Anda di halaman 1dari 22

SKENARIO

NYERI PANGGUL KARENA JATUH


Seorang Perempuan berusia 60 tahun dating ke UGD Rumah Sakit dengan keluhan nyeri panggul
kanannnya setelah jatuh di kamar mandi. Sejak terjatuh tidak mampu berdiri karena rasa nyeri yang
sangat pada pinggul kanannya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sakit berat,
merintih kesakitan, compos mentis. Tekanan darah 140/90 mmHg, denyut nadi 104x/menit,
frekwnsi napas 24x/menit. Terdapat hematom pada art. Coxae dextra, posisi tungkai atas
kanan sedikit flexi, abduksi , dan exorotasi. Ditemukan krepitasi tulang dan nyeri tekan juga
pemendekan eksterimitas. Gerakan terbatas karena nyeri. Neurovascular distal baik. Pada
pemeriksaan radiologis didapatkan fraktur femoris tertutup. Dokter menyarankan untuk
dilakukan operasi.

KATA SULIT

- Neurovaskular : saraf atau pembuluh darah yang mengendalikan kaliber lubang saluran darah
- Hematom : kumpulan darah diluar pembuluh darah biasanya pada tempat dimana dinding
-

pembuluh darah mengalami trauma


krepitasi : suara suara yang dihasilkan dari gesekan segmen tulang
Fraktur : terputusnya kontinuitas jaringan tulang
flexi : gerakan mendekatkan bagian tulang yang membentuk sendi
abduksi : gerakanarah menjauhi bidang sagital
exorotasi: gerak berputar dari medial - anterior - lateral

PERTANYAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Mengapa terjadi pemendekan ekstremitas ?


Apa yang menyebabkan krepitasi ?
Mengapa harus dilakukan operasi ?
Hubungan usia dan fraktur ?
Pemeriksaan apa saja untuk memeriksa fraktur femoris?
Bagaimana posisi normal tungkai atas kanan?
fraktur lebih resiko wanita atau pria ?
mengapa neurovaskularnya baik, padahal terjadi nyeri dan pemendekan ekstremitas
Mengapa terjadi nyeri pada fraktur femoris?
faktor apa saja yang menyebabkan fraktur femoris tertutup
apa yang terjadi bila tidak dilakukan operasi?

JAWABAN
1. karena ada pergeseran oleh fraktur, yaitu otot menarik tulang sesuai posisi fraktur
2 & 6. karena terjadi gesekan antara tulang yang pecah, sudut antara coxae dan femoris <126derajat.
3. fraktur pada usia 60thn, dan agar didapatkan hasil maksimal, komplikasi dan sindrom
kompartemen.
4. kalau wanita lebih beresiko jika sudah menopose.
5. -look: mengetahui adanya hematom
-feel: mengetahui adanya nyeri tekan dan krepitasi
-movement: disuruh bergerak pasif atau aktif ada nyeri atau tidak
7. wanita menopose lebih beresiko
8 &9. grade 1: kerusakan di selaput tulang
grade 2 : edema
grade 3 : sampai kejaringan
nyeri akibat otot kaku -> susah digerakan -> nyeri (grade 1 dan 2)
nyeri karena fraktur mengenai jaringan saraf
10. trauma, kelelahan otot, kondisi tertentu seperti osteoporosis.
11. komplikasi seperti reposisi kurang baik
HIPOTESIS
Pasien 60tahun nyeri panggul dan dilaksanakan pemeriksaan fisik look, feel, dan movement. Pada
art. coxae dextra didapatkan hematom dan sedikit perubahan posisi anatomi dari artikulasio

tersebut. ditemukan krepitasi tulang dan nyeri tekan disebabkan oleh fraktur yang mengenai saraf,
serta pemendekan ekstremitas karena ada pergeseran oleh fraktur, yaitu otot menarik tulang sesuai
posisi fraktur. pasien tersebut di diagnosa fraktur collum femoris tertutup. fraktur dipengaruhi
olehtrauma, kelelahan otot, kondisi tertentu seperti osteoporosis.

SASARAN BELAJAR
LI. 1 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI FEMUR
LO. 1.1 MAKROSKOPIK
LO. 1.2 MIKROSKOPIK

LO.1.3 KINESIOLOGI
LI.2 MEMAHAMI DAN MEJELASKAN FRAKTUR
LO.2.1 DEFINISI
LO.2.2 KLASIFIKASI
LO.2.3 ETIOLOGI
LI. 3 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FRAKTUR KOLUM FEMORIS
LO.3.1 DEFINISI
LO.3.2 ETIOLOGI
LO.3.3 PATOFISIOLOGI
LO.3.4 MANIFESTASI KLINIK
LO.3.5 DIAGNOSA DAN DIAGNOSA BANDING
LO.3.6 PENATALAKSANAAN
LO.3.7 KOMPLIKASI
LO.3.8 PROGNOSIS

LI. 1 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI FEMUR


LO. 1.1 MAKROSKOPIK
1.1 Menjelaskan makroskopis tulang femur dan coxae

Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput, collum, trochanter major dan trochanter
minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum
dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut
fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamentum dari caput. Sebagian suplai darah untuk caput
femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea.
Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah,
belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil)
dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh
penyakit.
Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang
menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista
intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum.
Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat
pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian
linea aspera melebar ke atas dan ke bawah.Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista
supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis.Tepian lateral
menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur,
di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea
aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada
permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea.
Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian posterior
dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan
sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat
epicondylus lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan
epicondylus medialis.

Pada tulang Coxae terdapat bagian bagian diantaranya

Acetabulum
-

Limbus Acetabuli

Fossa acetabula

Facies Lunata

Incissura Acetabuli

Foramen obturatum

Corpus ossis ilii

Linea arcuata

Crista iliaca

Spina iliaca

Incisura ischiadica (ischialis) major

Os. Ilii

Os. Ischii
-

Corpus ossis ischia

Spina ischiadica

Incisura ischiadica (ischialis) minor

Os. Pubis

Corpus ossis pubis

Symphisis ossium pubis

Ramus Superior ossis pubis

Pecten ossis pubis

Ramus inferior ossis pubis

Lokasi Fraktur

Masa
Penyembuhan

Lokasi Fraktur

Masa
Penyembuhan

1.
Pergelangan
tangan

3-4 minggu

7. Kaki

3-4 minggu

2. Fibula

4-6 minggu

8. Metatarsal

5-6 minggu

3. Tibia

4-6 minggu

9. Metakarpal

3-4 minggu

4.
Pergelangan
kaki

5-8 minggu

10. Hairline

2-4 minggu

5. Tulang
rusuk

4-5 minggu

11. Jari tangan

2-3 minggu

6. Jones fracture

3-5 minggu

12. Jari kaki

2-4 minggu

Faiz, O. (2004). At A Glance Series Anatomy. Jakarta: Erlangga.


LO. 1.2 MIKROSKOPIK

Tulang dewasa dan yang sedang berkembang mengandung 4 jenis sel berbeda, yaitu :

Osteoprogenitor adalah sel induk pluripotent tidak berdiferensiasi yang berasal dari
jaringan ikat mesenkim. Sel ini terletak di lapisan dalam jar ikat periosteum dan di lapisan
endosteum dalam melapisi rongga sumsum, osteon (havers) dan kanalis. Fungsi utama kedua
lapisan ini untuk menutrisi tulang dan memberikan suplai bagi osteoblast baru untuk
pertumbuhan. Dan kemudian berdiferensiasi menjadi osteoblast yang menyekresi serat
kolagen dan matriks tulang.
Osteoblast terdapat pada permukaan tulang yang berfungsi menyintesis, mengekskresi,
dan mengendapkan osteoid komponen tulang baru. Osteoid tidak mengandung mineral
namun, osteoid segera mengalami mineralisasi menjadi tulang.
Osteosit adalah bentuk matur osteoblast dan merupakan sel utama tulang. Sel ini
berukuran lebih kecil dari osteoblast. Osteosit terperangkap dalam matriks tulang yang
diproduksi oleh osteoblast. Lokasinya berada di bawah lacuna dan sangat dekat dengan
pembuluh darah. Karena matriks tulang sudah mengalami mineralisasi, nutrient dan

metabolit tidak dapat bebas berdifusi menuju osteosit. Karena itu, tulang sangat vascular dan
memiliki system saluran khusus atau kanal halus yang disebut kanalikuli yang bermuara
kedalam osteon. Kanalikuli mengandung cairan ekstraseluler yang memudahkan masing
masing osteosit berhubungan dengan yang lainnya dan material dipembuluh darah. Ini
bertujuan untuk membentuk hubungan kompleks dengan sekitar pembuluh darah di osteon
dan terjadi pertukaran yang efisien. Kanalikuli menjaga osteosit tetap hidup dan osteosit
sebaliknya . jika osteosit mati, matriks tulang disekitarnya direabsorbsi oleh osteoklas.
Osteoklas adalah sel multinukleus besar yang terdapat di sepanjang permukaan tulang
tempat terjadinya resorpsi, remodeling dan perbaikan tulang. Osteoklas berasal dari
penyatuan sel sel progenitor homeopetik atau darah di sumsum tulang. Fungsi utamanya
yaitu reabsorpsi tulang selama remodeling.osteoklas sering terdapat didalam lekuk dangkal
pada matriks tulang yang disebut lacuna howship. Enzim lisosom yang dikeluarkan oleh
osteoklas mengikis cekungan ini
(Victor P. Eroschenko, 2010)
Terdapat dua macam proses penulangan:
1. Penulangan intramembranosa / desmal (tanpa dimulai dengan pembentukan tulang rawan)
2. Penulangan intrakartilaginosa / endokondral (dimulai dengan pembentukan tulang rawan)

a. Zona Istirahat : terdapat di lempeng epifisis,terdiri atas sel tulang rawan


primitif yang tumbuh kesegala arah
b. Zona proliferasi : terletak di metafisis,terdiri atas kondrosit yang
membelah,dan menghasilkan sel berbentuk gepeng atau lonjong yang
tersusun berderet-deret longitudinal seperti tumpukan uang logam,sejajar
dengan sumbu panjang model tulang rawan.
c. Zona maturasi dan hipertrofi kondrosit : ukuran kondrosit beserta lakunanya
bertambah besar
d. Zona klasifikasi : terjadi endapan kalsium fosfat didalam matriks tulang
tawan.Matriks menjadi basofil dan kondrosit banyak yang mati (perlekatan
zat kapur,nutrisi kurang)

e. Zona degenerasi : kondrosit berdegenerasi,banyak yg pecah,lakuna kosong


dan saling berhubungan satu dnegan yang lainnya.Daerah matriks yang
hancur diisi oleh sel osteoprogenitor
f. Zona penulangan (osifikasi) : sel progenitor yang mengisi lakuna yang telah
kosong berubah menjadi osteoblas,yang mulai mensekresi matriks
tulang,sehingga terbentuklah balok-balok tulang. (dihancurkan oleh
osteoklas)
LO.1.3 KINESIOLOGI

Gerak sendi :
-

Fleksi : M. Illiopsoas, M. Pectinus, M. rectus femoris, M. adductor longus, M. adductor


brevis, M. adductor magnus pars anterior tensor fascia lata

Ekstensi : M. gluteus maximus, M. semitendinosis, M. semimembranosus, M. biceps


femoris caput longum, M.abductor magnus pars posterior

Abduksi : M. gluteus medius, M. gluteus minimus, M. piriformis, M. Sartorius, M.


tensor fasciae latae

Adduksi : M. adductor magnus, M. adductor longus, M. adductor brevis, M. gracilis, M.


pectineus, M. obturator externus, M. quadratus femoris

Rotasi Medialis : M. gluteus medius, M. gluteus minimus, M. tensor fasciae latae, M.


adductor magnus (pars posterior)

Rotasi lateralis : M. piriformis, M. obturator internus, Mm gamelli, M. obturator


externus, M. quadratus femoris, M. gluteus maximus, dan Mmm adductors
(Syamsir, 2014)
LI.2 MEMAHAMI DAN MEJELASKAN FRAKTUR

LO.2.1 DEFINISI

LO.2.2 KLASIFIKASI

a. Klasifikasi Etiologis

Fraktur traumatik : terjadi karena trauma yang tiba-tiba

Fraktur patologis : terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan


patologis di dalam tulang

Fraktur stress : terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat
tertentu

b. Klasifikasi Klinis

Fraktur tertutup (Simple fracture) : adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai
hubungan dengan dunia luar

Fraktur terbuka (Compound fracture) : adalah fraktur yang mempunyai hubungan


dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk dari
dalam atau dari luar

Fraktur dengan Komplikasi (Complicated fracture) : adalah fraktur yang disertai


dengan komplikasi, misalnya malunion delayed union, nonunion, infeksi tulang

c. Klasifikasi Radiologis
1. Lokalisasi

Diafisial

Metafisial

Intra-artikuler

Fraktur dengan dislokasi

2. Konfigurasi

Fraktur transversal

Fraktur oblique

Fraktur spiral

Fraktur Z

Fraktur segmental

Fraktur komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen

Fraktur baji, biasanya pada vertebra karena trauma kompresi

Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendon misalnya fraktur
epicondylus humeri, fraktur trochanter mayor, fraktur patella

Fraktur depresi, karena trauma langsung misalnya ada tulang tengkorak

Fraktur impaksi

Fraktur pecah (burst) , dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah misalnya
pada fraktur vertebra, patella, tallus, calcaneus

Fraktur epifisis

3. Ekstensi

Fraktur total

Fraktur tidak total (Fracture crack)

Fraktur buckle / torus

Fraktur garis rambut

Fraktur greenstick

4. Hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya

Tidak bergeser (undisplaced)

Bergeser (displaced). Bergeser dapat terjadi dalam enam cara:


o

Bersampingan

Angulasi

Rotasi

Distraksi

over-riding

impaksi

LO.2.3 ETIOLOGI

Menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu:


1. Cidera atau benturan
2. Fraktur patologik: Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi
lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis.
3. Fraktur beban: Fraktur baban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang- orang yang baru
saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru di terima dalam angkatan bersenjata
atau orang- orang yang baru mulai latihan lari.

Peristiwa Trauma (kekerasan)


1. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan itu,
misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil, maka tulang akan patah tepat di tempat
terjadinya benturan. Patah tulang demikian sering bersifat terbuka, dengan garis patah
melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat
terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam hantaran
vektor kekerasan. Contoh patah tulang karena kekerasan tidak langsung adalah bila seorang
jatuh dari ketinggian dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang patah selain tulang tumit,
terjadi pula patah tulang pada tibia dan kemungkinan pula patah tulang paha dan tulang

belakang. Demikian pula bila jatuh dengan telapak tangan sebagai penyangga, dapat
menyebabkan patah pada pergelangan tangan dan tulang lengan bawah.
3. Kekerasan akibat tarikan otot
Kekerasan tarikan otot dapat menyebabkan dislokasi dan patah tulang. Patah tulang akibat
tarikan otot biasanya jarang terjadi. Contohnya patah tulang akibat tarikan otot adalah patah
tulang patella dan olekranom, karena otot triseps dan biseps mendadak berkontraksi.
Peristiwa Patologis
1. Kelelahan atau stres fraktur
Fraktur ini terjadi pada orang yang yang melakukan aktivitas berulang ulang pada suatu
daerah tulang atau menambah tingkat aktivitas yang lebih berat dari biasanya. Tulang akan
mengalami perubahan struktural akibat pengulangan tekanan pada tempat yang sama, atau
peningkatan beban secara tiba tiba pada suatu daerah tulang maka akan terjadi retak
tulang.
2. Kelemahan Tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya suatu tulang akibat
penyakit infeksi, penyakit metabolisme tulang misalnya osteoporosis, dan tumor pada
tulang. Sedikit saja tekanan pada daerah tulang yang rapuh maka akan terjadi fraktur.
LI. 3 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FRAKTUR KOLUM FEMORIS
LO.3.1 DEFINISI

Femur merupakan tulang terpanjang pada badan dimana fraktur dapat terjadi mulai
dari proksimal sampai distal tulang.
Fraktur leher femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan ada orang tua
terutama wanita umur 60 tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis.
LO.3.2 ETIOLOGI
Pada umumnya, cedera ini terjadi dalam 2 populasi yang berbeda,
1.

muda, individual yang aktif dengan aktivitas yang rutin seperti contohnya pelari atau
athelet. Fraktur leher femur pada pasien usia muda biasanya disebabkan oleh trauma
karena energy yang besar. Fraktur ini sering dihubungkan dengan cedera multipel
dan nekrosis avaskular dan non union.

2.

individu yang berumur tua dengan osteoporosis. Individu yang berumur tua juga
rentan terjadi stress fraktur leher femur, meskipun fraktur pinggul lebih sering terjadi.

Hasil dari cedera bergantung pada (1) luasnya cedera (missal jumlah patahan atau
jumlah dislokasi, kemudian terganggunya sirkulasi), (2) adekuatnya reduksi, dan (3)
adekuatnya fiksasi. Penentuan komplikasi kecacatan pada fraktur leher femur
memerlukan perhatian yang cermat untuk penanganannya.

Fraktur kolum femur termasuk fraktur intrakapsular yang terjadi pada bagian
proksimalfemur, yang termasuk kolum femur adalah mulai dari bagian distal
permukaan kaput femorissampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter. Fraktur
kolum femur dapat disebabkanoleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh
dengan posisi miring dimana daerahtrochanter mayor langsung terbentur dengan
benda keras (jalanan) ataupun disebabkan olehtrauma tidak langsung yaitu karena
gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah.
LO.3.3 PATOFISIOLOGI
Trauma merupakan penyebab mayoritas dari fraktur baik trauma karena kecelakaan
bermotor maupun jatuh dari ketinggian menyebabkan rusak atau putusnya kontinuitas
jaringan tulang. Selain itu keadaan patologik tulang seperti Osteoporosis yang
menyebabkan densitas tulang menurun, tulang rapuh akibat ketidakseimbangan
homeostasis pergantian tulang dan kedua penyebab di atas dapat mengakibatkan
diskontinuitas jaringan tulang yang dapat merobek periosteum dimana pada dinding
kompartemen tulang tersebut terdapat saraf-saraf sehingga dapat timbul rasa nyeri
yang bertambah bila digerakkan. Fraktur dibagi 3 grade menurut kerusakan jaringan
tulang. Grade I menyebabkan kerusakan kulit, Grade II fraktur terbuka yang disertai
dengan kontusio kulit dan otot terjadi edema pada jaringan. Grade III kerusakan pada
kulit, otot, jaringan saraf dan pembuluh darah.
Pada grade I dan II kerusakan pada otot/jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang
hebat karena ada spasme otot. Pada grade III kerusakan jaringan yang luas pada kulit
otot periosteum dan sumsum tulang yang menyebabkan keluarnya sumsum kuning
yang dapat masuk ke dalam pembuluh darah sehingga mengakibatkan emboli lemak
yang kemudian dapat menyumbat pembuluh darah kecil dan dapat berakibat fatal
apabila mengenai organ-organ vital seperti otak jantung dan paru-paru, ginjal dan
dapat menyebabkan infeksi. Gejala sangat cepat biasanya terjadi 24 sampai 72 jam.
Setelah cidera gambaran khas berupa hipoksia, takipnea, takikardi. Peningkatan isi
kompartemen otot karena edema atau perdarahan, mengakibatkan kehilangan fungsi
permanen, iskemik dan nekrosis otot saraf sehingga menimbulkan kesemutan (baal),
kulit pucat, nyeri dan kelumpuhan. Bila terjadi perdarahan dalam jumlah besar dapat
mengakibatkan
syok
hipovolemik.
Tindakan
pembedahan
penting
untuk
mengembalikan fragmen yang hilang kembali ke posisi semula dan mencegah
komplikasi lebih lanjut. Selain itu bila perubahan susunan tulang dalam keadaan stabil
atau beraturan maka akan lebih cepat terjadi proses penyembuhan fraktur dapat
dikembalikan sesuai letak anatominya dengan gips.

Sumber :
https://books.google.co.id/books/about/Patofisiologi/femur.html?id=KdJfk2qazVIC
LO.3.4 MANIFESTASI KLINIK
1. Deformitas
Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya
perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti :
a. Rotasi pemendekan tulang.
b. Penekanan tulang.
2. Bengkak : Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam
jaringan yang berdekatan dengan fraktur.
3. Echimosis dari perdarahan Subculaneous.
4. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur.
5. Tenderness / keempukan.
6. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan
kerusakan struktur didaerah yang berdekatan.
7. Kehilangan sensasi ( mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya syaraf/perdarahan ).
8. Pergerakan abnormal.
9. Dari hilangnya darah.
10. Krepitasi
(Black, 195)

LO.3.5 DIAGNOSA DAN DIAGNOSA BANDING

Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur), baik yang hebat
maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan
anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak
selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi di daerah lain.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal enderita perlu diperhatikan adanya:

Syok, anemia atau pendarahan

Kerusakan pada organ lain, misal otak, sumsum tulang belakang atau organorgan dalam rongga thoraks, panggul dan abdomen

Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis

Pemeriksaan lokal
1. Inspeksi (look)
o

Bandingkan dengan bagian yang sehat

Perhatikan posisi anggota gerak

Keadaan umum secara keseluruhan

Ekspresi wajah karena nyeri

Lidah kering atau basah

Adanya tanda-tanda anemia karena pendarahan

Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan
fraktur tertutup atau fraktur terbuka

Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari

Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi, dan kependekan

Lakukan survey pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ lain

Perhatikan kondisi mental penderita

Keadaan vaskularisasi

2. Palpasi (feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh
sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan:

Temperature sekitar yang meningkat

Nyeri tekan, nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan


oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang

Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan


dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati

Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri


radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan
anggota gerak yang terkena
Refilling (pengisian)
Arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma,
temperature kulit

Pengukuran tungkai, terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui


adanya perbedaan panjang tungkai

3. Pergerakan (move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan
pasif sendi dari daerah proksimal dan distal yang mengalami trauma. Pada penderita
dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji
pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak dan saraf.
4. Pemeriksaan neurologis
Untuk pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensori dan
motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau
neurotmesis. Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat
menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan
patokan untuk pengobatan selanjutnya.
5. Pemeriksaan radiologis
Foto Polos
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur.
Walaupun demikian, pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan
keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan
jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang
bersifat radiolusen untuk immobilisasi sementara sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologis.
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua :

Dua posisi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada


antero-posterior dan lateral

Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, diatas dan
dibawah sendi yang mengalami fraktur

Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada


dua anggota gerak, terutama pada fraktur epifisis

Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur


pada dua daerah tulang misalnya pada fraktur calcaneus atau femur
maka perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang

Dua kali dilakukan foto pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang
skavoide. Foto pertama biasanya tidak jelas, sehingga diperlukan 1014 hari kemudian.

Pemeriksaan radiologis lainnya


o Tomografi, misalnya pada fraktur vertebra atau condylus tibia
o CT-scan
o MRI
o Radioisotop scanning

Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu
dinyatakan apakah fraktur terbuka atau tertutup, tulang mana yanvg tekena
dan lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur
itu sendiri. Konfigurasi fraktur dapat menentukan prognosis serta waktu
penyembuhan fraktur misalnya penyembuhan fraktur transversal dari
fraktur oblique karena kontak yang kurang.
sjamsuhidajad R dan de jong, wim (editor).2005. Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi 3. Jakarta: EGC

LO.3.6 PENATALAKSANAAN

Tata laksana
Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan
pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
a. Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada
kesejajarannya dan rotasi anatomis. Metode dalam reduksi adalah
reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka, yang masing-masing di
pilih bergantung sifat fraktur.

1. Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke


posisinya (ujung-ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan
traksi manual.
2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan
imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang
terjadi.
3. Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang
direduksi. Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat,
paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan
fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang
solid terjadi.
b. Immobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di
imobilisasi atau di pertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang
benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan
fiksasi eksternal atau inernal.
1. Fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin
dan teknik gips atau fiksator eksternal.
2. Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan
sebagai bidai inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur
femur imobilisasi di butuhkan sesuai lokasi fraktur yaitu
intrakapsuler 24 minggu, intra trohanterik 10-12 minggu, batang 18
minggu dan supra kondiler 12-15 minggu.
c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan
pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak, yaitu:
1. Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
2. Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
3.
4.
5.
6.
7.

Memantau status neurologi.


Mengontrol kecemasan dan nyeri
Latihan isometrik dan setting otot
Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
Kembali keaktivitas secara bertahap.

Tindakan Debridement
1. Penderita diberi toksoid atau ATS
2. Antibiotic untuk bakteri gram positif dan negative
3. Kultur dan resistensi kuman dari dasar luka terbuka
4. Tourniquet disiapkan tetapi tidak perlu ditiup
5. Setelah dalam narkose seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit
dan dicukur

6. Luka diirigasi dengan cairan fisiologis atau air matang 5-10 liter, luka
derajat 3 disemprot hingga bebas kontaminasi (jet lavage)
7. Tindakan desinfeksi dan pemasangan duk (draping)
8. Eksisi luka lapis demi lapis, fragmen tulang besar untuk stabilitas
dipertahankan
9. Bila letak luka tidak menguntungkan, dibuat insisi baru yang biasa
digunakan
10. Luka fraktur terbuka selalu dibiarkan terbuka dan bila perlu ditutup
setelah 1 minggu atau edema hilang. Luka untuk reposisi primer
dijahit primer
11. Fiksasi eksterna yang paling baik, bagi yang pengalaman,
dibolehkan fiksasi interna. Antibiotik diteruskan 3 hari kedepan

Operatif
Dipasang intermedullary nail, ada 3 macam:
1. Kuntsher mail (paling terkenal)
2. Sneider nail
3. Ao nail
Pemasangan intermedullary nail dapat dilakukan secara:
Terbuka

Menyayat kulit fascia sampai tulang yang patah. Pen dipasang secara
retrograde
Tertutup

Tanpa sayatan di daerah patah. Pen dimasukkan melalui ujung


trochanter major dengan bantuan image intersifier(C.arm). Tulang
dapat direposisi dan pen dapat masuk kef ragmen bagian distal

Indikasi operatif, apabila:


- Cara non operatif gagal
- Multiple fraktur
- Rupture A. femoralis
- Patologik fraktur
- Usia lanjut

Farmakologi
Obat-obatan seperti biphosphonates dapat meningkatkan densitas tulang
sehingga mengurangi resiko re-fracture. Kebanyakan obat-obatan ini
diminum.
Efek samping
esofagus.
Farmakokinetik

: Nausea, nyeri abdominal, dan inflamasi pada


: Oral, jika intoleran dapat digunakan IV tubing.

Sumber: Reksoprodjo, Soelarto. dkk. 2014. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.


Jakarta: BINARUPA AKSARA Publisher

LO.3.7 KOMPLIKASI

Komplikasi
Adapun komplikasi dari fraktur (Smeltzer & Bare, 2001) yaitu :
a. Komplikasi segera (immediate)
Komplikasi yang terjadi segera setelah fraktur antara lain syok neurogenik,
syok hipovolemik (karena perdarahan & kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan
yang rusak), kerusakan organ, kerusakan syaraf, injuri atau perlukaan kulit, trombo
emboli vena (Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest).
osteomelitis, emboli, nekrosis, dan syndrome compartemen
b. Komplikasi lambat
Sedangkan komplikasi lanjut yang dapat terjadi antara lain stiffnes (kaku
sendi), degenerasi sendi, penyembuhan tulang terganggu (malunion)
a) Delayed union
Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya
lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi.
Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang
b) Non union
Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini
disebabkan oleh fobrous union atau pseudoarthrosis
c) Mal union
Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk)
d) Nekrosis avaskuler di tulang
Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang

LO.3.8 PROGNOSIS

Penderita fraktur collum femoris tanpa komplikasi bila mendapat tindakan fisioterapi sejak dini dan
tepat maka kapasitas fisik dan kemampuun fungsional akan kembali normal (baik). Tetapi bisa
menimbulkan keadaan yang buruk dari penyembuhan apabila terjadi komplikasi yang menyertai
dan umumnya usia lanjut.
Long, C. Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah.