Anda di halaman 1dari 35

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. UMUM
Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap perkembangan konstruksi
di Indonesia termasuk pemakaian baja menjadi bahan konstruksi. Baja menjadi
sangat penting karena memiliki tingkat daktalitas (ductility) yang sangat tinggi,
dimana ductility merupakan kemampuan untuk berdeformasi secara nyata baik dalam
tegangan maupun regangan sebelum terjadi kegagalan. (Charles G. Salmon, 1991)
Sebelumnya pada struktur komposit, kerangka baja yang menyangga
konstruksi pelat beton bertulang pengaruh komposit dari pelat beton dan baja yang
bekerja bersama-sama tidak diperhitungkan. Hal ini terjadi karena adanya asumsi
pada saat mendesain bahwa pelat beton dan baja dalam menahan beban bekerja
secara terpisah, dan ikatan antara pelat beton dan bagian atas balok baja dianggap
tidak dapat diandalkan.
Namun

dengan

berkembangnya

teknik

pengelasan,

pemakaian

alat

penyambung geser (shear connector) mekanis menjadi praktis untuk menahan gaya
geser horizontal yang timbul ketika batang terlentur. (Charles G. Salmon, 1991)
Karena struktur komposit melibatkan dua macam material yang berbeda,
maka perhitungan kapasitasnya tidak sesederhana bila struktur bukan komposit.
Karakteristik dan dimensi kedua bahan akan menentukan bagaimana pemilihan jenis
profil dan pelat beton yang akan dikomposisikan dan kinerja struktur tersebut.
(Suprobo, 2000)

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1 Pemasangan shear connector pada balok komposit

Sistem struktur komposit sendiri terbentuk akibat interaksi antara komponen


struktur baja dan beton yang karakteristik dasar masing-masing bahan dimanfaatkan
secara optimal. Karakteristik penting yang dimiliki oleh struktur baja adalah
kekuatan tinggi, modulus elastisitas tinggi, serta daktalitas tinggi. Sedangkan
karakteristik penting yang dimiliki oleh struktur beton adalah ketahanan yang baik
terhadap api, mudah dibentuk, dan murah. (Dong Keon Kim, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.2 Model shear connector pada balok komposit

Struktur komposit dalam aplikasinya dapat merupakan elemen dari bangunan,


baik sebagai balok, kolom, dan pelat. Struktur balok komposit terdiri dari dua tipe
yaitu balok komposit dengan penghubung geser dan balok komposit yang
diselubungi beton. Kolom komposit dapat merupakan tabung atau pipa baja yang
dicor beton atau baja profil yang diselimuti beton dengan tulangan longitudinal dan
diikat dengan tulangan lateral. Pada struktur pelat komposit digunakan pelat beton
yang bagian bawahnya diperkuat dengan dek baja bergelombang. (Ida Bagus Rai
Widiarsa & Putu Deskarta, 2007).

II.2. STRUKTUR KOMPOSIT


Batang komposit adalah batang yang terdiri dari profil baja dan beton yang
digabung bersama untuk memikul beban tekan dan atau lentur. Batang yang memikul
lentur umumnya disebut dengan balok komposit. Sedangkan batang yang memikul
beban tekan umumnya disebut dengan kolom komposit.
Di era modern saat ini banyak gedung-gedung dengan struktur komposit bajabeton untuk elemen baloknya menggunakan balok komposit penuh. Balok komposit

Universitas Sumatera Utara

penuh ini sendiri mempunyai beberapa tipe, diantaranya balok komposit dengan pelat
beton yang dicor tempat (solid in situ), balok komposit yang menggunakan precast
reinforced concrete planks yang bagian atasnya kemudian dicor tempat, balok
komposit yang penghubung gesernya diberi perkuatan, serta balok komposit yang
diberi bondek (gambar 2.3 )

Gambar 2.3 Tipe balok komposit yang diberi bondek

Keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan balok komposit yaitu


penghematan berat baja, penampang balok baja dapat lebih rendah, kekakuan lantai
meningkat, panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar, kapasitas
pemikul beban meningkat. Penghematan berat baja sebesar 20 % sampai 30 %
seringkali dapat diperoleh dengan memanfaatkan semua keuntungan dari sistem
komposit. Pengurangan berat pada balok baja ini biasanya memungkinkan
pemakaian penampang yang lebih rendah dan juga lebih ringan. Keuntungan ini bisa
banyak mengurangi tinggi bangunan bertingkat banyak sehingga diperoleh

Universitas Sumatera Utara

penghematan bahan bangunan yang lain seperti dinding luar dan tangga (Salmon &
Johnson, 1991)

III.2.1.Balok Komposit
Balok adalah salah satu diantara elemen-elemen struktur yang paling banyak
dijumpai pada setiap struktur. Balok adalah elemen struktur yang memikul beban
yang bekerja tegak lurus dengan sumbu longitudinalnya. Hal ini akan menyebabkan
balok melentur (Spiegel & Limbrunner,1998).
Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang
kekuatannya bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan
(Bowles,1980). Beberapa jenis balok komposit antara lain :
a) Balok komposit penuh
Untuk balok komposit penuh, penghubung geser harus disediakan dalam
jumlah yang memadai sehingga balok mampu mencapai kuat lentur
maksimumnya. Pada penentuan distribusi tegangan elastis, slip antara baja
dan beton dianggap tidak terjadi (SNI 03-1729-2002 Ps.12.2.6).
b) Balok komposit parsial
Pada balok komposit parsial, kekuatan balok dalam memikul lentur dibatasi
oleh kekuatan penghubung geser. Perhitungan elastis untuk balok seperti ini,
seperti pada penentuan defleksi atau tegangan akibat beban layan, harus
mempertimbangkan pengaruh adanya slip antara baja dan beton (SNI 031729-2002 Ps. 12.2.7).
c) Balok baja yang diberi selubung beton

Universitas Sumatera Utara

Walaupun tidak diberi angker, balok baja yang diberi selubung beton di
semua permukaannya dianggap bekerja secara komposit dengan beton,
selama hal-hal berikut terpenuhi (SNI 03-1729-2002 Ps.12.2.8)
Tebal minimum selubung beton yang menyelimuti baja tidak kuang
daripada 50 mm, kecuali yang disebutkan pada butir ke-2 di bawah.
Posisi tepi atas balok baja tidak boleh kurang daripada 40 mm di bawah
sisi atas pelat beton dan 50 mm di atas sisi bawah plat.
Selubung beton harus diberi kawat jaring atau baja tulangan dengan
jumlah yang memadai untuk menghindari terlepasnya bagian selubung
tersebut pada saat balok memikul beban.

Gambar 2.4 Penampang balok komposit

III.2.1.1. Lebar efektif pelat beton


Lebar efktif pelat lantai yang membentang pada masing-masing sisi dari
sumbu balok tidak boleh melebihi :
Untuk gelagar interior : bE

L
, dan
4

bE bo (untuk jarak balok yang sama)


Untuk gelagar eksterior: bE

L
8

Universitas Sumatera Utara

bE bo + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab)


Dimana : L = bentang balok
bo = bentang antar balok

III.2.1.2. Kekuatan balok komposit dengan Penghubung geser


Kuat lentur positif rencana ditentukan sebagai berikut (LRFD Pasal 12.4,2,1) :

h 1680

, dengan
tw
fy

b = 0,85 dan Mn dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis pada


penampang komposit

b = 0,9 dan Mn dihitung berdasarkan superposisi tegangan-tegangan


elastis yang memperhitungkan pengaruh tumpuan sementara plastis
pada penampang komposit.

Kuat lentur negatif rencana b . Mn harus dihitung untuk penampang baja


saja, dengan mengikuti ketentuan-ketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12.4.2.2)

III.2.1.3. Menghitung Momen Nominal


Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis :
b eff
b tr

ec = (es/n)

ec
es

tb
?

GN komposit

Es x es

Xe

ya

H/2
H

GN baja
yb

Ea

Ea

ea

Gambar 2.5. Distribusi tegangan elastis pada balok

Universitas Sumatera Utara

Menghitung nilai transformasi beton ke baja


(MPa).untuk beton normal
Dimana : Es = 200000 MPa

n=

beff
Es
; btr =
n
Ec

dan Atr = (btr x ts )

Menentukan letak garis netral penampang transformasi :

Atr .
GNE =

ts
2


d
+ As . ts +
2

( Atr + As )

Menghitung momen inersia penampang transformasi

btf .(ts )

It =

12

ts

+ A GNE + Ix + As + ts + hr GNE
2

tr

Mengitung modulus penampang transformasi

yc = GNE
yt = d + ts + hr GNE
I
I
S tr .c = tr dan S tr .t = tr
yc
yt
Menghitung momen ultimit
Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh
digunakan dari nilai yang terkecil dari :
M n1 = 0.85 . f c' . n . S tr c

dan

M n 2 = f y . S tr t

Jadi : Mu . Mn

Universitas Sumatera Utara

Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis :


b eff
b tr

0.85 fc'

0.85 fc'

tb

0.003

tb

GN pelat

Cc
Cs

d1

GN komposit

d/2
d

GN baja

d 2" d 2'

T'
fy

fy

Pelat memadai

fy

Pelat tidak memadai

Regangan batas

Gambar 2.6 Distribusi tegangan plastis (sumber: Charles G. Salmon, 1996)

Menghitung momen nominal (Mn) positif :


Gaya tekan (C) pada beton

: C = 0,85. fc.tp.beff

Gaya tarik (T) pada baja

: T = As.fy

*Dari hasil diatas dipilih nilai terkecil


Menentukan tinggi balok tekan effektif :
Kekuatan momen nominal

a=

As. fy
0,85. f ' c.beff

: Mn = C..d1 atau T.d1

Kuat nominal dalam bentuk gaya baja :

a
d
Mn = As. fy + ts
2
2

Menghitung momen nominal (Mn) negatif :


Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja
T = n.Ar.fy

dan

Gaya pada sayap ;

Pf = bf .tf . fy

Gaya pada badan ;

Pw =

Pyc = As.fy

Pyc T
Pf
2

aw =

Pw
tw. f y

Menghitung jarak ke centroid

Universitas Sumatera Utara

d1 = hr + tb c
d2 =
d3 =

(Pf .0,5.tf ) + (Pw(tf

+ 0,5.a web ))

Pf + Pw
d
2

Menghitung momen ultimit ;


Mn = T (d1+d2) + Pyc (d3+d2)

III.2.1.4. Penghubung Geser ( Shear Connector )


Gaya geser yang terjadi antara pelat beton dan profil baja harus dipikul oleh
sejumlah penghubung geser, sehingga tidak terjadi slip pada saat masa layan.
Idealnya alat penghubung geser harus cukup kaku untuk menghasilkan interaksi
penuh, namun hal ini akan memerlukan pengaku yang sangat tergar.Adapun jenisjenis alat penghubung geser yang biasa digunakan adalah sebagai berikut :
-

Alat penyambung stud (stud connector) berkepala dan berbentuk pancing.

Alat peyambung kanal (canal connector)

Alat penyambung spiral (spiral connector)

Alat penyambung siku (angle conector)

Gambar 2.7. Tipe-tipe shear connector

Universitas Sumatera Utara

Pada tugas akhir ini, alat penghubung geser yang digunakan berbentuk stud
berkepala (stud connector). Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal
12.6.3)

Qn = 0,5. Asc .
Dimana :

f ' c.Ec .rs Asc . fu

rs untuk balok tegak lurus balok : rs =

rs untuk balok sejajar balok

0,85 wr Hs
.
1 1
.
Nr hr hr

wr Hs
1 1
: rs = 0,6. .

hr hr

Dan untuk perhitungan jumlah penghubung geser (shear connector) yang


dibutuhkan digunakan persamaan : n =

C
Qn

III.2.1.5. Kontrol Lendutan


Batasam lendutan atau deflection pada balok telah diatur dalam SNI 03-17292002. Lendutan diperhitungkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut :
-

Lendutan yang besar dapat mengakibatkan rusaknya barang-barang atau


alat-alat yang didukung oleh balok tersebut .

Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi
penghuni

bangunan

tersebut.

Perhitungan

lendutan

pada

balok

berdasarkan beban kerja yang dipakai di dalam perhitungan struktur,


bukan berdasarkan beban terfaktor. Besar lendutan dapat dihiutng dengan
rumus :

f max

5. ql 4
=
, untuk beban terbagi merata, dan
384. E . I

f max =

Pl 4
48. E . I

, untuk beban terpusat di tengah bentang

Universitas Sumatera Utara

III.2.2. Kolom Komposit


Kolom komposit didefinisikan sebagai kolom baja yang dibuat dari
potongan baja giling (rolled) built-up dan di cor di dalam beton struktural atau
terbuat dari tabung atau pipa baja dan diisi dengan beton struktural (Salmon &
Jonson, 1996). Menurut SNI 03-1729-2002 Ada dua tipe kolom komposit, yaitu :
Kolom komposit yang terbuat dari profil baja yang diberi selubung beton di
sekelilingnya (kolom baja berselubung beton).
Kolom komposit terbuat dari penampang baja berongga (kolom baja
berintikan beton).

a)

c)

b)

d)

Gambar 2.8 Penampang Kolom Komposit dari profil baja IWFdan Kingcross yang dibungkus
beton, Persegi dan O yang diisi beton

Pada tugas akhir ini penulis merencanakan kolom komposit dengan


penampang dari profil kingcross yang dibungkus beton seperti yang tampak pada
gambar 2.8.b. Profil kingcross yang digunakan merupakan produk dari PT. Gunung
Garuda, adapun tampaknya dapat dilihat pada gambar berikut.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.9 Profil Baja Kingcross

Pada kolom baja berselubung beton (gambar a dan b) penambahan beton


dapat menunda terjadinya kegagalan lokal buckling pada profil baja serta berfungsi
sebagai material penahan api, sementara itu material baja disini berfungsi sebagai
penahan beban yang terjadi setelah beton gagal. Sedangkan untuk kolom baja
berintikan beton (gambar c dan d) kehadiran material baja dapat meningkatkan
kekuatan dari beton serta beton dapat menghalangi terjadinya lokal buckling pada
baja.
Kolom komposit merupakan suatu solusi hemat untuk kasus dimana kapasitas
beban tambahan yang diinginkan lebih besar dibandingkan dengan penggunaan
kolom baja sendiri. Kolom komposit juga menjadi solusi yang efektif untuk berbagai
permasalahan yang di ada pada desain praktis. Salah satunya, yaitu jika beban yang
terjadi pada struktur kolom sangatlah besar, maka penambahan material beton pada
struktur kolom dapat memikul beban yang terjadi, sehingga ukuran profil baja tidak
perlu diperbesar lagi (Roberto Leon, Larry Griffis,2005).
Kriteria untuk kolom komposit bagi komponen struktur tekan (SNI 03-17292002 Ps.12.3.1) :
1. Luas penampang profil baja minimal sebesar 4 % dari luas penampang
komposit total.

Universitas Sumatera Utara

2. Selubung beton untuk penampang komposit yang berintikan baja harus


diberi tulangan baja longitudinal dan tulangan pengekang lateral.
3. Tulangan baja longitudinal harus menerus pada lantai struktur portal,
kecuali untuk tulangan longitudinal yang hanya berfungsi memberi
kekangan pada beton.
4. Jarak antar pengikat lateral tidak boleh melebihi 2/3 dari dimensi terkecil
penampang kolom komposit. Luas minimum penampang tulangan
transpersal (atau longitudinal) terpasang, tebal bersih selimut beton dari
tepi terluar tulangan longitudinal dan transversal minimum sebesar 40
mm.
5. Mutu beton yang digunakan tidak lebih 55 MPa dan tidak kurang dari 21
MPa untuk beton normal dan tidak kurang dari 28 MPa untk beton
ringan.
6. Tegangan leleh profil dan tulangan baja yang digunakan untuk
perhitungan kekuatan kolomkomposit tidak boleh lebih dari 380 MPa.
7. Tebal minimum dinding pipa baja atau penampang baja berongga yang
untuk

diisi beton adalah


penampang persegi dan

setiap sisi selebar b pada

untuk penampang bulat yang

mempunyai diameter luar D.


Kuat rencana kolom komposit yang menumpu beban aksial adalah cNn
dengan c = 0,85
N u = ( As . f cr ) dan
untuk :

f my

f cr =
w

r 0.25 ...maka w = 1

Universitas Sumatera Utara

0.25 r 1.2 ...maka w =

1.47
1.6 0.67 c

r 1.2 .maka w = 1.25 x 2c


dengan :

c =

kc L
rm

fmy
Em

A
+ c 2 f ' c c

As

A
fmy = fy + c1 fyr r
As
A
E m = E + c 3 Ec c
As
Ec = 0,041 w1, 5

f 'c

III.2.3. Aksi Komposit


Aksi komposit terjadi apabila dua batang struktural pemikul pemikul beban
seperti pada pelat beton dan balok baja sebgai penyangganya dihubungkan secara
menyeluruh dan mengalami defleksi sebagai satu kesatuan.
Pada balok non-komposit pelat beton dan balok baja tidak bekerja bersamasama sebagai satu kesatuan karena tidak terpasang alat penghubung geser, sehinga
masing-masing memikul beban secara terpisah. Apabila balok non-komposit
mengalami defleksi pada saat dibebani, mka permukaan bawah pelat beton akan
tertarik dan mengalami perpanjangan sedangkan permukaan atas dari balok baja akan
tertekan dan mengalami perpendekan.
Karena pengubung geser tidak terpasang pada bidang pertemuan antara pelat
beton dan balok baja maka pada bidang kontak tersebut tidak ada gaya yang
menahan perpanjangan serat bawah pelat dan perpendekan serat atas balok baja.
Dalam hal ini, pada bidang kontak tersebut hanya bekerja gaya geser vertical.

Universitas Sumatera Utara

Sedangkan pada balok komposit, pada bidang pertemuan antara pelat beton
dan balok baja dipasang alat penghubung geser (shear connector) sehingga pelat
beton dan balok baja bekerja sebagai satu kesatuan. Pada bidang kontak tersebut
bekerja gaya geser vertical dan horizontal, dimana gaya geser horizontal tersebut
akan menahan perpanjangan serat bawah pelat dan perpendekan serat atas balok baja.

Gambar 2.10 Perbandingan defleksi antara balok komposit dan non-komposit

Pada dasarnya aksi komposit pada balok komposit dapat tercapai atau
tidaknya tergantung dari penghubung gesernya. Biasanya penghubung geser
diletakkan disayap atas profil baja. Hal ini bertujuan untk mengurangi terjadinya slip
pada pelat beton dengan balok baja. (Qing Quan Liang, 2004)
II.3. STRUKTUR TAHAN GEMPA
Gempa bumi merupakan salah satu bagian dari jenis beban yang dapat
membebani struktur selain beban mati, beban hidup dan beban angin, dimana beban
gempa ini termasuk kepada beban dinamis. Beban dinamis adalah beban yang
berubah-ubah menurut waktu, arah maupun posoisinya. Beban dinamis dapat
dikatagorikan dalam dua hal yaitu beban periodic maupun beban non periodik.
Beban gempa memang tidak selalu diperhitungkan dalam perencanaan atau
analisa struktur. Namun bagi struktur yang dibuat pada suatu lokasi dimana gempa
bumi dapat terjadi maka analisa ini harus dibuat. Gaya gempa tidak dapat diprediksi

Universitas Sumatera Utara

kapan datangnya, sehinga ketika gempa menimpa struktur bangunan maka ada hal
yang dapat dilihat. Bangunan itu tetap kokoh tanpa ada korban jiwa, bangunan rusak
tanpa ada korban jiwa, dan bisa juga bangunan rusak serta terdapat korban jiwa.
Kerusakan bangunan akibat gempa bumi dapat diantisipasi dengan beberapa
metode, baik secara konvensional maupun secara teknologi.
Umumnya ada tiga faktor utama yang perlu dipertimbangkan dalam
mendesain semua struktur yaitu : faktor kekuatan, kekakuan, dan stabilitas.
Pertimbangan kekuatan adalah faktor yang penting untuk bangunan
bertingkat rendah. Akan tetapi dengan semakin bertambah tingginya bangunan,
faktor kekakuan dan stabilitas menjadi lebih penting bahkan menjadi faktor utama
dalam desain.
Ada dua cara untuk memenuhi faktor kekakuan dan stabilitas didalam suatu
struktur. Yang pertama adalah memperbesar ukuran-ukuran elemen dengan
melampaui permintaan kekuatan. Namun hal ini memiliki keterbatasan, dimana pada
suatu tempat menjadi tidak praktis dan tidak ekonomis lagi untuk memperbesar
ukuran elemen. Cara kedua adalah merupakan cara penyelesaian yang lebih baik
adalah dengan mengubah struktur menjadi sesuatu yang lebih kaku dan stabil untuk
membatasi deformasi dan juga untuk meningkatkan stabilitas.
Belum ada laporan yang mengatakan bahwa sebuah bangunan runtuh karena
gaya atau beban angin. Secara analitis dapat ditunjukkan bahwa bangunan tinggi
yang diberi aksi angin pada suatu titik tertentu akan mencapai keruntuhan yang
disebut efek delta P (-P). Karena itu kriteria kestabilan (stabilitas) adalah untuk
memastikan bahwa gaya angin yang akan terjadi dibawah beban yang diperbolehkan
pada batasan stabilitas.

Universitas Sumatera Utara

Pertimbangan kedua adalah pembatasan defleksi lateral agar detail arsitektur


dan dinding penyekat ruangan tidak rusak. Meskipun tidak separah kerusakan /
keruntuhan bangunan secara keseluruhan, tetapi defleksi lantai dengan lantai (tarikan
antar lantai) harus dibatasi dikarenakan biaya untuk mengganti jendela serta elemen
non struktur lainnya adalah besar dan pecahan-pecahan kaca dapat melukai bahkan
membunuh penghuni bangunan tersebut.
II.3.1. Desain Struktur Tahan Gempa
Bagi struktur yang direncanakan dapat menahan beban gempa, maka struktur
tersebut harus dapat memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Pada saat terjadi gempa ringan, maka tidak terjadi kerusakan baik pada elemen
struktural maupun non-srruktural.
2. Pada saat terjadi gempa sedang, elemen structural tidak boleh rusak, sedangkan
elemen non-struktural boleh rusak tetapi masih bisa diperbaiki lagi.
3. Pada saat terjadi gempa kuat, elemen non-struktural dan structural rusak (terjadi
sendi plastis pada struktur) tetapi struktur tidak sampai runtuh (mekanisme runtuh
di desain)
Untuk perencanaan pembebanan gempa ini digunakan analisis beban statik
ekivalen. Karena peta zoning gempa Indonesia terbaru 2010 mengacu pada ASCE 705, maka perhitungannya juga dilakukan dengan metode yang ada pada aturan
tersebut, prosedur pengerjaannya sebagai berikut :
II.3.1.1. Kategori hunian dan factor keutamaan (I)

Universitas Sumatera Utara

Untuk kategori hunian dari bangunan yang akan direncanakan dapat dilihat
pada table 1.1 pada ASCE 7-05, sedangkan factor keutamaan (I) dijelaskan pada
table 11.5-1 ASCE 7-05.
II.3.1.2. Klasifikasi Site
Klasifikasi site merupakan kategori jenis tanah pada tempat bangunan yang
akan direncanakan sesuai kategori-kategori yang sudah ditetapkan pada peta gempa
Indonesia 2010 table 2 ataupun pada ASCE 7-05 table 20.1 sebagai berikut :
Klasifikasi Site
A. Batuan Keras
B. Batuan
C. Tanah Sangat Padat
dan Batuan Lunak
D. Tanah Sedang
E. Tanah Lunak

F.

Lokasi
yang
membutuhkan
penyelidikan
geoteknik
dan
analisis
respon
spesifik (site specific
response analisys)

Vs (m/s)
Vs 1500
750 < Vs
1500

N
N/A

Su (kPa)
N/A

N/A

N/A

350 < Vs 750

N > 50

Su 100

175 < Vs 350


15 N 50
50 Su 100
Vs < 175
N < 15
Su < 50
Atau setiap profil lapisan tanah dengan ketebalan lebih
dari 3 m dengan karakteristik sebagai berikut :
1. Indeks plaastisitas, PI > 20,
2. Kadar air (w) 40 %, dan
3. Kuat geser tak terdrainase Su < 25 kPa
Setiap profil ;lapisan tanah yang memiliki salah satu
atau lebih dari karakteristik seperti :
- Rentan dan berpotensi gagal terhadap beban
gempa seperti likuifaksi, tanah lempung
sangat sensitive, tanah tersementasi lemah.
- Lempung organic tinggi dan/atau gambut
(dengan ketebalan > 3 m)
- Plastisitas tinggi (ketebalan H > 7.5 m
dengan PI > 75 )
- Lapisan lempung lunak/medium kaku
dengan ketebalan H> 35 m
Tabel 2.1 Klasifikasi Site

Dari table diatas dapat ditentukan jenis tanah sesuai data-data yang sudah
ada. Untuk tugas akhir ini direncanakan berada pada tanah lunak atau kategori E dan
nantinya disesuaikan dengan peta gempa Indonesia 2010.

Universitas Sumatera Utara

II.3.1.3. Peta percepatan respon spectral (Ss dan S1)


Peta percepatan maksimum gempa di batuan dasar mulai digunakan untuk
peraturan perencanaan Indonesia pada tahun 1983 melalui PPTI-UG (Peraturan
Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung) 1983. Pembagian daerah
gempa tersebut adalah seperti pada gambar dibawah ini. Peta gempa ini merupakan
hasil studi oleh Beca Carter dalam kerjasama bilateral Indonesia-New Zealand (Beca
Carter Hollings dan Ferner, 1978).

Gambar 2.11. Peta percepatan gempa maksimum Indonesia dalam PPTI-UG 1983

PPTI-UG 1983 diperbaharui pada tahun 2002 dengan keluarnya Tata Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung SNI 03-1726-2002
(Gambar4). Peraturan baru ini disusun dengan mengacu pada UBC 1997.

Gambar 2.12. Peta percepatan gempa maksimum Indonesia dalam SNI 03-1726-2002

Universitas Sumatera Utara

Seiring dengan perkembangan konstruksi gedung di Indonesia dan juga


karena seringnya terjadi gempa besar belakangan ini, maka dikeluarkanlah peta
gempa Indonesia terbaru 2010 , dimana yang menjadi patokan dalam pembuatan peta
gempa ini adalah ASCE 7-10.

Gambar 2.13. Peta hazard gempa Indonesia di batuan dasar pada kondisi spektra T = 0.2 detik
untuk 2% PE 50 tahun.

Berbeda dengan peta zoning gempa Indonesia 1983 dan 2002, peta gempa
Indonesia 2010 secara kuantitatip tidak lagi diberikan dalam bentuk peta zoning
gempa akan tetapi disajikan dalam format dua buah peta kontur percepatan gempa
rencana maximum dari batuan dasar untuk waktu getar pendek 0.2 detik SS dan 1
detik, S1.
II.3.1.4. Spectral response coefficients (SDS dan SD1)
Respon spectra adalah nilai yang menggambrakan respon maksimum dari
system berserajat kebebasan tunggal (SDOF) pada berbagai frekuensi alami (periode
alami) teredam akibat suatu goyangan tanah. Untuk kebutuhan praktis, maka respon
spectra percepatan dibuat dalam bentuk respon spectra yang sudah disederhanakan.

Universitas Sumatera Utara

Untuk penentuan parameter respon spectra percepatan di permukaan tanah,


diperlukan factor ampkasi terkait spectra percepatan untuk periode pendek (Fa) dan
periode 1 detik (Fv). Selanjutnya parameter respon spectra percepatan dipermukaan
tanah dapat diperoleh dengan cara mengalikan koefisien Fa dan Fv (relatip sama
dengan UBC-97 atau SNI 1726) dengan spectra percepatan untuk periode pendek
(Ss) dan Periode 1 detik (S1) di batuan dasar yang diperoleh dari peta gempa
Indonesia 2010 sesuai rumus berikut :
SMS = Fa x Ss ,dan
SMS = Fv x S1
Klasifikasi Site
Batuan keras (SA)
Batuan (SB)
Tanah Sangat Padat dan
Batuan Lunak (Sc)
Tanah Sedang (SD)
Tanah Lunak (SE)
Tanaha Khusus (SF)

SS 0.25

SS = 0.5

Ss
SS = 0.75

SS = 1.0

SS 1.25

0.8
1.0

0.8
1.0

0.8
1.0

0.8
1.0

0.8
1.0

1.2

1.2

1.1

1.0

1.0

1.6
2.5
SS

1.4
1.7
SS

1.2
1.2
SS

1.1
0.9
SS

1.0
0.9
SS

Tabel 2.2 Koefisien periode pendek, Fa

Klasifikasi Site
Batuan keras (SA)
Batuan (SB)
Tanah Sangat Padat dan
Batuan Lunak (Sc)
Tanah Sedang (SD)
Tanah Lunak (SE)
Tanaha Khusus (SF)

SS 0.1

SS = 0.2

SPGA
SS = 0.3

SS = 0.4

SS 0.5

0.8
1.0

0.8
1.0

0.8
1.0

0.8
1.0

0.8
1.0

1.2

1.2

1.2

1.2

1.2

1.6
2.5
SS

1.4
1.7
SS

1.2
1.2
SS

1.1
0.9
SS

1.0
0.9
SS

Tabel 2.3 Koefisien periode 1.0 detik, Fv

SS adalah lokasi yang memerlukan investigasi geoteknik dan analisis respon


site spesifik. Selanjutnya untuk mendapatkan parameter respon spektra desain,

Universitas Sumatera Utara

spektra percepatan desain untuk perioda pendek dan perioda 1.0 detik dapat
diperoleh melalui perumusan berikut ini:
SDS = SMS , dan

SD1 = SM1

II.3.1.5. Kategori Desain Gempa (Seismic Design Category/SDC)


Perhitungan perancangan besarnya gaya gempa rencana untuk desain dan
analisis perhitungan dinyatakan oleh besarnya gaya geser dasar, ketentuan mengenai
syarat kekuatan dan pendetailan tulangan serta fleksibilitas ketidak teraturan bentuk
bangunan dan limitasi tinggi bangunan tidak lagi ditentukan oleh peta zoning gempa
sebagaimana halnya yang telah ditetapkan dalam SNI 1726-02. Pada ASCE 7-05,
ketentuan mengenai hal tersebut di atas telah di gantikan oleh kriteria perancangan
baru yang di sebut Kategori Desain Gempa (Seismic Design Category-SDC) dan
dikaitkan dengan Kategori Hunian atau Occupancy Category. Struktur harus
diperuntukan pada Kategori Desain Gempa sesuai dengan ASCE 7-05, Tabel 11.6-1
dan Tabel 11.6-2.
Nilai SDS
SMS < 0,167
0,167 SDS < 0,33
0,33 SDS < 0,50
0,50 SDS

Kategori Hunian
I atau II
III
A
A
B
B
C
C
D
D

IV
A
C
D
D

Tabel 2.4 Kategori gempa berdasarkan parameter percepatan respon periode pendek

Nilai SDS
SMS < 0,067
0,067 SDS < 0,133
0,133 SDS < 0,20
0,20 SDS

Kategori Hunian
I atau II
III
A
A
B
B
C
C
D
D

IV
A
C
D
D

Tabel 2.5 Kategori gempa berdasarkan parameter percepatan respon periode 1 detik

Universitas Sumatera Utara

II.3.1.6. Penentuan Koefisien R, Cd, dan


Sistem penahan gaya gempa lateral dan vertikal dasar harus memenuhi pada
salah satu tipe yang ditunjukkan dalam ASCE 7-05, Tabel 12.2-1 atau kombinasi
sistem seperti dalam ASCE 7-05, Pasal 12.2.2, 12.2.3, dan 12.2.4. Setiap tipe dibagibagi oleh tipe elemen vertikal yang digunakan untuk menahan gaya gempa lateral.
Sistem struktur yang digunakan harus sesuai dengan kategori desain gempa
dan batasan ketinggian yang ditunjukkan dalam Tabel, 12.2-1. Koefisien modifikasi
respons yang tepat, R, faktor kuat lebih sistem, , dan faktor pembesaran defleksi,
Cd, ditunjukkan dalam Tabel 12.2-1 harus digunakan dalam penentuan geser dasar,
gaya desain elemen, dan drif tingkat desain
II.3.1.7. Prosedur pengerjaan yang dipergunakan
Analisis struktur yang dibutuhkan terdiri dari salah satu dari tipe yang
diperbolehkan dalam ASCE 7-05, Tabel 12.6-1 berdasar pada kategori desain gempa
struktur, sistem struktural, data dinamik, dan keteraturan, atau dengan persetujuan
otoritas yang mempunyai yurisdiksi, suatu alternatif prosedur yang berlaku umum
boleh digunakan. Prosedur Analisis yang terpilih harus diselesaikan menurut
kebutuhan sesuai dengan subbab yang terkait mengacu pada Tabel 5.6-1.
II.3.1.8. Design base shear (V)
Geser dasar gempa (base shear), V dalam arah yang ditetapkan harus
ditentukan sesuai dengan ASCE 7-05, Pers.12.8-1.
V = Cs W
Koefisien respon gempa dapat dihitung sesai dengan ASCE 7-05, pers 12.8.2.

Universitas Sumatera Utara

Cs =

S DS
R

T

Nilai Cs yang dihitung sesuai dengan ASCE 7-05, Pers. 12.8-2 tidak perlu melebihi:

Cs =

S D1
untuk T TL
R
T
T

Cs =

S D1 TL
untuk T > TL
2 R
T
T

Cs harus tidak kurang dari 0,01. Dan sebagai tambahan, untuk struktur yang
berlokasi dimana S1 sama dengan atau lebih besar dari 0,6g, Cs harus tidak kurang
dari : C s =

0,5 S1
R

I

II.3.1.9. Periode Struktur Dasar (T)


Perioda struktur dasar (T) dalam arah yang ditinjau harus diperoleh
menggunakan properti struktur dan karateristik deformasi elemen penahan dalam
analisis yang teruji. Perioda dasar (T) tidak boleh melebihi hasil koefisien untuk
batasan atas pada perioda yang dihitung (Cu) dari ASCE 7-05, Tabel 12.8-1 dan
perioda dasar pendekatan, (Ta) yang ditentukan dari ASCE 7-05, Pers. 12.8-7.
Sebagai alternatif pada pelaksanaan analisis untuk menentukan perioda dasar
(T) diijinkan secara langsung menggunakan perioda bangunan pendekatan, (Ta) yang
dihitung sesuai dengan ASCE 7-05, Pasal 12.8.2.1. Perioda dasar pendekatan (Ta),
dalam detik, harus ditentukan dari ASCE 7-05, Pasal 12.8.2.1, Pers.12.8-7, dimana

Universitas Sumatera Utara

hn adalah tinggi dalam feet di atas dasar sampai tingkat tertinggi struktur dan
koefisien Ct dan x ditentukan dari ASCE 7-05, Tabel 12.8-2.
Tipe Struktur

Ct

Sistem rangka penahan momen dimana rangka


menahan 100% gaya gempa yang disyaratkan dan
tidak dilingkupi atau dihubungkan dengan
komponen yang lebih kaku dan akan mencegah
rangka dari defleksi bilamana dikenai gaya gempa:

0.028
Rangka penahan momen baja

(0.0724)

0.8

0.016
Rangka momen penahan beton

(0.046)

0.9

0.03
Rangka baja dibres secara eksentris

(0.0731)

0.75

0.02
Semua sistem struktur lainnya

(0.0488)

0.75

Tabel 2.6 Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct dan x

Dimana nilai Perioda dasar ( T) tidak boleh melebihi, T CuTa dengan Cu


sebagai batasan atas pada perioda yang dihitung yang ditentukan dari ASCE 7-05,
Tabel 12.8-1.
Parameter Percepatan Respon
Spektrum Desain pada 1 detik
SD1
0.4
0.3
0.2
0.15
0.1

Koefisien Ct
1.4
1.4
1.5
1.6
1.7

Tabel 2.7 Koefisien untuk batasan atas pada periode yang dihitung

Universitas Sumatera Utara

II.3.1.10. Distribusi gaya Vertikal (Fx)


Gaya gempa lateral (Fx) (kip atau kN) yang timbul di semua tingkat harus
ditentukan dari ASCE 7-05, Pasal 12.8.3:
Fx = C vxV dan C vx =

wx hxk
n

w h
i

k
i

i =1

Dimana :

Cvx

= faktor distribusi vertikal

= gaya lateral desain total atau geser di dasar struktur

w1 / w2

= porsi berat gempa efektif total struktur (W) yang


ditempatkan atau dikenakan pada tingkat i atau x

hi / hx

= tinggi (ft atau m) dari dasar sampai Tingkat i atau x

= eksponen yang terkait dengan perioda struktur


sebagai berikut:
- k = 1 untuk periode sebesar 0,5 detik
- k = 2 untuk periode sebesar 2,5 detik
- jika 0,5 < T < 2.5, maka harus diinterpolasi.

II.3.1.11. Distribusi gaya Horizontal (Vx)


Geser tingkat desain gempa di semua tingkat (Vx) (kip atau kN) harus
ditentukan dari ASCE 7-05, Pasal 12.8.4:
n

Vx = Fx
i= x

Dimana :

Fi

= Porsi geser dasar gempa (V) yang timbul di tingkat i

Geser tingkat desain gempa (Vx) (kip atau kN) harus didistribusikan pada
berbagai elemen vertikal sistem penahan gaya gempa di tingkat yang ditinjau
berdasarkan pada kekakuan lateral relatif elemen penahan vertikal dan diafragma.

Universitas Sumatera Utara

II.4. SRPMK dan SCWB


Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) merupakan sistem rangka
ruang (yang terbentuk dari balok dan kolom) dimana komponen-komponen struktur
dan join-joinnya menahan beban gravitasi dan beban lateral yang bekerja melalui
aksi lentur, geser dan aksial. Sehingga struktur diharapkan dapat merespon gempa
kuat secara inelastis tanpa mengalami keruntuhan getas, melainkan secara daktail.
Getas ialah sifat bahan atau struktur yang apabila diberi beban luar sampai
melebihi kuat elastisnya maka bahan atau struktur tersebut akan segera pecah atau
rusak. Daktail merupakan sifat bahan atau struktur yang apabila diberi beban luar
sampai melebihi kuat elastisnya tidak langsung pecahatau rusak, namun berubah
bentuk dulu (misalnya memanjang) secara plastis sampai batas tertentu dan akan
pecah atau rusak bila batas kemampuan plastisnya tercapai.
Apabila struktur bersifat getas maka struktur harus kuat menahan beban
gempa tersebut, namun pada struktur yang daktail kekuatannya tidak perlu lebih
besar dari beban gempa tersebut. Hal ini karena pada strukitur yang getas akan segera
runtuh jika beban gempa melebihi kekuatan elastisnya, sedangkan pada struktur yang
daktail tidak akan runtuh, hanya akan mesuk pada kondisi lendutan plastis, hanya
jika lendutan plastis ini mencapai maksimum baru struktur akan runtuh.
Strong Coloum Weak Beam (SCWB) merupakan mekanisme keruntuhan suatu
gedung yang mengharapkan terjadinya pembentukan sendi plastis pada daerah
bentang balok terlebih dahulu sehingga keruntuhan yang ada diprioritaskan untuk
terjadi pada daerah bentang balok. Mekanisme ini digunakan untuk mengurangi
resiko kecelakaan pada pengguna gedung ketika gedung mengalami pembebanan
yang berlebih yang dapat mengakibatkan keruntuhan gedung.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.14. Ilustrasi pembentukan sendi plastis pada SCWB

II.4.1. Sambungan Balok-Kolom


-

Sambungan balok-kolom harus menunjukkan rotasi inelasis sekurangkurangnya sebesar 0.03 rad berdasarkan referensi dari SNI-129-2002.

Sambungan balok-kolom harus memiliki juat lentur sekurang-kurangnya


sama dengan momen nominal (Mp) dimana Mp = fy .Zx , kecuali apabila
sambungan yang ada adalah sambungan antara kolom dan balok dengan
penampang melintang yang direduksi. Balok tersebut akan memiliki nilai
kuat lentur minimum sebesar 0.8 Mp.

Gaya geser terfaktor (Vu) yang dimiliki oleh sambungan balok-kolom


harus ditentukan menggunakan kombinasi bean 1.2 DL + 0.5L ditambah
dengan gaya geser yang dihasilkan dari bekerjanya momen lentur sebesar
1.1 Ry fy Z. Gaya geser tersebut ditinjau pada masing-masing ujung balok.

Universitas Sumatera Utara

II.4.1.1. Batasan-Batasan Terhadap Balok dan Kolom


Tidak diperkenankan terjadi perubahan luas sayap balok yang mendadak pada
daerah sendi plastis. Selain itu, rasio antara lebar terhadap tebal harus memenuhi
persyaratan p pada tabel berikut :
Keterangan Elemen

Perbandingan
Lebar
Terhadap Tebal

Nilai batas
perbandingan
lebar terhadap tebal

Sayap-sayap profil I,
profil hibrida atau profil
tersusun dan profil kanal
dalam lentur

b
t

135
fy

Bila Nu/bNy 0.125


Nu
1365

1 1.54
b N y
fy

Pelat-pelat badan pada


kombinasi lentur dan
aksial tekan

Penampang baja bulat


beraongga dalam aksial
tekasn dan lentur
Penampang baja persegi
berongga dalam aksial
tekan dan lentur

hc
tw

Bila Nu/bNy > 0.125


N u 665
500
2.33

b N y
fy
fy

9000
fy

D
t

b
t

atau hc
tw

290
fy

Tabel 2.8 Nilai Perbandingan lebar tehadap tebal (p) untuk elemen tekan

II.4.1.2. Perbandingan Momen Kolom Terhadap Momen Balok


Sambungan balok-kolom pada Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
M*column > M*beam
Keterangan :

Universitas Sumatera Utara

M*column

: Jumlah momen-momen kolom dibawah dan diatas sambungan pada


pertemuan antara as kolom dan as balok. Ditentukan dengan
menjumlahkan proyeksi kuat lentur nominal kolom diatas dan
dibawah sambungan pada as balok dengan reduksi akibat gaya
aksial tekan kolom. Diperkenankan untuk mengambil :

N uc
*

M
Z
f
=

pc c yc A
g

M*beam

: Jumlah momen-momen balok pada pertemuan as balok dan as


kolom. Ditentukan dengan menjumlahkan proyeksi kuat lentur
nominal

balok

di

daerah

Diperkenankan mengambil

sendi

*
pb

plastis pada as kolom.

= (1.1 R y M p + M y ), dengan

My adalah momen tambahan akibat amplikasi gaya geser dari


lokasi sendi plasris ke as kolom.
Apabila perbandingan antara jumlah momen kolom terhadap jumlah momen
balok yang lebih besar dari 1.25 dan tetap berada dalam keadaan elastis di luar
daerah panel, maka sambungan balok-kolom hanya perlu dikekang pada daerah
sayap atas balok. Bila suatu kolom tidak menunjukkan keelastisitasannya di luar
daerah panel, maka persyaratan berikut harus dipenuhi :
1. Sayap-sayap kolom perlu dikekang secara lateral pada kedua sisi atas
2. Setiap pengekang lateral sayap kolom direncanakan terhadap gaya
terfaktor sebesar 2% dari kuat nominal 1 sayap balok (Ag.fy)
3. Sayap-sayap kolom dikekang secara langsung maupun tidak langsung
yaitu melalui pelat badan kolom atau pelat-pelat sayap balok

Universitas Sumatera Utara

II.4.2. Jenis-Jenis Kombinasi Sambungan


II.4.2.1. Sambungan Sederhana (Simple Connections)

Gambar 2.15. Simple Connections

Sambungan sederhana (simple connection) biasa dipakai untuk menyambung


suatu balok ke balok lainnya atau ke sayap kolom. Pada tugas akhir ini penulis
menggunakan metode sambungan ini yaitu pada sambungan balok anak dengan
balok induk.

II.4.2.2. Sambungan Momen (Momen Connections)


Sambungan momen (moment connection) dirancang untuk memindahkan
semua momen dan meniadakan rotasi batang pada sambungan karena sayap suatu
balok memikul hampir seluruh momen lentur melalui gaya tarik dan gaya tekan
sayap yang terpisah oleh lengan momen yang kira-kira sama dengan tinggi balok.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.16. Moment Connections

Adapun sambungan momen ini memiliki jenis yang berbeda-beda diantaranya :


1.

Cover Plate Connections


Sambungan ini dibuat dengan menambahkan lempengan baja pada ujung-

ujung balok yaitu pada bagian atas dan bawah bagian sayap balok. Lempengan ini
ditambahkan pada bagian ujung balok dengan mengelas bagian sisi lempengan
tersebut terhadap elemen utama struktur (balok dan kolom).
Dengan penambahan pelat ini diharapkan bagian sambungan akan menjadi
lebih kuat sehingga sendi plastis tidak akan terjadi di sambungan, tetapi diharapkan
terjadi di bagian bentang balok sehingga mekanisme Strong Coloum Weak Beam
(SCWB) bias terpenuhi.

2.

Flange Rib Connections


Sambungan ini dibuat dengan menambahkan 2 buah pelat baja (umumnya)

yang dipasang vertical pada bagian atas dan bawah di wilayah sambungan yang
bertujuan untuk mengurangi kebutuhan pengelasan pada flens kolom dan untuk
menggeser sendi plastis dari daerah muka kolom.
Kemampuan dari kombinasi ini tergantung pada pengelasan flens di ujung
bentang.Sambungan bisa mengalami kegagalan pada bagian flens kolom, walaupun

Universitas Sumatera Utara

seharusnya tahanan terhadap kegagalan semacam itu lebih baik daripada yang
dimiliki oleh cover plate dengan berkurangnya bagian yang di las.
Pada saat pengetesan, ukuran dari benda uji membutuhkan dua ribs yang
dipasang berdiri pada masing-masing bagian flens. Hal ini tentu saja menambah
kebutuhan biaya. Namun, sejumlah tes desain terhadap benda uji yang hanya
menggunakan satu buah rib mengindikasikan terjadinya kegagalan yang lebih cepat
pada bagian las rib di ujung.

3.

Top and Bottom Haunch Connections


Haunch diletakkan pada bagian atas dan bawah flens. Dari hasil tes yang

telah dilakukan sebelumnya, diketahui bahwa sambungan ini telah sukses memenuhi
tujuan yang diinginkan.
Namun, sambungan ini termasuk salah satu sambungan yang paling banyak
memakan biaya. Biaya dapat dikurangi dengan menghilangkan bagian las antara
flens balok dengan kolom. Namun, kemampuan dari jenis sambungan tersebut masih
belum pernah diujikan. Salah satu kelemahan dari sistem ini adalah bahwa
keberadaan haunch diatas girder dapat menimbulkan masalah kearsitekturan.

4. Reduced Beam Section Connections


Pada sambungan jenis ini, bagian balok dengan sengaja mengalami
pengurangan luasan pada bagian tertentu untuk menciptakan zona plastis yang
berlokasi pada bagian bentang balok, jauh dari muka kolom. Salah satu metoda yang
dilakukan adalah dengan mengurangi bagian flens balok secara simetris dari garis
tengah balok ke dalam bentuk yang biasa disebut sebagai profil dog bone.

Universitas Sumatera Utara

5.

Sambungan Pelat Ujung (End Plate Connections)


Sambungan momen plat ujung terdiri dari plat yang dilas pada ujung balok

dan kemudian dibaut di lapangan ke kolom. Sambungan momen plat ujung dapat
dikelompokkan berdasar keadaan ujung luarnya yaitu rata (flush) atau diperluas
(extended). Sambungan momen plat ujung rata bila ujung ujung luar plat rata dengan
sayap balok dan semua baut ada diantara kedua sayap balok. Sambungan momen plat
ujung diperluas bila ujung plat ditambah permukaannya melampaui sayap sayap
balok sehingga memungkinkan adanya baut untuk ditempatkan di daerah perluasan
ini. Baik sambungan momen plat ujung rata atau plat ujung diperluas dapat diberi
perkuatan sehingga lebih kaku seperti ditunjukkan oleh Gambar di bawah ini.

Gambar 2.17 Sambungan Momen Pelat Ujung

Adapun pada tugas akhir ini sambungan yang akan digunakan pada setiap
titik sambungan adalah jenis sambungan momen pelat ujung (End Plate
Connections). Penulis memilih jenis ini dikarenakan sambungan ini selain memiliki
kekakuan yang lebih stabil juga lebih mudah dalam pelaksanaan dilapangan.

Universitas Sumatera Utara