Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pembunuhan Anak Sendiri
2.1.1 Definisi Pembunuhan Anak Sendiri
Pembunuhan anak sendiri adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anak kandungnya pada saat
lahir atau tidak lama setelah dilahirkan. Dengan demikian berdasarkan pengertian di atas, persyaratan yang
harus dipenuhi dalam kasus pembunuhan anak, adalah:
Pelaku adalah ibu kandung.
Korban adalah anak kandung.
Waktu pembunuhan, yaitu tepat pada saat melahirkan atau beberapa saat setelah melahirkan.4
Pengertian pembunuhan anak sendiri ini harus dipisahkan dari pengertian infanticide, pembunuhan biasa pada
anak dan abortus. Infanticide artinya membunuh infant, anak yang berumur di bawah 12 bulan.
Di Inggris dan Negara-negara commonwealth pengertian Infanticide memang pembunuhan anak yang berusia
dibawah 12 bulan, sesuai dengan undang-undang yang dipakai mereka. Dalam Infanticide act (Inggris, 1938)
dijelaskan : provides that where a woman by any willful ac or mission causes the death of her child, being a child
under twelve month. Pengertian pembunuhan anak sendiri di Indonesia, tidak merujuk pada waktu 12 bulan
melainkan pada saat anak dilahirkan atau tidak berapa lama kemudian. Artinya Undang-undang menganggap
bila ibu telah merawat anaknya dianggap telah keluar dari krisis kejiwaan atau ketidakseimbangan jiwa dalam
menerima kehadiran anaknya sendiri dan ingin membunuh anaknya sendiri termasuk dalam pembunuhan biasa
pada anak. Pembunuhan ini dilakukan karena ibu tidak menginginkan anak tersebut (unwanted child), mungkin
suatu kelanjutan dari kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy).

2.1.2 Dasar Hukum Menyangkut Pembunuhan Anak Sendiri


Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa orang. Adapun bunyi
pasalnya adalah:

1.Pasal 341. Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama sesudah dilahirkan, dengan sengaja merampas nyawa
anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
2.Pasal 342. Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak
lama sesudah dilahirkan merampas nyawa anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
3. Pasal 343. Bagi orang lain yang turut serta melakukan kejahatan yang diterangkan dalam pasal 342 KUHP diartikan sebagai pembunuhan atau pembunuhan berencana.

2.1.3 Peran Dokter pada Kasus Pembunuhan Anak Sendiri


Peran dokter pada kasus pembunuhan anak sendiri adalah memeriksa jenazah
bayi. Dokter akan diminta oleh penyidik secara resmi guna membantu
penyidikan untuk memperoleh kejelasan di dalam hal sebagai berikut:
2. Apakah anak tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati?
3. Apakah terdapat tanda-tanda perawatan?
4. Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab kematian?
5. Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan?
6. Apakah pada anak tersebut didapatkan kelainan bawaan yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak ?
Visum et Repertum (VeR) itu juga mengandung makna sebagai pengganti barang
bukti. Oleh karena itu, segala hal yang berkaitan dengan barang bukti, dalam hal
ini yaitu tubuh anak, harus dicatat dan dilaporkan.
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, bayi tersebut harus
dilahirkan hidup setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu (separate
existence). Selain itu, viabilitas dan maturitas bayi juga perlu ditentukan untuk
menerangkan sebab lahir mati. Bila bayi tersebut lahir mati kemudian dibuang,
maka hal tersebut bukanlah kasus pembunuhan anak sendiri, melainkan kasus
lahir mati kemudian dibuang atau menyembunyikan kelahiran dan kematian.
1.

2.1.3.1 Lahir hidup atau lahir mati


Lahir hidup (live birth) adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap, yang
setelah pemisahan, bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain tanpa
mempersoalkan usia gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan ari dilahirkan. 6
Lahir mati (stillbirth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan oleh
ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun setelah kehamilan
berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh janin yang tidak bernapas
atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain seperti denyut jantung, denyut nadi tali
pusat atau gerakan otot rangka.
Tanda-tanda kehidupan pada bayi yang baru dilahirkan, diantaranya :
A. Pernapasan
Pernapasan spontan terjadi akibat rangsangan atmosfer dan adanya gangguan sirkulasi plasenta, dan
ini menimbulkan perubahan penting yang permanen pada paru. Pernapasan setelah bayi lahir
mengakibatkan perubahan letak diafragma dan sifat paru-paru. 3,6
Gambaran Makroskopik Paru
Paru-paru bayi yang sudah bernapas berwarna merah muda tidak homogen namun berbercak-bercak
(mottled). Konsistensinya adalah seperti spons dan berderik pada perabaan. Sedangkan, pada paruparu bayi yang belum bernapas berwarna merah ungu tua seperti warna hati bayi dan homogen,
dengan konsistensi kenyal seperti hati atau limpa. 3
Uji Apung Paru
Uji apung paru dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique), paru-paru tidak disentuh
untuk menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada sediaan histopatologik jaringan paru akibat
manipulasi berlebihan. 5
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil paru mengingat kemungkinan
adanya pernapasan sebagian (parsial respiration) yang dapat bersifat buatan atau alamiah (vagitus
uternus atau vagitus vaginalis) yaitu bayi sudah bernapas walaupun kepala masih dalam uterus atau
dalam vagina).5
Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan bayi dilahirkan hidup tapi
kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih berdenyut, sehingga udara dalam alveoli
diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini, pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan untuk
memastikan bayi lahir mati atau lahir hidup. 5
Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru kurang dapat dipercaya, sehingga tidak
dianjurkan untuk dilakukan. 5

Mikroskopik paru-paru
Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang belum bernapas, tetapi merupakan
ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda khas untuk paru janin belum
bernapas adalah adanya tonjolan (projection) yang berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang
kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga akan tampak seperti gada
(club-like). Pada permukaan ujung bebas projection tampak kapiler yang berisi banyak darah.
Pada paru bayi belum bernapas yang sudah membusuk dengan perwarnaan Gomori atau
Ladewig, tampak serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti
rambut yang keriting, sedangkan pada projection berjalan di bawah kapiler sejajar dengan
permukaan projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops).5
Pada paru bayi yang lahir mati mungkin pula ditemukan tanda inhalasi cairan amnion yang luas
karena asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekannya tali pusat atau solusio plasenta sehingga
terjadi pernapasan janin prematur (intrauterine submersion). Tampak sel-sel verniks akibat
deskuamasi sel-sel permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti piknotik berbentuk
huruf S, bila dilihat dari atas samping terlihat seperti bawang. Juga tampak sel-sel amnion
bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti terletak eksentrik dengan batas yang juga
tidak jelas.5
Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin terlihat dalam
bronkioli dan alveoli. kadang-kadang ditemukan deskuamasi sel-sel epitel bronkus yang
merupakan tanda maserasi dini, atau fagositosis mekonium oleh sel-sel dinding alveoli.5
Lahir mati ditandai pula oleh keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya kehidupaan seperti
trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat, dengan atau tanpa robekan
tentorium serebeli, pneumonia intrauterin, kelainan kongenitasl yang fatal seperti anensefalus.

B. Menangis
Bernapas dapat terjadi tanpa menangis, tetapi menangis tidak dapat terjadi tanpa
bernapas. Suara tangis yang terdengar belum berarti bayi tersebut lahir hidup karena
suara tangisan dapat terjadi dalam uterus atau dalam vagina.

C. Pergerakan Otot
Keadaan ini harus disaksikan oleh saksi mata, karena post mortem tidak dapat dibuktikan. Kaku
mayat dapat terjadi pada bayi yang lahir hidup kemudian mati maupun yang lahir mati.
D. Peredaran Darah, Denyut Jantung, dan Perubahan pada Hemoglobin
Meliputi bukti fungsional yaitu denyut tali pusat dan detak jantung (harus ada saksi mata) dan bukti
anatomis yaitu perubahan-perubahan pada Hb serta perubahan dalam duktus arteriosus, foramen
ovale dan dalam duktus venosus (cabang vena umbilicalis yang langsung masuk vena cava inferior). 4
E. Isi Usus dan Lambung
Bila dalam lambung bayi ditemukan benda asing yang hanya dapat masuk akibat reflek menelan,
maka ini merupakan bukti kehidupan (lahir hidup). Udara dalam lambung dan usus dapat terjadi
akibat pernapasan wajar, pernapasan buatan, atau tertelan. 4,6
F. Keadaan Tali Pusat
Yang harus diperhatikan pada tali pusat adalah pertama ada atau tidaknya denyut tali pusat setelah
kelahiran. Ini hanya dapat dibuktikan dengan saksi mata. Kedua, pengeringan tali pusat, letak dan
sifat ikatan, bagaimana tali pusat itu di putus (secara tajam atau tumpul). 4,6
G. Keadaan Kulit
Tidak satupun keadaan kulit yang dapat membuktikan adanya kehidupan setelah bayi lahir,
sebaliknya ada satu keadaan yang dapat memastikan bahwa bayi tersebut tidak lahir hidup yaitu
maserasi, yang dapat terjadi bila bayi sudah mati di dalam uterus beberapa hari (8-10 hari). 4,6

Kematian pada bayi dapat terjadi saat bayi dilahirkan, sebelum dilahirkan, atau setelah terpisah
sama sekali dari si ibu. Bukti kematian dalam kandungan adalah:
Ante partum rigor mortis yang sering menimbulkan kesulitan waktu melahirkan
Maserasi, yaitu perlunakan janin dalam air ketuban dengan ciri-ciri:
Warna merah kecoklatan (pada pembusukan warnanya hijau).
Kutikula putih, sering membentuk bula berisi cairan kemerahan.
Tulang-tulang lentur dan lepas dari jaringan lunak.
Tidak ada gas, baunya khas.
Maserasi ini terjadi bila bayi sudah mati 8-10 hari dalam kandungan.

Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami perawatan dapat diketahui dari tandatanda sebagai berikut:
Tubuh masih berlumuran darah.
Ari-ari (plasenta) masih melekat dengan tali pusat dan masih berhubungan dengan pusat
(umbilikus).
Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak beraturan, hal ini dapat diketahui dengan
meletakkan ujung tali pusat tersebut ke permukaan air.
Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta di daerah yang mengandung lipatanlipatan kulit, seperti daerah lipat ketiak, lipat paha dan bagian belakang bokong.3,5

2.1.3.3 Viabilitas
Bayi yang viable adalah bayi yang sudah mampu untuk hidup di luar kandungan ibunya atau
sudah mampu untuk hidup terpisah dari ibunya (separate existence). Viabilitas mempunyai
beberapa syarat, yaitu:
Umur 28 minggu dalam kandungan.
Panjang badan 35 cm.
Berat badan 2500 gram.
Tidak ada cacat bawaan yang berat.
Lingkaran fronto-ocipital 32 cm.3,4

2.1.3.4 Cukup Bulan dalam Kandungan


Bayi yang cukup bulan (matur, term) adalah bayi yang lahir setelah dikandung selama 37
minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh. Pengukuran bayi cukup bulan dapat
dinilai dari:
1. Ciri-ciri eksternal
A. Daun telinga
B. Susu
C. Kuku jari tangan
D. Garis telapak kaki
E. Alat kelamin luar
F. Rambut kepala

G. Skin opacity
H. Processus xiphoideus
I. Alis mata
2. Pusat penulangan
Pusat-pusat penulangan khususnya pada tulang paha (femur) mempunyai arti yang cukup penting. Bagian distal femur dan proksimal tibia akan
menunjukkan pusat penulangan pada umur kehamilan 36 minggu. Sedangkan, talus dan calcaneus pusat penulangan akan tampak pada umur
kehamilan 28 minggu.
3. Penaksiran umur gestasi
A. Rumus De Haas
Menurut rumus De Haas, untuk 5 bulan pertama panjang kepala-tumit dalam sentimeter adalah sama dengan kuadrat angka bulan. Untuk 5
bulan terakhir, panjang badan adalah sama dengan angka bulan dikalikan dengan angka 5.
B. Rumus Arey
Menggunakan panjang kepala, tumit dan bokong.
Umur (bulan) = panjang kepala - tumit (cm) x 0,2
Umur (bulan) = panjang kepala - bokong (cm) x 0,3. 3
Rumus Finnstrom
Menggunakan panjang lingkar kepala oksipito-frontal.
Umur gestasi = 11,03 + 7,75 (panjang lingkar kepala) 3

2.1.3.5 Penyebab Kematian


Ada berbagai penyebab kematian pada bayi, yaitu:
A. Kematian wajar
1. Kematian secara alami
a. Imaturitas
b. Penyakit kongenital
2. Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi dari umbilikus, perut, anus dan organ genital.
3. Malformasi
Kadangkala bayi tumbuh dengan kondisi organ tubuh yang tidak lengkap seperti anensefali.
Penyakit plasenta

Penyakit plasenta atau pelepasannya secara tidak sengaja dari dinding uterus akan dapat
menyebabkan kematian dari bayi dan ibu, dan dapat diketahui jika sang ibu meninggal dan
dilakukan pemeriksaan dalam.
5. Spasme laring
Hal ini dapat terjadi karena aspirasi mekonium ke dalam laring atau akibat pembesaran kelenjar
timus.
6. Eritroblastosis fetalis
Ini dapat terjadi karena ibu yang memiliki rhesus negatif mengandung anak dengan rhesus positif.
B. Kematian akibat kecelakaan
-Akibat persalinan yang lama
-Jeratan tali pusat
-Trauma
-Kematian dari ibu
C. Kematian karena tindakan pembunuhan
-Pembekapan (sufokasi)
-Penjeratan (strangulasi)
-Penenggelaman (drowning)
-Kekerasan tumpul pada kepala
-Kekerasan tajam
-Keracunan
Penentuan penyebab kematian dapat ditunjang dari pemeriksaan patologi anatomi yang diambil
dari jaringan tubuh mayat bayi.

2.1.4 Pemeriksaan terhadap Pelaku Pembunuhan Anak Sendiri


Pemeriksaan terhadap wanita yang disangka sebagai ibu dari bayi bersangkutan bertujuan untuk
menentukan apakah wanita tersebut baru melahirkan. Pada pemeriksaan juga perlu dicatat
keadaan jalan lahir untuk menjawab pertanyaan Apakah mungkin wanita tersebut mengalami
partus presipitatus?

A. Tanda telah melahirkan anak


a. Robekan baru pada alat kelamin
b. ostium uteri dapat dilewati ujung jari
c. keluar darah dari rahim
d. ukuran rahim saat post partum setinggi pusat, 6-7 hari post partum setinggi tulang
kemaluan
e. payudara mengeluarkan air susu
f. hiperpigmentasi aerola mamma
g. striae gravidarum dari warna merah menjadi putih
B. Berapa lama telah melahirkan
a. ukuran rahim kembali ke ukuran semula 2-3 minggu
getah nifas : 1-3 hari post partum berwarna merah
4-9 hari post partum berwarna putih
10-14 hari post partum getah nifas habis
b. robekan alat kelamin sembuh dalam 8-10 hari 2
C. Pemeriksaan histopatologi yaitu sisa plasenta dalam darah yang berasal dari rahim. 2

Upaya membuktikan seorang tersangka ibu sebagai ibu dari anak yang diperiksa adalah suatu
hal yang paling sukar. Beberapa cara dapat digunakan, yaitu:
a. Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak
b. Memeriksa golongan darah ibu dan anak
c. Pemeriksaan DNA

2.2 Abortus
2.2.1 Defin1isi
Gugur kandungan atau keguguran adan keguguran itu sendiri berarti berakhirnya kehamilan,
sebelum fetus dapat hidup sendiri di luar kandungan. Batas umur kandungan yang dapat dapat
diterima didalam abortus adalah sebelum 28 minggu dan berat badan fetus yang keluar kurang
dari 1000 gram.1
2.2.2 Jenis Abortus
Terdapat beberapa jenis abortus yang dibagi menurut terjadinya :
A. Abortus spontan
Merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan tanpa
tindakan. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita si Ibu ataupun sebab-sebab
lain yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistem reproduksi, diantaranya9:
a. Abortus Imminens ( Threatened abortion, Abortus mengancam )
Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil
konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
b. Abortus Insipiens
Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya
dilatasi serviks uteri yang meningkat dan mendatar, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus,
tinggi fundus uteri sesuai dengan usia gestasi berdasarkan HPHT.
c. Abortus Kompletus
Proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi (desidua dan fetus) telah keluar melalui jalan
lahir sehingga rongga rahim kosong pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram.
d. Abortus Inkompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa
tertinggal dalam uterus3.
e. Missed Abortion
Berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun keseluruhan hasil konsepsi tertahan
dalam uterus 2 bulan atau lebih. Fetus yang meninggal ini dapat.9

f. Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi 3 kali berturut turut atau lebih oleh sebab apapun. Penderita abortus
habitualis pada umumnya tidak sulit untuk hamil kembali, tetapi kehamilannya berakhir dengan
keguguran secara berturut-turut.9
g. Abortus Infeksious
Suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi genital. Diagnosis 9,10:
h. Septic Abortion
Abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau
peritoneum. Diagnosis septic abortion ditegakan jika didapatkan tanda tanda sepsis, seperti
nadi cepat dan lemah, syok dan penurunan kesadaran. 9,10
B. Abortus Provokatus
Abortus Provokatus adalah abortus yang sengaja dibuat atau merupakan suatu upaya yang
disengaja, baik dilakukan oleh ibunya sendiri atau dibantu oleh orang lain, untuk menghentikan
proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu, dimana janin (hasil konsepsi) yang dikeluarkan
tidak bisa bertahan hidup di dunia luar. Abortus provokatus dapat dibedakan menjadi:
a. Abortus provokatus Medisinalis/Therapeutikus
Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa Ibu.
Syarat-syaratnya adalah10,11:
1. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk
melakukannya
2. Mengkonsultasikan dengan sedikitnya dua orang ahli
3. Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi).
4. Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat.
5. Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/ peralatan yang memadai, yang ditunjuk
oleh pemerintah.
6. Prosedur tidak dirahasiakan.
7. Dokumen medik harus lengkap.

b. Abortus Provokatus Kriminalis


Abortus yang sengaja dilakukan dengan tanpa adanya indikasi medik (ilegal) dan dilarang oleh hukum. Biasanya
pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau obat-obatan tertentu, atau dengan kekerasan
mekanik lokal.10,11
Kekerasan dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan dari luar dapat dilakukan sendiri oleh si ibu
atau oleh orang lain, seperti melakukan gerakan fisik berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian
bawah, kekerasan langsung pada perut atau uterus, pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya. 10,11,12
Kekerasan dari dalam yaitu dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus. Manipulasi vagina dan serviks
uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air panas pada porsio, aplikasi asam arsenik, kalium
permanganat pekat, atau jodium tinktur; pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks; atau
manipulasi serviks dengan jari tangan. Manipulasi uterus, dengan melakukan pemecahan selaput amnion atau
dengan penyuntikan ke dalam uterus. 10,11,12
Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja yang cukup panjang dan kecil
melalui serviks. Penyuntikan atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson
tipe syringe, sedangkan cairannya adalah air sabun, desinfektan atau air biasa/air panas. Penyemprotan ini
dapat mengakibatkan emboli udara. 10,11,12
Obat / zat tertentu Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang mengandung minyak eter tertentu
yang dapat merangsang saluran cerna hingga terjadi kolik abdomen, jamu perangsang kontraksi uterus dan
hormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi mukosa uterus. Hasil yang dicapai sangat
bergantung pada jumlah (takaran), sensitivitas individu dankeadaan kandungannya (usia gestasi). 10,11,12
Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nanas muda, bubuk beras dicampur lada
hitam, dan lain-lain. Ada juga yang agak beracun seperti garam logam berat, laksans dan lain-lain; atau bahan
yang beracun, seperti strichnin, prostigmin, pilokarpin, dikumarol, kina dan lain-lain. Kombinasi kina atau
menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata sangat efektif. Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika
(aminopterin) sebagai abortivum. 10,11,12

2.2.3 Metode-Metode Aborsi dan Efek Sampingnya


Beberapa metode aborsi pada trimester Pertama, diantaranya :
Metode Penyedotan (Suction Curettage)
Metode D&C - Dilatasi dan Kerokan
PIL RU 486
Suntikan Methotrexate (MTX)

Sedangkan metode aborsi pada trimester kedua, diantaranya :


Metode Dilatasi dan Evakuasi
Metode Racun Garam (Saline)
Urea
Prostaglandin
Partial Birth Abortion
Histerektomi (untuk kehamilan trimester kedua dan ketiga)

2.2.4 Komplikasi Aborsi


Komplikasi yang dapat terjadi karena aborsi adalah 16 :
Perdarahan (hemorrhage)
Perforasi
Infeksi dan tetanus
Gagal ginjal akut
Syok
DIC (Disseminated Intravaskular Coagulation)

2.2.5 Pembuktian Kasus Abortus


Untuk dapat membuktikan apakah kematian seorang wanita itu merupakan akibat dari tindakan
abortus yang dilakukan atas dirinya, diperlukan petunjuk-petunjuk18 :
Adanya kehamilan
Umur kehamilan, bila dipakai pengertian abortus menurut pengertian medis
Adanya hubungan sebab akibat antara abortus dengan kematian
Adanya hubungan antara saat dilakukannya tindakan abortus dengan saat kematian
Adanya barang bukti yang dipergunakan untuk melakukan abortus sesuai dengan metode
yang dipergunakan
Alasan atau motif untuk melakukan abortus itu sendiri

2.2.5.1 Pemeriksaan Korban Hidup


Pada pemeriksaan pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha dokter adalah
mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan menentukan cara pengguguran yang
dilakukan. Pada pemeriksaan ini sebaiknya juga diikutsertakan dokter Sp.OG. 18
Untuk menentukan tanda-tanda sisa kehamilan diusahakan melakukan anamnesis secara
teliti dan pemeriksaan fisik berupa adanya payudara yang membesar dan pengeluaran ASI
serta dijumpai adanya kolustrum pada pemeriksaan laboratorium, Warna kehitaman disekitar
payudara, uterus masih membesar, dijumpai adanya striae, lochia dari vagina, dan perlukaan
pada portio. 18
Untuk menentukan usaha penghentian kehamilan dilakukan pemeriksaan toksikologi,
pemeriksaan PA jaringan hasil aborsi atau sisa plasenta yang tertinggal dirahim, luka,
peradangan, bahan-bahan yang tidak lazim dalam liang senggama, sisa bahan abortivum.
Pada masa kini bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan DNA untuk pemastian hubungan
ibu dan janin. 18

2.2.5.2 Pemeriksaan Korban Mati


Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan dalam (autopsi). Pemeriksaan
ditujukan pada18:
A. Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak maka perlu diperiksa :
Payudara secara makroskopis maupun mikroskopis
Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara mikroskopik
Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara mikroskopik adanya
sel-sel trofoblast dan sel-sel decidua
B. Mencari tanda-tanda cara abortus provokatus yang dilakukan
Mencari tanda-tanda kekerasan lokal seperti memar, luka, perdarahan jalan lahir
Mencari tanda-tanda infeksi akibat pemakaian alat yang tidak steril. Jika digunakan zat
kimia secara lokal maka pada liang senggama atau cavum uteri dapat ditemukan zat-zat
tersebut.
Jika digunakan obat-obatan oral atau suntikan maka tentunya obat-obatan tersebut akan
dapat dilacak melalui pemeriksaan toksikologik.
C. Menentukan sebab kematian.
Dengan otopsi yang teliti disertai pemeriksaan penunjang maka dapat diketahui penyebab
kematiannya:
Vagal refleks
Perdarahan
Emboli udara
Sepsis

2.2.6 Segi Hukum Aborsi


A. UU Kesehatan No 36 tahun 2009:
Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa
ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang
tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui

konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca
tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir,
kecuali dalam hal kedaruratan medis;
Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki
sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman,
dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada penjelasan UU Kesehatan pasal 77 dinyatakan sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa
persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan
yang
berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada indikasi
medis.
Namun sayangnya didalam UU Kesehatan ini belum disinggung soal masalah
kehamilan akibat hubungan seks komersial yang menimpa pekerja seks komersial.
(3) Dalam peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan
antara lain mengenai keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau
janinnya, tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian & kewenangan bentuk
persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk.
B. KUHP
Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan abortus yaitu pasal 283, 299,

346,347,348, 349,535 KUHP.19


Pasal 283 KUHP
Barang siapa mempertunjukkan alat atau cara menggugurkan kandungan kepada anak
dibawah usia 17 tahun atau dibawah umur hukuman maksimum 9 bulan.

Pasal 299 KUHP


(1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati
dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya
dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana
denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah.
(2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau
juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
(3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencarian, maka
dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 346 KUHP
Seorang wanita dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau
menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347 KUHP
(1) Barang siapa dngan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita
tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita
dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lima tujuh tahun.

Pasal 349 KUHP


Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal
346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterapkan
dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat dapat ditambah
dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan
dilakukan.

Pasal 535 KUHP


Barang siapa mempertunjukkan secara terbuka alat atau cara menggugurkan
kandungan, hukuman maksimum 3 bulan.
Dari Pasal 346, 347 dan 348 KHUP, jelas bahwa undang-undang tidak mempersoalkan
masalah umur kehamilan atau berat badan dari fetus yang keluar. Sedangkan pasal 349
dan 299 KUHP memuat ancaman hukuman untuk orang-orang tertentu yang
mempunyai profesi atau pekerjaan tertentu bila mereka turut membantu atau
melakukan kejahatan seperti yang dimaksud ke tiga pasal tersebut.
Yang dapat dikenakan hukuman adalah tindakan menggugurkan atau mematikan
kandungan yang termasuk tindakan pidana sesuai dengan pasal-pasal pada KUHP
(abortus kriminalis). Sedangkan tindakan yang serupa demi keselamatn ibu yang dapat
dipertanggung jawabkan secara medis (abortus medicinalis atau abortus
therapeuticus), tidaklah dapat dihukum walaupun pada kenyataan dokter dapat
melakukan abortus medisinalis, itu diperiksa oleh penyidik dan dilanjutkan dengan
pemeriksaan di pengadilan. 19
Pemeriksaan oleh penyidik atau hakim di pengadilan bertujuan untuk mencari buktibukti akan kebenaran bahwa pada kasus tersebut memang murni tidak ada unsur
kriminalnya, semata-mata untuk keselamatan jiwa ibu. Perlu diingat bahwa hanya
Hakimlah yang berhak memutuskan apakah seseorang itu (dokter) bersalah atau tidak
bersalah. 19

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Pembunuhan anak sendiri adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anak kandungnya
pada saat lahir atau tidak lama kemudian karena takut ketahuan telah melahirkan anak. Berdasarkan undangundang, terdapat tiga faktor penting mengenai pembunuhan anak sendiri, yaitu faktor ibu, waktu, dan psikis.
Pemeriksaan terhadap kasus pembunuhan anak sendiri dilakukan terhadap pelaku/tertuduh (ibu

kandung yang baru melahirkan) dan korban (bayi yang baru dilahirkan). Pada ibu, diperiksa tanda
telah melahirkan anak, berapa lama telah melahirkan, adanya tanda-tanda partus precipitates,
pemeriksaan golongan darah, dan pemeriksaan histopatologi terhadap sisa plasenta dalam darah
yang berasal dari rahim. Sedangkan, pada korban diperiksa viabilitas, penentuan umur, pernah
atau tidak pernah bernapas, umur ekstrauterin, dan sebab kematian. Salah satu contoh kematian
akibat tindakan criminal adalah tindakan pembunuhan berupa sufokasi (pembekapan). Selain itu,
banyak orang melakukan aborsi dengan alasan-alasan tertentu. Sebagian besar orang yang
melakukan abortus dikarenakan alasan kesehatan, ekonomi, sosial.
Prosesaborsibukansajasuatuprosesyangmemilikiresikotinggidarisegikesehatandan
keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat
terhadap keadaan mental seorang wanita. Baik tindakan pembunuhan anak sendiri maupun
tindakan aborsi merupakan tindakan tidak berperikemanusiaan yang sangat bertentangan dengan
hukum dan agama karena anak yang dititipkan oleh Tuhan yang Maha Esa untuk dirawat, dijaga,
dan dicintai bukan untuk diakhiri kehidupannya secara tragis.
3.2 Saran
Institusi Pelayanan Kesehatan dan masyarakat
Bagi institusi pelayanan kesehatan dan masyarakat agar selalu memberikan perhatian dan
kepedulian terutama pada korban yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

TERIMA KASIH