di atas dan meminta
Komite Penasehat untuk menyiapkan laporan berbasis penelitian tentang peran
pemerintah daerah dalam memajukan dan melindungi hak asasi manusia,
termasuk pengarusutamaan HAM pada pemerintah daerah dan layanan publik
dengan maksud untuk mengkompilasi praktek terbaik dan tantangan utama,
serta menyerahkan laporan kemajuan tentang laporan berbasis penelitian yang
diminta kepada Dewan pada sesi ke 27, sebagai bahan pertimbangan.
Komite Penasehat juga diminta untuk menggali pandangan dan masukan dari
negara-negara anggota, organisasi internasional dan regional yang terkait,
Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dan prosedur khusus yang
relevan, serta lembaga HAM nasional dan LSM, dalam rangka mempersiapkan
laporan berbasis penelitian yang disebutkan di atas.
Selama sesi ke 12 yang diselenggarakan pada tanggal 24-28 Februari 2014,
Komite Penasehat membentuk tim penyusun yang bertugas untuk membuat
laporan tersebut dan menunjuk anggota Komite berikut ini: Bp. Coriolano, Ibu
Elsadda, Bp. Huseynov (Pelapor), Ibu Reyes Prado, Bp. Seetulsingh (Ketua), dan
Bp. Yigezu.
Pada sesi pertemuan Komite Penasehat yang sama, tim penyusun membuat suatu
angket, sesuai dengan resolusi Dewan 24/2, yang disebarluaskan ke berbagai
pemangku kepentingan. Terhitung pada tanggal 4 Agustus 2014, sebanyak 67
respon telah diterima: 22 dari berbagai negara, 20 dari lembaga HAM nasional,
9 dari LSM, 12 dari pemerintah daerah dan 4 dari organisasi internasional atau
regional.

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

21

II. Definisi pemerintah daerah


Pemerintah daerah umumnya didefinisikan sebagai penyelenggaraan urusan
pemerintahan pada tingkat yang lebih rendah dalam suatu Negara tertentu.
Di Negara-negara kesatuan, pemerintah daerah biasanya terdiri dari unsur
pemerintah pada tingkat kedua atau ketiga, sedangkan di Negara-Negara federal,
pemerintah daerah berada pada tingkat ketiga atau kadangkala tingkat keempat
dari pemerintahan. Pengorganisasian dan fungsi pemerintah daerah sangat
beragam antar negara. Nama yang berbeda digunakan untuk unsur pemerintah
daerah di berbagai negara (county, prefektur, kabupaten, kota, borough, parish,
desa, dll). Pemerintah daerah secara geografis berada baik di wilayah perkotaan
maupun pedesaan.
Pemerintah daerah menjalankan tiga peran utama: mendorong pembangunan
yang berkelanjutan dan efektif di wilayah mereka masing-masing, demi
kepentingan warga negaranya; mengatur, menyerahkan kepada pihak ketiga,
membiayai dan memberikan layanan umum, baik secara universal maupun yang
ditargetkan untuk mereka yang paling membutuhkannya; dan bertindak sebagai
suara demokrasi dan memperjuangkan hak-hak masyarakat.1
Pemerintah daerah berupaya untuk menjangkau masyarakat hingga ke tingkat
akar rumput dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi secara efektif dalam
pembuatan keputusan yang mempengaruhi hajat hidup mereka. Sebagai tingkat
pemerintahan yang paling dekat dengan warga, pemerintah daerah berada
dalam posisi yang jauh lebih baik daripada pemerintah pusat untuk menangani
masalah-masalah yang memerlukan pengetahuan dan peraturan lokal atas dasar
kebutuhan dan prioritas lokal.
Pemerintah daerah memiliki wewenang tertentu yang diberikan melalui undangundang atau arahan dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi. Wewenang yang
dimaksud secara hakiki mencakup wewenang untuk mengatur dan mengelola
urusan publik tertentu dan memberikan layanan publik tertentu. Luasnya
kekuasaan pemerintah daerah harus selalu dilihat dalam konteks hubungan
antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat atau pemerintah regional (dalam
negara federal). Salah satu aspek penting dari pemerintah daerah adalah adanya
wewenang pengaturan khusus yang bersifat subordinat untuk menjalankan
fungsinya yang bagaimanapun juga harus patuh hukum.
Meskipun di beberapa negara konsep pemerintah daerah dan pemerintah
otonomi daerah digunakan secara bergantian, namun karena pemerintah daerah
memiliki bentuk yang berbeda di negara yang berbeda maka kedua konsep ini

22

Dokumen Referensi

harus dibedakan. Administrasi publik di tingkat daerah dapat dilaksanakan tidak


hanya oleh unsur-unsur dalam pemerintah otonomi daerah (misalnya kota), tetapi
juga oleh unit lokal dari penyelenggaraan negara; dimana unsur otonomi daerah
dipilih langsung oleh penduduk setempat dan menikmati otonomi yang luas,
sedangkan unit pemerintahan lokal bertindak sebagai wakil dari pihak berwenang
yang lebih tinggi dan aparatnya ditunjuk oleh dan bertanggung jawab kepada
pihak berwenang tersebut. Pemerintah otonomi daerah berdasarkan pada asas
desentralisasi, dan penyelenggaraan negara di tingkat lokal berdasarkan pada
asas dekonsentrasi.
Seberapa besar pemerintah daerah dapat menyelenggarakan pemerintahannya
sendiri dapat menjadi salah satu faktor utama dari demokrasi yang sejati.
Dalam hal itu, desentralisasi politik, fiskal dan administrasi sangat penting agar
demokrasi dan hak asasi manusia terlokalisasi. Perlu diingat bahwa demokrasi
tidak memungkinkan tanpa menghormati hak asasi manusia dan hak asasi
manusia tidak dapat dicapai tanpa demokrasi.
Peran pemerintah daerah seharusnya tidak terbatas pada pelaksana dari
keputusan dan kebijakan yang diambil dan dikembangkan tanpa partisipasi
mereka. Di sisi lain, kemandirian lokal harus memiliki batas-batas tertentu yang
ditetapkan dengan jelas oleh hukum, dan berbagai mekanisme harus tersedia
untuk mengawasi legalitas kegiatan pemerintah daerah.

III. Kerangka hukum pemerintah daerah


Untuk memastikan tata kelola pemerintahan di tingkat daerah yang efektif dan
implementasi HAM yang memadai di tingkat lokal, sangat penting untuk memiliki
kerangka hukum yang tepat bagi pemerintah daerah. Organisasi, wewenang
dan fungsinya harus secara jelas ditentukan oleh undang-undang. Selanjutnya,
perundang-undangan nasional harus menjabarkan dengan jelas tanggung jawab
dan wewenang dari pemerintah pusat dan daerah dalam hubungannya antara
satu sama lain.
Pemerintah daerah sebaiknya diakui dalam konstitusi nasional; memang di
sejumlah negara, konstitusi secara khusus melindungi otonomi pemerintah
daerah. Perlu digarisbawahi bahwa perlindungan konstitusional memberikan
jaminan terbaik untuk stabilitas. Selain itu, UU khusus tentang pemerintah daerah
yang disahkan oleh parlemen nasional juga merupakan solusi terbaik dalam hal
ini. Di beberapa negara, sudah ada perlindungan hukum untuk menjaga stabilitas
hukum yang mengatur pemerintah daerah. Di Hungaria, misalnya, UU Pemerintah
Daerah dapat diadopsi atau diubah hanya oleh dua pertiga mayoritas anggota

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

23

parlemen yang hadir. Hal yang sama berlaku untuk setiap undang-undang yang
membatasi hak-hak yang terkait dengan pemerintah mandiri daerah.
Perlu dicatat bahwa prinsip-prinsip subsidiaritas, desentralisasi dan akuntabilitas
secara jelas tampak di sejumlah negara sebagai prinsip utama dari pemerintah
daerah. Selain itu, untuk memastikan agar prinsip-prinsip ini terpenuhi, masingmasing aturan hukum tersebut membolehkan pemerintah daerah untuk
menggunakan upaya hukum.
Hukum internasional pada hakekatnya tidak mempermasalahkan struktur
teritorial internal dari suatu Negara. Hubungan antara negara dan pemerintah
daerah umumnya dianggap sebagai masalah internal. Dengan kata lain, negara
mempunyai hak yang berdaulat untuk mengatur pemerintah daerah mereka sendiri
sesuai dengan hukum dalam negeri mereka dan untuk secara bebas menentukan
apakah pemerintah daerah dipilih atau ditunjuk, dan apakah pemerintah daerah
dapat bekerja secara independen atau hanya dengan persetujuan resmi dari
pemerintahan yang lebih tinggi, dimana layanan publik harus disediakan oleh
pemerintah daerah.
Namun demikian, aturan dan peraturan tertentu telah dikembangkan, baik di
tingkat internasional maupun nasional, yang secara langsung berhubungan
dengan pemerintah daerah. Perlu ditekankan bahwa sangat sedikit dari aturan
hukum tersebut yang mengikat secara hukum. Di antara aturan yang perlu
disebutkan secara khusus adalah Piagam Eropa tentang Pemerintahan Otonomi
di Tingkat Daerah, suatu perjanjian regional yang diadopsi pada tahun 1985 dalam
kerangka kerja Dewan Eropa. Piagam ini, yang telah diratifikasi oleh seluruh 47
negara anggota Dewan Eropa, merupakan instrumen internasional pertama yang
mengikat secara hukum yang menjamin hak-hak masyarakat dan pemerintahan
terpilih mereka. Piagam ini meletakkan standar umum Eropa untuk melindungi
hak-hak pemerintah otonom daerah.
Instrumen lain yang mengikat secara hukum adalah Piagam Afrika tentang
Demokrasi, Pemilu dan Tata Kelola Pemerintahan2 yang diadopsi oleh Uni
Afrika pada bulan Januari 2007. Piagam ini mengandung beberapa ketentuan
mengenai pemerintah daerah. Secara khusus, Piagam ini mewajibkan negara
anggota untuk melakukan desentralisasi kekuasaan kepada pemerintah daerah
yang terpilih secara demokratis sebagaimana diatur dalam UU nasional (pasal
34). Piagam ini selanjutnya menetapkan bahwa mengingat peran abadi dan
penting dari pemerintahan tradisional, khususnya di masyarakat pedesaan,
negara anggota harus berusaha untuk menemukan cara dan sarana yang tepat
untuk meningkatkan keterpaduan dan efektivitasnya dalam sistem demokrasi

24

Dokumen Referensi

yang lebih besar (pasal 35).


Sejumlah instrumen telah diadopsi di bawah naungan Dewan Eropa yang
bertujuan untuk melindungi hak-hak pemerintah daerah, di antaranya: Konvensi
Garis Besar Eropa tentang Kerjasama Lintas Batas Antara Masyarakat atau
Pemerintahan Teritorial (1980 dan tiga protokol tambahan);3 Tata Perilaku Eropa
untuk integritas politik wakil terpilih di tingkat lokal dan regional (1999);4 Konvensi
Landskap Eropa (2000);5 Piagam Wilayah Perkotaan Eropa I (1992);6 Piagam
Wilayah Perkotaan Eropa II - Manifesto untuk kehidupan perkotaan yangg baru
(2008);7 dan Protokol Tambahan Piagam Eropa tentang Pemerintah Otonomi
Daerah yang terkait dengan hak untuk berpartisipasi dalam urusan pemerintah
daerah (2009).8 Perlu juga mempertimbangkan rekomendasi berikut ini dari
Komite Menteri Dewan Eropa untuk negara-negara anggota yang mengandung
prinsip-prinsip dan norma-norma penting yang berkaitan dengan kompetensi,
sumberdaya keuangan dan kapasitas pemerintah daerah: Rekomendasi Rec
(1998) 12 tentang pengawasan tindakan pemerintah daerah; Rekomendasi Rec
(2004) 12 tentang proses reformasi batas-batas dan/atau struktur otoritas lokal dan
regional; Rekomendasi Rec (2005) 1 tentang sumberdaya keuangan pemerintah
lokal dan regional; Rekomendasi Rec (2001) 19 tentang partisipasi warganegara
dalam kehidupan publik di tingkat lokal; dan rekomendasi Rec (2004) 1 tentang
pengelolaan keuangan dan anggaran di tingkat lokal dan regional.9
Dua rangkaian pedoman yang disetujui oleh Dewan Pembina Badan PBB Urusan
Pemukiman Penduduk (UN-HABITAT) pada tahun 2007 dan 2009, yaitu pedoman
tentang desentralisasi dan penguatan pemerintahan lokal, dan pedoman tentang
akses terhadap layanan dasar untuk semua,10 harus dilihat sebagai sesuatu
yang memberi kontribusi penting untuk proses penetapan standar internasional
di bidang pemerintah daerah. Dengan menyetujui dokumen-dokumen tersebut,
Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa berkomitmen untuk memajukan
desentralisasi dan penguatan pemerintah daerah, serta akses terhadap layanan
dasar untuk semua.
Kerangka hukum yang ada bagi pemerintah daerah juga termasuk aturan dan
pedoman yang telah dikembangkan oleh asosiasi pemerintah daerah di tingkat
global dan regional. Dengan demikian, Dewan Perkotaan dan Daerah Eropa,
yaitu asosiasi Eropa terbesar dari pemerintah lokal dan regional yang menyatukan
asosiasi nasional dari pemerintahan lokal dan regional dari 41 negara Eropa,
telah menyusun sejumlah dokumen normatif, di antaranya: Piagam Eropa tentang
Kebebasan Perkotaan (1953);11 Piagam Eropa untuk Kesetaraan bagi Perempuan
dan Laki-laki dalam Kehidupan di Tingkat Lokal (2006);12 Piagam Eropa tentang
Layanan Umum di Tingkat Lokal (2009).13

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

25

Perserikatan Kota dan Pemerintah Daerah (United Cities and Local Government),
organisasi pemerintah daerah terbesar di dunia, yang didirikan pada tahun 2004,
telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya membangun kerangka
kerja normatif global untuk pemerintah daerah, terutama untuk wilayah perkotaan.
Perlu disebutkan secara khusus beberapa dokumen penting seperti Piagam
Dunia untuk Hak atas Kota (2005) dan Agenda Piagam Global Hak Asasi Manusia
di Kota (2010).14

IV. Peran pemerintah dari berbagai tingkat yang berbeda


dalam pelaksanaan kewajiban HAM internasional oleh
Negara

Dalam konteks hukum internasional, Negara adalah suatu entitas tunggal,


terlepas dari apakah Negara tersebut bersifat kesatuan atau federal dan terlepas
dari pembagian administrasi internalnya. Dalam hal ini, hanya Negara Pihak
secara keseluruhan yang terikat oleh kewajiban-kewajiban yang muncul dari
perjanjian internasional yang mana negara tersebut telah meratifikasi. Dengan
demikian, dengan menjadi negara pihak dalam perjanjian HAM internasional,
Negara tersebut menanggung kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan
memenuhi hak asasi manusia. Lebih khususnya, hanya Negara Pihak yang harus
menyerahkan laporan sebagaimana diwajibkan oleh masing-masing perjanjian
HAM universal dan regional dan hanya Negara Pihak yang dapat diadukan oleh
individu atau antar-negara sebagaimana yang dijamin oleh perjanjian tersebut.
Selain itu, suatu Negara yang harus menghadapi mekanisme pengaduan HAM
internasional tidak dapat membela diri dengan mengatakan bahwa dugaan
pelanggaran tersebut dilakukan oleh pemerintah daerah.
Perlu juga ditekankan bahwa di bawah hukum internasional secara umum, Negara
yang diwakili oleh pemerintah pusat bertanggung jawab atas seluruh tindakan dari
semua unsur dan badannya.15 Telah diakui secara umum bahwa perilaku setiap
unsur Negara di bawah hukum internasional akan dianggap sebagai tindakan
Negara tersebut, apakah unsur tersebut melakukan fungsi legislatif, eksekutif,
yudikatif atau fungsi lainnya, terlepas dari posisi unsur tersebut dalam pengaturan
Negara, dan terlepas dari apakah unsur tersebut adalah organ pemerintah pusat
atau unit wilayah Negara yang bersangkutan.16 Dalam alinea 4 dari Komentar
Umum Nomor 31 (2004) tentang kewajiban hukum secara umum yang harus
dipenuhi Negara-negara Pihak dari Kovenan, Komite HAM menegaskan bahwa
semua otoritas publik atau pemerintah, di tingkat apa pun - nasional, regional
atau lokal - berada dalam posisi untuk melaksanakan tanggungjawab dari
Negara Pihak. Demikian pula, dalam alinea 42 dari Komentar Umum Nomor 16
(2005) tentang hak yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk menikmati

26

Dokumen Referensi

semua hak ekonomi, sosial dan budaya, Komite Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
menekankan bahwa pelanggaran hak-hak yang terkandung dalam Kovenan
dapat terjadi melalui tindakan langsung atau gagal untuk bertindak atau kelalaian
oleh Negara Pihak, atau melalui lembaga atau badan di tingkat nasional dan lokal.
Perlu dicatat bahwa tindakan atau perilaku lembaga tertentu yang menggunakan
kekuasaan publik terhubung dengan Negara meskipun hukum negara tersebut
menganggap lembaga yang bersangkutan sebagai lembaga yang otonom dan
independen dari pemerintah eksekutif.17
Tindakan ilegal dari otoritas publik manapun, termasuk pemerintah daerah, dapat
diatribusikan kepada Negara meskipun tindakan tersebut bersifat ultra vires
(melebihi wewenang) atau bertentangan dengan hukum dan aturan di dalam
negeri.18 Hal ini merujuk langsung pada prinsip yang terkandung dalam pasal 27
dari Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian, dimana negara pihak tidak boleh
berpegang pada ketentuan dalam hukum domestik sebagai pembenaran atas
kegagalannya untuk melaksanakan perjanjian.
Pelaksanaan kewajiban negara dalam pemenuhan HAM terletak pada
pemerintah pusat, sementara pemerintah daerah memainkan peran yang bersifat
komplementer. Setelah meratifikasi perjanjian HAM internasional, Negara dapat
mendelegasikan pelaksanaan tersebut kepada tingkat pemerintahan yang lebih
rendah, termasuk pemerintah daerah. Dalam hal ini, pemerintah pusat mungkin
perlu mengambil langkah-langkah di tingkat lokal, khususnya, untuk menetapkan
prosedur dan mekanisme kontrol yang bertujuan untuk memastikan agar Negara
memenuhi kewajiban HAM-nya. Pemerintah setempat berkewajiban untuk
mematuhi, dalam kompetensi lokal mereka, dengan tugas-tugas mereka yang
berasal dari kewajiban HAM internasional Negara. Perwakilan dari pemerintah
daerah harus terlibat dalam penyusunan strategi dan kebijakan nasional HAM.
Pemerintah daerah sesungguhnya merupakan pihak yang akan mewujudkan
kebijakan tersebut di lapangan. Di Negara-negara yang terdesentralisasi,
pemerintah daerah dapat memainkan peran yang lebih proaktif dan mandiri
dalam memajukan dan melindungi hak asasi manusia. Kerjasama HAM yang
dilembagakan antara pemerintah pusat dan daerah dapat memberi dampak
positif pada tingkat pelaksanaan kewajiban HAM internasional oleh Negara.
Untuk memenuhi tanggungjawab HAM-nya, pemerintah daerah harus memiliki
kekuasaan dan sumberdaya keuangan yang diperlukan. Implementasi HAM yang
memadai, terutama hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, oleh pemerintah daerah
membutuhkan sumberdaya keuangan yang tidak mudah tersedia; yang harus
dipertimbangkan baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal yang terutama
perlu ditekankan adalah bahwa kekuasaan apapun yang diberikan kepada

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

27

pemerintah daerah tidak akan efektif tanpa adanya sumberdaya keuangan untuk
melaksanakannya.19
Prinsip tanggungjawab bersama dari tingkat pemerintahan yang berbeda untuk
melindungi dan memajukan HAM telah beberapa kali digarisbawahi oleh badanbadan dan prosedur khusus perjanjian HAM. Dengan demikian, dalam alinea 12
Komentar Umum Nomor 4 (1991) tentang hak atas perumahan yang layak, Komite
Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mencatat bahwa Negara-negara Pihak pada
Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya harus mengambil
berbagai langkah untuk memastikan koordinasi antara kementerian dan pejabat
regional dan lokal dalam rangka menyelaraskan kebijakan (ekonomi, pertanian,
lingkungan hidup, energi, dll.) dengan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan
dalam pasal 11 dari Kovenan. Pelapor Khusus tentang kekerasan terhadap
perempuan, berbagai penyebab dan konsekuensinya, ketika mengunjungi Italia
pada tahun 2012, tidak hanya berbicara dengan perwakilan pemerintah nasional
dan berbagai organisasi non-pemerintah, tetapi juga mengunjungi Roma,
Milan, Bologna dan Napoli, dan dalam laporannya (A/HRC/20/16/Add.2) secara
eksplisit menyatakan pentingnya kemauan politik lokal untuk menangani masalah
kekerasan terhadap perempuan. Dalam salah satu keputusannya, Pengadilan
HAM Eropa menyatakan bahwa pihak berwenang dari entitas wilayah suatu
Negara merupakan lembaga hukum publik yang melaksanakan fungsi-fungsi
yang ditetapkan dalam konstitusi dan aturan hukum. Dalam hal ini, Pengadilan
HAM tersebut menegaskan bahwa dalam hukum internasional istilah organisasi
pemerintah tidak hanya merujuk pada pemerintah atau organ sentral dari suatu
Negara. Di Negara dimana kekuasaan disebarkan menurut jalur desentralisasi,
maka hal ini mengacu pada otoritas nasional apapun yang melaksanakan fungsi
publik.20
Dalam konteks pemantauan pelaksanaan komitmen HAM internasional di
dalam negeri, mekanisme PBB yang relevan dapat digunakan untuk melibatkan
pemerintah daerah dalam dialog. Pemerintah daerah harus dilibatkan dalam
tinjauan periodik universal berkenaan dengan pemerintah mereka; yang akan
meningkatkan kualitas tindak lanjut rekomendasi yang disepakati. Rekomendasi
yang dibuat selama tinjauan periodik universal dan Kesimpulan Pengamatan
dari badan-badan perjanjian harus disebarluaskan oleh pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah. Perlu juga untuk merujuk pada pedoman yang telah
diharmonisasi tentang proses pelaporan kepada badan-badan perjanjian (HRI/
MC/2005/3) di mana negara-negara yang melakukan pelaporan didorong untuk
memastikan bahwa departemen pemerintah di tingkat pusat, regional dan lokal
dan jika memungkinan, di tingkat federal dan provinsi, ikut berpartisipasi dalam
penyusunan laporan berkala (idem, alinea 50).

28

Dokumen Referensi

V. Peran pemerintah daerah dalam menghormati,


melindungi dan memenuhi HAM
Perundang-undangan di sejumlah negara - dalam beberapa kasus, di tingkat
konstitusi - secara eksplisit mengharuskan pemerintah daerah untuk menghormati
hak asasi manusia (misalnya negara Australia, Cte dIvoire, Maroko dan Slovenia).
Di beberapa negara lain, persyaratan konstitusional ini berlaku untuk semua
otoritas publik (misalnya Austria, Azerbaijan, Bosnia dan Herzegovina, Jerman,
Kenya, Lithuania, Malaysia, Sudan Selatan, Spanyol dan Togo). Di Luxemburg,
kekuasaan commune (unit pemerintahan terendah) harus dilaksanakan sesuai
dengan hukum dan ini berarti adanya kewajiban untuk memenuhi hak-hak asasi
manusia yang dijamin oleh hukum. Di beberapa negara, tugas pemerintah daerah
untuk memenuhi HAM dibatasi oleh hukum pada hak-hak atau prinsip-prinsip
tertentu. Misalnya, UU Pemerintah Otonomi Daerah di negara Serbia menetapkan
bahwa kota-kota harus menjamin upaya untuk memajukan dan melindungi
hak-hak kaum minoritas dan kelompok etnis di negara tersebut. Di Irlandia,
UU mengenai pemerintah daerah tidak secara khusus menyebutkan tentang
pemajuan dan perlindungan HAM, tetapi dalam melaksanakan fungsi-fungsinya
pemerintah daerah diwajibkan untuk memperhatikan akan perlunya mendorong
inklusi sosial. Demikian pula, di India, UU tentang pemerintah daerah tidak secara
khusus menyebutkan perlindungan HAM sebagai salah satu tanggungjawab;
namun, fungsi kota sebagaimana yang diamanatkan dalam konstitusi secara
langsung berhubungan dengan HAM, seperti pelaksanaan inisiatif untuk inklusi
yang demokratis, langkah-langkah untuk meningkatkan kesejahteraan dan sistem
peradilan lokal.
Memiliki ketentuan hukum yang secara eksplisit mewajibkan pemerintah daerah
untuk melindungi dan memajukan HAM tampaknya merupakan pendekatan
yang lebih disukai. Pemerintah daerah pun dibuat sadar akan tanggungjawab
HAM yang harus diembannya, memahami bahwa kegagalan untuk memenuhi
tanggungjawab tersebut berarti adanya pertanggungjawaban di bawah hukum
nasional serta tanggungjawab internasional dari Negara tersebut secara
keseluruhan. Selain itu, ketentuan yang demikian secara jelas membebankan
kewajiban pada pemerintah daerah untuk menerapkan pendekatan berbasis
HAM dalam upaya menyediakan layanan publik sesuai dengan kompetensi yang
diperlukan. Hal ini akan mendorong pemegang hak untuk menuntut hak-hak
mereka dibandingkan dengan kewajiban-kewajiban pemerintah daerah.
Pemerintah daerah berada dekat dengan kebutuhan hidup warga sehari-hari dan
menangani masalah HAM setiap hari. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang
jelas dan kuat antara HAM dan pemerintah daerah. Ketika menjalankan fungsi

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

29

mereka, pemerintah daerah mengambil keputusan terutama yang berkaitan


dengan pendidikan, perumahan, kesehatan, lingkungan hidup serta hukum dan
ketertiban, yang secara langsung berhubungan dengan pelaksanaan HAM, yang
dapat memperkuat atau melemahkan kemungkinan warganya untuk menikmati
hak-hak asasi mereka. Sesungguhnya sulit untuk membayangkan situasi dimana
rakyat menyadari bahwa tidak ada pemerintah daerah untuk memberikan
layanan yang mereka diperlukan. Dengan demikian, aparat pemerintah daerah
bertanggungjawab atas berbagai masalah HAM dalam menjalankan pekerjaan
mereka sehari-hari. Namun demikian, pekerjaan tersebut jarang dianggap
sebagai bentuk pelaksanaan HAM, baik oleh pihak berwenang maupun publik.
Akibatnya, HAM masih belum dijadikan kerangka acuan atau analisis di sebagian
besar kebijakan dan praktek di tingkat lokal, sementara hal ini dalam kenyataannya
merupakan pelaksanaan HAM.21 Dengan demikian, perlu diingat bahwa dampak
nyata dari hak asasi manusia dirasakan di tingkat lokal.
Tanggungjawab HAM pemerintah daerah dapat diklasifikasikan ke dalam tiga
kategori utama: kewajiban untuk menghormati, kewajiban untuk melindungi
dan kewaijban untuk memenuhi. Kewajiban untuk menghormati berarti bahwa
pejabat daerah tidak boleh melanggar HAM melalui tindakan mereka sendiri.
Oleh karena itu, pemerintah daerah tidak boleh mengganggu penikmatan hak
dan kebebasan semua warga yang berada di bawah wilayah kekuasaaanya.
Sebagai contoh, dalam kaitannya dengan kebebasan beragama, pemerintah
daerah tidak boleh melarang umat beragama, di luar keterbatasan yang
diperbolehkan, dari menggunakan alun-alun atau gedung pemerintah kota
untuk perayaan keagamaan. Mengenai hak atas kesehatan, pemerintah daerah
tidak boleh mencabut hak masyarakat atau kelompok tertentu untuk mengakses
fasilitas layanan kesehatan. Kewajiban untuk melindungi memerlukan langkahlangkah yang memastikan bahwa pihak ketiga tidak melanggar hak-hak dan
kebebasan individu. Sebagai contoh, pemerintah daerah diharuskan mengambil
tindakan untuk memastikan agar tidak ada pihak lain yang mencegah anakanak dari mengenyam pendidikan. Kewajiban untuk melindungi dapat berupa
upaya menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih aman untuk mengurangi
risiko terjadinya kekerasan, misalnya terhadap perempuan. Kewajiban untuk
memenuhi berarti bahwa pemerintah daerah harus mengambil tindakan positif
untuk memfasilitasi penikmatan hak dan kebebasan. Sebagai contoh, pemerintah
daerah wajib memenuhi hak atas pendidikan dengan mempertahankan sistem
pendidikan yang baik. Dalam upaya menjalankan kewajiban untuk memenuhi
hak individu agar tidak mengalami diskriminasi, mekanisme HAM lokal seperti
ombudsman atau lembaga khusus anti-diskriminasi dapat dibentuk.
Selanjutnya, pemerintah daerah harus mendorong pemahaman dan penghormatan

30

Dokumen Referensi

terhadap hak asasi semua individu dalam wilayahnya melalui pendidikan dan
pelatihan. Secara khusus, pemerintah daerah harus mengatur secara sistematis,
pelatihan HAM bagi wakil-wakil terpilih mereka dan staf administrasi serta
penyebarluasan informasi yang relevan bagi warga tentang hak-hak mereka.
Dengan memajukan HAM, pemerintah daerah dapat ikut membangun budaya
HAM di masyarakat.
Pemerintah daerah harus memberi perhatian khusus terhadap perlindungan dan
dorongan terhadap hak-hak kelompok rentan dan kurang beruntung, seperti
penyandang cacat, etnis minoritas, masyarakat adat, korban diskriminasi seksual,
anak-anak dan manula. Dalam hal ini, kualitas layanan pemerintah daerah untuk
kelompok-kelompok tersebut menguji sejauh mana pemerintah daerah secara
nyata menghormati HAM.22.
Di sejumlah negara, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengarusutamakam
HAM ke dalam kegiatan pemerintah daerah. Dengan demikian, berbagai
langkah telah diambil untuk mendorong tata kelola pemerintahan yang
partisipatif, melakukan audit dan penilaian dampak berbasis HAM, merangkai
ulang berbagai permasalahan lokal sebagai masalah HAM, membuat prosedur
untuk memverifikasi kesesuaian kebijakan dan peraturan daerah dengan HAM,
melaporkan kepatuhan pemerintah dearah pada perjanjian HAM, memberi
alokasi yang jelas dalam anggaran pemerintah kota bagi pelaksanaan HAM,
memberikan pelatihan HAM secara sistematis untuk PNS daerah, meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang HAM, dll. Penyusunan piagam HAM di tingkat
lokal (atau, lebih baik peraturan HAM yang mengikat piagam secara hukum)23
yang menetapkan tanggungjawab HAM tertentu pada pemerintah daerah dapat
menjadi langkah penting lainnya menuju upaya melokalisasi HAM. Dalam konteks
tersebut, pemerintah daerah sangat diharapkan untuk dapat mendirikan kantor
HAM dengan sumberdaya manusia dan keuangan yang memadai sehingga
dapat sepenuhnya menangani masalah HAM sesuai kompetensi lokal masingmasing.
Berikut ini adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi pemerintah daerah
dalam upaya untuk memajukan dan melindungi HAM: lemahnya kemauan politik,
tidak adanya visi/perencanaan jangka panjang dan/atau komitmen; kurangnya
otonomi, kapasitas kelembagaan dan/atau sumberdaya; masih berkuasanya
rezim sentralistik dan/atau non-demokratis; konflik dan ketegangan politik di dalam
negeri; situasi ekonomi yang sulit di dalam negeri; tidak adanya pengakuan atas
peran dan partisipasi masyarakat sipil; kurangnya koordinasi antara pemerintah
pusat dan daerah; dan kurangnya pemahaman HAM di tingkat pemerintah
daerah.

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

31

VI. HAM di kota: kerangka konseptual dan prinsip-prinsip


dasar
Gagasan tentang HAM di kota adalah salah satu inisiatif yang dikembangkan
secara global yang bertujuan untuk melokalisasi hak asasi manusia. Hal ini
didasarkan pada pengakuan bahwa kota merupakan pemain utama dalam upaya
perlindungan dan pemajuan HAM dan mengacu secara umum pada kota yang
mana pemerintah dan penduduknya secara moral dan hukum diatur oleh prinsipprinsip HAM. Inisiatif ini berasal dari gagasan bahwa agar norma dan standar
HAM internasional menjadi efektif, semua penduduk kota perlu mempelajari dan
memahami HAM sebagai kerangka kerja untuk pembangunan yang berkelanjutan
dari masyarakat mereka. Konsep ini diluncurkan pada tahun 1997 oleh Gerakan
Rakyat untuk Pendidikan HAM, suatu organisasi nirlaba layanan internasional.24
Gagasan ini dikembangkan lebih lanjut, terutama sebagai konsep normatif,
oleh Forum Dunia tentang HAM di Kota yang berlangsung setiap tahun di kota
Gwangju (Korea Selatan).
Deklarasi Gwangju tentang HAM di Kota25 yang diadopsi pada tanggal 17 Mei
2011 mengartikan HAM di kota sebagai suatu proses masyarakat lokal dan sosialpolitik dalam konteks lokal di mana HAM memainkan peran utama sebagai nilainilai dan prinsip-prinsip mendasar.26 Suatu kota yang ramah HAM membutuhkan
tata pemerintahan HAM secara bersama dalam konteks lokal dimana pemerintah
daerah, DPRD (Dewan), masyarakat sipil, sektor swasta dan pemangku
kepentingan lainnya bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup bagi semua
warga dalam semangat kemitraan berdasarkan standar dan norma-norma HAM.
Pendekatan HAM dalam tata kelola pemerintahan lokal meliputi prinsip demokrasi,
partisipasi, kepemimpinan yang bertanggungjawab, transparansi, akuntabilitas,
non-diskriminasi, pemberdayaan dan supremasi hukum. Konsep kota yang
ramah HAM juga menekankan pentingnya untuk memastikan partisipasi secara
luas dari semua aktor dan pemangku kepentingan, terutama kelompok marginal
dan rentan, serta pentingnya mekanisme pemantauan dan perlindungan HAM
yang efektif dan independen yang memberikan setiap warga sarana sebagai
jalan keluar. Konsep ini mengakui pentingnya kerjasama di tingkat lokal dan
internasional dan solidaritas di kalangan kota-kota yang terlibat dalam memajukan
dan melindungi HAM.27
Faktor-faktor berikut ini dapat diindikasikan sebagai alasan utama yang telah
menyebabkan munculnya kota yang ramah HAM: (a) pergeseran dari penetapan
standar ke implementasi, terutama pada tingkat pemerintahan, yaitu pemerintah
daerah, yang berada pada posisi terbaik untuk mewujudkan hak asasi manusia,
khususnya hak-hak ekonomi dan sosial; (b) tren global, dimulai pada tahun 1980-

32

Dokumen Referensi

an, menuju desentralisasi kekuasaan pemerintah - dimana sebagian besar negara


di dunia memang dalam beberapa dekade terakhir telah mengalihkan kekuasaan
ke pemerintah daerah; (c) perubahan demografi global: pada tahun 2008, untuk
pertama kalinya dalam sejarah, lebih dari separuh penduduk dunia hidup di
daerah perkotaan, dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi hampir 5
miliar orang pada tahun 2030. Daerah perkotaan mempunyai potensi unik untuk
memberdayakan manusia dan memecahkan masalah sosial dan lingkungan
hidup. Pada saat yang sama, kota-kota menghadapi berbagai tantangan dalam
hal kohesi sosial. Apabila orang dari berbagai bidang dan latar belakang
berkelompok bersama dan biasanya pindah ke kota untuk mendapatkan otonomi
individu, baik warga maupun pemerintah berusaha untuk mengidentifikasi
wacana yang dapat menyatukan penduduk perkotaan dan membentuk suatu
kerangka acuan dalam upaya untuk mencapai harapan bersama antara kota dan
warganya.28.
Prinsip-prinsip Gwangju untuk HAM di Kota yang diadopsi pada tanggal 17 Mei
201429 pada Forum Dunia tentang HAM di Kota ke-4 yang mengandung prinsipprinsip kota yang ramah HAM berikut ini: hak atas kota (right to the city); nondiskriminasi dan tindakan afirmatif; inklusi sosial dan keragaman budaya; demokrasi
partisipatif dan pemerintahan yang akuntabel; keadilan sosial, solidaritas dan
keberlanjutan; kepemimpinan dan pelembagaan politik; pengarusutamaan HAM;
lembaga dan koordinasi kebijakan yang efektif; pendidikan dan pelatihan HAM;
dan hak atas pemulihan atau penyelesaian (right to remedy).
Sejumlah kota di seluruh dunia telah resmi menyatakan dirinya sebagai kota yang
ramah HAM,30 dan sejumlah jaringan kota internasional telah dikembangkan.
Berbagai konsep lain telah dikembangkan, baik dalam hal doktrin maupun
praktek, yang intinya mengejar tujuan yang sama. Salah satunya adalah hak atas
kota yang pertama kali diungkapkan oleh filsuf Perancis Henri Lefebvre;31 konsep
ini mengacu terutama pada hak warga dan pengguna kota untuk berpartisipasi
dalam urusan pemerintahan lokal dan menetapkan tata ruang kota.32 Sejauh ini
konsep hak atas kota telah dilembagakan secara terbatas, contohnya Statuta
Kota di Brasil (2001),33 Piagam Hak dan TanggungJawab Montreal (2006)34 dan
Piagam Kota Meksiko untuk Hak atas Kota (2010).35 Yang terakhir ini menetapkan
enam prinsip dasar yang sangat diperlukan untuk memajukan hak atas kota: (a)
pemenuhan HAM sepenuhnya di kota; (b) fungsi sosial kota, lahan dan properti;
(c) pengelolaan kota yang demokratis; (d) produksi demokratis dari kota dan di
kota; (e) pengelolaan berkelanjutan dan bertanggungjawab dari sumberdaya
milik bersama (alam, warisan budaya dan sumberdaya energi) dari kota dan
sekitarnya; dan (f) penikmatan kota yang demokratis dan adil.

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

33

Hak atas kota secara khusus ditetapkan dalam Piagam Dunia tentang Hak atas
Kota (2005);36 berbagai organisasi dan jaringan, termasuk UNESCO dan UNHABITAT, ikut serta dalam penyusunan dokumen penting tersebut. Piagam ini
mendefinisikan hak atas kota sebagai pemanfaatan kota secara adil dan setara
sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan, demokrasi, kesetaraan dan keadilan
sosial. Hak atas kota merupakan hak kolektif dari warga kota yang diberikan agar
mempunyai hak yang sah untuk bertindak dan berorganisasi, berdasarkan pada
penghormatan atas perbedaan, ekspresi budaya dan praktek mereka, dengan
tujuan melaksanakan hak mereka untuk menentukan nasib mereka sendiri dan
mencapai standar hidup yang layak . Hak atas kota ini saling bergantung pada
hak asasi manusia lainnya yang diakui secara internasional, termasuk hak-hak
sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan sebagaimana dimaksud
dalam perjanjian-perjanjian HAM internasional. Piagam ini juga mengakui sebagai
hak dan kewajiban dari nilai-nilai tertentu yang tidak terkandung secara eksplisit
dalam hukum perjanjian internasional. Hak-hak ini meliputi produksi sosial
pemukiman/habitat dan hak atas pembangunan perkotaan yang berkelanjutan
dan berkeadilan. Piagam ini juga menegaskan hak atas transportasi dan
mobilitas masyarakat, serta hak atas lingkungan hidup.
Konsep hak atas kota telah muncul selama beberapa dekade terakhir sebagai
alternatif dari penarikan tanggungjawab dan sumberdaya pemerintah pusat
dan negara di pasar yang mengalami globalisasi. Banyak kota yang semakin
tunduk pada lembaga pengambilan keputusan di tingkat pusat, anggaran publik
dan investasi, sedangkan kota harus berjuang sendiri dan/atau bersaing untuk
sumberdaya yang diperlukan untuk pembangunan dan layanan, seringkali tanpa
wewenang untuk meningkatkan pendapatan atau berpartisipasi secara efektif
dalam keputusan yang mempengaruhi proses alokasi. Dalam situasi tersebut,
pemerintah daerah menghadapi kemungkinan beralih ke privatisasi barang
dan jasa publik - dengan konsekuensi ekonomi yang biasanya merugikan bagi
kaum miskin - dan/atau mencari dukungan fiskal dari pasar keuangan swasta.
Konsep ini dapat mengacu pada hak-hak administratif, politik dan ekonomi dari
pemerintah daerah dalam kaitannya dengan pemerintah nasional/federal, serta
dengan kehadiran dan peran pemerintah daerah dibandingkan lembaga-lembaga
internasional dan multilateral (PBB, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dll.).
Konsep hak asasi manusia di kota yang dikembangkan terutama dalam Piagam
Eropa untuk Perlindungan Hak Asasi Manusia di Kota37 dan Agenda Piagam Global
tentang Hak Asasi Manusia di Kota38 menyiratkan: komitmen untuk menghormati,
melindungi dan memenuhi seluruh hak-hak asasi manusia yang diakui secara
internasional di tingkat lokal; komitmen untuk memprioritaskan perhatian pada
kelompok marjinal dan populasi yang tinggal dalam kondisi yang rentan; dan

34

Dokumen Referensi

komitmen untuk mengarusutamakan pendekatan HAM dengan kebijakan lokal


(bukan hanya pelaksanaan program HAM).
Selain kota-kota yang umumnya menerapkan HAM sebagai kerangka kebijakan,
banyak juga kota-kota yang memilih untuk mendasari kebijakan-kebijakannya
pada satu perjanjian tertentu, dan - dalam melakukannya - akan melangkah lebih
jauh dari standar yang ditetapkan secara nasional. Salah satu contoh adalah
cara dimana San Francisco telah mengadopsi Konvensi tentang Penghapusan
Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan sebagai peraturan daerah
pada tahun 1998. Dalam penerapannya, San Francisco berkomitmen untuk
mentaati standar perlindungan HAM yang ditetapkan dalam Konvensi tersebut,
dan membentuk gugus tugas terkait. Selama beberapa tahun kemudian, gugus
tugas tersebut memfokuskan diri pada analisis gender dan sejumlah bidang
tematik seperti kekerasan terhadap perempuan, perempuan di tempat kerja
dan anak perempuan. Contoh lain dari kota yang fokus pada satu masalah HAM
tertentu adalah Koalisi International Kota-Kota Melawan Rasisme, suatu inisiatif
yang diluncurkan oleh badan PBB di bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan
Kebudayaan (UNESCO) pada bulan Maret 2004 untuk membangun jaringan kota
yang tertarik untuk berbagi pengalaman dalam upaya untuk menyempurnakan
kebijakan mereka agar dapat melawan rasisme, diskriminasi, xenophobia dan
eksklusi.39

VII. Mekanisme HAM di tingkat lokal


Perlindungan HAM memerlukan mekanisme HAM yang independen. Mekanisme
tersebut dapat berupa berbagai bentuk yang berbeda di masyarakat yang
berbeda, dan ada beberapa contoh yang dapat menjadi model - ombudsman
lokal, lembaga pengaduan konsumen, lembaga yang menangani masalah yang
terkait dengan cedera pasien, lembaga anti-diskriminasi, dll. Kompetensi dan
struktur mekanisme tersebut mungkin sangat beragam, namun harus dilihat
sebagai sarana penting untuk melindungi HAM dan menangani pengaduan
warga pada kesempatan pertama. Hal yang penting adalah bahwa pembentukan
mekanisme HAM lokal memberikan visibilitas pada peran pemerintah daerah
dalam upaya perlindungan HAM. Agar dapat melaksanakan fungsi mereka secara
efektif, pemerintah daerah harus dilengkapi dengan sumberdaya manusia dan
keuangan yang memadai dan dapat diakses oleh semua orang dalam wilayahnya
masing-masing.
Piagam Eropa untuk Perlindungan Hak Asasi Manusia di Kota yang diadopsi
di Saint-Denis pada tahun 2000 mendorong pendirian ombudsman sebagai
mekanisme pencegahan dan juga sebagai sarana penegakan HAM di tingkat

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

35

lokal. Ombudsman memantau pemerintah daerah untuk memastikan bahwa tidak


ada pelanggaran hak-hak dan prinsip-prinsip yang diatur dalam Piagam.
Hanya beberapa Negara yang memiliki mekanisme perlindungan HAM di
tingkat lokal. Di Kanada, kantor ombudsman hadir di banyak pemerintah daerah
(misalnya, di Montreal dan Toronto). Di Swiss, beberapa kota telah mendirikan
kantor ombudsman. Kantor ombudsman ini adalah organ independen yang
menengahi kasus konflik antara individu dan pemerintah. Meskipun lembaga
ini tidak berwenang untuk membuat keputusan yang mengikat, dan hanya
menberikan rekomendasi, lembaga ini terbukti berhasil menjadi sarana untuk
menyelesaikan sengketa. Di Korea Selatan, beberapa pemerintah daerah telah
membentuk komisi-komisi HAM. Di Belanda, pengaduan tentang pelanggaran
HAM dapat diajukan pada ombudsman nasional atau mekanisme pengaduan
di tingkat kota. Di Denmark, Konselor Warga di Kopenhagen merupakan
lembaga konseling warga pertama di negara tersebut yang didirikan oleh
Dewan Kota untuk menciptakan suatu fungsi ombudsman yang independen di
Kopenhagen. Saat ini, 21 kota mempunyai lembaga konseling warga. Kota-kota
di Norwegia memiliki ombudsman untuk wilayah administratif tertentu. Di Bosnia
dan Herzegovina, sejumlah pemerintah daerah telah membentuk komisi HAM
yang bertindak sebagai badan penasehat untuk dewan kota, meskipun bukan
merupakan mekanisme yang sebenarnya bagi perlindungan HAM.
Di sejumlah negara (misalnya, Azerbaijan, Irlandia dan Slovenia), kantor
ombudsman nasional diberdayakan untuk menyelidiki pengaduan tidak hanya
terhadap badan-badan pemerintah, tetapi juga terhadap pemerintah otonomi
lokal.

VIII. Peran masyarakat sipil dalam perencanaan dan


pelaksanaan kegiatan yang bertujuan untuk melindungi
dan memajukan HAM di tingkat lokal

Masyarakat sipil harus secara aktif terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan
HAM di tingkat lokal. Hal ini dapat menekan pemerintah daerah untuk menerapkan
pendekatan berbasis HAM dan memastikan keterlibatan pemerintah daerah.
Masyarakat sipil juga sangat berperan dalam kegiatan pemantauan dan dapat
memberikan informasi dan penilaian yang independen tentang kinerja pemerintah
daerah. Organisasi masyarakat sipil juga dapat bekerja secara langsung dengan
pemerintah daerah untuk memperkuat keahlian dan kesadaran HAM-nya. Namun
demikian, di luar kota-kota besar, masyarakat sipil seringkali masih lemah dan
memiliki sedikit pengalaman dalam pemantauan atau bekerjasama dengan
pemerintah daerah.40

36

Dokumen Referensi

Pejabat publik daerah harus mempertahankan dialog yang berkelanjutan dengan


warga dan masyarakat sipil. Berbagai saluran yang efektif harus ada untuk
menjaga arus komunikasi dan kolaborasi tersebut.
Langkah-langkah harus diambil, baik di tingkat nasional maupun internasional,
untuk memperkuat kapasitas masyarakat sipil dalam memantau dan bekerjasama
dengan pemerintah daerah. Jaringan internasional kota seperti United Cities and
Local Governments dapat memainkan peran penting dalam mengembangkan
panduan, mendorong penelitian, memberikan kesempatan untuk proses belajar
antar teman sebaya dan membangun masyarakat agar siap melakukan aksi.
Analisa atas jawaban/tanggapan yang diterima dari kuesioner menunjukkan
bahwa masyarakat sipil memainkan peran penting dalam meningkatkan aksi lokal
di bidang HAM di negara masing-masing. Di Hungaria, misalnya, organisasi nonpemerintah dapat berpartisipasi dalam tahap perencanaan serta pelaksanaan
peraturan dan program yang dilaksanakan kota, sesuai dengan hukum yang
berlaku. Di Burundi, masyarakat sipil berpartisipasi aktif dalam pelatihan HAM
untuk menyusun program sosialisasi HAM. Di India, perwakilan masyarakat sipil ikut
memperkuat peran pemerintah daerah dalam menangani secara efektif masalahmasalah yang terkait dengan hak-hak warga yang terpinggirkan di tingkat lokal.
Di negara Swiss, organisasi-organisasi bebas untuk memperkenalkan berbagai
program yang berbeda, misalnya untuk melawan rasisme. Di Luxemburg,
Dewan Nasional untuk Orang Asing adalah contoh dari partisipasi masyarakat
sipil dalam memajukan dan melindungi HAM. Dewan ini terdiri dari wakil-wakil
masyarakat sipil dan merupakan badan konsultatif yang mempelajari situasi yang
dialami warga asing dan proses integrasi mereka. Dewan ini memberi anjuran
tentang program-program pemerintah dan merekomendasikan kebijakan. Namun
demikian, perlu juga dicatat bahwa di beberapa negara masyarakat sipil tidak
memiliki peran apapun dalam melindungi HAM di tingkat lokal.

IX. Praktek terbaik


Beberapa tanggapan yang diberikan dalam kuesioner berisi informasi tentang
praktek terbaik sehubungan dengan peran pemerintah daerah dalam memajukan
dan melindungi HAM. Bagian laporan ini berupaya menganalisa informasi
tersebut. Perlu digarisbawahi bahwa banyak inisiatif lain yang telah diluncurkan
di berbagai negara yang bertujuan untuk menjamin pelaksanaan HAM di tingkat
lokal. Praktek-praktek terbaik yang disajikan di bawah ini dapat dibagi menjadi
dua kategori: (a) praktek yang berkaitan dengan HAM pada umumnya, yaitu,
pengarusutamaan HAM ke dalam kegiatan pemerintah daerah; dan (b) yang

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

37

berkaitan dengan hak asasi manusia tertentu atau hak asasi manusia dari
kelompok-kelompok tertentu.
Misalnya, di Australia, semua layanan pemerintah, termasuk pemerintah
daerah, wajib bekerja sesuai dengan tata perilaku yang mencakup pengakuan
hak-hak asasi manusia. Asosiasi Pemerintah Daerah Australia dan Komisi
Nasional HAM bekerjasama untuk mengoperasionalkan hak-hak asasi manusia
di tingkat lokal. Selanjutnya, Komisi Kesetaraan Kesempatan dan Komisi HAM
Victoria memfasilitasi forum pemerintah daerah, dan telah mengembangkan
panduan untuk pemerintah daerah. Komisi HAM tersebut mengkaji program dan
praktek pemerintah daerah sesuai dengan permintaan untuk memastikan agar
program dan praktek tersebut selaras dengan Piagam Victoria tentang HAM
dan Tanggungjawab HAM, serta memberikan pelatihan kepada dewan lokal. Di
Amerika Serikat, pengarusutamaan HAM dalam pemerintahan lokal dilakukan
melalui inisiatif seperti Mewujudkan HAM: bagaimana pemerintah pusat dan
daerah dapat menggunakan hak asasi manusia untuk memajukan kebijakan lokal.
Dengan menerapkan pendekatan inklusif untuk pembangunan yang memberikan
kesempatan yang sama kepada warga, Burundi mempertahankan kebijakan
yang mengintegrasikan kebijakan HAM nasional yang baru ke dalam rencana
pemerintah daerah. Di Hungaria, salah satu tujuan yang diprioritaskan adalah
untuk memantau pelaksanaan rekomendasi untuk Hongaria sesuai penilaian
periodik universal (universal periodic review), yang dapat dan akan dilakukan
melalui pemerintah daerah. Di Kolombia, melalui program Medellin Melindungi
HAM, Dewan Kota berusaha untuk memastikan agar kota tersebut memadukan
upaya perlindungan, pengakuan, pemulihan dan perbaikan hak asasi manusia.
Badan-badan yang diberdayakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah SubSekretariat HAM, yang terdiri dari tiga unit, termasuk Unit HAM.
Sejumlah inisiatif ditujukan untuk membangun kapasitas HAM dari pemerintah
daerah. Burundi telah menargetkan pihak kepolisian untuk pelatihan HAM.
Meksiko melakukan berbagai sesi pelatihan untuk pegawai negeri sipil tentang
prinsip-prinsip konstitusional yang baru, termasuk HAM. Georgia memfokuskan
diri pada upaya peningkatan kapasitas warga secara langsung, daripada
pemerintah daerah. Di negara Swiss, praktek terbaik meliputi kegiatan Swiss
Centre of Expertise in Human Rights (Pusat Keahlian HAM Swiss) yang bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu HAM, seperti rasisme; tiga
contoh praktek terbaik tentang rasisme mencakup langkah-langkah untuk
menginformasikan, melatih dan meningkatkan kesadaran masyarakat di berbagai
daerah.
Di Luxemburg, banyak praktek terbaik yang berhubungan dengan integrasi

38

Dokumen Referensi

warga asing di masyarakat dan mendorong multilinguisme dan multikulturalisme.


Sebagai contoh, suatu badan untuk menyambut dan mengintegrasikan warga
negara asing di Luxemburg telah didirikan untuk memudahkan proses integrasi
dan didukung oleh pemerintah nasional dan lokal serta masyarakat sipil. Di
Hungaria, pemerintah daerah diwajibkan untuk menganalisa situasi yang dialami
oleh kelompok yang kurang beruntung di wilayahnya dan mendorong kesetaraan
kesempatan bagi mereka. Aliansi untuk Demokrasi dan Toleransi - melawan
Ekstrimisme dan Kekerasan memfokuskan pada upaya untuk memperluas
program-program yang efektif dan solusi yang memungkinkan dari satu kota ke
kota yang lain di seluruh wilayah Jerman. Di Slovenia, Undang-Undang tentang
Pemerintah Daerah mendefinisikan hak kelompok minoritas di negara tersebut
dan populasi Gipsi untuk mendapatkan keterwakilan secara formal di dewan
kota, dan kota-kota lain dapat membentuk badan-badan kota untuk menangani
masalah HAM. Suatu program di negara tersebut untuk memecahkan masalah
pemukiman masyarakat Gipsi dikelola oleh Negara dan didukung secara
finansial oleh anggaran negara. Selanjutnya, pemerintah daerah di Slovenia
harus memastikan dan mendorong pengarusutamaan gender. Pada bulan April
1998, di Amerika Serikat, San Francisco menjadi kota pertama di dunia yang
mengeluarkan peraturan lokal yang mencerminkan prinsip-prinsip Konvensi
tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Komisi
untuk Status Perempuan ditunjuk sebagai lembaga pelaksana dan pemantau
Konvensi di San Francisco.

X. Elemen tambahan yang harus dicantumkam pada


laporan akhir
Dokumen ini berisi analisis awal dari masalah-masalah yang terkait dengan peran
pemerintah daerah dalam memajukan dan melindungi hak-hak asasi manusia.
Oleh karena itu, Komite telah merekomendasikan kepada Dewan HAM untuk
menyerahkan laporan akhir kepada Dewan pada sidang ketiga puluh (lihat
tindakan Komite Penasehat 13/4). Hal ini mengingat bahwa laporan akhir ini
akan menguraikan lebih lanjut beberapa masalah, termasuk tantangan utama
yang dihadapi pemerintah daerah dalam melindungi dan memajukan HAM,
operasionalisasi konsep kota yang ramah HAM, serta praktek terbaik untuk
memastikan pelaksanaan HAM di tingkat lokal serta inisiatif internasional dan
regional yang relevan.

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

39

Endnotes
1 Lihat Council of Europe, European Charter of Local Self-Government and
Explanatory Report (Strasbourg, 2010). Tersedia di www.ccre.org/img/
uploads/piecesjointe/filename/charter_sgi_EN.pdf.
2 Tersedia di www.au.int/en/content/african-charter-democracy-elections-andgovernance.
3 Tersedia di www.coe.int/t/congress/texts/conventions/conventions_
en.asp?mytabsmenu=6.
4 Ibid.
5 Tersedia di http://conventions.coe.int/Treaty/Commun/QueVoulezVous.
asp?NT=176&CL=ENG.
6 Tersedia di https://wcd.coe.int/ViewDoc.jsp?id=887405.
7 Tersedia di https://wcd.coe.int/ViewDoc.jsp?id=1302971.
8 Tersedia di http://conventions.coe.int/Treaty/Commun/QueVoulezVous.
asp?NT=207&CM=1&CL=ENG.
9 Tersedia di www.coe.int/T/CM/adoptedTexts_en.asp.
10 Tersedia di http://unhabitat
org/?wpdmact=process&did=NjkxLmhvdGxpbms=.
11 Tersedia di www.ccre.org/docs/charter_municipal_liberties.pdf.
12 Tersedia di www.ccre.org/docs/charte_egalite_en.pdf.
13 Tersedia di www.ccre.org/docs/charter_sgi_en.pdf.
14 Lihat bagian VI dari laporan ini.
15 Dalam hal ini, dapat merujuk secara mutatis mutandis kepada pasal 50 dari
Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik, dimana ketentuanketentuan akan mencakup seluruh bagian dari Negara federal tanpa
batasan atau pengecualian apapun.
16 Resolusi Majelis Umum 56/83, dengan judul Tanggungjawab Negara
terhadap tindakan yang melanggar secara internasional, lampiran.
17 Catatan atas rancangan pasal tentang tanggungjawab Negara terhadap
tindakan yang melanggar secara internasional diadopsi oleh Komisi Hukum
Internasional pada sesi ke 53-nya (2001), Official Records of the General
Assembly, Fifty-sixth session, Supplement No. 10 (A/56/10), Bab. IV.E.2,
hlm. 82.
18 Pasal 7 dari lampiran Resolusi Majelis Umum 56/83 (lihat catatan kaki 16 di
atas).
19 Piagam Eropa tentang Pemerintah Otonomi Daerah (lihat catatan 1 di atas)
menetapkan bahwa pemerintah daerah dalam kebijakan ekonomi nasional
berhak untuk mempunyai sumberdaya keuangannya sendiri yang memadai
yang dapat dimanfaatkan dengan bebas dalam batas kekuasaannya, dan
sumberdayanya akan sebanding dengan tanggungjawab yang ditetapkan

40

Dokumen Referensi

oleh konstitusi dan undang-undang (pasal 9, alinea 1 dan 2).


20 Assanidze v. Georgia, application No. 71503/01, judgment of 8 April
2004. Tersedia di http://hudoc.echr.coe.int/sites/eng/pages/search.
aspx?i=001-61875.
21 Lihat Council of Europe, Congress of Local and Regional Authorities,
Strasbourg, 2527 Maret 2014, sesi ke 26, dokumen CG(26)5FINAL, Best
practices of implementation of human rights at local and regional level in
member states of the Council of Europe and other countries (Rapporteur:
O. Molin), Resolution 365 (2014), Explanatory Memorandum, alinea
8 dan 14. Tersedia di www.coe.int/t/congress/texts/RESOLUTIONS_
en.asp?mytabsmenu=6.
22 International Council on Human Rights Policy, Local Government and
Human Rights: Doing Good Service (Versoix, Switzerland, 2005), hlm. 6.
Tersedia di www.ichrp.org/files/reports/11/124_report.pdf.
23 Peraturan HAM yang diterapkan di sejumlah kota di Amerika Serikat,
yaitu mulai dari peraturan San Francisco mengenai Konvensi tentang
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan,
dapat disebut secara khusus karena merupakan contoh yang baik dari
pencantuman HAM ke dalam kebijakan dan tindakan di tingkat lokal.
24 Program Human Rights Cities yang dijalankan oleh Peoples Movement for
Human Rights Education (PDHRE) atau Gerakan Rakyat untuk Pendidikan
HAM mencakup pengembangan 30 kota yang ramah HAM dan pelatihan
500 pemimpin muda masyarakat di empat lembaga pendidikan regional
untuk pendidikan HAM.
25 Tersedia di www.uclg-cisdp.org/sites/default/files/Gwangju_Declaration_on_
HR_City_final_edited_version_110524.pdf.
26 PDHRE mendefinisikan kota yang ramah HAM sebagai suatu kota atau
masyarakat dimana warga dengan itikad yang baik, di pemerintahan,
organisasi atau lembaga, berupaya menerapkan kerangka kerja HAM yang
mengarahkan upaya pembangunan masyarakat (lihat Human Rights
Learning and Human Rights Cities: Achievements Report, 2007; tersedia di
www.pdhre.org/achievements-HR-cities-mar-07.pdf). Kota yang ramah HAM
juga didefinisikan sebagai suatu masyarakat, dimana semua anggotanya
dari warga biasa dan pegiat masyarakat hingga pembuat kebijakan
dan pejabat daerah memperjuangkan dialog di tingkat masyarakat dan
meluncurkan aksi untuk meningkatkan kehidupan dan keamanan kaum
perempuan, laki-laki dan anak-anak berdasarkan norma dan standar HAM.
Lihat Stephen P. Marks dan Kathleen A. Modrowski dengan Walther Lichem,
Human Rights Cities: Civic Engagement for Social Development. (UNHabitat-PDHRE, 2008), hlm. 45. Tersedia di www.pdhre.org/Human_Rights_
Cities_Book.pdf.

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

41

27 Gwangju Declaration on Human Rights City (lihat catatan 25 di atas).


28 B. Oomen dan M. Baumgrtel, Human Rights Cities, hlm. 4. Tersedia
di http://mensenrechten.verdus.nl/upload/documents/Oomen%2
Baumgartel%20Human%20Rights%20Cities%20v2%20March%202013.pdf.
29 Tersedia di www.uclg-aspac.org/uploads/Gwangju_Guiding_Principles_for_
Human_Rights_City_adopted_on_17_May_2014.pdf.
30 Diantara lain: Rosario (Argentina), yang merupakan kota ramah HAM
pertama yang dimulai pada tahun 1997; Bandung (Indonesia); Barcelona
(Spanyol); Bihac (Bosnia dan Herzegovina); Bogota (Kolombia); Bongo
(Ghana); Kopenhagen (Denmark); Graz (Austria); Gwangju (Republik
Korea); Kaohsiung (Taiwan, Provinsi Cina); Kati (Mali); Korogocho (Kenya);
Kota Meksiko (Meksiko); Mogale (Afrika Selatan); Montreal (Kanada);
Nagpur (India); Porto Alegre (Brasil); Prince George County (Amerika
Serikat); Saint-Denis (Perancis); Sakai (Jepang); Thies (Senegal); Utrecht
(Belanda); Victoria (Australia).
31 Henri Lefebvre, Le Droit la ville (Paris, ditions du Seuil, 1968).
32 Koalisi Habitat Internasional dan Jaringan Hak atas Pemukiman dan
Lahan telah berupaya selama dekade terakhir ini untuk memajukan dan
mengembangkan definisi dari hak atas kota.
33 Tersedia di www.ifrc.org/docs/idrl/945EN.pdf.
34 Tersedia di http://ville.montreal.qc.ca/portal/page?_pageid=3036,3377687&_
dad=portal&_schema=PORTAL.
35 Tersedia di www.hic-net.org/articles.php?pid=3717.
36 Tersedia di http://portal.unesco.org and www.hic-net.org.
37 Dokumen penting ini adalah hasil dari kegiatan persiapan yang dimulai di
Barcelona pada tahun 1998 dalam kerangka kerja Konferensi Cities for
Human Rights, yang diselenggarakan untuk memperingati tahun ke 50
dari Deklarasi Universal HAM. Ratusan walikota dan politisi ikut serta dalam
kegiatan tersebut dan sepakat untuk mendorong pengakuan politik yang
lebih kuat sebagai aktor utama dalam upaya untuk melindungi HAM di dunia
yang mengalami tingkat urbanisasi yang tinggi. Untuk informasi lebih lanjut,
lihat www.uclg-cisdp.org/en/right-to-the-city/european-charter#sthash.
E5JeKdIt.dpuf.
38 Piagam ini dirancang oleh United Cities and Local Governments Committee
on Social Inclusion, Participatory Democracy and Human Rights (Komite
Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah untuk Inklusi Sosial, Demokrasi
Partisipatif dan HAM). Piagam ini didiskusikan dan disetujui oleh perwakilan
terpilih, pakar dan wakil dari masyarakat sipil di seluruh dunia pada tahun
2011. Nilai tambah dari Agenda Piagam Global tentang HAM di Kota adalah
bahwa setiap hak asasi yang terkandung dalam dokumen ini diikuti oleh
suatu rencana aksi sebagai bahan referensi untuk langkah-langkah spesifik

42

Dokumen Referensi

yang dapat diambil pemerintah daerah. Kota-kota yang menandatangani


dokumen ini diajak untuk menyusun agenda lokal berikut tenggat waktu
dan indikator untuk dapat menilai efisiensi dalam melaksanakan hak-hak
tersebut. Teks lengkap dari Piagam ini tersedia di www.cdp-hrc.uottawa.ca/
uploads/Charter_Agenda_oct_2010_EN.pdf.
39 Lihat catatan 25 di atas.
40 International Council on Human Rights Policy, Local Government and
Human Rights, hlm. 76.

Laporan perkembangan Komite Penasehat tentang peran pemerintah daerah

43

AGENDA PIAGAM
GLOBAL TENTANG
HAK ASASI MANUSIA
DI KOTA
Oktober 2010

44

Dokumen Referensi

Pendahuluan
Mengingat bahwa semua manusia diberkahi dengan hak-hak dan kebebasan
yang diakui dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) dan instrumeninstrumen internasional yang mendukungnya, terutama, Kovenan Internasional
tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, serta Sipil dan Politik (1966), konvensi
dan piagam regional perlindungan hak asasi manusia dan perjanjian dasar hak
asasi manusia lainnya.
Mengingat bahwa semua hak asasi manusia bersifat universal, tak terpisahkan
dan saling tergantung, seperti yang ditunjukkan dalam Deklarasi Wina (1993), dan
ditegaskan kembali dalam Deklarasi Milenium (2000) dan Deklarasi untuk ulang
tahun ke-60 Perserikatan Bangsa-Bangsa (2005); dan oleh karena itu tidak hanya
merupakan realisasi hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang sangat diperlukan
bagi pelaksanaan sepenuhnya hak-hak politik, tetapi pada saat yang sama hanya
pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang memungkinkan partisipasi dalam
mekanisme pengambilan keputusan yang dapat menyebabkan pencapaian hakhak ekonomi dan sosial.
Mengingat bahwa kota adalah komunitas politik dimana semua penghuninya
berpartisipasi dalam program bersama yang terkait dengan kebebasan,
kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, dan pengembangan.
Mengingat bahwa derajat kebebasan perempuan memberikan ukuran umum dari
kebebasan masyarakat; oleh karena itu sangat tepat untuk bertindak mendukung
kesetaraan yang efektif antara laki-laki dan perempuan dan untuk secara aktif
mendorong partisipasi kaum perempuan dalam pengambilan keputusan lokal.
Meyakini adanya kebutuhan untuk mempromosikan di kota dan wilayah, suatu
bentuk pembangunan yang berkelanjutan, adil, inklusif dan menghormati
hak asasi manusia tanpa diskriminasi; dan kebutuhan untuk bertindak untuk
memperluas demokrasi dan otonomi daerah sehingga dapat berkontribusi dalam
pembangunan dunia yang damai, adil dan memiliki solidaritas.

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

45

Mempertimbangkan secara khusus bahwa kemiskinan itu sendiri merupakan


pelanggaran hak asasi manusia dan menekankan perlunya menghormati hak
asasi manusia dalam situasi krisis ekonomi.
Sedangkan misi dari pemerintah daerah, melalui tindakan dan otoritas mereka,
adalah untuk menerapkan program ini, mereka harus memainkan peran
penting dalam menjamin efektifitas pelaksanaan hak asasi manusia dari semua
penghuninya. Sedangkan kewarganegaraan, dengan hak, tugas dan tanggung
jawabnya secara khusus dinyatakan di tingkat kota.

Ketentuan Umum
A. Tujuan
Agenda Piagam Global untuk Hak Asasi Manusia di Kota (Global Charter-Agenda
for Human Rights in the City) bertujuan untuk mempromosikan dan memperkuat
hak asasi manusia dari semua penduduk seluruh kota di dunia.
B. Ruang lingkup Aplikasi
Semua ketentuan dalam Agenda Piagam berlaku bagi semua penduduk kota,
secara individu maupun kolektif, tanpa ada diskriminasi. Untuk tujuan Agenda
Piagam ini, semua penduduk adalah warga kota tanpa ada pembedaan
apapun. Setiap diskriminasi yang berdasarkan pada alasan apapun seperti
jenis kelamin, ras, warna kulit, etnis atau asal-usul sosial, fitur genetik,
bahasa, agama atau kepercayaan, politik atau pendapat lain, keanggotaan
dari kebangsaan minoritas, kekayaan, kelahiran, cacat, usia atau orientasi
seksual harus dilarang. Penduduk suatu kota adalah setiap orang yang hidup
dalam wilayahnya bahkan jika tidak berdomisili tetap.
Pelaksanaan hak yang tercantum dalam Agenda Piagam ini akan melengkapi,
mengembangkan dan memperkuat hak-hak yang sudah ada di tingkat
nasional berdasarkan konstitusi, undang-undang dan kewajiban internasional
dari negara.
Kewajiban kota yang tercantum dalam instrumen ini harus dipahami sebagai
tugas dari pemerintah dan administrasi daerah; sesuai dengan kekuatan
yang telah diberikan secara hukum.
Kota didefinisikan sebagai pemerintah daerah dari berbagai ukuran:
daerah, pengelompokan perkotaan, metropolis, kotamadya dan pemerintah
daerah lainnya yang diatur secara bebas.
Wilayah adalah kawasan yang dikelola berada langsung atau tidak langsung
di bawah yurisdiksi kota.
Referensi untuk akses di bagian yang berbeda dari Agenda Piagam ini

46

Dokumen Referensi

harus dipahami baik dari perspektif fisik maupun materi (kedekatan) serta
dari perseptif ekonomi (keterjangkauan).
C. Nilai dan Prinsip
Agenda Piagam ini didasarkan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip berikut:
Martabat setiap manusia sebagai nilai tertinggi
Kebebasan, kesetaraan terutama antara laki-laki dan perempuan, tanpa
diskriminasi, pengakuan atas adanya perbedaan, keadilan dan inklusi sosial
Demokrasi dan partisipasi warganegara sebagai kebijakan kota
Universalitas, keutuhan dan saling ketergantungan hak asasi manusia
Keberlanjutan sosial dan lingkungan
Kerjasama dan solidaritas di kalangan semua anggota masing-masing kota,
serta di kalangan semua kota di seluruh dunia
Tanggung jawab bersama yang berbeda atas kota dan penduduknya, sesuai
dengan kemampuan dan sarana

Agenda Hak dan Kewajiban


I. HAK ATAS KOTA
Semua penduduk kota memiliki hak untuk menjadi anggota lembaga kota
sebagai komunitas politik lokal yang menjamin kondisi hidup yang layak bagi
semua orang, dan menyediakan sarana untuk hidup berdampingan dengan
baik di kalangan semua penduduknya, serta antara mereka dan otoritas lokal.
Setiap laki-laki dan perempuan memperoleh manfaat dari semua hak yang
tercantum dalam Agenda Piagam ini dan menjadi aktor yang sepenuhnya
dari kehidupan kota.
Semua penduduk kota memiliki hak untuk berpartisipasi dalam konfigurasi
dan koordinasi wilayah sebagai ruang dasar dan menjadi fondasi bagi
kehidupan serta untuk hidup berdampingan.
Semua penduduk kota memiliki hak terhadap ruang dan sumberdaya yang
tersedia untuk mempraktekkan kewarganegaraan yang aktif dan hendaknya
ruang kerja dan ruang umum menghormati nilai-nilai orang lain dan nilai-nilai
pluralisme.
Kota menawarkan penduduknya segala sarana yang tersedia untuk
melaksanakan hak-hak mereka.
Penandatanganan Piagam didorong untuk mengembangkan kontak dengan
kota-kota dan lingkungan sekitarnya yang bertujuan untuk membangun
masyarakat dan metropolis yang memiliki kepedulian.
Sebagai kerangka dan ringkasan dari semua hak yang diatur dalam Agenda
Piagam ini, hak di atas akan memuaskan hingga tingkat dimana masing-

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

47

masing dan setiap satu dari hak-hak yang diuraikan di sini sepenuhnya efektif
dan memperoleh jaminan di dalam negeri.
Penduduk kota memiliki kewajiban untuk menghormati hak-hak dan martabat
orang lain.

Rencana Aksi yang Disarankan


1. Adopsi dan penerapan program pelatihan HAM bagi personil lokal, dengan
penekanan pada penghargaan terhadap perbedaan, hidup berdampingan
dan kebaikan bersama, serta, jika diperlukan, mempekerjakan pakar HAM.
2. Analisis partisipatif atau audit HAM di kota, yang akan memungkinkan
perumusan rencana pembangunan daerah didasarkan pada partisipasi yang
bermakna.
3. Evaluasi berkala Agenda Piagam dilakukan dalam kerangka konsultasi publik.
4. Rencana aksi lokal partisipatif tentang HAM, sebagai hasil dari analisis dan
evaluasi sebelumnya.
5. Pendirian lembaga yang berbeda, yang independen dari otoritas politik,
diberdayakan untuk: memberikan informasi kepada warga tentang cara untuk
mendapatkan akses terhadap hak-hak mereka; menerima keluhan dan saran
dari penduduk kota; serta melakukan penyelidikan dan berfungsi sebagai
mediasi sosial.

II. HAK TERHADAP DEMOKRASI PARTISIPATIF


1. Semua penduduk kota memiliki hak untuk berpartisipasi dalam proses politik
dan manajemen kota, terutama:
a.
Berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik
setempat;
b. Mempertanyakan otoritas lokal tentang kebijakan publik mereka, dan
menilainya;
c.
Melakukan transparansi dan akuntabilitas publik dari pemerintah kota.
2. Kota mendorong partisipasi yang berkualitas dari penduduknya dalam urusan
lokal, menjamin mereka akses terhadap informasi publik, dan mengakui
kemampuan mereka untuk mempengaruhi keputusan lokal. Kota terutama
mendorong partisipasi perempuan secara penuh atas pelaksanaan hak-hak
mereka. Hal ini juga mendorong kelompok minoritas untuk ikut berpartisipasi.
Selain itu, hal ini mendorong partisipasi anak-anak dalam urusan yang terkait
langsung dengan mereka.
Kota mendorong pelaksanaan hak-hak individu dan kolektif dari semua
penghuninya. Untuk tujuan ini, kota memfasilitasi partisipasi masyarakat
sipil, termasuk asosiasi advokasi HAM, dalam perumusan kebijakan dan

48

Dokumen Referensi

pelaksanaan tindakan yang bertujuan untuk merealisasikan hak-hak


penduduknya.
3. Penduduk kota berpartisipasi dalam urusan lokal sejalan dengan kemampuan
dan kemampuan mereka. Mereka mengambil bagian dalam keputusan yang
menyangkut mereka, dan mengungkapkan pendapat mereka terhadap orang
dan kelompok lainnya dalam semangat toleransi dan pluralisme. Penduduk
kota mengambil kebijakan lokal dalam hal kepentingan bersama, untuk
kepentingan masyarakat.
Rencana Aksi yang Disarankan:
Jangka pendek:
1. Mendorong langkah-langkah untuk berpartisipasi dalam proses pemilu.
2. Mendorong partisipasi politik dan sosial dari masyarakat yang tidak menikmati
hak untuk memilih dalam pemilu lokal.
3. Menetapkan mekanisme untuk menyediakan semua penduduk kota dengan
akses terhadap informasi publik yang transparan dan dapat diakses. Secara
khusus, informasi penting harus diterbitkan dalam bahasa yang paling umum di
kota.
4. Mengadopsi tindakan pemberian kebebasan bergerak dan kemampuan untuk
menyuarakan oposisi ketika acara publik yang besar diselenggarakan di kota.
5. Publikasi tahunan ringkasan anggaran dan neraca kota yang tersusun dengan
jelas.
6. Mendorong asosiasi dan modal sosial di kota, antara lain melalui pembentukan
sistem tempat umum untuk pertemuan entitas, gerakan dan asosiasi setempat.
Jangka menengah:
1. Membangun proses konsultasi bagi persiapan penyusunan anggaran.
2. Membangun sistem partisipasi warga untuk penyusunan proyek lokal,
program dan kebijakan, termasuk rencana induk kota dan peraturan daerah
tentang partisipasi. Perluasan metodologi partisipatif untuk tindak lanjut dan
evaluasi kebijakan lokal.
3. Mengadakan konsultasi terbuka bagi semua penduduk kota, jika memperoleh
pembenaran oleh kepentingan umum, permasalahan disajikan.
4. Mengadopsi sistem untuk mengajukan petisi kepada pemerintah setempat.
5. Mendorong di hadapan otoritas nasional dan internasional yang kompeten
pengakuan hukum atas hak pilih dalam pemilihan daerah dari semua
penduduk kota, terlepas dari asal negara dari kewarganegaraan mereka.
III. HAK ATAS KEDAMAIAN DAN KEAMANAN MASYARAKAT DI KOTA
1. Semua penduduk kota memiliki hak atas keamanan diri dan materi mereka
terhadap semua jenis kekerasan, termasuk yang berpotensi dilakukan oleh

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

49

lembaga penegak hukum.


2. Kota menjamin keamanan serta keselamatan fisik dan mental dari seluruh
penduduknya, dan mengambil langkah-langkah untuk memerangi tindak
kekerasan, terlepas dari siapapun kemungkinan pelakunya.
3. Kota dilengkapi dengan lembaga penegak hukum yang demokratis, yang
disiapkan untuk melindungi semua penduduknya tanpa diskriminasi.
Lembaga-lembaga publik ini secara tegas dilarang melakukan perlakuan
yang kejam, tidak manusiawi atau yang merendahkan.
4. Ketika penahanan, retensi atau fasilitas penjara yang ada berada di bawah
tanggung jawab kota, tempat-tempat tersebut dapat dikunjungi oleh otoritas
independen tertentu.
5. Kota menerapkan langkah-langkah untuk memerangi kekerasan di sekolah
dan kekerasan dalam rumah tangga, khususnya, kekerasan terhadap
perempuan dan kelompok rentan, seperti anak-anak, orang tua dan
penyandang cacat.
6. Kota menjalankan perannya dalam pengelolaan ketegangan sosial, untuk
mencegah gesekan antara kelompok-kelompok yang berbeda yang hidup di
kota agar tidak berubah menjadi konflik yang sesungguhnya. Untuk tujuan ini,
kota mendorong hidup berdampingan, mediasi sosial dan dialog di kalangan
kelompok-kelompok tersebut.
7. Penduduk kota bertindak dengan cara yang sesuai dengan prioritas
keselamatan semua orang. Penduduk harus menghormati kedamaian
masyarakat.
Rencana Aksi yang Disarankan
Jangka pendek:
1. Memulai suatu proses partisipatif bagi pendekatan yang berbeda untuk
meningkatkan keselamatan di kalangan komunitas dan lingkungan kota yang
berbeda.
2. Pemberian fasilitas kredit dan bantuan keuangan pemerintah, serta
penyediaan tempat usaha untuk jaringan lokal yang bekerja di lingkungan
yang paling sensitif terhadap masalah keamanan.
3. Penerapan sistem koordinasi dan pertukaran informasi secara teratur dengan
otoritas peradilan lokal.
4. Pelatihan khusus untuk aparat kepolisian setempat, tentang kesadaran dan
rasa hormat terhadap realitas sosial dan budaya kota yang berbeda, dalam
intervensi di lingkungan pemukiman yang sensitif.
5. Pelatihan khusus untuk aparat kepolisian setempat tentang HAM.
Jangka menengah:
1. Melibatkan berbagai departemen yang bertanggung jawab atas perencanaan

50

Dokumen Referensi

kota, taman dan kebun, penerangan umum, polisi dan layanan sosial, untuk
mengadopsi semua langkah untuk membuat tempat-tempat umum dan semi
privat lebih aman dan lebih mudah diakses.
2. Menggalang pendanaan ruang publik oleh warga sebagai sarana untuk
membangun identitas masyarakat yang terkait dengan desain dan perawatan
ruang publik tersebut.
3. Melibatkan sistem peradilan nasional masing-masing dalam analisis pola
kejahatan, yang bertujuan untuk mendekriminalisasi kategori pelanggaran
ringan, kejahatan kecil dan perilaku anti sosial yang lebih mudah untuk
diperangi dengan langkah-langkah non-hukuman yang mencoba untuk
merehabilitasi dan mengintegrasikan pelaku.

IV. HAK ATAS KESETARAAN PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI


1. Semua penduduk kota memiliki hak untuk tidak diperlakukan secara
diskriminatif dengan alasan gender mereka.
2. Kota mengadopsi semua langkah yang diperlukan, termasuk peraturan, yang
melarang diskriminasi terhadap perempuan dalam segala bentuknya.

Kota menahan diri dari keterlibatan dalam tindakan atau praktek diskriminasi
terhadap perempuan dan memastikan bahwa otoritas publik dan lembaga
bertindak sesuai dengan kewajiban ini.
Kota mengambil semua langkah yang tepat untuk menghapus diskriminasi
terhadap perempuan yang dilakukan oleh individu, organisasi atau
perusahaan.
Kota mengambil semua langkah yang tepat, khususnya di bidang politik,
sosial, ekonomi dan budaya, untuk memastikan perkembangan penuh
perempuan, yang bertujuan menjamin mereka untuk melaksanakan dan
menikmati hak asasi manusia dan kebebasan fundamental mereka atas
dasar kesetaraan dengan kaum laki-laki.
3. Semua penduduk kota menahan diri dari melakukan tindakan atau praktek
yang dapat merugikan hak-hak perempuan.
Rencana Aksi yang Disarankan
1. Mengadopsi rencana aksi lokal untuk kesetaraan gender yang menjamin
tidak adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan di segala bidang
dan memberikan penghargaan atas kontribusi ke kota yang dilakukan oleh
perempuan.
2. Mengadopsi ketentuan prioritas untuk memfasilitasi akses ke perumahan
sosial oleh perempuan orang tua tunggal atau korban kekerasan gender.
3. Mengadopsi langkah-langkah untuk mendorong akses yang lebih baik
terhadap ruang publik oleh perempuan.

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

51

4. Mengupayakan kesetaraan penuh dalam komposisi badan pemerintah lokal,


termasuk dewan direksi dari perusahaan publik lokal.

V. HAK ANAK-ANAK
1. Semua anak-anak di kota, apa pun jenis kelamin mereka, memiliki hak atas
kondisi kehidupan yang memungkinkan perkembangan fisik, mental dan
etika mereka dan untuk menikmati semua hak yang diakui oleh Konvensi
Internasional tentang Hak Anak 1989. Sesuai dengan Konvensi ini, seorang
anak adalah seseorang yang berusia di bawah 18 tahun.
2. Kota menjamin semua anak atas kondisi kehidupan yang layak, khususnya,
kesempatan untuk menerima pendidikan normal yang memberikan kontribusi
terhadap pengembangan pribadi mereka, dengan menghormati hak asasi
manusia. Jika tidak disediakan oleh pemerintah di tingkat lainnya, kota
menyediakan pendidikan dasar yang gratis dan wajib bagi semua serta
memastikan, bersama-sama dengan pihak yang berwenang, melakukan
pengarusutamaan pendidikan menengah.
3. Dalam memenuhi tanggung jawab mereka, penduduk kota menghormati
martabat dan hak-hak anak termasuk anak penyandang cacat.

Rencana Aksi yang Disarankan


1. Membangun jaringan penitipan anak publik, yang terdiri dari sekolah bayi
dan tempat lain yang memberikan perawatan komprehensif bagi anak-anak
dan remaja, dengan akses universal dan dengan distribusi yang seimbang
di seluruh kota.
2. Menetapkan mekanisme pemantauan yang memungkinkan kota untuk campur
tangan dalam kasus dimana orang yang berusia di bawah 18 tahun berada
dalam risiko, dihadapkan dengan bahaya dan kekerasan, khususnya anak
yatim, anak-anak tunawisma, anak-anak korban segala bentuk eksploitasi,
penderita HIV/AIDS dan para pengungsi perang.
3. Pembukaan dan/atau penguatan pusat penerimaan untuk anak-anak, dengan
perawatan kesehatan, konseling dan layanan bantuan keluarga.
4. Rancangan dan penerapan langkah-langkah bagi akses anak-anak ke kota
5. Menerapkan mekanisme khusus perlindungan sosial bagi kaum muda.
6. Meluncurkan kampanye informasi tentang Konvensi internasional tentang
Hak Anak.
7. Menetapkan langkah-langkah khusus untuk membantu anak-anak cacat.

52

Dokumen Referensi

VI. HAK ATAS LAYANAN PUBLIK YANG DAPAT DIAKSES


1. Semua penduduk kota memiliki hak atas kota yang inklusif secara sosial dan
ekonomi, untuk mengakses layanan sosial dasar terdekat dengan kualitas
yang optimal dan terjangkau
2. Kota menciptakan, atau mendorong terciptanya layanan publik yang
berkualitas dan tanpa diskriminasi, yang minimum menjamin hal-hal berikut
bagi semua penduduknya: pelatihan, akses terhadap kesehatan, perumahan,
energi, air, sanitasi dan makanan yang cukup, di bawah persyaratan yang
diuraikan dalam Agenda Piagam.
3. Khususnya, di negara-negara dengan pertumbuhan kota yang pesat, kota
mengambil langkah-langkah yang mendesak untuk meningkatkan kualitas
hidup dan kesempatan penduduknya, terutama mereka yang memiliki sarana
lebih rendah serta para penyandang cacat.
4. Kota memiliki perhatian terhadap perlindungan hak-hak orang tua dan
mendorong solidaritas di kalangan generasi.
5. Kota mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin distribusi
yang adil atas layanan publik di seluruh wilayah kekuasaannya, dengan cara
yang terdesentralisasi.
6. Penduduk kota menggunakan layanan sosial secara bertanggungjawab.

Rencana Aksi yang Disarankan


Jangka pendek:
1. Pembentukan sistem partisipasi sosial dalam perancangan dan pemantauan
pelaksanaan layanan, terutama yang terkait dengan kualitas, penetapan
biaya dan operasional resepsionis. Sistem partisipasi harus memberikan
perhatian khusus kepada lingkungan tetangga dan kelompok yang paling
rentan di kota, serta kalangan para penyandang cacat.
2. Penghapusan segera, jika ada, persyaratan hukum, administratif dan
prosedural yang mengikat penyediaan layanan dasar publik dengan status
hukum penduduk kota.
3. Peninjauan ketentuan prosedur dan peraturan lokal, agar masyarakat yang
berpenghasilan rendah diberikan akses yang lebih besar terhadap layanan
dasar.
4. Membangun sistem pajak daerah yang adil dari dan biaya yang
memperhitungkan pendapatan rakyat dan penggunaannya untuk layanan
publik; serta pemberian informasi kepada pengguna tentang biaya layanan
publik dan sumber dana untuk membayar mereka.
5. Pemantauan yang cermat dari kebutuhan populasi temporer dan populasi
nomaden lainnya di bidang pelayanan publik dasar.

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

53

Jangka menengah:
1. Menetapkan langkah-langkah yang efisien untuk memastikan bahwa pelaku
sektor swasta yang mengelola layanan kepentingan sosial atau publik
menghormati hak-hak yang dijamin oleh Agenda Piagam ini sepenuhnya,
tanpa ada diskriminasi. Kontrak dan konsesi kota itu harus secara jelas
ditetapkan berdasarkan komitmen terhadap HAM.
2. Pengadopsian tindakan untuk menjamin bahwa layanan publik melaporkan
ke tingkat pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat, dengan
partisipasi dari penduduk kota dalam pengelolaan dan pengawasan mereka.
3. Mendorong akses pada semua layanan publik dan kehidupan kota bagi
kaum manula.
VII. KEBEBASAN ATAS KEYAKINAN DAN AGAMA, PENDAPAT DAN
INFORMASI
a) Semua penduduk kota memiliki hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan
dan beragama: hak ini mencakup kebebasan untuk mengubah agama atau
kepercayaan mereka, dan kebebasan - baik sendiri atau dengan orang lain
dan di depan umum atau secara pribadi - untuk mewujudkan agama atau
kepercayaan dalam pengajaran, praktek, ibadah dan ketaatan.
b) Semua penduduk kota memiliki hak atas kebebasan berpendapat dan
berekspresi. Hak ini mencakup kebebasan untuk memiliki pendapat tanpa
gangguan dan untuk mencari, menerima serta menyampaikan informasi dan
buah pikiran melalui media apa saja.

Hak-hak ini dapat diberikan hanya dalam batas-batas tertentu yang diperlukan
untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan atau moral, atau untuk
perlindungan hak dan kebebasan orang lain, dalam kerangka perundangan
nasional.
c) Kota menjamin bahwa penduduknya memiliki kebebasan untuk
memanifestasikan agama atau keyakinan, termasuk hak orang tua untuk
memilih jenis sekolah bagi anak-anak mereka.
Kota menjamin bahwa setiap orang mampu untuk memiliki pendapat tanpa
ada gangguan, dan untuk mencari serta menerima informasi dan buah pikiran
melalui media apa saja, secara pribadi maupun di depan umum.
Kota berupaya untuk memberikan penduduknya akses cuma-cuma ke
semua sumber informasi yang ada serta memfasilitasi penciptaan dan
pengembangan sumber informasi baru yang bebas dan pluralis.
Kota mendorong penciptaan serta pengembangan media dan badan
informasi secara cuma-cuma dan pluralis, yang bebas diakses oleh semua
penduduk, tanpa ada diskriminasi.
Kota memfasilitasi pencarian fakta bagi semua wartawan tanpa diskriminasi
dan memastikan bahwa mereka memiliki akses yang bebas hingga ke

54

Dokumen Referensi

jangkauan informasi yang terluas, khususnya tentang pemerintahan kota.


Kota mendorong berlangsungnya perdebatan serta pertukaran ide dan
informasi. Hal ini sekaligus memastikan bahwa semua penduduk memiliki
akses gratis ke tempat-tempat pertemuan umum dan memfasilitasi penciptaan
tempat-tempat tersebut.
d) Penduduk kota memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menghormati
agama, kepercayaan dan pendapat orang lain.

Rencana Aksi yang Disarankan


1. Mendukung organisasi keagamaan dalam mendirikan tempat ibadah baru
dan menarik hambatan apapun melalui perencanaan kota untuk mencapai
tujuan itu.
2. Memfasilitasi distribusi dan pertukaran informasi dalam pandangan berbagai
agama dan keyakinan penduduknya, tanpa ada diskriminasi.
3. Mendorong inisiatif yang mendukung atau memiliki toleransi yang lebih besar
dan saling pengertian antar agama, keyakinan dan pendapat.
4. Memfasilitasi penciptaan, pengembangan dan aksesibilitas sumber informasi
baru yang bebas dan pluralis; serta pelatihan wartawan dan mendorong
adanya debat publik.

VIII. HAK UNTUK BERKUMPUL, BERSERIKAT DAN MEMBENTUK SERIKAT


KERJA SECARA DAMAI
a) Semua penduduk kota memiliki hak atas kebebasan untuk berkumpul dan
berserikat secara damai, termasuk hak individu untuk berserikat bersama
dan hak untuk membentuk dan bergabung dengan serikat buruh untuk
melindungi kepentingan mereka.
b) Tidak seorang pun dapat dipaksa untuk bergabung dengan asosiasi atau
serikat buruh.
Kota memastikan bahwa penduduknya memiliki hak untuk berkumpul
bersama dan bertemu secara damai. Hak ini dapat diberikan hanya dalam
batas-batas tertentu sebagaimana yang ditentukan oleh undang-undang dan
diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan atau moral,
atau untuk perlindungan hak dan kebebasan orang lain.

Kota memastikan bahwa penduduknya memiliki bentuk yang tepat dan dapat
bergabung atau tidak bergabung dengan serikat pekerja, tanpa diskriminasi.
Hal ini memberikan kontribusi untuk penikmatan hak-hak buruh secara penuh
oleh penduduknya.
c) Penduduk kota, khususnya mereka yang mempekerjakan orang lain,
menghormati hak setiap orang untuk berkumpul, berserikat dan bergabung

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

55

secara damai dengan serikat pekerja, serta menghormati hak-hak tenaga


kerja.

Rencana Aksi yang Disarankan:


1. Mendorong dan membantu dalam penciptaan dan pengembangan asosiasi.
2. Penarikan hambatan hukum atau administratif untuk membentuk asosiasi dan
serikat buruh, yang menghormati nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia.
3. Memfasilitasi pertukaran informasi di kalangan asosiasi dan serikat pekerja
serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengembangkan tempat
pertemuan, termasuk organisasi forum asosiasi.
4. Mendorong konsultasi dan pertemuan publik dengan asosiasi dan serikat
lokal di bidang kebijakan publik.
5. Mengawasi dan menjamin pemenuhan hak-hak pekerja di semua pekerjaan
dan jasa yang berasal dari kota.

IX. HAK-HAK BUDAYA


a) Semua penduduk kota memiliki hak terhadap pelatihan dan pendidikan
inklusif yang berkualitas dan berkelanjutan, serta menikmati budaya dalam
semua ekspresi dan bentuk yang beragam.
Kota
merangsang
kreativitas,
mendukung
pengembangan
dan
keanekaragaman ekspresi maupun praktek budaya, serta olahraga, bersama
dengan tempat bagi penyebaran budaya dan seni, khususnya, perpustakaan
umum setempat.
b) Kota mendorong program pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan bagi
orang dewasa.

Bekerjasama dengan asosiasi budaya dan sektor swasta, pemerintah daerah
mempromosikan pengembangan kehidupan budaya perkotaan.
Kota menjamin akses semua penduduknya terhadap layanan dan peralatan
komunikasi. Hal ini mendorong pembelajaran teknologi elektronik dan
informasi melalui lokakarya umum secara gratis.
Kota menghormati, melindungi dan mendorong keanekaragaman budaya
penduduknya, satu-satunya batasan yang ada adalah menghormati
sepenuhnya terhadap aturan hidup berdampingan dan hak asasi manusia
yang diakui secara universal. Hal ini akan mendorong ekspresi, kreativitas
dan praktek budaya dari penduduknya.
c) Penduduk kota menghormati keragaman budaya kota dan memperlakukan
tempat dan fasilitas umum secara bertanggung jawab yang ditujukan untuk
budaya di kota.

56

Dokumen Referensi

Rencana Aksi yang Disarankan:


1. Mengadopsi langkah-langkah dukungan bagi pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk orang dewasa, termasuk pelatihan kejuruan.
2. Perluasan jaringan perpustakaan umum di seluruh lingkungan kota.
3. Mengadopsi langkah-langkah untuk melestarikan, melindungi dan
mempertahankan warisan budaya kota, serta akses yang berkelanjutan dan
penuh penghargaan oleh penduduk kota dan wisatawan.
4. Rencana untuk penciptaan, ekspansi atau pemeliharaan tempat rekreasi
yang berkualitas yang terbuka untuk umum tanpa ada diskriminasi.
5. Menawarkan lokakarya pelatihan TI dan mengadopsi langkah-langkah untuk
memastikan adanya akses internet universal.
6. Perhatian yang cermat terhadap kebutuhan populasi temporer dan populasi
nomaden lainnya di bidang akses pendidikan.
7. Langkah-langkah dukungan bagi penciptaan budaya di kota, untuk
meningkatkan kondisi kerja profesional budaya dan untuk mendorong
praktek-praktek budaya yang aktif dari seluruh penduduk kota.
8. Pembangunan dan pemeliharaan sarana olahraga.

X. HAK TERHADAP PERUMAHAN DAN TEMPAT TINGGAL


a) Semua penduduk kota memiliki hak untuk:
1.
Perumahan dengan sanitasi yang layak dengan fitur sentralitas
perkotaan.
2. Keamanan terhadap hak hukum atas rumah dan sebidang tanah
mereka.
3.
Akses tanpa syarat terhadap pencatatan administrasi kota.
4.
Migran memiliki hak atas kebutuhan area pemukiman yang disesuaikan.
b) Kota menyatukan pendekatan pada penggunaan lahan dan pembangunan
perumahan, untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan ekonomi, sosial dan
budaya dari populasi secara keseluruhan, khususnya kelompok yang paling
rentan.
Kota mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan regulasi pasar
perumahan setempat, untuk memastikan pilihan yang terjangkau bagi
kelompok yang paling rentan.
Kota memerangi eksklusi dan segregasi spasial dengan intervensi yang
didasarkan pada inklusi sosial dan keragaman.
Selain itu, kota mengakui hak untuk memperoleh tempat tinggal bagi
seluruh penduduknya, dengan mendorong jaminan atas hak hunian mereka,
khususnya bagi kelompok yang paling rentan, dan terutama bagi penduduk
dari pemukiman informal.

Bekerja sama dengan otoritas lain yang berwenang, kota mengambil langkah

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

57

yang tepat untuk menawarkan tempat tinggal sementara yang layak bagi
populasi tunawisma, serta lokasi yang memadai bagi penduduk migran.
Hal ini memungkinkan para tunawisma untuk menempati tempat tinggal
administratif di asosiasi perawatan, dalam rangka untuk memastikan bahwa
mereka mendapatkan keuntungan dari layanan sosial, khususnya layanan
kesehatan, di kota.
c) Untuk memenuhi tanggung jawab mereka, penduduk kota menggunakan
rumah reguler mereka secara tepat dan mendorong hubungan bertetangga.
Pemilik beberapa rumah harus ingat bahwa, bersama dengan jenis
pendapatan lainnya, perumahan memiliki fungsi sosial.

Rencana Aksi yang Disarankan:


Jangka pendek:
1. Menilai kebutuhan akomodasi sebagai fungsi dari profil penduduk kota,
dan menciptakan atau memperkuat layanan lokal untuk mengenali masalah
tersebut.
2. Menilai situasi pemukiman informal di kota, dan berdialog dengan para
penghuninya untuk memberikan jaminan keamanan atas harta benda dan
status mereka, serta memperbaiki kondisi hidup mereka.
3. Penangguhan segera dari penggusuran yang tidak menghormati proses
hukum dan prinsip-prinsip proporsionalitas dan kompensasi yang adil serta
pembentukan sistem perlindungan dan akomodasi alternatif bagi orangorang yang terusir.
4. Perluasan ketersediaan lahan publik dengan cara pembangunan perkotaan,
perencanaan dan distribusi berbasis wilayah yang dipikirkan dengan
matang, melalui partisipasi warga dan mendukung kelompok masyarakat
yang berpenghasilan rendah.
5. Menyertakan asosiasi migran dan bekerja dengan mereka dalam proses
negosiasi dan manajemen kebijakan lokal serta layanan yang terkait dengan
hak atas perumahan dan tempat tinggal.
6. Perhatian yang cermat terhadap kebutuhan perumahan dari populasi
temporer dan populasi nomaden lainnya.
7. Mengadopsi rencana pembangunan perumahan umum atau bersubsidi,
yang terjangkau bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, dan rencana
untuk penyediaan tempat penampungan yang layak bagi para tunawisma.
Jangka menengah:
1. Menetapkan prosedur pengaturan domain lahan yang menetapkan kerangka
waktu dan tidak diskriminatif, terutama yang merugikan orang dan kelompok
yang paling tidak disukai. Melibatkan pemerintah yang kompeten dalam

58

Dokumen Referensi

prosedur ini, jika memungkinkan. Dalam hal terjadi keterlambatan atau tidak
ada tindakan dari pemerintah, atau adanya risiko penggusuran, penduduk
pemukiman informal berhak secara hukum menuntut pengaturan perumahan
mereka.
2. Diberlakukannya peraturan yang tepat untuk menjamin penggunaan
sepenuhnya lahan perkotaan, serta properti publik dan pribadi yang tidak
terpakai, kurang dimanfaatkan atau kosong, untuk memenuhi fungsi sosial
perumahan. Langkah legislatif dalam skala regional atau nasional akan
diajukan bila diperlukan.
3. Mengadopsi peraturan daerah yang menjamin aksesibilitas perumahan bagi
penyandang cacat, dan menetapkan rencana inspeksi yang bekerjasama
dengan kelompok-kelompok yang terkena dampak.
4. Mengadaptasi peraturan daerah untuk menyediakan hukum yang dapat
ditegakkan dari hak atas perumahan.

XI. HAK ATAS AIR BERSIH DAN MAKANAN


a) Semua penduduk kota memiliki hak atas air minum, sanitasi, dan makanan
dengan kualitas yang layak.
b) Kota menjamin semua penduduknya akses yang sama terhadap layanan air
minum dan sanitasi, dalam jumlah dan kualitas yang memadai.
Kota menjamin pasokan air dan makanan yang memadai untuk hidup dan
melarang pemotongan pasokan air bagi orang-orang yang berada dalam
situasi rentan.

Jika kompeten, kota menetapkan sistem pengelolaan air publik dan partisipatif
yang selanjutnya akan memulihkan sistem tradisional dan masyarakat. Hal ini
mendorong alternatif lokal untuk pengumpulan air.

Kota juga menjamin semua penduduknya akses terhadap makanan sehat dan
bergizi yang memadai, dan bahwa tidak ada orang yang tidak diberi makan
selama kekurangan sarana ekonomi. Kota mengambil langkah-langkah
untuk mengurangi dan meringankan rasa lapar, bahkan dalam kasus-kasus
bencana alam atau jenis bencana lainnya.
c) Untuk memenuhi tanggung jawab mereka, penduduk kota mengkonsumsi air
dengan cara sedemikian rupa yang menghormati konservasi, dan melakukan
penggunaan yang tepat dari fasilitas dan peralatan.

Rencana Aksi yang Disarankan


Jangka pendek:
1. Mengadopsi peraturan daerah, jika dipandang kompeten untuk melakukannya,
yang melarang pemadaman air, bagi orang-orang dalam situasi genting dan

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

59

memastikan adanya kuantitas yang memadai untuk bertahan hidup.


2. Membentuk sistem nilai berskala geser yang memastikan bahwa kuantitas
air yang cukup untuk bertahan hidup hampir gratis atau sangat murah, yang
meningkatkan seiring dengan jumlah konsumsi untuk memberikan denda
bagi yang menghamburkan.
Jangka menengah:
1. Menegosiasikan persyaratan distribusi air dan energi dengan pihak penyedia
dari sektor swasta, yang cukup untuk menjamin hak-hak yang diatur
berdasarkan Agenda Piagam.
2. Memperkenalkan kontrol kualitas untuk menjamin keamanan pangan.
3. Menetapkan pada sekolah umum penyediaan makanan dalam kemitraan
dengan petani dan produsen lokal.
4. Memfasilitasi pembuatan kebun dapur perkotaan dan restoran masyarakat
yang bersubsidi.

XII. HAK ATAS PEMBANGUNAN PERKOTAAN YANG BERKELANJUTAN


a) Semua penduduk kota memiliki hak atas pembangunan perkotaan yang
berkualitas, dengan fokus sosial ketersediaan transportasi umum, dan
penghargaan atas lingkungan.
b) Semua penduduk kota memiliki hak terhadap listrik, gas dan sumber energi
lainnya di rumah, di sekolah dan di tempat kerja, dalam kerangka sebuah
kota yang berkelanjutan secara ekologis.
Kota memastikan bahwa pembangunan perkotaan dilakukan dengan
keseimbangan yang harmonis di kalangan semua lingkungan, yang
mencegah terjadinya segregasi sosial.
Kota mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapai lingkungan
perkotaan yang sehat, dan membuat upaya khusus agar secara konsisten
meningkatkan kualitas udara, dan mengurangi ketidaknyamanan yang
disebabkan oleh kebisingan dan lalu-lintas.

Kota dilengkapi dengan sistem angkutan umum massal yang efisien yang
mencapai semua lokasi lingkungan secara seimbang.
Kota menjamin akses yang sama terhadap gas, listrik dan sumber energi
lainnya, dalam kualitas dan kuantitas yang mencukupi untuk semua
penduduknya.
Kota melarang pemotongan pasokan gas, listrik dan sumber energi lainnya
bagi orang-orang yang berada dalam situasi rentan untuk menjamin konsumsi
yang cukup untuk bertahan hidup.
c) Untuk memenuhi tanggung jawab mereka, penduduk kota bertindak dengan
cara yang sedemikian rupa untuk menghormati pelestarian lingkungan, hemat

60

Dokumen Referensi

energi dan penggunaan yang baik dari instalasi publik, termasuk transportasi
umum. Penduduk juga berpartisipasi dalam upaya kolektif masyarakat untuk
mendorong perencanaan kota yang berkualitas dan pembangunan yang
berkelanjutan, untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang.

Rencana Aksi yang Disarankan


Jangka pendek:
1. Mengadopsi langkah-langkah yang bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran di kalangan penduduk kota akan tanggung jawab mereka dalam
proses perubahan iklim dan kerusakan keanekaragaman hayati, dan dalam
menentukan jejak ekologis dari kota itu sendiri, untuk mengidentifikasi
prioritas area aksi.
2. Mengadopsi langkah-langkah pencegahan untuk memerangi polusi dan
pendudukan tanah maupun kawasan lingkungan yang dilindungi secara
tidak terorganisir, termasuk penghematan energi, pengelolaan limbah dan
pemanfaatan kembali, daur ulang, serta perluasan dan konservasi ruang
hijau.
3. Mengadopsi langkah-langkah untuk melawan korupsi dalam pembangunan
perkotaan dan terhadap serangan di lahan alami yang dilindungi.
4. Mengadopsi langkah-langkah untuk mempromosikan layanan transportasi
kolektif yang dapat diakses secara gratis atau murah untuk semua penduduk
kota dan secara bertahap memperkenalkan layanan transportasi umum
ekologi.
5. Jika kompeten, mengadopsi tata cara hukum setempat yang menetapkan
larangan pemotongan pasokan listrik, gas dan sumber energi lainnya di
rumah untuk orang-orang yang berada dalam situasi rentan untuk menjamin
kebutuhan dasar.
Jangka menengah:
1. Persetujuan rencana transit perkotaan dan antar kota berdasarkan sistem
transportasi umum yang dapat diakses, terjangkau dan memadai untuk
berbagai kebutuhan lingkungan dan sosial (jenis kelamin, usia dan
penyandang cacat).
2. Pemasangan peralatan yang diperlukan dalam sistem transit dan lalulintas, adaptasi dari semua bangunan umum atau bangunan publik yang
digunakan, tempat kerja dan tempat rekreasi untuk menjamin akses bagi
para penyandang cacat.
3. Meninjau rencana pembangunan perkotaan untuk memastikan bahwa tidak
ada lingkungan atau komunitas sekitar yang dikecualikan, dan mereka

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

61

4.

5.

6.
7.

semua memiliki unsur sentralitas. Perencanaan harus bersifat transparan


dan terorganisir berdasarkan prioritas, dengan upaya yang lebih besar di
lingkungan sekitar yang paling tidak disukai.
Perencanaan metropolitan dan perencanaan yang berpotensi regional
dan nasional, dalam hal pembangunan perkotaan, transportasi umum dan
kelestarian lingkungan.
Membentuk sistem nilai berskala geser yang memastikan bahwa pemakaian
konsumsi energi minimum adalah hampir gratis atau sangat murah, yang
meningkatkan seiring dengan jumlah konsumsi untuk memberikan denda
bagi yang menghamburkannya.
Mendorong teknologi yang berkelanjutan dan beragam untuk pasokan energi.
Menetapkan langkah-langkah yang berkontribusi terhadap perlindungan
keanekaragaman hayati pada skala lokal.

Ketentuan Akhir
A. Mengadopsi dan memasukkan Agenda Piagam di tiap kota
Agenda Piagam mulai berlaku di setiap kota setelah melalui proses konsultasi
yang memungkinkan penduduk kota untuk membahas dan menyesuaikan
ketentuan pelaksanaan rencana aksi untuk kondisi lokal dan kerangka hukum
nasional; dan setelah diterima oleh dewan kota. Mekanisme yang sama
berlaku untuk setiap tinjauan Agenda Piagam setempat.
Agenda Piagam Setempat yang telah diadopsi akan disebarluaskan di
kalangan seluruh penduduk kota.
B. Mekanisme penerapan:
Kota menguraikan indikator yang tepat dari pemenuhan setiap hak dan
rencana aksi yang ditetapkan dalam Agenda Piagam Lokal.
Kota membentuk badan yang diperlukan (kelompok ahli, observatorium lokal,
komisi independen HAM atau komite bersama perwakilan terpilih/ masyarakat
sipil) untuk memastikan implementasi, tindak lanjut dan evaluasi dari Agenda
Piagam di tingkat lokal. Kota juga dapat menentukan prosedur pengaduan
atau mediasi (jika tersedia, peran ini dapat dilakukan oleh ombudsman lokal).
Kota menetapkan proses konsultasi publik untuk mengevaluasi secara
berkala pelaksanaan dan efek dari Agenda Piagam.
Kota menjalin kerjasama multi-level dengan instansi lain yang berwenang
(lokal, regional, nasional) untuk menjamin hak atas kota.

62

Dokumen Referensi

C. Peran kota dalam mendorong HAM dalam skala internasional


Kota berkomitmen untuk meningkatkan kerjasama lokal transnasional
baik secara umum maupun dalam pelaksanaan Agenda Piagam ini dan
mendorong penghormatan terhadap hak asasi manusia di seluruh dunia.
Kota berusaha untuk berkolaborasi, dalam kekuasaan mereka, dalam
penyusunan kebijakan nasional, terlibat sebagai pemangku kepentingan
dalam mekanisme HAM internasional (tinjauan berkala universal, laporan
berkala, dll).
Kami mendorong partisipasi masyarakat sipil, asosiasi dan LSM untuk
melindungi dan memajukan hak asasi manusia.

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

63

Forum Dunia tentang HAM di Kota tahun 2011

GLOBALISASI HAK ASASI


MANUSIA DARI BAWAH:
TANTANGAN HAM DI KOTA
PADA ABAD KE-21
16-17 Mei 2011
Gwangju, Korea Selatan
Deklarasi Gwangju tentang HAM di Kota1

1. Kota didefinisikan sebagai pemerintah daerah dalam berbagai ukuran:


daerah, pengelompokan perkotaan, metropolis, kotamadya dan otoritas
daerah lainnya yang dikelola secara bebas sesuai dengan Agenda Piagam
Global tentang HAM di Kota.

64

Dokumen Referensi

1. Kami, lebih dari 100 peserta dari Forum Dunia tentang HAM di Kota 2011
yang mencakup walikota, perwakilan kota, dan pakar HAM PBB serta LSM
hak-hak masyarakat dan hak asasi manusia baik dari Korea maupun luar
negeri yang berkumpul di Gwangju, Korea Selatan pada tanggal 16-17
Mei 2011 atas undangan Kota Metropolitan Gwangju dan May 18 Memorial
Foundation, berbagi dan mendiskusikan pengalaman dalam membangun
hak asasi manusia di kota dalam konteks yang berbeda terutama dari
perspektif partisipasi masyarakat dan pendidikan tentang hak asasi manusia.
2. Tema Globalisasi HAM dari bawah - Tantangan HAM di Kota pada Abad
ke-21 menyoroti peran penting bahwa kota mampu berperan dalam
menghadapi berbagai tantangan sosial-ekonomi dan politik melalui kerangka
hak asasi manusia dan pendekatan berbasis hak asasi manusia.
3. HAM di kota didefinisikan sebagai masyarakat lokal dan proses sosialpolitik dalam konteks lokal dimana hak asasi manusia memainkan peran
kunci sebagai nilai-nilai fundamental dan prinsip-prinsip yang mengarahkan.
4. HAM di kota dipahami sebagai tata laksana hak asasi manusia dalam
konteks lokal dimana pemerintah daerah, DPRD, masyarakat sipil,
organisasi sektor swasta dan pemangku kepentingan lainnya bekerja sama
untuk meningkatkan kualitas hidup bagi semua penduduk dalam semangat
kemitraan berdasarkan standar dan norma-norma hak asasi manusia.
5. HAM di kota juga berarti, dalam istilah praktisnya, bahwa semua penduduk,
tanpa memandang ras, jenis kelamin, warna kulit, kebangsaan, latar belakang
etnis dan status sosial, khususnya kaum minoritas dan kelompok rentan
lainnya yang secara sosial rentan dan terpinggirkan, dapat berpartisipasi
secara penuh dalam pengambilan keputusan dan proses implementasi
kebijakan yang mempengaruhi kehidupan mereka sesuai dengan prinsipprinsip hak asasi manusia seperti non-diskriminasi, supremasi hukum,
partisipasi, pemberdayaan, transparansi dan akuntabilitas.
Partisipasi Masyarakat
6. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam membangun HAM di kota
karena memberikan masyarakat kesempatan untuk mengekspresikan
pandangan mereka tentang masalah-masalah yang perlu ditangani. Hal ini
juga memberikan kepada masyarakat rasa kepemilikan terhadap proses
identifikasi tentang permasalahan hak asasi manusia, yang membuat mereka
lebih mungkin untuk terlibat dalam kolaborasi yang konstruktif dengan para
pemangku kepentingan lainnya, yaitu pemerintah, dunia usaha, dan LSM.

Agenda Piagam Global Tentang Hak Asasi Manusia di Kota

65

Kondisi ini memastikan tanggung jawab bersama untuk penerapan standar


hak asasi manusia dan norma-norma.
7. Semua kota memiliki aset dan proses sejarah yang membawa pada
perubahan politik. Namun, prinsip dasar partisipasi dalam membangun
HAM di kota adalah bahwa pendekatan dari bawah ke atas yang melibatkan
partisipasi murni dan bermakna dari semua penduduk lebih baik daripada
pendekatan dari atas ke bawah yang dilakukan oleh pejabat kota.
8. Jika negara atau kota memiliki sistem politik yang represif, kurang aturan
perundangan, atau menghadapi praktek korupsi yang merajalela, orang takut
untuk berpartisipasi. Kebutuhan yang ada adalah untuk membangun jaringan
dukungan, baik di tingkat daerah/pusat maupun lintas batas bagi korban dan
pembela atas pelanggaran hak asasi manusia. Jaringan solidaritas HAM
dalam kota harus mengutamakan upaya partisipasi masyarakat dalam sistem
politik yang represif.
Pendidikan dan Pembelajaran Hak Asasi Manusia
9. Sampai semua penduduk mengetahui dan sudah memiliki hak-hak
asasi manusia mereka, tidak akan pernah ada sebuah kota yang ramah
HAM. Dengan pemahaman seperti itu, kami meyakini bersama bahwa
pembelajaran dan pendidikan tentang hak asasi manusia sangat penting
bagi pengembangan HAM di kota. Pendidikan informal dan permainan
adalah cara yang tepat untuk mengintegrasikan kerangka hak asasi manusia
dan mengenalkannya pada generasi muda. Teknik terapan yang terus
berlangsung dan pembelajaran yang berkelanjutan sangat penting untuk
memastikan bahwa, dalam tiap waktu, setiap orang mengetahui, memiliki
dan mampu bertindak atas hak asasi manusia mereka.
10. Pertukaran dan saling berbagi praktek terbaik di kalangan sekolah, kota,
dan lembaga adalah cara utama untuk meningkatkan proses pembelajaran
dan pendidikan tentang HAM yang baru dan mapan di kota. Karena
tidak ada pendekatan yang definitif untuk melakukan pembelajaran
dan mengintegrasikan hak asasi manusia, masing-masing kota harus,
berdasarkan pada pengalamannya sendiri dan praktek-praktek terbaik yang
diterima dari pihak lain, mengembangkan segudang strategi yang dapat
diterapkan di komunitasnya sendiri.
Tantangan atas Hak Asasi Manusia di Kota
11. Menetapkan dasar hukum harus menjadi langkah pertama bagi setiap
inisiatif HAM di kota. Tata cara, instrumen hukum, seperti Piagam Hak Asasi

66

Dokumen Referensi

Manusia, dan organisasi hukum, seperti Komisi HAM atau Biro/Kantor HAM,
dapat berperan sebagai dasar hukum yang efektif. Hal ini harus diadopsi
berdasarkan prinsip tanpa diskriminasi dan tidak memilah-milah agar
memberikan dasar hukum yang berkelanjutan bagi formulasi kebijakan dan
penerapan penuh.
12. Implementasi, bagaimanapun juga, adalah lebih penting daripada
pengambilan kebijakan. Kepemimpinan yang kuat diperlukan sebagai
prioritas. Kepemimpinan harus didasarkan pada prinsip-prinsip kompetensi,
transparansi dan akuntabilitas. Oleh karena itu, pendidikan tentang hak asasi
manusia bagi pejabat pemerintah diperlukan. Dukungan dari pemerintah
pusat dapat menjadi bagian yang sangat penting. Semua perundangundangan dan proses implementasi harus dikomunikasikan kepada semua
warga dan penduduk.
13. Demokrasi partisipatif dan konsultasi di kalangan seluruh pemangku
kepentingan (termasuk sektor swasta) adalah kunci bagi HAM di kota.
Mekanisme kelembagaan untuk memfasilitasi dialog dan kerjasama antara
kelompok masyarakat sipil dan pemerintah harus ditetapkan. Kelompok yang
kurang beruntung secara sosial dan ekonomi, seperti perempuan, imigran,
dan penyandang cacat, harus dipertimbangkan secara spesifik. Pendidikan
tentang hak asasi manusia bagi semua penghuninya diperlukan untuk
mendukung proses ini.
14. Mekanisme akuntabilitas yang efektif perlu dikembangkan untuk membuat
pemerintah kota bertanggung jawab terhadap janji dan komitmennya.
Mekanisme pemantauan, termasuk indikator hak asasi manusia bagi penilaian
dampak HAM, harus ditetapkan.
15. Jaringan antara kota di tingkat nasional dan internasional harus dimulai
atau diperkuat untuk mendukung dan mendorong jaringan, kemitraan, dan
pertukaran global atas pengalaman dan praktek.
16. Dalam hal ini, kami mendesak Dewan HAM PBB agar meminta Komite
Penasihat untuk mengambil permasalahan hak asasi manusia di kota sebagai
topik untuk penelitian. Selanjutnya, kami mendesak Kantor Komisaris Tinggi
PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR, Office of the High-Commissioner for
Human Rights) agar memberikan bantuan yang diperlukan bagi kota-kota
yang tertarik menjadi kota yang ramah HAM;

Forum Dunia tentang HAM di Kota tahun 2011

67

Kami juga mendesak PBB dan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan
Pembangunan (OECD, Organization for Economic Co-operation and Development)
untuk menggabungkan kerangka HAM di kota ke dalam kerjasama pembangunan
internasional.
Lima Komitmen terhadap HAM di Kota
1. Kami berkomitmen untuk membuat visi HAM di kota menjadi sebuah
kenyataan di lapangan dengan menerapkan norma dan standar hak asasi
manusia internasional serta dengan mendorong hak atas kota;
2. Kami berkomitmen untuk mengembangkan mekanisme yang efektif untuk
melindungi dan membela hak-hak asasi manusia semua warga dan penduduk;
mekanisme tersebut dapat mencakup komite warga, komisi kota tentang hak
asasi manusia, indikator hak asasi manusia dan penilaian dampak hak asasi
manusia;
3. Kami berkomitmen untuk mengembangkan dan menerapkan program
pendidikan dan pembelajaran HAM yang kongkrit bagi semua pihak yang
terlibat dalam membangun hak asasi manusia di kota sejalan dengan
program UNESCO Pendidikan untuk Semua (PUS) Kerangka Dakar untuk
Aksi (2000), dengan Program Dunia tentang Pendidikan HAM, dengan
Deklarasi PBB tentang Pendidikan dan Pelatihan2 HAM, dan dengan standar
maupun program terkait lainnya;
4. Kami berkomitmen untuk memperkuat jaringan nasional dan internasional
serta membangun aliansi di kalangan masyarakat yang berkomitmen
terhadap visi HAM di kota dengan menggabungkan Koalisi Kota tingkat
Internasional yang dipimpin oleh UNESCO untuk melawan rasisme (ICCAR,
International Coalition of Cities against Racism), UN Global Compact dan
Asosiasi Internasional untuk Mendidik Kota;
5. Setelah mengadopsi Agenda Piagam Global tentang HAM di Kota dari
Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah (UCLG, United Cities and Local
Government), kami berkomitmen untuk memastikan bahwa kota akan
meratifikasi dan melaksanakan sepenuhnya Piagam tersebut.
Sebagai kesimpulan,
kami memutuskan untuk merekomendasikan bahwa Kota Metropolitan Gwangju
agar terus mengatur penyelenggaraan Forum Dunia HAM di Kota sebagai
platform bagi upaya global untuk mendorong gerakan HAM di kota.

68

Dokumen Referensi

Jl. Jati Padang Raya Kav.3 No.105, Pasar Minggu,


Jakarta Selatan 12540 - Indonesia
Phone: (62-21) 781 9734, 781 9735, 7884 0497
Fax: (62-21) 7884 4703
E-mail: infid@infid.org
www.infid.org

70

Dokumen Referensi